"KEBENARAN TIDAK DITENTUKAN OLEH SEDIKIT BANYAKNYA ORANG YANG BERKATA BAHWA ITU BENAR"

Karbala Berduka

Karbala Berduka
Ya, Syahid! Ya, Madzhlum! Ya, Imam! Ya, Husein!

Kamis, 09 Februari 2012

SAUDI ARABIA YANG SAKIT JIWA…………………… DI MATA DAVID ICKE

 

BERIKUT ADALAH TULISAN YANG DISARIKAN DARI TULISAN DAVID ICKE—PENULIS TERKENAL DARI INGGRIS YANG MENDAPATKAN JULUKAN “The Most Controversial Speaker in the World” KARENA KEBERANIANNYA MENGUNGKAPKAN FAKTA DAN DATA YANG ORANG LAIN TAK MAU MENGUNGKAPNYA.

Orang-orang tampaknya tak ambil pusing dan tidak peduli kalau ada masalah dengan negara fasis bernama Saudi Arabia. Setiap permasalahan kemanusiaan kalau menyangkut Saudi Arabia akan diabaikan begitu saja. Orang-orang tidak mau mempermasalahkan Saudi Arabia bukan karena mereka memiliki kekuatan minyak. Orang-orang segan untuk berbicara buruk tentang Saudi Arabia karena ia negara sekutunya Amerika; dan pemerintah Amerika Serikat tidak pernah mempermasalahkan Saudi Arabia kalau ia melanggar hak asasi manusia. Keluarga Kerajaan Saudi boleh melakukan apa saja yang mereka inginkan sepanjang ia tetap menjadi sekutu yang paling erat dan tetap patuh dan taat kepada pemerintah Amerika Serikat.

 

KASUS-KASUS KEMANUSIAAN BERTEBARAN DI NEGERI PARA PANGERAN

Seorang pembantu Sri Lanka bernama Rivana Nafeek pergi ke Saudi Arabia sekitar 2 tahun yang lalu. Ia ditugaskan untuk merawat dan menjaga seorang bayi—yang sama sekali bukan tugasnya untuk menjaga bayi tersebut karena tidak disebutkan dalam kontrak perjanjian kerja dan Rivana Nafeek sama sekali belum mendapatkan pelatihan untuk mengasuh bayi. Kemudian bayi itu meninggal sekitar 2 tahun yang lalu ketika bayi itu sedang meminum susu dari botolnya. Rivana Nafeek dituduh melakukan pembunuhan dan untuk itu ia harus dihukum pancung. Keputusan itu ditentang oleh pemerintah Sri Lanka dan oleh kelompok-kelompok pembela hak asasi manusia.

Sekarang anda bayangkan kalau kejadian itu bukan terjadi di Saudi Arabia melainkan di Iran, misalnya. Pastilah masyarakat di Amerika Serikat dan Eropa akan berdiri dan mengacungkan tinjunya ke udara sebagai tanda protes. Akan tetapi karena kejadian ini terjadi di Saudi Arabia…………..maka mereka diam membisu!!!

Saudi Arabia itu adalah Israel versi Arab. Apapun yang dilakukan Israel orang Amerika Serikat dan Eropa akan memakluminya dan tidak meributkannya. Di kedua negara itu ada dua hukum yang berlaku secara bersamaan. Hukum yang satu ialah yang memihak mereka; dan hukum yang kedua ialah yang menindas orang lain. Dan tidak mengherankan kalau kedua negara itu ada di bawah kendali negara yang sama.

 

KASUS LAINNYA…….YANG MENGGAMBARKAN ARAB SAUDI SEBAGAI NEGARA YANG SAKIT JIWA

Pemenggalan kepala dilakukan di depan khalayak ramai di Saudi Arabia dan pemenggalan kepala ini jumlahnya naik 4 kali lipat tahun ini dengan lebih dari 100 kepala manusia dipenggal (bandingkan dengan 37 kepala yang dipenggal pada tahun 2006). Tubuh-tubuh manusia yang tanpa kepala itu dipertontonkan di depan umum sebagai peringatan bagi orang lain yang tidak “patuh” pada “hukum”. Hukuman mati itu tidak hanya dijatuhkan kepada para pelaku tindak kejahatan berat seperti membunuh, misalnya. Akan tetapi juga untuk perbuatan lainnya. Misalnya, 2 tahun yang lalu ada 6 orang berkebangsaan Somalia yang harus dipenggal kepalanya karena telah melakukan pencurian sebuah mobil. Contoh lainnya ialah pada tahun 1997 dimana seorang laki-laki harus dipenggal kepalanya karena ia telah melakukan praktek pedukunan—ia telah menyantet bos-nya.

Orang-orang yang mencuri akan dipotong-potong tangannya dan isteri yang melakukan perselingkuhan akan dirajam sampai mati—dan orang yang pertama melemparkan batu ke arah istri itu ialah suaminya sendiri!!! Saudi Arabia adalah negara yang sakit jiwa dan masyarakatnya terkena dampaknya akan tetapi dunia luar tampaknya tetap tidak peduli.

Sistem yang berlaku di Saudi Arabia itu ialah sistem fasis sampai keakar-akarnya. Pemegang pemerintahan dan orang-orang yang berkuasa di sana boleh melakukan apa saja. Mereka boleh membunuh dan memotong-motong orang sekehendak hati mereka karena tidak ada perwakilan yang bisa mewakili orang-orang yang dituduh melakukan kejahatan. Setiap pengadilan berlangsung di ruang tertutup terdakwa yang tidak diberikan pembela dan bahkan seringkali mereka tidak tahu bagaimana kasus mereka diputuskan.

Human Rigths Watch—badan independen yang membela hak asasi manusia—mengatakan bahwa sistem resmi yang berlaku di Arab Saudi gagal untuk memberikan perlindungan—seminimum apapun—terhadap warga negaranya. Di sisi lain, sistem yang sama memberikan peluang yang besar sekali kepada orang-orang yang berkuasa—yang punya akses langsung kepada keluarga raja—untuk berlaku semena-mena dengan menggunakan sistem yang memberikan peluang maksimal padanya. Seperti yang saya katakan, negara bisa membunuh siapa saja yang ia kehendaki dengan “bukti” atau tanpa bukti sekalipun di dalam sebuah “pengadilan” yang mereka atur sendiri.

Penyiksaan yang sadis seringkali diberlakukan kepada orang-orang yang tidak bersalah agar mereka mau “mengakui kesalahan” mereka yang sebenarnya tidak mereka lakukan. Dr William Sampson—seorang berkebangsaan Inggris—menuturkan pengalamannya ketika ia ditangkap dan disiksa terus menerus selama dua setengah hari di sebuah penjara dengan tuduhan melakukan sebuah tindak kejahatan yang sama sekali ia tidak lakukan. Ia mengaku bahwa ia telah diperkosa, digantung terbalik dan kedua tumitnya dipukuli.

Dr. William Sampson berkata: “Aku akhirnya mengaku. Aku sudah tidak tahan lagi. Aku mengambil resiko karena telah mengakui sebuah tindak kejahatan yang mungkin akan menggiringku ke penjara dan mendapatkan hukuman yang berat. Akan tetapi anehnya pengakuan saya jadi tidak relevan lagi. Setelah mengalami penyiksaan yang sangat berat, saya bersyukur saya tidak meninggal pada hari itu.”

Di Saudi Arabia kita tidak temui kebebasan beragama; kebebasan berbicara dan sederet kebebasan dasar lainnya yang seharusnya didapatkan oleh manusia bebas. Kita tidak bisa berpegangan tangan dengan seorang wanita di tempat umum; kita tidak bisa duduk-duduk di sebuah restoran dengan seorang wanita yang bukan isteri kita, ibu kita atau saudari kita. Kita tidak boleh mengenakan aksesori atau pakaian yang mereka sebut “pakaian yang mengundang”—yaitu pakaian yang memperlihatkan kulit kita atau bagian dari mata kaki kita, tangan kita dan wajah kita. 

 

MEREKA ITU ORANG-ORANG YANG SAKIT JIWA

David Icke menuliskan: “Sementara itu, Sang Raja dan ribuan pangeran dan kerabat dekat dan jauh dari Keluarga Kerajaan Saudi bisa lepas dari segala tuduhan untuk setiap tindak kejahatan yang mereka lakukan. Saya tinggal di Saudi Arabia selama beberapa bulan pada akhir tahun 1970 dengan sekelompok orang yang bekerja untuk sebuah tim nasional sepakbola. Di sana ada sebuah “toko furniture” di kota Riyadh—ibukota Saudi Arabia. Toko itu sebenarnya hanya penyamaran saja untuk sebuah bisnis penjualan Whiskey ilegal yang diselundupkan ke Saudi Arabia untuk memenuhi kebutuhan istana-istana kerajaan Saudi (padahal minuman beralkohol itu dilarang secara resmi oleh negara!!). Keluarga kerajaan Saudi memang terkenal suka minum minuman keras selain juga terkenal karena kegiatan seksual-nya yang liar. Keluarga kerajaan Saudi juga terkenal karena prilaku seksualnya ini di kota London, padahal untuk rakyatnya sendiri mereka memberlakukan hukuman dan aturan yang sangat ketat untuk hal yang sama.”

 

David Icke melanjutkan, “Ada sebuah contoh yang patut kita ketengahkan di sini. Seorang wanita bernama Cathy O’Brien—seorang bekas budak yang telah dicuci otaknya, yang dipekerjakan oleh pemerintah AS—menuturkan dalam bukunya, Trance-Formation of America, bagaimana ia telah mengalami pelecehan seksual yang hebat. Cathy O’Brien mengaku bahwa ia telah dipaksa untuk melakukan hubungan seksual dengan Rajah Fahd atas perintah dari Phillip Habib, seorang atase pribadi dari presiden Amerika Serikat pada waktu itu, Ronald Reagan.

(LIHAT: http://illogicalcontraption.blogspot.com/2010/10/cathy-vs-kathy.html)

(LIHAT video: http://www.davidicke.com/articles/mind-control-mainmenu-39/14695-cathy-obrien-on-towards-the-light)

David Icke menuturkan lagi, “Aku berusia 25 tahun ketika aku pergi ke Saudi Arabia untuk bekerja selama 2 tahun masa kontrak kerja. Akan tetapi aku segera memutuskan akan mengakhiri masa kontrakku walaupun aku baru menghabiskan waktu selama 2 minggu di sana setelah aku melihat yang terjadi di sana. Akhirnya dalam 8 minggu aku benar-benar terbebas dari kontrak kerjaku dan aku bisa keluar dari negara itu. Cukup aneh juga apa yang aku temukan di sana. Karena aku masih menemukan para penduduk kebanyakan yang sangat ramah dan santun kepadaku walau pemerintah yang berkuasa sangat kejam dan diktator sampai keakar-akarnya. Dengan alasan bahwa mereka sedang menerapkan hukum syari’ah dengan landasan paham Wahabi atau salafi, mereka memaksakan kehendak mereka atas bangsa Arab secara semena-mena.“

pada tahun 2002, 15 orang gadis—anak sekolahan—terpaksa harus tewas di sebuah gedung yang terbakar di kota Mekah karena polisi relijius Arab tidak memperkenankan mereka keluar dari gedung itu dengan alasan bahwa gadis-gadis itu tidak mengenakan pakaian muslimah yang lengkap. Seorang saksi mata melaporkan bahwa polisi relijius itu malah memukuli para gadis itu karena mereka tidak mengenakan abaya (kain hitam yang menutupi sekujur tubuh mereka). Para polisi relijius itu sangat ditakuti di Saudi Arabia dan mereka seringkali berpatroli di jalan-jalan untuk menerapkan aturan berpakaian masyarakatnya serta untuk memastikan bahwa antara laki-laki dan perempuan itu ada pemisah yang jelas. Para polisi relijius itu juga memaksakan masyarakat agar shalat tepat pada waktunya. Masyarakat yang menolak atau membangkang dari perintah polisi relijus itu akan menerima hukumannya secara langsung. Mereka akan langsung dipukuli di tempat dan atau dipenjarakan langsung.

Para wanita terpenjara dalam kegilaan relijius yang dipraktekan di sana dan mereka lebih pantas disebut budak-budak belian apabila kondisinya dibandingkan dengan kaum pria-nya. Kaum wanita tidak boleh dibawa ke rumah sakit untuk diperiksa oleh dokter kalau tidak ada ijin langsung dari suaminya atau keluarganya. Kaum wanita juga tidak boleh bepergian ke luar negeri atau meninggalkan rumah tanpa adanya seorang muhrim yang mendampinginya. Kaum wanita harus menutup seluruh tubuhnya dalam balutan kain abaya hitam. Kaum wanita hendaknya tidak bermimpi untuk mendapatkan pekerjaan atau menitis jenjang karir. Semua kesempatan untuk itu bisa dikatakan tertutup sama sekali.

Sementara kaum rakyat jelata banyak yang hidup miskin di pemukiman kumuh, kaum elit-nya hidup sangat berkecukupan dan mendirikan istana-istana megah tiada tara dari hasil ladang-ladang minyak yang dimiliki oleh mereka sendiri dan bukan oleh negara (untuk kemakmuran bangsa!). Kaum elit Saudi Arabia hidup bagai parasit dengan merampas kekayaan yang ada di jazirah Arabia dan mengangkangi dua kota suci umat Islam: Mekah dan Madinah.

Keluarga Saudi muncul di jazirah Arabia pada tahun 1744 ketika Muhammad bin Saud—yang berkuasa di sebuah kota yang disebut dengan Ad-Diriyah (dekat Riyadh)—membentuk sebuah kekuatan politis yang brutal bersama dengan seorang ulama bernama Muhammad ibn Abdul Wahhab (yang kelak membuat agama Wahabi, agama resmi pemerintahan Saudi). Kedua pentolan ini mengendalikan jazirah Arab selama 180 tahun sampai berdirinya dinasti Saudi yang sekarang ini yang menelurkan Kerajaan Saudi Arabia pada tahun 1926 (resminya pada tahun 1932) dibawah kepemimpinan Raja Abdul Aziz bin Saud.

Beberapa peneliti mengklaim bahwa Keluarga Saudi itu sebenarnya adalah keturunan Yahudi yang menyamar (LIHAT: KELUARGA SAUDI ….. SIAPAKAH MEREKA SEBETULNYA?). Para peneliti itu mengatakan bahwa pada tahun 851 beberapa anggota keluarga suku Al-Masaleekh mengadakan perjalanan dagang dalam sebuah iring-iringan kafilah. Mereka bertemu dengan seorang laki-laki yang bernama Modakhai bin Ibrahim bin Moshe di kota Basrah (Irak). Mordakhai adalah seorang Yahudi tulen, akan tetapi ia berkata kepada orang-orang al-Masaleekh itu bahwa ia masih keluarga al-Masaleekh dan sekarang ia berada di Basrah karena cekcok dengan keluarganya.

Mordakhai memohon kafilah dagang itu agar ia bisa diajak serta ke Najd di Arab dimana ia kemudian mengganti namanya dan tinggal di sebuah kota kecil yang disebut dengan Al-Dir’iyyah atau Diriyah. Mordakhai mengumpulkan simpatisan dari orang-orang suku Baduy Arab dan kemudian ia mengangkat dirinya sendiri sebagai seorang Raja. Itu menurut hasil penelitian.

Beberapa suku yang tidak suka dengan kehadiran Mordakhai menyerang kota Al-Dir’iyyah dan Mordakhai melarikan diri dan bersembunyi di sebuah tanah pertanian di dekat desa Al-Arid yang kemudian hari akan menjadi ibukota Saudi Arabia yaitu Riyadh (INI SEKALIGUS MENJELASKAN MENGAPA YANG MENJADI IBUKOTA SAUDI ARABIA ITU IALAH “RIYADH” DAN BUKAN MEKAH ATAU MADINAH YANG JAUH LEBIH PENTING DAN JAUH LEBIH MEMILIKI KAITAN BUDAYA DENGAN ISLAM DAN ARAB). Dalam satu bulan, ia telah membunuh si pemilik tanah pertanian dan berbohong kepada orang-orang bahwa yang membunuh si pemilik tanah sekeluarga itu ialah para perampok. Ia juga berbohong telah membeli tanah itu sebelum si pemiliknya terbunuh oleh “perampok”. Ia kemudian mengganti nama dari tanah pertanian itu untuk melenyapkan sebagian bukti kejahatannya. 

Dari situlah, Mordakhai yang kemudian mengklaim dirinya sebagai seorang Sheikh Arab, mulai memperluas daerah kekuasaannya. Sejengkal demi sejengkal tanah yang ada di sekitarnya direbut dengan paksa; dengan kekerasan sampai pembunuhan; terkadang juga dengan kelicikan dan penipuan. Ini dilanjutkan oleh keturunannya—keluarga Saudi—sampai detik ini. Mereka juga memperluas pengaruh mereka dengan cara memalsukan silsilah keluarga mereka supaya bersambung dengan orang-orang Arab ternama dan dengan keluarga Rasulullah.

Salah seorang putera dari Mordakhai yang bernama Al-Maraqan (sebuah nama dari bahasa Yahudi Mack-ren) memiliki dua orang putera bernama Mohammad dan Saud—dari sinilah muncul dinasti Saudi yang sekarang ini.

Keluarga Saud sekarang ini terdiri dari Raja Abdul Aziz beserta kelima putera-puteranya. Kekuatan dan kekuasaan digilir oleh enam orang itu dengan raja Abdullah sebagai Raja Saudi saat ini. Raja Abdullah bin Abdul Aziz ini memiliki 30 orang isteri dan 15 putera serta 20 puteri.

Keluarga Al-Saud itu adalah keluarga diktator yang fasis sampai keakar-akarnya. Seorang peneliti Arab menuliskan: 

“Mereka menamakan seluruh jazirah Arab itu dengan nama keluarga mereka (Saudi Arabia) seolah-olah seluruh daratan jazirah Arab ini milik mereka pribadi; dan semua orang yang tinggal di dalamnya—yang bukan keluarga mereka—sebagai budak-budak belian yang harus bekerja siang dan malam untuk kepuasan dan kesenangan mereka (Keluarga Saudi).”

Mereka benar-benar mengangkangi harta kekayaan alam negara sebagai hak milik pribadi. Kalau ada yang berani bicara tentang ketidak adilan ini, maka nasibnya sudah jelas. Ia akan dipancung kepalanya di muka umum. 

MASIH INGAT CERITA TENTANG PEMBANTU RUMAH TANGGA DARI SRI LANKA DI ATAS? 

Pembantu rumah tangga yang berusia 19 tahun itu mungkin sedang menunggu dengan harap-harap cemas akan nasibnya yang akan diputuskan oleh pemerintah Saudi. Ia dituduh membunuh bayi itu sementara penggerak hak asasi manusia mengatakan itu hanya kecelakaan saja. Kalau ia diputuskan bersalah, maka kemungkinan besar ia tidak bisa merayakan hari ulang tahunnya yang ke-20. Nasibnya ditentukan oleh sebuah negara yang dipimpin oleh orang-orang yang sakit jiwa.

Tapi kalau Rizana Nafeek itu dibebaskan………itu bukan karena kemurah hatian dan kebijaksanaan dari pemerintah Saudi. Itu hanya karena pertimbangan politis saja………

(Kabar terakhir mengatakan Rizana Nafeek telah dipancung……………………………pada 16 Juni 2007, Lihat: http://alaiwah.wordpress.com/2010/10/26/saudi-father-refuses-to-pardon-his-17-year-old-maid/)

LIHAT JUGA: http://bikyamasr.com/20888/saudi-arabia-stop-rizana-nafeek%E2%80%99s-execution/

Tidak ada komentar: