"KEBENARAN TIDAK DITENTUKAN OLEH SEDIKIT BANYAKNYA ORANG YANG BERKATA BAHWA ITU BENAR"

Karbala Berduka

Karbala Berduka
Ya, Syahid! Ya, Madzhlum! Ya, Imam! Ya, Husein!

Senin, 31 Januari 2011

APAKAH ARTI “ULIL AMRI” YANG DISEBUTKAN DALAM AL-QUR’AN

 

ULIL AMRI: APAKAH ITU ARTINYA PARA PEMIMPIN MUSLIM?

يا أيها الذين آمنوا أطيعوا الله وأطيعوا الرسول وأولي الأمر منكم فإن تنازعتم في شيء فردوه إلى الله والرسول إن كنتم تؤمنون بالله واليوم الآخر ذلك خير وأحسن تأويلا


“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah  dan Rasul, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” (QS. An-Nisaa: 59)

Banyak dari saudara-saudara kita dari kalangan Ahlus Sunnah yang cenderung untuk menerjemahkan “ulil amri” sebagai “para pemimpin diantara kalian” yaitu para pemimpin yang ada di kalangan kaum Muslimin. Terjemahan atau tafsiran ini tidak didasarkan atas akal sehat atau logika melainkan atas dasar kejadian-kejadian yang pernah terjadi di kalangan kaum Muslimin. Mayoritas kaum Muslimin menjadi pendukung kekuasaan monarki beserta para pemimpin yang dilahirkan darinya. Kaum muslimin dipaksa sejarah untuk menafsirkan dan menafsirkan ulang ayat-ayat Al-Qur’an hanya demi menggembirakan dan menyenangkan hati para pemimpin Muslim yang sedang berkuasa.

Sejarah Islam dan kaum Muslimin (sama halnya seperti sejarah bangsa-bangsa lainnya di dunia) selalu dihubung-hubungkan dengan nama-nama para pemimpin yang dzalim, tidak adil, suka berbuat tidak senonoh, dan gila kekuasaan serta memiliki sifat diktator dalam dirinya. Para pemimpin itu telah mencemarkan nama baik Islam seperti yang sudah kita ketahui dalam sejarah. Para pemimpin seperti itu selalu ada dan terlahir di sepanjang sejarah umat Islam. Dalam al-Qur’an kita diberitahu bahwa ada sekelompok manusia yang disebut dengan sebutan ULIL AMRI yang ketaatan kepada mereka itu disejajarkan dengan ketaatan kepada Allah dan RasulNya.

Apabila Allah memerintahkan kita untuk mentaati raja-raja dan para pemimpin yang dzalim dan berakhlaq rendah seperti yang disebutkan di atas, maka akan terjadi kebingungan dan kerancuan di dalam tubuh umat Islam. Lihatlah ayat tersebut di atas………kita harus taat (أطيعو) kepada Allah, RasulNya dan juga kepada para pemimpin (ulim amri). Apabila pemimpin yang kita taati itu ialah para pemimpin yang dzalim dan kemudian kita ikuti dia, maka kita sudah bertentangan dengan kehendak Allah. Allah melarang kita untuk mengikuti, patuh dan taat terhadap orang-orang dzalim. Akan tetapi kalau kita tidak mematuhi para pemimpin itu, maka kita dikenai lagi oleh ayat tersebut yang menyuruh kita untuk menaati para pemimpin. Jadi kalah kita menafsirkan ayat itu seperti itu maka kita akan kebingungan ibarat memakan buah simalakama (dimakan ibu mati tak dimakan ayah mati). Kita menjadi salah tingkah dan sakit jiwa. Itu akan terjadi kalau kita selalu menafsirkan ayat itu seperti itu; kita menafsirkan ulil amri  sebagai sembarang pemimpin asal ia sah dan memiliki kekuasaan.

Seorang ahli tafsir al-Qur’an dari kalangan Ahlus Sunnah yang bernama Fakhru ‘d-Din ar-Razi menuliskan dalam tafsirnya Tafsiru ‘l-kabir (lihat: ar-Razi: at-Tafsiru ‘l-kabir, volume 10, halaman 144) bahwa ayat tersebut di atas menunjukkan bahwa ulil amri itu haruslah orang-orang yang ma’shum. Ar-Razi mengomentari bahwa Allah telah memerintahkan kita untuk taat (أطيعو) kepada ulil amri tanpa syarat sama sekali; oleh karena itu, ulil amri itu seharusnya orang yang ma’shum (terjaga dari dosa). Karena kalau ulil amri itu berbuat dosa (dan berbuat dosa itu terlarang hukumnya), maka itu artinya kita harus ‘taat’ kepada mereka dan juga harus ‘tidak taat’ kepada mereka sekaligus! Dan ini jelas sama sekali suatu kemustahilan! Fakhru ‘d-Din ar-Razi takut orang-orang akan menjadi pengikut Ahlul Bayt, maka oleh karena itu ia cepat-cepat menambahkan dalam tafsirnya dengan penemuannya yang belum pernah ditemukan orang lain. Ia mengemukakan sebuah teori bahwa Umat Islam secara keseluruhan sebagai suatu kesatuan itu ma’shum!!!! (sedangkan kalau berdiri sendiri-sendiri itu tidak ma’shum!!!)

Ini adalah tafsir yang sangat unik dan belum pernah ditulis orang sebelumnya (jadi Ar-Razi itulah penemunya). Teori ini sama sekali tidak berdasarkan hadits apapun atau sunnah apapun. Sangat mengejutkan sekali mengetahui bahwa Ar-Razi sendiri memang mengakui bahwa umat Islam secara individual bukanlah manusia yang ma’shum; jadi tidak ada seorang Muslim pun (menurut Ar-Razi) yang ma’shum akan tetapi apabila mereka tergabung menjadi suatu kesatuan mereka adalah umat yang ma’shum. Jadi secara keseluruhan umat Islam itu ma’shum. Ini menggelikan mengingat seorang anak SD pun tahu kalau 200 sapi ditambah 200 sapi pastilah hasilnya 400 sapi dan tidak mungkin jadi seekor kuda!

Akan tetapi Ar-Razi mengemukakan bahwa 70 juta Muslimin yang tidak ma’shum ditambah 70 juta Muslim lagi yang sama tidak ma’shum-nya akan menghasilkan seorang Muslim yang ma’shum! Apakah Ar-Razi berkehendak untuk mengatakan bahwa apabila kita menggabungkan seluruh pasien rumah sakit jiwa akan menghasilkan satu orang yang waras?

Seorang pujangga kenamaan bernama Dr. Iqbal telah berkata:

Otak-otak dari dua ratus ekor keledai takkan pernah menghasilkan otak sehat milik seorang manusia

Jelas sekali dengan pengetahuan seperti ini Ar-Razi seharusnya  akan mudah menyimpulkan bahwa seorang Ulil Amri itu haruslah seorang yang ma’shum (terjaga dari dosa), akan tetapi sikap prejudice-nya (seperti diterangkan di atas—red) telah menghalangi beliau sampai pada keputusan seperti itu. Alih-alih begitu, Ar-Razi malah menyimpulkan bahwa Umat Islam iut secara keseluruhan adalah ma’shum.

Juga harus ditekankan di sini bahwa ayat tersebut mengandung kata minkum (diantaramu); jadi bukan keseluruhan melainkan sebagian dari kaum Muslimin. Kalau yang dimaksud oleh Ar-Razi itu keseluruhan umat (karena hanya dengan bentuk keseluruhan-lah umat Islam itu menjadi ma’shum seperti yang disebutkan oleh Ar-Razi—red) maka Ulil Amri itu adalah keseluruhan umat dan dengan demikian Ulil Amri tidak lagi memiliki pengikut atau rakyat yang dipimpinnya. Sedangkan apabila hanya satu orang saja dari kaum Muslimin, Ar-Razi berkata bahwa umat Islam secara individu itu tidak ada yang ma’shum; jadi Ulil Amri yang terpilih menjadi tidak ma’shum (menurut teori Ar-Razi).

Walhasil……….teori tersebut sangat membingungkan karena:

1. Tidak diambil dari khasanah Islam. Tidak dari Al-Qur’an tidak dari Hadits

2. Teori itu dibuat karena terpaksa. Ar-Razi dengan segenap kecerdasannya tahu bahwa Ulil Amri itu haruslah seorang yang ma’shum; akan tetapi ia tidak mau menyebutkan bahwa ada orang ma’shum setelah atau sepeninggal Nabi yang akan menjadi pemimpin karena kalau ia berkeyakinan seperti itu, maka ia sebenarnya telah menjadi syi’i karena hanya orang syi’i –lah yang memiliki keyakinan seperti itu. Orang syi’i percaya bahwa sepeninggal Nabi ada orang-orang yang harus mereka patuhi dan taati (Ulil Amri) yang tidak lain adalah para Imam ma’shumin (para Imam yang telah dijaga Allah dari perbuatan dosa)

(alau kita mengambil sesuatu yang tidak berasal dari Allah maka hasil akhirnya akan sama yaitu suatu kesia-siaan. Ar-Razi tahu benar akan kandungan ayat itu, tapi beliau menghindar dari arti sebenarnya dari ayat itu dan ia menemui kesia-siaan. Ia tidak berhasil mempertahankan teorinya yang ia buat sendiri—red)

Tidak ada komentar: