"KEBENARAN TIDAK DITENTUKAN OLEH SEDIKIT BANYAKNYA ORANG YANG BERKATA BAHWA ITU BENAR"

Kamis, 09 April 2015

ADA APAKAH GERANGAN HINGGA ISRAEL MENCARI IMAM MAHDI?




Taken from:

Shabana Syed for Veterans Today

Selama masa pendudukan Amerika Serikat di Irak, ada kegiatan rutin yang selalu dilakukan terhadap para tawanan Irak di penjara-penjara seperti di penjara Abu Ghraib dimana para sipir penjaranya menggunakan cara-cara penyiksaan seperti yang mereka pelajari di kamp-kamp latihan di Israel seperti yang dituturkan oleh Robert Fisk dalam tulisannya “Abu Ghraib torture trails leads to Israel”. Salah satu pertanyaan yang sangat mengejutkan dan sangat membingungkan (bagi orang-orang Barat) ialah pertanyaan yang dilontarkan selama menginterogasi para tawanan itu. Pertanyaan yang dimaksud ialah pertanyaan: “Dimanakah orang yang disebut dengan Imam Mahdi itu bersembunyi?”


Menurut Mohabat News—sebuah kantor berita Orang Kristen Iran yang pro-Israel—ketakutan terhadap Imam yang tersembunyi itu begitu meyakinkannya hingga mereka menerbitkan sebuah postingan yang menggambarkan bagaimana agen-agen CIA dan MI6 berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan informasi tentang keberadaan Imam Mahdi. Dan mereka sudah melakukan itu selama 20 tahun lamanya. Mereka melakukan terror dan penyiksaan terhadap para ulama dan orang-orang desa yang tidak berdosa dengan pertanyaan yang sama yaitu pertanyaan tentang keberadaan Imam Mahdi sekarang ini (Dimana ia bersembunyi? Di kota mana? Kapan ia akan muncul kembali dan pada tahun berapa tepatnya ia akan muncul kembali? Dll.)

Sebuah media korporasi Amerika sudah menunjukkan sebuah tayangan dokumenter yang menakutkan yang menggambarkan sang Imam yang tersembunyi yang tampak sedang memberikan nasehat kepada para politisi Iran dari tempat persembunyiaannya yang tampak agung. Ia ditengarai sedang memberikan nasehat untuk membuat manuver-manuver untuk perang Armageddon (Perang Akhir Zaman).

Lalu siapakah Imam Mahdi yang dicari-cari oleh orang-orang Zionis yang mengendalikan kongres Amerika ini? Siapakah gerangan Imam Mahdi yang juga dicari-cari leh sistem keuangan internasional (International Monetary System) yang keduanya memerintahkan tembak di tempat apabila ada orang yang diyakini sebagai Imam Mahdi tampak di muka umum. 



Imam Mahdi itu ialah imam ke-duabelas dari kaum Muslim Syi’ah dan menurut hadits-hadits ia sedang berada dalam “keghaiban” dan kemudian akan kembali lagi ke bumi untuk menegakkan keadilan di muka bumi ini. Ia lahir pada tanggal 29 Juli 869, di kota Samarra, Irak. Ibunya bernama Nargis berasal dari Romawi.       
     
Ia disembunyikan sejak lahir hingga ia mengalami keghaiban karena para penguasa Abbasiyyah pada waktu itu mengetahui tentang ramalan tentang Imam Mahdi yang akan membawakan revolusi melawan kedzaliman dan menentang para tiran. Para penguasa Abbasiyyah tahu betul akan manusia yang dijanjikan kedatangannya itu dan ia adalah putera dari Imam kesebelas, Imam Hasan al-Askari.

Demi untuk membunuh anak yang baru dilahirkan itu, maka para penguasa Bani Abbasiyyah memasang mata mereka dan telinga mereka. Mereka memata-matai para wanita yang ada di rumah Imam Hasan al-Askari itu untuk mengawasi siapa saja yang keluar dari rumah itu dengan seorang bayi.

Menurut sejarah, kelahiran Imam Mahdi dan beberapa tahun dari masa kecilnya itu dirahasiakan dari khalayak ramai akan tetapi ketika Imam Al-Askari syahid dibunuh penguasa Bani Abbasiyyah, puteranya (yaitu Imam Mahdi) yang pada waktu itu masih berusia 4 tahun masuk dalam keghaiban, dan kemudian kembali muncul setelah beberapa tahun lamanya untuk kemudian ghaib lagi ketika para penguasa mencari dan memburunya. Ia akan terus ghaib hingga waktunya datang untuk kemunculannya lagi untuk memusnahkan para pelaku kejahatan serta untuk membangun kembali kemanusiaan.

Apakah ini sebuah khayalan atau bukan (ini keyakinan penulis—red), apa yang aneh ialah bahwa kecenderungan yang sama terus menerus terjadi sepanjang sejarah hingga detik ini: para penguasa yang dzalim selama kurang lebih seribu tahun yang lalu memburu Imam Mahdi ini untuk dibunuh dan hingga sekarang para penguasa (yang baru) juga masih menyasar tokoh ini untuk diburu dan dibunuh. 

Melanie Phillips—penyambung lidah kaum Zionis—baru-baru ini di BBC Question Time membuka diskusi baru lagi tentang Imam Mahdi yang bersembunyi di Iran dan hendak muncul kembali untuk melangsungkan Perang Armageddon.

Matt Carr, seorang jurnalis, menulis dalam blognya sebagai berikut: “Dengan kata lain, para pemimpin Iran sedang membangun senjata nuklir supaya Iran bisa dihancurkan dan para penduduknya bisa semuanya pergi ke surga. Tidak mengherankan kalau pendapat ini disusun oleh seorang Zionis fanatik yang bernama Melanie Phillips pada berbagai kesempatan.”

Phillips pernah menuliskan: “Seperti yang sudah saya tuliskan beberapa kali, dari mulai Pemimpin Ruhani tertinggi Ayatullah Ali Khamenei hingga terus ke orang-orang di bawahnya semuanya didominasi oleh orang-orang (yang disebut dengan pengikut Syi’ah fanatik) yang yakin dan percaya bahwa seorang messiah—seorang juru selamat—yang disebut dengan “Al-Mahdi”, akan muncul kembali ke bumi ini baik karena hari akhir dunia sudah dekat atau karena dia muncul, maka hari akhir dunia sudah makin mendekat.”

Jelas sekali kaum Zionis memang menginginkan perang dengan Iran akan tetapi yang membuat kita bingung itu ialah mengapa mereka masih menyusahkan diri mereka sendiri untuk mencari seorang laki-laki yang sudah hilang atau ghaib selama lebih dari seribu tahun lamanya? (Kesimpulan yang masuk akal ialah bahwa kaum Zionis itu sangat yakin bahwa Imam Mahdi itu ada; dan itu sangat mengejutkan kita semua karena kaum Muslimin sendiri tidak semuanya memiliki keimanan yang sama tentang sosok Imam Mahdi ini. Banyak sekali kaum Muslimin yang malah tidak percaya—atau tidak beriman—terhadap adanya Imam Mahdi (as.)—red.).

Imam yang disembunyikan atau Imam yang ghaib sudah menjadi kepercayaan dari kaum Syi’ah dan Sunni selama beberapa abad lamanya. Kaum Sunni pun menunggu kedatangan dari Imam Mahdi walaupun mereka memiliki sedikit perbedaan dengan saudaranya dari kaum Syi’ah. Keyakinan akan adanya Imam Mahdi ini tidak ada bedanya dengan bentuk keyakinan yang disebut dengan Millenarianisme yang ada di hampir semua agama. Semua agama meyakini bahwa akan ada seseorang yang akan menyelamatkan dunia ini dari kehancuran moral dan itu menjadi tonggak sejarah dimana dunia akan dipenuhi dengan keadilan dan ketentaraman dimana sebelumnya dipenuhi dengan kezaliman dan peperangan.

Orang-orang Nasrani meyakini bahwa Yesus Kristus akan kembali (ini juga menjadi keyakinan kaum Muslimin) untuk memerangi orang-orang anti Kristus (Anti-Christ). Sementara itu kaum Yahudi juga sedang menantikan juru selamatnya sendiri (Mesiah Yahudi). Mereka mengambil resiko yang sangat bahaya yang bisa menyebabkan timbulnya perang dunia ketiga. Mereka mengobrak-abrik tempat suci nomor tiga bagi kaum Muslim yaitu Mesjid al-Aqsa agar mereka bisa mendirikan kuil ketiga mereka agar sang Mesiah juru selamat mereka cepat kembali untuk menguasai dunia.

Bagi mereka yang skeptis dan tidak mempercayai kisah-kisah tentang juru selamat atau para mesiah ini atau bagi mereka yang dididik dalam kebudayaan sekuler barat, kisah-kisah hanya akan dianggap sebagai dongeng-dongeng saja. Akan tetapi yang membuat kita terperangah dan terheran-heran ialah: Mengapa mereka—orang-orang Israel—mencari-cari Imam Mahdi padahal mereka semuanya dibesarkan dan dididik dalam kebudayaan barat yang tidak mempercayai ini semua. 

Karena fakta-fakta yang sangat kuat menunjukkan bahwa mereka sedang mencari dan memburu Imam Mahdi, maka hendaknya kita juga tidak mengabaikan kisah-kisah atau cerita-cerita yang berasal dari Irak yang menggambarkan apa yang harus kita lakukan untuk bisa mencari dan menemukan Imam Mahdi. 

Pada tahun 2006, makam dari ayahnya Imam Mahdi—yang bernama Imam Hasan al-Askari (as)—dibom oleh orang-orang yang berpakaian seragam pasukan keamanan. Makam itu ditengarai sebagai tempat lahir Imam Mahdi (as) sekaligus juga tempat terakhir dimana Imam Mahdi (as) terakhir kali tampil di muka umum. Banyak sekali orang atau saksi mata yang meyakini bahwa orang-orang yang berpakaian seragam pasukan keamanan itu mencuri beberapa pakaian yang menempel di tubuh jenazah Imam Hasan al-Askari (as) untuk mengambil sampel DNA. Sampel DNA itu nantinya akan digunakan untuk mencari Imam Mahdi (as). 

Bukan sebuah kebetulan kalau Phillips dan teman-teman Zionis Israel-nya menebarkan rasa takut untuk yang kesekian kalinya. Dan untuk sekarang ini mereka menebarkan perasaan takut terhadap “Imam yang tersembunyi” (the hidden Imam).

Phillips adalah bagian dari sebuah network yang secara terus menerus menebarkan perasaan takut terhadap Islam (atau Islamophobia). Ia juga merupakan bagian dari warga negara Israel yang pertama (pionir). Perdana menteri Israel David Ben Gurion memberikan pernyataan yang secara tidak langsung memuji Phillips: “Ketika seorang Yahudi—baik ia tinggal di Amerika maupun di Afrika Selatan—berbicara kepada seorang Yahudi lainnya tentang “Negara Kita”, maka yang dimaksud ialah Negara Israel.” 

Mereka adalah orang-orang yang sama juga yang mengilhami seorang pembunuh berdarah dingin dari Norwegia—Anders Brevik—yang membunuh sekitar 77 orang tak berdosa yang tergabung dalam kelompok Pro-Palestina yang hendak memboykot Israel. 

 Anders Brevik

Orang-orang Israel yang termasuk warga negara pertama inilah yang disebut-sebut oleh organisasi “Hacker” (yang disebut “Anonymous”) ketika mereka mengatakan bahwa Israel itu memiliki sekitar 30,000 network yang menjalankan operasi-operasi rahasia yang beberapa diantaranya memiliki nama sandi “hitman”.


Gordon Duff—analis politik senior Amerika sekaligus editor senior untuk Veterans Today—menulis sebuah tajuk berjudul: “Horror in Israel: 30,000 Mossad Spies Exposed”. Ia menyatakan dalam tulisannya itu: “Setiap hari kita melihat dalam berita puluhan orang terbunuh di Pakistan, misalnya; atau puluhan terbunuh di Irak, Kenya, Nigeria, itu melibatkan pasukan berjumlah 30,000 orang. Mereka merencanakan terror; membuat puluhan bom mobil tiap hari dan kemudian mereka sanggup bukan saja menuliskan kebohongan dengan menyalahkan pihak lain akan tetapi di dalam beberapa kasus malah mengarahkan para pejabat masyarakat yang mereka suap atau peras—baik dengan iming-imin maupun dengan ancaman—untuk memberikan “respon yang dikehendaki”.

Seharusnya Phillips dan kawan-kawan zionis-nya tidak usah merisaukan Perang Armageddon yang konon katanya akan dilancarkan oleh seorang laki-laki yang sudah menghilang sekitar seribu tahun lamanya. Lebih baik mereka merisaukan sebuah peringatan yang diberikan oleh seorang sejarawan militer Israel yang bernama Martin van Creveld ketika ia berkata: “Kami memiliki ratusan hulu ledak nuklir dan roket dan kami bisa mengarahkannya kepada target-target dimanapun ………. Kami memiliki kemampuan untuk menghancurkan dan menguasai dunia. Dan aku tegaskan bahwa itu akan terjadi sebelum Israel hancur.”



Selama beberapa abad lamanya, kitab Talmud mengajarkan bahwa “Yesus dari Nazareth itu sangat tidak bermoral dan mesum; ia suka menyembah patung dari batu; ia terputus dari keturunan orang-orang Yahudi karena ia memiliki sifat jahat dan menolak untuk bertaubat. Itu bisa kita lihat dalam kitab Talmud (Sanhedrin 107b; Sotah 47a)”.

Akan tetapi selama beberapa abad pula melalui pendanaan yang sangat besar dan massif disertai dengan manipulasi, pihak Zionis berusaha untuk meyakinkan kaum Kristiani bahwa Islam-lah yang jahat itu dan oleh karena itu Islam perlu untuk ditaklukan melalui persatuan umat Kristiani dan Yahudi. 

Banyak sekali kaum Kristiani di Amerika Serikat yang memiliki hubungan yang kuat sekali dengan kaum Zionis dan oleh karena itu mereka pastilah sangat terperanjat ketika seorang Katolik—bahkan seorang Presiden dari suatu Negara (Venezuela)—Hugo Chavez membuat sebuah pernyataan setelah bertemu dengan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad. Pernyataan dari Hugo Chavez itu ialah: “Bagi kami kaum Kristiani, Jerusalem itu adalah sebuah tempat yang sangat suci; dan Nabi Yesus itu akan datang bersama berpegangan tangan bekerja sama dengan Hazrat Mahdi; kemudian kedamaian akan muncul di setiap jengkal penjuru dunia.”

Hugo Chavez dan Mahmoud Ahmadinejad, duo presiden penentang Negara-negara Adidaya

Fakta bahwa Chavez mengisyaratkan bahwa kaum Muslim dan kaum Kristiani akan bersatu untuk memerangi kaum jahat adalah fakta yang sangat tidak diinginkan oleh kaum Zionis untuk diketahui oleh orang lain—orang kebanyakan. Mereka sudah susah payah mengeluarkan dana yang sangat melimpah ruah untuk menebarkan rasa permusuhan terhadap Islam (Islamophobia). Mereka sudah berusaha sekuat tenaga melalui seluruh media masa agar bisa menyisihkan kaum Muslimin dari pergaulan dunia. 

Sebuah wawancara dilakukan oleh Ann Curry  bersama dengan Presiden Iran Ahmadinejad yang diprakarsai oleh NBC. Wawancara ini dilakukan pada tahun 2009 dan tak pernah ditayangkan karena jawaban dari Ahmadinejad terhadap pertanyaan tentang Imam Mahdi yang ghaib itu tidak sesuai dengan pandangan yang ingin dipaksakan oleh kaum Zionis. Kaum Zionis ingin memaksakan pandangan bahwa “Mahdi itu akan membawakan perang akhir dunia”.

Presiden Ahmadinejad mengoreksi pernyataan Ann Curry dengan mengatakan:

“Apa yang hendak dikatakan tentang perang akhir dunia itu—perang global … ini adalah pandangan yang dipaksakan oleh kaum Zionis. Imam Mahdi itu akan datang dengan logika yang benar dan terang; ia datang dengan berbudaya, ia datang dengan ilmu pengetahuan. Ia akan datang untuk membuat kedamaian hingga tidak ada lagi perang di muka bumi ini. Tidak ada lagi permusuhan, kebencian. Tidak ada lagi konflik pertentangan ….. ia akan kembali dengan Yesus Kristus. Keduanya akan kembali bersama-sama. Dan mereka akan bekerja sama; mereka akan memenuhi dunia ini dengan cinta.”


Israel tentu saja tidak ingin pandangan ini menjadi pandangan dunia. Mereka tidak ingin kaum Kristiani terbangun dari tidurnya dan menyadari bahwa musuh mereka sebenarnya itu bukanlah kaum Muslimin melainkan kaum Zionis. 

Fakta bahwa gereja Katolik Roma ingin menutup-nutupi kejadian pembunuhan kaum Kristiani di Jerusalem menguatkan pandangan mengapa para pendiri Israel dan keluarga Rothschild itu berkuasa karena Mayer Amschel Rothschild (1744—1812) sendiri berujar: “Biarkan aku mengurus dan mengendalikan uang negara; sementara itu aku tidak peduli siapapun yang akan membuat hukum.”



Apabila Israel mendasari kebijakannya dengan keyakinan agama bahwa memang sudah hak mereka untuk kembali ke Jerusalem sebagai “manusia-manusia pilihan” setelah 2000 tahun lamanya berkelana (harap camkan bahwa para penduduk Palestina yang tinggal di tanah Palestina adalah aslinya orang-orang Khazar) maka kemudian tidak usah heran apabila para pemimpinnya meyakini bahwa kembalinya mereka ke tanah perjanjian itu semacam ramalan masa depan yang berdasarkan agama. 

Jonas E Alexis dalam tulisannya yang berjudul “Bolshevik Purge of Western Civilization and Rational Discourse (Part II)” menuliskan: “Kalau hal ini masih dianggap tidak masuk akal, maka anda lebih baik mendengarkan perkataan dari mantan kepala Shin Bet (Badan Agensi Kontraspionase), Yuval Diskin: “Masalah utama aku ialah bahwa aku tidak percaya dengan kepemimpinan yang ada sekarang ini, yang akan menggiring kita kepada sebuah perang dengan Iran dengan skala perang rejional ….aku tidak percaya dengan kepemimpinan yang senantiasa membuat keputusan berdasarkan ‘ramalan agama’”

Apakah “Ramalan Agama” ini yang dijadikan alasan bagi orang-orang Israel untuk mencari-cari Imam Mahdi? Dan kalau memang mereka yakin akan kedatangan Imam Mahdi ini, pastinya mereka juga pernah mendengarkan sebuah hadits yang menyatakan bahwa “Pasukan yang membawa bendera hitam akan datang dari Khurasan dan tidak ada kekuatan apapun yang bisa menghentikan mereka dan mereka akhirnya akan sampai di Baitul Muqadas (Mesjid Al-Aqsa) dimana mereka akan menancapkan bendera-bendera mereka.”

Fakta bahwa Iran—seperti dilansir oleh IAEA—tidak sedang membuat senjata nuklir tidak membuat Israel berhenti untuk memaksakan perang kepadanya. Jadi alasan yang mungkin bisa masuk akal ialah bahwa orang-orang yang sangat meyakini adanya Imam Mahdi itu ada di Iran dan Khurasan adalah salah satu tempat yang ada di kawasan Iran, jadi orang-orang Israel itu tetap mengincar Iran karena mereka sangat percaya dengan “ramalan agama” yang menyatakan bahwa Imam Mahdi akan muncul lagi kedunia ini.

Khurasan itu adalah sebuah provinsi yang terletak di sebelah timur laut di kawasan Iran. Tapi sebagian dari Khurasan juga meliputi kawasan Asia Tengah dan Afghanistan.

Dimanapun Amerika Serikat dan Israel melancarkan peperangan, di situ juga mereka membawa dan menggunakan bom-bom yang mengandung posfor putih. Itu sekaligus menyiratkan sebuah fakta yang sulit dibantah bahwa mereka itu berperang bukan untuk mengekspor demokrasi atau untuk menegakkan demokrasi melainkan mereka hendak membuat sebuah generasi anak-anak yang lumpuh dan cacat seumur hidup yang nantinya tidak bisa membangun atau membentuk sebuah gerakan perlawanan ketika mereka dewasa kelak. 


10 tahun setelah setelah invasi Amerika Serikat di Irak, para dokter yang bertugas di sana menyaksikan dengan mata kepala sendiri banyak sekali kasus orang-orang (terutama anak-anak) yang terkena kanker. Sebagian besar anak yang lahir mengalami kelainan atau cacat bawaan yang diduga kuat akibat pemakaian senjata yang mengandung uranium dan posfor putih oleh pihak militer Amerika Serikat. Tingkat kelahiran bayi cacat di kota Fallujah sudah melebihi angka rata-rata bayi cacat yang pernah terjadi di Hiroshima dan Nagasaki.




Dokumen militer Afghanistan yang sempat bocor oleh The Danish Daily menggambarkan lebih dari 1,100 kasus dimana tentara Amerika Serikat sudah menggunakan granat-granat yang mengandung posfor putih (WP grenades); selain itu juga mereka menggunakan posfor putih itu dalam roket-roket dan bom-bom yang mereka jatuhkan di kawasan Afghanistan.

Hadits-hadits yang beredar di kalangan kaum Muslimin menunjukkan bahwa Imam Mahdi itu datang bersama sebuah pasukan yang membawa bendera-bendera hitam. Hadits-hadits itu juga menyatakan bahwa hanya sedikit sekali orang Arab yang akan membantu dan mendukung perjuangan Imam Mahdi (as). Orang-orang Arab malah lebih suka mendukung para tiran. 

Orang-orang Arab yang akan mendukung perjuangan Imam Mahdi sebenarnya sudah bisa kita ketahui dari ciri-ciri mereka. Pasukan militer sipil Hizbullah dari Lebanon misalnya. Mereka walaupun hanya memiliki persenjataan yang terbatas (karena bukan pasukan sebuah negara melainkan pasukan dari sebuah Partai saja—yaitu partai Hizbullah) tapi sanggup mengusir tentara Israel yang bersenjata sangat canggih dan tentaranya sangat terlatih. Para pejuang Hizbullah itu walaupun senjatanya sangat terbatas tapi mereka memiliki semangat yang tak terbatas—semangat yang sama seperti yang pernah dimiliki oleh Imam Ali bin Abi Thalib ketika mendobrak pintu gerbang benteng Khaybar sendirian. Sama juga dengan semangat putera dari Ali yaitu Husein bin Ali ketika harus dibantai di Karbala bersama dengan anggota keluarga Nabi lainnya sejumlah 72 orang kurang lebih. Mereka tidak mau menyerah kepada seorang tiran yang didukung orang-orang Arab (yang terdiri dari para sahabat Nabi dan para tabi’in) yang bernama Yazid bin Mu’awiyah. Husein bin Ali dan seluruh keluarga Nabi—walaupun pasukannya teramat kecil—tidak gentar melawan pasukan Yazid yang bejumlah kurang lebih 10,000 orang.




Sangat menyedihkan sekali melihat hadits-hadits sahih tentang Imam Mahdi yang berusia lebih dari seribu tahun lamanya menyebutkan bahwa banyak sekali orang Arab yang akan mendukung kaum tiran—kaum penindas yang kejam—dan memilih untuk memerangi Imam Mahdi yang akan datang lagi kedunia.

Lalu siapa orang-orang Arab yang lebih suka mendukung kaum tiran dan menolak bergabung dengan Imam? Kita bisa lihat peta perpolitikkan di timur tengah selama beberapa decade ini. Kita lihat Arab Saudi dan para pemimpin negara-negara teluk lainnya sudah bersekutu dengan Israel dan itu terlihat secara telanjang dalam konflik di Syria sekarang ini. 

Israel memaksakan perang kepada Syria dan Iran. Israel bersekutu dengan mesra sekali dengan Saudi Arabia dan Qatar yang menggelontorkan uang dalam jumlah sangat besar serta senjata-senjata canggih kepada kelompok-kelompok gerombolan yang ada di Syria. Mereka membunuhi orang-orang Ahlul Bayt (Syi’ah) dan membuat pembunuhan itu sebagai agenda utama (padahal oran-orang Syi’ah inilah yang dalam hatinya tetap memelihara keyakinan akan datangnya Imam Mahdi).


Seorang jurnalis bernama Seymour M Hersh menulis dalam artikelnya di New Yorker—yang berjudul “The Redirection”—menyoroti pemerintah Bush yang memfokuskan dirinya untuk melucuti kekuatan Iran dan melemahkan kedigdayaan pasukan Hizbullah. Pemerintahan Bush bekerja sama dengan Saudi Arabia yang mendanai kelompok-kelompok ekstremis radikal.

Tatanan dunia baru (The New World Order) telah memaksakan sebuah kekuatan brutal dalam Islam menjadi lunak sekali terhadap Israel. Kekuatan Islam yang brutal itulah yang menanggap tidak masalah untuk memperkosa para wanita dan membunuhi anak-anak kemudian memperlihatkan potongan tubuhnya sebagai piala kemenangan lewat media sosial atau Youtube. Kelompok radikal, ekstrim, dan intoleran ini sesungguhnya dibuat oleh seorang agen Inggris bernama Abdul Wahab (pemimpin dan penggagas Wahabisme). Dialah yang telah menciptakan suatu bentuk Islam yang baru—Islam yang tidak toleran; Islam yang galak; Islam yang dalam dakwahnya lebih sering mengejek daripada mengajak. Dialah yang mendakwahkan Islam radikal yang didukung oleh pemerintah Arab Saudi—negara asal dari Abdul Wahab (Muhammad bin Abdul Wahab). Islam yang memusuhi orang-orang Islam yang menurut mereka berbeda paham. Islam yang lebih mesra terhadap para tiran.

Abdallah Tamimi—salah seorang pemimpin dari pasukan Free Syrian Army—meminta bantuan kepada Israel untuk membuat aturan hukum Sunni yang sengaja dibuat untuk menindas kaum Syi’ah (Ahlul Bayt Nabi), kaum Kristiani, dan kaum Druze. Ia dengan terang-terangan berkata: “Israel itu bukan musuh kita; kami ingin Israel membantu kita.”

Saudi Arabia dan Israel juga mendanai kaum sektarian di negara-negara seperti Pakistan, Afghanistan, dan Irak. Di negara-negara itulah kaum Syi’ah banyak sekali dibunuh—bukan karena mereka melakukan perbuatan criminal tapi hanya karena mereka memiliki keyakinan berbeda saja. Kabel Wikileaks Amerika di Lahore menyoroti bagaimana Saudi Arabia menggelontorkan uang jutaan dolar Amerika kepada para Ahli Hadits dan para Ulama Fatwa di kawasan itu. 

Kematian kaum Syi’ah di Pakistan mengalami peningkatan yang pesat sekali dan bahkan meskipun ada usaha-usaha di akar rumput antara kaum Sunni dan kaum Syi’ah untuk bersatu mengurangi atau mengakhiri usaha-usaha pembunuhan sadis terhadap kaum tertindas (kaum Syi’ah). Akan tetapi masa depan Pakistan tetap saja suram. Masa depan yang penuh darah karena Nawaz Shariff—yang telah didukung dan didudukan di kursi kekuasaan dengan menggunakan bantuan uang Saudi—sekarang memberikan keleluasaan kepada pihak Saudi untuk melakukan apapun yang mereka mau seperti yang pernah mereka lakukan di Afghanistan dimana mereka mendidik para pemuda Afghan di madrasah-madrasah yang didanai oleh Saudi. Mereka dididik supaya menjadi para pemuda yang intoleran (kaum Taliban) dan takfiri (suka mengkafirkan orang yang berlainan paham dengan mereka walaupun masih satu agama dengan mereka). Para pemuda takfiri (Salafi Wahabi) inilah yang kemudian digiring ke Syiria untuk melakukan pembunuhan dan penjagalan yang paling biadab dalam sejarah modern.

Besar kemungkinan orang-orang yang percaya bahwa Imam Mahdi itu akan muncul sekarang ini keyakinannya bertambah besar dan kuat demi melihat para pemimpin dunia sekarang ini bekerja sama dengan para penggagas Tatanan Dunia Baru. Mereka menggiring bangsa atau rakyatnya dan menjadikannya budak-budak yang harus patuh pada perintah mereka. Sementara itu PBB sendiri sudah menjadi alat mereka. PBB yang seharusnya dibentuk untuk melindungi bangsa-bangsa dan hak-hak asasinya, malah sekarang ia menjadi sebuah badan "yang tidak masuk akal, tidak adil, tidak demokratis, dan maniputalif. Amerika Serikat dan sekutunya menjadikan badan PBB itu sebagai alat untuk melecehkan konsep-konsep dan norma-norma yang luhur dan mulia dan kemudian mereka menyebarkannya ke seluruh penjuru dunia," (Imam Khamenei).


Fakta bahwa Israel—dibantu oleh Amerika Serikat—berusaha sekuat tenaga untuk mencari Imam Mahdi yang ghaib itu mau tidak mau mendorong setiap orang untuk percaya dan yakin bahwa memang “ramalan agama” tentang adanya sosok sang mesiah bernama Imam Mahdi itu benar adanya dan ia akan datang di awal abad ini. Orang-orang yang merindukan sosok superhero yang akan menjadikan dunia ini lebih baik pasti akan mendukung gagasan ini. Jadi tidak mengada-ada kalau ada sebagian dari kita yang berharap-harap cemas menunggu kedatangan sebuah pasukan yang membawa panji-panji hitam yang dipimpin oleh seseorang yang sudah diramalkan kedatangannya yang akan membasmi ketidak-adilan di muka bumi ini.

Wallahu ‘alam

Senin, 16 Februari 2015

SIAPAKAH AHLUL BAYT NABI ITU MENURUT PARA ISTERI NABI?


 

 
Menarik sekali untuk kita simak bahwa baik itu Sahih Muslim dan Sahih al-Tirmidzi juga kitab-kitab hadits Ahlul Sunnah lainnya semuanya malah memperkuat pandangan kaum Syi’ah tentang Ahlul Bayt Nabi. Di dalam Sahih Muslim, misalnya, ada sebuah bab khusus yang diberi-judul “Bab Keutamaan Para Sahabat”. Di dalam bab itu, ada sebuah bagian yang disebut dengan “Keutamaan Ahlul Bayt Nabi”. Di sana hanya ada SATU HADITS SAJA, dan hadits itu sama sekali tidak menyebutkan tentang para isteri Rasulullah. Hadits yang dimaksud ialah sebuah hadits terkenal yang disebut dengan HADITS MANTEL atau HADITS AL-KISA, dan hadits itu berbunyi sebagai berikut: 
 
Diriwayatkan oleh ‘Aisyah:
“Pada suatu ada suatu hari Nabi (SAW) pergi keluar dengan mengenakan sebuah mantel (atau jubah) berwarna hitam. Kemudian al-Hasan ibn Ali datang dan Nabi memasukkannya kedalam mantel yang sama; kemudian al-Husein datang dan juga masuk kedalam mantel yang sama; kemudian Fathimah datang, dan Nabi memasukkannya kedalam mantel yang sama; kemudian Ali datang dan Rasulullah juga memasukkannya kedalam mantel yang sama. Kemudian Rasulullah membacakan sebuah ayat:
“Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (kalimat terakhir dari ayat ke-33 surah ke-33).
(LIHAT: Referensi Sunni
• Sahih Muslim, Bab Keutamaan Para Sahabat, bagian Keutamaan Ahlul Bayt Nabi (as), edisi tahun 1980, diterbitkan di Saudi Arabia, Versi Bahasa Arab, volume 4, halaman 1883, Hadits Nomor 61.)
Di bawah ini tulisan khat Arab dari hadits yang kami sebutkan di atas yaitu yang dikutip dari kumpulan hadits Sahih Muslim
 
خرج النبي غداة وعليه مرط مرحل من شعر أسود فجاء الحسن فأدخله معه ، ثم جاء الحسين فأدخله معه ، ثم جاءت فاطمة فأدخلها، ثم جاء علي فأدخله ثم قال: إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

Kita bisa lihat bersama-sama bahwa penulis dari kitab hadits Sahih Muslim ini menyatakan bahwa:
  1. Imam ‘Ali, Fatimah, al-Hasan, dan al-Husein semuanya termasuk kedalam Ahlul-Bayt,
  2. Kalimat pensucian dalam Al-Qur’an itu (ayat terakhir dari QS. Al-Ahzab: 33) diturunkan untuk menggambarkan keutamaan yang dimiliki oleh orang-orang yang disebutkan di atas, dan BUKAN untuk orang-orang yang tidak disebutkan oleh hadits itu. Karena para isteri Nabi tidak disebutkan sama sekali dalam hadits tersebut, maka mereka sama sekali tidak termasuk kedalam Ahlul Bayt Nabi.
Muslim, pengumpul hadits itu dan penulis dari Kitab Sahih Muslim, tidak menuliskan hadits yang lain selain hadits itu di bagian yang ia sebut sebagai “Bagian Keutamaan Ahlul Bayt Nabi”. Apabila si penulis Kitab Sahih Muslim itu percaya dan yakin bahwa para isteri Rasulullah itu termasuk kedalam Ahlul Bayt, maka ia akan menuliskan hadits-hadits tentang itu dalam bagian tersebut—tapi sayang hadits-hadits seperti itu tidak ada sama sekali. 
 
Patut diingat bahwa ‘Aisyah sendiri—sebagai salah satu isteri Rasulullah; sekaligus sebagai penyampai hadits itu—menyebutkan bahwa para anggota Ahlul Bayt itu adalah orang-orang yang disebutkan di dalam hadits tersebut (yaitu Imam Ali, Fathimah, al-Hasan, dan al-Husein alayhimussalam). 
 
Sebuah hadits lainnya yang juga disebut sebagai “Hadits al-Kisa (Mantel)” tertulis di dalam Kitab Sahih Al-Tirmidzi, yang diriwayatkan oleh Umar ibn Abi Salamah—putera dari Ummu Salamah (salah seorang isteri Rasulullah), yang berbunyi sebagai berikut: 
 
Ayat "….Sesungguhnya Allah bermaksud hendak ….” (QS. Al-Ahzab: 33)" diturunkan kepada Rasulullah (SAW) di rumah Ummu Salamah. Pada saat itulah, Rasulullah mengumpulkan Fathimah, al-Hasan, al-Husein, dan menyelimutinya dengan sebuah mantel; dan ia juga menyelimuti Ali yang berada di belakangnya. Kemudian Rasulullah bersabda: “Ya, Allah! Inilah anggota keluargaku (Ahlul Bayt). Jauhkanlah mereka dari setiap kotoran dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya. “Ummu Salamah (isteri Rasulullah) bertanya: ‘Apakah aku juga termasuk bagian dari mereka, Ya Rasulullah?’ Rasulullah menjawab: “engkau tetaplah di tempatmu dan engkau termasuk orang yang cenderung kepada kebaikan.’”
(LIHAT: Referensi Sunni: Sahih al-Tirmidzi, volume 5, halaman 351,663)
Berikut adalah teks Arab-nya dari hadits yang kami sampaikan di atas yaitu hadits yang dituliskan di dalam Sahih al-Tirmidzi
 
نزلت هذه الآية على النبي "إنَّما يريدُ اللهَ...”في بيت أُم سلمه فدعا النبي فاطمه و حسناً و حسيناً فجعلهم بكسائه و علي خلف ظهره ثم قال: ألَّلهم هؤلاء أهل بيتي فاْذهب عنهم الرجس و طهرهم تطهيراً. قالت أمُّ سلمه: و أنا معهم يا نبي الله؟ قال أنتِ على مكانك و أنتِ إلى خير.

Seperti yang kita lihat, al-Tirmidzi juga menyatakan bahwa Imam Ali, Fathimah, al-Hasan, dan al-Husein itu adalah Ahlul Bayt Nabi, dan ayat pensucian yang terdapat di dalam Al-Qur’an (kalimat terakhir dalam ayat QS. Al-Ahzab: 33) itu diturunkan sebagai bentuk maklumat atas keutamaan dari orang-orang yang dimaksud dalam hadits-hadits itu. Jadi sekali lagi, para isteri Nabi TIDAK TERMASUK kedalam anggota Ahlul Bayt Nabi. Bahkan di dalam hadits-hadits sahih tersebut di atas terlihat jelas sekali bahwa Rasulullah-lah yang menyebutkan bahwa para isteri Rasulullah itu tidak termasuk Ahlul Bayt Nabi. Apabila Ummu Salamah (ra) termasuk kedalam Ahlul Bayt Nabi, maka Rasulullah (SAW) sendiri akan memasukkannya. Akan tetapi dalam hadits itu sendiri Rasulullah (SAW) malah bersabda bahwa Ummu Salamah hendaknya tetap di tempatnya dan tidak masuk kedalam selimut atau mantel yang menutupi para Ahlul Bayt Nabi. Rasulullah tidak memasukkan Ummu Salamah kedalam mantel yang sama dengan para anggota Ahlul Bayt lainnya. Ummu Salamah tetap berada di luar mantel itu ketika Rasulullah berdoa untuk para Ahlul Bayt yang ada di dalam mantelnya. 
 
Patut untuk kita sebutkan di sini bahwa Rasulullah TIDAK PERNAH BERSABDA:
“Inilah sebagian dari keluargaku (Ahlul Baytku).” Tapi beliau malah bersabda: “Inilah keluargaku (Ahlul Baytku).” Karena tidak ada lagi anggota Ahlul Bayt lainnya yang hidup di jaman itu. Juga catat bahwa Ummu Salamah (ra) yang merupakan salah satu isteri Rasulullah yang salehah adalah tidak lain dari orang yang meriwayatkan hadits sahih tersebut. Ia menyampaikan hadits itu kepada puteranya dan memberikan kesaksian tentang siapakah yang dimaksud dengan Ahlul Bayt Nabi itu.
Di dalam hadits al-Hakim, terdapat perbincangan antara Nabi dan Ummu Salamah sebagai berikut: 
 
Ummu Salamah berkata: “Ya, Rasulullah! Bukankah saya ini anggota keluargamu juga?” Rasulullah menjawab “Engkau memiliki masa depan yang baik akan tetapi keluargaku HANYA ini saja. Ya, Allah! Anggota keluargaku lebih layak bagimu.”
(LIHAT: Referensi Sunni: al-Mustadrak, oleh al-Hakim, volume 2, halaman 416)
Al-Suyuti dan Ibn al-Atsir melaporkan bahwa hadits itu kata-kata terakhirnya berbunyi sebagai berikut: 
 
“Ummu Salam berkata kepada Nabi: “Apakah aku termasuk salah seorang dari mereka?” Nabi menjawab: “Tidak. Engkau tidak termasuk. Tetapi engkau memiliki kedudukan yang istimewa dan masa depan dirimu baik sekali.”
(LIHAT: Referensi Sunni:
Usdul Ghabah, oleh Ibn al-Atsir, volume 2, halaman 289
Tafsir al-Durr al-Mantsur, oleh al-Suyuti, volume 5, halaman 198)

Dalam al-Tabari juga bisa kita lihat Ummu Salamah berkata seperti berikut ini:
“Aku berkata, “Ya, Rasulullah! Apakah aku ini termasuk salah satu dari Ahlul Bayt Nabi?” Aku bersumpah demi Dia yang maha tinggi bahwa Rasulullah TIDAK memberi aku kesempatan dan ia bersabda: “Tapi engkau memiliki masa depan yang sangat baik.”
(LIHAT: Referensi Sunni: Tafsir al-Tabari, volume 22, halaman 7 di dalam bagian tafsir dari ayat QS. Al-Ahzab: 33)
 



 
Selain Sahih Muslim dan Sahih al-Tirmidzi yang kami kutip haditsnya yaitu “Hadits Al-Kisa (mantel)”—yang masing-masing diriwayatkan oleh ‘Aisyah dan Ummu Salamah—berikut ini ada referensi lainnya dari kumpulan hadits-hadits Ahlu Sunnah yang meriwayatkan kedua hadits itu: 
 
1. Musnad Ahmad Ibn Hanbal, volume 6, halaman 323, 292, 298; volume 1, halaman 330-331; volume 3, halaman 252; volume 4, halaman 107 dari Abu Sa’id al-Khudri
2. Fadha’il al-Sahaba, oleh Ahmad Ibn Hanbal, volume 2, halaman 578, Hadits #978
3. al-Mustadrak, oleh al-Hakim, volume 2, halaman 416 (dua hadits) dari Ibn Abi Salama, volume 3, halaman 146-148 (5 hadits), halaman 158, 172
4. al-Khasa’is, oleh an-Nisa’i, halaman 4,8
5. al-Sunan, oleh al-Bayhaqi, diriwayatkan dari ‘Aisyah dan Ummu Salamah
6. Tafsir al-Kabir, oleh al-Bukhari (penulis kitab Sahih), volume 1, bagian 2, halaman 69
7. Tafsir al-Kabir, oleh Fakhr al-Razi, volume 2, halaman 700 (Istanbul), dari ‘Aisyah
8. Tafsir al-Durr al-Mantsur, oleh al-Suyuti, volume 5, halaman 198, 605 dari Aisha and Umm Salama
9. Tafsir Ibn Jarir al-Tabari, volume 22, halaman 5-8 (dari ‘Aisyah dan Abu Sa’id al-Khudri), halaman 6, 8 (dari Ibn Abi Salama) (10 hadits)
10. Tafsir al-Qurtubi, di dalam bagian tafsir ayat QS. Al-Ahzab: 33 dari Umm Salama
11. Tafsir Ibn Katsir, volume 3, halaman 485 (versi lengkap) dari ‘Aisyah dan Umar Ibn Abi Salama
12. Usdul Ghabah, by Ibn al-Atsir, volume 2, halaman 12; volume 4, halaman 79, diriwayatkan dari Ibn Abi Salama
13. Sawa’iq al-Muhriqah, oleh Ibn Hajar al-Haythami, Bab 11, bagian 1, halaman 221, dari Umm Salama
14. Tarikh, oleh al-Khateeb Baghdadi, volume 10, diriwayatkan dari Ibn Abi Salama
15. Tafsir al-Kashshaf, oleh al-Zamakhshari, volume 1, halaman 193, diriwayatkan dari ‘Aisyah
16. Mushkil al-Athar, oleh al-Tahawi, volume 1, halaman 332-336 (7 buah hadits)
17. Dhakha’ir al-Uqba, oleh Muhibb al-Tabari, halaman 21-26, dari Abu Sa’id Khudri
18. Majma’ al-Zawa’id, oleh al-Haythami, volume 9, halaman 166 (oleh beberapa perawi)
... dan masih banyak lagi ...
 
 
Masih ada lagi satu hadits “Al-Kisa”. Hadits “Al-Kisa” berikut ini berkenaan dengan Safiyya—salah seorang isteri Rasulullah (SAW). Ja’far bin Abi Thalib meriwayatkan: 
 
“Ketika Rasulullah mengetahui bahwa wahyu Allah hendak turun, ia cepat-cepat memberitahu Safiyya (salah seorang isterinya): “Bawakan kepadaku! Bawakan kepadaku!” Safiyya bertanya: “Siapa yang dimaksud, Ya Rasulullah?” Ia menjawab: “Bawakan kepadaku Ahlul Baytku: Ali, Fathimah, al-Hasan, dan al-Husein.” Setelah itu kami menyuruh seseorang untuk memberitahu mereka dan akhirnya mereka datang kepadanya.” 
 
“Kemudian Rasulullah (SAW) membentangkan mantelnya menyelimuti mereka, dan mengangkat kedua tanganya (ke langit) seraya berdo’a: “Ya, Allah! Inilah keluargaku (Aali), berkahilah Muhammad dan keluarga Muhammad. “Dan Allah—pemilik Keagungan dan Kemuliaan—telah mewahyukan: “Sesungguhnya Allah berkehendak untuk mensucikan kalian dari segala ketidak-sucian, hai Ahlul Bayt dan akan mensucikan kalian sesuci-sucinya (QS. Al-Ahzab: 33, kalimat terakhir).” 
 
(LIHAT: Referensi Sunni
al-Mustadrak oleh al-Hakim, Bab “Memahami (keutamaan) Para Sahabat Nabi”, volume 3, halaman 148. Si penulis menuliskanThe author then wrote: "This tradition is authentic (Sahih) based on the criteria of the two Shaikhs (al-Bukhari and Muslim)."
Talkhis of al-Mustadrak, oleh al-Dhahabi, volume 3, halaman 148
Usdul Ghabah, oleh Ibn al-Atsir, volume 3, halaman 33)
Meskipun kebanyakan hadits tentang masalah Ahlul Bayt ini menunjukkan bahwa ayat pensucian itu diturunkan di rumahnya Ummu Salamah (seperti yang sudah didiskusikan di atas), akan tetapi hadits di atas menyiratkan bahwa ayat pensucian itu turun di rumahnya Safiyyah. 
 
Menurut para ulama Sunni terkemuka—termasuk Ibnu Hajar—ayat pensucian itu kemungkinan besar turun beberapa kali. Dalam setiap kesempatan Rasulullah mengulangi lagi perbuatannya—yaitu menyelimuti setiap anggota Ahlul Bayt dengan mantelnya. Dan ini terjadi di depan setiap isterinya dalam kesempatan yang berbeda sehingga kita—dan juga mereka (para isteri Nabi)—tahu benar siapakah yang dimaksud dengan Ahlul Bayt Nabi itu. 
 
 
Testimoni atau kesaksian dari tiga orang isteri Nabi itu (yaitu ‘Aisyah, Ummu Salamah, dan Safiyya) betul-betul tidak lagi menyisakan ruang untuk penafsiran lain tentang siapa yang dimaksud dengan Ahlul Bayt itu. Kita mau tidak mau harus meyakini dan mengimani bahwa anggota keluarga yang dimaksud dengan Ahlul Bayt itu ialah tidak lain melainkan: Nabi Muhammad, Fathimah, Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husein (shalawat senantiasa tercurah untuk mereka semua). 
 
Fakta bahwa jender atau bentuk kata ganti berubah di akhir kalimat dari ayat QS. Al-Ahzab: 33 dari bentuk feminim ke maskulin, itu membuat hampir seluruh ahli tafsir Sunni percaya dan yakin bahwa memang bagian terakhir dari ayat pensucian itu ditujukan untuk Ali, Fathimah, al-Hasan dan al-Husein. Ibnu Hajar al-Haytsami menunjukkan:
“Berdasarkan pendapat mayoritas para ahli tafsir (Sunni), firman Allah yang berbunyi: “Sesungguhnya Allah bermaksud untuk …. (kalimat terakhir dari surah Al-Ahzab, ayat ke-33)” memang diturunkan untuk Ali, Fathimah, al-Hasan, dan al-Husein, karena penggunaan kata ganti maskulin berupa kata “ANKUM” dan kata-kata selanjutnya.”
(LIHAT: Referensi Sunni: al-Sawa’iq al-Muhriqah, oleh Ibn Hajar, Bab 11, bagian 1, halaman 220)
Meskipun para pengikut Ahlul Bayt Nabi (Syi’ah) memiliki rasa hormat yang tinggi sekali kepada para isteri Nabi saleh (dari beberapa isteri Nabi) seperti Khadijah, Ummu Salamah, Ummu Ayman, dan ….. (semoga Allah meridhoi mereka semua) yang tetap setia dan mengikuti Rasulullah dan Ahlul Bayt-nya—baik selama masa hidup Rasulullah maupun sepeninggalnya—para pengikut Ahlul Bayt tetap tidak memasukkan mereka kedalam kelompok anggota keluarga Ahlul Bayt Nabi karena Rasulullah sendiri secara tegas dan jelas memisahkan mereka. Itu bisa kita lihat dari hadits-hadits sahih baik dari kalangan Sunni maupun kalangan Syi’ah.
 
Ahlul Bayt Nabi memiliki keutamaan khusus yang tidak dimiliki oleh orang-orang lainnya walaupun mereka sangat saleh dan bertakwa. Ahlul Bayt Nabi memiliki ismah (kema’shuman) yang membuat mereka bersih dari dosa, terjaga dari ketidak-sucian dan mereka suci sesuci-sucinya.