"KEBENARAN TIDAK DITENTUKAN OLEH SEDIKIT BANYAKNYA ORANG YANG BERKATA BAHWA ITU BENAR"

Karbala Berduka

Karbala Berduka
Ya, Syahid! Ya, Madzhlum! Ya, Imam! Ya, Husein!

Rabu, 23 Februari 2011

MUHAMMAD, KETIKA MASIH KECIL

KELAHIRAN RASULULLAH DAN PERINGATAN MAULID

Rasulullah lahir pada tahun 570M (lima puluh tiga tahun sebelum Hijrah) di kota Mekah, sebuah lembah atau kota kecil pegunungan di sebuah padang pasir datar di sebelah barat Arabia. Namanya (yaitu Muhammad) diambil dari bahasa Arab Hamada, yang berarti "menghormati atau mengagung-agungkan" . Ia adalah anak pertama dan anak satu-satunya dari Abdullah bin Abdul Muttalib dan dari Aminah binti Wahab.  Abdullah bin Abdul Muttalib meninggal sebelum Muhammad puteranya yang ditunggu-tunggunya lahir. Tanggal pastinya dari hari kelahiran beliau seringkali diperdebatkan diantara para sejarawan akan tetapi Ayatullah Ruhullah Musawi al-Khomeini (ra)--pendiri dan pencetus revolusi Islam--telah menggagas lahirnya sebuah pekan perayaan yang menggabungkan tanggal 12 Rabbiul Awwal (yang diyakini sebagai hari kelahiran Rasulullah oleh saudara kita dari kalangan Ahlu Sunnah) dengan tanggal 17 Rabbiul Awwal (yang diyakini sebagai hari kelahiran Rasulullah oleh saudara kita dari kalangan Ahlul Bayt atau Syi'ah). Pekan perayaan selama kurang lebih seminngu ini disebut dengan perayaan "Hafta-E-Wahdat" atau "Minggu persatuan bagi kalangan Muslimin" . Kaum Muslimin seluruh dunia dimohon kesediaannya untuk berkumpul bersama dan merayakan hari kelahiran (Eid-E-Milad un Nabi) dari Muhammad Rasulullah selama sepekan yang penuh berkah.

Tahun dimana Rasulullah dilahirkan dikenal sebagai tahun Gajah (Aam ul-Feel). Disebut dengan tahun Gajah karena pada waktu kelahiran Rasulullah itu, ada seorang pemimpin dari Yaman, Arabia, mencoba untuk menghancurkan Ka'bah dengan mengerahkan seluruh bala tentaranya berupa sekawanan pasukan berkendaraan Gajah. Ketika Abrahah (nama pemimpin Yaman itu) mau menghancurkan Ka'bah, muncullah sekawanan burung-burung kecil mirip burung camar membawa batuan kecil di paruhnya. Rombongan burung camar itu begitu banyaknya hingga membentuk awan gelap menutupi langit yang cerah. Burung-burung camar itu kemudian menjatuhkan batuan ke pasukan Abrahah itu tepat mengenai kepala-kepala mereka hingga menusuk dari ubun-ubun ke dalam tubuh mereka menyebabkan mereka semua meninggal secara tiba-tiba. Ada juga yang menceritakan bahwa pada saat yang bersamaan itu di Arabia ada serangan penyakit menular yang pada waktu itu cukup mematikan seperti tifus dan cacar. Semua penyakit itu menyerang dan meruntuhkan semangat tempur dari para prajurit dalam pasukan Abrahah. Abahah sendiri menderita penyakit cacar dan ia hanya bisa bertahan hidup sampai ia bisa kembali ke Yaman saja dan kemudian meninggal dunia di sana. Cerita ini adalah cerita yang juga digambarkan dalam al-Qur'an (Surah Al-Fil, surah ke-105). 

Suku asal dari Nabi Muhammad (saaw) ialah suku Qurays. Suku ini adalah suku yang paling berpengaruh di dunia Islam dan merupakan suku yang memerintah kaum Muslimin selama berabad-abad setelah kemunculan Islam.
 
 
BAYI MUHAMMAD, BAYI PENUH MUKJIZAT

Hafta-E-Wahdat, Week of Unity
Rasulullah lahir ……… dan kemudian serangkaian kejadian menakjubkan terjadi di berbagai belahan dunia—baik di bumi maupun di langit—terutama di belahan dunia bagian timur tempat peradaban manusia berasal dan menyebar.

Kabar tentang beberapa kejadian di dunia itu menyebar cepat dan segera menjadi perbincangan di kalangan orang-orang penting dan orang-orang tak penting. Kelahiran seorang bayi yang kelak akan menghancurkan keyakinan takhayul dan penyembahan berhala segera dihubung-hubungkan dengan kejadian-kejadian yang melanda dunia

Dikisahkan pada hari dimana Rasulullah itu dilahirkan ada peristiwa-peristiwa sebagai berikut:
  1. Seluruh berhala di seluruh dunia jatuh dari tempatnya ke bumi

  2. “Beranda atau halaman depan Kisra” (salah satu bagian dari istana raja Iran) berguncang keras dan 14 tangganya rusak berat

  3. Danau Saweh yang kerapkali disembah orang-orang mendadak kering kerontang

  4. Air mengalir deras di Gurun Samaweh, dimana disana orang tak pernah sekalipun melihat ada air menggenang

  5. Api abadi yang ada di sebuah kuil besar di Persia tiba-tiba padam padahal api itu selalu menyala selama bertahun-tahun lamanya

  6. Pada malam hari kelahirannya, sebuah cahaya muncul dari Hijaz dan terus menyebar ke arah timur

Eid-E-Milad un Nabi, Birth celebrationSetelah kejadian itu para penyembah berhala yang selama ini menyembah patung-patung dan benda-benda lain yang tak berguna semuanya terguncang pikirannya. Pikiran mereka yang selama ini terhalangi oleh prasangka dan keyakinan lainnya segera beralih kelain arah memikirkan kejadian-kejadian yang baru saja tersaji di hadapannya. Mereka memikirkan kiranya apa gerangan yang terjadi dan mengapa bisa terjadi. Mereka berpikir seperti itu karena kejadian itu menimpa tempat-tempat suci dan tempat peribadatan mereka selama ini.

MUHAMMAD, YATIM PIATU 

Rasulullah pada waktu itu berusia 6 tahun ketika ibunya—Bunda Aminah binti Wahab—meninggalkan kota Mekah untuk pergi ke Madinah untuk menengok keluarganya dan juga untuk berziarah ke makam suaminya. Rasulullah menemani ibunya dalam perjalanan itu. Akan tetapi setelah mereka menemui keluarganya dan berziarah ke makam suaminya, bunda Aminah jatuh sakit. Dan dalam perjalanan ke kota Mekah, bunda Aminah meninggal dan dimakamkan di sebuah tempat bernama Abwa. Akhirnya Rasulullah harus kehilangan kedua orang tuanya yang sangat ia cintai. Rasulullah ditinggalkan oleh orang tuanya pada usia dimana ia masih sangat membutuhkan kehadiran orang tuanya; masih membutuhkan belaian kasih sayangnya; masih memerlukan cinta dan kasih sayangnya.

SEKILAS SIFAT MUHAMMAD KECIL

Sama seperti kelahiranya dan kejadian yang menyertai kelahirannya, pribadi dan sifat Rasulullah semenjak kecil sangatlah luar biasa. Caranya berbicara pada usia yang begitu muda membuatnya berbeda dari anak-anak seusianya. Abdul Muttalib, kakeknya, yang saat itu menjabat sebagai kepala suku Qurays, tidak pernah memperlakukan Muhammad kecil  seperti memperlakukan anak-anak lainnya. Abdul Muttalib senantiasa memperlakukan Muhammad kecil dengan segenap rasa hormat dan kecintaan yang luar biasa.

Hazrat Muhammad's (saw) character
Abu Thalib bin Abdul Muttalib, paman Muhammad, seringkali berkata pada waktu itu, “Kita tak pernah mendengarkan Muhammad berkata dusta, tidak juga kita melihatnya berbuat semau dia atau melakukan perbuatan yang sia-sia. Ia tidak pernah kelihatan tertawa tanpa sebab yang jelas atau berkata yang tidak-tidak seperti kebanyakan anak seusianya. Ia seringkali kelihatan menyendiri …… asyik dengan dunianya.”

Muhammad kecil waktu itu berusia 7 tahun ketika seorang Yahudi berkata, “Di dalam kitab suci kami kami telah membaca bahwa seorang Nabi Islam itu melarang memakan makanan yang dilarang atau yang meragukan hukumnya. Oleh karena itu mari kita uji dia”

Lalu orang Yahudi itu mencuri seekor ayam dan kemudian mengirimkan ayam yang sudah dimasak itu kepada Abu Thalib bin Abdul Muttalib. Karena semua orang di rumah tidak tahu bahwa ayam itu hasil curian, semuanya makan dengan lahapnya kecuali Muhammad kecil yang sama sekali tidak memakan atau bahkan mencicipinya. Ketika seluruh anggota keluarga bertanya mengapa ia tidak mau memakan daging ayam itu, Muhammad kecil menjawab, “Makanan ini diharamkan oleh Allah, dan Allah telah melindungiku dari apa-apa yang telah diharamkan olehNya.”

Kemudian orang-orang Yahudi yang sama mengambil seekor ayam dari tetangga dan mereka berniat untuk membayar ayam itu nanti. Setelah itu mereka memasaknya dan memberikannya kepada Abu Thalib. Sekali lagi, Muhammad kecil tak sekalipun menyentuhnya. Ia berkata, “Makanan ini meragukan hukumnya (Syubhat)………”

Orang-orang Yahudi itu berkata satu sama lainnya, “Anak ini memiliki sifat yang sangat luar biasa dan ia kelak akan memiliki kedudukan yang tinggi di masyarakatnya.”
 

BEBERAPA KEJADIAN YANG MENIMPA DIRI MUHAMMAD KECIL

Muhammad kecil mengalami masa kecil yang sulit. Ia harus hidup sebagai anak yatim piatu pada usia yang sangat belia. Untunglah kakeknya yang memiliki semangan yang tinggi mau mengasuhnya ditambah dengan kehadiran seorang paman yang sangat cinta dan sayang padanya, Muhammad kecil tidak kehilangan sentuhan kasih sayang dari sekitarnya.

Ketika usia Muhammad kecil mencapai 8 tahun, Abdul Muttalib meninggal dunia. Muhammad kecil sangat sedih dan kehilangan karena ia sangat mencintai kakeknya itu.

Setelah itu, pamannya, Abu Thalib, menjadi seorang pemimpin suku Qurays dan ia mau mengalihkan tanggung jawab kakeknya Muhammad kecil itu ke pundaknya. Meskipun Abu Thalib tidak kaya, akan tetapi ia dan isterinya yang mulia Fathimah binti Asad (ibunya Imam Ali), berusaha sekuat tenaga untuk merawat dan menjaga anak luar biasa ini.

Kelihatannya kepedihan dan kesedihan serta kesulitan hidup yang Muhammad kecil derita sejak belia, menjadikan dirinya pribadi yang tangguh selain menjadikan dirinya memiliki hati yang lembut karena pernah merasakan pedihnya penderitaan hidup. Masuk di akal apabila kita melihat bahwa setiap penderitaan ini akhirnya nanti diperlukan sebagai dasar dari pembentukkan sifat dan prilakunya yang agung. Kesulitan hidupnya mengajarkan dirinya untuk mampu bertahan dari setiap kesulitan hidup lainnya yang ia hadapi di kelak kemudian hari karena dirinya akan mendapat tugas dan tanggung jawab yang sangat besar di pundaknya sebagai nabi akhir zaman dari umat akhir zaman.

Waktu berlalu, Muhammad kecil beranjak dewasa, naluri dan potensinya berkembang menuju kesempurnaan. Muhammad kecil mendapatkan kasih sayang yang tak terhingga dari pamannya Abu Thalib. Abu Thalib menjaga dan melindungi Muhammad kecil karena sebagai seorang anak ia sangat penurut dan senantiasa memiliki sikap moral yang tinggi. Muhammad kecil berfungsi sebagai seorang anak terhadap pamannya itu sekaligus juga pengingat pamannya akan saudaranya, Abdullah (yang merupakan ayahnya Muhammad), juga sebagai pengingat ayahnya, Abdul Muttalib (yang merupakan kakek Muhammad). Muhammad menjadi anak kesayangan dari Abu Thalib dan dari anggota keluarga Abu Thalib. Untuk Muhammad kecil sendiri, Abu Thalib itu menggantikan peran ayahnya dengan sangat baik. Keduanya, paman dan keponakan, saling mengasihi dan saling mengisi. Rasa kasih sayang yang demikian sangat itu menyebabkan Abu Thalib tidak mau berpisah dari Muhammad.

Kedatangan Muhammad ke rumah Abu Thalib itu bukanlah sesuatu yang biasa-biasa saja karena kedatangannya mendatangkan berbagai keajaiban yang belum pernah dirasakan oleh keluarga Abu Thalib. Keajaiban yang dimiliki Muhammad kecil itu tampak dimana-mana. Sejak kedatangannya, datang pula keberkahan ke rumah Abu Thalib. Fathimah binti Asad berkata, “Sejak kedatangan Muhammad ke rumah kami, pohon yang telah kering dan mati selama beberapa tahun mulai hidup kembali dan mendatangkan buah yang sangat lebat sekali”

Abu Thalib bercerita bahwa mereka seringkali mendengar Muhammad kecil berdo’a pada malam hari. Meskipun tidak bertentangan dengan kebiasaan orang-orang Arab pada waktu itu untuk mengingat Allah dan berdo’a sewaktu mereka akan menyantap makanan, Muhammad kecil tidak akan mulai makan dan minum kecuali ia telah menyebutkan nama Allah sebelumnya. Ia juga menutup makan dan minumnya dengan berterimakasih kepada Allah.
 

WAWANCARA ANTARA BAHIRA DAN MUHAMMAD KECIL

Abu Thalib bertolak ek Damaskus (Syiria) untuk tujuan bisnis dan ia menyertakan Muhammad kecil yang waktu itu masih berusia 12 tahun. Rombongan kafilah dagang yang mereka ikuti itu besar sekali dan banyak sekali orang-orang yang membawa barang dagangan yang banyak hingga akhirnya rombongan dagang itu sampai ke negeri Syria. Mereka memasuki kota Busra. Mereka mendirikan tenda dan beristirahat tidak jauh dari sebuah biara yang ada di sana.

Bahira, seorang pendeta Nasrani, pada waktu itu sedang melayangkan pandangannya keluar lewat jendela biaranya. Ia melihat dengan seksama sebuah karavan yang selalu dinaungi sebuah awan kecil kemanapun karavan itu pergi. Bahira keluar dari biaranya dan ia berdiri di sebuah sudut gedung biara dan memanggil pelayannya. Ia berkata kepada pelayannya, “Pergilah kepada mereka dan katakan kepada mereka bahwa hari ini mereka menjadi tamu saya.”

Semua datang kepada pendeta itu kecuali Muhammad kecil. Ia tetap berdiri di samping barang-barang dagangannya yang ada di atas karavan. Melihat awan kecil itu tidak bergerak dan tetap di temapatnya meskipun rombongan kafilah itu telah masuk ke biara maka  Bahira bertanya kepada para tamunya, “Apakah semua anggota karavan sudah masuk ke sini? Mereka menjawab, “Ya. Betul. Semuanya sudah masuk kecuali seorang anak yang merupakan anggota termuda dari kami.” Kemudian Bahira berkata, “Suruh dia masuk kesini.” Kemudian seseorang meminta Muhammad kecil untuk masuk ke gedung biara. Mata pendeta yang bernama Bahira itu berbinar-binar melihat bahwa awan tipis yang ada di atas kepala Muhammad kecil itu datang bersamanya. Karena terpesona melihat penampilan Muhammad kecil itu, Bahira terus saja memandangi wajah anak itu sepanjang acara perjamuan makan. Setelah perjamunan selesai, pendeta yang shaleh itu berkata pada Muhammad kecil, “Aku punya sebuah pertanyaan untukmu dan engkau harus bersumpah demi Latta dan Uzza bahwa engkau akan menjawab pertanyaanku itu.”

MUHAMMAD KECIL : “Dua sesembahan yang anda sebutkan agar aku bersumpah atasnya itu adalah dua benda yang aku benci.”
BAHIRA : “Kalau begitu engkau bersumpahlah dengan nama Allah untuk menjawab pertanyaanku itu”
MUHAMMAD KECIL : “Baiklah. Aku akan berbicara jujur dan takkan pernah berkata dusta; silahkan ajukanlah pertanyaannya!”
BAHIRA : “Apakah yang paling engkau sukai, wahai anak muda?”
MUHAMMAD KECIL : “Kesendirian”
BAHIRA : “Apa yang paling engkau sering lihat dan apa yang paling engkau sukai untuk dilihat”
MUHAMMAD KECIL : “Langit dan bintang-bintang yang ada di dalamnya”
BAHIRA : “Apa yang sering engkau pikirkan?”
MUHAMMAD KECIL : (tetap diam dan tidak berkata sepatahpun, akan tetapi Bahira dengan seksama melilhat ke jidat Muhammad kecil)
BAHIRA : “Kapan engkau tidur dan apa yang engkau suka pikirkan sebelum engkau tidur?”
MUHAMMAD KECIL : “Ketika aku menatap langit, aku melihat bintang-bintang yang banyak sekali jumlahnya dan aku melihat seolah-olah bintang-bintang itu ada di pangkuanku dan aku ada di atas langit.”
BAHIRA : “Apakah engkau suka bermimpi?”
MUHAMMAD KECIL : “Yang aku lihat dalam mimpi sama seperti yang aku lihat ketika aku terjaga”
BAHIRA : “Apa yang engkau mimpikan, misalnya?”
MUHAMMAD KECIL : (tetap diam dan tak menjawab, Bahira juga sama, diam tak berbicara………setelah beberapa saat lamanya, akhirnya Bahira bertanya)
BAHIRA : “Bolehkah aku melihat kedua pundakmu?”
MUHAMMAD KECIL : “Silahkan. Anda lihat saja sendiri.”
Bahira berdiri dan mendekat kepada Muhammad kecil; ia menyibakkan pakaian Muhammad kecil untuk melihat kedua buah pundaknya. Segera terlihat sebuah tahi lalat di pundak itu. Bahira melihat tahi lalat itu dan berkata bergumam dengan suara yang hampir tak kedengaran: 

“Dia memang orangnya”

Bahira duduk bersimpuh di depan Muhammad kecil dan mulai menciumi kedua buah tangan Muhammad kecil serta kedua kakinya sambil berkata, “Apabila aku masih hidup sampai engkau memulai tugas sucimu, aku akan menjadi pengikutmu dan setia padamu dan aku akan memerangi orang-orang yang memusuhimu. Engkau adalah manusia yang paling baik dari semua anak Adam…….”

Kemudian Bahira bertanya kepada orang-orang yang ada di sana, “Anak siapakah dia?” Seluruh anggota rombongan kafilah itu menunjuk pada satu orang yaitu Abu Thalib sambil berkata, “Dia itu anaknya.” Bahira berkata, “Bukan. Bukan dia. Ayahnya pastilah sudah meninggal!”

Abu Thalib berkata, “Engkau benar tuan. Dia adalah keponakanku dan bukan anakku.” Bahira berkata, “Anak ini memiliki masa depan yang cerah dan luar biasa. Apabila orang-orang Yahudi mengetahui tentang hal ini maka mereka akan membunuhnya. Jagalah dia karena aku takut orang-orang Yahudi akan menyakitinya.”

Abu Thalib berkata, “Takdir apa yang akan terjadi padanya? Akan menjadi apa dia nantinya? Apakah yang akan dilakukan orang-orang Yahudi padanya dan mengapa mereka melakukannya?”

Bahira menjawab, “Ia akan ditakdirkan untuk menjadi seorang pemimpin, dan para malaikat akan datang padanya dan memberikan dia wahyu dari Tuhan.”

Abu Thalib berkata, “Allah tidak akan membiarkan dia sendirian dan Allah akan melindungi dia dari musuh-musuhnya dan dari orang-orang Yahudi.”

taken and translated from : http://www.ezsoftech.com/stories/rasool1.asp

Tidak ada komentar: