"KEBENARAN TIDAK DITENTUKAN OLEH SEDIKIT BANYAKNYA ORANG YANG BERKATA BAHWA ITU BENAR"

Karbala Berduka

Karbala Berduka
Ya, Syahid! Ya, Madzhlum! Ya, Imam! Ya, Husein!

Sabtu, 16 Juni 2012

ABDULLAH IBN SABA : the legend continues (VOL 1)

 

 

UNTUK APAKAH KISAH ITU DIBUAT?

Kisah fiksi tentang Abdullah bin Saba itu dibuat oleh seseorang yang bernama Sayf Ibn Umar al-Tamimi. Ia memang dikenal sebagai seorang penulis cerita atau pendongeng dan ia hidup pada abad kedua Hijriah. Ia menulis cerita fiksi tentang Abdullah bin Saba itu dengan menggunakan (atau menyalah-gunakan—red) fakta-fakta sejarah yang ia temukan dalam sejarah Islam yang ada pada masanya. Sayf al-Tamimi menulis sebuah novel yang kurang lebih sama dengan yang pernah ditulis oleh Salman Rushdi dengan novel-nya yang legendaris yaitu “Satanic Verses” dengan motif yang kurang lebih sama. Hanya tokoh utamanya saja yang berbeda—dalam karya Sayf yang dijadikan tokoh ialah tokoh khayalan yang ia buat sendiri.

Sayf Ibn Umar menyimpangkan biografi atau kisah hidup dari beberapa sahabat Nabi hanya untuk menyenangkan rezim penguasa yang berkuasa pada waktu itu sekaligus ia juga mencoba untuk mengolok-olok dan menyimpangkan sejarah madzhab Ahlul Bayt sekaligus mengolok-olok Islam secara keseluruhan. Sayf Ibn Umar adalah penasihat dari keluarga Bani Umayyah yang paling setia dan ia juga dikenal sebagai seseorang yang sangat memusuhi para pengikut Ahlul Bayt dan oleh karena itu ia mencoba sekuat tenaga untuk membuat cara untuk menjatuhkan kredibilitas dari madzhab Ahlul Bayt.

Dalam cerita–cerita yang dibuat olehnya, Sayf Ibn Umar seringkali mengunggul-unggulkan sukunya sendiri di atas suku-suku Arab lainnya dengan menciptakan para sahabat Nabi imajiner/khayalan yang berasal dari sukunya. Walaupun begitu, para ulama Ahlu Sunnah berhasil menemukan kejanggalan-kejanggalan dalam setiap cerita yang ia buat yang tidak hanya mengenai tokoh khayalan “Abdullah bin Saba” saja melainkan tokoh lainnya. Pada akhirnya mereka mau meninggalkan cerita-cerita yang dibuat oleh Sayf dan kemudian memberikan label pada Sayf sebagai seorang pembohong dan penipu ulung. Tetapi masih juga ada sebagian kecil dari para pengikut Ahlu Sunnah yang masih percaya dan menggunakan kisah-kisah fantasinya untuk tujuan tertentu yaitu memojokkan para pengikut Ahlul Bayt. Pada tulisan ini kami akan paparkan beberapa tokoh ulama Ahlu Sunnah yang menyebutkan bahwa Sayf Ibn Umar sebagai orang yang tidak terpercaya; tidak jujur serta sangat pembohong dan kisah-kisahnya hendaknya diabaikan karena penuh dengan dusta dan khayalan.

Penelitian menunjukkan bahwa kebanyakan dari orang-orang yang membenci madzhab Ahlul Bayt (Syi’ah) selalu menggunakan bahan-bahan yang dikarang oleh Sayf Ibn Umar dan mereka mengeksploitasi bahan-bahan ini agar tetap bisa lestari agar bisa terus digunakan untuk menyerang para pengikut Ahlul Bayt. Ini sama persis dengan apa yang telah digunakan oleh Sayf Ibn Umar sendiri semasa hidupnya.

 

ASAL MUASAL CERITA TENTANG ABDULLAH BIN SABA

Kisah fiksi tentang Abdullah bin Saba ini sudah berusia 12 abad lamanya. Para sejarawan dan para penulis cerita satu sama lainnya saling menambahkan bahan-bahan yang lain kedalam cerita itu sehingga menjadi cerita yang kita kenal sekarang ini.

Dengan sekilas saja kita melihat ke untaian para perawi dari cerita Abdullah bin Saba ini, kita bisa melihat bahwa nama Sayf Ibn Umar selalu ada di dalam urutan pertama dari untaian perawi itu. Ini menunjukkan bahwa kisah itu bersumber dari satu orang yang sama dan para sejarawan mengutip langsung dari kisah yang dibuat olehnya. Para sejarawan berikut menuliskan tentang kisah yang dibuat oleh Sayf Ibn Umar:

1. Tabari (1)

2. Dhahabi (2). Ia juga mengutip dari Tabari (1)

3. Ibn Abi Bakir (3). Ia juga mengutip dari Ibn Athir (15), yang mengutip langsung dari Tabari (1)

4. Ibn Asakir (4)

Yang berikut telah mengutip langsung dari Sayf Ibn Umar:

5. Nicholson (5) dari Tabari (1)

6. Encyclopedia of Islam dari Tabari (1)

7. Van Floton dari Tabari (1)

8. Wellhauzen dari Tabari (1)

9. Mirkhand dari Tabari (1)

10. Ahmad Amin dari Tabari (1), dan dari Wellhauzen (8)

11. Farid Wajdi dari Tabari (1)

12. Hasan Ibrahim dari Tabari (1)

13. Saeed Afghani dari Tabari (1), dan dari Ibn Abi Bakir (3), Ibn Asakir (4) dan Ibn Badran (21)

14. Ibn Khaldun dari Tabari (1)

15. Ibn Athir dari Tabari (1)

16. Ibn Katsir dari Tabari (1)

17. Donaldson dari Nicholson (5), dan dari Encyclopedia (6)

18. Ghiath al-Din dari Mirkhand (9)

19. Abul Fida dari Ibn Athir (15)

20. Rashid Ridha dari Ibn Athir (15)

21. Ibn Badran dari Ibn Asakir (4)

22. Bostani dari Ibn Katsir (16)

Untaian “perawi” dari kisah fiksi Abdullah bin Saba dengan jelas memberikan kita gambaran utuh bahwa kisah itu berputar-putar di orang yang sama sebagai “perawi” sentral-nya. Cerita itu dimulai dari orang yang sama yaitu Sayf Ibn Umar dan Tabari mengutip langsung dari buku yang dikarang oleh Sayf itu seperti yang diakui oleh Tabari sendiri. (LIHAT: untaian perawi dari hadits-hadits yang berkenaan dengan Abdullah bin Saba, di dalam Tarikh Tabari. Misalnya, lihatlah di bagian index pada volume 15, versi bahasa Inggrisnya, di bawah nama Sayf Ibn Umar atau Abdullah bin Saba).

Oleh karena itu, sifat Sayf dan kisah-kisah sejarah yang ia tulis harus mendapatkan perhatian khusus dan harus diteliti dengan sangat seksama.

 

SIAPAKAH SAYF IBN UMAR ITU?

Sayf Ibn Umar al-Dhabbi al-Usayyidi al-Tamimi hidup pada abad ke-2 Hijriah (atau sekitar abad ke-8 Masehi) dan ia meninggal pada tahun 170H (atau tahun 750M). Al-Dhahabi mengatakan bahwa Sayf itu meninggal pada masa rezim Harun al-Rasyid di Baghdad (Irak). Selama hidupnya, Sayf telah menulis sebanyak 2 buku yang masih lestari selama rezim pemerintahan Bani Umayyah berkuasa. Buku yang pernah ia tulis ialah:

1. “al-Futuh wa al-Riddah” yang menggambarkan periode sebelum wafatnya Rasulullah hingga masa rezim pemerintahan Utsman bin Affan sebagai penguasa kaum Muslimin

2. “al-Jamal wa Masiri ‘Aisyah wa ‘Ali” yang menceritakan kisah tentang pembunuhan Utsman hingga peperangan Unta/Perang Jamal (peperangan yang melibatkan Imam Ali dan ‘Aisyah serta para sahabat)

Kedua buku ini hilang entah kemana akan tetapi kedua buku itu tetap selamat hingga beberapa abad lamanya setelah Sayf meninggal. Berdasarkan fakta-fakta di lapangan yang kami temukan, orang terakhir yang mengaku pernah memiliki kedua buku itu ialah Ibn Hajar al-Asqalani (meninggal tahun 852H).

Kedua buku Sayf ini lebih tepat berisikan sepak terjang beberapa tokoh ketimbang kebenaran dari sepak terjang itu sendiri; beberapa cerita diantaranya memang betul-betul karangan dan bukan kenyataan. Beberapa kejadian yang sebenarnya terjadi digambarkan dalam nada melecehkan sehingga fakta yang terkandung di dalamnya menjadi samar.

Kedua buku Sayf Ibn Umar ini pada dasarnya membicarakan tentang para sahabat Nabi. Akan tetapi Sayf juga menambahkan beberapa tokoh sahabat khayalan di dalamnya dengan nama-nama yang aneh. Kisah-kisah khayalan dari Sayf ini mempengaruhi sejarah Islam pada masa awal. Beberapa penulis biografi seperti penulis kitab “Usdul Ghabah”, “Al-Isti’ab” dan “Isabah” serta para ahli geografi seperti penulis buku “Majma’ul Buldan” dan “Al-Rawzul Mi’tar” telah menulis sejarah hidup dari beberapa sahabat Nabi lengkap dengan nama tempatnya yang hanya terdapat dalam kedua buku tulisan Sayf Ibn Umar. Oleh karena itu, kehidupan dan sifat-sifat Sayf Ibn Umar serta kredibilitasnya hendaknya mendapatkan perhatian lebih.

 

LALU APA YANG DIKATAKAN OLEH PARA ULAMA AHLU SUNNAH TENTANG SAYF IBNU UMAR?

Beberapa Ulama Ahlu Sunnah menyatakan bahwa Sayf Ibn Umar adalah seorang pembohong dan tidak pantas untuk dipercayai. Diantara para Ulama Ahlu Sunnah yang berpendapat seperti itu ialah:

1. al-Hakim (meninggal tahun 405H). Ia menuliskan, “Sayf itu ialah seorang yang suka mengada-ada. Ceritanya itu seharusnya diabaikan.”

2. al-Nasa’I (meninggal tahun 303H). Ia menuliskan, “Kisah-kisah yang diceritakan oleh Sayf itu lemah dan harus dikesampingkan karena ia adalah orang yang bisa dipercaya dan tidak layak untuk dijadikan pegangan.”

3. Yahya Ibn Mu’in (meninggal tahun 233H). Ia menuliskan, “Cerita-cerita yang disampaikan oleh Sayf itu lemah dan tidak berguna.”

4. Abu Hatam (meninggal tahun 277H). Ia menuliskan: “Hadits yang lewat melalui Sayf itu tertolak.”

5. Ibn Abi Hatam (meninggal tahun 327H). Ia menuliskan, “Para Ulama telah meninggalkan kisah-kisah yang disampaikan oleh Sayf”

6. Abu Daud (meninggal tahun 316H). Ia menuliskan, “Sayf itu tidak ada apa-apanya. Ia itu pembohong. Beberapa hadits yang melaluinya telah beredar dan kebanyakan darinya tertolak.”

7. Ibn Habban (meninggal tahun 345H). Ia menuliskan, “Sayf telah menisbahkan hadits-hadits yang melaluinya kepada orang-orang yang terpercaya. Ia telah dituduh sebagai orang yang suka mengada-ada dan sekaligus pembohong.”

8. Ibn Abd al-Barr (meninggal pada tahun 462). Ia menyebutkan dalam tulisannya tentang seseorang bernama al-Qa’qa sebagai berikut: “Sayf telah melaporkan bahwa al-Qa’qa pernah berkata: ‘Aku hadir ketika Rasulullah meninggal.’ Ibn Abd al-Barr melanjutkan: ‘Ibn Hatam berkata: “Sayf itu lemah. Jadi pernyataannya tentang al-Qa’qa hadir di tempat kejadian ketika Rasulullah wafat harus ditolak. Kalau kita menyampaikan hadits-hadits yang sampai lewat Sayf, maka itu hanya sebagai pengetahuan saja.”

9. al-Daruquthni (meninggal tahun 385H). Ia menuliskan, “Sayf itu lemah”

10. Firuzabadi (meninggal tahun 817H) menuliskan dalam kitab “Tuwalif” bahwa Sayf dan beberapa orang lainnya itu sebagai lemah. “Mereka itu lemah”

11. Ibn al-Sakan (meninggal tahun 353H). Ia menuliskan, “Sayf itu lemah”

12. Safi al-Din (meninggal tahun 923H). Ia menuliskan: “Sayf itu dianggap lemah.”

13. Ibn Udei (meninggal tahun 365H) menuliskan tentang Sayf. “Ia itu lemah. Beberapa dari kisah yang diceritakannya itu sangat terkenal akan tetapi kebanyakan darinya memalukan dan tidak patut untuk diikuti.”

14. Jalaluddin as-Suyuthi (meninggal tahun 900H) menuliskan: “Hadits-hadits yang lewat kepada Sayf itu lemah.”

15. Ibn Hajar al-Asqalani (meninggal tahun 852H). Ia menuliskan setelah menyebutkan sebuah hadits: “Beberapa perawi dari hadits ini lemah; dan yang paling lemah dari semuanya ialah Sayf.”

Sangat menarik untuk kita perhatikan di sini ialah bahwa meskipun Al-Dhahabi (meninggal pada tahun 748) telah mengutip langsung dari bukunya Sayf, akan tetapi ia juga menyatakan—dalam bukunya yang lain—bahwa Sayf itu adalah seorang perawi yang lemah. Dalam kitab “al-Mughni fi al-Dhu’afa” al-Dhahabi menuliskan sebagai berikut:

 

“Sayf itu memiliki dua kitab yang seluruhnya diabaikan oleh para ulama.”

(LIHAT: al-Mughni fi al-Dhu’afa, al-Dhahabi halaman 292)

Hasil dari penyelidikan tentang kehidupan Sayf menunjukkan bahwa Sayf itu orang yang tidak peduli dengan agama (agnostik) dan seorang yang ceritanya tidak bisa dipercayai orang. Cerita-cerita yang dikisahkan oleh Sayf Ibn Umar itu semuanya meragukan dan hampir seluruhnya atau sebagian adalah hasil rekayasa. Di dalam cerita-cerita yang dikisahkannya, Sayf telah menggunakan nama-nama kota yang tak pernah ada di dunia ini. Abdullah bin Saba adalah tokoh unggulan yang ia gunakan dalam cerita-ceritanya. Ia juga memperkenalkan sekitar 150 nama sahabat Nabi yang semuanya fiktif atau khayalan hanya untuk mengisi kekosongan yang ada dalam ceritanya (KEBOHONGAN ITU HANYA BISA DITUTUPI DENGAN KEBOHONGAN LAINNYA. OLEH KARENA ITU, UNTUK MEM”BACK-UP” SEBUAH TOKOH KHAYALAN DIPERLUKAN TOKOH KHAYALAN LAINNYA AGAR KELIHATAN HIDUP DAN NYATA—red). Untuk itu Sayf harus menambahkan “fakta-fakta” khayalannya dengan nama-nama aneh yang tidak terdapat dalam dokumen mananpun. Selain itu waktu kejadian yang digambarkan oleh Sayf dalam kisah-kisahnya senantiasa bertentangan dengan yang ada dalam dokumen-dokumen otentik yang dimiliki para ulama Sunni. Sayf juga seringkali menggunakan rantai sanad khayalan untuk setiap hadits yang ia sampaikan, dan di dalamnya seringkali dibumbui dengan kejadian-kejadian ghaib atau keajaiban (seperti seekor sapi berbicara dengan manusia dlsb).

Beberapa pembela Sayf tetap bersikukuh menyatakan bahwa meskipun Sayf itu seorang perawi yang lemah dan banyak sekali para Ulama Hadits yang tidak mempercayai laporannya, itu hanya terbatas pada urusan Syari’ah dan bukan untuk fakta sejarah!!!!

Dengan itu maka para pembela Sayf itu ingin memfokuskan diri pada “fakta sejarah” yang ada dalam setiap kisah yang dilaporkan oleh Sayf Ibn Umar. Para pembela Sayf itu ingin menggantungkan diri pada “fakta sejarah” yang ditulis oleh seorang zindiq dan pembohong!!!!

Kalau saja Sayf itu hanya lemah dalam pengetahuan syari’ah saja, maka kita masih bisa mengatakan bahwa ia bisa dipercayai di bidang yang lain karena ia hanya lemah dalam pengetahuan syari’ah. Akan tetapi ternyata ia juga lemah dalam segalanya!!!! Sayf itu pembohong seperti yang diutarakan oleh para ulama Sunni terkemuka, dan Sayf paling suka mengada-ada dan merekayasa beberapa cerita dengan menggambarkan beberapa kejadian yang kemudian ia nisbahkan kepada para perawi yang terpercaya. Ia melakukan itu agar ceritanya bisa dipercaya dan diterima oleh masyarakat. Oleh karena itu, Sayf menjadi orang yang paling diragukan untuk semua bidang—baik itu syari’ah maupun sejarah.

Untuk urusan sejarah kita akan diskusikan di bagian lain dalam tulisan selanjutnya dimana di sana kita akan lihat bahwa hatta para sejarawan Kristen pun telah menyebutkan bahwa laporan sejarah dari Sayf Ibn Umar itu penuh dengan ketidak-konsisten-an dan itu bisa dilihat dengan jelas ketika dibandingkan dengan tulisan para sejarawan lain yang jauh lebih waras dan cerdas. Itu ditambah lagi dengan pendapat para Ulama Sunni dan Syi’ah yang menyebutkan bahwa Sayf Ibn Umar itu adalah seorang yang suka sensasi dan suka mengada-ada.

 

KISAH “ABDULLAH BIN SABA” YANG TIDAK PUNYA SUMBER SEJARAH DAN TIDAK PUNYA RANTAI SANAD

Ada beberapa laporan baik itu dari para ulama Syi’ah maupun Ahlu Sunnah, juga dari para sejarawan dan para penulis cerita tentang kebudayaan lama yang menuliskan beberapa kalimat tentang “Abdullah bin Saba” akan tetapi mereka semua tidak menyertakan bukti atas klaim yang mereka buat. Mereka juga gagal mengajukan satupun rantai sanad untuk menopang pendapat mereka. Jadi mereka gagal memberikan bukti otentik untuk diuji di laboratorium hadits agar keterangan yang mereka buat bisa memberikan hasil yang memuaskan.

Beberapa klaim mereka selalu diawali dengan kata-kata “ORANG-ORANG bilang begini dan begitu………..” atau “BEBERAPA ULAMA telah berkata begini dan begitu………..” semuanya sama tanpa mencantumkan siapakah ORANG-ORANG atau BEBERAPA ULAMA yang dimaksud. Juga tidak dijelaskan darimana ORANG-ORANG dan BEBERAPA ULAMA itu mengambil rujukan. Sebagiannya hanya berdasarkan gosip atau rumor yang dihembuskan oleh para penguasa Bani Umayyah lewat hasil karya Sayf Ibn Umar; sebagian lagi dihasilkan lewat kreatifitas para pendongeng pada waktu itu dimana setiap orang yang bercerita menambahkan atau menyisipkan cerita mereka ke cerita yang sudah beredar sehingga menjadi cerita yang kita kenal sekarang ini.

Ini bisa kita ketahui secara mudah ketika kita melihat para pengarang itu melaporkan kisah-kisah yang kelihatan jelas sangat janggal dan tidak masuk akal. Laporan-laporan yang dimaksud banyak sekali disampaikan oleh penulis yang telah menulis buku atau kitab “Al-Milal wa Nihal” (kisah tentang peradaban dan kebudayaan) atau “al-Firaq” (tentang perpecahan atau sekte-sekte).

Di kalangan kaum Ahlu Sunnah ada beberapa orang ulama  yang menyebutkan nama ABDULLAH BIN SABA tanpa menyebutkan “sumber rujukan” untuk klaim. Mereka adalah sebagai berikut:

1. Ali Ibn Isma’il al-Asy’ari (meninggal tahun 330) dalam kitabnya “Maqalat al-Islamiyyin” (Essay tentang Kaum Muslimin)

2. Abdul Qahir Ibn Tahir al-Baghdadi (meninggal tahun 429) dalam kitabnya “al-Farq Bain al-Firaq” (Perbedaan Dari Berbagai Aliran)

3. Muhammad Ibn Abdil Karim al-Shahrastani (meninggal tahun 548) dalam kitabnya “al-Milal wan Nihal” (Peradaban dan Kebudayaan)

Para ulama Sunni di atas tidak pernah memberikan rantai sanad untuk kisah tentang “Abdullah bin Saba” yang mereka tuliskan dalam kitab-kitab yang mereka tulis di atas. Mereka menuliskan nama-nama aliran yang mereka sebut sebagai aliran dalam Islam padahal aliran-aliran itu tidak pernah ada dalam kehidupan nyata. Mereka menyebutkan “Aliran-aliran Islam” khayalan yang memperparah perpecahan diantara kaum Muslimin. “Aliran-aliran khayalan” yang mereka sebutkan memiliki nama-nama yang aneh seperti “Kaum al-Kawusiyyah”; “Kaum al-Tayyarah”; “Kaum al-Mamturah”; “Kaum al-Ghrabiyyah”; “Kaum al-Ma’lumiyyah”; “Kaum al-Majhuliyyah”!!! dan masih banyak lagi TANPA SEDIKITPUN RUJUKAN yang bisa memperkuat klaim mereka ketika mereka menuliskan nama-nama firqah itu.

Karena mereka hidup pada abad pertengahan, para penulis ini menganggap bahwa semakin aneh cerita mereka dan semakin tidak masuk akal kejadian yang mereka ceritakan maka semakin tinggi kedudukan cerita mereka di atas cerita lainnya. Jadi mereka berlomba-lomba untuk membuat kisah mereka agar semakin aneh dan semakin tidak masuk akal karena mereka menganggap bahwa itulah yang akan membuat kedudukan mereka menjadi  tinggi di mata masyarakat. Dan itulah yang terjadi…….. mereka telah membuat kerusakan dalam sejarah Islam yang seharusnya berisi laporan yang otentik dan masuk akal serta ilmiah. Mereka pada hakikatnya telah melakukan tindak kejahatan secara sengaja atau tak sengaja karena telah melakukan kebohongan publik di kalangan kaum Muslimin selain juga menuduh kaum Muslimin atas apa-apa yang mereka tidak pernah lakukan.

Beberapa dari mereka malah bertindak lebih jauh lagi. Mereka memasukkan legenda-legenda yang tidak masuk akal dan dongeng-dongeng peri yang kepalsuannya sudah barang tentu mudah sekali untuk diketahui dan dideteksi sampai saat ini.

Kita lihat saja apa yang dikemukakan oleh al-Shahrastani dalam kitabnya “al-Milal wan Nihal” dimana ia menggambarkan sekelompok makhluk setengah manusia yang disebut dengan “al-Nas-Naas” yang memiliki wajah setengah, mata satu, tangan satu, dan kaki satu. Kaum Muslimin digambarkan bisa berkomunikasi dengan makhluk setengah manusia itu dan bahkan makhluk-makhluk itu bisa membuat puisi dan saling balas melontarkan puisi!!!! Beberapa orang Islam malah memburu makhluk setengah manusia ini dan memakan mereka!!!! Makhluk setengah manusia ini bisa melompat lebih cepat dari pada seekor kuda dan mereka makan dengan cara memamah biak!!! al-Shahrastani lebih jauh lagi menyebutkan bahwa al-Mutawakkil—salah seorang khalifah dari Bani Abbasiyyah—memerintahkan para ilmuwan pada masa itu untuk menyelidiki makhluk-makhluk ini!!! (LIHAT: “al-Milal wan Nihal karangan Shahrastani).

Orang-orang pada waktu itu tidak memiliki alat yang memadai yang bisa mereka gunakan untuk membedakan mana kebohongan dan mana kebenaran ketika mendengar cerita-cerita yang tidak realistik ini dan mungkin saja mereka lebih suka kepada dongeng-dongeng yang lebih tidak masuk akal lagi yang menurut mereka lebih menjamin kebenarannya, meskipun semua dongeng itu sama sekali tidak ada rujukan yang pasti.

Kalau kita menggunakan penelitian kronologis dari masa hidup para penulis ini, maka kita bisa menyimpulkan dengan pasti bahwa mereka semua hidup jauh setelah Sayf Ibn Umar mati dan bahkan sebagian dari mereka lahir setelah masa hidup al-Tabari. Jadi adalah sangat mungkin apabila mereka mendapatkan semua cerita tentang “Abdullah bin Saba” itu dari Sayf sendiri. Klaim ini menjadi sangat kuat ketika seorang pengamat mengamati bahwa tidak ada satupun dari penulis itu mencantumkan sumber rujukannya karena mungkin mereka tidak ingin menjatuhkan kredibilitas diri mereka sendiri dengan mencantumkan rujukan dari Sayf bin Umar yang pada waktu itu dikenal sebagai pribadi yang bermasalah.

Sementara itu, kita tidak menemukan satupun referensi tentang tokoh “Abdullah bin Saba” ini dari referensi yang lebih tua daripada yang ditulis oleh Sayf Ibn Umar. Ini sekaligus menunjukkan bahwa Sayf Ibn Umar-lah yang pertama kali menulis tentang “Abdullah bin Saba”. Kesimpulan lain yang mungkin pula bisa masuk akal ialah (apabila Abdullah Ibn Saba itu memang ada) bahwa Abdullah bin Saba itu sama sekali bukan tokoh yang penting hingga para sejarah sebelum Sayf Ibn Umar memunculkannnya. Jadi wal hasil, Abdullah bin Saba itu adalah tokoh yang diangkat atau dibuat oleh Sayf Ibn Umar al-Tamimi dan kemudian diperkenalkan kemana-mana untuk tujuan tertentu (itupun kalau Abdullah Ibn Saba itu benar-benar ada).

Di kalangan kaum Syi’ah sendiri ada dua orang yang menceritakan tentang Abdullah bin Saba juga tanpa referensi sama sekali. Mereka berdua tidak menunjukkan dari mana cerita mereka sendiri berasal. Dua orang Syi’ah itu ialah:

1. Sa’ad Ibn Abdillah al-Asy’ari al-Qummi (meninggal pada tahun 301H). Ia menyebut-nyebut tentang Abdullah bin Saba dalam kitabnya yang berjudul “al-Maqalat wal Firaq” dimana dalam salah satu tulisannya disebutkan laporan tentang Abdullah bin Saba. Akan tetapi ia tidak menyebutkan rantai sanad dari cerita yang ia tuliskan itu; juga tidak disebutkan dari kitab mana cerita tentang Abdullah bin Saba itu berasal. Lebih lanjut lagi, al-Asy’ari al-Qummi itu malah lebih banyak mengutip hadits-hadits dari kalangan Ahlu Sunnah. Al-Najasyi (meninggal tahun 450H) dalam kitabnya “al-Rijal” menyebutkan bahwa al-Asy’ari al-Qummi itu telah melakukan banyak sekali perjalanan ke pelbagai tempat dan ia juga dikenal kedekatannya dengan para sejarawan Ahlu Sunnah dan ia telah mendengar banyak sekali cerita dari para sejarawan itu. Al-Qummi menuliskan banyak sekali laporan dari apa-apa yang sudah ia dengar dan salah satu yang ia dengar ialah cerita tentang Abdullah Ibn Saba………….dan tanpa rujukan yang pasti sama sekali….…seperti biasa.

2. Hasan Ibn Musa al-Nawbakhti (meninggal tahun 310H). Ia adalah seorang sejarawan Syi’ah yang menyebutkan dalam kitabnya yang berjudul “al-Firaq”, sebuah laporan dimana di dalamnya disebut-sebut nama Abdullan Ibn Saba. Meskipun begitu, ia sama sekali tidak menyebutkan darimana ia mendapatkan laporan itu dan apa sumber yang dijadikan rujukan untuk itu.

Kedua orang di atas ialah orang-orang yang disebut-sebut sebagai penganut Syi’ah yang secara jelas menuliskan tentang keberadaan seseorang yang disebut sebagai Abdullah Ibn Saba—yang dilaporkan pernah hidup pada masa Imam Ali. Anda bisa lihat dengan jelas bahwa keduanya menuliskan tentang “Abdullah Ibn Saba” itu lama setelah Sayf Ibn Umar atau al-Tabari menuliskan tentang itu dalam kitab-kitab mereka. Oleh karena itu, ada kemungkinan yang kuat bahwa mereka berdua mendapatkan informasi tentang “Abdullah Ibn Saba” itu dari Sayf Ibn Umar atau dari orang-orang yang telah mengutip dari Sayf Ibn Umar seperti al-Tabari, misalnya. Ini tampak lebih mungkin lagi ketika kita melihat bahwa mereka berdua seringkali menuliskan kata-kata yang tidak pasti seperti “BEBERAPA ORANG BERKATA INI DAN ITU…..” tanpa menyebutkan dari mana laporan itu berasal dan siapakah yang dimaksud dengan “BEBERAPA ORANG” itu.

 

BEBERAPA LAPORAN TENTANG “ABDULLAH IBN SABA” YANG DISAMPAIKAN TIDAK MELALUI SAYF IBN UMAR

Kita harus sampaikan di sini bahwa ada kurang dari 14 laporan yang ada di dalam khasanah Syi’ah maupun Ahlu Sunnah yang menyebutkan tentang keberadaan Abdullah Ibn Saba. Kesemuanya disertai dengan rantai sanad yang mana dalam rantai sanad itu nama Sayf Ibn Umar tidak disebut-sebut.

Di jalur Syi’ah sendiri ada nama al-Kushshi (atau al-Keshshi atau sering juga disingkat Kash—meninggal tahun 369H) yang menulis kitab berjudul “Rijal” pada tahun 340H. Dalam kitab itu, ia menuliskan beberapa hadits yang di dalamnya disebut-sebut nama Abdullah Ibn Saba. Hadits-hadits itu dinisbahkan kepada para Imam Ahlul Bayt seperti yang akan kami paparkan di bawah ini.

Hadits-hadits yang dinisbahkan (disangkut-pautkan) kepada para Imam Ahlul Bayt ini agak berbeda dalam isinya dibandingkan dengan apa yang dikarang sendiri oleh Sayf Ibn Umar. Meskipun begitu, para ulama Syi’ah telah menemukan bahwa kitab karangan al-Kushshi itu penuh dengan kesalahan yang melimpah di sana-sini terutama kalau menyangkut masalah nama seseorang atau redaksi kalimatnya yang berlainan. Di dalam kitab karangan al-Kushshi itu juga terlalu banyak hadits-hadits yang lemah dan oleh karena itu kitab karangan al-Kushshi itu tidak pernah menjadi referensi kaum Syi’ah karena isinya tidak bisa dipercaya. Selain itu juga kitab karangan al-Kushshi itu juga menuliskan banyak laporan atau riwayat yang tidak terdapat dalam kitab-kitab hadits utama yang 4 yang dipakai oleh kaum Syi’ah (LIHAT: untuk mengetahui lebih jauh tentang kesalahan-kesalahan fatal yang ada dalam Kitab-nya al-Kushshi ini bisa anda lihat penjelasannya di dalam Kitab al-Rijal yang ditulis oleh al-Tusteri—juga oleh al-Askari).

Para ulama Syi’ah yang lain ada juga yang menyebut-nyebut tentang Abdullah Ibn Saba dan mereka mengutip dari kitabnya al-Kushshi atau dari para sejarawan yang lain yang sudah kami bahas di atas seperti al-Asy’ari al-Qummi dan al-Nawbakhti yang menuliskan “hadits-hadits riwayat” mereka dengan tanpa menuliskan para sanad-nya atau sumber rujukan darimana mereka mengutip “hadits-hadits” tersebut. Yang mengutip dari kitab-nya al-Kushshi (Kash) ialah: Shaikh al-Tusi (meninggal tahun 460H), Ahmad Ibnu Tawus (meninggal tahun 673H); dan Allama al-Hilli (meninggal tahun 726H), dan lain sebagainya.

Sementara itu dari kaum Sunni—selain yang disampaikan oleh Sayf Ibnu Umar dan yang mengutip dari Sayf Ibn Umar seperti yang telah kami jelaskan di atas—ada juga laporan lain yaitu yang berasal dari Ibn Hajar al-Asqalani yang memberikan informasi yang serupa dengan yang diberikan oleh al-Kushshi (Kash). Berikut adalah beberapa poin tentang laporan dari kedua kalangan itu yang berbeda dengan yang dilaporkan oleh Sayf Ibn Umar:

1. Kisah yang disampaikan oleh kalangan Sunni dan Syi’ah ini benar-benar berbeda dari apa yang disampaikan oleh Sayf Ibn Umar. Dalam hadits-hadits jenis ini digambarkan bahwa ada seorang laki-laki miskin yang bernama Abdullah Ibn Saba yang muncul pada MASA PEMERINTAHAN IMAM ALI (as.). Ia mengaku-aku sebagai seorang Nabi dan menyebutkan bahwa ALI itu adalah TUHAN. Ketika Imam Ali mendengar hal ini maka ia langsung memenjarakan orang itu dan memintanya untuk bertobat. Ia tidak mau bertobat dan oleh karena itu Imam Ali memerintahkan untuk membakarnya. Hadits-hadits jenis ini menyebutkan bahwa kemudian Imam Ali dan para keturunannya mengutuk orang ini (Abdullah Ibn Saba) dan menolak klaim ketuhanan Imam Ali. Demikianlah hadits-hadits jenis ini dalam bentuk aslinya.

2. Hadits-hadits jenis ini (jumlahnya kurang dari 14 buah) SAMA SEKALI TIDAK KITA TEMUKAN dalam kitab sahih. Malahan NAMA ABDULLAH BIN SABA pun tidak terdapat dalam 6 kitab hadits sahih dari kalangan Sunni. Lebih jauh lagi, hadits-hadits seperti ini TIDAK PERNAH DIANGGAP SAHIH baik oleh kalangan Sunni maupun Syi’ah sekaligus menunjukkan bahwa kemungkinan besar orang yang namanya ABDULLAH BIN SABA itu TIDAK PERNAH ADA. Kesemuanya malah menunjukkan bahwa tokoh Abdullah Ibn Saba benar-benar tokoh khayalan ciptaan Sayf Ibn Umar—sama  seperti 150 buah sahabat khayalan yang pernah dikarang oleh Sayf Ibn Umar sebelumnya; yang sama sekali tidak pernah disebut-sebut namanya dalam hadits-hadits lain selain yang melalui Sayf Ibn Umar. Karena Abdullah Ibn Saba itu karangan Sayf Ibn Umar maka Sayf bisa menggunakan tokoh itu sekehendak dia. Bukan itu saja, laporan-laporan dari Sayf itu ternyata juga bertentangan dengan laporan-laporan lainnya yang berasal dari kalangan Sunni (seperti yang akan kami jelaskan pada kesempatan lain, Insya Allah). Kejadian-kejadian yang dikarang atau direkayasa itu sangat mudah untuk dideteksi bahkan oleh para ulama Sunni sekalipun.

Sekarang akan kami berikan kepada anda beberapa hadits yang tidak disampaikan oleh Sayf dan BANDINGKANLAH apa-apa yang disebutkan oleh Sayf tentang Abdullah Ibn Saba dengan penggambaran Abdullah Ibn Saba yang disebutkan dalam “hadits-hadits” yang dinisbahkan kepada para Imam Ahlul Bayt ini:

“Hadits” ini dinisbahkan kepada Abu Ja’far (as) yang konon bersabda:

Abdullah Ibn Saba seringkali mengaku bahwa dirinya itu seorang Nabi dan mengaku bahwa Amirulmukminin Ali (as) itu sebagai Tuhan. Allah itu Maha Tinggi dan jauh lebih tinggi daripada yang disangkakan olehnya. Berita ini akhirnya sampai kepada Amirulmukminin Ali (as) dan kemudian memanggilnya dan menanyainya tentang hal itu. Akan tetapi ia tetap mengulangi apa yang ia pernah sampaikan kepada orang-orang dan kemudian ia berkata: “Engkau itu adalah DIA (Tuhan—red), dan telah diwahyukan kepadaku bahwa engkau itu Tuhan dan aku adala seorang Nabi.” Kemudian Amirulmukminin berkata: “Betapa beraninya kamu! Setan telah mengolok-olokmu. Bertobatlah dari apa-apa yang telah engkau katakan. Semoga ibumu masih mau menangisi kematianmu! Berhentilah dari apa-apa yang engkau katakan.” Akan tetapi ia menolak dan lalu Imam Ali memenjarakan dirinya dan memintanya sebanyak tiga kali agar bertobat, akan tetapi ia menolak. Kemudian Imam Ali membakarnya dan berkata: “Setan telah mempengaruhinya; ia seringkali datang menemuinya dan kemudian setan mempengaruhi pikirannya.” (LIHAT: Rijal, oleh al-Kushshi)

Kemudian dalam “Hadits” lainnya yang dinisbahkan kepada Imam Ali Ibn Husein (as) adalah sebagai berikut. Imam Ali Ibn Husein dilaporkan “pernah” berkata:

“Semoga Allah mengutuk orang-orang yang telah berdusta tentang kami. Aku menyebutkan nama Abdullah Ibn Saba dan setiap rambut yang ada di tubuhku langsung berdiri; Allah telah mengutuknya. Imam Ali (as) itu, demi Allah, hanyalah seorang hamba Allah dan saudara dari Rasulullah. Ia tidak mendapatkan kemuliaan dari Allah kecuali karena ketaatannya saja pada Allah dan RasulNya. Dan Rasulullah tidak mendapatkan kemuliaan apapun dari Allah kecuali karena ketaatannya kepada Allah.” (LIHAT: Rijal, oleh al-Kushshi)

Ini satu lagi “Hadits” yang dinisbahkan kepada seorang Imam Ahlul Bayt.Dilaporkan bahwa Abu Abdillah (as) pernah berkata:

“Kami ini adalah keluarga yang beserta kebenaran. Akan tetapi kami tidak selamat sepenuhnya dari seorang pembohong yang berbohong mengenai kami untuk merusak kebenaran tentang kami dengan kebohongannya yang kemudian disebarkan kepada orang-orang. Rasulullah adalah orang yang paling benar diantara manusia atas apa yang ia katakan (Lahjatan) dan yang paling bisa dipercayai diantara manusia. Dan Musaylamah seringkali berdusta tentang Rasulullah. Amirulmukminin adalah yang paling benar diantara ciptaan Allah setelah Rasulullah; dan orang yang biasa berdusta tentangnya dan mencoba untuk merusak kebenaran dan berdusta tentang Allah ialah Abdullah Ibn Saba.” (LIHAT: Rijal, oleh al-Kushshi)

“Hadits” lainnya ialah:

“Ketika ia (Aba Abdillah—Ja’far al-Sadiq) sedang memberitahu para sahabatnya tentang Abdullah Ibn Saba dengan apa yang dikatakannya tentang Ketuhanan Amirulmukminin (Ali Ibn Abi Thalib), ia berkata: ‘Ketika ia mengatakan itu tentang Ali, ia memintanya untuk bertobat akan tetapi ia menolak, lalu ia membakarnya dengan api.” (LIHAT: Rijal, oleh al-Kushshi)

Sementara itu dari kalangan Ahlu Sunnah (Sunni), ada beberapa laporan dari Ibn Hajar al-Asqalani yang berisikan laporan yang persis sama dengan apa yang dilaporkan oleh al-Kushshi (Kash). Ibn Hajar menyebutkan:

“Abdullah Ibn Saba adalah salah seorang dari kaum al-Ghulat; atau seorang dualis/saduki/zindiq atau seorang sesat yang kemudian Ali membakarnya dengan api.” (LIHAT: Lisan al-Mizan, oleh Ibn Hajar al-Asqalani, volume 3, halaman 289)

Kemudian Ibn Hajar melanjutkan:

“Ibn Asakir menyebutkan dalam kitab Tarikh-nya bahwa asal usul dari lelaki itu (Abdullah Ibn Saba) adalah dari Yaman dan ia itu seorang Yahudi yang memeluk Islam dan berkelana di pelbagai kota kaum Muslimin dan mendakwahkan kepada mereka untuk tidak mentaati para pemimpin mereka; membisikkan bisikan setan kepada mereka; dan kemudian ia memasuki kota Damaskus dengan tujuan yang sama.” Kemudian Ibn Asakir menyebutkan sebuah CERITA PANJANG yang ia kutip dari kitab al-Futuh karangan Sayf Ibn Umar yang sudah barang tentu tidak memiliki rantai isnad sama sekali.”            (LIHAT: Lisan al-Mizan, oleh Ibn Hajar al-Asqalani, volume 3, halaman 289)

Kemudian setelah itu Ibn Hajar sebuah “hadits” yang mana dua orang dari sanadnya hilang. Dalam catatan kakinya ia mengatakan bahwa hadits itu sendiri sudah dihapuskan. Inilah hadits yang dimaksud:

“Ali naik keatas mimbar dan kemudian ia berkata: ‘Ada apa gerangan dengan orang ini? Orang-orang berkata: Ia telah berdusta atas nama Allah dan RasulNya.” (LIHAT: Lisan al-Mizan, oleh Ibn Hajar al-Asqalani, volume 3, halaman 289)

Dalam “hadits” yang lain, Ibn Hajar melaporkan:

“Ali berkata kepada Abdullah Ibn Saba: ‘Aku telah diberitahu bahwa akan datang 30 orang pembohong (yang mengaku sebagai nabi) dan engkau adalah salah satu dari mereka’” (LIHAT: Lisan al-Mizan, oleh Ibn Hajar al-Asqalani, volume 3, halamana 290)

Ia juga menuliskan seperti berikut ini:

“Ibn Saba dan para pengikutnya itu meyakini ketuhanan Ali Ibn Abi Thalib, dan tentu saja Ali kemudian membakarnya dengan api pada masa kepemimpinannya.” (LIHAT: Lisan al-Mizan, oleh Ibn Hajar al-Asqalani, volume 3, halaman 290)

Hadits-hadits Sunni di atas tidak dikatagorikan shahih oleh Ahlu Sunnah sendiri. Jumlah dari “hadits-hadits” seperti ini (yang diriwayatkan baik di kalangan Ahlu Sunnah—yang diriwayatkan oleh orang-orang yang bukan Sayf Ibn Umar—dan Syi’ah) tidak lebih dari 14 buah saja jumlahnya dan itu bisa langsung berkurang kalau kita menghitung hadits-hadits yang memiliki redaksi sama dengan hitungan satu hadits. Keseluruhan “hadits” ini memiliki kandungan matan yang berbeda dengan yang disampaikan oleh Sayf Ibn Umar. Perbedaannya ialah sebagai berikut:

1. Abdullah Ibn Saba muncul pada masa pemerintahan Imam Ali Ibn Thalib; sementara di dalam “hadits-hadits” yang disampaikan oleh Sayf Ibn Umar, Abdullah Ibn Saba digambarkan muncul pada masa pemerintahan Utsman Ibn Affan

2. Abdullah Ibn Saba tidak menyebutkan bahwa Ali itu sebagai pengganti atau pewaris Nabi seperti yang digambarkan oleh Sayf Ibn Umar. Dalam “hadits-hadits” yang tidak disebutkan oleh Sayf Ibn Umar, Ali diklaim sebagai Tuhan oleh Ibn Saba.

3. “Hadits-hadits” yang tidak melalui Sayf Ibn Umar disebutkan bahwa Imam Ali (as) membakar Ibn Saba beserta para pengikutnya (kaum Ghulat). Sementara hal ini tidak disebutkan sama sekali oleh Sayf Ibn Umar.

4. Dalam “hadits-hadits” yang tidak melalui Sayf Ibn Umar, sama sekali tidak disebutkan peran dan keberadaan Abdullah Ibn Saba pada masa pemerintahan Utsman (jadi, tiba-tiba saja muncul). Ia tidak disebutkan bahwa ia itu menghasut orang-orang untuk menentang Utsman yang berakhir dengan pembunuhan Utsman Ibn Affan seperti yang disebutkan oleh Sauf Ibn Umar

5. Juga tidak disebutkan bahwa Abdullah Ibn Saba itu terlibat atau berperan dalam peperangan Unta (Perang Unta/Perang Jamal) seperti yang disebutkan oleh Sayf Ibn Umar

6. Dalam “hadits-hadits” yang tidak melewati Sayf Ibn Umar juga tidak disebutkan keterlibatan beberapa sahabat Nabi yang utama yang disebut-sebut telah mengikuti langkah Abdullah Ibn Saba. Sementara itu Sayf Ibn Umar mencemarkan nama baik dari beberapa sahabat Nabi yang mulia seperti Abu Dzar al-Ghifari dan Ammar Ibn Yassir. Mereka berdua dituding atau lebih tepatnya direkayasa menjadi sahabat setianya Abdullah Ibn Saba pada masa pemerintahan Utsman Ibn Affan.

 

AL-SABA’IYAH DAN KARAKTER ABDULLAH IBN SABA YANG BERBAGAI MACAM

Pada awal masa Islam (pra-Islam) istilah Saba’iyah itu digunakan untuk menyebutkan para keturunan dari Saba, putera dan Yasyhub, putera dari Ya’rub, putera dari Qahtan (dari kata ini ada kata Qahtaniyyah). Mereka juga seringkali disebut sebagai kaum “Yamaniyyah” karena mereka berasal dari tanah Yaman.

Kelompok bangsa atau suku ini (bangsa Saba’iyyah/Qahtaniyyah/Yamaniyyah) bisa dibandingkan dengan suku “Adnaniyyah” atau Nazariyyah” dan “Mudhariyyah” yang dulunya merupakan anak keturunan Mudhar puteranya Nazar, puteranya Adnan dan kemudian terus bersambung hingga Nabi Ismail (as) putera dari Nabi Ibrahim (as). Ada suku-suku lainnya yang merupakan sekutu dari suku-suku tersebut dan mendapatkan perlindungan dari suku-suku tersebut. Dan pada waktu itu suku-suku lain yang mendapatkan perlindungan itu diberinama yang sama dengan suku-suku yang melindunginya.

Pada umumnya, semua suku Arab itu berpangkal kepada salah satu dari dua suku induk (Qahtaniyyah dan Adnaniyyah) tersebut di atas. Ketika kedua suku tersebut di atas bergabung di kota Madinah untuk membentuk masyarakat Muslimin pertama yang dimpipin oleh Rasulullah pada tahun 0H, suku-suku yang berpangkal kepada suku Qahtan dinamai dengan kelompok Anshar yang bermukim dan bertempat tinggal di kota Madinah pada waktu itu. Sedangkan suku-suku yang berpangkal kepada suku Adnan dan sekutunya dan kemudian berhijrah ke kota Madinah disebut kaum Muhajirin.

Abdullah bin Wahab al-Saba’i—pemimpin pertama dari kelompok Khawarij (kelompok yang menentang Imam Ali as. selama masa kepemimpinannya) berasal dari suku Saba’iyyah atau Qahtahiyyah di atas. Ketika perpecahan makin meluas diantara kedua suku Adnan dan Qahtan di Madinah dan Kufah, kelompok suku Adnan seringkali menyebut kelompok suku Qahtan dengan sebutan suku Saba’iyyah. Walaupun begitu, sebutan atau panggilan semata-mata karena kesukuannya atau etnisitasnya hingga kemudian Sayf Ibn Umar (yang berasal dari kelompok suku Adnan) mulai menggunakan nama suku ini dengan muatan lebih. Sayf Ibn Umar yang muncul pada abad kedua pada masa rezim pemerintahan Bani Umayyah di Kufah, mulai mengambil keuntungan dari perpecahan antar suku ini dengan menciptakan dan memunculkan tokoh fiktif Abdullah Ibn Saba dimana Abdullah Ibn Saba dijadikan tokoh utamanya dari suku itu sekaligus mengubah nama suku (Saba’iyyah) menjadi nama sekte yang digambarkan mengikuti pemahaman agama dari Abdullah Ibn Saba.

Nama Abdullah Ibn Saba itu sendiri kemungkinan besar Sayf Ibn Umar mengubah nama Abdullah (bin Wahab) al-Saba’i seperti yang dijelaskan di atas menjadi Abdullah Ibn Saba yang ada dalam tulisan-tulisan atau laporan-laporan dari Asy’ari, al-Sama’ni dan Maqrizi. Nama Abdullah Ibn Saba bisa jadi juga diciptakan oleh Sayf Ibn Umar sendiri (jadi ia menciptakan ceritanya sekaligus tokohnya yaitu ABDULLAH IBN SABA). Meskipun begitu, tetap saja tidak ada bukti bahwa Abdullah Ibn Saba itu pernah ada pada masa rezim pemerintahan Utsman bin Affan atau Ali Ibn Thalib. Kalaupun ada orang yang namanya hampir-hampir mirip dengan Abdullah Ibn Saba itu ialah Abdullah Ibn Wahab al-Saba’i yang pernah hidup di jaman kedua khalifah itu dan ia adalah pemimpin kaum Khawarij seperti yang kami jelaskan di atas.

Orang-orang yang tinggal di jazirah Arabia juga tahu bahwa orang-orang yang namanya diembel-embeli nama “Saba’i” (yang artinya ia berasal dari suku Qahtan) sudah tidak ada lagi atau hampir punah terutama di Iraq sana dimana kisah tentang Abdullah Ibn Saba itu berasal. Kebiasaan memberikan nama “Saba’i” di kalangan suku Qahtan ini berlangsung pada abad kedua hingga ketiga Hijriah terutama di daerah-daerah seperti Yaman, Mesir, Spanyol dimana sejumlah perawi Hadits (termasuk beberapa perawi hadits yang namanya ada di dalam kumpulan hadits-hadits Sunni yang enam) dari kalangan Ahlu Sunnah memiliki nama Saba’i karena mereka memiliki hubungan kekerabatan Saba Ibn Yasyhub dan bukan karena mereka terhubung pada tokoh fiktif bernama Abdullah Ibn Saba (yang konon dulunya seorang Yahudi yang menimbulkan huru-hara besar seperti yang didongengkan oleh Sayf Ibn Umar).

Kemudian hari setelah kitab-kitab Tabari dan kitab-kitab lainnya yang di dalamnya terdapat dongeng tentang Abdullah Ibn Saba itu menyebar luas, kebiasaan memberinama anak dengan nama Saba’i itu ada dimana-mana. Kalau kita mengacu pada kitab-kitab itu, maka nama SABA’I itu ditujukan kepada orang-orang yang mengikuti Abdullah Ibn Saba sendiri meskipun dalam kehidupan nyata para pengikut Ibn Saba ini tidak ada orangnya karena yang diikutinya juga tidak pernah hadir dalam kehidupan nyata. Kisah “Abdullah Ibn Saba” itu akhirnya menyebar dan berkembang selama bertahun-tahun dengan jumlah pengarang yang terus bertambah dan jumlah orang percaya juga terus bertambah. Pada saat yang bersamaan, bagi Sayf Ibn Umar (pembuat cerita Abdullah Ibn Saba) Abdullah Ibn Saba itu adalah Ibn al-Sauda; sedangkan “Karakter” Abdullah Ibn Saba itu menjadi 2 pribadi yang berbeda pada abad 5 Hijriah disamping ada juga karakter-karakter mirip Abdullah Ibn Saba lainnya dalam berbagai laporan (LIHAT: “al-Farq” yang ditulis Abdul-Qahir Ibn Tahir al-Baghdadi). Kita bisa membatasi karakter-karakter yang mirip Abdullah Ibn Saba ini pada abad ke-5 sampai sekarang hingga menjadi 3 karakter saja, yaitu:

  1. ABDULLAH BIN WAHAB AL-SABA’I, pemimpin Khawarij, yang menentang Imam Ali
  2. ABDULLAH IBN SABA, yang konon pernah hidup dan ia membentuk kelompok Saba’iyyah yang mempercayai ketuhanan Imam Ali. Ia dan para pengikutnya kemudian dihukum dengan dibakar oleh api tidak lama setelah ia menyebarkan paham atau keyakinannya
  3. ABDULLAH IBN SABA, juga dikenal nama lain yaitu IBN AL-SAUDA, dimana orang-orang mengutip cerita tentang IBN SABA ini dari SAYF IBN UMAR. Sayf menceritakan bahwa Ibn Saba ini adalah orang yang membuat kelompok Saba’iyyah yang percaya akan kepempinan Ali sebagai penerus Nabi; kemudian Ibn Saba itu dilaporkan menghasut orang-orang untuk menentang Utsman Ibn Affan yang mengawali peperangan Jamal.

YANG PERTAMA, memang tokoh sejarah dan memang pernah hidup dalam kehidupan nyata. Beberapa hadits yang disangkut-pautkan dengan Abdullah Ibn Saba sebenarnya berkenaan dengan tokoh ini yang dulunya merupakan tokoh pemimpin Khawarij.

YANG KEDUA, ada beberapa hadits yang telah kita diskusikan sebelumnya (yang tidak pernah dishahihkan oleh madzhab manapun) yang biasa dipakai untuk menyatakan bahwa tokoh ini pernah hidup di masanya.

YANG KETIGA, adalah tokoh yang sengaja dikarang oleh Sayf Ibn Umar yang mungkin saja berasal dari sebuah cerita yang pernah ia dengar; bisa juga cerita yang berdasarkan kisah nyata sebelumnya dan kemudian ia menyadur cerita itu dan memasukkan tokoh khayalannya sehingga tokoh itu seakan-akan pernah ada dan hidup bersama kita.

 

PRESTASI SAYF IBN UMAR

Dalam bagian lain (bagian kedua dan ketiga) dari tulisan ini, kami hendak membandingkan kisah yang dibuat oleh Sayf Ibn Umar dengan kisah-kisah lainnya yang ditulis oleh orang lain. Sekarang kita akan diskusikan PRESTASI yang telah dibuat oleh Sayf Ibn Umar.

Sayf Ibn Umar itu dibayar untuk menuliskan kisah-kisah yang mana kisah-kisah itu akan digunakan untuk menutup-nutupi kesalahan orang-orang tertentu yang sudah terbukti dalam sejarah Islam pada masa awal. Kontroversi antara para sahabat ketika Rasulullah wafat (tahun 11H) hingga pertentangan berkelanjutan sampai tahun 40H menjadi fokus perhatian orang-orang yang membayar Sayf Ibn Umar. Sayf Ibn Umar hanya ditugaskan untuk menutup-nutupi sejarah Islam sepanjang kurun waktu tersebut (11H—40H) sedangkan sisanya bukan lagi urusan dia.

Kontroversi pertama yang hendak ditutup-tutupi ialah sebuah kejadian yang berkenaan dengan ekspedisi pasukan Usamah dan saat-saat wafatnya Rasulullah. Kira-kira 4 hari sebelum Rasulullah wafat, Rasulullah memerintahkan kaum Anshar dan kaum Muhajirin (kecuali Ali Ibn Thalib) untuk meninggalkan kota Madinah dan pergi ke Syiria untuk bertempur melawan bangsa Romawi. Akan tetapi para sahabat senior membangkang dan tidak mau mematuhi perintah Rasulullah itu dan mereka malah mengeluhkan kebijakan Rasulullah yang menempatkan mereka di bawah komando seorang anak muda bernama Usamah (LIHAT: Sahih Bukhari, versi Arab-Inggris, hadits nomor 5. 552; 5.744; dan 5.745). Mereka menunda-nunda keberangkatan dan akhirnya mereka tidak jadi berangkat dan kembali ke kota Madinah untuk mendiskusikan tentang masalah suksesi kepemimpinan kalau Rasulullah wafat.

Nah, disinilah Sayf masuk untuk membuat penipuan. Sayf menuliskan bahwa tidak ada pembatalan atau penundaan ekspedisi Usamah. Sayf berkata bahwa setelah Rasulullah wafat, malahan Abu Bakar menyuruh pasukan Usamah untuk segera bergegas dan membentak pasukan Usamah agar segera mematuhi perintah Nabi. Abu Bakar berkata, “Berangkatlah segera! Semoga Allah menghancurkan kalian dengan kebinasaan dan wabah penyakit!” (LIHAT: Referensi dari Sunni: Tarikh al-Tabari dan Tarikh dari Ibn Asakir yang melaporkan dari Sayf Ibn Umar tentang kejadian pada tahun 11H).

Oleh karena laporan itu terasa aneh, maka para sejarawan tidak mau mengutip dan menggunakan laporan itu. Mereka tidak mau melaporkan kata-kata Abu Bakar yang dianggap aneh itu. Sayf sendiri (sebagai orang yang suka mencari sensasi) memiliki maksud yang tidak baik terhadap Islam dan sekaligus ia suka melakukan perbuatan yang bisa menyenangkan penguasa pada jamannya.

Kebohongan Sayf Ibn Umar lainnya ialah sebagai berikut:

Sayf menceritakan sebuah kejadian tentang peristiwa Saqifah. Ia melaporkan seperti ini:

“Ali sedang berada di rumahnya ketika ia diberitahu bahwa Abu Bakar sedang duduk dan menerima bai’at kesetiaan dari orang-orang. Mendengar itu, Ali langsung pergi keluar dengan hanya mengenakan pakaian tidurnya saja dan bergegas karena ia takut ketinggalan memberikan bai’atnya. Kemudian sesampainya di luar, Ali memberikan bai’atnya kepada Abu Bakar dan ia kemudian menyuruh seseorang untuk mengambilkan pakaiannya. Setelah pakaiannya dibawakan, Ali mengenakan pakaian itu dan kemudian duduk bersama kerumunan (yang mengerumuni Abu Bakar)”

(LIHAT: Referensi Sunni History of al-Tabari, versi bahasa Inggris, volume 9, halaman 195—196, sesuai dengan laporan yang diberikan oleh Sayf Ibn Umar)

Kejadian yang menggelikan ini jelas sekali bertentangan dengan apa yang terdapat dalam kitab Sahih Bukhari dimana di sana disebutkan bahwa Imam Ali Ibn Thalib TIDAK MEMBERIKAN BAI’ATNYA kepada Abu Bakar hingga 6 bulan kekuasaan rezim pemerintahan Abu Bakar berlangsung. (LIHAT: Sahih al-Bukhari, versi Arab—Inggris, hadits nomor 5.546).

Sayf sudah menghasilkan sekitar 7 buah kisah tentang Saqifah dan ia telah menggunakan (atau menciptakan) 3 orang sahabat khayalan yang dimasukkan kedalam kisah peristiwa Saqifah yang sebenarnya. Ke-3 orang “sahabat Nabi” itu namanya tak bisa kita dapati dalam kitab sejarah manapun selain kitab yang ditulis oleh Sayf Ibn Umar sendiri. Ke-3 sahabat itu namanya ialah QA’QA’, MUBASHSHIR, dan SAKHR.

Legenda yang dibuat oleh Sayf Ibn Umar yang paling terkenal tentu saja LEGENDA ABDULLAH IBN SABA yang dengan kisah khayalannya itu, Sayf ingin mencoba membelokkan sejarah dan menceritakannya kepada kita semua. Sayf mencoba menceritakan tentang:

  • Munculnya Syi’ah
  • Peristiwa pengusiran Abu Dzar (oleh Utsman Ibn Affan)
  • Pembunuhan Utsman Ibn Affan (oleh kaum Muslimin)
  • Perang Jamal atau Perang Unta (yang digelorakan oleh ‘Aisyah, Thalhah, dan Zubayr)

Sayf ingin menjelaskan peristiwa-peristiwa tersebut di atas dengan gayanya sendiri dan demi menyenangkan pemerintah yang berkuasa pada waktu itu.

Sayf juga mencoba untuk menghubung-hubungkan kisah palsu Abdullah Ibn Saba dengan munculnya Syi’ah Imam Ali (as) yang sekaligus membuktikan bahwa yang bersangkutan sama sekali tidak tahu (atau pengetahuannya kurang sekali) tentang Syi’ah. Karena kalau ia tahu tentang Syi’ah, maka Sayf Ibn Umar tidak akan menisbahkan keyakinan-keyakinan yang aneh-aneh yang sama sekali bukan keyakinan yang diyakini oleh kaum Syi’ah (para pengikut keluarga Ahlul Bayt Nabi).

Pada bagian berikutnya, Insya Allah, kami akan membahas kisah khayalan tentang Abdullah Ibn Saba ini dengan laporan-laporan yang ada di kalangan Ahlu Sunnah (Sunni).

Kami akan sampaikan kepada anda seorang ulama bernama al-Askari yang memiliki prestasi tinggi. Ia telah mengungkapkan kebenaran dengan sangat meyakinkan. Dalam kitabnya yang berjudul “ABDULLAH IBN SABA DAN MITOS-MITOS LAINNYA”, al-Askari mengungkapkan bahwa Ibn Saba dan sepak terjangnya itu tak pernah ada dan tak pernah terjadi di dunia ini; sekaligus ia juga mengungkapkan bahwa kisah itu semua adalah hasil rekayasa dari Sayf Ibn Umar.

Tidak ada komentar: