"KEBENARAN TIDAK DITENTUKAN OLEH SEDIKIT BANYAKNYA ORANG YANG BERKATA BAHWA ITU BENAR"

Karbala Berduka

Karbala Berduka
Ya, Syahid! Ya, Madzhlum! Ya, Imam! Ya, Husein!

Senin, 28 Februari 2011

PENGGEMBALA DOMBA YANG SUKA MERENUNG

PENGGEMBALA DOMBA YANG SUKA MERENUNG

Meskipun Abu Thalib bin Abdul Muthalib termasuk orang yang memiliki tingkat status sosial yang tinggi di kalangan masyarakat Qurays, akan tetapi pendapatan sehari-harinya tidak cukup untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Karena Muhammad muda (saaw) waktu itu sudah mencapai usia dewasa maka sudah menjadi kewajaran dan kewajiban bagi orang seusia itu untuk mencari pekerjaan untuk meringankan beban kehidupan yang berat yang telah menjadi tanggungan pamannya (yaitu Abu Thalib) selama ini. Akan tetapi pekerjaan apakah yang cocok dengan dirinya? Pekerjaan apakah yang bagus untuk perkembangan kepribadiannya untuk menjadi pribadi agung yang nantinya akan menjadi kepribadian beliau yang agung itu?

Karena nantinya Muhammad al-Musthafa (saaw) itu akan menjadi Nabi yang paling besar dan paling agung, seorang pemimpin yang dipatuhi dan ditaati umatnya, maka untuk menghadapi orang-orang yang bandel dan keras kepala, untuk menentang kepercayaan takhayul yang sudah mengeras sekeras batu, juga untuk membasmi pondasi yang kuat untuk membangun masyarakat di sekitarnya, dan terakhir untuk mendirikan pondasi yang kuat untuk membangun masyarakat yang hidup adil dalam hukum yang adil, maka diputuskanlah bahwa ia harus menjadi seorang penggembala hewan ternak. 

Muhammad (saaw) membawa kambing dan hewan ternak lainnya milik dari kerabat-kerabat dekatnya dan juga milik penduduk kota Mekah di sekitarnya yang mau menitipkan hewan ternaknya untuk digembalakan olehnya. Muhammad muda (saaw) memberikan upah yang diterimanya dari hasil pekerjaan  menggembala itu kepada pamannya. 

Pekerjaan menggembalakan kambing dan hewan ternak lainnya itu membuat dirinya sering menyendiri jauh dari hiruk pikuk kebisingan kota Mekah; jauh dari pertengkaran orang-orang; jauh dari pertentangan yang sama sekali tidak memberikan dirinya keuntungan. Dengan menyendiri, Muhammad muda (saaw) memiliki punya banyak sekali waktu untuk merenung dan berpikir. Kesibukannya merenung dan berpikir inilah yang memberikan dirinya bekal ketika ia menjadi Nabi dan kepala negara.

Selama masa inilah, Muhammad muda (saaw) mendapatkan sifat-sifat istimewanya sebagai seorang manusia pilihan seperti sifat pemurah, penyabar, mulia, baik hati kepada para tetangga, toleran kepada yang berbeda dengan dirinya, jujur, amanah, dan menjauhi segala sesuatu yang buruk dalam pandangan masyarakat. Muhammad (saaw) tumbuh besar menjadi seorang yang lelaki yang tidak ada bandingannya. 

Pada kenyataannya, selama periode inilah Muhammad (saaw) mendapatkan banyak sekali sifat-sifat yang utama dan mulia seperti kedermawanan, kesabaran, kebesaran jiwa, keramah tamahan terhadap tetangga, toleransi terhadap mereka yang berbeda, keyakinan kuat atas kebenaran, kejujuran, dan kemampuan untuk menjauhi segala perbuatan buruk dan sia-sia. Muhammad (saaw) tumbuh dan besar menjadi seorang lelaki yang tidak ada duanya. Beliau dikenal orang karena sifat dan setiap perbuatannya yang sangat baik dan mulia; karena kejujurannya yang mewarnai setiap langkah dan keputusan yang dibuatnya; dan karena setiap segala sesuatunya ia pasrahkan pada DIA yang maha benar dan maha terpercaya. 


KEMURNIAN AKHLAK RASULULLAH

Para ahli psikologi percaya bahwa lingkungan itu memiliki peranan yang sangat kuat untuk membentuk kepribadian dan sifat dari orang-orang yang tinggal di dalamnya. Lingkungan membentuk pola pikir kita dan prinsip keharmonisan yang ada di dalam lingkungan itu bisa menyebabkan orang yang tinggal di dalamnya larut terbawa oleh keharmonisan itu. Pola-pola kehidupan yang dominan yang ada di lingkungan masyarakat cara kita berpikir dan bertingkah laku. 

Para ahli psikologi malah telah melangkah terlalu jauh. Mereka memandang teori mereka ini sebagai teori yang bisa mencakup seluruh umat manusia secara keseluruhan. Hukum-hukum yang ada dalam teori yang mereka ciptakan ini dianggap bisa mencakup seluruh umat manusia sehingga setiap fenomena yang ada dalam masyarakat mereka anggap bisa dianalisa dan diterjemahkan. Mereka menganggap lingkungan masyarakat dimana seseorang tinggal bisa mempengaruhi orang itu secara keseluruhan hingga moral orang tersebut juga (menurut mereka) dikenai oleh moral lingkungan dimana orang itu tinggal dan hidup berkembang. 

Oleh karena itu, suatu lingkungan yang sehat dan utama bisa menghasilkan orang-orang yang saleh dan juga normal; sedangkan sebuah lingkungan yang korup, masyarakat yang penuh dengan penyimpangan akan senantiasa melahirkan orang-orang yang juga suka melakukan tindak kejahatan korupsi dan penyimpangan-penyimpangan lainnya. Selain itu juga ada sekelompok orang yang tetap tidak tersentuh oleh faktor-faktor menyimpang yang ada di dalam masyarakat; orang-orang seperti itulah yang kita sebut sebagai orang-orang yang luar biasa. 

Muhammad (saaw) dulu tinggal di dalam sebuah lingkungan yang sangat kotor. Lingkungan dimana Rasulullah tinggal itu dipenuhi dengan segala bentuk penyimpangan, dekadensi moral, perbuatan dosa dan berbagai bentuk kejahatan lainnya. Di daerah Hijaz, misalnya, bukan saja para pemuda dan anak-anak yang seringkali terlibat dalam kejahatan seksual melainkan juga orang-orang tua. Di setiap gang-gang sempit di sekitar kota Mekah, terlihat bendera-bendera hitam dikibarkan di beberapa rumah sebagai tanda bahwa orang-orang yang jahat, korup, dan suka melakukan perbuatan dosa bisa bebas masuk ke sana. 

Muhammad (saaw) hidup dan besar di masyarakat yang penuh dosa mesum dan maksiat  seperti itu, akan tetapi beliau tetap tidak meninggal hingga usia 25 tahun. Masyarakat kotor yang ada di sekitarnya sama sekali tidak mempengaruhi beliau. Setiap orang yang tinggal di kota Mekah pada waktu itu sama sekali tidak mendapati adanya tindakan amoral dan keji serta nista yang pernah diperbuat oleh Muhammad (saaw) walau sekalipun. Semua temannya dan musuhnya sepakat menganggap dia sebagai orang yang paling baik yang patut dijadikan contoh suri tauladan bagi semua orang.



TAWARAN BISNIS DARI KHADIJAH BINTI KHUWAILID

Khadijah binti Khuwailid (seorang wanita terhormat dan sangat kaya) adalah seorang wanita karir yang ternama dan terkenal. Ia seringkali menitipkan barang dagangannya kepada orang lain yang bersedia berbisnis dengannya dan kemudian orang itu diberi imbalan atau upah atas jasa yang telah mereka berikan kepadanya. 

Karena Muhammad muda (saaw) terkenal akan kejujurannya, kemuliaannya dan kecerdasannya serta sifatnya yang bisa dipercayai oleh orang-orang di seluruh jazirah Arabia. Kabar tentang diri Muhammad (saaw) itu sampai ke telinga Khadijah binti Khuwailid. Khadijah mulai mencari tahu tentang diri Muhammad (saaw) dan setelah ia berjumpa dengan orang yang dicarinya itu, Khadijah segera memberikan tawaran bisnis yang menarik kepada Muhammad (saaw).  Khadijah menawarkan perjanjian bisnis kepada Muhammad (saaw): "Aku akan menitipkan barang dagangan kepadamu juga seorang pembantu (Maisara) yang akan membantumu selama berdagang. Aku juga akan memberikan upah yang jauh lebih besar daripada yang aku berikan kepada orang lain"

Karena Muhammad (saaw) sadar akan keadaan keuangan pamannya yang sangat kurang karena ia sudah tua dan tidak bisa bekerja seperti dulu lagi. Selain itu pamannya itu memiliki keluarga yang besar dan perlu dipenuhi nafkahnya. Maka dari itu Muhammad (saaw) akhirnya menerima tawaran bisnis dari Khadijah binti Khuwailid. 

Khadijah puteri dari Khuwailid adalah seorang wanita yang memiliki keutamaan akhlak yang mulia. Pada waktu itu sudah menjadi kebiasaan dan adat istiadat orang Arab untuk menempatkan kaum wanita di tempat yang rendah dan sebagian malah melangkah terlalu jauh dengan membunuh mereka ketika mereka baru lahir. Orang-orang Arab merasa malu kalau mereka mendapati anak mereka yang baru lahir itu berjenis kelamin perempuan. Meskipun perlakuan orang-orang Arab terhadap kaum wanita seperti itu akan tetapi Khadijah binti Khuwailid tetap terkenal sebagai "wanita shalehah" atau sebagai "perempuan terkemuka dari suku Qurays". Meskipun ia sudah berusia empat puluh tahun, kekayaannya dan keterkenalannya membuat orang-orang Qurays yang kaya dan memiliki kekuasaan mulai mendekati dirinya; semuanya ingin menikahinya. Akan tetapi Khadijah tidak mau menerima satupun dari pinangan itu. Khadijah menolak semua lamaran itu karena ia tahu betul bahwa mereka itu tertarik pada harta bendanya. Sebagian lagi ditolak oleh Khadijah karena mereka memiliki sifat yang buruk dan tidak disukai oleh Khadijah. Para perawi hadis lain meriwayatkan bahwa usia Khadijah itu lebih muda lagi daripada usia Khadijah yang dilaporkan kepada kita selama ini. 


PERJALANAN MUHAMMAD (SAAW) KE DAMASKUS

Perjalanan bisnis ke Damaskus yang akan saya paparkan di sini ialah perjalanan bisnis ke Damaskus untuk kedua kalinya yaitu ketika Muhammad muda (saaw) sudah berusia 23 tahun (yang pertama kalinya dilakukan oleh Muhammad kecil dengan pamannya yaitu Abu Thalib.). Kafilah dagang dari suku Qurays telah siap pergi menuju kota Damaskus. Muhammad muda (saaw) telah mempersiapkan segala sesuatunya yang akan dibawa dan nantinya diperlukan atau dipergunakan selama perjalanan. Khadijah binti Khuwailid memerintahkan pembantunya yang bernama Maysara untuk mendampingi Muhammad muda (saaw.) selama perjalanan ke kota Damaskus dan membantu segala keperluannya selama perjalanan. 

Bukan tempatnya di sini apabila saya menerangkan kisah perjalanan ini secara rinci, dan oleh karena itu saya cukup menjelaskan sedikit hal-hal yang perlu diketahui dari perjalanan ini seperti misalnya perjalanan ini membawa banyak sekali keberkahan dan keuntungan bagi kedua belah pihak baik pihak yang diberi kepercayaan yaitu Muhammad (saaw) maupun pihak yang memberikan kepercayaan yaitu Khadijah (as). Hal lainnya yang perlu diketahui ialah selama perjalanan ke kota Damaskus, Muhammad muda (saaw) menunjukkan kepribadian yang amat menarik dan mengesankan semua orang yang ikut kedalam rombongan kafilah dagang itu. Di dalam perjalanan itu pula Muhammad bertemu dengan seorang pendeta Nasrani yang memberikan gambaran akan masa datang kepada dirinya. Pendeta itu meramalkan kenabian Muhammad dan meminta dirinya untuk berhati-hati. Selain itu juga pendeta tersebut mengatakan tentang pernikahan yang akan dilangsungkan oleh Muhammad dalam waktu yang tidak lama lagi. Setelah mereka selesai berdagang, rombongan kafilah dagang itu akhirnya kembali lagi ke kota Damaskus. 

Setibanya mereka di kampung halaman, Maysara menjelaskan tentang perjalanan dagang itu kepada Khadijah binti Khuwailid secara rinci. Maysara menceritakan tentang keuntungan yang melimpah ruah yang mereka dapatkan dari perdagangan itu. Maysara juga menceritakan tentang kepribadian Muhammad (saaw) yang mengagumkan; kedermawanannya; dan juga keutamaan dan kemuliaan lainnya yang tergambar dari keseharian Muhammad selama dalam perjalanan dagang itu. 

Demi mendengar hal ini dan juga demi mendengar ramalan seorang ulama Yahudi tentang pernikahan Muhammad dengan seorang wanita ternama dari suku Qurays, maka Khadijah binti Khuwailid merasa senang sekali. Hatinya berbunga-bunga karena merasa yakin yang dimaksud dalam ramalan itu ialah dirinya sendiri. Khadijah binti Khuwailid merasa bahwa Muhammad muda itu akan menjadi calon suaminya yang sangat ideal. 

Paman dari Khadijah yaitu Waraqah binti Naufal telah berbincang dengannya tentang ramalan-ramalan kenabian dan tentang pernikahan Muhammad muda. Khadijah merasa tambah senang dan bahagia. Hatinya tambah berbunga-bunga. 

Akan tetapi sekarang masalahnya ialah bagaimana ia bisa mengutarakan keinginan tersembunyinya itu? Bagaimana ia mengemukakan hasrat hatinya yang mengebu-ngebu itu? Ini tentunya bukan pekerjaan mudah karena Khadijah binti Khuwailid sendiri adalah seorang wanita yang terkemuka; seorang wanita Qurays yang sangat dihormati oleh penduduk jazirah Arabia. 


LAMARAN DARI KHADIJAH BINTI KHUWAILID

Khadijah binti Khuwailid   meminta Nafisa (Nafisa adalah salah seorang teman dekat dari Khadijah dan kepadanyalah ia selalu mempercayakan segala rahasianya) untuk berbicara kepada Muhammad muda (saaw) tentang pernikahan. Nafisa pergi mendatangi Muhammad muda (saaw) dan kemudian mengemukakan sebuah pertanyaan: "Mengapa kamu tidak juga menikah, padahal usiamu sudah cukup untuk itu?". Muhammad muda (saaw) menjawab: "Keadaan kehidupanku dan keadaan keuanganku tidak memungkinkan diriku untuk menikah". Nafisa berkata, "Akankah kamu menikah apabila semua masalah ini bisa ditangani? Akankah kamu menikah apabila ada seorang wanita yang kaya, cantik, dan sangat terhormat serta berasal dari keturunan mulia yang bersedia menikah denganmu?"

Muhammad muda (saaw) bertanya, "Memangnya siapa wanita yang sedang engkau bicarakan itu? Nafisa menjawab, "Khadijah binti Khuwailid". 

Muhammad muda (saaw) bertanya: "Bagaimana mungkin ia mau menikah denganku? Ia telah menolak berbagai macam lamaran dari orang-orang terpandang suku Qurays. Ia juga telah menolak lamaran dari orang-orang kaya yang berasal dari suku Qurays. Jadi mungkinkah ia mau menikah denganku?" Nafisa kemudian menjawab, "Pernikahan ini sangat mungkin terjadi dan aku sendiri yang akan mengatur semua persiapannya."

Ketika Muhammad (saaw) merasa yakin bahwa Khadijah binti Khuwailid memang bersedia untuk menikah dengannya, kemudian ia (saaw) menemui paman-pamannya dan berbicara kepada mereka tentang permasalahan ini. Mereka semua senang mendengar hal ini dan mereka semua berusaha untuk mengatur segala sesuatu yang berhubungan dengan terselenggaranya pernikahan dari keponakannya itu. Dan akhirnya pernikahan yang penuh berkah itu bisa terselenggara juga dengan acara pernikahan yang sangat spesial. 

Muhammad bin Abdullah (saaw) menikah dengan Khadijah binti Khuwailid dan menghabiskan sekitar 25 tahun dari hidupnya yang penuh keberkahan dengan isterinya itu. Khadijah binti Khuwailid bukan saja seorang isteri yang sangat setia dan penuh cinta akan tetapi ia juga bisa dijadikan seorang teman yang baik yang bisa memberikan bantuan yang berguna bagi perjuangan Muhammad (saaw). Periode dianggap sebagai periode terbaik dalam kehidupan pernikahannya. Periode yang penuh kebahagiaan dalam kehidupan Rasulullah karena orang-orang yang dikasihinya masih hidup bersama denganya. 

Beberapa peneliti sejarah menyebutkan bahwa Fathimah al-Zahra (as) adalah satu-satunya anak beliau dari pernikahannya dengan Khadijah; akan tetapi ada juga beberapa sejarawan yang mengatakan bahwa Rasulullah (saaw) memiliki anak-anak yang lain dari pernikahan itu. 

Khadijah binti Khuwailid (as) adalah wanita pertama yang beriman kepada Rasulullah dan kenabian yang menyertainya. Khadijah memilih untuk menikah dengan Muhammad (saaw) yang secara notabene berasal dari golongan kaum miskin papa. Setelah mereka menikah, Khadijah binti Khuwailid menggunakan seluruh harta kekayaannya untuk menyiarkan Islam. Rasulullah (saaw) pernah bersabda: "Harta Khadijah adalah harta yang paling berguna yang pernah saya miliki." 

Pada tahun keenam kenabian, ketika kaum Muslimin dikepung disebuah lembah yang bernama "Syi'ib Abu Thalib", Khadijah binti Khuwailid menggunakan hartanya dan pengaruhnya untuk menolong sesama kaum Muslimin dari tekanan dan kepungan serta perlakuan keji lainnya yang dilakukan oleh suku Qurays. Khadijah menghabiskan seluruh hartanya untuk kaum Muslimin hingga ketika beliau meninggal dunia, beliau tidak lagi menyisakan hartanya sama sekali. Sebuah peribahasa seringkali kita dengar, "ISLAM TIDAK AKAN PERNAH JAYA TANPA ADANYA PEDANG ALI DAN HARTA KHADIJAH."

Khadijah binti Khuwailid sangat berbakti kepada suaminya dan ia selalu menunjukkan rasa simpatinya yang sangat besar. Khadijah selalu mengorbankan dirinya untuk suaminya itu dan untuk kegiatan dakwah Islam. Rasulullah sangat mencintai isterinya itu dan beliau (saaw) sangat menghormati diri Khadijah sepanjang hidupnya dan terus mencintainya setelah Khadijah meninggal dunia. Setiap kali Rasulullah ingat Khadijah, hatinya senantiasa dipenuhi dengan kesedihan yang tiada tara dan Rasulullah akan menangis tersedu-sedu mengingat kepergian Khadijah yang sangat menyakitkan bagi dirinya. Khadijah meninggal dunia ketika ia berusia 65 tahun pada tahun 619M, dan itu terjadi 10 tahun setelah misi kenabian dilancarkan oleh suami tercintanya, Muhammad al-Mustafa (saaw).

taken (under the title of Hazrat Mohammed (saw) as a shepherd and a contemplative man) from: 

Tidak ada komentar: