"KEBENARAN TIDAK DITENTUKAN OLEH SEDIKIT BANYAKNYA ORANG YANG BERKATA BAHWA ITU BENAR"

Sabtu, 25 Juni 2011

(Serial Sahabat Nabi 1) Siapakah Sahabat Nabi itu dan apakah mereka itu semuanya jujur dan mulia?

Para ulama berbeda pendapat dalam menentukan derajat kemuliaan dan kejujuran para sahabat Nabi. Sebelum terlalu jauh berbicara tentang perbedaan ini ada baiknya kita tentukan dulu siapakah yang disebut dengan sahabat Nabi itu.

1. Siapakah yang disebut dengan sahabat Nabi itu?

Kebanyakan para ulama Ahlussunnah (Sunni) berpendapat siapa saja yang memeluk Islam pada jaman Nabi—baik ia pernah melihat Nabi atau dilihat Nabi—atau pernah shalat dengan Nabi adalah termasuk para sahabat Nabi. Akan tetapi pendapat para ulamah Ahlussunnah itu tampaknya berbeda dengan pendapat Nabi sendiri. Lihat saja misalnya dalam Tarikh (sejarah) yang ditulis oleh At-Tabari (volume 3, halaman 68) dimana di sana dituliskan ada percekcokan antara Khalid bin Walid dengan Abdurrahman bin Auf ketika Khalid membunuhi anggota keluarga Banu Juthaimah.

Rasulullah sebelumnya mengirim Khalid sebagai utusan untuk menyebarkan Islam (dan bukan sebagai tentara yang akan memerangi orang). Khalid menyeleweng dari tujuan semula yaitu menyebarkan Islam malah ia membunuhi sejumlah orang dari Banu Juthaimah setelah sebelumnya ia berjanji tidak akan menyakiti mereka.

Beberapa orang dari Banu Juthaimah itu sebenarnya pernah membunuh Al-Fakih Ibn Al-Mughirah Al-Makhzumi dan ia tidak lain melainkan paman dari Khalid bin Walid sendiri. Banu Juthaimah juga membunuh Auf bin Abdul Auf—ayah dari Abdurrahman bin Auf. Dan itu terjadi sebelum peristiwa penaklukan kota Mekah. Jadi Khalid bin Walid sebenarnya ingin membalas dendam menuntut darah dari Banu Juthaimah karena telah membunuh pamannya. Khalid bin Walid mencampurkan antara tugas dan nafsu pribadinya dan nafsu pribadinya mengalahkan tugasnya. Ia tidak menunaikan tugasnya dengan baik dan jelas itu bertentangan dengan perintah Rasulullah.

KALAU SESEORANG BERANI MENENTANG PERINTAH RASULULLAH BERARTI ORANG ITU SUDAH JATUH DALAM KEKUFURAN.

ANEH SEKALI KALAU SEBAGIAN BESAR DARI KAUM MUSLIMIN MASIH MENEMPATKAN KHALID BIN WALID SEBAGAI PAHLAWAN ISLAM???
----------------------------------------------------------------------------------------------------------

Kembali ke percekcokan antara Khalid bin Walid dan Abdurrahman bin Auf. Abdurrahman bin Auf berkata kepada Khalid: “Kamu telah mengikuti kebiasaan jahiliyyah!”

Khalid melawan dengan perkataannya: “Tidak. Aku hanya ingin menuntut balas atas terbunuhnya ayahmu.”

Abdurrahman bin Auf menyela: “Kau bohong. Aku sendiri telah membunuh orang yang telah membunuh ayahku. Kamu sendiri sebenarnya hendak membunuh orang yang telah membunuh pamanmu”

Percekcokan itu makin memanas dan Khalid mulai mengejek dan hendak melakukan kekerasan hingga Rasulullah mengetahui hal ini dan kemudian beliau bersabda:

“Khalid,………..tinggalkanlah para sahabatku. Demi Allah, seandainya engkau memiliki emas sebesar gunung Uhud dan engkau pakai di jalan Allah. Maka sedekahmu itu tidaklah sebanding dengan perjalanan sehari semalam dari orang yang berjuang di jalan Allah untuk mempertahankan Islam.” (Lihat Ibn Hisham, dalam As-Sirah an-Nabawiyyah, volume 2 halaman 421).

DARI PERNYATAAN ITU SENDIRI DENGAN JELAS RASULULLAH MENUNJUKKAN BAHWA KHALID TIDAK DIANGGAP SEBAGAI SAHABATNYA KARENA RASULULLAH MEMERINTAHKAN KHALID UNTUK MENJAUHI PARA SAHABATNYA.
----------------------------------------------------------------------------------------------------

Rasulullah dengan tegas menunjukkan bahwa Khalid itu bukan salah satu dari sahabatnya. Yang mengherankan ialah bahwa pernyataan Rasulullah ini dinyatakan oleh Rasulullah setelah peristiwa penaklukan kota Mekah. Dan itu terjadi kira-kira 2 tahun setelah Khalid bin Walid memeluk Islam tidak lama setelah peristiwa perjanjian Al-Hudaibiyah.

Jadi seharusnya (kalau mau jujur) para ulama Ahlussunnah seharusnya tidak memasukkan nama Khalid bin Walid ini ke jajaran para sahabat Nabi yang memeluk Islam pada jaman Nabi, yang pernah bertemu dengan Nabi, dan pernah shalat bersama dengan Nabi. Atau para ulama Ahlussunnah harus merevisi definisi sahabat Nabi itu supaya Khalid bin Walid tetap menjadi sahabat Nabi.

2. Apakah semua sahabat Nabi itu jujur dan mulia?

Kejujuran dan kemuliaan para sahabat Nabi itu seringkali menjadi bahan percekcokan dan kegaduhan antara dua kelompok besar Islam yaitu Sunni dan Syi’ah.

Mayoritas (tidak semua) para ulama Sunni  meyakini bahwa semua sahabat itu jujur dan mulia dan bisa dipercaya. Sementara para ulama Syi’ah memiliki keyakinan bahwa TIDAK SEMUA sahabat itu mulia, jujur dan bisa dipercaya.

Kelompok Ahlussunnah atau Sunni mendasarkan pendapat mereka dengan sebuah ayat dari Al-Qur’an:

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shaleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.”  (QS. Al-Fath: 29)

Para sahabat Nabi itu digambarkan sebagai orang yang keras terhadap orang kafir; penuh kasih sayang terhadap sesama; mereka suka ruku dan sujud; dan mereka memiliki tanda kehitaman di dahinya karena sering sujud. Allah menjamin akan memberikan mereka ampunan dan pahala yang besar.

Ayat ini sebenarnya hanya menggambarkan keshalehan dan keutamaan para sahabat Nabi yang memiliki sifat-sifat itu tapi tidak menggambarkan para sahabat Nabi yang sifat-sifatnya tidak sama dengan yang digambarkan ayat itu.

Para sahabat Nabi yang tidak keras terhadap orang kafir dan tidak penuh kasih sayang kepada sesama tidak termasuk kepada ayat itu.

Para sahabat Nabi yang mencurahkan darah kaum Muslimin tanpa ada sebab yang dibenarkan dalam peperangan saudara seperti perang Jamal tidak termasuk kedalam ayat ini. Para sahabat Nabi yang menghasut orang-orang agar memerangi Imam Ali dan kemudian membunuhi kaum Muslimin yang berbai’at kepada Imam Ali tidak termasuk dalam ayat ini. Orang-orang seperti Thalhah bin Ubaydillah, Zubayr bin Awwam, dan Mu’awiyyah bin Abu Sofyan tidak termasuk kedalam ayat ini karena mereka terlibat dalam memerangi kaum Muslimin dan merusak persatuan kaum Muslimin. Jelas ini menunjukkan bahwa mereka TIDAK KASIH SAYANG KEPADA SESAMA.

Lebih jauh lagi, dalam akhir ayat itu dijelaskan dengan tegas sekali bahwa yang akan mendapatkan pahala yang besar itu hanyalah para sahabat yang “mengerjakan amal yang shaleh” dan untuk itu mereka akan mendapatkan “ampunan dan pahala yang besar”
---------------------------------------------------------------------------------------------------

Ayat berikutnya yang seringkali dijadikan alasan bahwa para sahabat itu semuanya jujur, adil dan mulia ialah ayat:

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 100)

Ayat ini sebenarnya hanya berbicara tentang keutamaan kaum imigran (kaum Muhajirin) dari Mekah dan penduduk kota Madinah (kaum Anshar) yang memeluk Islam pada awal perkembangan Islam. Ini tidak termasuk ribuan sahabat yang memeluk Islam setelah perjanjian Hudaibiyah atau setelah peristiwa penaklukan kota Mekah. Karena mereka semua bukan yang pertama-tama masuk Islam seperti yang digambarkan ayat tersebut di atas.

Ribuan kaum Muslimin yang tidak termasuk ayat itu ialah mereka yang masuk Islam sekitar 20 tahun setelah Islam disebarkan. Mereka masuk Islam sekitar tahun ke-8 Hijriah.
--------------------------------------------------------------------------------------------------

Ayat berikutnya juga seringkali dipakai untuk menegaskan kejujuran dan kemuliaan para sahabat Nabi tanpa kecuali. Ayat yang dimaksud ialah:

“Sesungguhnya Allah telah rida terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dengan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).” (QS. Al-Fath: 18)

Ayat ini juga tidak memasukkan seluruh sahabat Nabi. Ayat ini hanya menyebutkan para sahabat Nabi yang menyatakan bai’at kesetiaan kepadan Nabi di bawah pohon dan peristiwa ini tidak lama setelah penandatanganan perjanjian Hudaibiyyah yang tidak semua sahabat setuju dengan itu. Sahabat yang setuju dengan perjanjian itu menyatakan bai’at kesetiaannya kepada Rasulullah di bawah pohon. Dan tentu saja yang benar-benar menyatakan kesetiaannya hanya diketahui oleh Allah karena Allah-lah yang mengetahui apa-apa yang ada dalam hati mereka. Kita hanya mengetahui apakah mereka benar-benar setia atau tidak dari sepak terjang mereka setelah bai’at itu atau setelah Rasulullah wafat.

Orang-orang yang ikut dalam peristiwa ini sejumlah kurang lebih 1500 orang atau 1400 orang. Tentu saja ini hanya sebagian kecil saja dari jumlah sahabat keseluruhan jadi ayat ini tidak bisa dijadikan hujah untuk menyebutkan bahwa seluruh sahabat itu jujur, adil dan mulia.
---------------------------------------------------------------------------------------------------

Pada tulisan berikutnya akan dituliskan ayat-ayat yang berkenaan dengan sepak terjang sejumlah sahabat yang mendapatkan teguran dari Allah lewat Al-Qur’an. 


taken and translated from an amazing work of the late M. Jawad Chirri, The Shiites under Attack

Tidak ada komentar: