"KEBENARAN TIDAK DITENTUKAN OLEH SEDIKIT BANYAKNYA ORANG YANG BERKATA BAHWA ITU BENAR"

Karbala Berduka

Karbala Berduka
Ya, Syahid! Ya, Madzhlum! Ya, Imam! Ya, Husein!

Rabu, 26 Agustus 2015

((EXCLUSIVE) Free Download E-book) Dialog di fB bersama ustadz Wahabi tentang 12 Imam sepeninggal Nabi

KLIK SAJA SAMPULNYA UNTUK MENDOWNLOAD

 Dialog di fB bersama ustadz wahabi tentang 12 imam sepeninggal nabi


الذين يستمعون القول فيتبعون أحسنه أولئك الذين هداهم الله وأولئك هم أولوا الألباب

“Mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.” (QS. Az-Zumar: 18)

Dialog itu perlu. Dengan dialog sebuah pemahaman bisa disebarkan. Dengan dialog sebuah pemahaman yang masih mentah dan lemah bisa menjadi matang dan kuat karena akan mengalami proses penguatan dengan berbagai referensi yang sebelumnya belum pernah terpikirkan. Dialog bisa mengembangkan pemikiran. Tapi itu dialog yang sehat. Dialog yang tidak sehat lain lagi perkaranya. Dialog yang sehat terlebih dahulu harus diberi tanda kutip. Dialog yang dipaksakan oleh kaum parsialis, kaum intoleran, kaum anti pluralism, adalah monolog yang diganti namanya. Kita sebut monolog karena dialog berjalan searah. Mereka mendudukan kita dalam posisi yang lemah dan tertindas. Mereka mendudukan kita di kursi terdakwa yang harus mengaku salah. Dan di akhir “dialog”, kita harus dianggap salah, sesat dan menyesatkan dan dipaksa untuk bertaubat (baca = mengikuti kata mereka; mengikuti paham mereka).

Dialog yang ada di dalam buku ini bermula dari sebuah pertanyaan tentang sebuah (lebih tepatnya belasan buah) hadits tentang “Siapakah 12 Imam” yang ada di dalam hadits-hadits Ahlu Sunnah. Saya mengharapkan bahwa yang memberikan tanggapan adalah orang yang benar-benar berilmu sehingga bisa memberikan saya sedikit ilmu untuk saya amalkan di dalam hidup saya. Tapi untuk kesekian kalinya saya kecewa. Yang memberikan tanggapan memang berilmu tapi tidak cukup lapang dada untuk menerima bahwa dirinya tidak tahu apa-apa.

Dialog sendiri terhenti karena yang berdialog dengan saya memutuskan tali silaturahim dengan memblok facebook saya. Dialog dibiarkan mengambang tanpa kepastian ……………..


Tidak ada komentar: