
(Serial Empatbelas)
TEMAN
TIMUN, BARU KENALAN DI MESJID SALMAN (1)
Ini peristiwa terjadi beberapa tahun
lalu. Waktu itu malam cukup cerah. Sebagian awan tipis bergelayut di langit
malam bertabur sedikit bintang di sana-sini. Rembulan absen; ia tertutup awan.
Timun pamitan kepada kedua kakek-neneknya (ia waktu itu masih belum berkeluarga
jadi tidak perlu pamitan pada istrinya karena memang ia masih belum punya--sekali
lagi, pada waktu itu) untuk pergi sampai malam larut nanti. Neneknya bertanya:
"Mun, mengapa kamu pergi
malam-malam? Mau kemana?", tanya neneknya keheranan.
"Mau cari angin, nek!", jawab
Timun sekenanya tapi masih dalam nada yang sopan seperti biasanya.
"Loh, bukannya kamu tadi masuk
angin?", tanya nenek Timun keheranan.
"Iya, sih. Tapi angin yang tadi
masuk bukan angin yang sedang saya cari", "Permisi nek, kek",
dan Timun pun pergi dengan motornya meningglkan kakek-neneknya memikirkan
jawaban Timun yang seringkali membuat mereka berpikir.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------
Gedung Dapenpos Bandung, itulah tempat
dimana Timun harus bertemu dengan temannya, Ali al-Hadi. Timun dijanjikan akan
diberi beberapa buah buku oleh temannya itu; teman yang baru beberapa minggu ia
kenal. Ia kenal Hadi--begitu ia minta dipanggil oleh Timun pada waktu
itu--ketika mereka bertemu di suatu mesjid untuk shalat.
Mesjid yang dimaksud ialah mesjid Salman
yang terkenal itu, jadi tidak usah diperkenalkan lagi kepada anda karena memang
mesjid itu terkenal he.........he........he........ Pada saat itu Timun sedang
berada di koridor sebelah kiri dari mesjid itu. Ia tidak menunaikan shalat di
dalam mesjid karena di dalam banyak orang berkelompok membentuk
kelompok-kelompok kecil shalat berjamaah. Timun memilih shalat sendiri di luar.
Bukan karena ia anti berjamaah--masa berjamaah saja anti! Timun kan orangnya
sangat toleran terhadap perbedaan. Kalau urusan berjamaah saja sih ia sama
sekali tidak keberatan. Timun memilih shalat sendiri di luar hanya karena ia
ingin menyendiri menghadap Tuhan secara lebih pribadi. Ia ingin menyapa Tuhan
dengan penuh hormat dan cinta. Itu biasanya tidak bisa Timun rasakan kalau Timun
sedang shalat berjamaah.
Itu alasan yang pertama. Sedangkan
alasan yang kedua ialah kalau Timun memilih untuk bergabung dengan salah satu
kelompok dari beberapa kelompok kecil itu, Timun merasa tidak sampai hati
karena siapa tahu kelompok lain yang tidak dipilih oleh Timun akan merasa sedih
dan gundah gulana karena kehadiran Timun sebenarnya bisa menambah jumlah ma'mun
untuk memeriahkan suasana.
Pada saat di mesjid itulah Timun melihat
seorang lelaki seusia dengan dirinya sedang sibuk berdialog dengan Tuhan dalam
shalatnya yang khusyu. Dialah lelaki yang kelak Timun kenal dengan sebutan
Hadi. Pada waktu itu, Timun melihat ada yang aneh dari cara shalat Hadi
walaupun sepintas lalu orang tidak melihat keanehan itu. Sebetulnya, mana ada
orang yang shalat dianggap aneh kalau ia shalat di negara yang mayoritas
penduduknya beragama Islam. Kecuali kalau orang itu melakukan gerakan yang
tidak lazim dalam shalat seperti misalnya ruku'nya kebelakang mirip orang senam
atau gerakan lainnya yang dianggap bukan gerakan standar dalam shalat seperti
tertawa terbahak-bahak atau berdiri dengan kepala di bawah!
Nah, si Hadi ini melakukan shalat
seperti biasanya tapi ada gerakan yang dirasa Timun agak ganjil karena Timun
baru melihat hal itu untuk yang pertama kalinya langsung di depan mata. Hadi
tetap ruku'nya ke depan seperti kita semua, jadi tidak ada yang aneh dalam
ruku'nya. Yang aneh ialah ketika ia berdiri. Ketika berdiri, ia tidak
menyedekapkan kedua tangannya di dada atau sekitar dada atau di perut. Ia malah
tidak bersedekap sama sekali. Ia meluruskan kedua tangannya di kedua sisi
tubuhnya. Kedua tangannya tergantung di kedua sisi--kanan dan kiri. Timun
segera sadar; orang yang ditemuinya itu mungkin memiliki kelainan, paling tidak
dalam shalatnya. Timun bisa melihat shalat orang itu secara keseluruhan karena
ia telah selesai di mesjid itu dan ia hendak pergi meninggalkan mesjid itu
sampai akhirnya ia batalkan niatnya gara-gara melihat orang itu.
Setelah selesai shalat dan memanjatkan
do'a yang tampaknya khusyu sekali ia lakukan, sesekali kelihatan orang itu
seperti sesegukan menahan tangis. Timun heran jaman gini masih ada orang yang
berdo'a sambil menangis karena biasanya di sekeliling dia, di kantornya, di
kompleks perumahannya, di pengajian yang diikutinya dimana ada acara berdo'a di
akhir acara, tampak sekali setiap orang berusaha supaya kelihatan khusyu. Itu
masih mending. Yang lain ada yang meng-amin-kan do'a-do'a yang dibacakan oleh
seorang ustadz sambil cengar-cengir seakan yang ia dengar bukan do'a, melainkan
lelucon jenaka dari surga.
Orang ini lain sekali. Ia kelihatan
ikhlas sekali. Atau mungkin ia berusaha supaya kelihatan ikhlas dan ia berhasil
memerankan itu hingga Timun pun--yang suka dan sering berpura-pura--ikut-ikutan
tertipu karenanya.
"Assalamu'alaykum", salam Timun pada orang itu yang pada saat
itu sudah selesai berdo'a dan bersiap-siap meninggalkan mesjid. Kedua matanya
masih tampak basah, walau sedikit, karena ia telah menyeka keduanya dengan
lengan bajunya yang putih.
"Eh, wa'alaykum salam", balasnya terkejut. Ia tersenyum, sedikit
heran melihat ada orang asing yang menegurnya karena biasanya di mesjid di
kota-kota besar seperti Bandung dan Jakarta misalnya jarang sekali orang
bertegur sapa sesama Muslim lainnya ketika mereka telah selesai shalat.
Seakan-akan mesjid itu hanya dijadikan tempat persinggahan do'a-do'a mereka
saja dan bukan tempat untuk memperluas pergaulan sesama kaum Muslimin lainnya;
atau bukan tempat untuk mempererat tali silaturrahmi dalam nuansa Islami.
"Boleh bertanya
sesuatu enggak. Itupun kalau anda tidak sedang dalam keadaan
tergesa", kata Timun meminta secara diplomatis.
"Oh, boleh, boleh. Lagipula saya
sedang santai kok. Hari ini saya tidak kerja, sedang ngambil cuti. Oh, ya mas
siapa namanya?", kata orang itu.
"Timun Laut. Jangan tertawa ya!
Nama saya aneh memang", jawab Timun.
"He........he.........he.......nggak,
nggak. Oh ya nama saya Ali al-Hadi. Panggil saja Hadi dan saya memanggil anda
dengan Timun? Anda tidak keberatan?", Hadi memperkenalkan dirinya dan
menjabat tangan Timun dengan erat seolah-olah pertanda akan eratnya pertemanan
mereka kelak.
"Tentu saja tidak. Kita kayaknya
sebaya dan memanggil nama kayaknya malah membuat kita lebih akrab",
"Oh, ya, tadi saya lihat anda shalat, sebelumnya ma'af sekali takut kalau
ini akan menyinggung anda, tapi saya tidak punya cara lain selain bertanya.
Tadi saya lihat anda shalat, kok kayaknya beda dengan orang-orang
lainnya?", Timun agak tergagap bertanya jadi kalimat yang ia buat agak
tidak beraturan.
"Oh, itu. Itu karena mungkin saya
mengambil madzhab fikih yang berbeda. Anda pastinya tahu (dan Timun memang
tahu!) bahwa di dunia Islam itu ada banyak sekali madzhab-madzhab fikih yang
berbeda-beda jadi kalau saya shalatnya dianggap lain mungkin karena anda mengikuti
madzhab yang berbeda dengan yang saya ikuti", kata Hadi.
"Madzhab apa yang anda
ikuti?", tanya Timun (dan ini yang Timun tidak tahu!). Kelihatan sekali
Timun sangat ingin tahu tentang madzhab orang ini.
"Ahlul-Bayt. Bisa juga disebut dengan Ja'fari"
"Anda orang syi'ah, ya?", kata Timun menuduh. Timun bertambah semangat
karena baru sekarang ini ia bisa melihat orang dari madzhab yang serius dibahas
oleh dirinya dengan teman-temannya. Dan baru kali ini juga ia melihat orang syi'ah shalat. Di hadapannya lagi!
"Ya, betul", "Apa yang
anda tahu tentang madzhab syi'ah
ini?", tanya Hadi sambil mengajak duduk kepada Timun. Mereka sekarang
duduk di beranda mesjid yang cukup dingin karena mesjid itu dikelilingi
pohon-pohon yang rindang lagi cukup lebat daunnya.
"Ah, tidak banyak dan saya kira
tidak perlu didiskusikan karena saya takut apa yang saya ketahui tentang
madzhab anda ini malah salah informasi. Karena saya yakin informasi terbaik
tentang suatu kaum harus didapatkan dari kaum tersebut, bukan dari orang-orang
yang ada di luar kaum itu yang jelas-jelas kurang mengetahui atau tidak tahu
sama sekali tentang kaum tersebut", Timun mengelak sambil berdiplomasi. Ia
tidak mau menyebutkan apa saja yang ia ketahui tentang madzhab Syi'ah karena ia
takut salah ucap dan menyinggung orang yang ada di depannya.
"Betul itu", kata Hadi,
menegaskan.
"Bisa dibayangkan bahwa kita
mengetahui hal-hal tentang kaum tersebut dari orang-orang yang membenci mereka.
Pasti informasi yang sampai pada kita penuh dengan dusta dan fitnah
belaka", kata Hadi kelihatan sekali gurat nada keprihatinan dari
ucapannya. Mungkin Hadi sering melihat kaum Muslimin di sekitarnya berdusta dan
saling memfitnah agar kaum Muslimin yang berbeda keyakinan dengan mereka tidak
mendapatkan tempat di khalayak dan tidak disukai orang banyak.
"Kamu sering mendapatkan perlakuan
buruk dari orang lain yang tidak semadzhab dengan dirimu", sergap Timun.
"Oh, ya sering. Sering sekali
malah. Bahkan sewaktu saya masih bukan seorang pemeluk Ahlul Bayt; bukan seorang Syi'ah",
lanjut Hadi.
"Kok bisa? Apa yang terjadi? Siapa
yang telah memperlakukan kamu dengan tidak baik?", Timun mengernyitkan
dahi. Ia sekarang duduk lebih mendekat agar semua informasi yang dikeluarkan
dari mulut teman barunya itu tidak lewat begitu saja ditiup angin yang
berhembus kencang di pelataran mesjid Salman sejak tadi.
"Waktu itu aku sepertinya sama
dengan orang-orang kebanyakan, shalatnya sama, lain-lainnya sama. Waktu itu aku
shalat di sebuah mesjid yang jema'ahnya banyak sekali orang-orang tua",
"Aku masuk ke mesjid dengan bergegas karena imam shalat sudah mengucapkan
takbir untuk memulai shalatnya. Waktu itu aku bergabung langsung dengan
orang-orang lainnya. Aku berdiri dan di sebelahku ada seorang kakek--yang juga
baru masuk barisan akan memulai shalatnya. Aku sendiri langsung bertakbir dan
menyedekapkan kedua tanganku".
"Lalu?", tanya Timun sambil
mengira-ngira apanya yang aneh.
"Lalu, kakek yang berdiri di
sebelahku itu memukul pundak saya dengan keras sambil bicara dalam bahasa
Sunda 'Usholi heula siah',
maksudnya ia meminta saya untuk membaca niat shalat dan di-zahar-kan atau dibaca keras. Saya tidak terbiasa membaca niat
shalat karena waktu itu saya berpendapat itu bukan bagian dari shalat. Kemudian
saya batalkan shalat saya dan saya tinggalkan kakek itu. Saya pindah ke shaf yang lain. Saya mengulangi
takbir dan kemudian bersedekap. Eh, si kakek tadi mengejar saya dan kembali
memukul saya dan berkata 'usholi
heula siah' . Saya batalkan lagi shalat saya dan bergerak lagi mencari
barisan shalat lainnya. Si kakek tadi urung mengejar dan akhirnya saya bisa
shalat sampai selesai. Sepanjang saya shalat, saya ingat terus si kakek tadi
dan saya yakin si kakek tadipun ingat pada saya. Saya yakin shalat kami berdua
tidak khusyu".
"He........he....", Timun
tertawa tertahan membayangkan kawan barunya itu dikejar kakek-kakek yang
mengejarnya dengan terengah-engah.
"Kalau itu terjadi sekarang, apa
yang akan kamu lakukan", tanya Timun kemudian. Sudah beberapa menit
menjelang ia ber-aku-kamu dengan teman barunya itu. Mereka kelihatan mulai
akrab satu sama lain.
"Sepertinya, saya akan menuruti
perintah si kakek itu. Dan saya akan men-zahar-kan
bacaan niat itu", jawab Hadi penuh kepastian.
"Walau misalnya kamu berpendapat
bahwa membaca niat itu bukan wajib bukan pula sunnah?'
"Ya", tandasnya, "Aku
akan mengikuti perintah si kakek itu bukan karena takut; bukan pula karena aku
tidak memiliki pendirian fikih yang mantap; tapi karena aku menjalankan sesuatu
yang wajib', kata Hadi.
"Apanya yang wajib?", sergah
Timun keheranan.
"Memelihara persaudaraan antar kaum
Muslimin, itu wajib hukumnya. Biarlah kami berbeda pendapat tapi kami harus
memelihara persaudaraan ini karena itu lebih baik. Mun, kamu pasti tahu karena
kelihatannya kamu sangat cerdas (Hadi sudah memanggil Timun dengan
sebutan kamu, pertanda ia juga sekarang merasa lebih dekat dan akrab).
Pada waktu itu ada dua wajib bertemu: yang satu ialah mengikuti rukun shalat (yang dimaksud oleh Hadi di sini ialah rukun
shalat yang tata caranya seperti yang ia praktekan karena mengikuti rukun
shalat seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah saaw. itu wajib adanya karena
kalau tidak mengikuti cara Rasulullah saaw. dalam melakukan shalat, maka kepada
siapa lagi kita harus mencontoh? Rasulullah saaw. bersabda: shalatlah
sebagaimana aku shalat. Menurut Hadi pada waktu itu membaca niat itu tidak
wajib karena tidak dicontohkan oleh Rasulullah saaw; jadi apabila ia mengikuti
tata cara shalat yang tanpa membaca niat itu maka ia telah mengikuti cara
Rasulullah saaw. dan itu wajib hukumnya) dan yang kedua ialah memelihara
persaudaraan antara sesama kaum Muslimin. Apabila ada dua wajib bertemu, maka
kita bisa memilih salah satunya untuk dikerjakan apabila memang mengerjakan
keduanya pada saat yang bersamaan tidak memungkinkan".
"Teman saya yang kuliah di al-Azhar
Mesir bilang di sana ada kuliah sore hingga malam dan mereka melewatkan shalat
Maghrib untuk nantinya dijama' dengan 'Isya. Mereka bilang menuntut ilmu itu
wajib hukumnya; shalat Maghrib juga wajib hukumnya. Tapi shalat Maghrib bisa
dijama' sementara menuntut ilmu tidak. Nah, mereka tetap bisa melakukan
keduanya yaitu menuntut ilmu dan shalat Maghrib tanpa harus mempertentangkan
keduanya", Hadi menjelaskan panjang lebar. Timun tampaknya terpesona
dengan uraian ini; jarang sekali Timun terpesona oleh ustadz-ustadz yang
dikenalnya (paling satu dua saja yang bisa membuatnya terdiam dan akhirnya ia
ikuti diam-diam). Tapi orang ini (mungkin dia juga seorang ustadz; ustadz yang
cerdas dan rendah hati) telah menjelaskan sesuatu yang belum pernah didengarnya
sebelumnya. Terdengar indah seperti dari manaaaaaaaaa gitu.
"Kalau aku meminta kamu untuk
shalat di belakangku dan aku menjadi Imam; kemudian aku memintamu juga untuk
shalat seperti cara aku shalat, kira-kira kamu akan menuruti apa yang aku
perintahkan atau tidak?", tanya Timun penasaran.
"Tentu saja kalau itu memang baik
bagi kita berdua. Kalau itu akan menjamin keutuhan persaudaraan kita sebagai
Muslimin, aku akan melakukannya dan biarlah diriku jadi taruhannya", Hadi
kelihatan pasti. Ia tidak sedang berdiplomasi; juga tidak sedang menipu diri.
"Allah kan sudah menyuruh kita
untuk mengembalikan segala sesuatunya pada Dia dan pada RasulNya kalau ada
perbedaan pendapat antara kita", lanjut Hadi sambil ia mengutip ayat suci
al-Qur'an surat ke-4 ayat ke-59.
"Bukankah itu artinya kita harus
mengembalikannya pada al-Qur'an dan
as-Sunnah?", tanya Timun keheranan. Timun hapal ayat itu dan hapal
juga tafsir dari ayat itu maka dari itu Timun keheranan dengan adanya tafsiran
yang kira-kira sedikit berbeda dari ayat dan surat yang sama. Walaupun Timun
tahu bahwa banyak sekali juru tafsir al-Qur'an yang menafsirkan secara
berbeda-beda untuk ayat yang sama.
"Justru kalau itu yang dimaksud
maka kita akan bertengkar terus, lagi dan lagi, tiada akhir. Maksud kamu ingin
mengakhiri pertikaian malahan akan menemui jalan buntu. Pertikaian itu akan
terus berlanjut kalau kamu menerjemahkan al-Qur'annya seperti itu".
"Lalu bagaimana?", Timun
tambah keheranan. Halaman mesjid mulai sepi walau masih ada yang shalat dan
berdo'a serta mengaji di sana-sini. Ada juga yang sedang sibuk menyelesaikan
tugas kuliahan. Ada juga yang sibuk bercengkrama dengan topik aneka rupa.
"Begini", kata Hadi sambil
mengambil posisi agak tegak dengan menggeserkan kedua kakinya. Ia sekarang
melipat kedua kakinya kedalam, kebelakang, dan ia duduk di atas kedua kakinya.
Posisinya sekarang tegak dan kelihatan lebih berwibawa dibanding posisi yang
sebelumnya. Sebelumnya ia duduk bersandar pada tiang mesjid dengan kaki kiri
menggeletak di lantai dan satu kakinya lagi, kaki kanan, membentuk sebuah
tiang. Dan ia duduk sambil memeluk kaki kanannya.
Hadi kemudian melanjutkan
pembicaraannya:
"Kalau kita mengembalikan setiap
pertengkaran atau setiap perbedaan pendapat dalam agama antara kita itu dengan
mengutip al-Qur'an dan Hadits Nabi, Insya
Allah kita akan terus bertikai karena masing-masing kita akan menerjemahkan
keduanya; menafsirkan keduanya; menyimpulkan keduanya sesuai dengan kemampuan
dan kapasitas intelektual yang kita punya. Belum lagi ada konflik kepentingan
dan batasan sekat-sekat madzhab. Belum lagi ada keterbatasan penguasaan bahasa
Arab. Belum lagi ada kesimpang-siuran akan penetapan shahih-tidaknya suatu
hadits. Belum lagi ada perbedaan dalam membaca al-Qur'an karena ada ayat-ayat
tertentu yang apabila dibaca lain maka artinya akan lain. Belum lagi penentuan
tanda baca dalam al-Qur'an. Belum lagi mempertimbangkan asbabun nuzul dari ayat-ayat itu. Belum lagi adanya nasakh dan mansukh, dan lain-lain, dan
lain-lain yang masih banyak sekali. Kesemuanya itulah yang membuat perbedaan
diantara kita. Jadi alih-alih mempersatukan tali persaudaraan malah kita akan
memperlebar jurang pemisah antara kita lebih lebar lagi", Hadi berhenti
sejenak membiarkan pembicaraannya mengendap agar bisa meresap kedalam hati
Timun. Ia membiarkan Timun mencerna apa yang dikatakannya.
"Jadi maksudmu kalau aku mengutip
sebuah ayat atau hadits maka kamu belum tentu setuju dengan penafsiranku dan
belum tentu sepakat akan keshahihan hadits yang aku bawa, begitu?", tanya
Timun.
"Tepat. Kamu memang cerdas sekali,
Mun. Kalau orang lain pasti harus diterangkan berkali-kali", tandas Hadi.
Karuan saja ini membuat hati Timun sumringah;
akan tetapi itu cuma sesaat karena ia kembali bingung dan kemudian bertanya:
"Kalau begitu bagaimana kamu
menafsirkan ayat tadi yang menyuruh kita untuk mengembalikan semua perbedaan
itu kepada Allah dan RasulNya? Terus bagaimana caranya supaya kita semua ini
bisa rukun selalu dan tidak bertikai satu sama lain? Apa ada ayat lainnya yang
bisa membuat kita rukun dan damai seperti nama agama kita ini, Islam, yang artinya damai?", Timun
bertanya seperti memuntahkan peluru dan itu membuat Hadi tersenyum dan memegang
perutnya entah sakit atau entah mual; atau entah kenapa.
"Kita insya Allah akan bertemu dengan Allah dan RasulNya nanti. Kita akan
dipertemukan dengan keduanya nanti. Dan ketika kita bertemu kita akan mengambil
mereka sebagai hakim pemutus perkara diantara kita. "Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka
kembalikanlah itu kepada Allah dan RasulNya, jika kamu benar-benar beriman
kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik
akibatnya.”
(Catatan: Biasanya ayat ini sudah diberi
tambahan yang ditulis di dalam kurung yang menandakan bahwa bagian yang ada di
dalam kurung itu bukan bagian dari al-Qur'an melainkan itu sebuah penafsiran
saja dari si penerjemah al-Qur'an. Sebaiknya kata dalam kurung itu dihapus saja
agar ia tidak dianggap sebagai bagian dari al-Qur'an--terutama oleh orang-orang
awam seperti penulis. Kalau itu terjadi, berarti orang-orang yang sudah berani
menambahkan atau memberikan penjelasan itu akan dianggap sebagai orang-orang
yang sudah meniru kebiasaan kaum Yahudi dan Nasrani yang suka menambah-nambah
dan mengurangi apa yang sudah difirmankan oleh Allah. Na'udzubillah. Sebaiknya penafsiran itu ditulis di bagian yang
terpisah supaya orang tidak tersesat karenanya--penulis)
Hadi mengutip ayat al-Qur'an kemudian ia
melanjutkan, "Jadi kalau kita berselisih faham dalam masalah agama, kita
harus kembalikan perselisihan itu kepada Allah dan Rasulullah. Jangan
menghakimi dan menghukumi orang lain yang berbeda faham dengan kita. Hormati
mereka, sayangi mereka, perlakukan mereka sebagaimana kamu memperlakukan
manusia. Jangan hina mereka; jangan ejek mereka hanya karena mereka berbeda.
Jangan sisihkan mereka dalam pergaulan; jangan menganggap mereka seolah-olah
penyakit menular yang susah dicari obatnya. Kalau kamu takut atau risih atau
jengah atau merasa terancam atau merasa resah dengan kehadiran mereka yang
berbeda dari dirimu, itu berarti dirimu itu merasa rendah diri, tidak percaya
diri dan merasa lemah".
"Apabila kita merasa resah dan
gundah kemudian marah terhadap mereka yang memiliki keyakinan berbeda dengan
kita, maka itu artinya kita sendiri kurang percaya diri terhadap apa yang kita
yakini. Kalau kita merasa memiliki keyakinan yang benar; kalau kita merasa
sudah berada dalam agama yang benar, maka kita tidak perlu lagi merasa khawatir
akan apapun juga", Hadi melanjutkan.
Hadi menyitir lagi sebuah ayat suci, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan
kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu
berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal.
Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang
yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi
Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujurat: 13)
"Kalau kita melihat ayat suci yang
sudah saya bacakan tadi, jelaslah yang paling baik diantara kita ialah orang
yang paling bertakwa; dan salah satu dari tanda orang takwa itu ialah mengikuti
apa yang telah digariskan dalam kitab suci. Dan kitab suci bilang kita harus
saling kenal mengenal walaupun banyak sekali perbedaan diantara kita. Saling
kenal mengenal itu bukan saling ejek dan cela; bukan saling serang dan
berbunuh-bunuhan. Saling kenal itu diantaranya ialah membiarkan orang lain
dalam perbedaan dan menghormati perbedaan itu sebagai suatu suratan", Hadi
melanjutkan lagi sambil menyimpulkan.
"Allah sangat kuat dan perkasa
untuk membuat kita semua menjadi umat yang satu dan al-Qur'an juga bilang
seperti itu. Akan tetapi Allah malah menciptakan kita berbeda-beda. Kalau kita
tidak menghormati perbedaan itu dan saling memusnahkan diantara kita. Kiamatlah
sudah", Hadi menutup penjelasannya yang panjang lebar.
Timun sadar temannya yang satu ini
illmunya luas dan tampaknya sangat bijaksana. Timun tidak merasa takut ataupun
was-was dengan temannya yang satu ini, walaupun nantinya Timun datang ke tempat
Hadi mengaji dan belajar ilmu agama. Apabila nanti Timun kesana, Timun yakin
sekali dirinya tidak akan dilecehkan dan dianggap aneh dan hina, karena ia
yakin bahwa Hadi, temannya itu, akan memiliki teman-teman yang lain yang
seumpama dengan dirinya. Teman yang menghormati manusia apa adanya.
Comments