

"Wah, payah. Ini orang-orang sudah
pada sesat semua", kata Umar yang juga sedang menyaksikan berita yang
sama. Selain dirinya dan Thoha serta Timun, juga ada tiga orang lainnya yang sedang
menyaksikan berita yang sama melahap makan siang yang kebetulan menunya
sama--rendang, perkedel kentang, dan beberapa jumput sayuran yang sudah tidak
kelihatan lagi mirip sayuran karena warnanya berubah menjadi coklat kehitaman,
bukannya segar kehijauan. Mereka pesan nasi bungkus itu dari warung nasi yang
sama dengan harga yang sama. Kompak.
"Iya, ya. Masa batu seperti itu
dianggap ajaib dan bisa menyembuhkan", kata Joko. "Batu seperti itu
khan bisa saja ditemukan di pekarangan kita", ia menambahkan.
"Memangnya batu ajaib itu bentuknya
harus bagaimana?", tanya Timun sambil memasukkan nasi sekepalan ke
mulutnya. Joko tidak menjawab. Ia tidak mau menjawab. Mungkin ia memang tidak
tahu batu ajaib itu harus seperti apa bentuknya, atau mungkin ia tidak mau
berbantah-bantahan dengan Timun yang biasanya memiliki ide aneh dan pandangan
aneh tentang segala sesuatu; apalagi yang sedang jadi bahan perbincangan itu
memang pada dasarnya sesuatu yang aneh. Tambah aneh lagi nantinya pandangan
Timun tentang hal itu.
Umar-lah yang menjawab, "Yaa, yang
namanya batu ajaib itu tidak ada sama sekali. Yang ajaib hanyalah Allah semata.
Percaya kepada sesuatupun yang selain Allah, tidak berdasar sama sekali. Itu
termasuk perbuatan musyrik dan orang yang melakukannya termasuk para penghuni
neraka jahanam dan kekal di dalamnya. Allah tidak akan mengampuni dosa
perbuatan musyrik dari seseorang tapi akan mengampuni yang selainnya, itupun
kalau ia mau bertobat". Umar tampak puas dengan ucapannya. Sementara itu
Joko, Thoha, Maria (ia tidak ingin terlibat dalam pembicaraan ini karena ia
satu-satunya orang beragama non-Islam yang ada di ruangan itu), ibu Elsa, dan
Hadijah tampak manggut-manggut mengiyakan pernyataan Umar dengan bahasa
tubuhnya. Hanya Timun yang tidak manggut-manggut. Mungkin ia tidak mau
kelihatan seperti burung perkutut milik tetangganya yang suka manggut-manggut
di pagi hari. Timun tetap asyik dengan makanannya sambil sesekali mengambil teh
botolnya untuk sekedar menghirup teh dingin agar bisa melepaskan dirinya dari
perasaan pedas yang melanda lidah dan seluruh rongga mulutnya.
Umar melanjutkan, "Sungguh ironis
sekali bukan? Lihat saja mereka yang hadir itu kebanyakan orang-orang miskin
dan tidak berpendidikan tinggi. Sudah miskin dan bodoh di dunia, nanti malah menderita
di akhirat; itu khan namanya celaka dunia-akhirat. Saya kira umat Islam tidak
boleh seperti itu. Pantas saja kalau Allah akan mengadzab orang-orang yang
seperti itu karena kemusyrikan itu
khan pangkal kebodohan". Entah darimana Umar mendapatkan semboyan
seperti itu. Mungkin ia membuat-buatnya sendiri agar kelihatan seperti kalimat
yang disitir dari sebuah sumber yang terpercaya.

Tapi Umar harus menahan kegembiraan itu
karena Timun ternyata tidak mau berkomentar karena ia tidak diminta untuk
melakukannya. Setelah selesai mencuci kedua tangannya ia kembali ke ruangan guru
untuk menyelesaikan tugasnya menulis untuk blog
yang baru dibuatnya beberapa hari yang lalu. Blog itu ia buat untuk mencurahkan
segenap pemikirannya agar bisa dibaca orang, diikuti orang, atau dibantah
orang--Timun juga mengharapkan ini karena ia senang ada orang yang bisa
dijadikannya teman diskusi. Diskusi itu bisa mencerahkan pemikiran. Otak Timun
dipakai terus sehingga mudah-mudahan bisa lebih encer daripada otak-otak
lainnya yang hanya dijejali informasi yang tidak penting seperti nama para
artis lengkap dengan permasalahan hidupnya; para penyanyi dengan hits-hits
mereka; lirik-lirik lagu baik barat maupun melayu dan lain-lain. Informasi yang
apabila Timun tidak tahu, Timun tidak merasa rugi karenanya.
Timun segera
mengutak-atik laptop-nya. Ia memasuki dunia maya untuk meneruskan
pekerjaannya yaitu menulis di blog-nya.
Ia mempunyai sebuah pikiran yang harus cepat-cepat ia tuangkan dalam bentuk
tulisan karena kalau tidak idenya itu akan menguap cepat seperti sebongkah es
batu di padang pasir--meskipun solid dan keras tapi dengan cepat meleleh
ditempa panasnya gurun yang tidak mengenal kawan maupun lawan. Sementara itu
teman-teman yang lainnya meneruskan perbincangan mereka tentang sesatnya
orang-orang yang berobat pada seorang dukun cilik yang kelihatan polos tak
berdosa.
Mereka sibuk; Timun-pun sibuk. Semua
sibuk dengan pikiran dan kegiatannya masing-masing.
"Tuh lihat sebagian dari mereka
memperebutkan air yang tumpah ruah ke tanah. Iiiih, menjijikan sekali. Apa kata
orang kalau melihat hal seperti itu", Ibu Elsa bergidik ngeri melihat
pemandangan yang menurutnya tidak lazim itu.
"Iya, yah. Mereka bodoh sekali.
Mana mungkin air yang kotor, sudah kena tanah lagi, bisa memberikan kesembuhan
pada orang-orang sakit. Apa mereka tidak pernah berpikir", tambah Hadijah.
Ia masih sibuk mengunyah daging rendangnya. Ia memang paling telat kalau makan.
Terkadang ia menghabiskan waktu yang hampir sama dengan satu episode sinetron
picisan di televisi kita untuk sekedar menghabiskan nasi bungkus yang sudah
terlebih dahulu jatahnya dikurangi karena Hadijah sering memesan nasinya
setengah saja untuk harga yang sama dengan nasi bungkus yang nasinya penuh
seperti yang dipesan Timun dan teman-teman lelaki lainnya.
"Mungkin mereka tidak bodoh.
Mungkin mereka hanya memiliki cara pandang yang lain dari yang kita miliki. Itu
saja", Timun terpaksa ikut nimbrung. Dari tadi ia menahan diri dan
ternyata tidak bisa terlalu lama karena ia merasa teman-temannya sudah terlalu
jauh melangkah. Itu menurut Timun, tentu saja.
"Bagaimana mungkin mereka tidak
bodoh, Mun? Kamu ini ada-ada saja. Kamu lihat saja sendiri. Sudah jelas mereka
memperebutkan air kotor untuk obat. Bahkan air bersih yang mereka miliki itu
walau telah dicelup batu itu beberapa kalipun saya yakin tidak akan memberikan
efek apapun. Saya tidak percaya batu itu bisa menyembuhkan penyakit", kata
Umar sedikit keras. Ia, seperti halnya Timun, sudah menyelesaikan makan
siangnya. Ia sekarang sedang makan colenak (makanan khas Bandung yang
terbuat dari tape singkong yang dibakar kemudian dipotong-potong diberi saus
dari gula merah yang dicairkan yang sudah dicampur dengan kelapa parut. Selain
itu untuk menambah rasa legitnya seringkali ditaburkan pula kacang tanah goreng
yang sudah ditumbuk tidak terlalu halus. Kalau kurang manis ditambah lagi
dengan susu kental manis barang satu atau dua tetes di atasnya.) yang tadi
ia pesan lewat koperasi kantornya. Cuci mulut, katanya. (Cuci mulut, apa masih
lapar?).
"Enggak. Saya cuma teringat apa
yang dulu pernah terjadi sewaktu Rasulullah masih bersama kita semua. Ketika
itu Rasulullah sedang berwudlu. Sehabis berwudlu, air sisa bekas Rasulullah itu
diperebutkan banyak orang. Yang tidak kebagian menempelkan tubuhnya kepada
orang yang sudah membasahi dirinya dengan bekas air wudlu nabi itu demi untuk
mendapatkan basahnya air bekas wudlu Nabi. Nabi menyaksikan mereka dan
tersenyum. Nabi tidak pernah melarang mereka melakukan itu semua. Nabi
membiarkan perbuatan mereka seakan-akan memang ia menyetujui perbuatan itu,
karena kalau ia tidak setuju ia akan langsung mengatakan ketidak-setujuannya pada
hari itu juga atau di hari yang lainnya. Nabi tidak pernah memarahi mereka dan
mengatai mereka sebagai orang-orang musyrik. Saya yakin Nabi tidak mengatai
mereka musyrik karena perbuatan memperebutkan air bekas wudlu itu bukan
perbuatan musyrik. Perbuatan musyrik itu menyembah Tuhan lain selain Allah.
Mereka hanya berebut air dan bukan menyembah Tuhan lain selain Allah. Makanya
Nabi tidak marah kepada mereka. Dan kejadian di sekitar Ponari, bocah ajaib
itu, mengingatkan saya pada hadits itu", Timun menutup pembicaraannya yang
cukup panjang.
"Mengapa mereka memperebutkan air
itu. Seperti kurang kerjaan saja!", Umar menyela, kelihatan sekali kalau
ia tidak setuju.
"Lho, bukannya kamu tahu itu! Kamu
khan dibesarkan dalam naungan pendidikan yang cukup mendalam? Kamu tahu, itu
bukanlah perbuatan sia-sia. Itu bukan pekerjaan orang-orang yang kurang
kerjaan. Kamu tahu sendiri khan, itu bagian dari tabarruk. Mereka ber-tabarruk kepada
Rasulullah lewat apa-apa yang pernah disentuh oleh Nabi. Kita bisa ber-tabarruk juga kepada orang-orang
yang telah berjumpa dengan Nabi dan lain-lain, dan lain-lain. Itu semua mereka
lakukan untuk mendapatkan keberkahan dari Allah", Timun menutup
penjelasannya. Ia menyapukan pandangannya ke setiap penjuru ruangan guru. Ia
memastikan bahwa setiap orang telah selesai dengan makan siangnya. Maria dan
Hadijah mulai melihat-lihat buku teks untuk melihat pelajaran apa yang harus
mereka berikan pada jam pelajaran berikutnya sambil sesekali matanya melihat ke
arah televisi yang sekarang sudah berganti program ke program infotainment siang. Yang berkerumun
di sekitar Timun hanya Umar, Thoha, dan Ibu Elsa saja. Oh, ya Joko juga, walau
ia tampak tidak seserius yang lainnya. Yang lain tidak begitu peduli dengan
topik pembicaraan yang sedang mereka bahas.
"Itu khan sama saja dengan
perbuatan musyrik, Mun", sela Ibu Elsa. "Karena mereka memiliki
anggapan bahwa ada kekuatan selain Allah yang bisa memberikan mereka sesuatu
seperti keberkahan misalnya".
"Kalau itu perbuatan musyrik, maka
orang yang pertamakali akan melarang mereka berbuat seperti itu ialah
Rasulullah sendiri. Ini khan tidak. Malah sebaliknya. Beliau membiarkan dan
tidak melarang sama sekali. Malah perbuatan seperti itu ada namanya dalam Islam
yaitu tabarruk seperti yang
sudah saya sebutkan tadi", balas Timun. "Lagipula, Rasulullah itu
hanya menyetujui perbuatan yang baik yang harus dilakukan oleh umatnya.
Jangankan itu, Rasulullah malah pernah bersabda, 'Seandainya kalian
beriman pada hari akhir hendaklah berkata dengan perkataan yang baik. Kalau
tidak bisa lebih baik diam'. Kalau kita berkata harus berkata yang baik-baik
saja dan kalauu tidak bisa maka berdiam diri itu lebih baik, nah, itu artinya
ialahRasulullah tidak suka umatnya melakukan perbuatan yang sia-sia. Kalau
perbuatan berebut air bekas wudlu itu perbuatan sia-sia, maka Rasulullah akan
melarangnya karena beliau tidak suka umatnya melakukan suatu perbuatan yang
tidak ada artinya--yang tidak punya makna; yang tidak memberikan manfaat bagi
pelakunya. Jadi kalau Rasulullah itu membiarkan perbuatan para sahabatnya
berebut air bekas wudlu Rasulullah, maka itu adalah perbuatan yang baik,
perbuatan yang bermakna, perbuatan yang memberikan manfaat bagi para pelakunya",
lanjut Timun.
"Apa baiknya? Apa manfaatnya? Apa
pula artinya? Menurut saya sih itu tetap saja perbuatan yang sia-sia
dan tidak memiliki arti sama sekali. Apa bedanya itu dengan perbuatan takhayul
yang seringkali dilakukan oleh orang-orang di jaman jahiliyyah", Umar
menukas dengan ketus.
"Kalau itu kesimpulanmu, berarti
kamu beranggapan bahwa Rasulullah senang dengan perbuatan yang sia-sia karena
ketika Rasulullah melihat orang-orang berebutan mengambil air bekas wudlunya,
beliau tersenyum dan membiarkannya. Demi Allah, itu kesimpulan yang berbahaya
dan keliru. Itu sama saja dengan mengatakan bahwa Rasulullah diutus ke dunia
ini hanya untuk main-main saja. Sedangkan yang kita ketahui ialah Rasulullah
itu diutus untuk menyempurnakan akhlak umat manusia. Dan perbuatan sia-sia dan
main-main itu jelas bukan akhlak yang baik karena itu artinya kita melakukan
sesuatu yang tidak ada gunanya; membuang-buang waktu secara percuma. Jelas
sekali Rasulullah tidak mungkin diutus untuk itu", Umar terdiam. Timun masih
melanjutkan pembicaraannya dengan berapi-api. Ia merasa sedikit emosionil--itu
sering terjadi pada diri Timun apabila kehormatan Nabinya ia rasakan sedang
terusik. Ia akan bela habis-habisan kehormatan Nabinya itu sampai titik
darah penghabisan (ini beneran, Timun tidak pernah main-main untuk yang
satu ini).
"Kalau kamu masih bingung apa
artinya; apa manfaatnya; apa baiknya bagi kita perbuatan itu maka saya akan
katakan di sini. Pertama, saya akan sebutkan lagi bahwa nama perbuatan yang
dilakukan oleh para sahabat Nabi itu ialah tabarruk. Itu cara kita untuk mendapatkan keberkahan dari sesuatu
yang ada hubungannya dengan orang-orang suci dan shaleh atau para wali Allah.
Beberapa tempat di permukaan bumi ini memang memiliki serta memancarkan
keberkahan dan kebaikan. Apabila kita shalat di tempat itu, mengunjungi tempat
itu dan berdo'a di tempat itu, atau sekedar mengunjunginya saja dengan segenap
kepercayaan bahwa tempat itu mengandung keberkahan, maka kita akan mendapatkan
keberkahan dari tempat itu. Memiliki kepercayaan seperti itu bukan musyrik
melainkan mukmin", Timun berhenti sejenak.
"Memangnya ada tempat seperti itu,
Mun", kata Thoha yang sedari tadi lebih banyak diam dan menikmati kopi
instannya yang entah sejak kapan ia buat.
"Ada dan banyak. Masjidil Haram
salah satunya. Tempat itu mengandung keberkahan tingkat tinggi. Kalau kita
shalat di dalamnya satu raka'at kita akan dihitung shalat seratus ribu kali
lebih banyak dan lebih baik. Itu kata Nabi bukan kata saya. Juga mesjid Nabawi
di Madinah yang di dalamnya ada makam Rasulullah. Tempat itu penuh keberkahan
dan mendatangkan kebaikan bagi orang yang menziarahinya. Tempat dimana jasad
orang yang paling kita cintai melebihi kecintaan kita pada diri sendiri ada di
dalamnya. Tolong jangan katakan tempat itu sama saja dengan tempat yang lain.
Tolong!!", sekali lagi raut wajah Timun sangat bersungguh-sungguh.
Entahlah Timun seringkali memiliki perasaan emosionil yang meluap-luap ketika
ia berbicara tentang Rasulullah dan keluarganya. Matanya sering berkaca-kaca
menahan perasaan hati yang sepertinya berat sekali. Timun tahu, dulu ia tidak
begitu. Tapi sejak perjumpaannya dan pertemanannya dengan Hadi (lihat
cerita Teman Baru Kenalan di Mesjid Salman) yang masih ia pertahankan
sampai saat ini, Timun mendapatkan pencerahan yang lebih dari lumayan.
"Kalau kalian masih perlu beberapa
contoh lagi, akan saya berikan. Salah satunya ialah Maqam Ibrahim yang terletak dekat bangunan Ka'bah. Dulu, konon
katanya, itu adalah tempat dimana Nabi Ibrahim berdiri ketika menyaksikan
pembangunan Ka'bah pertama kalinya. Tempat itu sekarang menjadi tempat yang
sangat sakral dan orang-orang berebutan untuk mendapatkan kesempatan berdiri di
tempat itu untuk memanjatkan do'a. Mereka ingin berdiri di sana karena dulu
Nabi Ibrahim yang mereka cintai pernah berdiri di sana. Gua Hira tempat
Rasulullah dulu ber-khalwat dijadikan tempat untuk berziarah dan
orang-orang sangat ingin mengunjungi tempat itu bukan untuk sekedar
berdarmawisata melainkan untuk menyerap keberkahan dari tempat itu. Tempat yang
pernah dihuni oleh orang yang sangat mereka dambakan untuk bertemu. Tempat yang
hampir setiap jengkal tanahnya pernah dipijak oleh kaki-kaki suci Rasulullah.
Dengan ber-tabarruk di tempat itu, kita sebenarnya sedang berusaha untuk
mendapatkan keberkahan dari Allah. Kecintaan kita pada utusan Allah adalah
bentuk lain dari kecintaan kita pada Allah", Timun menyudahi ceramahnya
yang panjang lebar.
"Tapi itu khan perbuatan para
sahabat terhadap Nabi dan Rasul. Mereka melakukan itu karena yakin bahwa
Rasulullah itu orang yang
memiliki karomah atau mukjizat tertentu sedangkan kalau
kita meyakini orang lain--sembarang orang saja--maka itu lain jadinya. Itu
musyrik namanya", Joko ikut buka suara. Ia sebenarnya paling jarang
berbicara. Ia hanya ikut bicara kalau ia ingin dan kita tidak tahu dan tidak
bisa memastikan kapan ia ingin bicara.
"Iya. Lagi pula kita khan sekarang
sedang membicarakan sebuah batu yang dipercaya mengandung kekuatan bukan sedang
membicarakan tempat yang mengandung berkah. Apa hubungannya?", Ibu Elsa
menimpali. Ia sekarang sedang mengunyah permen penyegar tenggorokan sekaligus
untuk menyembuhkan radang tenggorokan yang selama dua hari ini ia derita.
"Tidak benar bahwa yang
memiliki karomah itu hanya para Nabi. Beberapa dari manusia juga
mendapatkan hal seperti itu. Beberapa orang dari kita terpilih oleh Allah untuk
diamanati kekuatan seperti itu. Tentu saja orang-orang yang terpilih itu
haruslah orang-orang yang memang suka mendekatkan diri kepada Allah. Karena
faktor kedekatan dengan-Nya-lah maka orang-orang itu menjadi orang-orang
terpilih. Mereka diberikan karomah sebagai bukti adanya Allah. Bisa
kalian bayangkan kalau mereka sedang berdakwah kepada orang-orang yang tidak
percaya kepada adanya Allah kemudian mereka meminta bukti bahwa Tuhan itu ada.
Mereka mungkin akan berkata, 'Kalau memang Tuhan itu ada dan kamu adalah
salah satu orang yang merasa terpanggil untuk menyampaikan ajaran dan
perintahnya, coba buktikan bahwa kamu punya kekuatan tertentu. Kamu khan bilang
Tuhan itu Maha Kuasa Kuat, kalau memang kamu itu dekat denganNya dan merasa
menjadi utusanNya, maka tunjukkanlah kepada kami sebuah keajaiban'. Nah,
bisa kalian bayangkan kalau orang itu tidak bisa memenuhi kehendak mereka.
Pasti mereka akan tertawa dan tidak akan percaya pada orang itu", Timun
berhenti sejenak.
"Mun, bagaimana kalau ia memang
pada akhirnya benar-benar tidak bisa menunjukkan kekuatan itu", Ibu Elsa
mencari kepastian dan penegasan.
"Itu dia. Bisa kita bayangkan kalau
itu memang benar-benar terjadi. Makin banyak orang yang tidak percaya bahwa
Tuhan itu ada. Kepada para Nabi dan Rasul saja yang sering menunjukkan
mukjizatnya orang-orang itu masih banyak yang tidak percaya apalagi kepada
orang-orang biasa seperti kita. Maka dari itu, saya percaya bahwa beberapa dari
kita mungkin saja diberikan
atau karomah atau mukjizat apapun itu namanya tanpa
membeda-bedakan keduanya karena produk dan output-nya
sama. Anak seperti Ponario itu mungkin saja diberikan diberikan kelebihan oleh
Allah dan sepertinya memang begitu. Kak Seto yang pernah mengunjunginya saja
pernah bilang memang anak itu tidak seperti anak lain seusianya. Ponario itu
anak indigo. Anak indigo itu adalah sebutan untuk
anak-anak yang memiliki kemampuan khusus yang dibawanya sejak lahir. Dan saya
yakin Allah Maha Pencipta untuk membuat anak seperti itu".
"Selanjutnya tentang mukjizat.
Mukjizat itu salah satu alat dari para utusan Tuhan untuk menegaskan bahwa
dirinya memang diutus Tuhan. Fungsi lainnya ialah untuk membuktikan bahwa Tuhan
itu ada. Yang bukan fungsi dari suatu mukjizat itu ialah memaksa atau
menjadikan orang-orang percaya kepada Tuhan. Itu sama sekali bukan fungsi dari
suatu mukjizat. Allah ingin orang-orang percaya kepada diriNya itu atas dasar
suka rela dan bukan pemaksaan meskipun Tuhan sangat Maha Kuasa untuk membuat
itu terjadi. Mukjizat itu bisa berupa sebuah tongkat seperti yang dimiliki Nabi
Musa; atau seekor unta seperti yang diberikan kepada Nabi Shaleh; atau sebuah
kitab seperti yang diamanahkan kepada Nabi dan junjungan kita Muhammad
al-Mustafa. Mukjizat bisa juga berupa kekuatan-kekuatan seperti kekuatan fisik
dan mental. Ali bin Abi Thalib itu bukan nabi tapi ia diberkahi dengan fisik
yang prima. Ia sanggup mendobrak pintu gerbang dari sebuah benteng pada
peperangan Khaybar. Setelah pertempuran berakhir dengan kemenangan di pihak
kaum Muslimin, orang-orang mencoba untuk mengangkat pintu gerbang itu supaya
bisa dipasangkan lagi pada tempatnya. Dan itu pintu gerbang itu hanya bisa
diangkat setelah ada sekitar 40 orang yang mengangkatnya bersama-sama. Mukjizat
itu bisa juga berupa sebuah pedang seperti pedang Zulfikar yang diberikan Jibril kepada Ali bin Abi Thalib. Pedang
yang dengannya Islam itu tegak. Entah berapa puluh begundal Qurays yang musyrik
sudah tewas di ujung pedang itu", Timun menegaskan.
"Aku masih kurang yakin akan
apa-apa yang kamu bicarakan, Mun", sela Umar.
"Bukankah memang kamu selalu begitu
setiap aku memberikan penjelasan?", tanya Timun.
"Nggak juga sich, tapi memang seringkali aku perhatikan pendapat-pendapat kamu
itu senantiasa bertentangan dengan pendapat umum. Pendapatmu itu tidak umum. Tapi
di sisi lain pendapatmu itu susah pula dibantah. Atau mungkin karena aku tidak
tahu bagaimana cara membantahmu walau aku dibesarkan lewat pendidikan agama
mulai sejak kecil sampai sekarang. Aku belum pernah melihat ustadz-ustadzku
berhujjah seperti kamu. Kalau kamu mengemukakan pendapat seolah-olah pendapat
itu datang dari tempat yang jauh dan asing walau kelihatan jelas masuk akal.
Ngomong-ngomong, saya ingin mendapatkan penjelasan lain yang lebih kuat dan
sukar terbantahkan", Umar duduk di kursi dekat Timun--tepatnya di kursi
kosong antara Timun dan Ibu Elsa. Sementara Joko dan Thoha dari tadi sudah
duduk di kursi yang berseberangan dengan Timun dan Ibu Elsa. Keempatnya
dipisahkan oleh meja panjang yang besar yang ditempatkan ditengah-tengah ruang
guru.
"Maksudmu apa, wahai sahabatku
Umar?", Timun menempuk pundak Umar.
"Begini, aku akan sangat berterima-kasih
kepada kamu kalau bisa menunjukkan satu saja ayat al-Qur'an yang menunjukkan
bahwa kita boleh ber-tabarruk dengan
benda mati. Itupun kalau ada, sih?", Umar merasa yakin bahwa tidak ayat
seperti itu. Keyakinan yang dibenamkan lewat pendidikan agama yang diberikan
oleh para ustadznya terlalu dalam untuk bisa terkikis oleh ocehan Timun yang
terkadang sekenanya walau kedengaran sangat masuk akal.
"Apa yang akan kamu lakukan kalau
saya benar-benar bisa membuktikan bahwa ada ayat al-Qur'an yang menyinggung
tentang bolehnya kita ber-tabarruk lewat benda mati?", tanya Timun
seperempat menantang, seperempat menguji, seperempat lagi didasari oleh rasa
ingin tahu Timun apa yang akan dilakukan oleh temannya itu. Seperempat lagi?
Hanya Timun dan Tuhan yang tahu.
"Kalau kau bisa memberiku satu ayat
al-Qur'an saja yang berkenaan dengan itu, maka aku akan mempertimbangkan
seluruh keyakinanku dan aku akan melihat keyakinan orang lain sebagai sebuah
kemungkinan yang bisa jadi nanti akan aku pilih kalau memang itu terbukti benar
dan lebih baik dari keyakinanku selama ini", Umar menyatakan keputusan
hatinya.
"Baik kalau begitu. Tapi saya tidak
ingin memaksa kamu untuk mengikuti apa yang saya ikuti. Saya memberikan
kebebasan yang sebesar-besarnya kepadamu untuk mengikuti apapun yang kamu rasa
baik dan benar. Nah, tentang ayat yang kamu minta itu ialah ini. Ini surat Yusuf ayat 93 dan 96. Diceritakan
bahwa ayahnya Nabi Yusuf (as.) yaitu Nabi Ya'qub (as.) menderita kebutaan
sepeninggal anaknya—yaitu Yusuf ketika masih kecil. Nabi Ya'qub mengalami
kebutaan karena menangis siang dan malam meratapi kehilangan anaknya yang
paling dicintainya itu sampai beliau matanya mengalami kebutaan. Cerita tentang
kehilangan Nabi Yusuf itu pasti kamu sudah tahu semuanya jadi saya tidak usah
menceritakannya lagi. Pendek kata Nabi Yusuf memerintahkan seseorang untuk
membawakan baju gamis miliknya itu untuk diberikan kepada ayahnya. Dalam al-Qur'an
dituliskan sebagai berikut:
"Pergilah
kamu dengan membawa baju gamisku ini, lalu letakkanlah dia ke wajah ayahku,
nanti ia akan melihat kembali; dan bawalah keluargamu semuanya kepadaku" (QS. Yusuf: 93)
"Tatkala
telah tiba pembawa kabar gembira itu, maka diletakkannya baju gamis itu ke
wajah Yaqub, lalu kembalilah dia dapat melihat. Berkata Yaqub: "Tidakkah
aku katakan kepadamu, bahwa aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tidak
mengetahuinya". (QS. Yusuf: 96)
Dengan melihat kedua ayat itu sudah jelaslah
bahwa bertabarruk menggunakan benda-benda yang dimiliki oleh orang yang kita
cintai apalagi orang itu ialah seorang Nabi atau seorang suci sungguh boleh dan
sudah menjadi sunnah para Nabi. Kita lihat tadi di ayat yang saya bacakan
bahwa ketika Nabi Yaqub meletakkan baju gamis Nabi Yusuf ke wajahnya, maka
beliau bisa melihat lagi. Sungguh ajaib benar! Baju yang hanya benda mati; baju
yang sama sekali tidak mengandung obat; baju yang biasanya berfungsi untuk
menutupi tubuh dan aurat tiba-tiba menjadi obat mujarab bagi orang yang
mengalami kebutaan! Sekali lagi mencari keberkahan dari benda mati yang
dimiliki oleh orang tertentu itu bukan merupakan kelakuan atau perbuatan
syirik. Mana mungkin para Nabi yang sudah sangat mengenal tauhid tiba-tiba menjadi
orang-orang musyrik? Sekali lagi, mana mungkin?", Timun tampak bersemangat
di akhir pembicaraannya. Sementara itu Umar terlihat termenung, juga Ibu Elsa,
Thoha dan Joko. Sementara Hadijah dan Maria tampak asik sendiri menekuni
siaran infotainment (selalu!)
"Selain air wudlu, Nabi Muhammad
juga membagi-bagikan rambutnya untuk para sahabatnya hingga mereka bisa
ber-tabarrukmelalui rambut itu. Salman al-Farisi menyelipkan rambut itu di
penutup kepalanya sedangkan yang lain menyimpannya. Dalam bab "Khataman Nubuwwah",
Bukhari--pengumpul hadits yang kamu sering bangga-banggakan itu--menukil dari
Sa'ab bin Yazid yang berkata: 'Bibiku
membawaku kepada Nabi dan ia berkata: "Keponakan saya dalam keadaan
sakit". Maka setelah itu beliau mengambil air wudlu dan memohonkan berkah
untuk saya, dan saya meminum bekas air wudlunya" (lihat Shahih
Bukhari, jilid III, halaman 255).
"Ahmad bin Hanbal--pendiri madzhab
Hambali--ketika sedang menimba ilmu dari gurunya yaitu Imam Syafi'i, beliau
membawa baju gamis milik Imam Syafi'i dan merendamnya di dalam bak mandi. Ia
berwudlu dari air itu dan meminum air itu untuk mendapatkan keberkahan. Kita di
Indonesia seringkali membawa air putih atau air mineral kepada seorang ustadz
yang ilmunya serta kepribadiannya kita kagumi. Kita meminta ustadz itu untuk
mendo'akan kita dan air yang telah diberi do'a itu kita bawa ke rumah.
Kita kemudian meminum air itu atau memakai air itu untuk keperluan mandi kita
atau wudlu kita. Itu semua contoh yang terjadi pada kaum Muslimin yang mengamalkan
praktek tabarruk yang ada
dalam Islam sejak dulu kala. Bahkan ada sejak sebelum lahirnya Rasulullah
seperti yang kita lihat tadi dalam al-Qur'an ketika Nabi Ya'qub
ber-tabarruk dengan baju gamis anaknya untuk kesembuhan kedua
matanya", Timun memberikan tambahan yang melimpah kali ini.
"Lalu apa pendapatmu tentang Ponari
si dukun cilik itu", sekarang Joko yang bertanya.
"Well, mungkin saja Ponari itu kiriman dari Tuhan untuk menolong
orang-orang miskin yang terpinggirkan. Orang-orang miskin itu tidak memiliki
cukup biaya untuk berobat. Ada juga orang-orang kaya yang sudah kehilangan
harapan karena dokter-dokter yang mereka kunjungi tidak bisa memberikan solusi
yang baik untuk penyakit mereka. Orang-orang miskin dan orang-orang yang putus
asa itu berdo'a siang dan malam agar mereka diberikan kesembuhan. Kita tahu
do'a orang-orang miskin tertindas dan orang-orang teraniaya itu sangat mujarab.
Dan Allah menjawab do'a-do'a yang dipanjatkan lewat suara-suara serak
orang-orang miskin itu dengan mengirimkan Ponari", Timun berhenti sejenak.
"Tapi mengapa Ponari itu dikecilkan
dan sering diremehkan orang. Kalau benar ia seseorang yang dipilih oleh Allah
untuk menyembuhkan dan memberikan keberkahan mengapa ia seringkali dilecehkan
orang mulai dari rakyat biasa hingga para pemilik media masa. Mengapa ia
dianggap sebagai penipu, walau tidak secara langsung diucapkan orang?",
sekali lagi Joko bertanya.
"Jangankan Ponari yang anak kecil
dari desa kecil, bahkan Nabi besar Muhammad pun dulu dikecilkan, dilecehkan,
disangka penipu, dikira penyihir, dianggap pendusta, tuh kurang apa lagi? Jadi
wajar saja kalau Ponari hanya dilirik sebelah mata saja. Orang-orang yang
merasa dirinya pintar mencoba meneliti kandungan batu ajaib milik Ponari dan
kemudian mereka berkesimpulan bahwa batu itu bukan batu ajaib yang bisa
menyembuhkan orang karena kandungan kimiawi yang ada pada batu itu sama saja
dengan batu lainnya. Ini sungguh perbuatan bodoh", kata Timun agak keras.
"Bodoh bagaimana, mereka khan
orang-orang pintar dari kalangan akademisi?", kata Umar menimpali.
"Mereka bodoh karena menguji
yang metafisik dengan cara dan alat yang fisik. Mereka
menguji keajaiban yang tentu saja tidak kasat mata dengan alat uji
laboratorium yang hanya mengindera sesuatu yang kasat mata atau indera. Mereka
mengira bahwa kandungan kimiawi yang ada di dalam batu itulah yang menyebabkan
kesembuhan dan ketika mereka mengujinya di laboratorium mereka kecewa karena
tidak menemukan apa-apa di dalamnya. Tapi kemudian mereka dengan pongah
menyebutkan bahwa batu ajaib Ponari itu sama sekali tidak ajaib. Bisakah mereka
menjelaskan kandungan kimiawi apakah yang bisa membuat sebuah tongkat berubah
menjadi ular? Bisakah mereka menjelaskan obat apa yang ditaburkan oleh Yusuf ke
baju gamisnya sehingga baju gamis itu bisa menyembuhkan kebutaan? Bisakah
mereka menjelaskan unsur-unsur kimiawi apa yang membuat tongkat Musa bisa
membelah lautan? Bisakah mereka menjelaskan kandungan ludah Nabi yang bisa
menyembuhkan mata Ali yang sedang sakit pada peperangan Khaybar? Bisakah mereka
menguji keajaiban di bawah lensa obyektif sebuah mikroskop atau
sebuah alat spektograf? Bisakah?
Comments