"KEBENARAN TIDAK DITENTUKAN OLEH SEDIKIT BANYAKNYA ORANG YANG BERKATA BAHWA ITU BENAR"

Jumat, 29 Agustus 2014

Seorang sahabat Nabi dikutuk Imam Ali hingga ada tanda kutukan di wajahnya

KITAB AL-MA’ARIF KARYA IBNU QUTAYBAH

Di bagian akhir dari kitabnya Ibnu Qutaybah yang berjudul Kitab al-Ma’arif, ada bagian yang sangat menarik perhatian kita yaitu pada bagian yang diberijudul “al-Baras” dimana ia menuliskan nama-nama orang-orang yang terkena serangan penyakit lepra (leprosy) atau leukoderma sepanjang masa hidupnya. Dari daftar nama-nama orang dalam sejarah Islam yang dicatat oleh Ibnu Qutaybah ialah Anas bin Malik—salah seorang sahabat Nabi yang terkenal di dunia Muslim Sunni karena hadits-hadits yang melalui dirinya itu jumlahnya cukup banyak dan terkenal. Ibnu Qutaybah menuliskan juga bagaimana sejarahnya hingga Anas bin Malik menderita penyakit lepra atau kanker kulit yang menyebabkan cacat di wajahnya yang tidak bisa ditutupi seumur hidupnya. Ibnu Qutaybah menyebutkan bahwa penyakit yang diderita oleh Anas bin Malik itu disebabkan oleh kutukan Imam Ali (as) terhadap dirinya.

Ada sesuatu yang menggelikan dalam buku terbitan Mesir dari karya Ibnu Qutaybah ini. Ada kalimat terakhir yang konon katanya ditulis oleh Ibnu Qutaybah sendiri yang menyebutkan bahwa Ibnu Qutaybah meragukan kebenaran dari kisah itu. Lucunya kalimat terakhir ini tidak ada dalam kitab aslinya karya Ibnu Qutaybah yang usianya sekitar 700 tahun. Kitab aslinya itu sekarang tersimpan di Perpustakaan The British Library!!!

Klik tandadi bawah ini untuk melihat gambar secara utuh dari manuskrip yang telah di-scan untuk tujuan ini.  Untuk studi yang lebih serius anda bisa melanjutkan ke link Guide to Online Libraries (JUST CLICK) yang menghubungkan anda dengan perpustakaan dunia.

 

SUMBER TUDUHAN

[LIHAT: Al-Ghadir fi al-Kitab wa al-Sunnah wa al-Adab, karya Allamah al-‘Amini, Beirut Edition, volume 1, halaa 235]

ANALISA DAN BUKTI-BUKTI

Ibnu Qutaybah al-Dinawari hidup diantara tahun 213H sampai 276H dan ia termasuk seorang ulama Sunni yang paling awal yang menulis banyak sekali karya-karya penting mengenai Al-Qur’an dan Ilmu-ilmu Hadits. Kitab al-Ma’arif yang ia tulis berisi beberapa anekdot dan informasi biografis tentang masyarakat Muslim pada abad-abad awal.

Kejadian itu (Kejadian Imam Ali mengutuk Anas bin Malik hingga bekas kutukannya membekas di wajah Anas bin Malik) termaktub dalam kitab karya Ibnu Qutaybah yang diterbitkan di Mesir. Anda bisa melihat kutipannya di bawah ini:

LIHAT: Kitab al-Ma’arif, Ibnu Qutaybah al-Dinawari (meninggal tahun 276H), halaman 251, Cairo: Matba’at al-‘Islamiyyah, 1353H/1935M

Al-Baras (Lepra atau Leukoderma)

Anas bin Malik memiliki al-Baras (bukti) di wajahnya. Beberapa orang melaporkan bahwa ‘Ali—semoga Allah meridhoinya—bertanya kepadanya apakah ia masih ingat mengenai sabda Rasulullah—shalawat dan salam atasnya—yaitu: “Ya Allah, bimbinglah dia yang menerima kepemimpinannya dan musuhilah dia yang memusuhinya.” Dia (Anas bin Malik) berkata: “Aku ini sudah tua dan aku sudah lupa!” Lalu ‘Ali berkata kepadanya: “Apabila engkau berdusta, semoga Allah memberimu tanda putih yang tidak akan pernah bisa engkau tutupi dengan sorbanmu.”

 

ABU MUHAMMAD BERKATA: “TIDAK ADA DASAR SAMA SEKALI”

Harus semua kita ketahui bahwa yang namanya ABU MUHAMMAD yang dimaksud tidak lain adalah Ibnu Qutaybah sendiri. Abu Muhammad adalah nama julukan (nama Kunyah) dari Ibnu Qutaybah sendiri. Jadi itu artinya Ibnu Qutaybah sudah memasukan anekdot kejadian kutukan Imam Ali itu kedalam karyanya akan tetapi kemudian ia mengira bahwa kejadian itu tidak mungkin terjadi. Ia meragukan kejadian itu pernah terjadi.

 

LALU APA MASALAHNYA DARI PERNYATAAN INI?

Ada tiga masalah yang bisa kita simpulkan dari pernyataan ini:

PERTAMA: Allamah al-‘Amini, dalam kitab Al-Ghadir, volume 1, halaman 236, menyatakan bahwa sejak awal hingga akhir dari Kitab al-Ma’arif, tidak ada pernyataan dari Ibnu Qutaybah yang menyebutkan bahwa ia meragukan tentang kejadian itu! Gaya penulisan dari buku itu jelas-jelas menunjukkan bahwa si penulis (IBN QUTAYBAH) hanya menuliskan apa yang memang ia yakini sebagai kebenaran. (Apa untungnya menuliskan sebuah kejadian yang kita tidak yakini pernah terjadi, kemudian kita beri komentar bahwa itu tidak pernah terjadi tanpa ada orang yang mempermasalahkan itu sebelumnya—red)

KEDUA: Seorang ulama Sunni dari golongan Muatzillah yang bernama Ibnu Abi Al-Hadid (meninggal tahun 656H), pernah menuliskan dalam Sharh Nahj al-Balaghah, Ibn Abi Al-Hadid al-Mu’tazili (meninggal tahun 656H), volume 3, halaman 388

... Ibnu Qutaybah telah menceritakan kepada kita kisah tentang penyakit lepra atau leukodermia (hadits al-baras) yang dihubungkan dengan kutukan Amirul Mukminin ‘Ali (as) terhadap Anas bin Malik, dalam kitab Kitab al-Ma’arif dalam bab ‘bab al-baras min a'yan al-rijal'.Dan Ibnu Qutaybah tidak bisa kita tuduh sebagai orang yang memiliki kecenderungan khusus kepada Imam Ali. Malahan di berbagai kesempatan ia terkenal kelihatan sekali cenderung berseberangan atau memilih sisi yang berlainan dengan Imam Ali. 

Tampaknya salinan dari kitab Kitab al-Ma’arif yang dilihat oleh Ibnu Abu Al-Hadid tidak mengandung kalimat terakhir yang ada dalam edisi Mesir seperti yang disebutkan di atas.

KETIGA ATAU TERAKHIR: Ada sebuah salinan lainnya dari kitab Kitab al-Ma’arif  dalam bentuk sebuah manuskrip yang berusia kurang lebih 700 tahun yang menegaskan kecurigaan kita  

Kitab al-Ma'arif, Ibn Qutaybah al-Dinawari (meninggal tahun 276 AH), folio 118r
Manuscript: British Library catalogue reference Or. 1491
Dated last day of Sha'ban, 710 AH (1310 CE)
[Foll. 136; 9.75 in. by 7.25; 25 lines, 5.5 in. long]

Al-Baras (Lepra/Leukoderma)

Anas bin Malik memiliki al-baras [bukti atau tanda] di wajahnya. Beberapa orang menyebutkan bahwa ‘Ali pada suatu ketika bertanya kepadanya tentang sebuah hadits atau sabda Rasulullah—shalawat dan salam atasnya—yang berbunyi: “Ya Allah, bimbinglah orang yang menerima kepemimpinannya dan musuhilah orang yang menjadikan dia musuhnya.” Dia (Anas) berkata: “Aku ini sudah tua dan aku sudah lupa!” Lalu ‘Ali—salam semoga tercurah kepadanya (‘alaihi salam)—berkata kepadanya: “Apabila engkau berdusta, maka Allah akan memberikanmu sebuah tanda putih yang tidak akan bisa engkau tutupi dengan sorban.”

Bandingkanlah teks ini dengan teks dari kitab Kitab al-Ma’arif terbitan Mesir di atas. Meskipun halaman ini merekam penuh seluruh kejadian dimana Imam Ali (as) mengutuk Anas bin Malik yang menyebabkannya terkena lepra atau tanda putih di wajahnya, tapi sama sekali TIDAK ADA TULISAN yang menyebutkan bahwa “ABU MUHAMMAD MENGATAKAN TIDAK ADA DASAR SAMA SEKALI”!!!

Juga lihatlah “Salam Hormat”—‘Alaihi Salam—yang diberikan kepada ‘Ali yang terdapat dalam edisi yang dicetak di Mesir.

 

AKAN TETAPI SEBUAH HADITS TANPA SANAD YANG PENUH BUKANKAH TIDAK BISA KITA PERCAYAI?

Kitab al-Ma’arif itu bukanlah sebuah kitab yang dipenuhi hadits-hadits yang ditulis lengkap dengan rantai sanadnya. Ibnu Qutaybah itu terkenal sebagai seorang ulama yang seringkali mengungkapkan kekecewaanya terhadap Imam Ali (as) akan tetapi ia—ketika menulis Kitab al-Ma’arif—memasukkan anekdot (kutukan Imam Ali terhadap Anas bin Malik) yang ia yakini ada kebenaran di dalamnya.

 

KALAU BEGITU, ADAKAH SUMBER-SUMBER YANG BISA DIPERCAYA YANG BISA MENGUATKAN KEJADIAN INI?

Ada. Tentu saja ada. Ada beberapa sumber yang kita bisa temukan kejadian ini (kejadian dimana Imam Ali (as) telah mengutuk Anas bin Malik karena ia berbohong terhadap kepemimpinan Imam Ali (as)). Sumber-sumber itu menjelaskan secara rinci dan lengkap rantai sanad dari kejadian ini. Sumber-sumber ini telah diteliti dalam riset yang dilakukan oleh Allamah al-‘Amini dan bisa anda temukan dalam karyanya yang berjudul Al-Ghadir terbitan Lebanon (Beirut Edition), volume 1, halaman 207—238. Bagi anda yang ingin mencari kebenaran dan selalu haus akan kebenaran pastilah tentunya akan segera mencari sumber ini.

 

KAPANKAH RASULULLAH (SAW) BERKATA KEPADA IMAM ALI: “YA, ALLAH. JADIKANLAH SAHABATMU ORANG YANG MENJADIKAN DIA SAHABAT”?

Pernyataan Rasulullah itu sebenarnya merupakan bagian dari kejadian yang jauh lebih agung lagi yaitu peristiwa Ghadir Khum ketika Imam Ali (as) secara nyata dan terang benderang ditunjuk sebagai penerus Nabi yang menggantikan kedudukan Nabi sebagai pemimpin umat; menjaga risalah Illahi. Untuk lebih jelas lagi bisa dilihat dalam referensi berikut ini:

 

KESIMPULAN

Kita bisa simpulkan di sini bahwa yang namanya kebenaran itu senantiasa ada orang yang mencoba menutup-nutupi atau menyimpangkannya. Caranya bisa dengan berbagai macam cara. Salah satunya seperti yang terjadi pada peristiwa pengutukan oleh Imam Ali terhadap Anas bin Malik ialah dengan menyisipkan pernyataan palsu yang dinisbahkan kepada Ibnu Qutaybah seolah-olah dirinyalah yang memang menuliskan pernyataan itu.

Jumat, 08 Agustus 2014

ISIS MELULUH LANTAKAN MESJID-MESJID DAN MAKAM NABI YUNUS (as), DI KOTA MOSUL

“Berperanglah kamu di jalan Allah. Perangilah orang yang kafir kepada Allah. Berperanglah namun jangan mengambil berlebih-lebihan, jangan menipu (memperdaya), jangan membunuh dengan sadis, membunuh anak-anak, dan membunuh para penghuni rumah ibadah (biara dan gereja).” (HR Muslim)  

 

Staf Penulis dari Al-Arabiya News (Kamis, 24 Juli, 2014) melaporkan:   


Kelompok radikal yang menamakan diri mereka sebagai Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) telah meluluh-lantakan tempat-tempat suci milik dua orang Nabi yang dicintai dan dihormati oleh baik kaum Muslimin maupun kaum Nasrani. Tempat suci itu adalah kompleks pemakaman yang terletak di sebelah utara kota Mosul, seperti dilaporkan oleh AL-SUMARIA NEWS pada hari Kamis.
“Kaum militan ISIS telah meluluh-lantakan makam dari Nabi Yunus (Jonah) yang terletak di sebelah timur kota Mosul setelah mereka sebelumnya mengambil alih kendali dari seluruh kuburan itu”, ujar seorang penjaga keamanan yang merahasiakan identitasnya kepada Al-Sumeria News, kantor berita yang berbasis di Iraq.
“Kaum militan itu menutup semua pintu mesjid dan melarang para jema’ah masuk untuk shalat,” salah satu sumber berujar.

Salah seorang saksi mata yang tidak ingin memberikan namanya berkata bahwa kaum militan ISIS itu “awalnya memberhentikan orang-orang yang hendak shalat; kemudian mereka memasang bahan peledak di sekitarnya dan di dalam mesjid dan meledakkannya di tengah kerumunan orang-orang banyak,” menurut Agence France-Presse. 

Petugas pengumpul zakat dan shadaqah yang tidak bersedia menyebutkan namanya, juga penduduk di sekitar kota Mosul memberitahu AFP (Agence France-Presse) bahwa kaum ekstrimis Sunni memerlukan waktu sekitar satu jam untuk mengebor lubang-lubang di dinding bangunan itu dan memenuhinya dengan bahan-bahan peledak. 

Petugas pengumpul zakat dan shadaqah itu menybutkan bahwa kelompok jihad “Negara Islam” yang telah menyapu daerah utara dan barat Irak bulan lalu telah berhasil merusak  atau membumi-hanguskan 30 tempat suci—15 huseiniyyah (mesjid kaum Syi’ah) dan beberapa mesjid lainnya di dalam kota Mosul atau di sekitar kota Mosul.
“Akan tetapi perusakan yang paling parah yang mereka lakukan ialah perusakan terhadap makam Nabi Yunus (as), yang mereka rusakkan hingga menjadi debu,” ia menambahkan keterangannya kepada AFP.

Di dalam Al-Qur’an dan Injil, Nabi Yunus itu dikenal sebagai Nabi yang memiliki mukjizat yang unik. Ia bisa selamat walaupun sudah ditelan hidup-hidup oleh seekor ikan. Hidup pada abad ke-8 sebelum Masehi, Nabi Yunus (Jonah) dipercayai dikubur di kota Mosul dan makamnya dijadikan sebagai mesjid. Makam yang berikut mesjid itu dianggap sebagai peninggalan yang sangat bersejarah dari beberapa peninggalan lainnya yang ada di sebelah timu kota itu. 

Menjadikan sebuah makam atau kuburan dari para wali Allah atau dari para Nabi atau dari orang-orang yang dianggap suci sebagai mesjid, memang sudah menjadi tradisi kaum Muslimin yang tidak lepas dari peradaban dan sejarah panjang. Tradisi itu bisa dilihat dari makam Nabi Muhammad yang ada di mesjid Nabawi. Juga makam-makam para Nabi lainnya yang dijadikan mesjid. Di Indonesia, kuburan para wali dan orang suci juga dijadikan sebagai mesjid. Ini tidak lepas dari ayat suci Al-Qur’an yang menggambarkan dengan indah sekali penghormatan orang-orang yang hidup pada jaman “Para Pemuda Gua”. Para Pemuda Gua (Al-Kahfi) meninggal dunia tidak jauh dari tempat itu dan di atas kuburan mereka didirikanlah mesjid. Al-Qur’an menggambarkan peristiwa itu di dalam ayat ke-21 surat Al-Kahfi sebagai berikut ini:
Dan demikian (pula) Kami mempertemukan (manusia) dengan mereka, agar manusia itu mengetahui, bahwa janji Allah itu benar, dan bahwa kedatangan hari kiamat tidak ada keraguan padanya. Ketika orang-orang itu berselisih tentang urusan mereka, orang-orang itu berkata: "Dirikanlah sebuah bangunan di atas (gua) mereka, Tuhan mereka lebih mengetahui tentang mereka". Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata: "Sesungguhnya kami akan mendirikan sebuah rumah peribadatan di atasnya". (QS. Al-Kahfi: 21)




Sementara itu, seorang petugas masyarakat di kota Mosul yang  bernama Zuhair al-Chalabi memberitahu al-Sumari News bahwa makam Nabi Danie pun dirusak oleh militan ISIS. Nabi Daniel dihormati sebagai seorang Nabi oleh kaum Muslimin meskipun namanya tidak dicantumkan dalam Al-Qur’an. 
“ISIS memasang bahan-bahan peledak di sekitar makam Nabi Daniel di Mosul dan kemudian meledakannya hingga hancur berkeping-keping,” ia memberitahu Al-Sumaria News.
“Kota Mosul sekarang menjadi tempat yang sangat mengerikan,” tukas Chalabi.



Salah satu sumber lainnya memberitahu Al-Sumaria News bahwa militan ISISI telah menghancurkan tempat ibadah milik dari Abu al-Ila di kota Mosul setelah terlebih dahulu menempatkan berbagai bahan peledak di sekitar tempat itu. Sumber itu juga mengatakan bahwa sebuah mesjid di distrik Al-Faisaliya dibom setelah sebelumnya mereka membom sebuah mesjid (Husainiyyah) milik kaum Syi’ah yang diberinama Fathimah az-Zahra. Kedua mesjid itu dihancurkan sampai menjadi puing-puing.
“Sekelompok orang tak dikenal membom makam Abu al-Ila yang terletak di tengah daerah Bab al-Jadeed di sebelah selatan Mosul,” seperti dikutip oleh Iraq Press Agency (IPA) dari seorang saksi mata.
“Rumah-rumah yang ada di sekitar makam juga terkena dampaknya dan hancur berat di sana-sini,” tambahnya.

Mesjid dan makam lainnya turut juga menjadi korban kebiadaban kelompok militan ISIS seperti makam Imam Yahya Abu al-Qaseem; puluhan tempat suci dan mesjid-mesjid di sekitar kota Mosul, dan lain-lain. Paling tidak ada 4 tempat suci orang Sunni yang berupa makam para sufi juga dihancurkan; dan ada 6 mesjid (Huseiniyyah) milik kaum Syi’ah diratakan dengan tanah.

















Jumat, 16 Mei 2014

FREE E-BOOK: “Saudi dan Israel bersatu melawan Iran dan Palestina”

 

JUST CLICK TO DOWNLOAD!

Saudi dan Israel bersatu melawan Iran dan Palestina

Oleh: Ramtanu Maitra


“Yang kami inginkan bukanlah sebuah Negara besar ARABIA bersatu melainkan sebuah kawasan ARABIA yang berpecah belah kedalam kerajaan-kerajaan kecil dibawah kekuasaan kerajaan kami yang besar.”

(1st Earl of Crewe, Menteri Sekretaris Negara Inggris Raya untuk daerah-daerah jajahan Inggris—1914)

“Yang mulia melihat dengan penuh suka cita setiap perkembangan di daerah Palestina yang akan dijadikan rumah kampung halaman bagi kaum Yahudi, dan ia akan menggunakan segenap daya upayanya untuk memudahkan pencapaian rencana ini. Kami paham bahwa kami tidak boleh melakukan apapun yang bisa membuat rakyat sipil dan kaum agamawan curiga karena adanya orang-orang non-Yahudi berkeliaran di Palestina. Kami juga berusaha agar orang-orang tidak curiga dengan diberikannya hak-hak istimewa dan status politik khusus yang hanya dinikmati oleh kaum Yahudi di negara-negara lain.”

(Arthur James Balfour, Sekretaris Luar Negeri Inggris, dalam sebuah suratnya kepada Lord Rothschild, 1917)

Penjajah Inggris memandang perlu untuk membentuk sebuah panitia utama berisikan 7 negara Eropa. Sebuah laporan penting yang diserahkan pada tahun 1907 kepada Perdana Menteri Inggris Sir Henry Campbell-Bannerman menekankan bahwa negara-negara Arab dan orang-orang Arab-Muslim yang tinggal di daerah kekuasaan Ottoman (kekhalifahan Utsmaniyah) bisa memberikan ancaman serius kepada negara-negara Eropa; dan oleh karena itu diperlukan usaha-usaha sebagai berikut:

1. Mereka harus dipecah-belah; dipisah-pisah; dan kemudian diberikan batasan-batasan satu sama lainnya di kawasan yang sama.

2. Berikan kepada mereka identitas politis buatan yang diletakkan di bawah kekuasaan negara-negara imprealis.

3. Memberangus segala bentuk persatuan atau organisasi, apapun namanya dan alasannya—baik itu organisasi intelektual, keagamaan, atau organisasi yang dibentuk atas alasan historis—dan selain itu harus dilakukan usaha-usaha untuk memecah belah para penduduk yang tinggal di kawasan itu.

4. Untuk mencapai semua ini diperlukan sebuah “buffer state” atau negara penyangga yang didirikan di Palestina; dihuni oleh orang-orang asing yang memiliki kekuatan yang tidak bermurah hati atau tidak ramah kepada para tetangganya dan sebaliknya sangat ramah dan bersahabat kepada orang-orang yang datang dari negara-negara Eropa dan mendukung segala kepentingan mereka.

(Dari sebuah Laporan untuk Campbell-Bannerman,1907)

Setelah itu lahirlah negara Israel di tanah Palestina yang keberadaannya itu tidak lepas dari peran Saudi Arabia. Saudi Arabia berperan besar atas lahirnya negara Israel; dan oleh karena itu maka Saudi dan Israel akan senantiasa tampak mesra. Ketika Gaza dibombardir dan kocar-kacir, Saudi malah memenjarakan seorang ulama yang menyatakan perasaan simpatinya kepada rakyat Gaza. Ketika Iran berhasil mengembangkan nuklirnya untuk tujuan damai, Saudi dan Israel ketakutan dan merasa bersalah. Padahal nuklir Iran bukan untuk perang melainkan untuk energi negaranya sendiri. Sebagai warga dunia, Iran memiliki hak untuk mengembangkan nuklirnya. Saudi dan Israel sedang merencanakan perang besar dengan target utama IRAN. Dengan bantuan Amerika dan negara-negara sekutunya………….tampaknya usaha itu tinggal menunggu waktu. Sementara Gaza Palestina hanya dijadikan uji coba senjata, sebelum mereka benar-benar menyerang negara yang mereka semua takuti yaitu IRAN!!!

Jumat, 25 April 2014

(Free E-Book) Khalid bin Walid: Pahlawan Perang atau Penjahat Perang?


Khalid bin Walid penjahat perang

“Sejarah itu selalu ditulis oleh para pemenang perang untuk kemudian dijadikan doktrin yang diajarkan di sekolah-sekolah agar anak cucunya tetap memuja-mujinya dan menghormatinya. Padahal seringkali pemenang perang adalah mereka yang tega berbuat curang dan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Sejarah yang sejati dan hakiki seringkali ada di lubuk hati mereka-mereka yang tertindas dan tidak punya kekuatan serta kekuasaan untuk menjadikan kisahnya sebagai bahan ajaran di sekolah-sekolah yang kurikulumnya diatur dan diawasi secara ketat oleh para tiran”


Karena para pemenang perang itu seringkali datang dari golongan para tiran yang dzalim, maka sejarah dunia lebih sering menceritakan tentang para tiran sebagai sosok kebaikan. Hanya para tiran dan orang-orang jahat yang tega berbuat curang untuk menang dalam perang. Dan hanya orang-orang tiran dan jahat yang seringkali menuliskan sejarah untuk menghapus jejak kejahatannya.

Di masa sekarang mereka mencoba untuk mengubah masa lalu agar mereka hidup tenteram di masa yang akan datang.

Tapi para pencari kebenaran tidak akan pernah puas membaca kitab-kitab sejarah yang ditulis oleh para tiran itu. Mereka senantiasa melihat “kecurangan” dan “kebohongan” dalam setiap penggalan sejarah yang dituliskan oleh para tiran. Sudah waktunya sejarah yang benar ditampakkan agar keturunan kita mendapatkan kebenaran sebagai satu-satunya jalan kehidupan!

Senin, 07 April 2014

Biarkan Hadits Nabi dan Ayat suci Qur’ani berkata jujur tentang Para Sahabat Nabi

 

KLIK SAJA GAMBAR SAMPUL E-BOOK DI BAWAH INI UNTUK MEN-DOWNLOAD

Biarkan ayat suci qur'ani dan hadits nabi berkata jujur tentang para sahabat nabi

Sikap berlebihan dalam memuja dan memuji para sahabat Nabi dapat membutakan pikiran dan menyesatkan kita dari petunjuk kebenaran. Mengapa bisa begitu? Karena para sahabat Nabi—siapapun dia—adalah orang-orang yang tidak pernah mendapatkan jaminan kema’shuman (keterjagaan dari berbuat dosa) dari Allah. Kalau ada jaminan tentang kesalehan dan kejujuran para sahabat, maka itu datangnya dari saudara-saudara kita dari kelompok Ahlu Sunnah wal Jama’ah dan bukan dari Allah Ta’ala.

Ketika kita mengikuti orang yang tidak ma’shum, maka kemungkinan kita akan tersesat dan jauh dari petunjuk itu sama besarnya dengan kemungkinan untuk mendapatkan petunjuk. Jadi peluangnya hanya 50 persen saja. Itu mirip-mirip perjudian, padahal hidup kita dan mati kita tergantung dari petunjuk yang kita ikuti.

Mengikuti teladan para sahabat Nabi tentu saja tidak salah. Akan tetapi menganggap mereka seperti malaikat; menganggap mereka semua jujur dan adil dan takkan mungkin berbuat salah adalah sebuah kesalahan dan sikap yang keterlaluan.

Para sahabat Nabi—seperti dalam sejarah—terbukti sama saja dengan manusia lainnya. Mereka banyak yang berbuat salah dan sebagian malah berbuat terlalu salah. Sebagian lain suka menyakiti Nabi. Sebagian yang lain suka menyembunyikan keyakinan asli mereka yang bertentangan dengan Islam sampai Nabi pun tidak tahu bahwa mereka itu orang-orang munafik. Kita tahu bahwa seorang sahabat Nabi itu pantas kita ikuti atau tidak dengan melihat track record atau sejarah hidup mereka. Oleh karena itu, pembahasan tentang para sahabat mana yang jujur dan mana yang pendusta; mana yang saleh dan mana yang salah; mana yang amanat dan mana yang khianat, menjadi sangat diperlukan.

Kita menerima Islam lewat para sahabat Nabi. Kita menerima Islam lewat hadits-hadits yang direkam dalam ingatan dan dituliskan lewat buku-buku dan lembaran lainnya oleh para sahabat Nabi. Kalau sahabat yang kita teladani itu kebetulan sahabat Nabi yang setia dan patuh serta taat kepada Rasulullah, maka kita kemungkinan akan mendapatkan petunjuk yang benar. Akan tetapi kalau kita mendapatkan Islam lewat seorang sahabat Nabi yang khianat, maka kita hanya akan mendapatkan Islam yang palsu. Islam yang tidak murni karena mungkin sudah diubah-ubah oleh sahabat yang khianat itu dengan alasan yang hanya dia dan Allah yang tahu.

Walhasil, untuk mendapatkan Islam yang murni; Islam yang sejati; Islam yang persis seperti yang diajarkan Allah kepada Nabi, kita harus meneliti para sahabat Nabi yang menyampaikan Islam itu kepada kita. Ilmu Hadits sudah melakukan itu dengan sistem “Al-Jarh wa-Ta’dil”, jadi adalah sangat dianjurkan kalau kita memiliki sikap kritis kepada para sahabat Nabi demi untuk mendapatkan Islam yang suci.

Wallahu ‘alam.