"KEBENARAN TIDAK DITENTUKAN OLEH SEDIKIT BANYAKNYA ORANG YANG BERKATA BAHWA ITU BENAR"

Karbala Berduka

Karbala Berduka
Ya, Syahid! Ya, Madzhlum! Ya, Imam! Ya, Husein!

Selasa, 28 Agustus 2012

ABDULLAH IBN SABA : the legend continues (VOL 3)Apakah benar Abdullah Ibn Saba yang menghasut para sahabat Nabi untuk membunuh Utsman Ibn Affan?

HASUTAN UNTUK MENENTANG UTSMAN IBN AFFAN
Sayf Ibn Umar menyebutkan bahwa Abdullah Ibn Saba adalah orang yang menghasut para sahabat untuk menentang Utsman Ibn Affan. Abdullah Ibn Saba konon memprovokasi kaum Muslimin yang tinggal di berbagai kota dan provinsi seperti Basrah, Kufah, Syria, dan Mesir untuk segera datang ke kota Madinah untuk bersama-sama membunuh Utsman Ibn Affan dengan alasan bahwa Utsman Ibn Affan telah merampas kursi khilafah dari Ali Ibn Thalib. Di sisi lain, Sayf juga menceritakan bahwa para sahabat yang ada di kota Madinah seperti Thalhah dan Zubayr tidak menentang Utsman Ibn Affan.
Cerita Sayf Ibn Umar tentang penentangan para sahabat Nabi terhadap Utsman Ibn Affan yang digalang oleh Abdullah Ibn Saba ini sama sekali tidak pernah dilaporkan oleh para sejarawan yang lainnya. Tidak ada sama sekali jejak yang menunjukkan bahwa Abdullah Ibn Saba pernah menghasut atau menentang Utsman baik secara sendirian maupun secara berjamaah kecuali yang ada di dalam cerita yang hanya ditulis (atau dikarang) oleh Sayf Ibn Umar. Bahkan kaum sejarawan yang lain memiliki cerita atau kisah yang sama sekali berlainan dengan apa yang dikarang oleh Sayf Ibn Umar.
Apabila anda seorang pengamat sejarah Islam yang bijak dan mau menanggalkan emosi dan pandangan sempitnya terhadap permasalahan ini, maka anda akan segera mengetahui bahwa ajakan untuk memberontak terhadap Utsman Ibn Affan itu tidak datang dari Basrah, Kufah, Syria, atau Mesir melainkan dari Madinah. Kelemahan Utsman Ibn Affan dalam mengurus negara menyebabkan banyak sekali sahabat senior Rasulullah berdiri untuk menentangnya. Ini mau tidak mau menimbulkan pergolakan kekuasaan diantara para sahabat yang tinggal di kota Madinah. Para sejarawan Sunni seperti al-Tabari, Ibnu Athir, dan al-Baladzuri serta masih banyak lagi yang lainnya melaporkan hadits-hadits (yang tidak diriwayatkan oleh Syaf) yang menyatakan bahwa hasutan untuk menentang Utsman Ibn Affan itu datang dari Madinah dan digagas oleh para sahabat penting dari Rasulullah. Para sahabat penting ini adalah orang-orang yang pertama yang mengajak para sahabat lainnya (yang tinggal di kota lainnya) untuk menggalang kekuatan dalam menentang Utsman Ibn Affan.
Ibn Jarir al-Tabari melaporkan:
Ketika orang-orang melihat apa yang dilakukan oleh Utsman, maka para sahabat Nabi di kota Madinah menulis surat kepada para sahabat lainnya yang bertebaran di kota-kota lainnya di provinsi yang berbeda: “Kalian sudah melakukan segala sesuatu kecuali melakukan sesuatu untuk Allah, yaitu melakukan sesuatu demi agama Muhammad. Ketika kalian tidak ada, agama Muhammad ini telah disimpangkan dan ditelantarkan. Jadi kalian harus kembali untuk menyelamatkan agama Muhammad.” Setelah itu, para sahabat datang dari berbagai penjuru hingga akhirnya mereka membunuh khalifah (Utsman Ibn Affan).
(LIHAT: Referensi Sunni: Tarikh al-Tabari, Versi Bahasa Inggris, volume 15, halaman 184)
Al-Tabari sendiri mengutip paragraf di atas dari Muhammad Ibn Ishaq Ibn Yasar al-Madani yang merupakan sejarawan Sunni yang paling terkenal. Ia adalah penulis dari “Sirah Rasulullah”.
Sejarah (yang bukan dilaporkan oleh Sayf—pencipta tokoh Abdullah Ibn Saba) menegaskan bahwa para sahabat terkenal-lah yang menjadi para penghasut utama untuk menentang Utsman Ibn Affan. Mereka ialah Thalhah Ibn Ubaydillah, Zubayr Ibn Awwam, ‘Aisyah Binti Abu Bakar, Abdurrahman Ibn Auf, dan Amr Ibn al-Aas.
THALHAH IBN UBAYDILLAH
Dia adalah penghasut yang paling utama dalam menentang Utsman Ibn Affan dan dia juga yang merancang pembunuhan Utsman. Ia kemudian menggunakan “peristiwa pembunuhan Utsman” itu untuk menentang Ali Ibn Thalib yang mana ujungnya sudah kita ketahui semua yaitu peperangan saudara yang disebut dengan Perang Unta atau Perang Jamal. Saya sudah berikan beberapa paragraf penjelasan baik itu dari al-Tabari maupun dari Ibn Athir untuk membuktikan pendapat saya. Berikut ini adalah yang diriwayatkan oleh Ibn Abbas (dalam beberapa manuskrip disebutkan bahwa itu diriwayatkan oleh Ibn Ayyash):
Aku menghampiri Utsman (ketika orang-orang menghasut dan terhasut untuk menentang Utsman) dan kemudian aku berbincang dengannya selama kurang lebih satu jam. Ia berkata: “Kemarilah wahai Ibn Abbas/Ayyash,” dan ia menggandeng tanganku untuk kemudian mendekat ke arah pintu untuk mendengarkan apa-apa yang dikatakan orang-orang di luar di depan pintunya. Kami mendengar orang-orang berkata, “Apa lagi yang kita tunggu?”. Sementara yang lainnya berkata, “Tunggu dulu, tunggu dulu. Ia mungkin mau bertobat.” Ketika kami berdua berdiri di sana (di belakang pintu dan sambil mendengarkan), Thalhah Ibn Ubaydillah berjalan di depan pintu itu sambil berkata: “Dimanakah gerangan Ibn Udays?” Ia kemudian diberitahu, “Ia ada di sana.” Ibn Udays mendatangi Thalhah dan membisikkan sesuatu kepadanya, dan kemudian kembali lagi kepada teman-temannya seraya berkata: “Jangan biarkan siapapun masuk (ke dalam rumah Utsman) untuk melihat orang itu atau tinggalkan saja rumahnya.” Utsman berkata kepadaku: “Ini adalah perintah dari Thalhah.” Ia kemudian meneruskan, “Ya Allah! Lindungilah aku dari Thalhah karena ia telah menghasut orang-orang ini untuk menentangku. Demi Allah! Aku berharap tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Dan biarlah darahnya saja yang tercurah. Thalhah sudah memperlakukanku secara semena-mena. Aku dengar Rasulullah pernah bersabda: ‘Darah seorang Muslim itu halal kalau ia melakukan salah satu dari 3 dosa yaitu: ia murtad; atau ia melakukan zinah; atau ia membunuh orang tanpa sebab yang diperbolehkan.’ ‘Lalu mengapa mereka ingin membunuhku?’”
Ibn Abbas/Ayyash melanjutkan: Aku ingin meninggalkan (rumah itu), akan tetapi mereka telah memblokade jalan hingga kemudian Muhammad Ibn Abi Bakar yang kebetulan sedang lewat meminta mereka untuk membiarkan aku pergi meninggalkan rumah itu; dan akhirnya mereka memperkenankan aku keluar dan pergi dari rumah itu.
(LIHAT: Referensi Sunni: Tarikh al-Tabari, Versi Bahasa Inggris, volume 15, halaman 199—200)
Tuduhan Sayf itu hancur berkeping-keping ketika dibandingkan dengan laporan sejarah yang menceritakan peristiwa yang sebenarnya terjadi. Laporan di atas memberikan bukti yang teramat kuat dimana Utsman sendiri tahu bahwa para sahabat semisal Thalhah melakukan perbuatan keji terhadapnya. Thalhah sendiri yang menggalang orang-orang untuk memusuhi dan membunuh Utsman. Thahah sendiri yang menghasut orang-orang untuk mengepung dan menganiaya Utsman. Tokoh khayalan yang bernama Abdullah Ibn Saba, sama sekali tidak diungkit-ungkit dalam laporan di atas. Padahal Sayf menuduh (atau mengarang) bahwa Abdullah Ibn Saba yang melakukan itu semua. Apakah para penulis bayaran itu hendak mengklaim bahwa mereka lebih mengetahui keadaan dan kejadian yang terjadi pada waktu itu? Padahal mereka terlahir ratusan tahun sesudah kejadian itu berakhir. Laporan berikut ini memperkuat laporan lain yang menunjukkan bahwa pembunuhan Utsman Ibn Affan itu diprakasai oleh Thalhah Ibn Ubaydillah. Dan para pembunuh yang sudah melakukan tugasnya itu melaporkan tugas mereka yang berlangsung dengan baik kepada Thalhah. Lihatlah laporan berikut:
Abzay berkata: Aku melihat mereka pada hari itu menentang Utsman. Mereka memasuki rumahnya melalui sebuah celah di kediaman Amr Ibn Hazm. Ada keributan kecil di sana dan akhirnya mereka berhasil. Demi Allah, aku tidak pernah lupa bahwa Sudan Ibn Humram keluar dari rumah itu dan kemudian ia berkata: “Dimana Thalhah Ibn Ubaydillah? Kami sudah berhasil membunuh Ibn Affan!”
(LIHAT: referensi Sunni: Tarikh al-Tabari, Versi Bahasa Inggris, volume 15, halaman 200)
Utsman Ibn Affan itu dikepung di rumahnya di Madinah sementara Ali sendiri ada di Khaybar. Ali datang ke kota Madinha dan menemukan orang-orang berkmpul di kediaman Thalhah Ibn Ubaydillah. Kemudian Imam Ali pergi menemui Utsman, Ibn Athir menuliskan:
Utsman berkata kepada Ali: “Engkau harus memberikan hak-ku sebagai seorang Muslim dan hak karena persaudaraan dan hubungan kekerabatan. Seandainya aku ini tidak memiliki hak-hak itu sekalipun dan seandainya aku masih jahiliyyah, tetap saja engkau harus memberikan hak-ku (maksud Utsman ialah meminta bantuan—pen) karena engkau akan menanggung malu karena engkau tidak mengutamakan keturunan dari Abd Munaf (baik Ali maupun Utsman keduanya merupakan keturunan Abd Munaf) di atas keturunan Bani Taim (yaitu Thalhah); dan membiarkan dia merampok kekuasaan dari kita.” Ali berkata kepada Utsman: “Engkau akan diberitahu nanti tentang apa yang akan aku lakukan.” Kemudian Ali berangkat ke rumah Thalhah dan berkata kepadanya: “Thalhah, mengapa kejadian ini harus terjadi?” Thalhah menjawab, “Ya, Abal Hasan! Sudah terlambat!”
(LIHAT: Referensi Sunni: Tarikh al-Tabari, Versi Bahasa Inggris, volume 15, halaman 235)
Tabari juga melaporkan percakapan antara Ali dan Thalhah selama masa pengepungan rumah Utsman:
Ali berkata kepada Thalhah: “Aku memintamu, demi Allah, agar kamu mau menarik kembali orang-orang yang hendak menyerang Utsman.” Thalhah menjawab: “Tidak mungkin, demi Allah. Aku tidak akan berhenti hingga Bani Umayyah sukarela menyerahkan apa yang seharusnya mereka serahkan.” (Utsman sendiri adalah kepala suku Bani Umayyah)
(LIHAT: Referensi Sunni: Tarikh al-Tabari, Versi Bahasa Inggris, volume 15, halaman: 235)
Thalhah bahkan memotong pasokan air ke rumah Utsman sehingga Utsman mengalami kehausan yang sangat:
Abdurrahman Ibn al-Aswad berkata: “Aku terus menerus melihat Ali menghindari (Utsman) dan tidak berlaku seolah-olah ia pernah melakukannya. Meskipun begitu, aku bahwa Ali bertemu dan bercakap-cakap dengan Thalhah ketika Utsman dikepung. Setelah percakapan itu selesai air dibawakan ke rumahnya (Utsman) dengan kantung dari kulit. Ali marah sekali (terhadap Thalhah) dan marahnya baru berkurang setelah air dalam kantung-kantung kulit itu sampai ke rumah Utsman.”
(LIHAT: Referensi Sunni, Tarikh al-Tabari, Versi Bahasa Inggris, volume 15, halaman: 180—181)
Untuk mengetahui sikap Imam Ali, mengapa ia membiarkan Utsman sendirian saja, maka lihatlah berbagai hadits yang ada di bagian akhir dari tulisan ini.
 

Lebih lanjut lagi, para sejarawan menguatkan bahwa mereka yang merencanakan pembunuhan itu tidak rela jenazah Utsman dikuburkan di pemakaman Muslim. Dan akhirnya mereka menguburkan jenazah Utsman di pekuburan Yahudi yang bernama “Hash Kawkab”, tanpa dimandikan dan tanpa dikafani.

(LIHAT: Tarikh al-Tabari, Versi Bahasa Inggris, volume 15, halaman 246—250).
Seandainya orang-orang Yahudi yang membunuh Utsman (seperti yang selama ini dikabarkan dari mulut ke mulut oleh para ustadz pembohong—pen), maka mereka tidak akan menguburkan jenazah Utsman itu di pekuburan mereka sendiri!!! Setelah Mu’awiyyah berhasil merampas khilafah dan menjadi seorang khalifah, ia menggabungkan pemakaman Yahudi itu sehingga bersatu dengan pemakaman Muslim yaitu pemakaman al-Baqi termasuk tanah lapang yang memisahkan kedua pemakaman itu.
(LIHAT: Referensi Sunni: Tarikh al-Tabari, Versi Bahasa Inggris, volume 15, 246—250)
‘AISYAH BINTI ABU BAKAR
Thalhah tidaklah sendirian dalam kelompok penentang Utsman. Sejarah Sunni menceritakan kepada kita semua bahwa sepupu dari Thalhah—yaitu ‘Aisyah, juga turut serta dalam penghasutan untuk menentang Utsman. Tulisan berikut juga diambil dari Tarikh al-Tabari yang menunjukkan bahwa ‘Aisyah itu bekerja sama dengan Thalhah dalam usaha penggulingan Utsman dari tampuk khilafah.
Ketika Ibn Abbas sedang pergi ke kota Mekah, ia bertemu dengan ‘Aisyah di al-Sulsul (sekitar 7mil sebelah selatan Madinah). ‘Aisyah berkata: “Wahai, Ibn Abbas, aku menyerumu, demi Allah, untuk meninggalkah orang ini (maksudnya Utsman—pen) dan tebarkanlah benih keraguan di antara orang-orang terhadap orang ini, karena engkau sudah diberkahi oleh Allah sebuah lidah yang tajam. (Ketika terjadi pengepungan di rumah Utsman) sepertinya setiap orang sudah paham, mereka seolah-olah dibimbing untuk menuju ke tempat yang sama. Aku melihat Thalhah telah mengambil kunci-kunci baytul mal tempat penyimpanan harta kaum Muslimin. Kalau ia menjadi khalifah (setelah kepergian Utsman), maka ia akan mengikuti sunnah Abu Bakar.” Ibn Abbas berkata, “Ya, Ummul Mukminin, kalau sesuatu yang buruk menimpa orang itu (maksudnya Utsman), maka orang-orang akan mencari perlindungan hanya kepada sahabat kita (yaitu Ali).” ‘Aisyah dengan ketus menukas, “Diamlah! Aku tidak punya keinginan untuk berdebat denganmu.”
(LIHAT: Referensi Sunni: Tarikh al-Tabari, Versi Bahasa Inggris, volume 15, halaman 238—239)
Banyak sejarawan Sunni melaporkan bahwa pada suatu ketika ‘Aisyah pergi ke rumah Utsman dan meminta bagian dari warisan yang ditinggalkan oleh Rasulullah (setelah lama berselang dari hari wafatnya Rasulullah). Utsman tidak mau memberikan ‘Aisyah uang yang dimintanya sambil mengingatkan dirinya bahwa ‘Aisyah pernah meminta dan mendorong-dorong Abu Bakar (ayahnya) untuk tidak memberikan harta warisan Rasulullah itu kepada puterinya, Fathimah. Jadi kalau Fathimah saja tidak mendapatkan bagian dari warisan itu, maka mengapa ‘Aisyah harus diberi bagian dari warisan itu? ‘Aisyah murka sekali kepada Utsman, dan ia segera bergegas meninggalkan Utsman sambil berteriak-teriak:
“Bunuh saja si Na’tsal itu, karena ia sudah tidak beriman.”
(LIHAT: Referensi Sunni:
1. Tarikh Ibn Athir, volume 3, halaman 206
2. Lisan al-Arab, volume 14, halaman 141
3. al-Iqd al-Farid, volume 4, halaman 290
4. Sharh al-Nahjl, oleh Ibn Abi al-Hadid, volume 16, halaman 220—223)


Seperti yang bisa kita lihat, tokoh-tokoh utama yang ada di balik penentangan (dan pengepungan serta pembunuhan) terhadap Utsman ialah orang-orang penting seperti Thalhah dan ‘Aisyah. Laporang-laporan dari Sunni ini jelas sekali bertentangan dengan laporan-laporan lainnya (juga dari Sunni) yang melaporkan peristiwa serupa dengan menggunakan tokoh Abdullah Ibn Saba untuk menutup-nutupi peran orang-orang penting (baca: para sahabat senior). Tokoh Abdullah Ibn Saba itu diciptakan ratusan tahun setelah kejadian yang sebenarnya (yaitu pengepungan dan pembunuhan Utsman) terjadi.
Seorang sejarawan Sunni bernama al-Baladzuri dalam kitabnya Ansab al-Ashraf menuliskan bahwa ketika situasi makin kalut dan panik, Utsman memerintahkan Marwan Ibn al-Hakam dan Abdurrahman Ibn Attab Ibn Usayd untuk mencoba membujuk ‘Aisyah agar mau berhenti menghasut orang-orang untuk menentang dan menyerang Utsman. Mereka pergi menemui ‘Aisyah yang ketika itu hendak pergi menunaikan ibadah haji. Mereka berkata kepada ‘Aisyah:
“Kami berdo’a agar anda tetap di Madinah, dan semoga Allah menyelamatkan orang ini lewat anda.” ‘Aisyah menjawab: “Aku telah mempersiapkan segala sesuatu untuk perbekalan diriku dan aku berniat untuk pergi haji. Demi Allah, aku tidak akan memenuhi permintaanmu…………aku harap ia (baca: Utsman) ada di dalam salah satu dari kantung perbekalanku supaya aku bisa membawanya. Aku nanti akan buang tubuhnya ke laut.”
(Referensi Sunni: Ansab al-Ashraf, oleh al-Baladzuri, bagian 1, volume 4, halaman 75)
Tentu saja pemberontakan terhadap Utsman itu terjadi di kota Madina, bukan di kota Basrah, Kufah atau Mesir. Orang-orang yang berada di balik semua itu ialah orang-orang penting dari kota Madinah yang menghasut orang-orang yang berada di luar kota Madinah agar mau menentang Utsman Ibn Affan. Menyebutkan bahwa ada tokoh Yahudi yang bernama Abdullah Ibn Saba yang bertanggung jawab atas semua kekisruhan itu sangatlah tidak masuk akal sama sekali kecuali kita menyebutkan juga bahwa Abdullah Ibn Saba itu juga berhasil menghasut dan mempengaruhi ‘Aisyah, Thalhah, dan Zubayr yang merupakan tokoh yang paling penting dalam pengepungan rumah Utsman dan pembunuhannya. Akan tetapi anehnya orang yang menuliskan cerita tentang Ibn Saba itu sama sekali tidak menyebutkan bahwa ‘Aisyah atau Thalhah atau Zubayr sebagai orang yang terhasut. Lalu mengapa mereka memerankan peran yang sangat penting dalam peristiwa itu? Mengapa mereka juga perannya sangat vital dalam perang Jamal? Kita tidak pernah mendengar bahwa mereka bertiga itu menjadi murid Abdullah Ibn Saba seperti yang dituduhkan kepada para sahabat lainnya yang juga bersikap kritis terhadap Utsman.
Kita bisa juga mengatakan bahwa Ibn Saba itu juga adalah orang yang sama yang membujuk Khalifah Utsman untuk menempuh langkah yang berbeda dari langkah yang pernah ditempuh oleh Khalifah Pertama dan Kedua; kita juga bisa mengatakan bahwa Ibn Saba pernah menasehati Utsman agar memberikan harta baytul mal kepada para karib kerabatnya sendiri dan menunjuk karib kerabatnya itu sebagai gubernur di beberapa daerah kekuasaan Islam. Karena kalau semua itu tidak dilakukan oleh Utsman atas inisiatif dirinya, maka mana mungkin para sahabat dan umat Islam mau memberontak terhadap Utsman (kecuali kalau memang Utsman itu terbukti kejahatannya).
Justeru karena tingkah laku dan prilaku Utsman yang korup dan nepotis-lah yang menyebabkan ‘Aisyah, Thalhah, dan Zubayr serta para sahabat lainnya bisa menghasut kaum Muslimin untuk menentang Utsman. Mereka yang menyebutkan bahwa Ibn Saba adalah orang yang menghasut kaum Muslimin agar menentang Utsman tidak mau menerima pandangan bahwa Ibn Saba juga bisa menasehati Utsman agar menempuh kebijakan yang keliru (sehingga ada alasan bagi Ibn Saba dalam menghasut kaum Muslimin agar memberontak Utsman). Kalau Utsman itu jujur, adil, lurus, dan bisa dipercaya maka orang-orang tidak bisa dengan mudah dihasut oleh Ibn Saba (itupun kalau Ibn Saba ada dan melakukan itu semua).
Supaya sejarah tidak membingungkan (dan keliru) maka tokoh khayalan seperti Abdullah Ibn Saba seharusnya kita singkirkan. Tokoh Yahudi itu memang tak pernah ada juntrungannya. Tokoh itu hanya ada dalam benak kotor Sayf Ibn Umar al-Tamimi dan para pengikutnya yang suka mengutip hasil karya ciptaannya. Hanya ada bebera butir hadits (kurang dari 15) yang berkenaan dengan Abdullah Ibn Saba yang tidak melalui Sayf Ibn Umar. Itupun semuanya tidak terdapat dalam kitab hadits sahih di kalangan Sunni maupun di kalangan Syi’ah. Hadits-hadits yang tidak melalui Sayf itu tidak menceritakan peran Abdullah Ibn Saba dalam pemberontakan terhadap Utsman Ibn Affan. Jadi KISAH PENGHASUTAN OLEH ABDULLAH IBN SABA UNTUK MEMBERONTAK KHALIFAH UTSMAN IBN AFFAN ITU HANYA DICERITAKAN OLEH SAYF IBN UMAR SAJA. Dan tidak oleh para pelapor sejarah lainnya.
AMR IBN AL-AAS
Sangat mengherankan sekali bahwa sebuah revolusi yang besar dan hebat yang melengserkan Utsman Ibn Affan secara paksa dinisbahkan kepada seorang Yahudi yang keberadaannya saja tidak pernah terbukti baik oleh kalangan Syi’ah maupun Sunni. Tokoh khayalan dijadikan kambing hitam untuk menutup aib dari para sahabat Nabi!!! Bahkan kalangan sejarawan pun bisa melupakan peran seorang penting bernama Amr Ibn Aas. Ia lebih cerdik (baca: licik) dan lebih cerdas dibandingkan orang-orang Yahudi yang hidup sejaman dengannya. Amr memiliki banyak sekali alasan untuk membentuk aliansi menentang khalifah Utsman; dan ia juga memiliki kemampuan yang cukup untuk menghasut orang-orang Madinah agar mau menentang Utsman.
Amr Ibn al-Aas adalah salah seorang penghasut yang paling berbahaya ketika ia menghasut orang-orang untuk memusuhi dan menentang Utsman Ibn Affan. Khalifah Utsman pernah memecat Amr Ibn al-Aas dan Utsman menggantikannya dengan saudara angkatnya sendiri—Abdullah Ibn Sa’ad Ibn Abu Sharh. Sebagai akibatnya, Amr menjadi sangat murka dan penuh rasa permusuhan terhadap Utsman. Ia kembali ke kota Madinah dan mulai melancarkan black campaign terhadap Utsman. Amr menuduh Utsman bahwa Utsman sudah terlalu sering berbuat salah ketika ia melangsungkan tugasnya sebagai khalifah. Utsman menyalahkan Amr dan ia berbicara kepada Amr dengan sangat kerasnya. Ini hanya menambahkan kebencian saja kepada Amr seperti api disiram bensin. Amr lalu menemui Zubayr dan Thalhah untuk bersatu melawan Utsman. Amr seringkali menemui para jemaah haji dan umrah yang mau beribadah di tanah suci; dan Amr mengatakan hal-hal yang buruk-buruk tentang Utsman. Amr menceritakan kepada mereka tentang penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh Utsman. Menurut Tabari, ketika Utsman dikepung, Amr tetap berada di istananya di al-Ajlan dan ia seringkali bertanya kepada orang-orang tentang perkembangan terakhir dari Utsman.
…..Amr belum juga duduk di tempat duduknya, saat itu datanglah seorang pengendara kuda yang kedua. Amr memanggil si penunggang kuda itu dan bertanya kepadanya: “Bagaimana Utsman keadaannya?” Orang itu menjawab, “Ia sudah mati.” Amr kemudian berkata, “Aku ini Abu Abdillah. Kalau aku menggaruk sebuah bisul aku akan mencungkilnya keakar-akarnya (maksud Amr ialah kalau ia memiliki sebuah cita-cita, maka ia akan memperjuangkannya hingga terlaksana). Aku sudah mengajak orang-orang untuk menentangnya, bahkan aku ajak juga seorang penggembala yang ada di gunung bersama gembalaannya.” Kemudian Salamah Ibn Rawh berkata kepada Amr: “Engkau, orang-orang Qurays, telah memutuskan tali ikatan antara kalian sendiri dan orang-orang Arab. Mengapa engkau melakukan hal itu?” Amr menjawab: “Kami ingin mengungkapkan kebenaran dari tumpukan kesalahan, dan kami ingin orang-orang memiliki kesempatan yang sama untuk mengetahui kebenaran.”
(Referensi Sunni: Tarikh al-Tabari, Versi Bahasa Inggris, volume 15, hal 171—172)
Orang-orang yang suka memecah belah persatuan di kalangan Muslimin senantiasa mengabaikan hal-hal yang sudah diketaui orang dalam sejarah Islam yang dilaporkan oleh saudara kita dari golongan Sunni. Pemberontakan melawan Utsman adalah sebagai akibat dari usaha tiada lelah dari para sahabat senior di Madinah seperti ‘Aisyah, Zubary, dan Thalhah disertai oleh Abdurrahman Ibn Auf dan Amr Ibn al-Aas. Alih-alih memperkarakan orang-orang yang nyata-nyata bertanggung jawab atas terbunuhnya Utsman, para pemecah persatuan kaum Muslimin itu malah tidak mau mengupas kejadian itu sama sekali; mereka tidak mau membicarakannya dan tidak mau kebenaran terpampang di depan mata mereka. Mereka lebih suka menisbahkan kejadian memalukan dalam sejarah Islam itu kepada seorang Yahudi fiktif (dengan mengandalkan laporan dari seorang penyebar fitnah bernama Sayf Ibn Umar); padahal si pencipta tokoh khayalan itu (Sayf) dituduh berdusta oleh banyak ulama Sunni papan atas. Sayf dituduh suka mengada-ada dan tidak berpijak pada data dan fakta. Para pemecah belah persatuan umat itu memilih untuk menerima begitu saja laporan-laporan Sayf. Mereka bertujuan untuk menutup-nutupi perbuatan Khalifah Utsman, ‘Aisyah, Thalhah, dan Zubayr.
Bahkan untuk ‘Aisyah, Thalhah, dan Zubayr serta Mu’awiyyah Ibn Abu Sufyan yang memerangi Imam Ali Ibn Thalib dalam dua peperangan yang memalukan dalam sejarah umat Islam, para pemecah belah persatuan umat Islam itu tidak mau menuduh mereka sebagai murid-murid setia dari Abdullah Ibn Saba (itupun kalau memang ia ada). Buku-buku sejarah Islam yang ada di kalangan Sunni serta hadits-hadits yang beredar di kalangan Sunni menjelaskan bahwa Mu’awiyyah itu telah memerintahkan para imam mesjid di seluruh penjuru wilayah kekuasaan Islam untuk MENGUTUK Imam Ali pada setiap mimbar Jum’at. Apabila Abdullah Ibn Saba (Yahudi fiktif itu) dituduh memiliki peran kecil dalam pemberontakan dan pembunuhan Utsman Ibn Affan, maka Mu’awiyyah sendiri bisa dituduh sebagai aktor utama yang melancarkan fitnah keji dan hasutan kejam untuk memusuhi Imam Ali dan para pengikutnya. Mu’awiyyah telah mengumumkan ke seluruh penjuru negeri bahwa orang-orang yang telah membunuh Utsman Ibn Affan adalah murid-murid dari Abdullah Ibn Saba; dan orang-orang yang sama itulah yang telah berjasa atas naiknya Ali ke puncak tahta kekhalifahan.
Pembunuhan terhadap Utsman Ibn Affan itu menjadi semacam kambing hitam untuk menutup-nutupi orang-orang yang bertempur memperebutkan kekuasaan yang hampir semuanya karib kerabat dari Utsman sendiri seperti Mu’awiyyah Ibn Abu Sofyan dan Marwan Ibn Hakam. Mereka memanfaatkan Utsman baik ketika ia masih hidup maupun ketika ia sudah mati. Kematian Utsman mereka manfaatkan betul untuk kepentingan mereka. Kisah Ibn Saba digunakan oleh mereka untuk menutup-nutupi borok mereka yang telah diketahui luas oleh orang-orang pada masanya dan sesudahnya. Kisah Abdullah Ibn Saba digunakan untuk menutupi ambisi mereka akan kekuasaan dan disisi lain juga digunakan untuk menyerang dan memberangus Imam Ali dan para pengikut setianya sepanjang masa.
ALASAN-ALASAN DI BALIK PENGGULINGAN UTSMAN
Khalifah ketiga yaitu Utsman Ibn Affan, diberikan bai’at oleh orang-orang dengan sebuah syarat yang mengikat yaitu bahwa Utsman harus menjalankan negara ini sesuai dengan panduan Kitabullah (Al-Qur’an) dan ajaran dari Rasulullah (Sunnah Nabi). Ia diharuskan untuk mengikuti cara Abu Bakar dan Umar dalam menjalankan negara kalau ada masalah-masalah yang tidak bisa ditemukan panduannya dalam Al-Qur’an maupun Sunnah Nabi.
Memang sudah dikenal luas bahwa dua khalifah pertama itu hidup sederhana. Mereka tidak pernah memberikan peluang bagi kerabat dari suku mereka; mereka juga tidak pernah menunjuk sanak saudaranya untuk posisi-posisi yang menggiurkan sebagai pejabat negara.
Utsman sebaliknya, ia memilih untuk mengikuti pendapatnya sendiri dan ia hidup dalam gelimang harta—bermewah-mewahan. Ia menempatkan sanak kerabatnya dari sukunya (Bani Umayyah) di berbagai posisi penting di pemerintahan. Utsman melebihkan dan memprioritaskan sukunya dibandingkan kaum Muslimin lainnya dan itu dilakukannya tanpa melihat apakah orang-orang yang ditunjuk itu berkemampuan dan berketrampilan untuk mengurus urusan rakyat dan negara. Ternyata memang demikianlah adanya. Kerabat Utsman itu tidak memiliki kemampuan yang cakap dan juga tidak amanah terhadap tugas yang diberikan kepada mereka. Mungkin alasan Utsman telah menunjuk karib kerabatnya itu untuk memenuhi anjuran dalam Kitabullah karena Al-Qur’an menganjurkan kita untuk ramah dan bermurah hati kepada keluarga kita!!!! Cara Utsman dalam mengurus negara ini tentu saja tidak mengenakkan bagi banyak sahabat Nabi. Mereka memandang Utsman terlalu hidup berlebihan dan hedonis—suka berfoya-foya.
Para sahabat mengkritik Utsman; diantara kritik yang mereka lontarkan ialah karena Utsman melakukan hal-hal berikut ini:
PERTAMA, Utsman membawa pamannya sendiri yaitu al-Hakam Ibn Abi al-Aas (putera dari Umayyah; dan Umayyah putera dari Abdul Syams) ke kota Madinah padahal Nabi sudah mengusir al-Hakam itu dari kota Madinah. Jadi Utsman sudah melakukan perbuatan yang bertentangan dengan ketentuan Nabi.
Al-Hakam itu dilaporkan seringkali bersembunyi untuk mendengarkan pembicaraan rahasia antara Nabi dan para sahabat pilihannya; kemudian setelah itu ia menyebarluaskan isi dari pembicaraan rahasia yang berhasil ia dengarkan itu kepada khalayak ramai. Ia seringkali meniru gerak tubuh Rasulullah dan memperolok-olokkan cara jalan Rasulullah. Rasulullah pada suatu waktu melihat dia melakukan itu dan kemudian Rasulullah berkata kepadanya: “Jadi begitulah engkau seterusnya.” Al-Hakam seketika itu juga bergetar tubuhnya dan ia terus begitu sepanjang hidupnya hingga akhir hayatnya. Juga dilaporkan bahwa:
Pada suatu hari ketika Rasulullah sedang duduk bersama para sahabatnya, Rasulullah tiba-tiba bersabda, “Seorang lelaki yang terkutuk akan memasuki ruangan ini.” Tidak lama kemudian masuknya al-Hakam. (Dialah orang yang terkutuk itu).
(LIHAT: Referensi Sunni: al-Isti’aab, oleh Yusuf Ibn Abd al-Barr, volume 1, halaman 359—360)
KEDUA, setelah Utsman membawa al-Hakam ke Madinah, Utsman memberikan al-Hakam 300,000 Dirham.
KETIGA, Utsman kemudian mengangkat Marwan—putera dari al-Hakam, pamannya itu—hingga Marwan menduduki jabatan tertinggi sebagai asisten pribadi dan penasehat tertinggi sehingga Marwan memberikan pengaruh yang banyak sekali pengaruh kepada Utsman sampai tidak jelas mana pengaruh Marwan dan mana pendapat pribadi Utsman sendiri. Marwan membelanjakan seperlima dari pajak yang ia dapat dari Afrika Utara yang jumlahnya sekitar 500,000 Dinar!!! Marwan tidak menyerahkan hasil pajak ini. Khalifah Utsman malahan merelakan Marwan untuk menyimpan uang itu. Uang sejumlah ini adalah jumlah yang sangat, sangat, sangat banyak sekali sebanding dengan uang 10 juta dolar Amerika sekarang ini atau dalam Rupiah sekitar kurang lebih 100 milyar Rupiah!!
Imam Ali (as) seringkali menasehati Utsman akan bahaya yang akan ditimbulkan dari seorang Marwan Ibn al-Hakam (kelak ia akan menjadi khalifah dari kaum Muslimin; khalifah yang sangat kejam dan korup). Akan tetapi nasehat dari Imam Ali (as) ini tidak dihiraukan sama sekali oleh Utsman Ibn Affan. Perbincangan antara Imam Ali (as) dan Utsman berikut ini menjadi bukti kuat. Ketika Utsman sedang dalam pengepungan, ia meminta Ali untuk memberikan pertolongan kepadanya. Utsman Ibn Affan berkata kepada Imam Ali:
“Engkau lihat masalah besar yang ditimbulkan oleh orang-orang yang tidak setuju ketika mereka mendatangiku hari ini. Aku tahu bahwa engkau memiliki posisi yang paling mulia diantara umat manusia dan mereka akan mendengarkan engkau. Aku ingin engkau mendatangi mereka dan mengusir mereka dariku. Aku tidak ingin mereka datang kepadaku karena aku akan merasa sangat terhina oleh karenanya. Biarkan orang lain juga mendengar perbincangan ini.
Ali bersabda: “Atas alasan apakah aku harus mengusir mereka?”
Utsman menjawab: “Atas alasan bahwa aku akan melaksanakan apa-apa yang telah engkau nasehatkan kepadaku, dan aku tidak akan lagi menyimpang dari petunjuk yang telah engkau berikan.”
Kemudian Ali menjawab: “Aku sudah memperingatkan dirimu berkali-kali; dan engkau bersamaku telah berdiskusi panjang lebar. Semua ini adalah perbuatan Marwan Ibn al-Hakam, Sa’id Ibn al-Aas, Ibn Amir, dan Mu’awiyyah. Engkau terlalu mendengarkan mereka dan engkau telah menyimpang dariku,”
Utsman berkata: “Kalau begitu aku tidak akan lagi mendengarkan mereka; aku akan lebih mendengarkan engkau”
(LIHAT: Referensi Sunni: Tarikh al-Tabari, Versi Bahasa Inggris, volume 15, halaman 173)




Kemudian Imam Ali berbicara kepada orang-orang yang mengepung Utsman dan meminta mereka agar pergi dari Utsman Ibn Affan. Kebanyakan dari mereka kemudian satu persatu mematuhi dan pergi dari tempat itu. Imam Ali kemudian mendatangi Utsman dan memberitahu bahwa orang-orang sudah pergi. Imam Ali berkata:
“Berilah sebuah pernyataan yang meyakinkan mereka bahwa mereka pernah mendengar darimu; dan biarlah Allah yang akan menjadi saksi dari apakah engkau mau benar-benar bertobat atau tidak.”
Lalu Utsman pergi keluar dan memberikan khutbah yang menyatakan bahwa ia bermaksud untuk bertaubat sambil berkata: “Demi Allah, wahai umat manusia, apabila salah seorang dari kalian menuduhku, maka ketahuilah ia tidak melakukan apa-apa yang tidak aku ketahui. Aku ini tidak pernah melakukan sesuatu tanpa sepengetahuan orang lain. Jiwaku tidak lagi memberikan harapan yang tinggi kepadaku; dan keutamaanku telah memudar seiring berjalannya waktu………..maka aku memohonkan ampun kepada Allah bagiku atas apa-apa yang telah aku kerjakan dan aku telah berpaling kepadaNya seperti seorang hamba yang sangat menyesal dan hendak bertaubat.”
Kemudian orang-orang mulai menaruh rasa iba kepada Utsman Ibn Affan. Beberapa dari mereka malah menangis mendengar Utsman berkata seperti itu. Sa’id Ibn Zayd berdiri di depan Utsman seraya berkata: “Ya, Amirul Mukminin. (mulai sekarang) Tak akan ada satu orangpun yang datang kepada engkau tanpa ia menyatakan kesetiaannya kepadamu. Bertakwalah kepada Allah, kalau memang jiwamu takut kepada Allah; dan penuhilah apa-apa yang telah engkau katakan!”
Ketika Utsman turun (dari atas mimbar), ia melihat Marwan Ibn al-Hakam dan Sa’id Ibn Al-Aas, dan beberapa dari orang-orang Bani Umayyah di rumahnya. Marwan berkata kepada Utsman: “Haruskah aku berkata (kepada orang-orang) atau diam?” Istri Utsman berkata: “Tidak! Seharusnya engkau diam saja. Karena mereka akan membunuhnya karena dosanya. Ia telah berjanji kepada orang-orang dan ia tidak bisa begitu saja mencabut kembali kata-katanya.” Marwan berkata: “Mengapa engkau ikut campur dalam urusan ini?”
Kemudian Marwan berkata kepada Utsman: “Tetap berada dalam kesalahan dimana engkau bisa bertaubat kepada Allah karena kesalahan itu adalah lebih baik daripada bertaubat karena engkau merasa takut. Kalau engkau mau, engkau bisa saja bertaubat tanpa usah mengumumkan bahwa engkau telah bersalah.” Utsman Ibn Affan berkata: “Pergilah engkau menemui mereka, karena aku malu untuk mengatakan itu di depan mereka.”
Kemudian Marwan pergi (menemui orang-orang) dan berkata kepada mereka: “Mengapa kalian berkumpul seperti ini seperti para perampok dan penjarah?…….. Kalian datang ke sini untuk merampas kekuasaan kami dari kami. Pergilah kalian semua! Demi Allah, kalau kalian bermaksud buruk untuk mencelakai kami, maka kalian akan menemukan kesulitan dari kami. Kalian tidak akan bisa membangga-banggakan upaya kalian. Kembalilah ke rumah kalian karena demi Allah kami tidak akan sudi digulingkan dari kekuasaan.”
Orang-orang kemudian bergegas menemui Ali dan mengabarkan apa yang terjadi. Ali mendatangi Utsman untuk yang kesekian kali dan berkata kepadanya: “Engkau telah patuh (lagi!) kepada Marwan. Ia akan merasa senang kalau engkau selalu menyimpang dari agamamu dan akal sehatmu. Demi Allah, Marwan itu telah tersesat dari agamanya dan dari jiwanya. Demi Allah! Ia akan memasukkanmu kedalam kesesatan lagi dan ia tidak akan mengeluarkanmu dari sana selamanya. Setelah kunjuganku ini, aku tidak akan mengunjungimu lagi dan aku tidak akan menasehatimu lagi. Engkau telah merusak kehormatanmu sendiri dan kekuasaanmu telah berakhir.”
Ketika Ali pergi, istri Utsman berkata kepada Utsman: “Aku telah mendengar bahwa Ali berkata ia tidak akan kembali lagi kepadamu; dan sekarang engkau sudah kembali patuh dan taat kepada Marwan yang hanya akan menggiringmu ke arah yang ia suka.” “Lalu apa yang harus aku lakukan?”, tanya Utsman kebingungan. Istri Utsman menukas,”Engkau seharusnya takut kepada Allah saja. Allah tidak punya saingan dan engkau harus patuh dan taat kepadanya dan mengikuti langkah dari kedua pendahulumu (yaitu Abu Bakar dan Umar). Karena kalau engkau mematuhi Marwan, maka ia akan membunuhmu. Marwan itu tidak punya harga diri sedikitpun di hadapan orang-orang; ia tidak memiliki kemuliaan dan tidak pula rasa cinta. Orang-orang itu menjauhi dirimu karena engkau telah menempatkan Marwan di jajaran pemerintahan. Temuilah Ali, percayalah pada kejujurannya dan kemuliaannya. Ia akan memberikan manfaat kepadamu dan ia bukanlah orang yang orang-orang tidak akan patuh padanya.” Lalu akhirnya Utsman menyuruh orang untuk memanggil Ali, akan tetapi Ali tidak bersedia datang. Ali berkata: “Aku sudah berkata padanya bahwa aku tidak akan kembali.”
(LIHAT: Referensi Sunni: Tarikh al-Tabari, Edisi Bahasa Inggris, volume 15, halaman 176—179)







Pada saat kematian Utsman, Imam Ali (as) bersabda:
“Demi Allah! Aku telah sekuat tenaga membelanya (Utsman) hingga aku dipenuhi oleh rasa malu. Akan tetapi Marwan, Mu’awiyyah, Abdullah Ibn Amir, dan Sa’ad Ibn Al-Aas telah mempengaruhinya seperti yang telah kalian lihat. Ketika aku memberikan nasehat kepadanya agar mengusir mereka, ia malah menjadi curiga kepadaku hingga apa yang kalian lihat sekarang ini terjadi.”
(LIHAT: Referensi Sunni: Tarikh al-Tabari, Versi Bahasa Inggris, volume 15, halaman 198)
Marwan dan para keturunannya kemudian hari menjadi sumber utama tindak kejahatan korupsi dan nepotisme yang dilakukan sejak masa Utsman. Marwan akhirnya bisa mengangkangi kursi kekhalifahan dan ia naik menjadi khalifah pada tahun 64H atau 684M. Ia dan keturunannya dari Bani Umayyah satu persatu menjadi raja atau khalifah yang berkuasa di Damaskus, Syria dan juga di Cordoba, Spanyol hingga tahun 756M.
KEEMPAT, Khalifah Utsman Ibn Affan mengangkat saudara angkatnya yaitu Abdullah Ibn Sa’ad sebagai gubernur Mesir. Pada waktu itu, Mesir adalah provinsi terbesar di wilayah kekuasaan negara Muslim. Ibn Sa’ad sendiri masuk Islam dan pindah dari kota Mekah ke Madinah setelah masuk Islam. Rasulullah mempekerjakannya sebagai salah seorang pencatat wahyu. Ibn Sa’ad sendiri kemudian keluar dari keyakinannya dan kembali ke kota Mekah. Ia seringkali dilaporkan berkata: “Aku bisa menurunkan wahyu yang serupa dengan yang diturunkan oleh Allah kepada Muhammad.”
Ketika kota Mekah ditaklukan, Rasulullah memerintahkan kaum Muslimin untuk membunuh Ibn Sa’ad. Ia harus dibunuh meskipun ia sedang bergelantungan pada kiswah Ka’bah sekalipun. Ibn Sa’ad bersembunyi di rumah Utsman Ibn Affan. Ketika situasi berubah tenang, Utsman membawa Ibn Sa’ad ke hadapan Rasulullah dan memberitahu Rasulullah bahwa ia telah melindungi Ibn Sa’ad dan sekarang Ibn Sa’ad berada dalam perlindungannya dan meminta Rasulullah membebaskannya. Rasulullah tidak berkata sepatah katapun untuk sementara waktu, sambil berharap salah satu dari yang ada pada waktu itu bergerak untuk membunuh Ibn Sa’ad sebelum permintaan Utsman dikabulkannya. Para sahabat sayangnya tidak bergerak sedikitpun karena tidak mengerti apa yang sedang dipikirkan dan dikehendaki oleh Rasulullah walaupun Rasulullah berdiam diri selama itu. Karena tidak ada seorang pun yang bergerak untuk membunuh Ibn Sa’ad, maka Rasulullah akhirnya setuju untuk memenuhi permintaan Utsman Ibn Affan. Ibn Sa’ad pun terbebas dari hukuman karena Utsman.
KELIMA, Khalifah Utsman Ibn Affan menunjuk Walid Ibn Aqabah (salah seorang dari kerabatnya satu suku Bani Umayyah) sebagai gubernur kota Kufah setelah sebelumnya memecat gubernur kota Kufah yang berkuasa yaitu Sa’ad Ibn Abi Waqqas (salah seorang sahabat Nabi yang terkenal). Sa’ad Ibn Abi Waqqas itu terkenal karena kehebatannya dalam menembakkan panah ke arah musuh-musuh Islam pada peperangan Uhud.
Sementara itu gubernur yang akan menggantikannya yaitu Walid Ibn Aqabah terkenal sebagai orang yang jahat dan tidak memiliki kepribadian mulia sama sekali pada saat Rasulullah masih hidup. Al-Qur’an mencela perbuatannya dalam ayat-ayatnya dan menyebutnya sebagai seorang fasiq. Misalnya, Rasulullah pernah mengirimkan Walid ke suku Bani al-Mustalaq untuk mengumpulkan zakat dari mereka. Ketika melihat suku Bani al-Mustalaq merangsek mendekat di kejauhan menuju Walid dengan menunggang kuda, Walid menjadi sangat ketakutan karena sebelumnya pernah ada masalah antara Walid dengan suku Bani al-Mustalaq; dan Walid takut mereka akan membunuhnya. Walid kembali berbalik dan kabur serta kembali kepada Rasulullah dan memberitahu Rasulullah bahwa suku Bani al-Mustalaq hendak membunuhnya. Tentu saja ini tidak benar. Akan tetapi meskipun begitu, kaum Muslimin di Madinah merasa marah dan murka sekali dan mereka memutuskan untuk menyerang suku Bani al-Mustalaq. Pada saat genting itulah turun sebuah ayat berkenaan dengan hal itu. Ayat itu berbunyi:
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6)
Walid tetap hidup dengan caranya sendiri yang jauh menyimpang dari aturan Islam seumur hidupnya. Ia seringkali terlihat sedang mabuk meminum minuman keras dan beberapa orang bersaksi di hadapan Khalifah bahwa mereka melihat Walid mabuk ketika sedang menjadi Imam Shalat !!!!! Demi mendengar pengakuan beberapa saksi ini, maka Khalifah Utsman menghukum Walid dengan 80 kali cambukan dan ia dipecat dari jabatannya. Orang-orang sangat berharap Khalifah Utsman menggantikan Walid dengan penggantinya yang jauh lebih baik dan cakap diantara para sahabat Nabi lainnya. Akan tetapi harapan tinggallah harapan, Khalifah Utsman malah menggantikan Walid dengan Sa’id Ibn al-Aas—salah seorang dari kerabat Utsman dari suku Bani Umayyah !!!!!
Dialog berikut terjadi antara Imam Ali (as) dan Utsman Ibn Affan. Dialog ini juga dicatat dalam Tarikh al-Tabari. Dialog ini bisa memperjelas situasi yang sebenarnya terjadi sebelum kejadian atau peristiwa pembunuhan Utsman Ibn Affan:
“Orang-orang berkumpul dan berbincang-bincang dengan Ali Ibn Abi Thalib. Kemudian setelah itu Ali pergi menemui Utsman dan berkata kepada Utsman:
‘Orang-orang datang menemuiku dan mereka telah berkata kepadaku tentang dirimu…….Ingatlah Allah! Engkau tidak akan diberikan penglihatan setelah engkau memilih kebutaan, demi Allah! Engkau juga tidak akan diberikan pemahaman setelah engkau mengabaikan peringatan. Sesungguhnya Jalan yang lurus itu jelas dan mudah, dan tanda-tanda agama yang benar itu jelas dan tegas.
Ketahuilah wahai Utsman, bahwa hamba yang paling baik di hadapan Allah ialah seorang IMAM (pemimpin) YANG ADIL. Ia adalah orang yang telah diberikan jalan yang terang dan ia adalah orang yang memilih jalan yang terang. Ia adalah orang yang memegang erat sunnah yang benar dan mengenyahkan bid’ah yang sesat. Demi Allah, segala sesuatu itu terang benderang adanya. Sunnah yang benar dan masuk akal benar-benar tegas dan jelas sebagai mana halnya juga bid’ah yang sesat yang sama tegas dan jelasnya. IMAM YANG PALING BURUK di hadapan Allah ialah seorang pemimpin yang dzalim dan tirani. Ia adalah pemimpin yang tersesat karena ia telah merusak Sunnah yang benar dan menghidupkan bid’ah yang sesat.
Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah bersabda: ‘Pada hari kebangkitan kelak, seorang tirani itu akan dibawa sementara ia tidak memiliki penolong dan pembela sehingga dengan mudahnya dilemparkan ke neraka; ia akan diputar balikkan di dalam neraka seperti sebuah kincir dan ia akan dimasukkan kedalam lautan api yang menyala di neraka sana!’
‘Aku beritahu engkau Utsman, takutlah kepada Allah dan takutlah pada hukuman dan siksaanNya yang datang tiba-tiba. Takutlah kepada siksaNya yang sangat pedih dan menyakitkan. Aku peringatkan engkau jangan sampai menjadi pemimpin yang terbunuh, dan pertentangan atau perpecahan akan terus terjadi di kalangan umat ini hingga datangnya hari kebangkitan (Hari Kedatangan Imam Mahdi), dan setiap urusan itu akan menjadi kusut dan susah untuk dipecahkan. Setelah ini akan terjadi perpecahan di kalangan umat ini dan mereka tidak bisa melihat kebenaran karena dusta dan kebohongan telah memuncak. Mereka akan terombang-ambing kesana kemari seperti ombak di lautan dan mereka akan berada dalam kebingungan.’
Utsman menjawab:
‘Demi Allah, aku tahu bahwa orang-orang akan mengatakan apa yang telah engkau katakan kepadaku. Akan tetapi demi Allah, seandainya engkau menjadi aku, aku tidak akan menyalahkan engkau dan tidak meninggalkan engkau secara tiba-tiba. Aku juga tidak akan mempermalukan dirimu dan tidak akan bertindak tidak adil kepadamu. Seandainya aku selalu mementingkan keluargaku, dan menunjuk mereka menjadi gubernur, ketahuilah sebagian dari mereka sudah sudah ditunjuk oleh Umar sebelumnya. Aku memohon kepadamu demi Allah, ya Ali. Apakah engkau tahu bahwa al-Mughirah Ibn Shubah sebelumnya tidak ada di sana?
Ali menjawab: “Ya, betul.”
Utsman: “Apakah kamu tahu bahwa Umar telah mengangkatnya menjadi gubernur?”
Ali menjawab: “Ya, betul.”
Utsman: “Lalu mengapa engkau menyalahkan diriku karena telah menunjuknya menjadi seorang Amir (pemimpin) hanya karena ia itu adalah salah seorang kerabatku?”
Kemudian Ali menjawab:
“Aku beritahu engkau, ya Utsman. Setiap orang yang ditunjuk oleh Umar itu telah diuji terlebih dahulu oleh dirinya dan Umar akan memasang telinga untuk mereka. Kalau Umar mendengar ada satu patah kata saja yang negatif terhadap pejabat yang diangkatnya, maka ia akan mencambuknya dan menghukumnya dengan hukuman yang sangat keras. Tetapi engkau tidak melakukan itu. Engkau terlalu lemah dan terlalu ramah terhadap anggota keluargamu.”
Utsman menjawab:
“Mereka juga anggota keluargamu.”
Ali menjawab:
“Demi hidupku. Mereka memang dekat kekerabatannya denganku akan tetapi engkau tidak melihat kemuliaan ada di dalam diri mereka.”
Utsman kemudian berkata lagi:
“Apakah engkau tahu bahwa Umar adalah orang yang menempatkan Mu’awiyyah di dalam jabatannya sekarang selama masa pemerintahannya, dan aku hanya melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Umar?”
Ali menjawab":
“Aku akan bertanya kepadamu demi Allah, apakah engkau tahu bahwa Mu’awiyyah itu lebih takut kepada Umar daripada Yarfa budaknya Umar?”
Utsman menjawab:
“Ya. Aku tahu itu”
Ali melanjutkan:
“Sekarang ini berbeda (maksudnya Mu’awiyyah itu tidak takut kepada Utsman—red). Sekarang sudah sampai pada titik dimana Mu’awiyyah itu sering membuat keputusan tanpa berunding dahulu denganmu, dan engkau tahu itu. Mu’awiyyah seringkali berkata kepada orang-orang, ‘Ini perintah dari Utsman’, dan engkau mendengar ia berkata seperti itu, akan tetapi engkau tidak mempedulikannya dan tidak menyangkal perkataan Mu’awiyyah sama sekali.”
Kemudian Ali meninggalkan Utsman sendirian, dan Utsman pergi keluar. Utsman naik ke sebuah mimbar dan berkata:
“Demi Allah. Kalian telah menyalahkanku atas apa-apa yang telah dilakukan juga oleh Umar sebelumnya. Akan tetapi Umar membungkam kalian dengan menjejakkan kakinya ke leher kalian; ia memukul kalian dengan tangannya sendiri; dan ia menundukkan kalian dengan lidahnya sehingga kalian menjadi patuh dan taat kepadanya tanpa peduli bahwa kalian menyukainya atau tidak. Akan tetapi lihatlah aku. Aku ini lemah lembut kepada kalian. Aku biarkan kalian kaki kalian menjejak bahuku. Bahkan aku tahan tangan dan lidahku sedangkan kalian bertindak kasar kepadaku. Demi Allah, aku ini lebih kuat karena keluargaku banyak sekali; dan aku memiliki pendukung yang lebih dekat, lebih banyak dan lebih kuat. Aku memang telah menunjuk orang-orang diantara kalian akan tetapi kalian telah menuduhku yang bukan-bukan. Tahanlah lidah kalian dari menyalahkan para pemimpin kalian……….demi Allah! Aku hanya menjalankan apa yang pernah dijalankan oleh para pendahuluku yang dulu juga kalian sering tidak setujui. Di masa pemerintahanku ada kelebihan harta, lalu mengapa aku dipersalahkan atas apa yang aku lakukan dengan kelebihan harta itu? Kalau aku tidak boleh melakukan itu, mengapa pula aku mau menjadi pemimpin?”
(LIHAT: Referensi Sunni: Tarikh al-Tabari, Versi Bahasa Inggris, volume 15, halaman 141—144)









































































Tidak ada komentar: