"KEBENARAN TIDAK DITENTUKAN OLEH SEDIKIT BANYAKNYA ORANG YANG BERKATA BAHWA ITU BENAR"

Karbala Berduka

Karbala Berduka
Ya, Syahid! Ya, Madzhlum! Ya, Imam! Ya, Husein!

Senin, 24 April 2017

SERIAL UMAR BIN KHATTAB (episode 1)

Umar bin Khattab, Sang Khalifah

Pada jaman jahiliyyah, Umar bekerja sebagai seorang agen pedagang. Shibli—seorang ahli biografi—menuturkan bahwa pada masa mudanya, Umar bekerja menggembalakan unta-unta. Sebelum Umar memeluk Islam, Umar adalah seorang musuh Nabi Muhammad yang sangat sengit permusuhannya. 

Ketika Rasulullah menyebarkan dakwah Islamnya, banyak sekali orang yang mengenalinya sebagai seorang utusan Tuhan. Umar sendiri baru menganggap Muhammad sebagai Rasulullah setelah 6 tahun Muhammad (SAW) mengemban misi dakwahnya.

Ada beberapa gelintir sejarawan yang mengatakan bahwa Umar itu adalah seseorang yang sangat kuat dan berpengaruh di masanya dan ketika ia memeluk Islam maka para penyembah berhala pun merasa takut dan terancam nyawanya. Akan tetapi ini tampaknya hanya mitos saja yang bertolak belakang dengan fakta-fakta sejarah yang ada dan sangat kuat.

Ketika Umar masuk Islam, para penyembah berhala itu tetap saja tidak masuk Islam dan tidak merasa harus masuk Islam. Tidak ada yang berubah. Malah Nabi Muhammad sendiri yang harus terusir dari rumahnya. Beliau dengan sanak keluarganya dari klan Bani Hasyim, diasingkan di sebuah lembah (yang dikenal dalam sejarah sebagai Lembah Abu Thalib, Syi’ib Abu Thalib). Tiga tahun lamanya Rasulullah beserta klan Banu Hasyim (yang pada waktu itu tidak semau menganut Islam) menghabiskan waktu kurang lebih 3 tahun lamanya dalam lembah pengasingan itu. Selama kurun waktu tersebut, nyawa Rasulullah sangat terancam setiap siang dan malam.

Selama kurun waktu yang hampir sama dengan 1000 hari itu, Umar bin Khattab—beserta kaum Muslimin lainnya yang ada di kota Makkah—sama sekali tidak berbuat apa-apa. Tidak menolong dan tidak mengulurkan bantuan sedikitpun. Hanya menyaksikan berbagai kejadian pahit yang dialami dan yang bakal terjadi pada tuannya itu dari kejauhan.

Umar—juga Abu Bakar dan kaum Muslimin awal lainnya—tidak mencoba untuk mengakhiri penderitaan Rasulullah dan klan Bani Hasyim. (LIHAT: KETIKA NABI DITOLONG 5 ORANG NASRANI, DIMANAKAH GERANGAN PARA SAHABAT NABI? (Peristiwa di Syi’b Abu Thalib)—red)

Muhammad al-Mustafa (SAW) mempersaudarakan kaum Muslimin yang berasal dari kota Madinah dan kota Mekah.  Di kota Mekah, Umar “dipersaudarakan” dengan Abu Bakar. Sementara ketika di Madinah, Umar “dipersaudarakan” dengan Utban bin Malik. Sementara itu, Rasulullah (SAW) memilih Ali bin Abi Thalib untuk “dipersaudarakan” dengan dirinya sendiri baik di kota Mekah maupun di kota Madinah.

Pada tahun 3H, puteri dari Umar bin Khattab dinikahkan kepada Rasulullah (SAW).
Umar bin Khattab menurut sejarah yang sangat dipercaya, selalu menjadi orang yang melarikan diri dari peperangan. Ia melarikan diri dari Perang Uhud (Lihat: Baladzuri). Umar sendiri bahkan yang berkata bahwa ia memang melarikan diri dari perang itu. Dalam Kitab Dzurul Mantsur karya Jalaluddin As-Suyuti (sejarawan Sunni), ia disebutkan pernah berkata:

“Ketika kaum Muslimin kalah di Perang Uhud, aku lari ke gunung.”

Dalam peristiwa Perang Khaybar dimana kaum Muslimin mengepung benteng Khaybar, Umar ingin melakukan upaya heroik dengan menyerang benteng Khaybar itu, akan tetapi ia gagal total.
Umar juga termasuk dari begitu banyak sahabat Nabi yang melarikan diri dari Perang Hunayn. Abu Qatadah—salah seorang sahabat Nabi—berkata:

“Di Hunayn, ketika pasukan Muslimin melarikan diri, aku juga ikut melarikan diri. Dan aku lihat Umar bersama yang lainnya juga.”
(LIHAT: Bukhari dan Kitabul-Maghazi).

Pada tahun 8H, Rasulullah (SAW) mengutus Umar sebagai seorang prajurit bersama para prajurit lainnya di bawah kepemimpinan Amr bin Aas untuk pergi dalam sebuah misi dakwah ke Dhatus Salasil.

Sementara pada tahun 11H, Rasulullah (SAW) membentuk sebuah ekspedisi ke Syria dan beliau (SAW) menunjuk Usama bin Zayd bin Haritsa sebagai jenderal pasukan. Rasulullah (SAW) memerintahkan Umar bin Khattab untuk menjadi seorang prajurit biasa saja di dalam pasukan yang dipimpin oleh Usamah yang masih sangat belia itu.[1]

Meskipun Umar sudah menghabiskan waktu lebih dari 18 tahun lamanya bersama Muhammad al-Mustafa (SAW), tampaknya Muhammad al-Mustafa (SAW) tidak pernah menunjuknya untuk sebuah jabatan yang sangat penting di masa hidupnya—baik itu jabatan di pemerintahan sipil, apalagi jabatan penting di militer.
Ketika Rasulullah (SAW) sedang terbaring sakit dan menjelang wafatnya, Rasulullah (SAW) memerintahkan para sahabatnya untuk membawakannya sebuah pena dan tinta serta selembar kertas agar beliau bisa mendiktekan surat wasiatnya; akan tetapi pada waktu itu Umar mencegah hal itu agar tidak terjadi. Umar tidak membiarkan Rasulullah mendiktekan wasiat terakhirnya[2].

Pada upacara pemakaman Rasulullah (SAW) yang mulia, Umar bin Khattab sama sekali tidak tampak batang hidungnya. Ia memilih untuk bertarung melawan kaum Ansar (yang tentu saja Muslim) di sebuah balairung yang bernama Saqifah. Ketika pertikaian memperebutkan kekhalifahan itu berlangsung, Rasulullah (SAW) sedang dimakamkan oleh para keluarga terdekat dan para sahabat lainnya yang jauh lebih setia.

Umar bersama Abu Bakar sedang memperebutkan jabatan khalifah. Umar menjadi KING-MAKER atau CALIPH-MAKER untuk Abu Bakar. Ketika Abu Bakar memerintah inilah Umar menjadi penasihat utamanya.

Kaum Bani Umayyah itu sejak dulu menjadi musuh abadi dari keluarga Rasulullah (SAW) yaitu keluarga Bani Hasyim. Mereka sejak dulu menjadi para penyembah berhala. Muhammad (SAW) berhasil melumpuhkan kekuatan Bani Umayyah ini akan tetapi pada masa pemerintahan Umar, Umar menghidupkan kembali kekuatan Bani Umayyah ini. Sebagai pemerintah yang mendapatkan kekuasaannya dari hasil pertikaian di Saqifah, Umar mengembalikan kekuasaan-kekuasaan Bani Umayyah. Ia memberikan kekuasaan atas wilayah Syria kepada kelompok Bani Umayyah. Umar menjadikan keluarga Bani Umayyah sebagai keluarga pertama yang memiliki kekuasaan kerajaan.  

Seorang pelajar sejarah di masa sekarang ini mungkin saja sudah menemukan alasan-alasan yang bisa dijadikan untuk membela tingkah laku para sahabat Rasulullah (SAW) di masa lampau yang sangat membingungkan dan sangat mengherankan kita. Seorang mahasiswa jurusan sejarah bisa dengan jelas juga melihat pertikaian antara realita sejarah yang kuat dan jelas dengan khayalan tentan kesempurnaan akhlak para sahabat Nabi. Perbedaannya terasa sangat mencolok.

Apabila ia—sebagai mahasiswa yang sedang mempelajari sejarah Islam—menginginkan kebenaran di balik cerita-cerita itu, maka ia mau tidak mau harus mengesampingkan kisah-kisah yang menyanjung-nyanjung para sahabat itu dan lebih memfokuskan diri pada fakta dan data sejarah yang lebih ilmiah dan condong pada kebenaran. 

Serial 2: Peristiwa-peristiwa penting pada masa rezim pemerintahan Umar
Serial 3: Kebijakan Pemerintahan Umar untuk kaum Sipil dan Militer
Serial 4 : Penaklukan yang dilakukan oleh bangsa Arab
Serial 5 : Apakah agama berperan dalam sejumlah ekspansi wilayah?
Serial 6 : Hari-hari terakhir dari kehidupan Umar bin Khattab



[1] Rupanya usia Umar bin Khattab sama sekali tidak menjadi keutamaan yang bisa menjadikan dirinya untuk memperoleh jabatan yang lebih tinggi (pen.).
[2] Padahal kalau ada narapidana mati yang hendak menjalani hukuman mati, ia diberikan haknya untuk meninggalkan wasiat kepada yang akan ditinggalkannya. Ini bukan narapidana, ini Rasulullah yang mulia, akan tetapi Umar menghalangi orang yang teramat mulia ini agar tidak berwasiat pada yang ditinggalkannya (pen.).

Tidak ada komentar: