"KEBENARAN TIDAK DITENTUKAN OLEH SEDIKIT BANYAKNYA ORANG YANG BERKATA BAHWA ITU BENAR"

Karbala Berduka

Karbala Berduka
Ya, Syahid! Ya, Madzhlum! Ya, Imam! Ya, Husein!

Selasa, 08 Februari 2011

ARTI SEBENARNYA DARI “ULUL AMRI” SEPERTI YANG DIMAKSUD NABI (tafsir dari ayat ke-59 dari surah An-Nisaa)


يا أيها الذين آمنوا أطيعوا الله وأطيعوا الرسول وأولي الأمر منكم فإن تنازعتم في شيء فردوه إلى الله والرسول إن كنتم تؤمنون بالله واليوم الآخر ذلك خير وأحسن تأويلا

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” (QS. An-Nisaa: 59)


Kita akan bahas arti sebenarnya dari ungkapan Ulil Amri yang terdapat dalam Al-Qur’an.


Al-Imam Ja’far As-Shadiq (as) bersabda bahwa ayat yang dimaksud di atas ialah ayat yang berkenaan dengan Ali bin Abi Thalib, Hasan, dan Husein (as). Demi mendengar ini seseorang bertanya kepada Imam: “Orang-orang berkata, ‘Mengapa Allah tidak mencantumkan langsung nama Ali dan keluarganya di dalam Al-Qur’an?’”


Kemudian Imam menjawab: “Katakan saja pada mereka bahwa perintah untuk shalat sudah datang, tapi Allah tidak pernah mencantumkan (dalam al-Qur’an) apakah shalat itu tiga raka’at atau empat raka’at. Adalah Rasulullah yang menjelaskan semua itu secara rinci. Ketika perintah zakat telah turun, Allah tidak menjelaskan apakah zakat itu besarnya seper empat puluh untuk setiap dirham yang kita miliki. Adalah Rasulullah yang menjelaskan itu semua. Ketika datang perintah untuk berhaji, Allah juga tidak menjelaskan apakah kita harus bertawaf—berjalan mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali. Rasulullah-lah yang menjelaskan itu semua secara terperinci. Begitu juga ketika ayat ini datang:

اأطيعوا الله وأطيعوا الرسول وأولي الأمر منكم

“taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu”


Ayat ini dijelaskan Nabi bahwa ini berkenaan dengan Ali, Hasan, dan Husein (as)”
(LIHAT: al-‘Ayyashi: at-Tafsir, volume 1, halaman 249—250; juga lihat: Fayd al-Kashani: At-Tafsir (as-Safi), volume 1, halaman 364)
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Dalam Kifayatu ‘l-athar, ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Jabir ibn ‘Abdillah al-Ansari, yang menjelaskan arti sebenarnya dari ayat tersebut di atas. Ketika ayat tersebut turun, Jabir bertanya kepada Rasulullah: “Kami mengenal Allah dan RasulNya, akan tetapi siapakah Ulil Amri yang dimaksud oleh ayat tersebut yang ketaatan kepada mereka itu disejajarkan dengan ketaatan kepada Allah dan engkau, ya Rasulullah?” Kemudian Rasulullah menjawab, “Mereka adalah para khalifah dan Imam yang dari kaum Muslimin yang datang setelahku. Yang pertama dari mereka ialah Ali, kemudian Hasan, kemudian Husein, kemudian Ali bin Husein; kemudian Muhammad bin Ali—yang disebut dengan nama Al-Baqir dalam Taurat. Wahai Jabir! Engkau akan bertemu dengannya. Ketika engkau bertemu dengannya, sampaikan salamku kepadanya. Ia akan diteruskan oleh puteranya Ja’far as-Sadiq; kemudian Musa bin Ja’far; kemudian Ali bin Musa; kemudian Muhammad bin Ali; kemudian Ali bin Muhammad; kemudian Hasan bin Ali; ia akan diikuti oleh puteranya yang namanya dan nama panggilannya sama dengan namaku. Ia akan menjadi hujatullah (bukti adanya Allah) di muka bumi ini, dan baqiyyatullah (atau yang ditangguhkan oleh Allah untuk menjaga keimanan) diantara umat manusia. Ia akan menguasai dunia dari timur hingga ke barat. Begitu lama ia akan tersembunyi dari mata para pengikutnya dan para sahabatnya dan keimanan pada Imamah yang disandangnya akan tetap di dalam hati-hati mereka yang sudah diuji oleh Allah keimanannya.”


Jabir berkata: “Wahai Rasulullah! Akankah para pengikutnya mendapatkan keberkahan atau keuntungan dari keghaibannya?”


Rasulullah bersabda, “Ya, tentu saja! Demi DIA yang telah mengirimku bersama dengan kenabian! Mereka yang beriman akan diberikan bimbingan dengan cahayanya, dan akan mendapatkan keuntungan dari wilayah-nya (cinta dan kasih sayangnya) selama masa keghaibannya sama seperti manusia yang mendapatkan kehangatan cahaya matahari yang sedang tertutup awan. Wahai Jabir! Berita ini berasal dari rahasia Allah dan dari pengetahuan tersembunyi milik Allah. Jadi jagalah rahasia ini kecuali dari orang-orang (yang layak untuk mengetahui ini)


(LIHAT: Al-Khazzaz: Kifayatu ‘l-athar, halaman 53)

Hadits tersebut dikutip dari sumber-sumber yang berasal dari kalangan Ahlul Bayt Nabi (Syi’ah). Sementara itu di kalangan Ahlu Sunnah kita tidak memiliki sumber yang terperinci seperti itu. Akan tetapi kita juga tetap bisa mendapatkan ratusan (sekitar 270 hadits—red) hadits dari Ahlu Sunnah yang menyebutkan akan datangnya 12 imam. (untuk mengetahui lebih lanjut tentang hadits-hadits dari Ahlu Sunnah yang mengemukakan tentang akan datangnya 12 Imam sepeninggal Rasulullah anda bisa klik kata “12 imam” yang berwarna kuning di atas. Itu adalah tulisan saya bagian pertama dari diskusi saya dengan salah seorang ustadz/ulama bermadzhab wahabi. Semuanya ada 12 bagian. Bagian terakhir tidak dilanjutkan karena ustadz yang bersangkutan tidak lagi mau melanjutkan diskusi)


Sekarang karena kita telah mengetahu arti ungkapan “Ulil Amri” (mereka yang diberi kekuasaan), maka telah jelaslah mengapa kita harus patuh dan taat kepada mereka dan mereka itu bukanlah para penguasa atau raja lalim yang biasa dipatuhi oleh umat manusia termasuk kaum Muslimin. Dalam ayat ini juga tersirat bahwa kaum Muslimin sama sekali tidak diwajibkan untuk mematuhi para pemimpin dan atau penguasa yang dzalim, tiran, jahil, egosi, dan bergeliman dalam dosa—baik dosa kecil apalagi dosa besar. Kaum Muslimin (sesuai dengan hadits-hadits yang beredar baik di kalangan Ahlul Bayt Nabi maupun di kalangan Ahlu Sunnah) diperintahkan untuk mematuhi dan mentaati serta mengikuti petunjuk dan bimbingan dari 12 Imam tertentu yang telah disucikan oleh Allah. Mereka semua terjaga dari dosa dan terjauh dari pikiran buruk dan terpelihara dari perbuatan dosa dan perbuatan sia-sia. Mematuhi dan mentaati orang-orang seperti itu bukan saja boleh tetapi malah diwajibkan karena tidak akan mendatangkan mudharat kepada siapa saja yang mengikuti mereka. Bahkan apabila kita senantiasa mengikuti mereka, kita akan terlindungi dari resiko besar yang akan terjadi apabila kita patuh dan taat kepada seorang pemimpin. Karena mereka akan memberikan perintah yang senantiasa ada pada koridor keridhoan Allah. Mereka akan memerintah umat manusia dengan cinta kasih dan rasa sayang. Mereka akan memperlakukan kita dengan adil dan jujur; jauh dari sifat korup dan tiran yang senantiasa ada pada para pemimpin biasa yang tidak ditunjuk oleh Allah untuk memimpin umat ini.

Semoga kedatangan Imam akhir zaman menjadi akhir yang baik bagi kemanusiaan.

Tidak ada komentar: