"KEBENARAN TIDAK DITENTUKAN OLEH SEDIKIT BANYAKNYA ORANG YANG BERKATA BAHWA ITU BENAR"

Karbala Berduka

Karbala Berduka
Ya, Syahid! Ya, Madzhlum! Ya, Imam! Ya, Husein!

Sabtu, 29 Januari 2011

(serial Timun Laut episode 18) TIMUN DALAM WAWANCARA TV


(Serial Delapanbelas) TIMUN DALAM WAWANCARA TV


Timun pernah dipanggil oleh Parahyangan TV--stasiun televisi lokal dengan muatan lokal yang sangat melimpah. Seringkali stasiun televisi itu menayangkan acara-acara yang bernuansakan budaya lokal dengan sangat kental. TV itu tidak risih menayangkan semua itu meski hampir semua stasiun televisi lain, baik yang lokal apalagi yang nasional, rame-rame berlomba-lomba menjadi menjadi agen-agen perubahan sosial yang menawarkan budaya asing sebagai budaya alternatif menggantikan budaya lokal yang belum sepenuhnya mengakar di dalam jiwa-jiwa generasi muda kita. Itu semua menjadikan generasi kita kehilangan jati diri yang akut. Tingkah amrik dengan wajah melayu.

Timun ada di ruangan tunggu dengan hati--tepatnya sih jantung--berdebar-debar kencang. Maklum ia belum pernah tampil di depan televisi sebelumnya; apalagi menjadi pembicara tamu yang setiap kata-katanya itu akan direkam dan ditayangkan ke seluruh pelosok pasundan, ditonton dan didengar oleh jutaan orang. Ia tidak boleh ngomong salah. Karena salah-salah ia akan memalukan dirinya; kakek-neneknya; rekan-rekan kerjanya; juga tetangga dan sanak kerabat jauh maupun dekat. Semua akan menanggung malu dengan tingkatan malu yang berbeda-beda tergantung dari faktor kedekatan dirinya dengan Timun. Makin dekat dengan Timun, makin malu dia. Maka dari itu semampu mungkin Timun mencoba untuk menenangkan dirinya dan tampaknya ia kurang berhasil. Timun membayangkan dirinya dan tampaknya ia kurang berhasil. Timun membayangkan dirinya dihadapkan dengan seorang Ustadz ternama di kota kembang--Al-Ustadz Usep Rohayat al-Bandungi. Ia lebih dikenal dengan nama panggilan yang unik yaitu pak ustadz Usro (mungkin diambil dari akronim namanya USep ROhayat), mirip temannya si Unyil dengan wajah berbeda tentunya.

Ustadz Usro sangat terkenal kegigihannya dalam dakwah di Bandung Raya. Belakangan ini ia sangat sibuk memerangi SEPILIS (mirip-mirip nama penyakit menular yang menyerang--ma'af--kelamin) singkatan dari Sekularisme, Pluralisme, dan Liberalisme. Dulu sich, Ustadz Usro memiliki lawan yang lain yang juga sama tangguhnya dengan SEPILIS itu tadi. Lawan yang dimaksud ialah TBC (juga mirip nama penyakit yang menyerang paru-paru dan sekitarnya) singkatan dari Tachjoel, Bid'ah, dan Churafat (semua dalam ejaan lama--Timun tidak yakin dengan singkatan ini karena ketika Timun lahir ejaan yang disempurnakan atau EYD sudah diberlakukan, jadi Timun tidak tahu pasti ejaan yang benar).

Ustadz Usro dan ustadz-ustadz lainnya yang sehaluan dengannya kelihatan kurang berhasil dalam memberantas "penyakit" keagamaan yang bernama TBC ini karena hingga detik ini masih banyak orang yang melakukan praktek yang disebut oleh dirinya sebagai praktek tahayul, bid'ah dan khurafat. Masih banyak orang yang melakukan tahlilan ketika ditinggalkan meninggal oleh salah seorang kerabatnya--atau tetangganya. Masih banyak orang yang melakukan ziarah kubur dan memanjatkan do'a di kuburan baik siang maupun malam. Masih banyak orang yang menghadiahkan bacaan al-Fatihah maupun surah Yasin kepada seseorang baik yang masih hidup maupun yang sudah dipanggil Tuhan. Masih banyak orang yang mempercayai karomah dari orang-orang tertentu yang darinya keberkahan akan mengalir laksana air. Masih banyak yang pergi ke dukun baik dukun yang sudah tua maupun yang masih cilik dengan sebuah batu yang menawarkan kesembuhan instan bagi orang-orang yang percaya. Masih banyak yang begini dan begitu.

Semua "penyakit" itu masih ada dalam diri masyarakat kita dan belum pernah "tersembuhkan" secara tuntas. Sudah banyak waktu dan tenaga juga uang yang dihabiskan untuk memberantas semua praktek yang dianggap penyakit ini akan tetapi melihat hasil yang dicapai maka Ustadz Usro terpaksa harus menghela nafas dalam-dalam dan mengurut dada (dadanya, bukan dada orang lain!).

Sekarang Ustadz Usro melihat ada "penyakit" lain yang ada di masyarakat; "penyakit" yang juga harus secepatnya "disembuhkan" karena takut ia menular dan menyebar cepat di tubuh masyarakat muslimin Indonesia. Ustadz Usro sekarang memiliki dua musuh lainnya yang tidak kalah sakti. Ini semua menyebabkan dirinya makin militan. Di usianya yang kian menyenja ia tampak makin garang dan gagah--segagah karang. Itulah yang ditakutkan Timun. Timun sekarang akan berhadapan dengan lawan diskusi yang bukan saja melebihi dirinya dalam ilmu agama, juga dalam hal usia, pengalaman, dan agresifitas. Inilah yang membuat dirinya was-was.

Berulangkali Timun menenangkan dirinya dengan bernyanyi kecil. Suaranya lirih bergetar. Makin lama malah ia makin gugup, gugup karena mengingat diskusi yang akan ia hadapi, ditambah gugup karena mendengar suara lirih yang dikeluarkan oleh mulutnya. Ia kemudian mencoba untuk menenangkan dirinya dengan membaca. Juga tidak berguna, tidak mendatangkan hasil yang bisa diandalkan untuk menenteramkan hatinya. Akhirnya Timun berdo'a di dalam hati karena ia tidak ingin do'anya didengar orang lain (nanti siapa tahu dicontek!). Cukup Tuhan dengan dirinya saja yang bisa mendengarkan do'a itu.

Ia berdo'a agar diberikan kekuatan hujjah dan ketajaman logika dalam diskusi nanti; tidak lupa juga ia memanjatkan do'a bagi gurunya--ustadz Rahmat--sekaligus meminta do'a dari gurunya yang sudah lama meninggal itu. Timun yakin ustadznya bisa mendengarkan do'a dirinya dari jauh dan ia juga yakin ustadznya akan mendo'akan yang terbak bagi dirinya. Biar orangnya sudah meninggal tapi kan arwahnya masih hidup. Orang yang sepanjang hidupnya dihabiskan untuk berbakti dan beribadah, memberi makan orang-orang miskin, memberi pakaian pada orang-orang yang setengah telanjang karena tidak memiliki pakaian, selalu membela orang-orang tertindas yang tak berdaya untuk melawan orang-orang kuat atau melawan orang-orang yang dekat atau memiliki kekuasaan, orang yang sepanjang hidupnya berjuang di jalan Allah seperti itu Timun yakin setelah kematiannya ia akan tetap mendapatkan rizki dari Tuhannya seperti yang telah dijanjikan dalam al-Qur'an:

"Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rizki" (QS. Ali Imran: 169)

"Pak Timun, acaranya akan dimulai. Mari masuk ke studio 2", suara lembut mengejutkan Timun yang telah selesai memanjatkan do'a pribadinya. Suara lembut itu berasal dari seorang perempuan kecil dengan tinggi sedang, berjilbab putih berpakaian serba biru yang rupanya merupakan seragam hariannya di stasiun TV itu. Ketika mereka berdua berjalan melalui lorong-lorong yang cukup lapang untuk lewat tiga orang sekaligus, Timun sekali lagi membayangkan wajah pak ustadz Usro. Wajahnya sudah menua karena memang sudah tua; dipenuhi kerut marut di sana-sini. Cambang dan janggutnya sudah memutih bagai salju. Pandangannya tajam namun terlihat penuh wawasan--bukan pandangan tajam yang dimiliki oleh polisi satlantas yang sedang menunggu mangsa pengendara motor yang sering melakukan kesalahan—kecil maupun desar. Secara keseluruhan wajah dan tubuh pak Ustadz Usro itu memancarkan aura aneh, aura magis. Timun sekali lagi bergidik. Tapi ia jauh lebih tenang sekarang setelah memanjatkan do'a cukup panjang berulang-ulang.

"Mari pak Timun! Presenternya dari tadi sudah menunggu", lanjut si embak-embak tadi. Ia berjalan dengan cepat dan gesit, sangat khas orang lapangan. Timun agak sedikit heran karena sedari tadi ia tidak menemukan Ustadz Usro. Ia tadi sendirian saja di ruang tunggu dan ia sudah menunggu setengah jam yang lalu.

Timun didudukkan di kursi yang berhadapan dengan kursi presenter.

Singkat kata sekarang mereka sudah on air. Timun terlihat agak tenang dibandingkan tadi di dalam ruang tunggu. Ia sudah memasrahkan sepenuhnya apa yang akan terjadi kepada sang maha kasih, sang maha sayang. Ia hanya akan mengandalkan apa yang ia miliki yaitu akal sehat dan kecerdikan dalam berdebat.

Tapi sesuatu telah terjadi. Sesuatu yang ada di luar perkiraan Timun. Pak Ustadz Usro ternyata batal hadir. Salah seorang santrinya datang ke stasiun Parahyangan TV menyampaikan permohonan ma'af secara tertulis mengatakan bahwa al-ustadz Usep Rohayat al-Bandungi batal hadir karena sakit jantungnya mendadak kumat. Ia terpaksa berbaring di rumah sakit.

Tapi, the show must go on with or without al-ustadz.

TV HOST   : "Permisa, kita berjumpa lagi dalam acara mingguan yang sering anda tunggu-tunggu: POLEMIKITA, polemik diantara kita. Sebuah acara yang mengetengahkan kasus-kasus yang lagi hangat diperbincangkan di pelbagai media di seluruh nusantara. Di sini telah hadir diantara kita seorang narasumber, yaitu bapak Timun Laut, assalamu'alaykum pak Timun”

TIMUN   : "Wa'alaykum salam"

TV HOST   : "Terimakasih atas kedatangannya. Pemirsa, seperti anda ketahui, beliau adalah seorang guru bahasa Inggris yang mengajar di sebuah kursus terbesar di Indonesia. Beliau juga dikenal khalayak ramai lewat tulisan-tulisannya yang menghiasi berbagai media masa di tanah air ini. Beliau sering menulis tentang ukhuwwah islamiyyah atau persaudaraan antara kaum muslimin. Beliau juga sering menulis tentang perbandingan agama atau madzhab. Karena tulisan beliaulah maka beliau selain dikenal orang banyak, juga terkadang sering diserang orang baik itu lewat tulisan lagi di surat kabar atau majalah; atau secara lebih pribadi lewat pesan singkat lewat hape. Bukan begitu pak Timun?"

TIMUN   : "Persis sekali he.......he.......he......."

TV HOST   : "Banyak orang yang telah atau sedang berpolemik dengan beliau ini, diantaranya ialah al-mukarromah al-ustadz Usep Rohayat al-Bandungi yang lebih kita kenal sebagai ustadz Usro yang beberapa hari ini sering menulis di surat kabar dan juga memberikan pandangannya dalam acara televisi serta dalam ceramah-ceramahnya dimana beliau sering mengemukakan ketidak setujuannya atas tulisan-tulisan pak Timun ini. Sedianya, pak ustadz akan hadir bersama kita kali ini akan tetapi beliau mendadak sakit dan sekarang ada di rumah sakit. Jadi dengan sangat menyesal kami kali ini tidak bisa memberikan kepuasan kepada anda lewat perbincangan yang sudah tentu sangat menarik antara mereka berdua. Akan tetapi seperti kata pepatah mengatakan "tidak ada rotan akar pun jadi" maka kami tetap menyiarkan acara ini kepada anda secara live.”

“Eh ............. pak Timun. Kita langsung saja ke pokok permasalahan. Pak ustadz Usep Rohayat al-Bandungi sering menyerang pendapat pak Timun ini dalam berbagai kesempatan. Pak Timun sering disebutnya terlalu memberikan kelonggaran dalam pandangannya terhadap mereka yang berasal dari agama lain atau mereka yang beragama Islam tapi dianggap sudah menyimpang terlalu jauh dari Islam walau mereka sudah mengemukakan kepada umum bahwa mereka itu juga kaum muslimin seperti kita-kita ini. Pak ustadz mengatakan bahwa ada sebagian dari kaum muslimin ini ada yang hendak mengubah-ubah syari'at; sehingga mereka sampai berani bukan saja mengubah-ubah penafsiran dari al-Qur'an melainkan juga berani membuat yang seumpama al-Qur'an. Mereka telah berhasil memalsukan al-Qur'an dan memberikan pelajaran dari al-Qur'an palsu yang mereka buat itu untuk pengajaran di dalam pengajian-pengajian yang dilakukan di kalangan internal mereka. Bagaimana menurut pak Timun atas klaim yang diajukan oleh pak Ustadz itu?"

TIMUN   : "Alhamdulillah. Sebelumnya saya ucapkan syukur tak terhingga atas dipanggilnya saya ke dalam acara ini. Sungguh saya ini bukan orang yang pas untuk acara seperti ini. Saya bukan seorang intelektual bukan pula seorang ulama atau ustadz yang memiliki ilmu yang tinggi, jadi sebenarnya saya merasa sedikit rendah diri untuk tampil dalam acara seperti ini. Tapi karena saya sudah diundang dan ini merupakan kebanggaan tersendiri bagi saya, maka saya akan menggunakan kesempatan emas ini untuk menjelaskan posisi saya. Sejujurnya saya akui bahwa saya bukanlah orang satu-satunya yang memiliki pendapat atau keyakinan atas pluralisme. Sama seperti halnya pak ustadz Usro yang juga memiliki pendapat yang diyakini orang banyak, saya juga memiliki pendapat yang diyakini oleh orang banyak pula, bahkan mungkin lebih banyak lagi karena pendapat yang saya yakini ini juga diyakini oleh orang-orang lain dari madzhab yang lain dan atau dari agama yang lain.”

“Akan halnya tadi menanggapi pernyataan al-ustadz tentang orang-orang Islam yang berusaha menyimpangkan kita dari ajaran asli mungkin itu tidak sepenuhnya benar. Kalau kita tempatkan diri kita dalam posisi berbaik sangka, maka kita akan lihat bahwa orang-orang yang memiliki keyakinan lain dengan kita itu sebagai orang-orang yang sedang mencari kebenaran. Cuma mungkin yang mereka temukan berbeda dengan yang kita temukan. Jadinya begitu. Kita memiliki perbedaan dengan mereka. Tapi saya yakin mereka tidak berkehendak untuk membuat suatu penyimpangan. Apabila mereka kelihatan menyimpang dari sisi penglihatan kita, maka itu tidak lebih karena mereka telah tiba pada suatu kesimpulan yang berbeda dengan kita. Tidak perlu kita terlalu khawatir dan curiga kepada mereka apalagi kalau kita sendiri sudah merasa bahwa kita sudah sampai pada suatu kebenaran yang hakiki. Untuk apa merepotkan diri sendiri untuk memikirkan orang lain yang kita anggap belum sampai pada kebenaran yang sebenarnya.”

“Kita sebenarnya berangkat dari titik awal yang sama yaitu mencari keridloan Allah. Dan dalam perjalanan kita untuk sampai kepadaNya kita menempuh jalan yang berbeda. Ada yang lurus dan ada pula yang berkelok-kelok. Ada yang mendatar dan penuh keindahan ada juga yang terjal dan mendaki penuh onak dan duri. Yang ditempuh oleh pak ustadz mungkin yang lurus dan datar, sedangkan yang ditempuh oleh orang lain, mungkin itulah yang berkelok-kelok, terjal dan mendaki. Sedangkan untuk al-Qur'an palsu saya kira mungkin kita telah salah paham. Saya pikir mereka telah membuat tafsir dari al-Qur'an itu sendiri karena saya yakin bahwa al-Qur'an palsu itu tidak pernah ada. Jadi yang kita sangka al-Qur'an palsu itu, mungkin saja itu hanya berupa tafsir dari al-Qur'an atau kumpulan ajaran yang disarikan dari al-Qur'an persis seperti kitab-kitab fiqih kita yang merupakan penjabaran dari hukum-hukum Allah yang ditulis secara garis besar dalam al-Qur'an. Jadi, sekali lagi, al-Qur'an palsu itu sangat kemungkinan besar tidak ada dan tidak akan pernah ada sampai kapanpun".

TV HOST   : "Bagaimana anda sampai pada kesimpulan seperti itu? Bukankah mereka yang telah dituduh sesat itu memang memiliki kitab suci lain? Kalau tidak salah kita juga pernah melihat bersama-sama dalam salah satu tayangan kami dimana seseorang menunjukkan sebuah kitab yang diyakini sebagai al-Qur'an palsu"

TIMUN   : "Seperti yang saya sebutkan tadi, saya tidak percaya mereka memiliki al-Qur'an yang lain. Bukankah al-Qur'an memiliki keunikan sendiri dibandingkan dengan kita suci lainnya. Al-Qur'an itu satu-satunya kitab yang memberikan jaminan bahwa tidak mungkin ada lagi yang seumpamanya. Al-Qur'an malah menyebutkan bahwa apabila manusia dan jin bersekutu untuk membuat al-Qur'an tandingan maka niscaya mereka tidak bisa membuatnya meskipun mereka saling membantu satu sama lainnya (QS. Al-Israa': 88). Selain itu juga ada jaminan dari Allah terhadap al-Qur'an ini seperti yang terdapat dalam al-Qur'an itu sendiri yaitu dalam ayat:

"Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya" (QS. Al-Hijr: 9)”

“Jadi karena itulah saya sama sekali tidak percaya bahwa saudara-saudara kita dari aliran lain itu memiliki al-Qur'an yang lain.”

“Itu juga sekaligus menerangkan bahwa apabila kita meyakini ada al-Qur'an lain selain dari yang telah kita sepakati bersama, maka itu adalah keyakinan yang bathil. Mengapa? Karena dengan meyakini bahwa ada al-Qur'an yang lain, artinya kita menyangsikan penjagaan yang telah dilakukan oleh Allah terhadap al-Qur'an. Kita menyangsikan al-Qur'an itu sendiri karena salah satu ayatnya, yaitu ayat tentang penjagaan al-Qur'an, kita ragukan. Demikian".

TV HOST   : "Jadi kalau ada orang yang percaya bahwa ada al-Qur'an lain selain dari al-Qur'an yang telah kita sepakati maka orang itu memiliki keyakinan yang bathil. Begitu?"

TIMUN   : "Persis. Karena Allah sendiri lewat al-Qur'an telah menjamin bahwa al-Qur'an itu tidak mungkin dipalsukan".

TV HOST   : "Baiklah. Sebelum kita melanjutkan pembicaraan ke tahap selanjutnya, kita tunda dulu sejenak untuk memberikan kesempatan pada commercial break berikut ini. Pemirsa, kita lanjutkan lagi perbincangan yang menarik ini, setelah ini".

(Commercial Break dulu; Timun dan TV Host bersama-sama bersantai dulu sejenak sambil minum secangkir teh hangat dan sejumput roti bakar yang dipesan dari warung roti bakar di sebelah stasiun TV. Maklum televisi lokal budget-nya pun tidak begitu banyak. Timun menikmati rotinya dengan tergesa-gesa karena iklan yang lewat tidak begitu banyak)

TV HOST   : "Permisa, kita lanjutkan lagi acara kita, POLEMIKITA, polemik diantara kita. Pak Timun, ada sedikit ganjalan bagi sebagian dari kami untuk memberikan toleransi kepada paham pluralisme yaitu sebagian dari kami berpendapat bahwa pluralisme itu sejenis paham moderen yang dibuat oleh orang moderen. Mereka yang sudah muak dengan pertikaian yang ada antara orang yang berbeda agama atau antara orang-orang yang ada dalam satu agama yang sama kemudian membikin-bikin suatu ajaran baru, paham baru, yang kira-kira bisa mempersatukan perbedaan yang ada. Untuk menghilangkan pertikaian itu maka dibuatlah paham pluralisme untuk menjadi jembatan semua agama dan semua keyakinan yang ada. Istilahnya ini bisa dijadikan agama dunia atau global religion oleh sebagian orang tadi. Yang ditakutkan oleh kita ialah hilangnya agama kita sendiri karena agama kita telah dileburkan menjadi satu dengan agama-agama lainnya. Ketika kita menyebutkan semua agama itu benar maka untuk apalagi ada agama-agama yang berbeda-beda, karena toh semuanya sama walau tidak sebangun. Bagaimana menurut pak Timun?"

TIMUN   : "Ini pertanyaan yang menarik yang menurut saya mungkin merupakan esensi keseluruhan dari perbedaan saya dari pak Ustadz Usro, tanpa mengurangi rasa hormat saya pada beliau; sejujurnya ini saya katakan dalam kesempatan ini karena ini bagian dari sifat orang yang menjunjung tinggi rasa pluralistik. Untuk menjawab ini sepertinya saya harus memilah-milah terlebih dahulu.”

“Pertama, apakah benar paham pluralisme itu berasal dari jaman sekarang dan bukan dari jaman Nabi? Kalau ini berasal dari jaman sekarang, maka ini mungkin juga merupakan suatu bid'ah yang dibuat-buat orang pada jaman ini. Sebelum menjawab itu perkenankanlah saya menceritakan suatu riwayat yang berasal dari jaman Nabi. Pada jaman dahulu, jaman ketika Rasulullah masih hidup bersama kita, ada kebiasaan yang sangat menarik di kalangan masyarakat Arab.”

“Misalnya, apabila dalam sebuah keluarga di masyarakat Arab jahiliyyah itu memiliki anak banyak akan tetapi anak-anaknya itu satu per satu mati, mungkin karena kurang gizi atau adanya suatu penyakit, maka keluarga itu akan memaksa satu anak mereka untuk pindah agama menjadi pemeluk agama Yahudi. Mereka melakukan itu, yaitu me-Yahudi-kan anaknya itu agar anaknya itu terus hidup dan tidak mati seperti anak-anaknya yang lain. Ketika Islam datang, orang-orang tua dari anak-anak itu masuk Islam dan mereka ingin pula memaksa anak-anak mereka menjadi beragama Islam. Dan berkenaan dengan peristiwa itu turunlah ayat:

"Tidak ada paksaan dalam agama; sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat"

“Itu ayat al-Qur'an, surah Al-Baqarah, ayat ke-256. Pada waktu itu Rasulullah bersabda: "Allah memberikan kebebasan memilih kepada sahabat-sahabatmu. Kalau mereka memilih kamu, maka mereka termasuk kamu. Kalau mereka memilih mereka (Yahudi), mereka termasuk Yahudi" (lihat S.R. Ridha, Al-Manar 3: 36). Ayat itu sendiri turun setelah perang bani Nadhir yang terjadi pada bulan Syawwal, tahun ketiga Hijriyyah. Dan itu juga terjadi setelah ada kejadian percobaan pembunuhan terhadap Nabi oleh orang-orang Yahudi.”

“Nah, sekarang anda bayangkan. Nabi yang pernah hampir dua kali dibunuh orang-orang Yahudi saja masih memperlihatkan rasa hormatnya pada agama lain. Ia tidak memperkenankan sahabat-sahabatnya dari golongan Anshar untuk memaksa anak-anak mereka memeluk Islam setelah mereka me-Yahudi-kan anak-anaknya itu. Bandingkan dengan yang kita lakukan terhadap orang-orang yang kita anggap sesat itu. Kita dengan pongahnya meminta mereka untuk masuk kembali kepada Islam. Kalau kita mengaku sebagai pengikut Nabi Muhammad yang suci, maka kita juga hendaknya tidak memaksa orang-orang yang kita anggap sudah keluar dari Islam itu dengan ancaman, paksaan, intimidasi, serta perlakuan sadis lainnya.”

“Satu lagi riwayat akan saya ketengahkan di sini. Menurut riwayat, pada suatu ketika ada seorang sahabat dari golongan Anshar yang bernama Abu Hushayn. Dua orang anak dari Abu Hushayn ini murtad dan memeluk agama Nasrani setelah keduanya didakwahi oleh para pedagang dari Syam. Bapak keduanya, yaitu Abu Hushayn, ingin memaksa mereka untuk kembali kepada Islam. Rasulullah melarangnya dan turunlah ayat seperti yang sudah saya sebutkan tadi (lihat At-Thabarsi, Majma' al-Bayan fi tafsir al-Qur'an 1: 630; dan lihat juga S R Ridha, Al-Manar 3: 36).”

"Tidak ada paksaan dalam agama; sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat" (QS. Al-Baqarah: 256)”

“Rasulullah bersabda: "Jangan paksa dia, karena orang yang terpaksa masuk satu agama, pasti beragamanya dengan cara munafik"

“Kita harus masuk kepada satu agama itu dengan seluruh keyakinan kita, tidak boleh setengah-setengah. Dalam Al-Qur'an disebutkan:

"Masuklah kedalam Islam secara keseluruhan" (QS. Al-Baqarah: 208)”

“Bagaimana seseorang itu masuk Islam secara keseluruhan, sedangkan ketika mereka masuk ke dalam Islam, mereka masuknya dengan cara terpaksa? Ini juga menyiratkan bahwa kita tidak boleh memaksa orang kedalam Islam karena itu tadi, masuk kedalam Islam itu harus dengan seluruh keyakinan.”

“Nah, itulah aksi pluralistik yang terjadi pada masa Rasulullah. Rasulullah tidak pernah memaksa orang-orang untuk masuk menjadi pemeluk Islam. Sekarang, sekali lagi, coba anda lihat apa yang dilakukan oleh sebagian dari kita. Kita memaksa orang-orang yang telah kita anggap sesat untuk kembali ke ajaran Islam yang kita amalkan. Kita memaksa mereka untuk bertaubat dan kembali pada Islam. Ini jelas berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Rasulullah yang tidak pernah memaksa orang untuk masuk kedalam Islam. Lagipula kalau mereka kita paksa masuk atau masuk kembali kepada Islam itu sama dengan merendahkan Islam itu sendiri. Kok, Islam kita tawarkan begitu murahnya. Kok kita meski maksa orang. Kok kita tidak berhasil membuat mereka pasrah dan berserah diri masuk Islam. Kok kita tidak bisa membuat mereka membutuhkan Islam sehingga ketika mereka masuk Islam, itu karena mereka butuh dengan Islam, bukan karena paksaan.”

“Kalau mereka itu akhirnya kembali ke Islam setelah kita paksa, setelah kita ancam, setelah kita bakar mesjid atau tempat peribadatannya, maka saya yakin ke-Islam-an mereka itu hanya karena mereka takut saja dan bukan karena sukarela. Mereka terpaksa karena takut binasa. Islam itu seharusnya diajarkan dengan penuh kedamaian, bukan dengan paksaan. Dengan kata lain mereka boleh mengajak orang-orang yang mereka anggap sesat itu agar mereka kembali kepada Islam akan tetapi caranya harus santun dan penuh toleransi serta tetap pada pesan perdamaian seperti yang terkandung dalam ajaran Islam. Akan tetapi apabila mereka menolak kita setelah kita mengajak mereka, maka kita tidak boleh memaksa mereka baik dengan ancaman apalagi dengan praktek-praktek kekerasan. Itu tidak diajarkan Islam.”

“Sekarang tentang sebagian orang yang menganggap bahwa pluralisme itu sama dengan mencampur-adukan agama. Itu jelas keliru. Dari namanya saja jelas PLU-RA-LIS-ME artinya banyak, plural. Bukankah arti dari plural itu jamak atau banyak. Kalau mempersatukan semua agama kedalam satu wadah atau mencampur-adukan agama menjadi sebuah agama global seperti yang anda katakan tadi, maka itu artinya menyatukan, menjadikan satu. Itu seharusnya diberinama SINGULARISME bukan PLURALISME. Pluralisme itu sendiri menganggap bahwa agama-agama lain itu, atau keyakinan-keyakinan lain itu, atau aliran-aliran lain itu mungkin memiliki kebenarannya masing-masing tanpa kita harus tunduk pada kebenaran itu karena kita sendiri telah tunduk pada satu kebenaran yang telah kita yakini.”

“Imam Syafi'i pernah berkata: “Madzhab saya ini benar tapi ada kemungkinan salah, dan madzhab orang lain itu salah tapi ada kemungkinan benar.”

“Lalu anda misalnya bertanya: 'Kalau begitu ia tidak yakin dong dengan ajaran agamanya'. Bukan, bukan begitu permasalahannya. Imam Syafi'i itu berkata demikian karena beliau itu rendah hati. Imam Syafi'i itu orang yang sangat tawadhu dan tenggang rasa sekaligus. Ia tidak ingin menyakiti perasaan orang lain yang memiliki keyakinan berbeda. Sudah sering saya katakan bahwa perbuatan sombong atau tinggi hati atas keutamaan yang kita miliki itu merupakan perbuatan Iblis. Iblis diusir dari surga karena merasa lebih baik daripada Adam. Nah, kita yang mempercayai sebuah madzhab atau sebuah agama sebagai kebenaran yang sangat kita yakini tidak boleh memandang bahwa orang lain dari agama atau madzhab lain sebagai orang aneh, sesat, kafir, dan pantas masuk neraka. Kita yakini saja kebenaran yang kita yakini tanpa usah meributkan keyakinan orang yang tidak kita yakini. Itulah esensi dari paham pluralisme. Demikian".

TV HOST   : "Alhamdulillah. Sudah terang sekarang. Seterang mentari pagi di hari yang cerah di musim kemarau. Kiranya tidak ada lagi ganjalan di hati setelah mendengar penjelasan dari pak Timun. Tadinya saya menganggap paham pluralisme ini datangnya dari jaman sekarang dan dibuat-buat orang untuk merukunkan seluruh kelompok keagamaan atau afiliasi aliran yang bermacam-macam bentuknya. Dengan melihat sejarah sudah jelaslah bahwa Islam memiliki cara yang jitu untuk merukunkan seluruh kelompok keagamaan dan keyakinan itu. Tidak salah kalau agama Islam itu disebut Islam karena ternyata ia mendatangkan kedamaian bukan saja bagi pemeluknya tetapi juga bagi orang yang tidak memeluknya. Akan tetapi masih ada satu yang masih mengganjal pikiran saya. Kalau Islam itu sedemikian tolerannya terhadap agama dan keyakinan orang lain, mengapa sekarang ada beberapa kelompok orang yang secara notabene merupakan pemeluk Islam tapi tidak toleran terhadap perbedaan. Apa itu artinya karena mereka kurang paham dengan Islam atau bagaimana? Tapi sebelum menjawab pertanyaan itu kita potong dulu dengan commercial break berikut ini.”

“Pemirsa yang budiman, yang sejak tadi menonton acara ini, kita lanjutkan perbincangan kita yang makin menarik saja setelah ini.”

(Commercial break berlangsung dengan iklan yang juga tidak terlalu banyak--sama seperti commercial break pertama. Maklum acaranya kurang peminat dan ditayangkan oleh televisi lokal. Ketika commercial break berlangsung Timun meneruskan makan roti bakar rasa coklat keju dan minum teh hangat yang sekarang sudah kehilangan kehangatannya--dengan tergesa-gesa)

TV HOST   : "Pemirsa yang budiman dan dirahmati Allah, kita kembali kepada perbincangan kita dengan mendengarkan jawaban dari pak Timun. Silahkan pak Timun".

TIMUN   : "Islam menawarkan kedamaian kepada seluruh pemeluknya dan juga kepada bukan pemeluknya karena Islam itu rahmatan lil 'alamin, rahmat bagi sekalian alam. Lalu mengapa sebagian dari pemeluknya ada yang tidak ramah dan cenderung galak terutama kepada orang yang berada di luar lingkungannya? Mengapa mereka bertindak anarkis terhadap orang yang berbeda dengan dirinya? Terus terang. Sebenarnya pertanyaan ini seharusnya ditujukan kepada mereka yang dianggap bertindak anarkis itu. Merekalah yang paling tahu mengapa mereka melakukan itu semua. Merekalah yang paling tahu mengapa mereka melakukan tindak kekerasan untuk membuat orang lain kembali kepada Islam, itu menurut istilah mereka. Mereka-lah seharusnya yang menjawab pertanyaan ini. Saya sendiri tidak tahu persis mengapa mereka melakukan itu. Akan tetapi kalau mengira-ngira saja mungkin bisa. Tapi sekali lagi karena saya tidak tahu dengan persis maksud mereka, maka kemungkinan saya keliru dalam menduga-duga maksud mereka pasti besar sekali.”

“Saya berpendapat bahwa mereka melakukan itu karena merasa terancam, itu satu. Terancam karena ada aliran lain, keyakinan lain yang tumbuh berkembang. Mereka merasa itu sebagai saingan. Seharusnya mereka memandang orang-orang yang berbeda dengan dirinya itu sebagai mitra tanding. Mereka bertanding untuk sama-sama melakukan kebaikan ...... fastabiqul khairat (QS. Al-Baqarah: 148). Mereka harus melakukan perbuatan baik yang sebanyak-banyaknya hingga orang-orang lain melihat bahwa golongan mereka-lah yang melakukan kebaikan yang jauh lebih banyak. Saya kira itu lebih positif apabila dilakukan oleh mereka. Sama-sama berkonsentrasi kepada kebaikan diri sendiri, amalan sendiri. Daripada memusingkan diri memikirkan amalan orang lain dan melupakan amalan diri sendiri karena saking sibuknya memikirkan amalan orang lain.”

“Kedua, mereka merasa rendah diri dengan yang ada di luar diri mereka. Mereka melihat dengan jelas kelompok keagamaan yang lain hidup berkecukupan, berpendidikan tinggi, memiliki akses terhadap kekuasaan yang juga cukup lumayan. Mereka melihat itu semua dan merasa rendah diri.”

“Yang ketiga, sebagian dari mereka sangat yakin bahwa dengan Islam-lah setiap permasalahan hidup di dunia ini bisa dipecahkan.....'”

TV HOST   : "Ma'af pak Timun. Bukankah itu baik adanya. Mereka merasa bahwa Islam bisa menjadi pemecahan terhadap setiap masalah hidup mereka. Lalu apanya yang salah?"

TIMUN   : "Anda benar. Sebenarnya memang tidak ada yang salah dengan itu. Yang salah ialah mengira bahwa Islam versi mereka saja yang bisa menjadi pemecah dari setiap persoalah hidup. Mereka lupa bahwa ada banyak sekali aliran dalam Islam. Dan itu mungkin sudah takdir Allah. Baginda Nabi berwasiat bahwa sepeninggalnya umat Islam itu akan pecah menjadi beberapa golongan. Semua golongan itu akan mengira bahwa golongannya saja yang sahih dan benar. Yang lain sesat semua. Anda bisa bayangkan kalau Allah mencabut sedikit saja perasaan cinta dari mereka. Mereka jadi tidak memiliki rasa cinta, rasa kasih dan sayang. Mungkin sudah sejak dulu umat Islam musnah dari planet Bumi ini karena saling bunuh membunuh, karena setiap orang akan merasa diri paling benar dan paling merasa berhak untuk memaksa orang lain supaya ikut kepada kebenaran yang telah diikutinya. Yang satu memaksa yang lain; yang dipaksa akan balik menyerang dan kalau menang akan balik memaksa atau membunuh apabila tidak dituruti. Itu benar-benar bayangan yang amat menyeramkan. Setiap orang saling meniadakan hanya karena merasa diri paling benar.”

“Tidak ada yang salah apabila kita melihat Islam sebagai jawaban terhadap masalah kehidupan. Yang salah ialah apabila kita memaksakan pendapat kita tentang Islam kepada orang lain yang tidak memiliki pendapat yang sama. Jadi yang tidak boleh ialah fanatisme buta terhadap madzhab kita dan perasaan lebih dari orang lain yang pada akhirnya melihat orang lain dengan pandangan merendahkan dan menghinakan. Ini yang salah.”

“Terakhir, saya kira mereka melakukan itu karena perasaan dengki terhadap orang lain. Ini ada dalam al-Qur'an dalam surat al-Baqarah ayat ke-213, yang berbunyi:

"Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para Nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab dengan benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus".

“Kedengkian-lah yang telah menjadi sebab pertentangan itu timbul; bukan agamanya yang membuat mereka bertikai satu sama lain. Sebenarnya ini juga cukup mengherankan kita. Mengapa mereka harus merasa dengki kepada orang-orang yang sudah mereka anggap sesat? Kalau mereka merasa benar dan akan masuk surga karenanya, maka apa gunanya mereka mendengki orang-orang yang mereka anggap sesat dan hina? Kita kan tahu bahwa perasaan dengki dan hasad itu akan memakan setiap amalan kita laksana api membakar kayu bakar. Itu kerugian yang sangat nyata. Kerugian pertama, kita terlalu memusingkan keyakinan dan amalan orang lain. Jadi kita lupa akan amalan kita sendiri, kita lupa untuk melakukan amal baik dan shaleh. Kita terlalu sibuk dan larut memikirkan amalan orang lain yang menurut kita salah. Itu satu. Yang kedua, amalan kita yang sedikit itupun nantinya habis juga dimakan rasa dengki dan hasad. Ketika kita menghadap Allah, amalan apa lagi yang kita miliki untuk mengharapkan ridho Illahi? Amalan baik apa yang kita punya, yang bisa membentengi kita dari api neraka?”

TV HOST   : "Alhamdulillah, sekarang segala sesuatunya lebih jelas lagi. Sekarang pertanyaan terakhir sebelum kita menutup acara ini. Dalam sebuah tulisan, pak Timun menjelaskan bahwa setiap permasalahan yang ada diantara setiap pemeluk agama dan setiap orang yang berbeda pendapat dalam satu perkara dalam hal agama, akan diselesaikan di akhirat kelak apabila mereka tidak sanggup menyelesaikannya di dunia ini dengan baik. Jadi penyelesaian dari kasus-kasus ini akan dan harus menunggu hingga ada pengadilan akhirat kelak.”

“Sekarang pertanyaan saya ialah: Apa dasar dari pernyataan pak Timun ini? Apa pernyataan ini hanya dibuat untuk menenteramkan setiap orang yang berbeda pendapat saja, atau bagaimana? Atau mungkin pak Timun memang tidak memiliki jawaban terhadap masalah ini. Karena pak Timun tidak sanggup mendamaikan mereka yang bertikai lalu pak Timun menyuruh mereka untuk menunggu hingga datangnya hari penghisaban. Padahal mereka mungkin butuh penyelesaiannya sekarang, secepatnya kalau bisa. Supaya tidak ada lagi darah yang tertumpah. Tidak ada lagi pertikaian yang melelahkan. Bagaimana? Silahkan pak Timun".

TIMUN   : "Anda benar. Saya memang tidak punya jawaban atas hal itu. Kalau ada dua orang yang bertikai dalam satu perkara keagamaan, kalau itu pelik dan susah didamaikan, susah diselesaikan, susah dicari pemecahannya, maka kemungkinan besar saya akan memberikan jawaban yang serupa, yaitu: saya tidak punya jawabannya. Saya mungkin akan menyuruh mereka untuk menangguhkan pertikaian mereka, hingga hari penghisaban. Untuk sementara mereka tidak usah bertikai. Cukup dengan saling membiarkan saja. Mereka toh bisa hidup berdampingan dengan tidak saling menyerang. Dengan tidak memusingkan perbedaan yang ada diantara mereka, mereka tetap bisa tersenyum dan bertegur sapa. Toh mereka masih manusia. Harimau saja kalau tidak sedang lapar, ia hanya melihatnya saja di kejauhan karena perutnya masih kenyang".

TV HOST   : "Ada dalil naqli yang menguatkan pendapat anda, selain dalil aqli yang anda sampaikan?"

TIMUN   : "Ada. Tentu saja ada. Saya tidak akan asal berbicara kecuali ada dasarnya"

TV HOST   : "Apa dalilnya?"

TIMUN   : "Al-Qur'an. Dalam surat An-Nisa ayat ke-59 disebutkan: "......Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya".

“Jadi kalau ada dua orang yang berselisih paham hendaknya mereka kembalikan saja perbedaan paham itu kepada Allah dan RasulNya. Nah, sekarang masalahnya ialah kapan kita bertemu Allah dan RasulNya untuk mengadukan perselisihan itu, yaaaaaaa nanti di akhirat kelak. Kalau bisa diselesaikan di sini dan kedua belah pihak sepakat itu lebih baik. Mereka berdua bisa rukun lagi dan bersahabat lagi tanpa menyimpan dendam kesumat satu sama lainnya. Tapi apabila permasalahannya terlalu rumit dan susah dicari titik temunya, yaaaa itu tadi, kita kembalikan saja pada Allah dan RasulNya".

TV HOST   : "Bukankah kita bisa mengambil dari al-Qur'an tanpa harus bertemu Allah langsung; dan kita juga bisa mengambil hukum dari hadits tanpa usah menemui Rasulullah secara langsung. Dengan itu kan kita bisa menyelesaikan setiap permasalahan yang ada di dunia ini juga".

TIMUN   : "Bisa saja. Seperti yang saya sebutkan mereka bisa berdamai di dunia ini juga kalau keduanya sepakat dalam perkara yang mereka perselisihkan itu. Mereka puas akan hukum yang telah mereka rujuk. Mereka berdamai dan selesai. Tidah usah memperpanjang masalah, tidak usah ribut satu sama lain.”

“Tapi untuk kasus tertentu, misalnya, ada dua orang yang berdebat mengenai suatu perkara dan salah satu dari mereka merujuk kepada al-Qur'an dan hadits untuk memperkuat posisinya akan tetapi ia dibantah oleh orang yang kedua juga dengan menggunakan al-Qur'an dan hadits, yang tentu saja berbeda. Atau bisa juga begini, dua-duanya menggunakan ayat yang sama akan tetapi kesimpulannya berbeda karena mereka mengambil dari para penafsir al-Qur'an yang berbeda. Itu bisa terjadi. Dan kalau itu terjadi, mengembalikan perkara itu kepada al-Qur'an dan hadits menjadi kehilangan makna karena mereka sudah melakukannya dan tetap saja tidak bisa bersepakat. Untuk contohnya banyak sekali dalam kehidupan ini dimana ada orang yang memaknai ayat yang sama tetapi hasilnya berbeda".

TV HOST   : "Misalnya?"

TIMUN   : "Misalnya ayat: 'Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian, dan beramal shaleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati" (QS. Al-Baqarah: 69)”

“Dengan tidak mengubah-ubah arti dari ayat itu. Kita biarkan ayat itu apa adanya. Bagi saya ayat itu menegaskan bahwa orang Islam, orang Yahudi, Nasrani dan orang-orang lain yang memiliki keyakinan yang berbeda-beda semua akan mendapatkan pahala dari Allah asal mereka beriman kepada Allah, hari kemudian, dan mereka juga suka beramal shaleh, berbuat baik kepada sesama makhluk ciptaan Allah. Jadi ayat itu jelas-jelas mengandung nilai pluralitas di dalamnya.”

“Tapi ayat yang sama oleh orang lain ditafsirkan berbeda. Mereka menafsirkan berbeda. Mereka menambahkan arti lain kedalam ayat itu yang tadi saya kutip tanpa menambah-nambah penafsiran apapun lagi. Mereka menyebutkan bahwa Yahudi dan Nasrani serta Shabiin yang dimaksud dalam ayat itu ialah mereka yang sudah masuk Islam dengan alasan Allah itu nama Tuhan-nya orang Islam. Jadi beriman kepada Allah itu artinya sudah masuk Islam. Ayat yang tadinya berbicara tentang pluralitas tiba-tiba berubah menjadi sangat sektarian dan tidak mengenal belas kasihan. Nah, dengan itu jadi sulit kita mencapai kata sepakat karena dua-duanya menggunakan ayat yang sama dengan penafsiran berbeda. Lihatlah! Dua-duanya mengembalikan perselisihan mereka kepada al-Qur'an akan tetapi masih saja mereka berselisih pendapat satu sama lainnya. Untuk kasus seperti itu, kedua belah pihak harus menahan diri. Nanti saja kita kembalikan kepada Allah dan RasulNya di akhirat kelak".

TV HOST   : "Terakhir, sekali lagi, sebagai kata penutup. Adakah ayat yang lain dalam al-Qur'an yang menunjukkan bahwa perselisihan seperti itu akan diselesaikan nanti di akhirat'.

TIMUN   : "Ada. Ayat itu berbunyi, "Dan orang-orang Yahudi berkata: 'Orang-orang Nasrani itu tidak mempunyai suatu pegangan', dan orang-orang Nasrani berkata: 'orang-orang Yahudi tidak mempunyai sesuatu pegangan', padahal mereka (sama-sama) membaca al-Kitab. Demikian pula orang-orang yang tidak mengetahui, mengatakan seperti ucapan mereka itu. Maka Allah akan mengadili diantara mereka pada hari kiamat, tentang apa-apa yang mereka perselisihkan" (QS. Al-Baqarah: 113)

Di dalam ayat itu dengan jelas disebutkan bahwa perselisihan yang ada antara kaum Yahudi dan Nasrani akan diselesaikan di akhirat kelak pada hari kiamat. Tolong jangan katakan bahwa ayat itu hanya untuk kaum Yahudi dan Nasrani saja dan tidak untuk kaum Muslimin. Sekali-kali tidak. Ayat itu sebagaimana ayat-ayat lainnya juga menjadi pelajaran bagi kita semua. Itu juga akan terjadi pada diri kita. Soalnya al-Qur'an sendiri kan bilang, "Kitab (al-Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa" (QS. Al-Baqarah: 2). Jadi, kalau kita merasa sebagai orang yang bertakwa atau kita ingin menjadi orang yang bertakwa, maka kita juga harus terikat dengan ayat tadi yang mengatakan bahwa setiap perselisihan yang terjadi dalam masalah agama itu akan diselesaikan di akhirat kelak".

TV HOST   : "Alhamdulillah. Terimakasih sekali pak Timun. Bapak sudah memberikan banyak sekali keterangan yang berguna pada sore hari ini. Saya pribadi merasakan adanya titik terang yang makin lama makin membesar. Sebenarnya, saya sendiri dan mungkin juga pemirsa di rumah masih ingin melanjutkan pembicaraan kita, tapi apa mau dikata waktu jualah yang menjadi pemisah kita semua. Sekali lagi saya ucapkan terimakasih dan semoga kita berjumpa lagi pada acara yang sama atau acara yang lainnya.”

“Pemirsa, demikianlah pembicaraan kita kali ini di dalam acara POLEMIKITA, polemik diantara kita. Saya, Abdurrahman Subandi, mengucapkan terimakasih atas atensi anda sekalian. Sampai jumpa minggu depan dengan topik lain. Wassalamu'alaykum Warrahmatullahi Wabarakatuh."

(Musik penutup dimainkan, Timun duduk sambil menghabiskan minumannya. Salah seorang kru televisi mencopot microphone yang tadi ditempelkan di pinggang Timun. Acara selesai. Lighting dipadamkan).

Setelah selesai mengisi acara POLEMIKITA, Abdurrahman Subandi, pembawa acara barusan, membimbing Timun melalui lorong-lorong yang tadi ia lewati. Abdurrahman sekali lagi mengucapkan terimakasih. Ia juga menyampaikan salam dari pihak direksi televisi yang tidak bisa menemui Timun karena masih sibuk dengan acara selanjutnya. Acara selanjutnya ialah siaran langsung pandangan mata dari stadiun Jalak Harupat. PERSIB Bandung akan main melawan kesebelasan PERSIK Kediri.

Ketika Timun pamitan kepada Abdurrahman, ia diserahi sebuah amplop yang cukup tebal. Timun terperanjat tetapi senang bukan main. Ia memang menunggu itu; amplop itu. Timun punya nadzar kepada isterinya bahwa kalau ia mendapatkan honor dari televisi, ia akan membawa isterinya dan kedua anaknya ke restoran cepat saji. Sebenarnya Timun tidak begitu suka makanannya, tapi kedua anaknya dan isterinya yang tercinta sangat suka makanan itu. Jadi Timun menerima amplop itu dengan hati sumringah. Selain amplop itu, Timun juga diberikan sepucuk surat yang katanya dari pak Ustadz Usep Rohayat al-Bandungi. Setelah menyerahkan amplop dan surat itu, Abdurrahman berpamitan karena ia harus memandu acara lain yaitu acara kuis televisi yang akan disiarkan esok hari.

Sepeninggal Abdurrahman, Timun penasaran ingin membuka amplop tadi dan surat tadi. Ketika membuka amplop, ia menghitung uang yang ada di dalam amplop warna putih itu. Jumlahnya satu bulan gaji Timun hasil mengajar di kursus tempatnya mengajar. Wah, gede sekali! Timun tidak menyangka akan mendapatkan uang sebesar itu untuk obrolan yang hanya 30 menit diseling iklan di sana-sini. Terus Timun membuka surat yang katanya dari pak ustadz Usro itu. Surat itu berbunyi:

"Assalamu'alaykum warrahmatullahi wabarakatuh.”

“Nak Timun yang bapak hormati sepenuh hati. Ma'afkan bapak. Bapak tidak bisa menghadiri acara di televisi hari ini. Pada saat surat ini dituliskan, bapak sedang terbaring di ranjang rumah sakit. Surat inipun bukan bapak yang menulis. Bapak cuma mendiktekan kepada isteri bapak yang setia menunggu dan melayani.”

“Nak Timun, mungkin lain waktu kita bisa bertemu dalam acara yang sama atau acara yang lainnya. Akan halnya perbedaan diantara kita yang sepertinya susah dirukunkan, itu janganlah menjadi penghalang silaturrahmi diantara kita. Janganlah perbedaan antara kita itu menyebabkan kita enggan bertegur sapa dan enggan hormat-menghormati.”

“Terakhir, bapak ucapkan selamat memperjuangkan keyakinanmu walau keyakinanmu itu berbeda dengan keyakinanku.”

“Wassalamu'alaykum warramatullahi wabarakatuh".

Timun terkejut membaca surat pak ustaz Usro itu. Gugur sudah bayangan Timun tentang pak ustadz Usro yang tadinya ia bayangkan sangat galak dan tidak mengenal kompromi. Gugur sudah bayangan Timun akan sosok ustadz yang tidak mengenal toleransi dan basa-basi. Kini bayangan lain menggantikan sosok tadi. Timun membayangkan pak ustadz Usro seperti seorang kakek yang bijaksana dan penuh pengertian. Sedangkan dirinya seperti seorang cucu yang nakal yang memiliki pendirian yang berbeda dengan si kakek tua bijaksana itu.

Timun tersenyum; tapi matanya basah. Beberapa tetes air mata keluar dari pelupuk matanya. Tidak deras memang, tapi sangat sarat makna. Timun naik ke atas motor matiknya, kemudian menyalakan mesinnya dan mulai melaju perlahan meninggalkan kompleks stasiun televisi. Timun memacu motornya menuju ke rumah sakit.
Ya, rumah sakit!

Timun memiliki teman yang dulu pernah mengaji pada pak ustadz Usro. Ia sedikit banyak sudah mengetahui keadaan keluarga pak ustadz. Keluarga pak ustadz Usro bukan keluarga berada walaupun ia termasuk orang yang terkenal di mana-mana. Ia berbeda dengan ustadz-ustadz lain yang juga sama terkenalnya. Ustadz-ustadz lainnya, ada yang bergaul dengan artis dan mendapatkan undangan yang banyak dengan jumlah honor ceramah yang juga banyak. Ada lagi yang ikut parpol tertentu dan dijadikan jurkam (juru kampanye) penarik masa juga sekaligus dijadikan simbol oleh parpol tersebut agar memberikan kesan relijius dan kemudian nantinya bisa menarik masa dari kantong-kantong pemilih yang memiliki sentimen keagamaan yang kuat.

Pak ustadz Usro walaupun banyak penghasilan dari sana-sini, ia lebih banyak menghabiskan uangnya itu untuk menghidupi anak yatim yang jumlahnya sekitar 2000 orang. Ia juga mendirikan berbagai rumah singgah untuk menampung anak jalanan. Uang pak ustadz Usro habis di jalan Allah. Sementara itu, Ustadz-ustadz sejawatnya menyimpan uangnya di bank-bank tertentu. Sebagian dibelikan mobil mewah dan rumah mewah atau dihabiskan untuk menikah (lagi!).

Timun akan mengunjungi si kakek tua itu. Timun akan mengunjungi pak ustadz Usro bukan sebagai lawan debat tapi sebagai seorang sahabat. Timun berkeputusan untuk memberikan seluruh honornya yang baru ia terima hari itu untuk sekedar meringankan beban biaya rumah sakit yang Timun yakin jumlahnya selangit. Timun yakin, pak ustadz pasti membutuhkannya.

Timun akan bicara pada isterinya nanti bahwa uang yang akan mereka pakai untuk makan-makan di restoran cepat saji, akan diambil dari sisa gaji bulanannya.


Wassalam

Tidak ada komentar: