"KEBENARAN TIDAK DITENTUKAN OLEH SEDIKIT BANYAKNYA ORANG YANG BERKATA BAHWA ITU BENAR"

Karbala Berduka

Karbala Berduka
Ya, Syahid! Ya, Madzhlum! Ya, Imam! Ya, Husein!

Rabu, 04 Mei 2016

(Free E-Book to download) PERANG SIFFIN, perang saudara antara kaum Muslimin

I
Perang Siffin
Untuk mencegah Mu’awiyah melancarkan peperangan terhadap kaum Muslimin, Imam Ali menggunakan argumen yang sama yang ia pernah gunakan ketika membujuk ‘Aisyah, Thalhah, dan Zubayr agar mereka tidak memerangi kaum Muslimin meskipun mereka tetap saja ngotot untuk berperang dan akhirnya perang Unta[1] terjadi juga. Sama halnya dengan perang Unta, perang antara Imam Ali dan Mu’awiyah ini akhirnya terjadi juga meskipun Imam Ali sudah membujuk Mu’awiyah agar tidak berperang. Di mata musuh Imam Imam Ali, perdamaian itu hanyalah akan menambah masalah kepada masalah-masalah yang sedang dihadapi oleh umat Islam. Mereka hanya melihat sebuah jawaban atau pemecahan dari masalah itu yaitu melalui peperangan.

Kali ini, Imam Ali dihadapkan dengan seorang musuh yang jauh lebih licin, cerdik, kejam, jahat dan jauh lebih berbahaya dibandingkan tiga orang musuhnya yang terdahulu (‘Aisyah, Thalhah, dan Zubayr). Malahan apabila dibandingkan ‘Aisyah, Thalhah, dan Zubayr itu tidak ada apa-apanya dibanding dengan Mu’awiyah.

Di kota Basrah, kelompok pemberontak yang ada di dalam perang Unta (perang antara para sahabat Nabi yang dikobarkan oleh ‘Aisyah) ini terdiri dari kelompok yang memiliki kepentingan yang berbeda-beda akan tetapi dipersatukan dengan satu kesamaan yaitu kebencian terhadap Imam Ali. Tujuan atau kepentingan mereka tidak sama dan tidak bisa dipersatukan. ‘Aisyah memerangi Imam Ali dengan tujuan bahwa ia kelak bisa mengusung keponakannya yaitu Abdullah bin Zubayr ke tampuk kekuasaan kekhalifahan. Akan tetapi Thalhah dan Zubayr tidak memiliki tujuan yang sama dengan ‘Aisyah. Mereka berdua juga menginginkan tampuk kekhalifahan itu bagi mereka sendiri (meskipun Zubayr adalah ayah dari Abdullah bin Zubayr—keponakan ‘Aisyah). Itu menjadikan koalisi yang mereka bangun menjadi rapuh dan tidak bisa menjadi suatu kekuatan yang satu dan solid seperti yang diinginkan oleh para pengikutnya.

Kelompok tiga serangkai kota Basrah (‘Aisyah, Thalhah, Zubayr) dipusingkan oleh tujuan dan impian mereka yang berbeda-beda sedangkan Mu’awiyah tidak sama sekali. Mu’awiyah mencari nasehat dari penasehatnya yang sangat licik yaitu Amr bin Aas dan kawan-kawan. Akan tetapi Mu’awiyah sendiri yang akhirnya memutuskan segala sesuatunya.

Imam Ali sendiri sedang berusaha sekuat tenaga untuk mempersatukan umat Muhammad. Persatuan umat Muhammad sedang dilanda kekacauan dan ketegangan, dan ia ingin mempersatukan umat Muhammad itu seperti dulu di bawah kepemimpinan sepupunya itu. Di sisi lain, musuh Imam Ali sama sekali tidak peduli. Ia tidak peduli umat Muhammad bertikai dan berselisih. Ia tidak peduli umat Muhammad kacau balau dan hancur. Tujuan mereka malah menghancurkan umat Muhammad dan kemudian menguasai mereka di bawah kaki kekuasaannya.
Pada musim semi tahun 657, Mu’awiyah meninggalkan kota Damaskus bersama pasukannya untuk memperluas perang ke wilayah Irak. Ia melintasi daerah perbatasan dan kemudian ia berhenti di sebuah desa yang disebut dengan Siffin—Siffin terletak di tepian sungai Efrat. Yang mula-mula ia lakukan pada waktu itu ialah menguasai mata air untuk kepentingannya sendiri.

Demi mendengar kabar tentang pergerakan tentara Syria (tentaranya Mu’awiyah), Imam Ali menunjuk Aqaba Ibn Amr Ansari sebagai gubernur kota Kufah. Setelah itu Imam Ali memanggil Abdullah Ibn Abbas dari kota Basrah untuk menemaninya. Kemudian mereka meninggalkan kota Kufah bersama pasukannya ke desa Siffin pada bulan April 657. “Sebanyak 70 orang veteran perang Badar dan sebanyak 250 orang sahabat Nabi yang pernah berbai’at di bawah pohon merangsek maju di bawah panji Imam Ali. Mereka berjalan di tepian sungai Efrat menuju desa Siffin.” (LIHAT: Mustadrak, vol 3).



[1] Perang antara keluarga Abu Bakar (‘Aisyah binti Abu Bakar—puteri Abu Bakar, Thalhah bin Ubaydillah—sepupu Abu Bakar, Zubayr bin Awwam—menantu Abu Bakar, Abdullah bin Zubayr—cucu Abu Bakar, dll) melawan keluarga Nabi Muhammad (Ali bin Abi Thalib—sepupu Nabi, Hasan dan Husain—cucu Nabi, dll). Untung perang dimenangkan oleh keluarga Nabi Muhammad, karena kalau dimenangkan keluarga Abu Bakar, maka itu akhir dari Islam itu sendiri. Islam akan hilang sebagai agama para Nabi.

Tidak ada komentar: