"KEBENARAN TIDAK DITENTUKAN OLEH SEDIKIT BANYAKNYA ORANG YANG BERKATA BAHWA ITU BENAR"

Karbala Berduka

Karbala Berduka
Ya, Syahid! Ya, Madzhlum! Ya, Imam! Ya, Husein!

Rabu, 20 Februari 2013

SEBAGIAN SAHABAT SENIOR RUPANYA TIDAK INGIN RASULULLAH MENYAMPAIKAN WASIATNYA YANG TERAKHIR

“Narapidana kelas kakap saja masih diberikan haknya untuk menyampaikan pesan terakhir ketika ia hendak dihukum mati.

Lalu mengapa umat yang mengaku sahabat-sahabat dekat Nabi malah menghalang-halangi Nabi yang hendak menyampaikan pesan terakhirnya untuk umat ini?”

Islam itu adalah Muhammad. Muhammad itu adalah Islam. Keduanya tak terpisahkan. Muhammad diutus kedunia ini untuk mengajarkan Islam kepada manusia. Dalam tugasnya itu ia menemui banyak kendala baik besar maupun kecil. Muhammad menghidupkan Islam dengan kerja keras dan pengorbanan tak terhingga. Islam itu baginya mirip sebuah kebun yang harus ia rawat dan jaga; yang harus ia sirami dengan darah-darah syuhada dari orang-orang terdekat dan terkasihnya.

Agar kebun itu senantiasa lestari dan tumbuh subur seperti yang dikehendaki oleh Dia yang maha kuasa dan maha pencipta, maka Muhammad tentu saja harus melakukan banyak cara. Salah satu cara terakhir yang dilakukannya ialah dengan menuliskan sebuah wasiat untuk kita semua. Sebuah surat wasiat yang apabila kita berpegang erat padanya kita tidak akan lagi tersesat selamanya.

Sebagai seorang Muslim yang cerdas anda pasti sepakat dengan yang lainnya bahwa Muhammad al-Mustafa—junjungan kita—takkan mungkin meninggalkan kita tanpa sebuah tanda mata berupa kata-kata terakhir sebagai ucapan perpisahan sekaligus pembelajaran terakhir dari Rasulullah yang terakhir.

Surat wasiat itu pastilah bisa menyatukan kita semua ke dalam sebuah ikatan padu dan kuat. Surat wasiat itu pastilah kita akan pelihara agar kita semua memiliki bukti bahwa Rasul terakhir pernah hidup bersama kita dan ia inginkan kita menjadi umatnya yang baik dan setia.

Oleh karena itu, tepat sebelum ia wafat, ia memerintahkan para sahabat terdekatnya yang sedang berada tidak jauh dari tempat pembaringannya, agar membawakan sebuah pena dan sebuah kertas dan tinta agar ia bisa mendiktekan sebuah manifesto yang bisa dijadikan rujukan agar mereka tidak akan tersesat sepeninggalnya; tidak akan tercerai berai setelahnya.

Seseorang yang sedang terbaring sakit dan akan meninggal dan masih memiliki kesempatan untuk berbicara pastilah akan memberikan wasiat pada orang-orang yang akan ditinggalkannya terlebih lagi ia seorang pemimpin; seorang Nabi yang memiliki umat yang banyak yang menjadi tanggung jawabnya untuk ia pimpin dan bimbing.

RASULULLAH PASTILAH AKAN MENINGGALKAN SEBUAH WASIAT!!!! 

AKAN TETAPI IA DIHALANG-HALANGI KETIKA HENDAK MEMBERIKAN WASIATNYA!!!

Ada sekelompok orang dari sahabat-sahabat seniornya yang  tidak mau wasiat ini tersampaikan kepada umat Islam.

Imam Bukhari menuliskan dalam volume I dari kitab Sahih-nya bahwa Umar Ibn Khattab berkata:

“Rasulullah sedang dikuasai oleh penyakitnya. Kita tidak butuh lagi yang namanya surat wasiat. Kita sudah memiliki Kitabullah dan itu cukup bagi kita semua.” (halaman 25)

LIHAT: (Detik-detik terakhir dari Nabi terakhir dan pembangkangan Umar bin Khattab terhadap pesan Nabi terakhir)

Bukhari juga menuliskan kejadian yang sama dalam Sahih-nya (volume II) sebagai berikut:

“Rasulullah bersabda: ‘Bawakan aku sebuah kertas. Akan aku tuliskan sesuatu untuk kalian yang apabila kalian berpegang teguh padanya, maka kalian tidak akan tersesat selamanya.’ Akan tetapi orang-orang yang hadir di sana pada waktu itu mulai bertengkar satu sama lainnya. Beberapa diantara mereka berkata bahwa Rasulullah sedang menceracau.” (halaman 121)

Di sini Bukhari mencoba untuk menyembunyikan identitas Umar Ibn Khattab dengan menggatikan namanya itu dengan kata-kata BEBERAPA ORANG DIANTARA MEREKA. Akan tetapi Shaikh Shihab-ud-Deen Khaffaji—seorang sejarawan Sunni—tidak mau berpura-pura atau tidak mau menutup-nutupi fakta sejarah dan ia mengatakan:

“Umar-lah yang berkata: ‘Rasulullah sedang menceracau’ (LIHAT: Nasim-ur-Riyadh, volume IV, halaman 278)

Di kalangan kaum Muslimin kata-kata “MENCERACAU” yang disematkan kepada Nabi itu sangat menghina dan sangat melecehkan sekali. Kata-kata itu mengandung arti bahwa “Nabi berbicara tanpa memakai akal”. Apakah masuk akal seorang Nabi berbicara tanpa memakai akal? Apakah masuk akal seorang Nabi tidak mendapatkan penjagaan dari Allah ketika ia hendak menyampaikan pesan terakhirnya? Padahal pesan terakhir itu adalah bagian dari kenabian. Padalah pesan terakhir itu akan melindungi umat dari ketersesatan!

Kata-kata Umar Ibn Khattab yang serampangan dan asal-asalan itu memicu pertengkaran di kalangan para sahabat yang ada di kamar Rasulullah pada waktu itu. Beberapa orang dari mereka sepakat dengan Nabi dan berkata bahwa sebaiknya mereka mematuhi Nabi dengan membawakannya selembar kertas, sebuah pena, dan tinta untuknya. Akan tetapi kebanyakan dari mereka malah sepakat dengan Umar Ibn Khattab dan mereka sepakat untuk tidak memberikan apa-apa yang diminta oleh Rasulullah itu. Sementara itu pertengkaran semakin menjadi-jadi sampai-sampai Rasulullah menjadi amat murka dan memerintahkan mereka semua untuk keluar dari kamarnya dan meninggalkannya sendirian.

Bukhari lebih jauh lagi menulis dalam kitab Sahih-nya:

“Ketika sakit Rasulullah itu semakin bertambah serius, beliau bersabda: ‘Bawakan aku kertas supaya aku bisa tuliskan sebuah wasiat yang bisa mencegahmu dari kesesatan sepeninggalku.’ Umar Ibn al-Khattab berkata, ‘Jangan. Ini adalah pembicaraan yang sia-sia. Kitabullah sudah cukup bagi kita.’ Seseorang berkata: ‘Kita harus membawakannya kertas yang diminta.’ Akhirnya terjadilah pertengkaran sehingga Rasulullah bersabda: ‘Pergilah dari sini’”

Penentangan Umar yang terus terang terhadap perintah Nabi itu tnelah memecah belah umat menjadi 2 bagian. Sejak saat itu umat terbagi kedalam dua bagian besar yang sampai sekarang trauma masih membekas di dalam ingatan umat.

Detik-detik ketika Rasulullah akan wafat meninggalkan umat adalah waktu yang sangat tepat walaupun sempit untuk mengutarakan apa yang ia hendak utarakan kepada umatnya agar mereka selamat. Akan tetapi ternyata umat menentang dirinya secara terang-terangan!!! Rasulullah tentu saja terperanjat walaupun tidak sampai terlalu kaget karena penentangan seperti itu sudah seringkali dilakukan oleh para sahabat seniornya. Itu bukan pertama kalinya para sahabat menentang dirinya. Mereka sudah melakukannya ketika mereka diperintahkan untuk berangkat dalam sebuah ekspedisi yang dinamai ekspedisi Usama oleh para sejarawan. Ekspedisi itu menelanjangi perbuatan dan sikap mereka yang menentang perintah Nabi padahal perintah Nabi ialah perintah Illahi yang padanya kita harus sami’na wa atho’na (kami dengar dan kami patuhi).

MUHAMMAD HUSAYN HAYKAL (sejarawan Sunni) MENULIS:

“Ketika itu Muhammad sedang sakit dan badannya demam. Ia menggigil di hadapan para sahabatnya yang berdiri mengelilinginya. Muhammad meminta untuk dibawakan sebuah pena dan tinta. Ia berkata bahwa ia akan mendiktekan sesuatu kepada para sahabatnya agar mereka mendapatkan manfaat darinya. Rasulullah mencoba meyakinkan mereka bahwa apabila mereka patuh dan taat pada wasiat yang akan didiktekannya, maka mereka tidak akan lagi mungkin tersesat sepeninggalnya. Beberapa sahabat yang hadir di situ menganggap bahwa Nabi sudah dikuasai oleh penyakitnya sedangkan kaum Muslimin sudah memiliki al-Qur’an bersama mereka, jadi mereka menganggap tidak perlu lagi Nabi menuliskan sesuatu untuk mereka. Orang-orang tahu bahwa pendapat itu berasal dari Umar. Orang-orang yang hadir di situ tidak semuanya sepakat dengan Umar sehingga mereka bertengkar satu sama lainnya.”

“Sebagian dari mereka ingin memenuhi kehendak Nabinya yang terkasih dengan membawakan kertas dan tinta agar Nabi bisa mendiktekan wasiatnya; sementara sebagian lagi mengikuti Umar yang berpendapat bahwa Kitabullah sudah cukup bagi mereka dan tidak perlu ada tulisan lain yang harus dipatuhi.”

“Muhammad kemudian meminta mereka untuk pergi meninggalkannya dengan berkata: ‘Kalian seharusnya tidak bertengkar di hadapanku.’Ibn Abbas khawatir kalau kaum Muslimin akan kehilangan sesuatu yang sangat berharga apabila mereka tidak membawakan alat tulis akan tetapi Umar bersikukuh atas pendiriannya yaitu hanya akan berpegang teguh pada Kitabullah saja. “Jadi akhirnya kita tidak punya wasiat berupa tulisan apapun.”” (LIHAT: Muhammad Husayn Haykal, The Life of Muhammad, Cairo, 1935)

Dalam sebuah tulisan bertajuk Iqbal and Islamic Polity (yang diterbitkan pada bulan April tahun 1964 dalam sebuah majalah bulanan Muslim News International, Karachi, Pakistan), seorang penulis kenamaan Jamiluddin Ahmad menuliskan:

“……..Pertanyaan yang menohok kaum Muslimin di berbagai negara ialah apakah hukum Islam itu mampu berevolusi atau berubah—ini adalah sebuah pertanyaan yang memerlukan kedalaman intelektual dan harus dijawab secara positif dengan mengingat dunia Islam berkembang dalam semangat Umar yang hebat. Umar adalah pemikir yang kritis dan bebas pertama dalam Islam yang memiliki kekuatan moral untuk mengutarakan kata-katanya yang terkenal: ‘Cukuplah Kitabullah bersama kita’.

Penulis di atas tampaknya sangat bangga dengan “kekuatan moral” yang dimiliki Umar Ibn Khattab yang dengan tega menapikan wasiat Rasulullah.

Padahal dalam al-Qur’an kita temukan:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebahagian kamu terhadap sebahagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari.” (QS. Al-Hujurat: 2)

RUPANYA UMAR TIDAK TAKUT AMALAN BAIKNYA AKAN TERHAPUS!!!

Muhammad al-Mustafa—Rasulullah termulia—sedang berada di pembaringannya; dan mungkin tidak memiliki banyak waktu lagi untuk hidup bersama kita. Pada saat yang penuh haru biru itulah Umar Ibn Khattab dengan lancang menunjukkan “Kekuatan Moral”-nya. Pada Perjanjian Hudaybiyah (klik di sini), Rasulullah memerintahkah Umar untuk membawakan pesan kepada kaum Qurays di kota Mekkah akan tetapi ia menolak perintah Nabi itu dengan alasan bahwa di kota Mekkah itu ia tidak memiliki seorang teman-pun yang akan melindungi dia dan oleh karena itu Umar Ibn Khattab takut dibunuh orang di sana. Ketika Perjanjian Hudaybiyah (klik juga di sini) ditandatangi, Umar menentang keputusan Rasulullah itu dengan alasan kecintaannya kepada Islam yang tidak masuk akal karena kecintaan Rasulullah terhadap Islam jelas jauh lebih besar daripada kecintaan Umar kepada Islam akan tetapi Rasulullah tetap menandatangani perjanjian itu. Dan ketika Rasulullah hendak wafat ………………. sekali lagi Umar dengan berani membangkang terhadap Rasulullah!!!

 

Wallah, ini jelas pengkhianatan!!!

Kalau Umar merasa benar dengan tindakan pembangkangannya itu, maka itu artinya ia juga yakin bahwa tindakan Nabi itu salah.Dengan kata lain Umar menganggap Nabi bertentangan dengan al-Qur’an dan oleh karena itu ia menentang Nabi dengan berkata “Cukuplah Kitabullah bersama kita”. Akan tetapi bagaimana Umar tahu bahwa tindakan Rasulullah itu akan bertentangan dengan Kitabullah???

Apabila Rasulullah dibiarkan saja untuk mendiktekan wasiatnya, maka kita akan tahu jelas apakah benar Rasulullah itu telah dikuasai oleh penyakitnya atau telah menceracau tidak jelas dan akalnya tidak cukup sehat untuk menuliskan wasiat. Seharusnya Umar bertindak bijak dengan membiarkan Nabi terkasih itu untuk menuliskan wasiatnya dulu sebelum ia berkata, “Nabi telah menceracau. Cukuplah Kitabullah bersama kita”. Tindakan Umar yang gegabah dan tergesa-gesa jelas menyiratkan bahwa ia memang tidak ingin Rasulullah menyampaikan wasiat apapun ……… tentu saja dengan alasan yang hanya Allah dan dia saja yang tahu!!!

Umar sendirilah justru yang tindakannya bertentangan dengan al-Qur’an. Lihatlah ayat berikut ini:

“Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara makruf, (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 180)

Bisa jadi Umar melanggar dan menentang perintah Nabi bukan karena takut bahwa Al-Qur’an akan ada tandingannya yang berupa tulisan Nabi, melainkan karena ia takut bahwa Nabi akan menuliskan apa-apa yang telah diutarakannya di Ghadir Khum dimana ditempat itu Nabi melantik Ali untuk menjadi pemangku wasiatnya setelah haji terakhir. Umar tidak ingin Rasulullah mewasiatkan lagi bahwa sepeninggalnya, kekuasaan itu akan beralih kepada Ali Ibn Thalib. Umar harus melakukan penjegalan itu kalau ia ingin rencananya menghalangi Ali menjadi Khalifah itu berhasil. Apabila Rasulullah sudah sampai menandatangani surat wasiat  itu yang salah satunya berupa wasiat kepemimpinan atau Imamah Ali, maka Umar tidak lagi bisa mencegah Ali untuk menjadi khalifah penerus Nabi. Dokumen resmi itu akan menjauhkan siapapun yang ingin meraih tahta kekhalifahan.

Nabi jelas tidak pernah dikuasai penyakitnya sehingga akalnya tidak berfungsi dengan baik. Nabi tidak pernah berkata ngawur atau menceracau. Nabi dilindungi dari perbuatan salah termasuk di dalamnya ialah mengeluarkan perkataan yang sia-sia. Nabi tak pernah berkata sesuai dengan hawa nafsunya. Nabi tidak pernah berkata kecuali perkataan itu diridhoi oleh Tuhan yang Esa.

إن هو إلا وحي يوحى

“Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)” (QS. An-Najm: 4)

Nabi berkata sesuai dengan wahyu Allah, Umar Ibn Khattab berkata sesuai dengan hawa nafsunya.

Tidak ada komentar: