"KEBENARAN TIDAK DITENTUKAN OLEH SEDIKIT BANYAKNYA ORANG YANG BERKATA BAHWA ITU BENAR"

Jumat, 11 Februari 2011

AGAMA ISLAM, AGAMA CINTA


CINTA DALAM ISLAM (AL-HUBB AL-ISLAM)

Sebuah kuplet dalam bahasa Urdu mengatakan:

Kaba Kitna Khush Kismat Hai
Ke Yeh Allah (SWT) Ka Ghar Hai
Lekin Is Mein Allah Nahi Rehta
Momin Kaba Se Bhi Ziada Khush Kismat Hai
Jis Ke Dil Mein Allah (SWT) Rehta Hai

Setiap hati yang tak berapi bukanlah hati yang penuh kehidupan
Hati yang beku dan dingin tak ubahnya segenggam tanah liat yang mati
Ya Tuhan kami! Berikanlah kami hati yang penuh cahaya kilatan
Cahaya yang membungkus setiap hati dalam bara api

Dalam Islam. konsep cinta adalah konsep yang paling penting bahkan lebih penting dari semua konsep yang penting. Kita bisa lihat dengan jelas cinta mewujudkan dirinya sendiri dalam konsep filsafat Islam; dalam konsep teologi Islam; dalam konsep tasawuf dan ilmu etika; bahkan dalam berbagai aspek, cinta memainkan peranannya yang sangat penting. Sebagai contoh misalnya, ketika kita mendefinisikan pandangan Islam terhadap hubungan Tuhan dan manusia baik secara baik umum maupun secara khusus (misalnya hubungan antara Tuhan dengan sekelompok manusia tertentu), cinta mengambil peranan yang sangat penting dengan makna yang dalam sekali di sana. CInta itu begitu sentral perannya dalam Islam sehingga seringkali digambarkan sebagai "Genggaman yang paling erat yang bisa menggengam keimanan dengan kuat"; keimanan itu sendiri digambarkan dengan "mencintai karena Allah dan membenci karena Allah".

Ibnu Abbas suatu waktu melaporkan bahwa Rasulullah (saaw.) pernah bersabda:

"Keimanan yang paling kuat ialah berlaku ikhlas karena Allah, membenci karena Allah (tabarra), mencintai karena Allah (tawalla), dan menolak sesuatu karena Allah"

Ada sekelompok orang yang berpendapat bahwa seharusnya tidak ada yang namanya kebencian. Kebencian tidak semestinya ada di hati manusia. Nah, orang-orang seperti itu menggambarkan orang-orang yang baik dan utama sebagai orang-orang yang memiliki teman yang banyak. Orang-orang yang menjadikan setiap orang lain sebagai temannya tanpa melihat latar belakang dari orang yang mereka jadikan teman itu. 

Sebenarnya Islam juga menyarankan agar kaum Muslimin mencintai dan mengasihi serta menyayangi orang lain. Islam menyarankan agar kaum Muslimin berlaku ikhlas dalam berhubungan dengan orang lain, bahkan meskipun mereka itu tidak meyakini Islam atau bahkan tidak percaya dengan adanya Tuhan sama sekali. Akan tetapi ini bukan alasan yang kuat untuk membuat kita berteman dengan siapa saja tanpa ambil pusing, tanpa peduli. Tidak mungkin kita mengorbankan ajaran-ajaran Islam yang suci ini dan berlaku masa bodoh dengan kezaliman yang dilakukan oleh orang lain. Tidak mungkin kita membiarkan orang lain berlaku semena-mena menindas sesama. Orang zalim seperti itu termasuk orang-orang yang tidak boleh kita jadikan teman. Orang zalim seperti itu tidak mungkin kita jadikan teman. Jadi tidak setiap orang harus kita jadikan teman meskipun Islam mengajarkan kita untuk mencintai dan mengasihi orang lain karena selain Islam mengajarkan itu, Islam juga mengajarkan kita untuk membenci prilaku buruk dan tindakan jahat. Sebenarnya orang yang zalim, kejam, buas dan tidak berprikemanusiaan sudah sewajarnya akan dibenci oleh orang lain dengan sendirinya. Itu sangat alamiah, meskipun orang yang bersangkutan tidak senang diperlakukan seperti itu. Di masyarakat itu selalu saja ada sekelompok orang baik-baik dan sekelompok lagi orang yang jahat-jahat (dan sekelompok lagi yang kebingungan mencari kelompok!--penerj.). Baik dan buruk itu adalah dua kutub yang berlawanan. Apabila seseorang tertarik kepada kelompok kebaikan dan ingin bergabung dengannya maka ia selain harus meninggalkan kelompok kejahatan, ia juga harus berlepas diri dari kelompok itu karena ia tidak mungkin berada dalam dua kelompok yang saling berseberangan dalam waktu yang bersamaan. 

Ketika ada dua orang manusia yang saling tertarik satu sama lainnya dan hati keduanya disatukan dalam sebuah pertemanan yang akrab dan mereka saling menyukai kehadiran satu sama lainnya, maka kita harus melihat bahwa ada alasan yang kuat dan masuk akal atas fenomena seperti itu. Alasan yang paling masuk akal dan bisa diperhitungkan ialah karena adanya kesamaan atau keserasian antara kedua orang itu. Apabila tidak ada kesamaan antara kedua orang itu maka mereka tidak akan saling tertarik satu sama lain dan mereka tidak mungkin menjadi teman yang baik seperti sebuah pepatah dalam bahasa Inggeris"Birds of the same feather flock together" (Burung-burung yang memiliki bulu yang sama akan hinggap di pohon yang sama).

Maulana Jalaluddin Rumi dalam kitabnya Matsnawi menuliskan sebuah cerita yang bagus untuk menggambarkan ini:
Cerita itu menggambarkan seorang lelaki yang bijak yang sedang melihat seekor burung gagak yang jatuh cinta kepada seekor burung bangau. Mereka berkumpul bersama-sama dan terbang bersama-sama! Orang yang bijak itu tidak habis pikir dan tidak mengerti bagaimana bisa dua ekor burung yang sama sekali berbeda segalanya karena spesiesnya pun berbeda bisa menjadi sahabat setia. Kemudian orang bijak mendekati kedua burung itu dan kemudian menemukan bahwa keduanya itu ternyata memiliki satu kesamaan unik satu sama lainnya: kedua burung itu hanya memiliki satu kaki saja!

Gagasan yang sama digambarkan juga oleh para Imam dari Ahlul Bayt Rasulullah (saaw.). Misalnya, Fudayl ibn Yasar, salah seorang murid Imam Ja'far al-Sadiq (as) bertanya, "Apakah cinta  dan benci itu berasal dari keimanan seseorang?" Imam Ja'far (as) menjawab, "Keimanan itu tidak lain dari cinta dan benci"

Juga diriwayatkan bahwa Imam al-Baqir (as) menyatakan bahwa, "Agama itu ialah cinta dan cinta itu ialah agama"

Seperti digambarkan dalam pernyataan-pernyataan serta hadits-hadits di atas, cinta memainkan peran yang sangat penting dan penuh makna. Oleh karena itu, konsep cinta itu memerlukan perhatian yang seksama sehingga kita nantinya kita bisa menemukan arti sebenarnya dari makna cinta itu. Kita bisa menentukan konsep cinta itu dalam Islam apabila kita telah mempelajarinya secara seksama. 

Pertama-tama kita harus menjawab beberapa pertanyaan terlebih dahulu. Cinta macam apakah yang ditekankan dalam Islam? Siapakah yang menjadi objek dari cinta seperti itu? Mengapa orang-orang beriman mesti memiliki cinta seperti ini dan untuk tujuan apakah cinta seperti itu?

Di dalam Islam cinta itu bisa digolongkan kedalam beberapa bagian yang luas yaitu:
Cinta untuk Allah, Cinta untuk Rasulullah (saaw.) dan keluarganya, dan cinta kepada orang-orang yang beriman.


CINTA KEPADA ALLAH SWT ADALAH FONDASI TERKUAT DALAM KEYAKINAN ISLAM

Kita lihat sebuah ayat dalam al-Qur'an al-Karim:

"Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal)" (QS. Al-Baqarah: 165)

Menurut ajaran Islam, persyaratan yang paling minim dari kecintaan seorang beriman ialah rasa cintanya kepada Tuhan. Kecintaan kepada Tuhan itu harus memiliki tempat yang pertama dan utama dalam hati mereka. Maksudnya ialah kecintaan seseorang kepada sesuatu itu tidak boleh melebihi kecintaan dirinya kepada Tuhan. Tuhan itu harus menjadi objek cintanya--objek tertinggi, teragung, dan terutama. Al-Qur'an Al-Karim berkata:

"Katakanlah: 'jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya' . Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik" (QS. At-Taubah: 24)

Ayat ini dengan jelas mengindikasikan bahwa kecintaan seseorang kepada Tuhan itu harus lebih daripada kecintaan seseorang terhadap segala sesuatunya. Kekuatan cinta itu baru terlihat ketika kita harus memilih antara kecintaan kita kepada Allah dan agama yang diturunkanNya dengan kecintaan seseorang kepada harta bendanya, kepada segala sesuatu yang dimilikinya. Dalam kasus ini, seseorang yang beriman harus mampu mengorbankan harta benda kesayangannya demi kecintaannya yang tulus kepada Tuhan. Misalnya apabila Allah meminta kita untuk mengorbankan nyawa kita atau harta benda kita atau semacamnya, maka kita harus merelakan kecintaan kita terhadap itu semua demi mempertahankan kecintaan kita kepada Allah. Kecintaan kita kepada keluarga, kekayaan, dan kekuasaan jangan sampai mencegah diri kita sehingga kita berpaling dari padaNya. Jangan sampai ada sesuatupun yang bertentangan dengan kecintaan kita kepada Allah. Al-Qur'an al-Karim berkata:

"Allah tidak menjadikan bagi seseorang dua hati dalam tubuhnya" (QS. Al-Ahzab: 4)

Imam Ali (as) senantiasa menghabiskan waktunya dengan putera-puterinya. Pada suatu ketika beliau sedang duduk-duduk di rumahnya dengan putera-puterinya yang masih kecil waktu itu. Sayyida Zainab (sa) berkata, "Ayah, apakah engkau mencintaiku?" Imam Ali (as) berkata, "Ya, tentu saja. Putera-puteriku itu seperti bagian dari jantungku". Demi mendengar hal ini, Zainab berkata, "Bukankah kau juga mencintai Allah. Bagaimana mungkin engkau mencintai dua hal sekaligus? Bagaimana mungkin engkau memasukkan dua cinta dalam satu hati yang penuh keimanan. Bagaimana mungkin engkau memasukkan dua cinta dalam satu hati yang penuh keimanan. Bagaimana mungkin engkau mencintai Allah dan juga anak-anakmu sekaligus?"

Imam Ali (as.) tersenyum dan menjawab, "Cintailah Allah dan untuk mendapatkan cintaNya, cintai juga makhluk-makhluk ciptaanNya; engkau harus mencintai anak-anakmu dan juga orang lain selain dirimu. Aku mencintai dirimu demi cintaku kepada Allah"

Oleh karena itu maka cinta kepada Allah itu menjadi dasar keyakinan Islam, dasar yang di atasnya manusia bisa mendirikan prinsip-prinsip keimanannya. Oleh karena itu juga dengan satu hati kita hanya mencintai satu kekasih saja. 

Imam Jafar as-Sadiq (as) pernah berkata satu kali, "Hati itu adalah tempat bersemayamnya Allah, oleh karena itu tidak boleh kalian memasukkan apapun kedalamanya kecuali Allah".

Sebuah hadits Qudsi berbunyi, "Bukanlah bumi, dan bukan juga langit yang bisa meliputiku. Sesungguhnya yang bisa meliputiku hanyalah sebuah hati dari orang yang beriman"

Sejarah Islam itu penuh dengan kenangan tentang orang-orang yang hatinya penuh dengan kecintaan yang meluap-luap terhadap Allah dan agamaNya. Salah seorang dari orang yang hatinya penuh dengan luapan cinta kepada Illahi dan menghambakan dirinya kepada Islam ialah Bilal al-Habashi--seorang budak belian berkulit legam. Para musyrikin Qurays di kota Mekah memberikan siksaan yang pedih tiada peri hanya untuk mendengarkan dirinya menyebut nama-nama sesembahan yang disembah oleh mereka. Mereka ingin Bilal menyebut nama-nama tuhan-tuhan mereka dan kemudian mengingkari Islam yang telah bersemayam di dalam dirinya. Mereka menyiksa Bilal di bawah terik sinar mentari gurun yang panas tidak kepalang. Mereka membaringkan Bilal di atas pasir yang panas membara kemudian menindihkan sebuah batu besar di dadanya. Abu Bakar, salah seorang sahabat Nabi yang sangat kaya sedang berjalan melewati mereka. Ia mendengar teriakan kesakitan Bilal kemudian datang mendekati dan ia menasehati Bilal untuk menyembunyikan keyakinannya, akan tetapi Bilal tidak mau melakukan itu; karena ia bukan Abu Bakar. Kecintaan Bilal sangat tulus dan ikhlas pada Allah dan RasulNya, dan ia tidak mau menghianati cintanya itu. Cinta yang dihianati hanyalah akan memberikan kematian bagi para pecintanya.

Contoh yang lain ialah yang terjadi pada diri Imam Husein ibn Ali (as) yang berkata:

"Ya, Allah. Aku meninggalkan dunia demi meraih cintaMu.
Aku siap untuk menjadikan semua anakku menjadi piatu demi cintaMu.
Hatiku tidak bisa lagi berpaling pada yang selainMu.
Meskipun engkau potong tubuhku menjadi serpihan untuk meraih cintaMu."


CINTA, TUJUAN SATU-SATUNYA DARI PENCIPTAAN ALAM SEMESTA

Ada sebuah hadits suci, sebuah hadits qudsi, yang mungkin bisa kita temui di beberapa buku yang menceritakan tentang penciptaan alam semesta menurut pandangan Islam. Menurut sebuah hadits qudsi, Allah pernah berfirman: 

"Aku ini sebuah harta terpendam; aku senang sekali dicari orang-orang. Oleh karena itu, aku menciptakan dunia ini supaya orang-orang mengenaliKu"

Allah telah menciptakan dunia ini atas nama cinta. Akan tetapi, mungkin sebuah pertanyaan akan muncul dalam benak kita: Mengapa Allah senang untuk dicari dan dikenali? Tentu saja, Allah tidak memiliki keinginan untuk menjadi terkenal. Alasan mengapa Allah ingin dicari dan dikenali bisa dimengerti dengan mengingat bahwa Allah yang maha-bijaksana, maha-pengasih, dan maha penyayang itu telah menciptakan manusia untuk memberikan kasih-sayangNya yang maha-sempurna sesanggup yang bisa diterima oleh manusia. Tentu saja, kesempurnaan dari semua ini haruslah berbalas. Kita harus mendekatiNya sedekat mungkin untuk memanjatkan rasa syukur kita. Kita harus mencintai Allah sebagai salah satu dari bentuk rasa syukur itu. Akan tetapi sebelum kita mencintai Allah, kita harus mengenali Allah terlebih dahulu. Karena mana mungkin kita mencintai sesuatu yang belum kita kenali sebelumnya. Oleh karena itu, kita harus mencari dan mengenal Allah sebagai langkah awal dari mencintaiNya.

Diriwayatkan dalam sebuah hadits qudsi bahwa apabila Allah mencintai seseorang, maka Allah akan menjadi telinganya, matanya, lidahnya, dan tangannya. Hadits qudsi itu kurang lebih berbunyi: 

"Ketika Aku mencintainya, maka aku akan menjadi telinganya yang dengannya ia mendengar; matanya yang dengannya ia melihat; lidahnya yang dengannya ia berbicara; dan tangannya yang dengannya ia memegang; apabila ia memanggilKu, maka aku akan segera datang menjawab panggilannya; dan apabila ia meminta dan memohon padaKu, maka aku akan segera memenuhi permintaannya"

Manusia itu memiliki kebutuhan fisik yang harus ia penuhi dan ia harus berusaha untuk memenuhi kebutuhan itu sendiri. Sama halnya dengan itu, manusia juga memiliki kebutuhan spiritual yang harus ia penuhi juga. Kebutuhan spiritual itu sengaja diciptakan dan ditempatkan oleh Sang Maha-Pencipat dalam setiap ruh manusia. Manusia memiliki kecenderungan alamiah untuk mencari cinta dan kecintaan terhadap sesuatu apapun akhirnya tidak memiliki realitas yang sebenarnya apabila kecintaan itu sama sekali tidak berdasarkan karena Allah. Setiap cinta itu--dalam berbagai bentuknya--baik itu secara langsung maupun tidak tidak merupakan perwujudan dari harapan manusia untuk dapat mencapai kesempurnaan yang hakiki. Sementara itu yang namanya kesempurnaan hanyalah miliki Allah semata. 

(Sebagai contoh seorang laki-laki yang cukup tampan mencintai seorang wanita yang sangat cantik di kantor dimana ia bekerja. Ia berpendapat bahwa alangkah bahagianya dia apabila bisa mendapatkan cinta dari si wanita cantik tadi. Ia merasa lengkap dan sempurna apabila ia berhasil mempersunting wanita cantik itu. Setelah berhasil memperistri wanita cantik itu, ia baru sadar bahwa istrinya yang cantik itu tidak sesempurna yang ia bayangkan. Kesempurnaan itu hanyalah milik Allah. Apabila ia mencintai wanita cantik itu karena Allah, maka ia akan tetap mencintai wanita itu walaupun ia sadar bahwa banyak sekali kekurangan yang ada berlimpah pada wanita itu meskipun ia cantik rupanya. Semua kekurangan yang ada pada wanita itu tertutup oleh kesempurnaan Allah yang telah ia cintai lebih dari segalanya--penerj.)

Cinta Allah yang diwujudkan dalam proses penciptaan alam semesta ini juga dalam penciptaan manusia secara mufakat disepakati oleh semua kalangan Muslimin tanpa kecuali. Bahkan salah satu nama Allah itu ialah al-wadud yang artinya: Ia yang mencintai. Beberapa kalangan non-Muslim meyakini bahwa Tuhan dalam agama Islam itu sangat kejam dan bengis. Menurut mereka itu Tuhan kaum Muslimin itu senantiasa meminta untuk dipatuhi sepenuh hati. Tuhannya itu tidak penuh cinta dan tidak ramah. Sebenarnya kenyataan yang ada jauh panggang dari api. Tuduhan seperti itu sama sekali tidak berdasar. Sebenarnya kita cukup menjawab mereka dengan jawaban bahwa semua surah dalam al-Qur'an yang berjumlah 114 surah (kecuali surah at-Taubah) semuanya dimulai dengan ayat bismillah: "Dengan nama Allah, yang maha-pengasih dan maha-penyayang".

Dalam salah satu sabda Rasulullah, kita diberitahu bahwa "Allah itu lebih penuh cinta dan kasih dibandingkan dengan seorang ibu terhadap anak yang dikasih-sayangi-nya". Apakah anda ingin dikasihi dan disayangi serta dicintai oleh Allah? Kalau anda menjawab "Ya", maka perhatikanlah syarat-syarat yang harus dimiliki oleh orang yang ingin dicintai oleh Allah di bawah ini:

Allah mencintai orang-orang yang bertaubat (lihat 2: 222)
Allah mencintai orang-orang yang suka mensucikan dirinya (lihat 2: 222, 9: 108)
Allah mencintai orang-orang yang bertakwa yang menjaga dirinya dari perbuatan jahat (lihat 3: 76, 9: 4, 9: 7)
Allah mencintai orang-orang yang sabar (lihat 3: 146)
Allah mencintai orang-orang yang bertawakkal kepada Allah (lihat 3: 159)
Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil (lihat 5: 42, 49: 9, 60: 8)

Patut dicatat di sini ialah bahwa meskipun Allah itu di dalam Islam dikenal juga dengan nama "Sang Pemarah" atau al-Ghadab akan tetapi penerapan nama itu sangat jauh lebih terbatas dibandingkan dengan kemaha-kasih dan kemaha-sayanganNya kepada setiap makhluk yang diciptakanNya. Ditambah lagi bahwa kemarahan Allah itu hanya menimpa kepada orang-orang yang dengan sengaja melakukan perbuatan jahat dan melawan hukum yang telah ditentukan oleh Allah. Ingatlah bahwa Allah juga maha-adil. Jadi orang-orang yang telah melakukan perbuatan jahat atau perbuatan dosa secara sengaja memang pantas mendapatkan ganjaran yang setimpal atas perbuatan yang dilakukannya. Jadi kalau Allah itu marah dan memberikan hukuman bagi yang telah membuatNya marah sangatlah wajar sekali. 

Kemarahan itu juga sebenarnya perwujudan dari rasa cinta dan kasih sayangNya. Apabila cintaNya dan kasih-sayangNya itu tidak ada pada diriNya maka Ia tidak akan peduli sama sekali terhadap apapun yang diperbuat oleh makhlukNya. Sama seperti halnya seorang ayah yang menjadi marah kepada anaknya karena anaknya telah berbuat salah. Karena si ayah itu peduli dan prihatin dengan apa yang telah dilakukan oleh anaknya itu, karena si ayah itu peduli dengan keluarganya, maka si ayah akan mencoba untuk mendidik anaknya itu agar mengubah prilaku buruknya. Si aya akan mencoba untuk mendidik anaknya itu agar mengubah prilaku buruknya. Si ayah akan memberikan pelajaran moral yang baik kepada anaknya dan ia akan mengingatkan agar si anaknya itu tidak lagi melakukan perbuatan keji itu untuk kesekian kalinya. 

Cinta yang rasional serta cerdas ialah cinta yang melibatkan seluruh umat manusia secara keseluruhan dan bukan hanya untuk segelintir atau sekelompok manusia tertentu saja. Seseorang bisa saja membawakan kebaikan kepada manusia lainnya atau kepada sekelompok kecil manusia akan tetapi pada saat yang bersamaan ia melakukan tindak kejahatan kepada sekelompok umat manusia yang jumlahnya lebih banyak lagi. Misalnya, seorang hakim yang membebaskan seorang penjahat yang terbukti bersalah. 

Si hakim itu bisa kita anggap telah melakukan kebaikan kepada si penjahat itu, akan tetapi sesuatu yang lebih buruk bisa terjadi kepada masyarakat ketika si penjahat itu dibiarkan bebas; ditambah lagi masyarakat akan merasakan ketidak-adilan di sana. Itu benar-benar menyinggung perasaan keadilan yang ada di masyarakat. Ia seharusnya tidak membiarkan si penjahat itu pergi meskipun si penjahat itu memiliki tampang yang mengkhawatirkan atau jangan sampai rasa belas kasihan yang terlalu berlebih sehingga menjadikan dirinya tidak bisa memberikan hukuman yang setimpal atas perbuatan dari si penjahat. Ketika salah seorang dari anak kita memerlukan injeksi atau sebuah operasi, maka kita tidak boleh menghalang-halangi si dokter untuk melakukan tugasnya. Rasa belas kasih kita harus ditekan terlebih dahulu. Jadi kemarahan Allah itu harus dilihat dati sudut pandang ini. Allah marah karena Ia peduli dan penuh kasih sayang kepada kita. 


MENGAPA KITA HARUS MENCINTAI ALLAH?

Menurut Islam, alasan pertama mengapa kita harus mencintai Allah ialah karena (setelah disebutkan sebelumnya) Allah itu ialah sang maha-berharga, sang maha-sempurna, dan sang maha-indah yang kesemuanya bersifat kekal selalu ada besertaNya. Manusia tidak bisa membayangkan kesempurnaan seperti ini. Manusia yang secara alamiahnya menghargai keutamaan, keindahan, dan kesempurnaan niscaya ia akan mencintai Allah. 

Alasan kedua ialah karena manusia secara alamiahnya akan mencintai yang telah berlaku baik kepadanya. Mereka akan menghargai kebaikan seperti itu, seperti yang telah disabdakan oleh Imam Ali (as):
"Kemurahan-hatian dan kebaikan itu akan memperbudak manusia sehingga tunduk padanya".

Karena Allah itu adalah sumber dari segala sumber kehidupan, sumber dari segala sumber kemurah-hatian dan kebaikan, maka manusia dengan ketinggian akhlaknya, akan mencintai Tuhan. Rasulullah (saaw.) pernah bersabda:
"Cintailah Allah karena Dia telah melakukan kebaikan kepadamu dan Dia telah mencintaimu"

Seseorang yang beriman yang telah memulai perjalanan spiritualnya menuju Allah pertama-tama akan mencoba mengenali rahmat Allah yang telah dilimpahkan kepadanya, yang telah membuat dirinya dilimpahi banyak sekali rizki dan bantuan serta bimbingan yang membuat dirinya bisa melakukan suatu perbuatan yang baik. Setelah ia melanjutkan perjalanannya dan setelah dirinya diberikan pandangan spiritual terhadap dunia ini, maka segera ia akan menyadari bahwa setiap segala sesuatu yang baik itu mestilah datang dari Tuhan. Kita telah baca dalam al-Qur'an sebuah ayat suci sebagai berikut:

"Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri" (QS. An-Nisa: 79)

Dengan tidak melihat bahwa seseorang yang mencintai Tuhan akan juga dicintai oleh Tuhan (lihat QS. 5: 54), kecintaan yang tulus kepada Tuhan akan menyebabkan seseorang tidak lagi ragu-ragu dan bimbang ketika akan melakukan sebuah perbuatan yang baik atau amal saleh. Nalar dan insting alamiah yang dimiliki oleh manusia akan menyebabkan dirinya senantiasa bertindak dan bertingkah laku untuk menyenangkan yang dicintainya. Jadi apabila seseorang itu mencintai Tuhan, maka ia akan senantiasa berusaha untuk melaksanakan segala perintahNya dan menjauhi laranganNya. Untuk ini al-Qur'an menyatakan:

"Katakanlah: 'Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu'. Allah maha-pengampun lagi maha-penyayang'" (QS. Al-Imran: 310)

Ayat ini sekaligus menunjukkan hubungan antara cinta--yang ada di dalam dada seseorang--dengan meniru prilakuk Nabi Muhammad (saaw.) sebagai perwujudan dari rasa cinta kita kepada Allah. Ayat ini menjelaskan apabila kita memang mencintai Allah, maka kita harus mengikuti apa-apa yang diperintahkan oleh Rasulullah sebagai wakil Allah di muka bumi ini. Jadi orang yang mencintai Allah tidak mungkin akan meninggalkan apa yang telah diperintahkanNya. Dan salah satu dari perintahNya ialah mencintai Rasulullah dan keluarganya (saaw.). 

Tidak ada komentar: