"KEBENARAN TIDAK DITENTUKAN OLEH SEDIKIT BANYAKNYA ORANG YANG BERKATA BAHWA ITU BENAR"

Karbala Berduka

Karbala Berduka
Ya, Syahid! Ya, Madzhlum! Ya, Imam! Ya, Husein!

Senin, 04 April 2016

(E-BOOK GRATIS) Mengapa isteri-isteri Rasulullah disebut sebagai Ummul Mukminin

DOWNLOAD E-BOOK (GRATIS):




Salah satu hal yang selalu dikatakan oleh saudara-saudara kita dari kalangan Ahlu Sunnah (Sunni) untuk membela ‘Aisyah habis-habisan ialah bahwa ‘Aisyah itu disebut sebagai salah seorang Ummul Mukminin atau ibu kaum beriman. Bahkan Al-Qur’an sendiri telah berkata bahwa memang para isteri Rasulullah itu adalah termasuk “Ibu-ibu kaum beriman”. Akan tetapi marilah kita bicarakan beberapa poin di bawah ini:

1. Andaikan, misalnya, anda itu seorang yang beriman. Maka sudah barang tentu orang-orang akan menyebut ibu anda sebagai “Ibu orang yang beriman.” Lalu apakah itu artinya bahwa ibu anda juga seorang yang beriman? Tentu saja tidak! Ia hanya menjadi seorang ibu dari seorang anak yang beriman. Dengan menjadi seorang ibu dari orang yang beriman itu belum tentu menjadikan dirinya sebagai seorang ibu yang  beriman. Alasan yang sama atau logika yang sama bisa dipakai kepada julukan “Ummul Mukminin.” “Ibu-ibu dari kaum mukminin” belum tentu menjadi mukminin sendirinya.

2. Kitab-kitab kumpulan hadits yang beredar di kalangan Ahlu Sunnah  (Sunni) senantiasa dipenuhi oleh hadits-hadits yang disampaikan oleh Ummul Mukminin ‘Aisyah. Sedangkan Rasulullah itu memiliki banyak isteri dan semua isterinya itu juga memiliki gelaran “Ummul Mukminin”. Diantara isteri-isteri Rasulullah itu ada yang memiliki keshalehan dan ketakwaan yang tinggi seperti Ummu Salamah dan Ummu ‘Ayman, misalnya. 

Akan tetapi sayang sekali hadits-hadits yang disampaikan oleh mereka itu tidak banyak dituliskan di dalam kitab-kitab hadits Ahlu Sunnah dalam kitab Sihah Sittah (tidak sampai 5% nya dari hadits-hadits yang disampaikan oleh ‘Aisyah sendirian). Jadi meskipun isteri-isteri Rasulullah yang lain pula memiliki hak yang sama untuk mendapatkan gelar Ummul Mukminin dan dihormati secara adil oleh kaum Muslimin, akan tetapi saudara kita dari kalangan Ahlu Sunnah sama sekali tidak mempedulikan hal ini. Hadits-hadits yang disampaikan oleh ‘Aisyah dihormati setinggi langit dan dikumpulkan sehingga jumlahnya sangat banyak sekali. Sementara hadits-hadits yang melewati para isteri Rasulullah yang lain kurang mendapatkan penghormatan yang layak dan semestinya. Apakah karena ‘Aisyah itu anaknya Abu Bakar, sehingga ia mendapatkan perlakuan yang istimewa dari saudara kita dari Ahlu Sunnah? Atau apakah karena ‘Aisyah itu telah menentang Imam Ali dan hendak membunuh Imam Ali  sehingga ‘Aisyah lebih dihormati dan diagung-agungkan oleh saudara kita dari Sunni?

3. Menurut Islam, seseorang yang beriman haruslah menghormati ibunya. Akan tetapi kalau si ibu itu sendiri menentang aturan dan ajaran yang sudah diberikan oleh Rasulullah: apabila seorang ibu itu telah menghasut orang-orang; kemudian memimpin sebuah pemberontakan  terhadap pemimpin yang hak; membunuhi orang-orang tak berdosa, maka agama Islam memerintahkan umatnya untuk memisahkan diri dari seorang ibu yang demikian. Malahan kita TIDAK BOLEH mempercayai dan mengikuti si ibu itu apabila si ibu itu menyampaikan hadits-hadits dari Nabi, walaupun jumlah haditsya itu banyak sekali. Umat Islam tidak boleh mengikuti orang yang telah menyalahi ajaran Islam.

4. Lalu mengapa Allah masih memberikan gelaran “Ibu dari kaum beriman”, walaupun si ibu itu misalnya menentang ajaran Islam? Allah memberikan gelaran “Ibu kaum beriman” (Ummul Mukminin) supaya orang-orang tidak menikahi mereka setelah Rasulullah meninggal dunia. Bukankah seorang anak itu tidak boleh menikahi ibunya sendiri?

Apabila Allah tidak memberikan gelaran ini kepada janda-janda Rasulullah, maka orang-orang yang memiliki kedudukan tinggi dan memiliki pengaruh yang kuat di masyarakat pada waktu itu, mungkin merasa cukup layak untuk menikahi janda-janda dari Rasulullah ini. Dan apabila mereka menikah, maka ada kemungkinan mereka menghasilkan anak-anak. Dan kemungkinan besar banyak orang yang menyangka bahwa “anak-anak” ini bagian dari Ahlul Bayt Nabi (padahal bukan sama sekali). Kemungkinan terburuk ialah anak-anak itu bisa saja kemudian mengaku dirinya sebagai putera-putera Rasulullah atau keturunan-keturunan Rasulullah yang apabila diyakini bisa berakibat buruk karena umat Islam mungkin akan mematuhi mereka padahal ada kemungkinan mereka berlaku buruk di masyarakat. Oleh karena itu, Allah memberikan gelaran “Ibu kaum beriman” (Ummul Mukminin) untuk mencegah orang-orang menikahi mereka setelah Rasulullah meninggal dunia.

Tidak ada komentar: