"KEBENARAN TIDAK DITENTUKAN OLEH SEDIKIT BANYAKNYA ORANG YANG BERKATA BAHWA ITU BENAR"

Karbala Berduka

Karbala Berduka
Ya, Syahid! Ya, Madzhlum! Ya, Imam! Ya, Husein!

Sabtu, 14 Juli 2012

ABDULLAH IBN SABA: the legend continues (VOL 2) Tentang al-Raj’a ……………yang dituduhkan sebagai konsep ajaran dari Abdullah Ibn Saba—tokoh yang tak pernah ada

 KEMBALINYA RASULULLAH KEDUNIA


Sayf Ibn Umar mengisahkan bahwa Abdullah Ibn Saba itu pernah mengatakan bahwa Rasulullah itu akan kembali kedunia sebelum Hari Penghisaban. Sayf menuliskan bahwa Ibn Saba pernah berkata: “Seandainya Nabi Isa itu akan kembali kedunia, maka Muhammad juga akan kembali kedunia karena ia lebih penting daripada Nabi Isa”


Konsep al-Raj’a atau al-Karra (konsep tentang kebangkitan tubuh orang yang meninggal ke dunia ini sebelum hari penghisaban) dinisbahkan oleh Sayf Ibn Umar kepada Abdullah Ibn Saba. Sayf Ibn Umar sengaja ingin mengelabui orang-orang agar mereka tersimpangkan dari jalan Islam yang lurus dan benar. Kalau saja Sayf Ibn Umar mau mempelajari Islam secara seksama maka ia tentunya bisa melihat dengan jelas bahwa Al-Qur’an dengan tegas mengungkapkan konsep al-Raj’a yang pernah beberapa kali terjadi dalam kehidupan masa lalu sebagai tanda dari kebesaran Allah. Kejadian ini terjadi bukan saja kepada individu tertentu tapi terhadap sebuah bangsa tertentu atau sekelompok umat tertentu; dan ini tentu saja tidak menutup kemungkinan akan terjadi lagi kelak sebagai tanda kekuasaan Allah itu sama sekali tidak pernah berakhir. 


Meskipun sumber-sumber dari kalangan Syi’ah tidak pernah dijadikan bukti atau hujah oleh kalangan Sunni secara umum, banyak sekali hadits  dari kalangan Ahlul Bayt (Syi’ah) yang menunjukkan konsep al-Raj’a dalam Al-Qur’an. Penarikan kesimpulan dari Al-Qur’an yang mereka gunakan begitu menarik dan sangat bisa dijadikan human oleh kelompok muslim manapun karena semua kelompok Islam percaya dan yakin serta beriman kepada Al-Qur’an yang sama. Oleh karena itu, ijinkanlah kami mengutip beberapa hadits dari Ahlul Bayt dan kami akan kelompokkan kedalam tiga kelompok, yaitu:
  1. Kebangkitan manusia pada masa lalu

  2. Kebangkitan manusia pada masa yang akan datang

  3. Kembalinya Rasulullah dan para Nabi lainnya


KEBANGKITAN MANUSIA PADA MASA LALU


Al-Asbagh Ibn Nabata meriwayatkan bahwa Abdullah Ibn Abi Bakar al-Yasykari (juga dikenal sebagai Ibn al-Kawwaa—salah seorang yang berasal dari kelompok Khawarij) bertanya kepada Amirulmukminin Imam Ali tentang kemungkinan bangkitnya manusia setelah kematiannya. Imam Ali (as) kemudian menjawab:
“Tidakkah engkau tahu bahwa Allah—yang maha Kuasa dan maha Mulia—berfirman dalam kitabNya, “Dan Musa memilih tujuh puluh orang dari kaumnya untuk (memohonkan tobat kepada Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan….”(QS. Al-‘Araf: 155)…..Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: "Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang", karena itu kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya. Setelah itu Kami bangkitkan kamu sesudah kamu mati, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 55—56). Tidakkah engkau lihat wahai Ibn al-Kawwaa bahwa mereka itu bisa pulang kembali ke rumahnya masing-masing setelah mereka sempat meninggal dunia? Bukankah (setelah ayat tersebut di atas) kemudian Allah berfirman dalam kitabnya, “Dan Kami naungi kamu dengan awan, dan Kami turunkan kepadamu "manna" dan "salwa" (QS. Al-Baqarah: 57)”. Dan ini terjadi setelah mereka mati dan Allah membangkitkan mereka kembali.”


Dan (aku akan ceritakan) kejadian yang sama dengan itu, wahai Ibn al-Kawwaa. Kepada anak-anak Israel Allah pernah berfirman: “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang keluar dari kampung halaman mereka, sedang mereka beribu-ribu (jumlahnya) karena takut mati; maka Allah berfirman kepada mereka: "Matilah kamu", kemudian Allah menghidupkan mereka. Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 243)


Dan Allah (milikNya semua Kemaha-perkasaan dan Kemahamuliaan) juga berfirman tentang Uzair dimana Allah berfirman: “Atau apakah (kamu tidak memperhatikan) orang yang melalui suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atapnya. Dia berkata: "Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?" Maka Allah mematikan orang itu seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali. Allah bertanya: "Berapa lama kamu tinggal di sini?" Ia menjawab: "Saya telah tinggal di sini sehari atau setengah hari". Allah berfirman: "Sebenarnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun lamanya…….” Jadi janganlah ragu-ragu, wahai Ibn al-Kawwaa. Janganlah ragu-ragu terhadap kekuasaan Allah. KepadaNyalah Kemahaperkasaan dan Kemahamuliaan kembali. (LIHAT: al-Bihar, volume 53, halaman 72, Hadits no 72)

Masih ada banyak lagi ayat-ayat Al-Qur’an tentang kembalinya orang yang sudah mati di masa lalu, diantaranya ialah (QS. Al-Baqarah: 260); (QS. Ali Imran: 49); (QS. An-Nahl: 38—41); (QS.Al-Kahfi: 18—19); dlsb yang pembahasannya terpaksa kami lewat karena keterbatasan tempat.



KEBANGKITAN MANUSIA PADA MASA YANG AKAN DATANG    

Dalam berbagai ayat dalam kitab suci Al-Qur’an ada beberapa petunjuk yang menggambarkan bahwa ada suatu masa di masa yang akan datang dimana para tokoh orang-orang beriman dan para tokoh orang-orang yang tidak beriman pada masing-masing masanya akan kembali ke dunia ini. Fenomena atau kejadian ini disebutkan dalam Al-Qur’an dan Hadits dengan istilah al-Raj’a atau al-Karra. Ini akan terjadi pada masa kedatangan Imam Mahdi (as) dimana ia akan mendapatkan tantangan dari para tiran sepanjang zaman. Imam Mahdi pada saat itu akan menegakkan pemerintahan dunia yang penuh dengan keadilan dan ia harus berhadapan dengan para tiran yang tidak menyukai hal itu terjadi. Basir melaporkan:
Aku bertanya kepada Imam al-Sadiq (as) tentang ayat ini: “Dan (ingatlah) hari (ketika) Kami kumpulkan dari tiap-tiap umat segolongan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, lalu mereka dibagi-bagi (dalam kelompok-kelompok). (QS. An-Naml: 83)” Aku berkata: “Mereka berkata bahwa itu berkenaan dengna Hari Penghisaban.” Untuk itu Imam al-Sadiq (as) bersabda: “Apakah kamu berpikir bahwa Allah hanya akan sekelompok orang saja untuk masing-masing bangsa, dan tidak membangkitkan sisanya? Sesungguhnya ayat ini tentang al-Raj’a. Sementara ayat untuk menunjukkan Hari Penghisaban ialah ayat: “Dan (ingatlah) akan hari (yang ketika itu) Kami perjalankan gunung-gunung dan kamu akan melihat bumi itu datar dan Kami kumpulkan seluruh manusia, dan tidak Kami tinggalkan seorang pun dari mereka. (QS. Al-Kahfi: 47)” (LIHAT: Tafsir Ali Ibn Ibrahim, seperti yang dikutip dalam al-Bihar, volume 53, halaman 51, Hadits no 27)

Ada lagi ayat lainnya yang kemudian dijelaskan oleh Imam Ja’far as-Sadiq (as). Ayat yang dimaksud ialah ayat: “Dan (ingatlah) hari (ketika) Kami kumpulkan dari tiap-tiap umat segolongan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, lalu mereka dibagi-bagi (dalam kelompok-kelompok). Hingga apabila mereka datang, Allah berfirman: "Apakah kamu telah mendustakan ayat-ayat-Ku, padahal ilmu kamu tidak meliputinya, atau apakah yang telah kamu kerjakan?" (QS. An-Naml: 83—84)” Imam Ja’far as-Sadiq bersabda: “Yang dimaksud dengan ayat-ayatKu adalah Amirulmukminin dan para Imam setelahnya……….dan ayat ini tentang al-Raj’a” (LIHAT: Tafsir Ali Ibn Ibrahim, seperti yang dikutip dalam al-Bihar, volume 53, halaman 53, Hadits no 30).

     Muhammad Ibn Muslim dan juga Abu Basir meriwayatkan:
Ketika menjelaskan ayat berikut: “Dan telah (Kami) haramkan bagi kaum yang telah Kami binasakan bahwa mereka tidak akan mungkin kembali (QS. Al-Anbiya: 95)”, Imam al-Baqir (as) dan Imam al-Sadiq (as) keduanya bersabda: “Setiap kaum yang telah Allah binasakan dengan hukuman itu tidak akan kembali pada saat al-Raj’a. Ini menunjukkan bahwa ayat ini adalah salah satu dari tanda kebesaran dan kebenaran Allah karena tidak ada satupun diantara umat Islam yang menyangkal bahwa setiap manusia akan KEMBALI/DIBANGKITKAN pada Hari Penghisaban dengan tidak melihat apakah mereka akhirnya akan mendapatkan pahala atau siksa. Oleh karena itu, ketika ALLAH menyebutkan MEREKA TIDAK MUNGKIN KEMBALI itu menunjukkan bahwa mereka tidak akan dibangkitkan pada kejadian al-Raj’a (Kembalinya manusia kedunia). Sementara itu “mereka yang tidak kembali” akan tetap kembali pada Hari Penghisaban nanti untuk dimasukkan ke dalam api neraka.” (LIHAT: Tafsir Ali Ibn Ibrahim, seperti yang dikutip dalam al-Bihar, volume 53, halaman 52, Hadits no 29).
Dalam menjelaskan ayat berikut: “Mereka menjawab: "Ya Tuhan kami Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali (pula), lalu kami mengakui dosa-dosa kami. Maka adakah sesuatu jalan (bagi kami) untuk keluar (dari neraka)?" (QS. Al-Mukmin: 11)”, diriwayatkan bahwa Imam al-Baqir bersabda:
“Ayat ini khusus ditujukan untuk mereka (kaum Kuffar) yang kembali ke dunia ini setelah kematian mereka, dan ini adalah kalimat yang mereka ucapkan ketika mereka dikumpulkan pada Hari Penghisaban nanti (setelah kebangkitan mereka yang kedua). Jadi, mereka itu akan jauh (dari pengampunan) karena mereka adalah kaum yang berbuat dosa.” (LIHAT: al-Bihar, volume 53, halaman 116, Hadits no 139. Keterangan yang sama diberikan oleh Imam Ja’far as-Sadiq (as) dan Imam Ali al-Ridha (as). LIHAT: al-Bihar, volume 53, halaman 56, Hadits no 36, dan juga halaman 144).
Menurut ayat di atas, pada Hari Penghisaban nanti kaum Kuffar yang telah mati dua kali akan meminta diberikan kesempatan yang ketiga kalinya agar mereka bisa bertaubat dari dosa-dosa yang telah mereka lakukan. Lihat terutama di ayat yang disebutkan di atas bahwa kematian itu disebutkan sebelum kehidupan (QS. Al-Mukmin: 11). Ini artinya bahwa kehidupan itu diartikan sebagai kebangkitan setelah kematian. Ada ada dua kematian bagi orang-orang seperti di atas dan setiap kali mereka mengalami kematian mereka akan dibangkitkan lagi kepada kehidupan. Dengan kata lain, setelah mereka mati di dunia ini, mereka akan kembali lagi ke dunia ini pada saat peristiwa al-Raj’a dan kemudian mereka akan dimatikan lagi setelah itu; untuk kemudian mereka akan dibangkitkan lagi pada Hari Penghisaban.

Dan lihatlah ayat berikut ini: “Dan sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebahagian adzab yang dekat (di dunia) sebelum adzab yang lebih besar (di akhirat); mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS. As-Sajdah: 21)”, dimana Mufadhdhal Ibn Umar menuliskan meriwayatkan sebuah riwayat yang berkenaan dengan penjelasan ayat itu:
Imam Ja’far as-Sadiq (as) bersabda: “ADZAB YANG DEKAT yang dimaksud oleh ayat itu ialah al-Raj’a (saat ketika mereka kembali kedunia ini). Sedangkan ADZAB YANG LEBIH BESAR itu ialah hukuman yang didapatkan oleh manusia pada Hari Penghisaban dimana Allah berfirman, “(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit, dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) berkumpul menghadap ke hadirat Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa. (QS. Ibrahim: 48)” (LIHAT: al-Bihar, volume 53, halaman 24)
Selain itu ada ayat lain yaitu: “Dan sesungguhnya untuk orang-orang yang dzalim ada adzab selain itu. Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (QS. Ath-Thuur: 47)”, yang dijelaskan dalam sebuah riwayat berikut ini:
Imam al-Baqir (as) bersabda: “Dan sesungguhnya bagi mereka yang bertindak semena-mena dan lalim terhadap hak keluarga Muhammad, akan ada hukuman sebelumnya (yaitu sebelum Hari Penghisaban). Meskipun begitu banyak orang yang tidak tahu, dan ini berkenaan dengan hukuman yang akan ditimpakan pada saat al-Raj’a.” (LIHAT: al-Bihar, volume 53, halaman 117, Hadits no 144)
Untuk ayat berikut ini: “Janganlah begitu! Kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu) (QS. At-Takaatsur: 3—4)”, Abdullah Ibn Najih meriwayatkan sebuah riwayat:
Imam al-Sadiq (as) bersabda: “Kalimat yang pertama mengacu pada al-Karra (al-Raj’a) sedangkan kalimat kedua berkenaan dengan Hari Penghisaban.” (LIHAT: al-Bihar, volume 53, halaman 120, Hadits no 156)


Muhammad Ibn Abdullah al-Husain meriwayatkan:
Ayahku bertanya kepada Imam al-Sadiq (as): “Apa yang tuan akan katakan tentang al-Karra (Kebangkitan)?” Ia (as) kemudian bersabda: “Aku akan berkata sesuai dengan apa yang difirmankan oleh Allah—kepadaNya Kekuasaan dan Kemuliaan berasal—dan aku akan kembalikan penafsiran ini kepada Rasulullah……Allah berfirman: “Mereka berkata: "Kalau demikian, itu adalah suatu pengembalian yang merugikan". (QS. An-Naazi’aat: 12)”. Ini tentang kembalinya mereka kedunia (dan akan dihukum) dimana pembalasan terhadap mereka tidak akan berhenti di situ saja (artinya kembalinya mereka itu hanya akan mendatangkan kerugian bagi mereka karena hukuman yang akan mereka terima di dunia ini tidak akan menutupi hukuman yang kelak akan mereka terima di hari akhirat)” (LIHAT: al-Bihar, volume 53, halaman 46, Hadits no 17)
Zurara meriwayatkan:
Aku bertanya kepada Imam al-Baqir (as) apakah kematian dan terbunuh itu sama artinya. Sang Imam menjawab: “Allah telah membedakan arti dari mati dan terbunuh di dalam Al-Qur’an. Kemudian Imam membacakan ayat, “…. Apakah jika dia wafat atau dibunuh …………”(QS. Ali Imran: 144) dan “Dan sungguh jika kamu meninggal atau terbunuh, tentulah kepada Allah saja kamu dikumpulkan”. (QS. Ali Imran: 158). “…….dan Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur'an.” (QS. at-Taubah: 111) “Dan Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati”. (QS. Al-Anbiyaa: 35)” “Tidakkah engkau lihat bahwa seseorang yang terbunuh (dengan senjata) tidak merasakan mati? Ia yang terbunuh atau dibunuh oleh sebilah pedang tidak sama dengan orang yang mati di atas ranjang pembaringan. Oleh karena itu (sambil merangkum ayat-ayat di atas), mereka (orang-orang beriman)yang terbunuh oleh sebilah pedang akan kembali hidup ke dunia ini dan kemudian meninggal seperti manusia normal lainnya” (LIHAT: al-Bihar, volume 53, halaman 65, Hadits no 58).
Ayat (QS. At-Taubah: 111) yaitu “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar”, membuktikan  bahwa SEMUA ORANG YANG BENAR-BENAR BERIMAN akan mati terbunuh dan ini adalah janji Allah. Allah menyebutkan bahwa mereka itu membunuh atau terbunuh. Sementara itu orang-orang beriman lainnya yang meninggal dengan proses alamiah akan dibangkitkan lagi dan kemudian bergabung bersama tentara Imam al-Mahdi (as) dan kemudian akan terbunuh dalam perang suci. Sedangkan orang-orang yang beriman yang sebelumnya mati terbunuh di dalam perang Jihad akan dibangkitkan kembali dan kemudian akan hidup dalam masa pemerintahan Imam Mahdi yang penuh dengan keadilan dan akhirnya mereka akan meninggal juga secara alami. Fakta ini telah disebutkan dalam berbagai Hadits termasuk hadits berikut ini: 
Abdurrahman Ibn Qasir meriwayatkan bahwa Imam al-Baqir (as) membacakan ayat berikut ini: “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri mereka ……. (QS. At-Taubah: 111) dan kemudian bersabda: “Apakah engkau tahu apa arti dari ayat itu?” Imam (as) kemudian melanjutkan: “Siapapun diantara orang-orang beriman yang mati terbunuh akan dibangkitkan kembali hingga kemudian ia mati kembali secara normal; dan siapapun diantara orang beriman itu yang mati secara normal akan dibangkitkan kembali dan kemudian terbunuh di dalam Jihad. Dan ini adalah salah satu dari tanda kekuasaan Allah, jadi jangan coba-coba mengingkarinya.” (LIHAT: al-Bihar, volume 53, halaman 64, Hadits no 55). Dan tentang ayat: “Dan (ingatlah) hari (ketika) Kami kumpulkan dari tiap-tiap umat segolongan orang-orang………” (QS. An-Naml: 83), Imam Ja’far as-Sadiq (as) bersabda: “Tidak akan tersisa satu orang beriman yang syahid pun yang tidak akan dibangkitkan sampai mereka semua satu persatu meninggal dunia. Dan tidak akan kembali kecuali memang ia orang yang sangat beriman atau orang yang sangat tidak beriman (yaitu orang-orang beriman tingkat tinggi dan orang-orang sesat tingkat tinggi)” (LIHAT: al-Bihar, volume 53, halaman 53, Hadits no 30)
Himran Ibn A’ayun meriwayatkan:
Aku bertanya kepada Abu Ja’far (as) “Apakah ada sesuatu yang terjadi kepada Bani Israel yang tidak akan terjadi kepada umat kita ini?” Imam (as) menjawab: “Tidak.” Kemudian aku bertanya: “Ceritakanlah kepadaku tentang arti dari firman Allah (tentang sekelompok Bani Israel) berikut ini: “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang keluar dari kampung halaman mereka, sedang mereka beribu-ribu (jumlahnya) karena takut mati; maka Allah berfirman kepada mereka: "Matilah kamu", kemudian Allah menghidupkan mereka. Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.” (QS. al-Baqarah: 243), akankah MEREKA itu dibangkitkan kembali kedunia ini setelah mereka mati?” Imam (as) menjawab: “Benar. Bahkan Allah akan mengembalikan mereka kedunia ini hingga mereka tinggal untuk satu periode waktu lagi dan mereka makan serta minum dan menikah dan hidup selama Allah menghendaki, dan mereka kemudian akan meninggal (lagi) pada waktu yang telah ditentukan.” (LIHAT: Muntakhab al-Basa’ir, seperti dikutip dalam al-Bihar, volume 53, halaman 74, Hadits no 74) 
Al-Hasan Ibn Jahm meriwayatkan:
Al-Ma’mun bertanya kepada Imam Ali al-Ridha (as): “Wahai, Abal Hasan! Apa yang akan engkau katakan tentang al-Raj’a?” Imam (as) menjawab: “Itu adalah kebenaran. Sesungguhnya telah terjadi pada bangsa-bangsa yang telah lalu dan Al-Qur’an mengatakan tentang hal itu; dan sesungguhnya Rasulullah (saaw) telah bersabda: “Akan terjadi pada umat ini apa yang telah terjadi pada umat sebelumnya sama persis seperti sepasang sepatu.” (LIHAT: Uyun Akhbar al-Ridha (as) seperti dikutip dalam al-Bihar, volume 53, halaman 59, Hadits no 45)
Rafa’a Ibn Musa meriwayatkan:
Imam Ja’far al-Sadiq bersabda: “(Kelompok) Yang akan dibangkitkan pertama kalinya ialah Husain Ibn Ali (as) beserta para pengikutnya di satu pihak dan Yazid Ibn Mu’awiyyah (LA) beserta para begundalnya di pihak lainnya; kemudian mereka akan bertempur satu sama lainnya dan kemudian pasukan Imam Husain akan membunuhi mereka satu persatu. Kemudian Imam al-Sadiq (as) membacakan sebuah ayat suci al-Qur’an, “Kemudian Kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka kembali dan Kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar.” (QS. Al-Israa: 6)”'” (LIHAT: al-Rijal al-Najashi, seperti yang dikutip dalam al-Bihar, volume 53, halaman 76, Hadits no 78).

Sehubungan dengan ini, al-Mu’alli Ibn Khunais meriwayatkan:
Imam Ja’far as-Sadiq bersabda: “Kelompok pertama yang akan kembali ke dunia ini (pada saat kedatangan Imam Mahdi as.) adalah Imam Husain Ibn Ali (as) yang akan memerintah di dunia ini hingga alisnya menutupi kedua matanya karena usianya yang sangat tua.” (LIHAT: al-Bihar, volume 53, halaman 46, Hadits 19 seperti dikutip dari Muntakhab al-Basa’ir; hadits-hadits yang serupa bisa kita temukan dalam Tafsir Ali Ibn Ibrahim al-Qummi, Rijal al-Kashshi, dan Tafsir al-Nu’mani).

AL-QUR’AN BERBICARA TENTANG KEMBALINYA RASULULLAH
Di bagian yang lalu kami menyediakan ayat-ayat suci al-Qur’an mengenai fakta bahwa kebanyakan orang-orang beriman itu akan kembali ke dunia ini pada penghujung usia dunia ini. Ini sekaligus menyiratkan bahwa Rasulullah pastilah akan beserta dengan mereka (selain karena Rasulullah orang yang paling beriman diantara seluruh umat manusia, tentunya). Untuk ini, kita akan fokuskan diskusi kita kali ini terhadap ayat-ayat yang menunjukkan bahwa semua Nabi dan Rasul akan termasuk Nabi Muhammad dan para Imam Ahlul Bayt.

Jamil Ibn Darraj meriwayatkan: 
“Aku bertanya kepada Imam Ja’far as-Sadiq (as) tentang sebuah ayat, yaitu: “Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (QS. Al-Mukmin: 51).” Kemudian Imam (as) menjawab: “Demi Allah, ini akan terjadi pada hari al-Raj’a. Bukankah engkau tahu betul bahwa banyak sekali Nabi Allah dan RasulNya yang tidak ditolong di dunia ini dan mereka dibunuh umatnya; dan juga para Imam (yaitu orang-orang yang beriman yang telah kita diskusikan dalam ayat yang lain) juga dibunuh orang dan mereka sama sekali tidak ditolong oleh Allah (sehingga mereka dibiarkan terbunuh begitu saja—red.)? Oleh karena itu, bantuan atau pertolongan yang disebutkan dalam ayat tersebut di atas akan terjadi pada hari al-Raj’a.” Kemudian aku bertanya lagi pada Imam (as) mengenai ayat ini: “Dan dengarkanlah (seruan) pada hari penyeru (malaikat) menyeru dari tempat yang dekat. (Yaitu) pada hari mereka mendengar teriakan dengan sebenar-benarnya, itulah hari keluar (dari kubur) (QS. Qaaf: 41—42).” Imam (as) menjawab: “Ini tentang al-Raj’a.”” (LIHAT: al-Bihar, volume 53, halaman 65, Hadits no 57).

Asim Ibn Hamid meriwayatkan dari Imam al-Baqir (as) sebagai berikut:
“Amirul Mukminin (Imam Ali Ibn Thalib) (as) pernah bersabda: ‘Sesungguhnya Allah, Yang Maha Tinggi, Maha Esa, yang sendirian dalam keesaanNya, IA mengucapkan sebuah kata, dan dengan kata itu jadilah cahaya dan kemudian IA ciptakan dari cahaya itu Nur Muhammad (saaw) dan kemudian IA menciptakan aku dan keturunanku, ……….dan pada waktu itu belum ada matahari, belum ada bulan, belum ada malam, dan belum ada siang….kami semua bertasbih memuji namaNya dan ini terjadi sebelum IA menciptakan makhluk-makhlukNya dan mengambil perjanjian dari para Nabi sebelum mereka melakukan tugasnya membimbing kita semua. Dan inilah apa yang difirmankan oleh Allah: “Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: "Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya…. (QS. Ali Imran: 81)". Imam Ali (as) kemudian melanjutkan: “Ini artinya bahwa kalian (para Nabi) harus meyakini Muhammad dan harus menolong (memberikan bantuan) kepada walinya (penerusnya). Dan kemudian mereka (para Nabi) akan segera memberikan bantuan kepadanya. Allah mengambil bai’at kesetiaan untukku bersama dengan Muhammad untuk saling membantu. Tentu saja, aku akan membantu Muhammad dan berjihad bersamanya dan membunuh musuh-musuhnya dan memenuhi janji Allah dan tak ada seorangpun diantara para Nabi dan Rasul Allah yang datang membantuku. Akan tetapi kelak mereka akan membantuku dan aku akan menguasai apa-apa yang ada diantara barat dan timur. Dan sesungguhnya Allah akan membangkitkan kembali para Nabi dari mulai Adam (as) hingga Muhammad (saaw) semua Nabi yang pernah diutus oleh Allah. Dan mereka akan bertempur bersama-sama denganku diikuti oleh seluruh orang-orang yang beriman baik yang sudah meninggal maupun yang masih hidup. Betapa mengagumkan sekali pemandangan yang kelak akan terjadi dimana Allah membangkitkan kembali sekelompok orang demi sekelompok orang sementara mereka semua mengucapkan kalimat “LABBAIK, LABBAIK”, “AKU DATANG, YA ALLAH” semuanya memanggul senjatanya masing-masing di pundaknya yang dengan senjata itu mereka akan memukul orang-orang yang sesat dan tidak beriman; para tiran yang kejam beserta para pengikutnya sepanjang zaman. Pertempuran akan terus berlangsung hingga Allah memenuhi janjiNya seperti yang dijanjikan di dalam al-Qur’an: “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shaleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku……(QS. An-Nuur: 55). Ini artinya bahwa semua orang akan menyembahnya tanpa ada rasa khawatir atau takut sedikitpun tanpa usah bersembunyi-sembunyi.” (LIHAT: al-Bihar, volume 53, halaman 46, Hadits no 20).

Untuk mengomentari ayat berikut: “Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al Qur'an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai (QS. At-Taubah: 33), Mufadhdhal Ibn Umar meriwayatkan:
Aku bertanya kepada Imam al-Sadiq (as): “Apakah Rasulullah akan mengalahkan semua aga?” Imam (as) menjawab: “Ya, Mufadhdhal! Seandainya Rasulullah telah mengalahkan semua agama, maka tidak ada lagi agama Majusi, atau Yahudi, atau Nasrani. Juga tidak ada lagi yang namanya sekte-sekte agama, pertengkaran atas agama, keraguan atas agama, kemusyrikan dan penyembahan berhala. Sesungguhnya, Firman Allah yang mengatakan “untuk dimenangkan-Nya atas segala agama” menunjukkan masa ketika al-Mahdi berkuasa pada masa al-Raj’a, dan inilah FirmanNya: “Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al-Anfal: 39) (LIHAT: al-Bihar, volume 53, halaman 33)

Salih Ibn Maitham meriwayatkan:
Untuk menafsirkan ayat berikut: “Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui. (QS. Saba’: 28)”, Imam al-Baqir (as) bersabda: “Tidak ada lagi tempat di permukaan bumi ini kecuali di atasnya orang-orang bersaksi bahwa Tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah”. Dan kemudian Ia (as) menunjuk dengan tangannya ke arah ufuk yang jauh. (LIHAT: al-Bihar, volume 53, halaman 113, Hadits no 138—15).

Abu Khalid al-Kabuli (ra) meriwayatkan:
Tentang ayat: “Sesungguhnya yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) Al Qur'an, benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali. Katakanlah: "Tuhanku mengetahui orang yang membawa petunjuk dan orang yang dalam kesesatan yang nyata". . (QS. Al-Qashshas: 85),” Imam Ali Ibn al-Husain (as) bersabda: “Nabimu (saaw) akan kembali kepadamu.” (LIHAT: al-Bihar, volume 53, halaman 56, Hadits no 33, juga halaman 46, Hadits no 19)

Abu Marwan meriwayatkan:
Aku bertanya kepada Imam al-Sadiq (as) mengenai ayat berikut: “Sesungguhnya yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) Al Qur'an, benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali. Katakanlah: "Tuhanku mengetahui orang yang membawa petunjuk dan orang yang dalam kesesatan yang nyata (QS. Al-Qashshas: 85)". Imam (as) kemudian menjawab: “Tidak, demi Allah! Dunia ini tidak akan berakhir hingga Rasulullah dan Ali datang bersama-sama di al-Thawiyya dan kemudian keduanya bertemu di sana dan mendirikan sebuah mesjid dengan pintu masuk sebanyak 12,000 buah di al-Thawiyyah, sebuah tempat di dekat Kufah.” (LIHAT: al-Bihar, volume 53, halaman 113, Hadits no 138—17).

AHLU SUNNAH DAN KEYAKINAN AL-RAJ’A

Di kalangan saudara kita dari golongan Sunni, tidak ada penjelasan atau tidak ada diskusi tentang al-Raj’a yang menggunakan al-Qur’an. Bahkan dari hadits pun mereka tidak punya kecuali satu keterangan tentang kembalinya Yesus atau Nabi Isa (as). Untuk menyangkal gagasan atay keyakinan bahwa para Imam Ahlul Bayt (as) akan memimpin dunia ini tanpa ada saingan satupun; dan untuk mengikikis keyakinan itu sampai hadits, maka para ahli Hadits dan para ahli tafsir di kalangan Sunni telah berusaha sekuat tenaga untuk menyembunyikan hadits-hadits yang kira-kira bisa menyiratkan adanya konsep al-Raj’a. Dimana saja dan kapan saja mereka menemukan orang yang meriwayatkan hadits-hadits yang menggambarkan al-Raj’a, maka mereka serentak menuduh orang itu sebagai orang Syi’ah atau orang ekstrim. Mereka juga mencoba untuk menafsirkan ayat-ayat yang berkenaan dengan al-Raj’a atau al-Karra di dalam al-Qur’an sebagai penggambaran Hari Penghisaban dan bukan sebagai kejadian al-Raj’a, meskipun para Imam Ahlul Bayt yang notabene merupakan para cucu, cicit dan buyut dari Rasulullah telah menyebutkan bahwa itu merupakan keterangan yang sangat jelas tentang kejadian al-Raj’a seperti yang telah kita diskusikan di atas. Padahal tidak ada orang yang jauh lebih memahami al-Qur’an setelah Nabi Muhammad selain para Imam Ahlul Bayt yang ketika masih hidup merupakan orang yang paling pandai dan wara serta berilmu tinggi dan tidak ada yang menyangsikan ketinggian ilmunya itu.

Kaum Sunni menyindir al-Raj’a hanya sebagai perpindahan ruh saja dan tidak lebih dari itu. Kaum Sunni tidak bisa membedakan antara perpindahan ruh seseorang dengan kebangkitan seseorang dari kematiannya. Perpindahan ruh itu artinya bahwa ruh seseorang masuk kedalam tubuh atau jasad orang lain, dan ini jelas tidak sama dengan kebangkitan seseorang dari kematiannya setelah ruhnya masuk kembali ke jasadnya. Ruh itu masuk kedalam tubuh dirinya sendiri lengkap dengan sifat-sifat dirinya sendiri. Dan al-Raj’a itu sama dengan proses itu. Kalau saja al-Raj’a itu sama seperti yang disangkakan oleh kaum Sunni yaitu hanyalah perpindahan ruh seseorang, maka kejadian yang sama seharusnya terjadi pada diri Nabi Isa; dan kebangkitan manusia di hari penghisaban itu juga seharusnya sama saja yaitu hanyalah ruhnya saja tanpa jasad. Dan kita tahu itu tidak seperti itu.

Keyakinan bahwa di hari penghisaban itu setiap ruh akan kembali kepada jasadnya dan setiap jasad akan kembali ke dalam bentuk semula sebenarnya menguatkan gagasan adanya al-Raj’a. Tidak ada satupun yang aneh dalam konsep al-Raj’a ini selain karena kita mungkin belum pernah melihat yang seperti itu terjadi langsung di depan diri kita sendiri. Oleh karena itu, tidak ada satupun yang sebenarnya perlu diperdebatkan karena segala sesuatunya telah begitu jelas walaupun kejadian itu sangat luar biasa. Menentang al-Raj’a sebenarnya sama halnya dengan menentang keyakinan akan kebangkitan manusia setelah kematiannya. Allah menyebutkan dalam al-Qur’an:
“…….Ia berkata: "Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?" Katakanlah: "Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk (QS. Yaasin: 78—79)”

Mereka yang mengecilkan atau melecehkan kemungkinan kembalinya Rasulullah (saaw) dan menghina para pengikut Ahlul Bayt karena mereka meyakini konsep al-Raj’a sebenarnya harus melihat sejarah secara seksama. Mereka yang mencintai Umar Ibn Khattab secara berlebihan seharusnya melihat bahwa Umar sendiri memiliki keyakinan yang sama terhadap al-Raj’a ini, sesuai dengan fakta-fakta sejarah yang kita temui. Para sejarawan muslim sepakat bahwa Umar pernah didapati sedang berteriak-teriak seperti ini:
Umar Ibn Khattab berdiri di depan mesjid Nabawi dan ketika itu Rasulullah sudah meninggal dunia. Umar berteriak lantang: “Adalah orang-orang munafik yang mengatakan bahwa Rasulullah sudah mati. Rasulullah itu tidak mati melainkan ia pergi menemui Tuhannya, seperti Musa putera Imran yang juga pergi menemui Tuhannya (untuk menerima perintah Tuhan). Demi Allah, Muhammad akan kembali kedunia ini sama seperti Musa akan kembali kedunia; dan ia akan memotong tangan dan kaki orang-orang yang mengatakan bahwa Rasulullah sudah mati.” (LIHAT: referensi Sunni, al-Sirah al-Nabawiyyah, oleh Ibn Hisyam, volume 2, halaman 655)

Meskipun Umar mengatakan kalimat di atas untuk tujuan lain dan keyakinannya itu tidak benar-benar sama dengan keyakinan al-Raj’a, tetapi kita bisa memastikan bahwa apa yang dikatakan oleh Umar itu betul-betul murni bukan dari Abdullah Ibn Saba karena Abdullah Ibn Saba belum diciptakan oleh Sayf Ibn Umar pada waktu itu karena Sayf sendiri belum lahir. Sayf menulis dongeng tentang Abdullah Ibn Saba yang konon katanya pernah masuk ke kota Madinah dan masuk menjadi seorang Muslim pada masa rezim pemerintahan Utsman Ibn Affan yang berarti jauh setelah wafatnya Rasulullah.
    

DOKTRIN TENTANG KEPEMIMPINAN IMAM ALI

Sayf lebih jauh lagi mengklaim bahwa Abdullah Ibn Saba adalah orang yang memulai gagasan tentang kepemimpinan Imam Ali Ibn Thalib. Sayf menguraikan bahwa Ibn Saba-lah yang menyebutkan bahwa Imam Ali itu penerus kepemimpinan Rasulullah. Ia mengatakan bahwa telah beribu-ribu Nabi dan Rasul datang dan pergi dan semuanya meninggalkan seorang pengganti setelahnya dan Imam Ali adalah pengganti dari Rasulullah yang sah. Lebih jauh lagi, Sayf Ibn Umar menegaskan bahwa Ibn Saba itu pernah berkata bahwa ada tiga khalifah yang akan memimpin setelah Rasulullah dan semuanya adalah perampas kekuasaan dari pemiliknya yang sah.

Sayf dan murid-muridnya lupa bahwa mereka pernah mengatakan bahwa Abdullah Ibn Saba itu baru masuk ke kota Madinah dan memeluk Islam pada masa rezim pemerintahan Utsman Ibn Affan. Dan ini terjadi lama setelah Rasulullah wafat. Sementara itu, di sisi lain, kitab sejarah Sunni sendiri menyatakan dengan jelas bahwa Rasulullah sendiri-lah yang mengangkat Imam Ali sebagai seorang penerus beliau dan itu dilakukan tepat pada masa awal tugas kenabiannya. Inilah hadits yang berkenaan dengan dakwah pertama dari Rasulullah (saaw):
“Ali (as) meriwayatkan: Ketika ayat: “وأنذر عشيرتك الأقربين (Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat, (QS. Asy-Syu’araa: 214)) diturunkan, Rasulullah memanggilku dan bersabda: “Ali, sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepadaku untuk memberi peringatan kepada kerabat-kerabat terdekatku dan aku merasakan kesulitan atas tugas ini. Aku tahu kalau aku memberikan peringatan itu kepada mereka, aku tidak akan menyukai respon mereka terhadap peringatanku itu.” Kemudian Rasulullah mengundang para anggota keluarganya untuk makan malam dengan sedikit makanan dan susu. Ada 40 orang yang hadir pada waktu itu. Setelah mereka makan malam, Rasulullah langsung berbicara kepada mereka:

“Wahai putera-putera Abdul Mutalib! Demi Allah, aku tidak tahu apakah ada seorang laki-laki muda dari kalangan Arab yang datang kepada kalian yang jauh lebih baik daripada aku. Aku telah membawakan kepada kalian kebaikan di dunia ini dan di akhirat nanti. Allah yang mahakuasa telah memerintahkan kepadaku untuk mengajak kalian ikut denganku. Siapakah diantara kalian yang mau membantuku dalam tugas dakwah ini dan menjadi saudaraku, pembantuku, dan penerusku?”

Tidak ada satupun dari mereka yang menerima ajakan itu, dan kemudian aku mengajukan diri: “Ya, Rasulullah. Aku akan menjadi pembantumu.” Rasulullah memegang tengkukku dan melanjutkan ucapannya kepada mereka: “Inilah saudaraku, pembantuku, dan penerusku diantara kalian semua. Dengarkanlah dia dan patuhilah dia.” Mereka semua tertawa terbahak-bahak, sambil berkata kepada Abu Thalib: “Ia (Muhammad) memerintahkan kamu untuk mendengarkan puteramu dan mematuhinya.””

(LIHAT: REFERENSI DARI AHLUSUNNAH/SUNNI berikut ini:

  1. Tarikh Tabari, Versi Bahasa Inggris, volume 6, halaman 88—92 (ada dua hadits)
  2. Tarikh Ibn Athir, volume 2, halaman 62
  3. Tarikh Ibn Asakir, volume 1, halaman 85
  4. Durr al-Mantsur, Jalaluddin As-Suyuthi, volume 5, halaman 97
  5. al-Sirah al-Halabiyah, volume 1, halaman 311
  6. Shawahid al-Tanzil, al-Hasakani, volume 1, halaman 371
  7. Kanzul Ummal, al-Muttaqi al-Hindi, volume 15, halaman 15, juga halaman 100—117
  8. Tafsir al-Khazin, Ala-ud-Din al-Shafi’i, volume 3, halaman 371
  9. Dala’il al-Nabawiyah, al-Baihaqi, volume 1, halaman 428—430
  10. al-Mukhtasar, Abul Fida, volume 1, halaman 116—117
  11. Life of Muhammad, Hasan Haykal, halaman 104 (Edisi Pertama saja, pada edisi keduanya KALIMAT TERAKHIR YANG DIUCAPKAN OLEH RASULULLAH TELAH DIHAPUS)
  12. Tadhib al-Athar, volume 4, halaman 62—63)

Hadits tersebut di atas juga disampaikan dan diteruskan oleh para tokoh Sunni ternama seperti Muhammad Ibn Ishaq (sejarawan Ahlu Sunnah yang terkemuka); kemudian Ibn Abi Hatim, dan Ibn Mardawayh. Juga dikutip oleh para orientalis seperti T. Carlyle, E. Gibbon, J. Davenport, dan W. Irving.

Sekarang, izinkanlah kami untuk bertanya kepada anda: Imam Ali melaporkan bahwa Rasulullah adalah orang yang telah memberikannya tugas kepemimpinan, menjadikannya saudara, menjadikannya penerus pengganti kepemimpinan Nabi. Sementara itu, Sayf Ibn Umar melaporkan bahwa gagasan tentang kepemimpinan Imam Ali itu datang dari seorang Yahudi bernama Abdullah Ibn Saba. Kami ajukan pertanyaan kepada anda yang suka mengkafirkan orang-orang yang berbeda dengan diri anda…….

APAKAH ANDA LEBIH PERCAYA KEPADA SAYF IBN UMAR DARIPADA KEPADA ALI IBN THALIB?

BUKANKAH ALI IBN THALIB ITU LEBIH TERPERCAYA DARIPADA SAYF IBN UMAR YANG TELAH DITUDUH PEMBOHONG OLEH PARA ULAMA AHLUSUNNAH? BUKANKAH SAYF PERNAH DITUDUH SEBAGAI SEORANG YANG LEMAH PERKATAANNYA, SERING MELAKUKAN PENIPUAN DAN SERING MEMBUAT BID’AH DALAM SEGALA SESUATU?

Tentu saja, kita tidak mau berharap bahwa semua kaum Muslimin itu mengikuti seorang pembohong seperti Sayf Ibn Umar dan sekaligus mencampakkan laporan yang disampaikan oleh Imam Ali Ibn Abi Thalib, Amirulmukminin, saudara dari Rasulullah. Rasulullah sendiri seringkali bersabda kepada Imam Ali:
“Kedudukanmu di sisiku itu sama dengan kedudukan Harus di sisi Musa; hanya tidak ada lagi Nabi setelahku.”

(LIHAT: REFERENSI DARI AHLUSUNNAH/SUNNI berikut ini:

  1. Sahih al-Bukhari, Versi Bahasa Arab—Inggris, Hadits 5.560 dan 5.700
  2. Sahih Muslim, Bahasa Arab, volume 4, halaman 1870—1871
  3. Sunan Ibn Majah, halaman 12
  4. Musnad Ahmad Ibn Hanbal, volume 1, halaman 174
  5. al-Khas’is, Nasa’i, halaman 15—16
  6. Mushkil al-Athar, al-Tahawi, volume 2, halaman 309)

Rasulullah ingin mengajarkan kepada kita bahwa Musa meninggalkan Harun—sebagai khalifah atau penjaga—untuk  menjaga umatnya ketika Musa harus menghadap Tuhan untuk mendapatkan perintah Tuhan. Hal yang sama terjadi kepada kita ketika Rasulullah meninggalkan Ali sebagai wakilnya dan penerusnya untuk menjaga urusan-urusan yang berkenaan dengan kehidupan dan Islam. Allah berfirman dalam al-Qur’an:
“…….. Dan berkata Musa kepada saudaranya yaitu Harun: "Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku, dan perbaikilah, dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan. (QS. Al-A’raaf: 142)
(CATATAN: Katau “Ukhlufni” dalam ayat tersebut di atas bersama dengan kata “Khalifa” keduanya memiliki akar kata yang sama.)

Para penulis bayaran yang dibayar untuk mengarang dongeng-dongeng menyesatkan umat pastilah lupa atau pura-pura lupa. Mereka lupa sebuah kejadian yaitu sebuah kejadian pada waktu setelah haji wada’ dimana pada waktu itu Rasulullah berdiri di hadapan sekitar seratus ribu orang jemaah haji yang melaksanakan haji bersama-sama dengan beliau. Kejadian itu terjadi di sebuah tempat bernama Ghadir Khum. Rasulullah bersabda di sana:
“Bukankah aku memiliki hak lebih atas orang-orang beriman daripada apa yang mereka miliki terhadap diri mereka sendiri? Orang-orang pada waktu serentak berteriak dan serentak menjawab: “Betul, Rasulullah! Engkau betul.” Kemudian Rasulullah memegang tangan Imam Ali dan kemudian bersabda: “Barangsiapa yang menjadikan aku sebagai pemimpin, maka Ali adalah pemimpinnya. Ya, Allah, cintailah orang-orang yang mencintainya, dan jadikanlah musuhMu orang-orang yang memusuhinya!”

(LIHAT: REFERENSI AHLUSUNNAH/SUNNI berikut ini:

  1. Sahih Tirmidhi, volume 2, halaman 298; juga volume 5, halaman 63
  2. Sunan Ibn Maja, volume 1, halaman 12, 43
  3. Musnad Ahmad Ibn Hanbal, volume 1, halaman 84, 118, 119, 152, 330; volume 4, halaman 281, 368, 370, 372, 378; volume 5, halaman 35, 347, 358, 361, 366, 419 (dari 40 rantai sanad  yang berlainan!!!)
  4. Fada’il al-Sahaba, Ahmad Hanbal, volume 2, halaman 563, 572
  5. al-Mustadrak, al-Hakim, volume 2, halaman 129; volume 3, halaman 109—110, 116, 371
  6. Khasa’is, al-Nasa’i, halaman 4, 21
  7. Majma’ al-Zawa’id, al-Haythami, volume 9, halaman 103 (dari beberapa perawi)
  8. Tafsir al-Kabir, Fakhr al-Razi, volume 12, halaman 49—50
  9. al-Durr al-Mantsur, al-Hafiz Jalaluddin al-Suyuthi, volume 3, halaman 19
  10. Tarikh al-Khulafa, al-Suyuthi, halaman 169, 173
  11. Al-Bidayah wal-Nihayah, Ibn Katsir, volume 3, halaman 213; volume 5, halaman 208
  12. Mushkil al-Athar, al-Tahawi, volume 2, halaman 307—308
  13. Habib al-Siyar, Mir Khand, volume 1, bagian 3, halaman 144
  14. Sawaiq al-Muhriqah, Ibn Hajar al-Haythami, halaman 26
  15. al-Isabah, Ibn Hajar al-Asqalani, volume, halaman 509; volume 1, bagian 1, halaman 319; volume 2, bagian 1, halaman 57; volume 3, bagian 1, halaman 29; volume 4, bagian 1, halaman 14, 16, 143
  16. Tabarani, yang meriwayatkan dari para sahabat seperti Ibn Umar, Malik Ibn al-Hawirath, Habashi Ibn Junadah, Jari, Sa’ad Ibn Abi Waqash, Anas Ibn Malik, Ibn Abbas, Amarah Buraydah,…….dll.
  17. Tarikh, al-Khatib Baghdadi, volume 8, halaman 290
  18. Hilyatul Awliya’, Abu Nu’aym, volume 4, halaman 23; volume 5, halaman 26—27
  19. al-Istiab, Ibn Abd al-Barr, Bab tentang kata “ayn” (Ali), volume 2, halaman 462
  20. Kanzul Ummal, al-Muttaqi al-Hindi, volume 6, halaman 154, 397
  21. al-Mirqat, volume 5, halaman 568
  22. al-Riyadh al-Nadirah, al-Muhib al-Tabari, volume 2, halaman 172
  23. Dhaka’ir al-Uqba, al-Muhib al-Tabari, halaman 68
  24. Fayd al-Qadir, al-Manawi, volume 6, halaman 217
  25. Usdul Ghabar, Ibn Athir, volume 4, halaman 114
  26. Yanabi’ al-Mawaddah, Qunduzi al-Hanafi, halaman 29

    Dan masih banyak lagi yang lainnya………..)

Tidak ada satu orang Muslimpun yang pernah meragukan bahwa Rasulullah itu adalah pemimpin kaum Muslimin untuk seluruh generasi. Rasulullah dalam pernyataannya menyatakan bahwa Ali memiliki kedudukan yang sama persis dengan dirinya yaitu ketika Rasulullah menyebutkan bahwa Ali adalah pemimpin untuk setiap orang yang mengikuti Rasulullah.

Pernyataan ini yang disampaikan oleh lebih dari 110 orang sahabat dan disebut sebagai hadits yang sangat sahih dan mutawatir oleh para ulama Sunni, tidak hanya mengindikasikan bahwa Ali itu sebagai wakil dari Rasulullah melainkan juga menunjukkan bahwa Ali memiliki kedudukan yang mulia yaitu sebagai pemimpin dari kaum Muslimin sepeninggal Rasulullah. Akan tetapi masih ada juga para penulis bayaran yang dengan tanpa malu menyebutkan bahwa konsep Ali sebagai pemimpin setelah Nabi itu digagas oleh seorang Yahudi yang konon pernah hidup dan baru masuk Islam pada masa rezim pemerintahan Utsman Ibn Affan!!!

Abdullah Ibn Saba sama sekali tidak ada jejaknya (itupun kalau ia pernah ada dan hidup pada masanya) ketika kemelut terjadi pada saat meninggalnya Nabi. Abdullah Ibn Saba tidak pernah muncul ketika isu suksesi bergulir dan isu tentang suksesi itu diklaim oleh kelompok Syi’ah ketika Rasulullah wafat atau malah sebelum Rasulullah wafat; dan isu susksesi itu sama sekali bukan isu yang digulirkan pada masa rezim pemerintahan Utsman Ibn Affan dan itu jelas jauh sekali setelah Rasulullah wafat. Segera setelah Rasulullah wafat, kelompok Syi’ah Ali (pengikut Ali) termasuk beberapa sahabat Nabi yang paling taat dan paling shaleh seperti Ammar Ibn Yasir, Abu Dzar al-Ghifari, Miqdad, Salman al-Farisi, Ibn Abbas dll, semua berkumpul di rumah bunda Fathimah (as). Bahkan pada waktu itu, Thalhah dan Zubayr masih setia kepada Imam Ali dan mereka berdua juga ikut berkumpul di rumah Fathimah (as) seperti dilaporkan oleh al-Bukhari di dalam Sahih-nya:
“Umar berkata: “Tida diragukan lagi setelah kematian Rasulullah, kami diberitahu bahwa kaum Ansar tidak setuju dengan kami dan mereka berkumpul di balairung Bani Sa’da. Sementara itu Ali dan Zubayr serta seorang lagi menentang kami, dan pada saat yang sama kaum Muhajirin berkumpul bersama Abu Bakar.”

(LIHAT: REFERENSI SUNNI, Sahih al-Bukhari, Edisi bahasa Arab-Inggris, volume 8, Hadits no 817)

PARA PERAWI SUNNI YANG MELAPORKAN KEJADIAN DI SAQIFAH
Umar Ibn Khattab berkata, “Ali Ibn Thalib, Zubayr Ibn Awwam dan siapa saja yang bersama-sama dengan mereka berpisah dari kami (dan kemudian berkumpul) di rumah Fathimah, puteri dari Rasulullah.”
(LIHAT: REFERENSI SUNNI:
  1. Ahmad Ibn Hanbal, volume 1, halaman 55
  2. Sirah al-Nabawiyyah, Ibn Hisham, volume 4, halaman 309
  3. History of Tabari (Arabic), volume 1, halaman 1822
  4. History of Tabari, versi bahasa Inggris, volume 9, halaman 192)

Kemudian hadits berikut ini:

Mereka memaksakan bai’at, akan tetapi Ali dan al-Zubayr tetap bersikukuh. AL-Zubayr menghunus pedangnya (dari sarungnya) seraya berkata, “Aku tidak akan menyarungkan kembali pedang ini hingga bai’at diberikan kepada Ali.” Ketika kabar ini sampai kepada Abu Bakar dan Umar, maka kemudian Umar berkata, “Lempari dia dengan batu, dan rampas pedangnya.” Dilaporkan bahwa Umar kemudian bergegas (menuju pintu rumah Fathimah) dan dan memaksa mereka untuk memberikan bai’atnya baik secara suka rela maupun secara paksa.”
(LIHAT: REFERENSI SUNNI, Tarikh al-Tabari, versi bahasa Inggris, volume 9, halaman 188—189)

Jelas sekali “orang Yahudi fiktif itu” sama sekali tidak memiliki peran apapun dalam konflik itu. Ia sama sekali tidak memecah para sahabat Nabi kedalam beberapa golongan karena jangankan memecah belah DIA sendiri tak pernah ada dalam kehidupan nyata. Mana mungkin orang yang tidak pernah ada bisa membuat perpecahan dan perang saudara diantara para sahabat Nabi????


MEREKA MENYERANG DUA ORANG SAHABAT NABI YANG PALING DIKASIHI NABI BERSAMA PARA PENGIKUTNYA

Sayf menyebutkan bahwa Ibn Saba itu adalah orang yang menghasut dua orang sahabat Nabi terkemuka yaitu Abu Dzar (ra) dan Ammar Ibn Yasir (ra) untuk menentang Utsman Ibn Affan. Sayf menyebutkan bahwa Ibn Saba bertemu dengan Abu Dzar di Damaskus (Syria) dan kemudian ia mengenalkan sebuah gagasan bahwa orang-orang Islam dilarang menumpuk-numpuk harta berupa emas dan perak. Sayf kemudian lebih jauh lagi memasukkan nama-nama para sahabat Nabi terkemuka berikut para pengikutnya kedalam daftar orang-orang yang dianggap mengikuti Abdullah Ibn Saba. Diantara mereka adalah:
  1. Abu Dzar al-Ghifari
  2. Ammar Ibn Yasir
  3. Muhammad Ibn Abu Bakar, putera dari khalifah pertama
  4. Malik Asytar …………dan masih banyak lagi yang lainnya.

Untuk lebih mengetahui tentang kebohongan dan tuduhan keji yang dibuat oleh Sayf, marilah kita lihat terlebih dahulu biografi singkat dari orang-orang yang dituduh Sayf sebaga anak buah Ibn Saba itu:

  1. ABU DZAR AL-GHIFARI: (Jundub Ibn Junadah). Ia adalah orang ketiga dari empat orang pertama yang masuk Islam. Abu Dzar adalah orang monotheis (orang yang bertauhid) sejak awal bahkan sejak ia belum masuk Islam. Ia menyatakan ke-Islaman-nya tepat di sisi Ka’bah. Kaum Musyrikin kota Mekah memukulinya hingga hampir meninggal akan tetapi ia berhasil selamat; dan Rasulullah memerintahkan Abu Dzar untuk kembali ke sukunya. Setelah perang Badar dan perang Uhud berakhir, Abu Dzar kembali ke kota Madinah untuk menemui Nabi dan kemudian tinggal di Madinah sampai akhir hayat dari Rasulullah—orang yang paling dikasihinya. Pada masa rezim pemerintahan 3 khalifah pertama, Abu Dzar ditugaskan di Damaskus dimana disana ia bersitegang dengan Mu’awiyyah. Mu’awiyyah Ibn Sufyan mengeluhkan hal ini kepada Utsman Ibn Affan—khalifah ketiga—dan oleh karena itu akhirnya Utsman mengusir Abu Dzar ke Rabadha dimana ia kemudian meninggal dunia dalam pengasingan. Rabadha pada waktu itu dikenal sebagai tempat yang memiliki iklim dan cuaca terburuk.
  2. AMMAR IBN YASIR: dikenal juga dengan nama julukan Abu Yaqzan. Nama ibunya ialah Sumayyah. Ammar Ibn Yasir beserta kedua orang tuanya merupakan orang-orang yang masuk Islam terdahulu. Ammar Ibn Yasir adalah orang ke-7 yang masuk Islam dan menyatakan ke-Islaman-nya. Kedua orang tuanya dibunuh setelah terlebih dahulu disiksa oleh kaum Musyrikin kota Mekah karena mereka telah masuk Islam. Ammar Ibn Yasir sendiri berhasil menyelamatkan dirinya dengan kabur ke kota Madinah. Ammar bergabung dengan Ali dan berperang di pihak Ali pada perang Jamal atau perang Unta dan akhirnya Ammar Ibn Yasir menemui kesyahidannya di perang Siffin. Ia dibunuh oleh pasukan Mu’awiyya dan ketika itu Ammar berusia 93 tahun.
  3. MUHAMMAD IBN ABU BAKAR: Ia diangkat anak oleh Imam Ali tidak lama setelah ayahnya meninggal. Muhammad Ibn Abu Bakar adalah salah seorang kepala pasukan Imam Ali (as) dalam perang Unta. Ia juga turut berperang di pihak Imam Ali (as) pada perang Siffin. Imam Ali menunjuk dirinya sebagai gubernur Mesir, dan ia bertugas di sana hingga 15/9/37H. Kemudian, Mu’awiyyah mengirimkan sepasukan tentara yang dipimpin oleh Amr Ibn al-Aas ke Mesir padah tahun 38H. Amr Ibn al-Aas berhasil mengalahkan Muhammad Ibn Abu Bakar dan menangkapnya lalu kemudian membunuhnya. Tubuhnya dimasukkan kedalam perut seekor keledai yang sudah mati dan kemudian dibakar bersama keledai itu. (LIHAT: al-Istiab, volume 1, halaman 235; atau lihat Tarikh al-Tabari, volume 4, halaman 79; atau lihat juga Ibn Katsir, volume 3, halaman 180; atau Ibn Khaldun, volume 2, halaman 182).
  4. MALIK ASYTAR AL-NAKHA’I: Ia pernah bertemu dengan Nabi dan ia kemudian menjadi salah seorang sahabat Nabi atau tabi’in yang sangat bisa dipercayai. Malik Asytar adalah kepala suku dari sukunya dan ia dijuluki “Asytar” setelah ia terluka dalam perang Yarmuk dan ia kehilangan sebuah matanya. Ia kemudian menjadi salah seorang jenderal pasukan Imam Ali dalam perang Siffin dan ia terkenal karena keberaniannya ketika memerangi musuh-musuh Islam. Pada usia 38 tahun, Malik ditunjuk oleh Imam Ali sebagai gubernur kota Mesir. Akan tetapi dalam perjalanannya ke Mesir—tepatnya di dekat Laut Merah, ia meninggal karena diracun. Makanannya dibubuhi madu yang sudah dicampuri racun oleh Mu’awiyyah.

Biografi singkat di atas bisa menggambarkan karakter-karakter agung yang ada di sekitar Ahlul Bayt Nabi. Patut disesalkan kalau para sejarawan malah lebih suka mengambil laporan fiktif dari Sayf dan menuduh karakter-karakter agung tersebut di atas sebagai para pengikut dari seorang Yahudi yang misterius—karena memang tidak pernah terbukti keberadaannya. Para prajurit bayaran bahkan tidak segan-segan untuk menyerang karakter-karakter agung itu dengan berbagai cara. Mereka mengatakan bahwa Abu Dzar dan Ammar Ibn Yasir itu pernah bertemu dengan Abdullah Ibn Saba dan kemudian mereka terpengaruh oleh propagandanya dan oleh karena itu mereka mau menentang Utsman Ibn Affan. Akan tetapi kita tidak boleh lupa bahwa dengan menyerang dua sahabat Nabi yang mulia itu sebenarnya mereka telah menyerang Rasulullah secara tidak langsung karena Rasulullah seringkali memuji mereka dan memuliakan mereka seperti dalam hadits berikut ini:
Rasulullah berkata: “Sesungguhnya Allah memerintahkanku untuk mencintai empat orang dan Allah memberitahuku bahwa DIA mencintai mereka.” Para sahabat bertanya: “Ya, Rasulullah, siapakah gerangan empat orang itu?” Rasulullah menjawab: “Ali termasuk salah satu dari mereka (kemudian mengulanginya sebanyak 3 kali), kemudian Abu Dzar, Salman al-Farisi, dan Miqdad.”

(LIHAT: REFERENSI SUNNI:
  1. Sunan Ibn Majah, volume 1, halaman 52—53, Hadits no 149
  2. al-Mustadrak, al-Hakim, volume 3, halaman 130
  3. Musnad Ahmad Ibn Hanbal, volume 5, halaman 356
  4. Fada’il al-Sahaba, Ahmad Ibn Hanbal, volume 2, halaman 648, Hadits 1103
  5. Hilyatul Awliya’, Abu Nu’aym, volume 1, halaman 172)

Rasulullah juga pernah dilaporkan berkata:
“Setiap Nabi diberikan oleh Allah para sahabat yang tulus. Aku diberkan 14 orang sahabat yang tulus.” Rasulullah menyebutkan nama-nama seperti Ali, al-Hasan, al-Husein, Hamza, Ja’far, Ammar Ibn Yasir, Abu Dzar, Miqdad, dan Salman.

(LIHAT: REFERENSI SUNNI:
  1. Fada’il al-Sahaba, Ahmad Ibn Hanbal, volume 2, Hadits no 109, 277
  2. Sahih Tirmidzi, volume 5, halaman 329, 662
  3. Musnad Ahmad Ibn Hanbal, volume 1, halaman 88, 148, 149 dari berbagai rantai sanad
  4. al-Kabir, al-Tabarani, volume 6, halaman 264, 265
  5. Hilyatul Awliya’, Abu Nu’aym, volume 1, halaman 128)

Juga al-Tirmidzi, Ahmad, al-Hakim dan masih banyak lagi meriwayatkan hadits yang kurang lebih sama seperti misalnya:
“Langit belum pernah menurunkan dan bumi belum pernah memberikan seorang lelaki yang sangat jujur seperti Abu Dzar. Ia berjalan di muka bumi ini dengan sikap kezuhudan Isa putera Maryam.”

(LIHAT: REFERENSI SUNNI:
  1. Sahih al-Tirmidzi, volume 5, halaman 334, Hadits no 3889
  2. Tahdib al-Athar, volume 4, halaman 158—161
  3. Musnad Ahmad Hanbal, Hadits no 6519, 6630, 7078
  4. al-Mustadrak, al-Hakim, volume 3, halaman 342
  5. al-Tabaqat, Ibn Sa’ad, volume 4, bagian 1, halaman 167—168
  6. Majma’al-Zawa’id, al-Haythami, volume 9, halaman 329—330)

Ibn Majah, dalam Sunan-nya, meriwayatkan bahwa Imam Ali pernah bersabda:
“Aku duduk di rumah Rasulullah dan Ammar meminta ijin untuk bertemu dengan beliau. Kemudian Rasulullah bersabda: “Datanglah wahai orang baik dan disucikan”. Ibn Majah juga meriwayatkan bahwa A’isyah pernah melaporkan bahwa Rasulullah pernah bersabda: “Kapanpun Ammar diberikan dua pilihan, maka ia selalu memilih yang paling baik diantara dua pilihan itu.”

Ada lebih banyak lagi hadits yang shahih dari Rasulullah (saaw) mengenai Ammar Ibn Yasir, seperti misalhnya “Ammar itu dipenuhi oleh keimanan.” Dalam sebuah hadits, Rasulullah dilaporkan pernah bersabda:
“Sekelompok orang jahat akan membunuh Ammar.”

(LIHAT: REFERENSI SUNNI:
  1. Sahih Muslim, versi bahasa Inggris, Bab MCCV, halaman 1508—1509, hadits no 6966, 6970 (ada 5 hadits)
  2. al-Mustadrak, al-Hakim, volume 3, halaman 383)

Sekarang marilah kita lihat siapakah “sekelompok orang jahat” yang dimaksud oleh Nabi dalam hadits itu. Untuk itu kita bisa lihat dalam Musnad Imam Ahmad Ibn Hanbal dan Tabaqat Ibn Sa’ad yang meriwayatkan sebagai berikut:
“Dalam perang Siffin, ketika kepala dari Ammad Ibn Yasir (ra) dipenggal dan dibawa ke hadapan Mu’awiyyah, 2 orang tampak bertikai tentang hal itu. Setiap orang mengaku bahwa dirinyalah yang telah membunuh Ammar.”

(LIHAT: REFERENSI SUNNI:
  1. Musnad Ahmad (diterbitkan di Dar al-Ma’arif, Mesir tahun 1952), hadits no 6538, 6929
  2. Tabaqat, Ibn Sa’ad, volume 3, halaman 253)

Dalam sebuah hadits yang lain dilaporkan bahwa Rasulullah bersabda:

“Surga rindu pada 3 orang: Ali, Ammar, dan Salman”

(LIHAT: REFERENSI SUNNI:

Sahih al-Tirmidzi, volume 5, halaman 332, Hadits no 3884)


Lebih lanjut lagi al-TIrmidzi meriwayatkan:
Ketika Rasulullah mendengar bahwa Ammar dan kedua orang tuanya disiksa di kota Mekah, beliau bersabda: “Anggota keluarga Yasir, bersabarlah. Karena kalian semua akan masuk surga.”

(LIHAT: REFERENSI SUNNI:

Sahih al-Tirmidzi, volume 5, halaman 233)

Dengan itu, Ammad dan kedua orang tuanya adalah orang yang pertama kali dinyatakan oleh Rasulullah sebagai orang yang akan masuk surga kelak.

Kita bisa ambil kesimpulan di sini: ketika seorang Muslim mengetahui bahwa Rasulullah telah memuji kedua orang sahabat ini (Abu Dzar & Ammar Ibn Yasir) begitu tingginya, maka apabila ia seorang yang beriman kepada kebenaran Muhammad, ia mau tidak mau diharamkan untuk menghina atau merendahkan kedua sahabat itu. Penghinaan seperti itu sama saja seperti menghina Rasulullah secara tidak langsung. Karena seperti yang telah kita lihat bersama, hadits-hadits shahih dari kalangan Sunni di atas menjelaskan bahwa Rasulullah bersabda bahwa HANYA ADA 4 ATAU 14 SAHABAT YANG TERKEMUKA dari  sekitar 1400 sahabat yang ada. JADI SANGAT SEDIKIT SEKALI JUMLAH SAHABAT YANG DISEBUT OLEH RASULULLAH YANG TERMASUK KEDALAM SAHABAT YANG SETIA DAN MULIA. Menarik sekali bahwa Abu Dzar dan Ammar Ibn Yasir disebutkan diantara mereka yang sedikit jumlahnya itu.

Kita sekarang bisa lihat dengan terang benderang bahwa kedengkian Sayf Ibn Umar al-Tamimi (yang hidup dua abad setelah Rasulullah wafat) beserta para muridnya terhadap kaum Syi’ah telah menyebabkan mereka bertindak jauh dengan menyebarkan propaganda palsu dan murahan. Sayf Ibn Umar tahu betul bahwa menyebutkan pemberontakan terhadap Utsman Ibn Affan sebagai hasil upaya dari Ibn Saba itu akan bertentangan dengan sejarah yang ada karena Abu Dzar dan Ammar Ibn Yasir adalah orang yang terdepan yang menentang rezim pemerintahan Utsman Ibn Affan. Oleh karena itu, Sayf Ibn Umar harus meruntuhkan reputasi dari kedua sahabat Nabi yang ternama itu. Sayf akhirnya memasukkan kedua nama sahabat Nabi terkemuka itu sebagai murid dari Abdullah Ibn Saba (seorang tokoh khayalan yang konon berkebangsaan Yahudi itu).

Seandainya saja Ibn Saba itu pernah ada dan hidup, maka itu artinya ia masuk Islam setelah Utsman dibunuh. Sekarang taruhlah bahwa kita menerima apa yang dikatakan oleh Sayf yaitu bahwa Abdullah Ibn Saba masuk Islam sesudah Utsman menjabat menjadi khalifah. Itu tidak menutup kebenaran bahwa Abu Dzar dan Ammar Ibn Yasir telah menentang Utsman jauh sebelum ia menjadi khalifah. Seperti yang diketahui umum dalam sejarah Islam, Abu Dzar dan Ammar Ibn Yasir adalah murid setia dari Imam Ali Ibn Thalib dan mereka yakin sekali bahwa Imam Ali telah ditunjuk oleh Rasulullah sebagai khalifah sepeninggalnya. Jadi mereka menentang Utsman jauh sebelum Ibn Saba masuk Islam (itupun dengan catatan bahwa Ibn Saba itu ada). Dengan itu, kisah rekaan Sayf itu sama sekali tidak punya dasar dan kebenaran.

Sayf Ibn Umar yang dibayar oleh Bani Umayyah ingin membersihkan catatan kelam dari Utsman Ibn Affan dan untuk itu ia harus menjelek-jelekkan orang-orang yang menentang Utsman. Dengan cara memasukkan kedua nama sahabat Nabi yang mulia, Sayf sudah menyempurnakan cerita yang ia buat.

Tidak ada komentar: