"KEBENARAN TIDAK DITENTUKAN OLEH SEDIKIT BANYAKNYA ORANG YANG BERKATA BAHWA ITU BENAR"

Karbala Berduka

Karbala Berduka
Ya, Syahid! Ya, Madzhlum! Ya, Imam! Ya, Husein!

Selasa, 05 Maret 2013

Pertanyaan tentang hak khilafah 2: APAKAH RASULULLAH GAGAL MEMILIH KHALIFAH PENERUS BELIAU UNTUK MENJAGA RISALAH ISLAM?

Apabila Muhammad meninggal tanpa meninggalkan pengganti atau calon pengganti yang telah ia tentukan sendiri sebagai penjaga risalah Illahi, maka itu artinya sama saja dengan ia telah gagal atau lalai dalam tugas kenabiannya karena risalah yang ditinggalkan harus ada penjaganya yang ditunjuk oleh Allah dan RasulNya. Jadi barangsiapa ada yang mengatakan bahwa Rasulullah wafat tanpa sempat meninggalkan pengganti dirinya maka itu artinya sama saja dengan mengatakan bahwa Rasulullah telah meninggalkan perahu yang ditumpanginya dan meninggalkan para sahabatnya atau umatnya sendirian untuk menentukan haluan dan arah kemana perahu itu harus menuju.

Kalau Muhammad tidak menunjuk seorang pemimpin untuk menggantikan kedudukannya, maka itu sama saja halnya dengan ia tidak bijak dan tidak memikirkan umat padahal adanya pemimpin itu adalah suatu keharusan dalam sebuah masyarakat, apalagi masyarakat yang baru berkembang seperti masyarakat Islam pada waktu itu.

Rasulullah bisa saja tidak menunjuk seorang pemimpin pun kalau masyarakat Islam pada waktu itu memenuhi 3 syarat seperti berikut ini:

PERTAMA : Setiap kaum Muslimin sudah cerdas, bijaksana, takut pada Allah, dan mencintai Allah dengan tulus. Masing-masing dari mereka harus juga memiliki pengetahuan yang sempurna dan bisa mentafsirkan Al-Qur’an dengan baik. Juga masyarakat Muslim itu harus memilik kualitas yang setara dalam keimanannya sehingga tidak mungkin lagi setan itu bisa menggoda atau menyesatkan kaum Muslimin ketika mereka hendak memilih calon pemimpin yang ia akan jadikan pemimpin. Rasulullah akan merasa tenang dan meninggalkan permasalahan pemilihan pemimpin ini kepada umat karena umat dinilai sudah mampu untuk memilih pemimpin yang pantas bagi mereka untuk menggantikan kedudukan Nabi. Ingat! Yang akan digantikan oleh pemimpin baru itu ialah seorang Nabi! Jadi yang dipilih pun harus memiliki kualitas dan kapasitas yang tidak jauh dari seorang Nabi. Rasulullah tidak perlu lagi berwasiat (KLIK: lihat tentang wasiat Rasulullah) karena siapapun yang akan terpilih pastinya akan menjadi pemimpin yang tepat. Dan apabila ia nantinya menjadi pemimpin, maka pemerintahan kota Madinah dan masyarakat kota Madinah yang beriman dan bertakwa bisa diserahkan kepadanya dan kita tidak usah khawatir lagi karenanya.

Akan tetapi yang demikian itu tidak pernah terjadi dan takkan mungkin terjadi karena (bahkan!) tidak ada dua individu yang sama identik dengan kemampuan yang setara; tidak ada dua individu yang memiliki karakter dan temperamen yang sama. Muhammad tahu bahwa bangsa Arab yang sudah memeluk Islam tidak semuanya menjadi orang-orang Islam yang tulus dan ikhlas. Banyak sekali diantara mereka yang sangat munafik dan memeluk Islam asal-asalan saja. Kaum munafik ini ditenggarai juga oleh Al-Qur’an. Mereka mengenakan pakaian Islam di luar; akan tetapi di dalam hati mereka mereka masih meyakini paganisme atau penyembahan berhala. Mereka menjadi duri dalam daging. Mereka musuh Muhammad; musuh Islam dan musuh negara Islam yang ditegakkan oleh Muhammad. Mereka membentuk aliansi paganisme di kota Madinah dan sewaktu-waktu akan merampas kesempatan sekecil apapun untuk menghancurkan Islam. Apabila Muhammad meninggalkan kota Madinah itu tanpa meninggalkan seorang wakilnya untuk memimpin kota itu, maka itu artinya sama saja dengan memberikan peluang kepada kaum Musyrikin itu untuk mengambil alih kembali kota Madinah. Dan mereka akan menghancurkan fondasi Islam atau paling tidak mengubahnya agar sesuai dengan keinginan mereka sendiri.

Muhammad tahu betul itu. Dan ketika ia akan meninggal; ketika ia masih memiliki kesempatan untuk berwasiat; ketika ia masih memiliki waktu yang lumayan banyak untuk memberikan wejangan terakhir, maka ia gunakan waktu yang cukup luang itu untuk mewanti-wanti bahwa penggantinya kelak adalah orang yang telah ia tunjuk dulu dan sudah diketahui banyak orang sebelumnya. Muhammad tidak bisa begitu saja meninggalkan pemerintahan yang sudah ia bina—pemerintahan Langit dan Bumi. Muhammad tidak bisa menyerahkan pemerintahan luar biasa itu ke tangan orang biasa; ke tangan orang yang suka bertualang memenuhi ambisi pribadinya.

KEDUA : Pemerintahan Islam itu bisa saja diberikan kepada siapapun pengelolaannya kalau Muhammad tidak cinta Islam. Pemerintahan Islam akan diberikan kepada siapapun kalau Muhammad itu hanyalah seorang yang dikuasai oleh ambisi sesaat yang ketika ia hendak wafat, ia tidak ada keinginan lagi untuk memimpin dan ia tidak peduli siapa lagi yang akan memimpin umat yang sudah ia pimpin sebelumnya. Dan ini tentu saja tidak mungkin.

Membayangkan Muhammad tidak mencintai Islam adalah perkara yang sangat mengerikan. Kita bayangkan saja. Untuk menyebarkan Islam ia harus rela disiksa di kota Mekah. Ia dikucilkan dan diboykot lalu di tahan sebuah lembah bersama keluarganya satu suku. Lalu ketika ia berada di kota Madinah, Muhammad bahkan berkorban jauh lebih banyak lagi. Ia harus rela kehilangan dua orang pamannya; tiga orang sepupunya; dua orang anak angkatnya; dan seorang saudara angkatnya serta ratusan sahabat yang terbunuh dalam peperangan untuk mempertahankan Islam.

Pada akhirnya, Muhammad berhasil juga menjadi pemimpin kota Madinah dan berdaulat di sana akan tetapi ini sama sekali tidak mengubah prilaku dan kepribadiannya yang bersahaja dan sangat sederhana. Tak ada satupun jejak kegermelapan dan kebiasaan hedonis yang pernah dilakukannya. Banyak sekali rakyat yang miskin papa dan Muhammad-lah yang memberikan mereka makan dan penghidupan. Muhammad malah seringkali memberikan jatah makannya untuk orang lain hingga ia dan keluarganya sendiri yang kelaparan. Ia mendahulukan orang lain yang menurutnya jauh lebih membutuhkan daripada dirinya sendiri. Ini berlangsung selama bertahun-tahun hingga beliau wafat. Ini dilakukannya semata-mata untuk tegaknya agama Islam di bumi ini.

Di kota Mekah, orang-orang Qurays sudah pernah menawarkan kekuasaan kepada Muhammad; disertai dengan kekayaan dan wanita cantik apabila ia mau menanggalkan misinya sebagai Nabi. Akan tetapi ia menolak itu semua. Ternyata ambisi duniawi tidak ada sama sekali pada dirinya. Mungkin ia memang tidak pernah memiliki ambisi apapun dalam dirinya selain ambisi suci untuk menegakkan agama—menjadikan masyarakat menjadi individu yang lebih baik dan berkualitas. Ia berambisi untuk menyebarkan Islam sebagai agama sepanjang masa untuk umat manusia sepanjang masa.

KETIGA : Muhammad tidak akan menunjuk pengganti atau penerus untuk dirinya kalau ia merasa takut akan adanya saingan atau adanya penantang kebijakan yang telah ia buat. Akan tetapi sejarah membuktikan bahwa Muhammad sama sekali tidak pernah mengenal rasa takut sedikitpun. Ia menentang kaum Musyrikin seorang diri ketika ia mengenalkan Islam pertamakali dan seluruh dunia seolah-olah memusuhi dia. Kaum Musyrikin mencegah dakwahnya dengan segenap tenaga dan kekuasaan akan tetapi mereka gagal berantakan. Muhammad menggagalkan semua rencana dan daya mereka dengan segenap keberanian yang dimilikinya.

Ada sekitar 2 kali dalam 5 kali peperangan demi Islam, kaum Muslimin dapat dikalahkan oleh pasukan Musyrikin dan kaum Muslimin banyak yang pergi melarikan diri akan tetapi Muhammad tetap berdiri di medan perang dan tidak bergeming sama sekali. Ia tidak ikut melarikan diri. Dengan tegaknya Muhammad dalam peperangan, kaum Muslimin yang tadinya melarikan diri banyak juga yang kembali ke dalam peperangan dan ikut berperang mempertahankan diri mereka dan Nabinya.

Setelah peperangan Hunayn berakhir, seluruh jazirah Arabia bertekuk lutut di kaki Muhammad dan tidak ada satu sukupun atau tidak ada satu kelompok sukupun yang berani untuk berdiri menantangnya. Kekuatan Muhammad di jazirah Arab sama sekali tidak ada yang menandingi. Jadi mustahil Muhammad takut untuk menunjuk satu orang untuk menggantikan kedudukannya sebagai pemangku kota Madinah dan memimpin umat ini dan menjaga risalah Islam ini. Muhammad tidak takut akan adanya saingan sama sekali.

JADI RASULULLAH SAMA SEKALI TIDAK GAGAL.

IA BERHASIL MEMILIH PENERUSNYA.

AKAN TETAPI PENERUS YANG DIPILIH OLEH RASULULLAH (dengan petunjuk Allah) BUKANLAH PENERUS YANG KEMUDIAN MEMIMPIN UMAT SETELAH KEPERGIANNYA.

Tidak ada komentar: