"KEBENARAN TIDAK DITENTUKAN OLEH SEDIKIT BANYAKNYA ORANG YANG BERKATA BAHWA ITU BENAR"

Karbala Berduka

Karbala Berduka
Ya, Syahid! Ya, Madzhlum! Ya, Imam! Ya, Husein!

Selasa, 08 April 2014

(FREE E-BOOK) Biarkan Hadits Nabi dan Ayat suci Qur’ani berkata jujur tentang Para Sahabat Nabi

 

KLIK SAJA GAMBAR SAMPUL E-BOOK DI BAWAH INI UNTUK MEN-DOWNLOAD

Biarkan ayat suci qur'ani dan hadits nabi berkata jujur tentang para sahabat nabi
Sikap berlebihan dalam memuja dan memuji para sahabat Nabi dapat membutakan pikiran dan menyesatkan kita dari petunjuk kebenaran. Mengapa bisa begitu? Karena para sahabat Nabi—siapapun dia—adalah orang-orang yang tidak pernah mendapatkan jaminan kema’shuman (keterjagaan dari berbuat dosa) dari Allah. Kalau ada jaminan tentang kesalehan dan kejujuran para sahabat, maka itu datangnya dari saudara-saudara kita dari kelompok Ahlu Sunnah wal Jama’ah dan bukan dari Allah Ta’ala.
Ketika kita mengikuti orang yang tidak ma’shum, maka kemungkinan kita akan tersesat dan jauh dari petunjuk itu sama besarnya dengan kemungkinan untuk mendapatkan petunjuk. Jadi peluangnya hanya 50 persen saja. Itu mirip-mirip perjudian, padahal hidup kita dan mati kita tergantung dari petunjuk yang kita ikuti.
Mengikuti teladan para sahabat Nabi tentu saja tidak salah. Akan tetapi menganggap mereka seperti malaikat; menganggap mereka semua jujur dan adil dan takkan mungkin berbuat salah adalah sebuah kesalahan dan sikap yang keterlaluan.
Para sahabat Nabi—seperti dalam sejarah—terbukti sama saja dengan manusia lainnya. Mereka banyak yang berbuat salah dan sebagian malah berbuat terlalu salah. Sebagian lain suka menyakiti Nabi. Sebagian yang lain suka menyembunyikan keyakinan asli mereka yang bertentangan dengan Islam sampai Nabi pun tidak tahu bahwa mereka itu orang-orang munafik. Kita tahu bahwa seorang sahabat Nabi itu pantas kita ikuti atau tidak dengan melihat track record atau sejarah hidup mereka. Oleh karena itu, pembahasan tentang para sahabat mana yang jujur dan mana yang pendusta; mana yang saleh dan mana yang salah; mana yang amanat dan mana yang khianat, menjadi sangat diperlukan.
Kita menerima Islam lewat para sahabat Nabi. Kita menerima Islam lewat hadits-hadits yang direkam dalam ingatan dan dituliskan lewat buku-buku dan lembaran lainnya oleh para sahabat Nabi. Kalau sahabat yang kita teladani itu kebetulan sahabat Nabi yang setia dan patuh serta taat kepada Rasulullah, maka kita kemungkinan akan mendapatkan petunjuk yang benar. Akan tetapi kalau kita mendapatkan Islam lewat seorang sahabat Nabi yang khianat, maka kita hanya akan mendapatkan Islam yang palsu. Islam yang tidak murni karena mungkin sudah diubah-ubah oleh sahabat yang khianat itu dengan alasan yang hanya dia dan Allah yang tahu.
Walhasil, untuk mendapatkan Islam yang murni; Islam yang sejati; Islam yang persis seperti yang diajarkan Allah kepada Nabi, kita harus meneliti para sahabat Nabi yang menyampaikan Islam itu kepada kita. Ilmu Hadits sudah melakukan itu dengan sistem “Al-Jarh wa-Ta’dil”, jadi adalah sangat dianjurkan kalau kita memiliki sikap kritis kepada para sahabat Nabi demi untuk mendapatkan Islam yang suci.
Wallahu ‘alam.







Tidak ada komentar: