"KEBENARAN TIDAK DITENTUKAN OLEH SEDIKIT BANYAKNYA ORANG YANG BERKATA BAHWA ITU BENAR"

Rabu, 10 Desember 2014

(FREE E-BOOK) Kaum Wahabi itu bilang: “Yazid itu Amirul Mukminin”


CLICK THE BOOK COVER BELOW TO DOWNLOAD!


“Kita ini para budaknya Yazid dan seluruhnya terserah dia apakah kita ini akan diberikan kebebasan atau akan dijual di pasar budak belian”

Masyarakat kota Madinah dipaksa untuk mengulangi kata-kata di atas sebagai tanda bahwa mereka sudah menerima kepemimpinan Yazid Ibn Mu’awiyah yang memerintah mereka mulai dari tahun 680M hingga tahun 683M. Mereka yang keberatan atau bahkan melawan, kepalanya akan dipisahkan dari badan.

Bala tentara Yazid memasuki kota Madinah dan Mekah—dua kota suci umat Islam. Secara terbuka kepada khalayak ramai, Yazid mengumumkan dirinya menolak Islam dan tidak percaya kepada Nabi Islam. Ia malah mengolok-olok keyakinan umat Islam akan adanya hari pembalasan. Yazid juga mempermainkan shalat; ia meminum-minuman keras secara terang-terangan; ia berjudi dan melakukan itu semua sebagai kegiatan di waktu senggang. Ia melakukan tindak asusila dengan melecehkan secara seksual ibu-ibu tirinya dan bibi-bibinya sendiri. Apakah orang seperti ini layak disebut sebagai Amirul-Mukminin atau pemimpin dari orang-orang beriman?

Buku yang ada di tangan anda ini adalah karya terjemahan dari buku aslinya yang berjudul Yazid Hakuwa Amirul Muminin yang ditulis dalam Bahasa Kiswahili oleh Sheikh Abdilllahi Nassir. Dalam buku ini Sheikh Abdillahi Nassir mengkoreksi klaim sepihak kaum Wahabi yang menyebutkan bahwa Yazid itu ialah seorang Amirul Mukminin dengan bukti-bukti yang kuat dari hadits-hadits yang kuat yang ditulis oleh para ulama yang terkenal kejujurannya.

************
Ketika Walid bin Utbah bin Abi Sufyan—gubernur kota Madinah—memberitahu Imam Husein (as) bahwa Yazid meminta dirinya untuk memberikan bai’atnya, Imam Husein (as) dengan penuh kesantunan menolak memberikan bai’at. Yazid juga meminta Imam Husein (as) untuk memberikan bai’at secara rahasia saja, akan tetapi Imam Husein (as) sekali lagi menolak dengan halus sambil mengatakan bahwa bai’at yang diberikan secara rahasia itu sama sekali tidak ada artinya.

Akan tetapi Marwan bin Hakam—yang juga hadir di dalam pertemuan itu—meminta Walid agar bertindak lebih keras lagi. Ia meminta agar Walid memaksa Imam Husein (as) untuk memberikan bai’atnya kepada Yazid; dan kalau tidak mau berbai’at ia harus dibunuh dan kepalanya dibawa ke Damaskus.

Pada saat itu, Imam bersabda:

“……Kami ini adalah keluarga Rasulullah; sumber kenabian; tempat turunnya para malaikat. Lewat kamilah Allah memulai (menurunkan berkahNya) dan dengan kami Allah menyempurnakannya. Sementara Yazid itu adalah orang yang suka melakukan dosa; ia pemabuk; pembunuh orang-orang yang tak berdosa. Ia adalah orang yang terang-terangan dalam melakukan semua perbuatan dosa. Seorang seperti aku tidak akan pernah berbai’at kepada orang seperti dia …….”







Rabu, 12 November 2014

free e-book to download: NABI PUN MENANGISI IMAM HUSEIN (AS)

KLIK SAJA TAUTAN (SAMPUL BUKU) DI BAWAH INI:

Nabi pun menangisi imam husein

Seorang sejarawan Inggris yang terkenal, bernama Edward Gibbon, pernah berkata:

“Dimanapun seseorang, baik di jaman yang sama maupun yang berbeda ketika peristiwa tragis dari kematian Husein itu dibacakan, maka rasa simpati akan muncul bahkan dari seorang pendengar yang hatinya keras sekalipun.”[1]

Jadi kalau ada seseorang yang tidak berduka atau tidak menangis atau tidak berbela sungkawa terhadap kematian Imam Husein (as), maka ia memiliki hati yang paling keras yang lebih keras daripada batu. Yang lebih mengagetkan ialah kalau ada seorang yang mengaku Muslim tapi hatinya sama sekali tidak tergerak atas kejadian yang menimpa Imam Husein (as).


[1] LIHAT: The Decline and Fall of the Roman Empire, Edward Gibbon (1911), volume 5, halaman 391 dan 392.

Rabu, 05 November 2014

PEREBUTAN KURSI KHILAFAH SEPENINGGAL RASULULLAH

 

KLIK SAJA SAMPUL BUKUNYA UNTUK MENDOWNLOAD E-BOOK NYA

perebutan khilafah di saqifah

Para Sahabat Nabi sebagai makhluk politik

Kaum Muslim Sunni memiliki pendapat bahwa seluruh sahabat Nabi Muhammad Al-Mustafa (tanpa kecuali) adalah contoh-contoh dan suri teladan yang patut kita teladani dan mereka itu pada masa hidupnya tak tersentuh oleh nafsu duniawi; mereka bersih dari dosa; mereka tidak serakah dan senantiasa berbuat baik. Kaum Muslim Sunni juga berpendapat bahwa semua sahabat itu saling mencintai satu sama lainnya; mereka bekerja sama untuk menuju cita-cita Islam; mereka jauh dari saling membenci dan saling iri hati satu sama lainnya.

Akan tetapi pandangan kaum Muslim Sunni itu ternyata jauh panggang dari api. Pandangan kaum Muslim Sunni itu tidak sesuai dengan kenyataan sejarah. Kita sebenarnya berharap apa yang dikatakan kaum Muslim Sunni itu benar, akan tetapi fakta-fakta dan bukti-bukti sejarah malah tidak mendukung sama sekali apa yang sudah diyakini sebagai kebenaran oleh kaum Muslim Sunni. Fakta-fakta sejarah yang kejam merobek-robek keyakinan kaum Muslim Sunni itu sehingga orang-orang yang mengagumi para sahabat akan terhenyak di kursinya apabila kenyataan sejarah yang sebenarnya sampai pada mereka semua.

Mereka hampir-hampir semuanya tidak sanggup menerima kenyataan bahwa keutamaan-keutamaan para sahabat yang mereka kagumi hanyalah mitos belaka. Seorang pengagum yang paling fanatik pun tidak bisa menyangkal bahwa ada pergulatan kekuasaan diantara para sahabat yang memuncak bahkan sebelum Rasulullah dikebumikan sekalipun. Mereka tidak bisa menyangkal sedikitpun bahwa pergulatan politik seperti itu memang ada dan pernah terjadi. Oleh karena itu, bukti-bukti sejarah yang melimpah yang tertulis dalam berbagai buku sejarah Islam yang standar itu bisa kita pakai untuk merekonstruksi sejarah; merekonstruksi pandangan kita terhadap para sahabat; merekonstruksi keyakinan kita akan Islam karena dari para sahabatlah kita mendapatkan Islam. Sedangkan para sahabat itu tidak semua bisa kita percayai sesuai dengan apa yang kita lihat dalam sejarah.

Tidak masuk akal sehat kita apabila para sahabat itu sama semua dari segala aspeknya termasuk aspek keimanan dan ketakwaan. Bahkan para Nabi pun memiliki berbagai tingkatan ruhaniah, apalagi para sahabat yang hanya manusia biasa. Tidak ada dua orang yang memiliki semua tingkat keimanan dan ketakwaan yang serupa. Ketika mereka menerima Islam sebagai agama mereka, para sahabat Nabi itu adalah manusia biasa dan mereka memiliki preferensi yag berbeda-beda terhadap Islam. Masyarakat Islam yang ada pada waktu itu sama saja dengan yang ada pada hari ini. Masyarakat Islam pada waktu itu terdiri dari berbagai umat manusia dengan setiap karakter yang berbeda-beda. Setelah memeluk Islam, beberapa dari mereka sanggup mencapai derajat keIslaman yang tinggi; sedangkan yang lainnya tetap sama—keadaan sebelum dan sesudah masuk Islam sama saja.

Sabtu, 06 September 2014

Peti mati cucu Nabi, ditembaki panah oleh para sahabat Nabi

 

923072_405432942887463_1657363399_n

Beberapa anggota keluarga ‘Aisyah sendiri mengaku bahwa mereka lebih suka ‘Aisyah tidak pernah mengepalai sebuah pasukan dan bertempur di dalam peperangan. Pada suatu kesempatan, ia mengirimkan seorang utusan kepada keponakannya—Ibn Abil-Atiq—untuk meminta dirinya mengirimkan seekor keledai untuk dikendarai ‘Aisyah. Ketika keponakannya itu menerima pesan itu, ia berkata kepada utusan yang memberinya pesan:

“Katakan kepada Ummul Mukminin bahwa, demi Allah, kami belum bersih betul mencuci darah kaum Mukminin dari unta yang ia naiki. Apakah ia sekarang ingin menumpahkan darah lagi dan mengotori keledai yang akan ia naiki?” (LIHAT: Baladzuri dalam kitab Ansab al-Ashraf, volume 1, halaman431)

Ibn Abil Atiq seperti mengolok-olok ‘Aisyah ketika mengatakan kalimat di atas. Akan tetapi pada tahun 669, akhirnya hari itu datang juga. ‘Aisyah benar-benar menunggang seekor keledai dan menghasut orang-orang untuk melakukan sesuatu.

Ketika peti jenazah yang berisi cucu Nabi—Imam Hasan (as)—dibawa ke pemakaman Rasulullah—kakeknya yang sangat ia cintai, Marwan bin Al-Hakam dan para anggota keluarga Bani Umayyah lainnya datang ke pemakaman. Mereka datang lengkap dengan perlengkapan perangnya seolah-olah keluarga Nabi ke sana hendak berperang dan bukan hendak mengebumikan salah seorang anggota keluarganya yang meninggal. Kaum Bani Umayyah (individu-individu yang ada di dalamnya tentu saja termasuk para sahabat Nabi—menurut definisi Kaum Sunni—karena mereka pernah melihat Nabi dan hidup sejaman dengan Nabi) mencoba untuk mencegah Bani Hasyim (Klan Keluarga Nabi) yang hendak mengebumikan jenazah Imam Hasan (as) di samping kuburan kakeknya yang tercinta. Kaum Bani Umayyah tidak sendirian dalam menentangan pemakaman itu. Diantara mereka ada pula ‘Aisyah binti Abu Bakar (istri Nabi) dengan mengendarai seekor keledai!!! Ketika Perang Unta, ‘Aisyah menunggang unta memerangi keluarga Nabi. Sekarang ‘Aisyah menunggangi seekor keledai untuk mencegah Keluarga Nabi memakamkan salah satu anggota keluarganya yang mereka cintai.

‘Aisyah memang kalah telak di Perang Unta (Perang Jamal) di kota Basrah, akan tetapi tampaknya ia menang perang melawan jenazah Imam Hasan (as) di kota Madinah. Imam Hasan (as) tentu saja tidak bisa melawan karena ia sudah meninggal. Imam Hasan (as) hendak dikuburkan di dekat pusara kakeknya akan tetapi hal itu tidak terlaksana karena pemakamannya ditentang oleh ‘Aisyah dan kelompok Bani Umayyah. Akhirnya ia dikebumikan di pekuburan Jannat-ul-Baqi.

Sepanjang hidup ‘Aisyah seringkali membuat Nabi merasa sakit hati (LIHAT: Biarlah Al-Qur’an dan Hadits-hadits Shahih Ahlul Sunnah Berbicara Jujur tentang ‘Aisyah). ‘Aisyah juga menyakiti keluarga Nabi dengan memerangi mereka dalam Perang Unta (LIIHAT: HUBUNGAN ANTARA PERANG UNTA DAN PENCIPTAAN TOKOH “ABDULLAH BIN SABA”). Dan sekarang daftar kesalahan fatal ‘Aisah bertambah lagi dengan menunggangi seekor keledai untuk menghalang-halangi penguburan cucu terkasih Nabi agar tidak dikuburkan di samping pusara Nabi.

Para Ulama Sunni terkenal dan ternama yang sekaligus juga pakar sejarah terkemuka, semuanya menuliskan bahwa ketika jenazah Imam Hasan (as) hendak dibawa ke Madinah, ‘Aisyah menaiki seekor keledai diikuti oleh sekelompok tentara Bani Umayyah beserta budak-budak mereka berusaha untuk menghentikan prosesi itu. ‘Aisyah dan orang-orang Bani Umayyah itu berkata bahwa mereka tidak akan pernah mengizinkan Imam Hasan (as) dikebumikan di samping pusara Rasulullah. Para ulama sejarawan dari Ahlu Sunnah yang menuliskan fakta sejarah seperti itu diantaranya ialah:

  1. Yusuf Sibt Ibn Jauzi dalam kitabnya Tadhkira Khawasu’l-Umma, halaman 122
  2. Allama Mas’udi, penulis Muruju’z-Dhahab, dalam kitabnya Isbatu’l-Wasiyya, halaman 136
  3. Ibn Abi’l-Hadid dalam kitabnya Sharh-e-Nahju’l-Balagha, vol. IV, halaman 18, melaporkan dari Abu’l-Faraj dan Yahya Bin Hasan, penulis kitab Kitabu’n-Nasab; Muhammad Khwawind Shah dalam kitabnya Rauzatu’s-Safa
  4. dan masih banyak yang lainnya yang ruangan ini tidak cukup untuk menuliskannya.

Menurut sebuah laporan Mas’udi Ibn Abbas berkata:

“Aneh sekali perbuatan dirimu ‘Aisyah! Bukankah cukup engkau mengobarkan perang Jamal dengan menunggangi seekor unta? Mengapa engkau tambah malapetaka dengan mengobarkan perang dari punggung keledai pula? Dengan mengendarai seekor keledai kau hendak larang pemakaman putera Rasulullah. Satu hari engkau menunggangi seekor unta; di hari lain engkau tunggangi seekor keledai. Engkau telah runtuhkan wibawa dan hancurkan kemuliaan Rasulullah. Apakah engkau ingin memadamkan cahaya Allah? Akan tetapi sesungguhnya Allah berkehendak untuk menyempurnakan cahayaNya walaupun orang-orang musyrikin benci; sesungguhnya kita ini milik Allah dan kepadaNya kita akan kembali.”

Beberapa sejarawan malah menuliskan bahwa Ibn Abbas pernah berkata kepada ‘Aisyah:

“Pada suatu ketika engkau menunggangi unta dan pada suatu ketika yang lain engkau menunggangi keledai. Apabila engkau hidup lebih lama lagi, niscaya engkau akan menunggangi gajah (untuk menentang Allah)! Meskipun dari seperdelapan engkau hanya memiliki sepersembilan bagian. Tapi engkau sudah mengambil semua bagian.”

Kaum Bani Hasyim (keluarga Rasulullah) menghunus pedang-pedangnya dan bermaksud untuk mengusir ‘Aisyah dan tentara Bani Umayyah, akan tetapi Imam Husein (as) melerai mereka dan berkata bahwa saudaranya (yaitu Imam Hasan (as)) telah berwasiat kepadanya agar ia tidak menumpahkan setetes darahpun di pemakamannya. Oleh karena itu, keluarga Rasulullah tidak jadi melawan. Mereka memutar balik arah dan tidak jadi menguburkan jenazah Imam Hasan (as) di sisi pusara Rasulullah. Jenazah Imam Hasan (as) akhirnya dikebumikan di Pekuburan Baqi (sebuah kompleks pemakaman di kota Madinah dan sampai sekarang masih diziarahi orang-orang yang peduli dan mencintai Ahlul-Bayt Nabi yang suci).

Kebiadaban Mu’awiyah (yang notabene adalah sahabat Nabi dan dihormati oleh kaum Muslimin Sunni) terhadap Imam Hasan (as) diwujudkan dalam bentuk persekongkolan jahat dengan istri Imam Hasan sendiri yang bernama Ja’dah binti Asy’ats (yang tidak lain adalah cucu Abu Bakar. Jadi cucu Nabi itu dibunuh oleh cucu Abu Bakar (LIHAT: Derita Cucu Nabi yang dibunuh oleh Sahabat Nabi). Imam Hasan (as) menemui kesyahidannya pada tanggal 28 Safar 50H. Penguburannya dihadiri oleh Imam Husein (adiknya sendiri) dan seluruh keluarga Bani Hasyim. Tandu jenazahnya dihujani panah oleh musuh-musuhnya (yaitu ‘Aisyah binti Abu Bakar dan Bani Umayyah); sehingga akhirnya usungan tandu jenazah itu tidak jadi dibawa ke pusara Nabi melainkan dibawa ke kompleks pekuburan Jannat-ul-Baqi di kota Madinah. ‘Aisyah tidak menyukai jenazah musuhnya (yaitu Imam Hasan) mendapatkan kehormatan dan kemuliaan dikuburkan di samping pusara Rasulullah. ‘Aisyah sudah pernah berhadapan dengan kelompok Bani Hasyim atau keluarga Nabi dalam Perang Unta (Perang Jamal). Dan ia masih memendam dendam kepada keluarga Nabi karena ia kalah dalam perang itu.

Di jaman moderen, Kuburan Imam Hasan (as) dihancur leburkan oleh kaum Wahabi pada tanggal 8 Syawwal 1344H (atau tanggal 21 April 1926). Kaum Wahabi mendapatkan dukungan yang sangat kuat dari pemerintah Saudi—bahkan orang-orang Wahabi adalah orang-orang Saudi sendiri karena Wahabi menjadi madzhab resmi di Saudi Arabia. Para penguasa Saudi menjadi sangat kuat dan memerintah daerah Hijaz hingga sekarang. Dan oleh karena itu, kuburan Imam Hasan (as) masih hancur lebur dan belum pernah diperbaiki kembali hingga detik ini.

http://www.al-islam.org/brief-history-of-fourteen-infallibles/

Senin, 01 September 2014

Derita cucu Nabi yang dibunuh sahabat Nabi

Oleh: Ali Jamaleddine

oppressed_grandson_prophet_jamaleddine_small

KEDZALIMAN TERHADAP AL-MUJTABA TAK BERAKHIR WALAU IA SUDAH SYAHID
 
Rasulullah dan Ahlul Bayt suci Nabi (shalawat dan salah tercurah kepada mereka semua) telah mengalami sejumlah kesulitan hidup dan kesengsaraan dalam tugas dakwah Islam dan penyampaian pesan-pesan kemanusiaan. Ketika kita memasuki bulan Safar, segera ingatan kita kembali kepada sebuah peristiwa yang memilukan hati. Kita segera teringat kembali kepada kejadian dimana para sahabat Nabi memperlakukan cucu Nabi dengan sangat tega. Imam Hasan al-Mujtaba (as) menjadi sasaran kedengkian dan dendam yang tidak terkira. Imam Hasan (as) sudah merasakan penderitaan pada usia yang masih teramat muda dengan melihat ibunya yang tercinta—Fathimah az-Zahra (as)—diserang, dilukai, dan kemudian menemui kesyahidannya setelah menderita luka-luka yang sangat serius. Cucu Nabi yang terkasih itu juga harus melihat hak ayahnya—Imam Ali (as)—dirampas oleh rezim yang berkuasa sepeninggal kakeknya (Rasulullah SAW). Penderitaannya berlanjut ketika ia harus menyaksikan ayahnya juga syahid di mesjid Kufah. Pada saat kesyahidan Imam Ali (as)-lah, Imamah dilanjutkan olehnya; akan tetapi penderitaan yang diderita olehnya malah terus bertambah dan akhirnya berakhir 10 tahun kemudian dengan kesyahidan dirinya. Dan sejak hari kesyahidannya hingga detik ini, Imam Hasan (as) tetap harus menderita. Ia sekarang menjadi korban para sejarawan; pemerintah yang dzalim; dan kebudayaan keliru yang sudah mendarah daging.
 
KESALAHAN MEDIA DAN TUDUHAN YANG KEJI
 
Imam Hasan (as) beratus-ratus tahun menderita oleh media yang dikuasai oleh keluarga Bani Umayyah yang memerintah dunia Islam dengan kekejaman. Kabar-kabar burung disebarluaskan lewat-lewat mimbar-mimbar mesjid. Isu-isu miring dihembuskan di sekitar penyerahan kekuasaan dari Imam Hasan (as) ke Mu’awiyah. Mereka menyebarkan pendapat miring setelah Imam Hasan (as) berperang melawan Mu’awiyah dan para tentara bayarannya; dan kemudian dikatakan menyerah takluk serta mencari kesepakatan damai dengan Mu’awiyah agar nyawanya selamat. Media yang dikuasai dan dikendalikan oleh Mu’awiyah—sebagai penguasa dari Bani Umayyah—bahkan bertindak lebih jauh lagi sampai mendiskreditkan figur Imam Hasan (as) yang mulia. 
 
Buku-buku sejarah—yang tentu saja dipengaruhi oleh propaganda media Bani Umayyah—menggambarkan Imam Hasan (as)—cucu terkasih Rasulullah; pemimpin pemuda di surga—sebagai seorang laki-laki yang senang menikah dan bercerai. Bani Umayyah menggambarkan Imam Hasan (as) sebagai orang yang suka berfoya-foya dan hidup dalam gemerlap dunia; dan beberapa sejarawan lainnya malah menuduh Imam Hasan (as) menjual Imamah dan kepemimpinan kepada Mu’awiyah karena ia lebih mementingkan kesenangan dunia!!! 

Tentu saja semua tuduhan (atau lebih tepatnya fitnahan) tidak benar sama sekali. Semua fitnah itu dulunya ditujukan untuk menggerus kemuliaan dan keagungan dari Imam Hasan (as) di mata masyarakat. Ketika Imam Hasan (as) masih hidup, fitnah itu berkembang begitu masif-nya hingga banyak orang yang menganggap bahwa Imam Hasan (as) telah membuat malu orang-orang yang beriman. Sayangnya fitnahan ini masih tetap diyakini orang sebagai kebenaran karena sudah tertulis di dalam berbagai buku sejarah. Imam Hasan (as) rupanya harus menderita lebih lama lagi. 14 abad sudah berlalu ……. Sang Imam tetap harus menderita. 

 
MUSUH TERSEMBUNYI
 
Imam Hasan (as) juga menderita dari kekejaman yang dilakukan oleh musuh tersembunyi. Musuh tersembunyi adalah musuh yang tidak berhadapan langsung dengan sang Imam akan tetapi terus menerus menyerang sang Imam. Musuh tersembunyi yang pertama asalnya adalah media Bani Umayyah. Sementara di sisi lain, ada musuh lainnya yang juga sama bahayanya karena sama-sama tersembunyinya. Musuh tersembunyi yang dimaksud adalah emas dan perak; selain itu musuh lainnya ialah para sahabat Nabi yang masih hidup akan tetapi lemah imannya. 

Semangat para pengikut Imam Hasan (as) itu sudah terguncang, dan penderitaan yang mereka pikul dengan cepat menggerus kesetiaan mereka. Pasukan Imam Hasan (as) sudah mulai mempertanyakan perang yang mereka lakukan dengan Mu’awiyah. Mu’awiyah menggunakan kesempatan itu untuk menggoda mereka yang sudah berbai’at kepada Imam Hasan (as) agar mau bergabung dengan dirinya. Emas dan perak digunakan sebagai pancingan yang dasyhat. Banyak sekali para pengikut Imam Hasan (as) yang akhirnya beralih menjadi pengikut Mu’awiyah—dan itu termasuk para komandan perangnya yang seharusnya menjadi teladan yang baik. 

Melihat para sahabat Nabi (yang menjadi pengikut Imam Hasan) dan para pengikutnya satu persatu bergabung dengan Mu’awiyah, Imam Hasan (as) menjadi sangat terasing dan kesepian di kampung halamannya sendiri. Imam Hasan (as) tidak lagi berperang melawan musuh yang jelas. Bergabungnya para sahabat Nabi dan para pengikut dirinya ke pihak musuh, membuat Imam Hasan (as) merasa sangat terpukul. Itu jauh lebih menyakitkan daripada serangan yang dilancarkan langsung oleh Mu’awiyah. 

 
KISAH RACUN MEMATIKAN
 
Mu’awiyah belum merasa cukup. Ia ingin benar-benar melenyapkan Imam Hasan (as); Mu’awiyah ingin menyelewengkan gambaran Imam Hasan (as) yang penuh dengan kemuliaan digantikan dengan gambaran lain yang sudah dikotori oleh rezim Bani Umayyah. Di jaman sekarang ini, kalau ada percobaan pembunuhan dengan racun satu kali saja dan kemudian gagal, maka itu akan menjadi pembicaraan dimana-mana. Itu akan menjadi berita yang menggemparkan dunia. Akan tetapi pada jaman itu, percobaan pembunuhan terhadap Imam Hasan (as) itu berlangsung beberapa kali dan menemui kegagalan. Selain itu Imam Hasan (as)  juga seringkali diserang secara fisik dan mengalami luka-luka diantaranya cukup serius. Satu usaha pembunuhan disusul usaha pembunuhan lainnya semuanya menemui kegagalan hingga akhirnya…..sang Imam menemui kesyahidan setelah sebuah racun yang sangat mematikan merusak hatinya dan membuatnya muntah-muntah hebat dan sebagian dari hatinya termuntahkan keluar bersama muntahnya. Ia menemui kesyahidan setelah beberapa kali usaha pembunuhan yang tidak berhasil. 

 
TEMAN TERDEKATNYA
 
Melihat para sahabat Nabi yang menjadi pengikutnya serta melihat para sahabatnya sendiri satu persatu meninggalkannya memang menyakitkan hati. Akan tetapi ada yang jauh lebih menyakitkan hatinya lagi. Orang yang paling dekat dengan dirinya adalah orang yang meracuninya hingga menemui kematian!!! Imam Hasan (as) diracuni oleh istrinya sendiri yang bernama Ja’dah binti Al-Asy’ats. Dialah yang memberikan racun kepada Imam Hasan (as) setelah ia diberi iming-iming oleh Mu’awiyah dengan sejumlah uang dan gelar kehormatan. Menurut beberapa laporan, Mu’awiyah juga memberikan janji akan menikahkan Ja’dah dengan putera mahkotanya yaitu Yazid bin Mu’awiyah. Ja’dah binti Asy’ats sendiri adalah  puteri dari Ummi Farwa. Ummi Farwa sendiri adalah saudari dari Abu Bakar. Jadi Ju’dah itu keponakan dari Abu Bakar. Ia membunuh Hasan bin Ali bin Abi Thalib, cucu Nabi. Jadi cucu Nabi dibunuh oleh cucu Abu Bakar. Yang menarik ialah JA’DAH BINTI ASY’ATS itu adalah istri dari Hasan bin Ali, Jadi Hasan bin Ali bin Abi Thalib—cucu Nabi—dibunuh oleh istrinya sendiri. (LIHAT: SEJARAH MENCATAT PERSETERUAN ANTARA KELUARGA ABU BAKAR vs KELUARGA FATHIMAH BINTI MUHAMMAD, PUTERI NABI). Allah berfirman dalam Al-Qur’an: “Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).”(QS. Ar-Rahman: 60), akan tetapi kebaikan Imam Hasan (as) yang dilakukan kepada setiap orang—terutama kepada istrinya, tentunya—dibalas dengan kejahatan berupa racun mematikan!!!
 

IMAM HASAN (AS) DIBUNUH ISTRINYA ATAS PERINTAH SEORANG SAHABAT NABI YANG SEKARANG NAMANYA HARUS DI KALANGAN SEBAGIAN BESAR KAUM MUSLIMIN!!!


 
DIJAUHKAN DARI KAKEKNYA SETELAH KESYAHIDANNYA
 
Dalam berbagi riwayat disebutkan bahwa Imam Hasan (as) itu berwasiat bahwa kelak kalau sudah meninggal beliau ingin dikebumikan disamping pusara kakeknya—Rasulullah (SAW). Dalam beberapa riwayat yang lainnya, beliau meminta jenazahnya dibawa ke pusara kakeknya dulu sebelum dikebumikan untuk menghormati kakeknya yang sangat ia cintai. Akan tetapi kedua wasiat itu ditentang oleh kelompok Bani Umayyah. Padahal itu hanya permintaan yang sangat wajar dari seorang cucu terhadap kakeknya. Tidak ada sesuatu yang melanggar syari’ah manapun.
 
HUJAN PANAH DI PEMAKAMAN
 
Kelompok Bani Umayyah tidak berpuas diri walaupun Imam Hasan (as) sudah tiada. Di pemakaman cucu Nabi itu, kelompok Bani Umayyah—yang tentu saja sebagian besar ialah para sahabat Nabi ketika Nabi masih hidup—menyerang upacara pemakaman itu. Mereka menembakkan puluhan anak panah ke peti mati Imam Hasan (as). Tidak kurang dari 70 anak panah tepat mengenai sasaran!!! Inilah perlakuan orang-orang yang mengaku Muslim dan notabene masih para sahabat Nabi kepada seorang Muslim lainnya yang sangat dicintai Nabi; yang ketika hidupnya Nabi pernah menyebutnya sebagai “hiasan mataku”. 

 
KUBURANNYA PUN BEBERAPA KALI DIRUSAK
 
Bahkan setelah Imam Hasan (as) dikuburkan, kuburannya pun tetap menjadi sasaran kebencian dan dendam tak berkesudahan. Pada tahun 1221H, kaum Wahabi meluluh-lantakkan kuburan di Jannat al-Baqi—Madinah—termasuk kuburan dari Imam Hasan (as).
Setelah kuburan itu diperbaiki oleh orang-orang yang peduli , pada tahun 1335H, kembali kaum Wahabi menyerang kembali kuburan Imam Hasan (as) hingga rata dengan tanah. Kerusakan itu tidak lagi diperbaiki hingga sekarang karena yang memerintah di jazirah Arab (Arab Saudi) adalah tidak lain dari orang-orang Wahabi. Dan mereka masih merasa kurang sempurna dalam mendzalimi cucu Nabi. Mereka melarang para peziarah yang mencintai cucu Nabi ini datang dan menjenguk kuburannya. Mereka menutup-nutupi pelarangan itu dibalik kata-kata bahwa mereka “mencegah orang berbuat kemusyrikan”. 

Ya, Abu Muhammad, Ya Hasan Putera Ali,
Wahai dikau yang terpilih Nabi, Wahai sang cucu dari Utusan Illahi,
Engkau pemutus perkara bagi setiap insani
Engkau pemuka dan pemimpin kami
 


Kepadamu kami hadapkan wajah kami                                                                 
Kepadamu kami mencari syafa’at suci                                                                   
Kepadamu kami sampaikan kebutuhan dan ajukan keluhan kami 
Karena lewat dirimu, Allah memberikan kasih dan cinta kepada kami 


Belalah kami di hari pengadilan nanti                                                                         
Seperti kami telah bela namamu yang suci                                                                       
Walau pembelaan dan pemihakkan dari kami 
Belumlah sepadan dengan yang kau buat bagi kami, wahai cucu Nabi