"KEBENARAN TIDAK DITENTUKAN OLEH SEDIKIT BANYAKNYA ORANG YANG BERKATA BAHWA ITU BENAR"

Rabu, 10 Februari 2016

(FREE E-BOOK) PERANG HUNAYN: Para Sahabat Nabi kabur meninggalkan Nabi yang terluka dan hampir terbunuh


(KLIK SAMPULNYA UNTUK MEN-DOWN LOAD)


لقد نصركم الله في مواطن كثيرة ويوم حنين إذ أعجبتكم كثرتكم فلم تغن عنكم شيئا وضاقت عليكم الأرض بما رحبت ثم وليتم مدبرين


“Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikit pun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai.” (QS. At-Taubah: 25)

Ketika pasukan Islam berlarian balik ke belakang, Rasulullah tetap tegar dan diam di tempat. Ia tidak meninggalkan pos-nya. Hanya ada 8 orang yang tetap tinggal bersamanya; dan mereka menyaksikan pasukan kaum Muslimin kabur tunggang-langgang. Delapan orang yang masih tinggal bersamanya ialah:

1. Ali ibn Abi Talib
2. Abbas ibn Abdul Muttalib
3. Fadhl ibn Abbas
4. Abu Sufyan ibn al-Harith ibn Abdul Muttalib
5. Rabi'a, saudara laki-laki dari Abu Sufyan ibn al-Harith
6. Abdullah ibn Mas’ud
7. Usama ibn Zayd ibn Haritsa
8. Ayman ibn Ubaid


Untuk seorang Muslim memenangkan perang itu adalah baik dan terbunuh juga baik. Keduanya mendapatkan pahala yang besar di sisi Allah. Sedangkan kabur dari Jihad adalah memalukan dan perbuatan dosa. Para sahabat Nabi ternyata lebih memilih untuk kabur daripada bertahan dan melindungi Nabi. Kecintaan mereka terhadap Nabi ternyata hanya isapan jempol belaka. 

Dari 12.000 orang tentara Nabi hanya sekitar 100 saja yang kemudian masih memberikan pelayanan terhadap Nabi dan mau bertempur bersama Nabi. Sahabat-sahabat besar yang sering diagung-agungkan oleh saudara kita dari Ahlusunnah malah ikut kabur bersama para pengecut lainnya ...................


Jumat, 08 Januari 2016

7 HADITS SUNNI MENGATAKAN: "MEMANDANG WAJAH IMAM 'ALI ITU IBADAH"




Hadits Pertama:

Kita bisa temukan hadits ini di dalam kitab Sharah Madahib Ahlu Sunnah oleh Ibn Shaheen, dimana ia mengatakan:

103 – حدثنا محمد بن الحسين بن حميد بن الربيع ، ثنا محمد بن عبيد بن عتبة ، ثنا عبد الله بن سالم القزاز ، ثنا يحيى بن عيسى الرملي ، عن الأعمش ، عن إبراهيم عن علقمة ، عن عبد الله ، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « النظر إلى وجه علي عبادة » تفرد علي بهذه الفضيلة ، لم يشركه فيها أحد

[LIHAT: Sharah Madahib-e-Ahlusunnah, Ibn Shaheen, vol 1, halaman 136, bab Fadilat ‘Ali bin Abi Talib, hadits nomor 103]


Ibn Shaheen meriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud bahwa Rasulullah (SAW) pernah bersabda bahwa memandang wajah ‘Ali itu adalah ibadah. 

(Ibn Shaheen memberikan pandangannya)bahwa hanya ‘Ali saja yang memiliki fadilah (keutamaan) ini dan tidak yang selain dirinya di kalangan para sahabat.
Kami sangat berterimakasih kepada Ibn Shaheen karena beliau sudah menyampaikan sebuah pernyataan yang indah dan memberitahu kami semua tentang aqidah anda dan pandangan anda.

Hadits Kedua:
Di sini kami hadirkan sebuah riwayat dari Maujam Kabir, Tabarani: 

حدثنا محمد بن عثمان بن ابي شيبة ، حدثنا احمد بن بديل اليامي ، حدثنا يحيى بن عيسى ، عن الاعمش ، عن ابراهيم ، عن علقمة عن عبد الله عن النبي (ص) قال : النظر الى وجه علي عبادة . “
Abdullah meriwayatkan dari Rasulullah (SAW) bahwa MEMANDANG WAJAH ALI itu adalah termasuk ibadah.
[LIHAT: Maujam Kabir, Tabarani; vol 10, halaman 93, Bab Tabi'i Abdullah bin Mas'ud; hadits nomor 10006, dicetak oleh  Maktba Ibn Taimiyya, Kairo]

Hadits Ketiga:

Kita bisa temukan seorang ulama ternama dari Ahlu Sunnah yang bernama Abu Na'im Isfahani mengatakan: 

38 – حدثنا محمد بن الحسن بن محمد بن الحسين بن أبي الحسين ، ثنا أحمد بن جعفر بن أصرم ، ثنا علي بن المثنى ، ثنا عاصم بن عمر البجلي ، عن الأعمش ، عن إبراهيم ، عن علقمة ، عن عبد الله ، قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « النظر إلى وجه علي عبادة » رواه عبيد الله بن موسى ومنصور بن أبي الأسود ويحيى بن عيسى الرملي عن الأعمش مثله
Muhammad bin Hasan mendengar dari  Ahmad bin Ja'far yang mendengar dari  Ali bin Mathna yang mendengar dari  Asim bin Umar yang mendengar dari  Aymash dari  Ibrahim dari Alqama dari Abdullah bahwa : "Rasulullah (SAW) pernah bersabda: 'Memandang wajah 'Ali itu ibadah'"
Abuaidullah bin Musa dan Mansur dan Yahya yang meriwayatkan dari Ayamash menyukainya.
[LIHAT: Fadail Khulafa Rashideen, vol 2, halaman 67]

Hadits Keempat: 


Hafiz Haithmi mengatakan:
عن عبد الله يعني ابن مسعود ان النبي صلى الله عليه وسلم قال النظر إلى علي عبادة. رواه الطبراني وفيه أحمد بن بديل اليامي وثقه ابن حبان وقال مستقيم الحديث، وابن أبي حاتم وفيه ضعف، وبقية رجاله رجال الصحيح. وعن طليق بن محمد قال رأيت بن الحصين يحد النظر إلى علي فقيل له فقال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول النظر إلى علي عبادة. رواه الطبراني وفيه عمران بن خالد الخزاعي وهو ضعيف. 
"Dari Abdullah bin Mas'ud mengatakan bahwa Rasulullah (SAW) bersabda: 'Memandang wajah 'Ali itu ibadah' Tabarani meriwayatkan itu dan di dalam hadits itu ada sanad Ahmad bin Badil dan ia adalah seorang tsiqah seperti yang dikataka oleh Ibn Haban; dan haditsnya kuat. dan ada juga Ibn Abi Hatim yang mengatakan ada kelemahan sementara para perawi lain dari hadits itu sahih semua. 
"Dan dari Taliq bin Muhammad yang mengatakan: 'Aku melihat Ibn Hasain yang sedang memandang wajah 'Ali (as); lalu aku bertanya mengenai hal itu. Lalu ia menjawab: 'Aku mendengar Rasulullah (SAW) bersabda bahwa memandang wajah 'Ali (as) itu ibadah.' Tabarani meriwayatkan hal itu dah ia menyebutkan ada sanad Imran bin Khalid yang lemah."


Hadits Kelima:


Ibnu Hajar Haitsami mengatakan di dalam kitab Sawaiq al-Muharriqah sebagai berikut:
الحديث الخامس عشر أخرج الطبراني والحاكم عن ابن مسعود رضي الله عنه أن النبي قال النظر إلى علي عبادة إسناده حسن
Tabarani dan Hakim meriwayatkan dari Ibnu Mas'ud bahwa  Rasulullah telah bersabda bahwa memandang wajah 'Ali adalah ibadah; isnad dari hadits ini hasan
As-Suyuthi menuliskan dalam tarikh-nya sebagai berikut: 
و أخرج الطبراني و الحاكم [ عن ابن مسعود رضي الله عنهما أن النبي صلى الله عليه و سلم قال : النظر إلى علي عبادة ] إسناده حسن
و أخرج الطبراني و الحاكم أيضا من حديث عمران بن حصين

Tabarani dan Hakim meriwayatkan dari Ibnu Mas'ud yang mengatakan bahwa Rasulullah pernah bersabda bahwa memandang wajah 'Ali itu adalah ibadah; isnaad dari hadits itu hasan
Dan Tabarani and Hakim meriwayatkan dari Imran bin Hasin
[LIHAT: Tareekh-ul-Khulafa, vol 1, halaman 150]


Hadits Ketujuh:

Imam Hakim menuliskan dalam kitabnya al-Mustadrak sebagai berikut:

4681 – حدثنا دعلج بن أحمد السجزى ثنات علي بن عبد العزيز بن معاوية ثنا إبراهيم بن إسحاق الجعفي ثنا عبد الله بن عبد ربه العجلي ثنا شعبة عن قتادة عن حميد بن عبد الرحمن عن أبي سعيد الخدري عن عمران بن حصين قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم النظر إلى علي عبادة
هذا حديث صحيح الإسناد و شواهده عن عبد الله بن مسعود صحيحة

Imran bin Hasin berkata: Rasulullah bersabda bahwa memandang wajah 'Ali itu ibadah 
"Hadits ini shahih dalam rantai sanad-nya dan hadits itu didukung oleh (hadits lain yang diriwayatkan) Abdullah bin Mas'ud, yang shahih"

[LIHAT: Mustadarak Imam Hakim, vol 3, halaman 153]



UNTUK LEBIH LENGKAP TENTANG PENJELASAN RANTAI SANAD BISA ANDA RUJUK DI TAUTAN BERIKUT INI: (klik saja)


Senin, 14 Desember 2015

WAHABI DAN MATA-MATA INGGRIS (bagian 2: CIKAL BAKAL TERORISME DALAM ISLAM)

IBN TAYMIYYAH

Pengepungan kota Baghdad oleh pasukan Mongol (1258)
Akhirnya, di atas segala keburukan yang dilakukan oleh Abdul Wahab terhadap kaum Muslimin, ia mengumumkan wajib hukumnya bari para pengikutnya untuk melancarkan “jihad” terhadap kaum Muslimin. Para pengikutnya diperbolehkan untuk memperbudak kaum wanita dan anak-anak dari kaum Muslimin. Abdul Wahab melakukan hal ini karena ia terpengaruh sekali dengan pandangan-pandangan Ibnu Taymiah—yang sampai hari ini, pandangan-pandangannya memberikan pengaruh yang besar sekali dan memberikan semangat dan bimbingan terhadap tumbuhnya terorisme di dalam Islam. (LIHAT: IBNU TAYMIAH: ULAMA TAKFIRI PENEBAR BENCI (berikut daftar para ulama Salafi Ahlu Sunnah yang menentang Ibnu Taymiah)).
Sungguh mengherankan sekali, dari seluruh Ulama sepanjang sejarah yang bisa dipilih sebagai panutan, kaum Wahabi dan kaum Muslimin modern yang merasa menjadi kaum reformis Islam malah memilih Ibnu Taymiah sebagai ulama panutan mereka. Padahal Ibnu Taymiah terkenal sebagai ulama yang ortodoks (kolot) yang ketika semasa hidupnya ia seringkali bertentangan dengan para ulama lainnya yang jauh lebih berilmu dan lebih shaleh serta lebih terkemuka dan lebih terpercaya.
Ibnu Taymiah hidupnya dipenuhi oleh pertentangan dalam melawan hukum. Pada tahun 1293—misalnya—ia menentang hukum dengan membela seorang Kristen yang jelas-jelas telah menghina Nabi. Orang Kristen itu sudah diputuskan bersalah lewat pengadilan agama, akan tetapi Ibnu Taymiah malah membelanya dengan memprotes hukuman yang sudah dijatuhkan kepada orang Kristen itu. Pada tahun 1298, ia dituduh mengkritik para ulama yang memiliki otoritas di jamannya. Kemudian ia juga dituduh memiliki paham anthropomorphism[1] walaupun paham itu jelas-jelas bertentangan dengan Islam. Ibnu Battutah—seorang penulis dan musafir terkenal—melaporkan sebuah kejadian yang menarik. Ketika itu Ibnu Taymiah sedang berkhutbah di sebuah masjid. Ibnu Taymiah berkata, “Allah itu turun dari langit ke dunia ini seperti aku turun sekarang ini”; dan Ibnu Taymiah turun dari mimbarnya satu undakan tangga.[2]
Pendapat-pendapat mengenai sosok Ibnu Taymiah itu banyak sekali dan beragam. Selain banyak yang mengecam ada juga yang memujinya. Bahkan musuh-musuhnya pun seperti Taqiuddin al-Subki, misalnya, mau juga mengakui keunggulan-keunggulan yang dimiliki oleh Ibnu Taymiah. Ia pada suatu ketika berkata:
“Secara pribadi, aku sebenarnya mengagumi sifat kezuhudan dan kesalehan dari Ibnu Taymiah, yang mungkin sudah pemberian Tuhan dari sananya.”[3]
Akan tetapi di sisi lain, Ibnu Taymiah malah dicela oleh salah seorang muridnya sendiri--yang sudah barang tentu jauh lebih mengenalnya dibanding lawan-lawannya--yaitu Al-Dhahabi—seorang sejarawan dan ulama Sunni yang terkenal. Al-Dhahabi berkata:
“Beruntunglah dia yang memiliki kesalahan yang banyak sehingga ia terlalu sibuk dan tidak mempedulikan kesalahan-kesalahan orang lain! Dan celakalah ia yang terlalu sibuk meneliti kesalahan-kesalahan orang lain hingga lupa kesalahannya sendiri! Betapa terlalu lama ia memperhatikan debu yang ada di mata orang lain dan kemudian ia melupakan bahwa ada kerikil di matanya sendiri!”[4]
Karena sifat Ibnu Taymiah yang suka berlebih-lebihan dalam menilai dan mencela orang itulah maka Ibnu Battutah menyatakan bahwa Ibnu Taymiah itu salah satu “mur-nya lepas” (he had a screw loose)—ungkapan sindiran halus kepada Ibnu Taymiah.[5]
Selama penyerbuan bangsa Mongol antara tahun 1299 sampai dengan tahun 1303 dan juga selama penjajahan oleh bangsa Mongol di Damaskus, Ibnu Taymiah memimpin kelompok perlawanan. Ia juga mencela agama yang dianut oleh para penjajah itu walaupun mereka sudah pindah agama menjadi pemeluk Islam. Ibnu Taymiah tetap mencurigai mereka. Selama penjajahan Mongol, Ibnu Taymiah tetap tinggal di Harran—tempat kediaman orang-orang penganut Saba’iyah dan kemungkinan besar ia terpengaruh oleh pola pemikiran mereka.  
Pada tahun 1306, Ibnu Taymiah dipanggil untuk menjelaskan pemahaman dirinya akan Islam di depan dewan gubernur. Walaupun pada waktu itu dewan gubernur tidak sampai mengecam atau mengutuk dirinya akan tetapi Ibnu Taymiah tetap saja diusir ke Kairo. Di sana Ibnu Taymiah juga dipanggil oleh dewan lainnya yang menuduh dirinya memiliki paham Anthropomorfisme. Di sana ia akhirnya terbukti bersalah dan dipenjara selama 18 bulan lamanya.
Walaupun Ibnu Taymiah sangat meyakini paham itu—sepertinya halnya orang-orang Ismailiyyah pada waktu itu—ia tetap hanya menyebarkan pahamnya itu secara rahasia diantara para muridnya yang telah mencapai kelas tingkatan teratas. Abu Hayyan—salah seorang yang benar-benar mengenali Ibnu Taymiah secara pribadi—menghormatinya setinggi langit hingga akhirnya ia berkenalan dengan salah satu hasil karya tulis atau buku Ibnu Taymiah yang mana di dalamnya ia melihat Ibnu Taymiah menggambarkan Tuhan seolah-olah Tuhan itu manusia karena memiliki sifat-sifat dan karakter manusia (Anthropomorfisme)[6]
Buku Ibnu Taymiah tersebut didapatkan oleh seseorang dengan menggunakan tipuan tertentu. Orang itu berpura-pura menjadi salah seorang pengikut setianya supaya ia mendapatkan pelajaran khusus dari Ibnu Taymiah karena Ibnu Taymiah hanya memberikan ilmu-ilmu tertentu pada orang-orang tertentu. Ibnu Taymiah sengaja mengkhususkan ilmu tertentu hanya untuk orang-orang yang dianggap dekat dan setia kepadanya. Ini menunjukkan bahwa Ibnu Taymiah menganut sebuah doktrin tertentu yang ia sampaikan kepada masyarakat; tetapi dalam waktu yang sama, ia juga memiliki doktrin yang lain yang hanya dipahami oleh kalangan tertentu dan doktrin itu ia ajarkan hanya kepada orang-orang yang ingin menjadi pendukung setianya. Doktrin yang ia ajarkan itu lebih mirip dengan ilmu klenik.
Ketika Ibnu Taymiah melarang orang yang hendak bertabarruk atau bertawassul kepada para wali Allah, para pengikutnya menganggap bahwa Ibnu Taymiah sedang melakukan usaha pembersihan atau pensucian ajaran Islam agar tetap bertauhid (monoteisme). Tiang agama Islam itu adalah keesaan Allah (Tauhid atau monoteisme). Ketika Islam turun yang dilakukan pertama kali ialah melarang paganisme bangsa-bangsa Arab. Para pengikut Ibnu Taymiah menganggap diri mereka sebagai orang-orang suci yang mencoba untuk mengembalikan kaum Muslimin agar menyembah Tuhan yang satu—Tuhan yang sama yang disembah oleh para Nabi dalam kitab Perjanjian Lama. Oleh karena itu, “menyembah” selain Allah dianggap sebagai kesesatan yang paling utama. Di sinilah awal dari penyimpangan yang paling ekstrim dari paham Wahabi.

KELUARGA SAUDI, KELUARGA WAHABI SEJATI

Ruins of Dariyah
Segera Menteri Persemakmuran Inggris Raya berupaya untuk mendapatkan bantuan sebesar-besarnya dari Muhammad Ibnu Saud (Amir atau pemimpin Dariyah) untuk Abdul Wahab agar ia bisa mengembangkan dan menyebarkan “agama baru” itu kepada masyarakat. Dicapailah sebuah keputusan sejak saat itu dimana kekuasaan di jazirah Arabia itu akan dipegang oleh keturunan mereka: dimana keluarga Saudi (yang menjadi satu keluarga dengan keluarga Wahabi karena pernikahan) akan memegang kekuasaan politis; dan keluarga Wahabi yang akan mengurusi urusan keagamaan dan tata cara ibadah menurut mereka. 
Keluarga Saudi sendiri adalah keluarga Iluminati[7]Keluarga Saudi itu sebenarnya adalah keturunan Yahudi yang merahasiakan keturunannya sama persis seperti kawan-kawan mereka keturunan Donmeh (LIHAT: PERAN KELUARGA SAUDI DAN WAHABI DALAM PEMBENTUKAN NEGARAISRAEL) yang ada di Turki. Menurut Mohammad Sakher—keluarga Saudi memerintahkan pembunuhan terhadapnya karena tulisan-tulisannya yang berdasarkan penelitian yang ia lakukan terhadap keluarga Saudi—keluarga Saudi itu meskipun mereka mendukung gerakan pembaruan yang dilakukan oleh Abdul Wahab, mereka itu adalah keturunan Yahudi asli yang secara hakikat tidak pernah menyukai Islam dan kaum Muslimin. Pada abad ke-15, Sakher menuliskan, seorang pedagang Yahudi dari kota Basrah yang bernama Mordechai pindah ke jazirah Arab dan ia kemudian bermukim di Dariyah dimana ia mengaku (berpura-pura) sebagai seorang Arab yang berasal dari sebuah suku Arab Aniza. Ia mengaku bernama Markan bin Dariyah (LIHAT: KELUARGA SAUDI ….. SIAPAKAH MEREKA SEBETULNYA?)[8]
Suku Aniza (yang diklaim oleh nenek moyang keluarga Saudi sebagai suku mereka yang asli) sama halnya dengan keluarga Sabah di Kuwait yang dipercayai berasal dari Khaybar, Saudi Arabia. Dan menurut dokumen yang sangt dipercayai, di Khaybar itu tinggal orang-orang keturunan Yahudi[9] yang terpaksa masuk Islam pada waktu itu. Secara khusus menurut legenda modern, suku Aniza itu disebut-sebut sebagai asal-usul orang-orang pemuja setan dan para penyihir di Eropa dan tradisi itu sampai ke Eropa sana melalui Abu el-Atahiyya.[10] Legenda modern ini di populerkan oleh Gerald Gardner—orang yang mengenalkan kelompok pemuja setan yang bernama Wicca.[11] Gardner juga berteman baik dengan Aleister Crowley. Mereka sama-sama menjad aktifis Co-Freemason—sempalan dari French Masonry—yang ia didirikan bersama-sama dengan Annie Besant.
Gardner juga berteman dan sekaligus menjadi guru dari Charlatan Idries Shah—ia pernah menulis buku tentang Sufisme yang sebenarnya bukan tentang Sufisme melainkan tentang Luciferianisme[12].
Pada awal abad ke-18, suku Aniza sudah memasuki gurun pasir Syria dimana mereka membentuk diri mereka menjadi suku yang sangat kuat dan sangat berpengaruh. Seorang pengelana dari Jerman yang bernama Carlsten Niehbuhr menyebutkan bahwa suku Aniza itu (pada tahun 1761) sebagai suku yang paling kuat di gurun pasir Syria. Sekarang ini suku Aniza tetap menjadi suku yang paling besar diantara suku-suku Arab lainnya dan mereka tersebar di negara Yordan, Saudi   Arabia, dan Kuwait.
Keluarga Saudi sejak dulu memang dikenal sebagai keluarga bandit—keluarga para perampok. Ini pada akhirnya menyebabkan mereka harus berhadapan dengan kekuasaan Kekhalifahan Turki Utsmaniyyah.  Karena itulah maka—ujar Schwartz: “Arab Saudi memelihara hubungan baik dan bersekutu dengan Inggris yang kemudian mengambil alih kendali atas daerah-daerah kaya di seluruh jazirah Arabia: mulai dari daerah pesisir Arab Emirat dari Kuwait hingga ke Aden.”[13]
Pada tahun 1746, aliansi Wahabi-Saudi menyatakan seluruh umat Muslim yang tidak sepakat dan tidak sepaham dengan mereka sebagai “orang-orang sesat” dan oleh karena itu wajib hukumnya melancarka “jihad” atau perang suci terhadap mereka “orang-orang sesat”. Mulailah harta benda mereka dijarah dan dirampok tanpa ampun. Setiap nyawa dari kaum Muslimin yang tidak sepakat dengan mereka menjadi tidak aman dari gangguan mereka.
Di dalam Islam, sangat diharamkan untuk menuduh sesama Muslim itu dengan tuduhan bahwa ia kafir atau murtad atau sesat. Itu adalah tuduhan yang sangat serius. Sebuah hadits menyebutkan bahwa apabila seseorang telah menuduh bahwa seorang Muslim itu telah murtad atau kafir atau sesat, maka yang dituduh dan yang menuduh sama-sama sesatnya. Akan tetapi hadits yang berisi peringatan keras seperti itu rupanya sama sekali tidak membuat Abdul Wahab takut atau segan. Abdul Wahab tetap saja secara serabutan menyebutkan bahwa siapapun yang tidak suka atau tidak sepakat atau tidak setuju dengan pemahamannya akan Islam, maka ia akan dianggap sebagai orang kafir, murtad, atau sesat.
Pada tahun 1746, bahkan sebelum ia berkongsi dengan Ibnu Saud, Abdul Wahab pernah mengirimkan sebuah delegasi berjumlah 30 orang untuk bertemu dengan seorang Syarif di kota Mekah. Abdul Wahab ingin mendapatkan restu bagi dirinya dan para pengikutnya untuk melaksanakan ibadah haji di sana. Syarif itu merasakan ada motif tersembunyi yang lain di balik permohonannya itu. Syarif merasa bahwa Abdul Wahab sebenarnya ingin menyebarkan paham Wahabi-nya yang sesat itu di kota Mekah. Oleh karena itu, ia mengatur sebuah perdebatan antara mereka dengan para ulama di kota Mekah dan Madinah pada waktu itu. Para delegasi Abdul Wahab itu gagal total untuk mempertahankan keyakinan mereka yang sesat itu dan Qadi—atau hakim ketua—di kota Mekah menyebutkan bahwa mereka itu memang telah sesat karena mereka telah menuduh orang-orang lain—walaupun sesama Muslim—sebagai orang-orang sesat.[14]


Jazirah Arab

Mulai sejak tahun itulah gerakan Wahabi itu dikenal orang sebagai gerakan yang sangat membahayakan dan jahat terhadap kaum Muslimin. Selain itu di wilayah yang sama ada pelanggaran batas yang masif oleh “orang-orang kafir” Inggris. Didorong oleh keberhasilan mereka di India, pada tahun 1755 Inggris juga membuat usaha awal untuk mendongkel Kuwait dari kekuasaan Kekhalifahan Turki Utsmaniyyah, akan tetapi usahanya tidak berhasil. 10 tahun kemudian, Muhammad Ibnu Saud meninggal dan puteranya yang bernama Abdul Aziz mulai berkuasa di Dariyyah. Selama kurun waktu 2 dekade, kaum Wahabi memperluas daerah pengaruhnya seiring dengan infiltrasi yang dilakukan oleh Inggris. Inggris mulai lagi untuk mendongkel Kuwait pada tahun 1755—pada tahun yang sama. Masuknya Inggris ke Kuwait terutama untuk melindungi pelayanan surat menyurat yang melewati kawasan itu. Inggris untuk kedua kalinya juga tidak berhasil mencaplok Kuwait. Mereka dikalahkan oleh tentara Kekhalifahan Turki Utsmaniyyah.
Di tahun berikutnya, Abdul Wahab memproklamasikan dirinya sebagai penguasa dan pemimpin bagi kaum Muslimin di seluruh dunia. Ia sengaja melakukan itu untuk menantang kekuasaan Sultan di Istanbul—Turki. Abdul Wahab juga mengumumkan “Perang Jihad” menentang kekuasaan Kekhalifahan Turki Utsmaniyyah. Dan pada tahun 1788, Abdul Aziz Ibnu Saud dengan didukung oleh kekuatan militer Inggris,  berhasil mendongkel dan menguasai Kuwait.
Pada tahun 1792, Abdul Wahab mati dan Abdul Aziz mengambil alih kendali kepemimpinan gerakan Wahabi. Di bawah kendalinya, kaum Wahabi mulai melancarkan serangan-serangan selama tiga tahun berikutnya ke kota Madinah; dan kemudian ke daerah-daerah Syria dan Irak. Pada tahun 1801, kaum Wahabi menyerang kota suci kaum Syi’ah, Karbala, di Irak. Mereka membantai ribuan penduduknya. Mereka merusak dan menjarah makam Imam Husein—cucu dari Rasulullah Muhammad SAW. Sebagai akibatnya, Abdul Aziz ada yang membunuh pada tahun 1803—ada kemungkinan dilakukan oleh seorang Syi’ah yang merasa dendam terhadapnya. Putera dari Abdul Aziz ialah Saud Ibnu Abdul Aziz dan ia kemudian menjadi penggantinya. Setelah menyerang dan meluluh-lantakkan kota Karbala, kaum Wahabi kemudian mulai menyerang kota Mekah. Gubernur Mekah yang menjadi perwakilan dari Kekhalifahan Turki Utsmaniyyah gagal untuk mengadakan perundingan damai dengan mereka. Ia melarikan diri ke sebuah benteng yang terletak di kota Taif. Ia dikejar-kejar oleh sekitar 10,000 orang Wahabi untuk dibunuh.
Akhirnya kaum Wahabi berhasil menaklukan kota Taif. Mereka kemudian mulai merusak segala sesuatu yang ada di sana. Mereka menghancurkan makam-makam dan kompleks pekuburan. Mereka juga merusak masjid-mesjid dan sekolah-sekolah Madrasah. Bahkan mereka lebih gila lagi: mereka mencabuti jilid-jilid dan pembungkus Al-Qur’an yang terbuat dari bahan kulit bermutu tinggi dan menjadikan sandal-sandal yang kemudian mereka pakai. Al-Zahawi—seorang sejarawan Islam yang hidup pada waktu itu—menuliskan sebagai berikut:
“Mereka membunuh setiap orang yang tampak di hadapan mata mereka. Mereka membantai anak-anak dan orang dewasa; baik seorang pemimpin maupun seorang rakyat jelata; baik yang baru lahir maupun yang sudah tumbuh remaja. Mereka mulai membunuh para bayi yang sedang menyusu pada ibunya dan mereka juga membunuhi orang-orang yang sedang belajar Al-Qur’an. Mereka menyembelih orang-orang yang tak berdosa dan tak bersenjata hingga tak ada yang tersisa. Dan setelah mereka menyingkirkan semua orang-orang yang sedang berada di rumahnya masing-masing, mereka kemudian mulai keluar dan turun ke jalan-jalan. Mereka memasuki toko-toko dan pasar dan juga masjid-mesjid dan membunuhi siapapun yang ada di sana. Mereka bahkan tega sekali membunuh seseorang yang sedang melakukan ruku’ dalam shalatnya. Mereka akhirnya berhasil membunuhi semua Muslim yang tinggal di kota Taif. Hanya beberapa gelintir saja dari mereka yang masih sempat hidup. Kurang lebih hanya ada 20 orang yang selamat.”
“Mereka yang masih selamat tersudutkan di Bait al-Fitni dengan persenjataan atau amunisi mereka dan mereka aman dari ancaman kaum Wahabi. Ada satu kelompok orang lagi di Bait al-Far berjumlah 270 orang yang melawan pada hari itu; selain itu ada kelompok kedua dan ketiga. Kaum Wahabi mengirimkan seorang utusan untuk memberikan garansi kepada mereka bahwa mereka akan mendapatkan pengampunan. Akan tetapi ini sebenarnya hanya akal-akalan kaum Wahabi saja karena ketika kaum Wahabi itu memasuki daerah perlindungan mereka, kaum Wahabi itu mulai merampas senjata mereka dan membantai mereka satu per satu hingga tersisa satu orang saja. Kaum Wahabi juga membujuk yang lainnya agar bertekuk lutut dengan jaminan keamanan dan pengampunan. Yang menyerahkan diri kemudian dibawa ke lembah Waj dan kaum Wahabi itu kemudian meninggalkan mereka di sana kedinginan dalam salju dan bertelanjang kaki, telanjang bulat dan tidak bisa menyembunyikan diri mereka dari kaum wanita. Mereka biasanya sangat tertutup dan sopan sekali karena menjunjung aturan agama akan tetapi hari itu mereka harus menanggalkan itu semua. Kaum Wahabi itu kemudian merampas semua harta benda mereka—apapun bentuknya, juga merampas peralatan rumah tangga, perhiasan dan uang tunai”
“Mereka membuang buku-buku ke jalanan, ke gang-gang agar rusak dan sobek serta lembarannya berhamburan ke sana kemari oleh angin. Sebagian dari buku-buku yang dilemparkan ke jalanan itu ialah mushaf Al-Qur’an; kitab-kitab Bukhari dan Muslim atau kitab-kitab hadits shahih lainnya; juga kitab-kitab fikih yang jumlahnya ribuan kopi. Buku-buku atau kitab-kitab yang berharga itu tercampakkan di jalanan selama beberapa hari. Sebagian besar dikotori oleh kaum Wahabi itu dengan menginjak-injaknya. Tidak ada satupun dari mereka kaum Wahabi itu yang berusaha untuk memisahkan kitab Al-Qur’an dari kaki-kaki mereka. Mereka menganggap itu sama saja. Mereka menginjak-nginjaknya juga, tanpa ampun sama sekali. Setelah itu mereka menyasar rumah-rumah dan mengotori rumah-rumah itu dengan sampah dan kotoran. Sebelumnya tempat itu merupakan kota yang bersih; sekarang menjadi kota yang kumuh, kotor, penuh darah dan sampah.”


Mohammed Ali Pasha
Kemudian kaum Wahabi itu memasuki kota suci Mekah. Ghalib—penjaga dari kota itu—berusaha untuk mengusir mereka, akan tetapi kaum Wahabi itu berbalik menyerang kota lainnya yaitu kota Madinah. Saud Ibn Abdul Aziz berteriak kepada orang-orang di sana:
“Tidak ada kata lain bagi kalian selain menyerahkan diri. Aku akan buat kalian menangis keras dan kemudian lenyap seperti yang aku pernah lakukan kepada para penduduk kota Taif.”
Di kota Madinah, mereka menjarah harta Rasulullah termasuk kitab-kitab berharga; karya-karya seni; dan peninggalan-peninggalan bersejarah lainnya yang sangat berharga dan sudah dikumpulkan dan dilindungi selama seribu tahun lebih. Akhirnya setelah mereka berhasil menguasai dua kota suci ini, mereka memperkenalkan Islam versi baru (yang belum pernah dikenal dalam sejarah sebelumnya). Islam yang melarang orang-orang yang hendak melakukan haji; Islam yang menyuruh orang-orang untuk menutupi Ka’bah dengan kain hitam yang kasar; Islam yang memerintahkan untuk penghancuran kota-kota suci dan makam-makam suci bersejarah.
Kejahatan Wahabi terhadap kekhalifahan Turki Utsmaniyyah berlanjut. Mereka tetap menjadi pelayan pemerintah Inggris yang sejati. Selama masa ini, pemerintah Inggris memerankan diri sebagai rekanan di wilayah Arab Tenggara, di negara Oman, Zanzibar (Afrika), dan beberapa wilayah di Iran serta beberapa pesisir pantai di negara-negara tetangga. Inggris juga memperluas pengaruhnya ke sebelah utara ke wilayah Uni Emirat Arab. Pemerintah Inggris juga merampas kendali dari Aden yang terletak di pantai selatan Yaman. Meskipun Inggris itu benar-benar penjajah dan meskipun Inggris itu menjarah negara-negara atau wilayah-wilayah yang notabene merupakan wilayah kaum Muslimin, kaum Wahabi sama sekali tidak peduli. Mereka asyik sendiri. Mereka asyik dengan “Jihad”-nya sendiri. Jihad untuk memerangi kaum Muslimin yang menurut mereka sesat dan kafir walaupun pada kenyataannya hanya berbeda pendapat dengan kaum Wahabi atas pemahaman Islam.
Kaum Wahabi tetap melakukan tindak kekerasan yang teramat sadis di seluruh jazirah Arabia hingga tahun 1811—sampai saat Muhammad Ali Pasha—seorang raja muda dari Mesir—dimohon oleh Kekhaliafahan Turki Utsmani untuk menegur kaum Wahabi. Ia menunjuk puteranya Komandan Tosun Pasha akan tetapi tentaranya dikalahkan dan dihancurkan. Ali Pasha kemudian mengambil alih komando, dan di tahun 1812 ia berhasil menyapu seluruh jazirah Arabia menghapuskan masalah-masalah yang ditimbulkan oleh kaum Wahabi. Dua orang Wahabi fanatis yang paling kejam yang bernama Utsman al-Mudayiqi dan Mubarak Ibn Maghyan dikirimkan ke Istanbul. Mereka berdua diarak di sepanjang jalan hingga kemudian mereka akhirnya dihukum mati.
Ali Pasha juga mengirimkan tentara dibawah komando putera keduanya, Ibrahim Pasha untuk mengusir kaum Wahabi dari Syria, Irak, dan Kuwait. Bangsa Arab yang sudah menderita di bawah kaki orang-orang Wahabi sekarang berontak dan bergabung dengan pasukan Ali Pasha. Pada tahun 1818, wilayah Dariyyah yang dikuasai oleh Kaum Wahabi berhasil direbut dan kemudian diluluh-lantakkan. Meskipun begitu, keluarga Saudi mendapatkan perlindungan dari pemerintah Inggris di kota Jeddah. Saud Ibn Abdul Aziz sendiri kemudian meninggal pada tahun 1814 karena demam akan tetapi putera mahkotanya Abdullah Ibn Saud dibawa ke Istanbul dan kemudian ia dihukum mati di sana bersama para begundal Wahabi lainnya. Sisa-sisa dari kaum Wahabi berhasil diusir dari kota Kairo.
Meskipun mereka mendapatkan kekalahan awal yang buruk, kaum Wahabi berhasil berkumpul lagi di Najd. Mereka membangun sebuah ibu kota yang baru di daerah Najd yang mereka berinama Riyad. Dalam beberapa dekade berikutnya, kaum Wahabi mulai untuk melakukan ekspansi wilayah lagi. Hamid Algar berujar, “Secara kebetulan hal itu menjadikan Keluarga Saud berhubungan erat dengan pemerintah Inggris yang bukan saja sedang mengkonsolidasi kekuatan di kawasan Teluk Persia melainkan juga sedang mencoba untuk mempreteli kekuasaan dan kekuatan Kekhalifahan Turki Utsmaniyyah.”



[1] Yaitu sebuah paham yang menyamakan Tuhan dengan manusia; atau mensifati Tuhan dengan sifat-sifat manusia yang jelas bertentangan dengan kemuliaan dan keagungan Tuhan menurut ajaran Islam.
[2] Rihla, mengutip dari tulisan Little, “Did Ibn Taymiyya Have a Screw Loose”, Studia Islamica xli (1975). Halaman 95.
[3] Dikutip dari tulisan Little, "Did Ibn Taymiyya Have a Screw Loose", halaman 100
[4] LIHAT: al Nasiha al Dhahabiyya li Ibn Taymiyya, dikutip dari tulisan Little, "Did Ibn Taymiyya Have a Screw Loose", halaman 100
[5] Rihla, dikutip dari Little, "Did Ibn Taymiyya Have a Screw Loose", halaman 95.
[6] Nuh Ha Mim Keller, The Re-Formers of Islam. “Question 3 Re-Forming Classical Texts”.
[7] Illuminati (bentuk plural dari bahasa Latin illuminatus, "tercerahkan") adalah nama yang diberikan kepada beberapa kelompok, baik yang nyata (historis) maupun fiktif. Secara historis, nama ini merujuk pada Illuminati Bavaria, sebuah kelompok rahasia pada Zaman Pencerahan yang didirikan pada tanggal 1 Mei tahun 1776.

Sejak diterbitkannya karya fiksi ilmiah postmodern berjudul The Illuminatus! Trilogy (1975-7) karya Robert Shea dan Robert Anton Wilson, nama Illuminati menjadi banyak digunakan untuk menunjukkan organisasi persekongkolan yang dipercaya mendalangi dan mengendalikan berbagai peristiwa di dunia melalui pemerintah dan korporasi untuk mendirikan Tatanan Dunia Baru. Dalam konteks ini, Illuminati biasanya digambarkan sebagai versi modern atau keberlanjutan dari Illuminati Bavaria.

Illuminati (bentuk plural dari bahasa Latin illuminatus, "tercerahkan") adalah nama yang diberikan kepada beberapa kelompok, baik yang nyata (historis) maupun fiktif. Secara historis, nama ini merujuk pada Illuminati Bavaria, sebuah kelompok rahasia pada Zaman Pencerahan yang didirikan pada tanggal 1 Mei tahun 1776.

Sejak diterbitkannya karya fiksi ilmiah postmodern berjudul The Illuminatus! Trilogy (1975-7) karya Robert Shea dan Robert Anton Wilson, nama Illuminati menjadi banyak digunakan untuk menunjukkan organisasi persekongkolan yang dipercaya mendalangi dan mengendalikan berbagai peristiwa di dunia melalui pemerintah dan korporasi untuk mendirikan Tatanan Dunia Baru. Dalam konteks ini, Illuminati biasanya digambarkan sebagai versi modern atau keberlanjutan dari Illuminati Bavaria.

[8] The Saudi Dynasty: From Where is it? And Who is the Real Ancestor of this Family?

[9] Mungkin mereka sisa-sisa keturunan Yahudi setelah perang Khaybar antara kaum Muslimin dan kaum Yahudi yang dimenangkan oleh Ali sendirian.

[10] Abū l-ʻAtāhiyya (أبو العتاهية, nama lengkapnya ialah Abu Isħaq Ismā'īl ibn Qāsim al-ʻAnazī إسماعيل بن القاسم (العنزي، بن سويد العيني)[1] Abu l-'Atahiyya (748-828) adalah penyair dari Arab yang lahir di 'Aynu t-Tamar, di gurun pasir Irak dekat al-Anbar. Kakek moyangnya berasal dari suku Aniza. Masa mudanya dihabiskan di kota Kufah dimana di sana ia berjualan peralatan dari tembikar. Setelah pindah ke Baghdad, ia melanjutkan bisnisnya di sana, akan tetapi ia menjadi orang yang terkenal karena ia suka menulis syair-syair yang terutama ia tujukan kepada ‘Utbah salah seorang selir dari Khalifah Abbasiyah, al-Mahdi. Cintanya tak pernah terbalas.

Ia pernah ditahan walaupun tidak lama karena ia dianggap telah menyerang kepribadian khalifah. Ia meninggal pada tahun 828M pada masa rezim pemerintahan Khalifah al-Ma’mun.

Semasa hidupnya, ia juga dikenal sebagai orang yang cenderung kepada hal-hal yang bid’ah atau sesat pada jamannya.

[11] Wicca adalah kelompok pemuja setan yang mempraktekan sihir. Sekarang menjadi agama Pagan gaya baru. Mula-mula dibuat atau dilembagakan di Inggris pada permulaan abad ke-20 kemudian diperkenalkan kepada masyarakat pada tahun  It was developed in England during the first half of the 20th century and was introduced to the public in 1954 by Gerald Gardner, a retired British civil servant. Wicca draws upon a diverse set of ancient pagan and 20th century hermetic motifs for its theological structure and ritual practice.
[12] Lucifer (alias Azazil) adalah nama yang seringkali diberikan kepada Iblis dalam keyakinan Kristen karena penafsiran tertentu atas sebuah ayat dalam Kitab Yesaya. Secara lebih khusus, diyakini bahwa inilah nama Iblis sebelum ia diusir dari surga.

[13] Two Faces of Islam, halaman 82.
[14] Algar, Hamid. Wahhabism: A Critical Essay, halaman 23.

Sabtu, 07 November 2015

WAHABI DAN MATA-MATA INGGRIS (bagian 1: simbiosis mutualisma antara dua anasir jahat untuk meruntuhkan Khilafah Utsmaniyyah)

MuHAMMaD ABDUL WAHAB

Khilafah Utsmaniyyah
Pasukan Turki sudah menaklukan Konstantinopel—sekarang disebut Istanbul—pada tahun 1453. Kemudian mereka mendirikan kekhalifahan Utsmaniyyah (Ottoman Empire) dan mulai melakukan ekspansi wilayah ke seluruh penjuru Eropa. Akan tetapi pada tahun 1683, ekspansi wilayah mereka di Eropa terpaksa terhenti setelah mereka dikalahkan di Wina—Austria. Perluasan wilayah kekhalifahan Utsmaniyyah telah mencapai puncaknya dan tidak lagi memperluas wilayahnya. Walaupun begitu, kekhalifahan Utsmaniyyah tetap memiliki pengaruh yang cukup kuat di sejumlah besar wilayah. Malahan pengaruh itu masih cukup kuat di beberapa wilayah yang sangat diinginkan oleh Inggris untuk dikuasainya. Oleh karena itu, pemerintah Inggris mencoba sekuat tenaga untuk mendapatkan wilayah-wilayah itu dengan politik adu domba-nya yang disebut “divide and rule” (Pecah belah-lah, kemudian jajah-lah). Pemerintah Inggris melancarkan kegiatan mata-mata dan gerakan bawah tanah. Mereka mencoba untuk melakukan penetrasi kedalam jantung kekuasaan kekhalifahan Utsmaniyyah. Mereka mencoba untuk merusak dari dalam. Mereka hendak mengadu domba dengan saudara-saudara se-Islam; mengadu Turki Utsmaniyyah dengan negara-negara Arab di jazirah Arabia.
Tentu saja diharamkan dalam Islam bagi seorang Muslim untuk menumpahkan darah atau memerangi seorang Muslim lainnya tanpa alasan yang dibenarkan oleh syara’. Oleh karena itu, supaya bangsa Arab memusuhi bangsa Turki yang seiman seagama, maka diperlukan penafsiran yang lain terhadap Islam[1]. Diperlukan sejenis penafsiran baru yang bisa membuat para penafsirnya merasa lebih benar daripada kelompok yang lain; memandang kelompok yang lain sebagai kelompok yang salah dan sesat dan boleh diperangi karena dianggap duri dalam daging; dan pada akhirnya boleh membunuh mereka yang dianggap berbeda penafsiran dengan diri mereka sendiri. Dan mereka melakukan itu semua dengan atas nama Jihad[2]. Akhirnya pemerintah Inggris—lewat agen rahasianya—berhasil mendapatkan orang keji yang bisa mereka jadikan boneka. Orang itu bernama Muhammad Abdul Wahab yang menelurkan pemahaman agama yang baru yang sangat intoleran dan sektarian. Nama paham yang ia ajarkan ialah WAHABISME.
Muhammad bin Abdul Wahab lahir pada tahun 1703 di sebuah desa kecil yang terletak di daerah tandus; sebuah daerah yang terkucilkan dari peradaban yang bernama Najd. Najd itu terletak di daerah timur yang sekarang disebut dengan Saudi Arabia. Pada jaman dulu—ketika Nabi Muhammad masih hidup—Nabi Muhammad telah menolak untuk memberikan do’a pemberkatan kepada daerah tersebut (padahal daerah lainnya telah diberikan do’a oleh Rasulullah berkali-kali). Rasulullah malah menyebutkan bahwa dari daerah NAJD itulah nanti akan keluar “gangguan; ketidak-amanan; dan tanduk-tanduk setan”. Ayah dari Abdul Wahab itu adalah seorang hakim ketua yang mengikuti pemikiran madzhab Hambali yang pada waktu itu menjadi madzhab yang banyak diikuti oleh orang-orang di daerah itu.  Sementara itu, ayah dari Abdul Wahab (beserta saudaranya yang bernama Sulayman) sudah mendeteksi akan adanya penyimpangan sejak dini dalam diri Abdul Wahab. Sulayman berbicara dengan saudaranya (ayah dari Abdul Wahab) tentang kepoakannya itu dan ia mengadu panjang lebar tentang prilaku Abdul Wahab yang menyimpang itu.



Mekah
Setelah Abdul Wahab menyelesaikan pendidikan dasarnya di kota Madinah ia kemudian keluar kota Madinah untuk melanjutkan pendidikannya. Ia menjelajah jazirah Arabia untuk mendalami pendidikannya. Ia memulai pendidikan lanjutannya di kota Basrah. Setelah itu ia menuju kota Baghdad dimana ia kemudian menikahi seorang wanita kaya dan tinggal bersamanya di kota itu selama 5 tahun lamanya. Stephen Schwartz dalam bukunya yang terkenal yang berjudul Two Faces of Islam, mengatakan: “Banyak orang yang mengatakan bahwa selama masa petualangan inilah Abdul Wahab melakukan hubungan yang erat dengan beberapa orang Inggris yang mendorongnya untuk memenuhi ambisi pribadinya sekaligus untuk melancarkan sikap kritis terhadap Islam.”[3] Dalam buku Mir’at al Harramin, sebuah buku yang ditulis dalam bahasa Turki oleh Ayyub Sabri Pasha (ditulis antara tahun 1933 s.d 1938), disebutkan bahwa di kota Basrah, Abdul Wahab telah menjalin hubungan dengan seorang mata-mata Inggris yang mengaku bernama Hempher. Hempher mengilhami Abdul Wahab dalam melakukan trik-trik dan membuat kebohongan-kebohongan yang ia pelajari dari Menteri Inggris untuk negara-negara persemakmuran.”[4]


Rincian dari hubungan istimewa antara Abdul Wahab dan mata-mata Inggris Hampher ini tertulis secara lengkap dalam sebuah dokumen yang diberi-judul The Memoirs of Mr. Hempher: A British Spy to the Middle East. Dokumen ini pernah dimuat secara berkala dalam sebuah surat kabar di Jerman yang bernama Spiegel; kemudian setelah itu dimuat juga dalam sebuah harian ternama di Prancis. Seorang doktor dari Lebanon pernah menerjemahkan dokumen ini kedalam bahasa Arab dan dari situ banyak yang menerjemahkan kedalam bahasa Inggris maupun kedalam bahasa-bahasa lainnya. Memoar yang dibuat oleh Hempher itu memuat otobiografi dari Hempher itu sendiri yang mengaku bahwa dirinya pernah menjadi seorang mata-mata  untuk pemerintah Inggris dengan tugas untuk mencari cara untuk masuk kedalam kekuasaan Kekhalifahan Turki Utsmaniyyah. Karena—seperti yang ditulis oleh Hempher—ada dua hal yang menjadi perhatian pemerintah Inggris atas daerah-daerah jajahannya di India, Cina, dan Timur Tengah. Dua hal itu adalah:
  1. Untuk mempertahankan daerah-daerah yang sudah dikuasai/dijajah
  2. Untuk merebut daerah-daerah yang belum pernah bisa dikuasai sebelumnya. Karena kami (orang-orang Inggris) sudah cukup lama bersabar dan menanti-nanti hal ini terlaksana.
Hempher mengaku bahwa ia adalah salah seorang dari 9 orang mata-mata yang ditugaskan di Timur Tengah untuk tujuan yang sama seperti yang dijelaskan di atas. Ia berkata, “Kami merancang rencana-rencana untuk menyemaikan bibit perselisihan, meningkatkan kebodohan, kemiskinan, dan bahkan menyemaikan benih-benih peyakit di negara-negara itu. Kami mencoba untuk meniru kebiasaan-kebiasaan dan adat istiadat yang ada di negara-negara itu tapi sekaligus menyembunyikan agenda kami itu.”


Mu’adzin sedang melantunkan adzan di menara
photo by Jean-Leon Gerome

Dalih yang diajukan oleh Hempher atas setiap perbuatannya ialah:
"Kami—orang-orang Inggris—harus melakukan perbuatan-perbuatan jahat dan menyemaikan bibit perpecahan di daerah-daerah jajahan kami agar kami bisa hidup dalam kesejahteraan dan kemewahan. Hanya dengan cara-cara seperti itulah maka kami bisa menghancurkan kekuasaan kekhalifahan Utsmaniyyah (Ottoman). Kalau tidak, maka mana mungkin sebuah bangsa yang berpopulasi kecil bisa membawa bangsa lainnya yang berpopulasi jauh lebih besar dan mempermainkannya sesuka hatinya?" 
"Dengan cara-cara seperti itu sebuah negara kecil bisa menjatuhkan bangsa-bangsa besar seperti Turki Utsmaniyyah dan Kekaisaran Persia ke bawah titik nadir."
"Oleh karena itu, tugas pertama kami ialah mendorong orang-orang untuk menentang pemerintahan yang berkuasa! Sejarah telah menunjukkan bahwa “sumber dari segala sumber bibit revolusi ialah adanya penentangan dari rakyat jelata.” Apabila kesatuan kaum Muslimin itu rusak dan pecah berantakan sementara perasaan sehati dan perasaan simpati diantara mereka dilumpuhkan, maka kekuatan mereka lambat laun akan melemah dan akhirnya dengan mudah bisa dihancurkan dan ditaklukan."
Pada tahun 1710, menteri yang mengurusi daerah-daerah jajahan Inggris menugaskan Hempher ke Mesir, Irak, Arabia, dan Istanbul dimana ia belajar bahasa Arab, Turki, dan juga belajar hukum-hukum Islam. Setelah dua tahun berselang, ia kembali ke London untuk sebuah briefing sebelum kemudian ia ditugaskan kembali dikirim ke Basrah—sebuah kota yang dihuni oleh kaum Sunni dan Syi’ah dimana Hempher bertemu dengan Abdul Wahab di sana.
Demi melihat perangai buruk Abdul Wahab yang sering menghina Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi, maka Hempher melihatnya sebagai orang yang sangat cocok untuk dijadikan panutan oleh pemerintah Inggris. Hempher melihat ada sosok yang sangat kuat dalam diri Abdul Wahab yang bisa digunakan oleh pemerintah Inggris. Untuk memastikan bahwa dia orang yang cocok untuk tugas sebagai pemecah belah persatuan umat Islam oleh pemerintah Inggris, Abdul Wahab ditawari seorang wanita untuk dinikahi secara kontrak. Wanita yang ditawarkan kepadanya adalah salah seorang dari wanita-wanita Kristen yang diutus oleh pemerintah Inggris untuk merayu dan menggoda para pemuda Muslimin. Seperti yang pernah dikatakan oleh Hempher pada suatu ketika, “Kita sudah pernah merebut Spanyol kembali dari tangan kaum sesat (maksudnya kaum Muslimin) dengan cara menyebarkan alkohol dan kebiasaan mesum. Oleh karena itu, marilah kita rebut kembali tanah-tanah kita dengan menggunakan dua senjata ini.”[5]
Hempher kemudian ditarik kembali dari tugas untuk selanjutnya ditugaskan di beberapa wilayah di Iran, kemudian ia juga pernah ditugaskan di Baghdad. Ia menginginkan murid-muridnya untuk diajar oleh seseorang yang jauh lebih memiliki pengetahuan dibanding dirinya. Dan untuk itu Hempher menasehati Abdul Wahab agar ia pergi ke Iran waktu itu—dimana Iran dikenal orang sebagai daerah yang banyak dihuni oleh para pemeluk Islam yang bermadzhab Syi’ah—yang menurut Hampher, Iran itu masih dipenuhi dengan kebodohan, dan oleh karena itu tidak akan menjadi hambatan besar bagi ajaran Wahabi untuk diajarkan di sana.
Abdul Wahab kemudian benar-benar pergi ke Iran yang secara tradisi jelas berbeda dan berseberangan dengan tradisi yang diyakini oleh Abdul Wahab yang mengaku bermadzhab Sunni. Abdul Wahab di Iran mendapatkan penolakan di sana-sini. Oleh karena itu, misi Abdul Wahab betul-betul gagal total. Perjalanannya ke Iran hanya untuk memenuhi tugas dari tuannya saja yaitu Hampher yang pernah menasehati Abdul Wahab agar melakukan taqiyyah selama ia berada di Iran. Hampher menasehati Abdul Wahab agar ia menyembunyikan keyakinan atau ajaran yang ditemukan oleh dirinya itu di hadapan orang-orang Iran. Ia berkata kepada Abdul Wahab, “Kalau kamu tinggal diantara orang-orang Syi’ah, ber-taqiyyah-lah dan jangan tunjukkan bahwa dirimu itu seorang Sunni karena mereka akan berhati-hati terhadap dirimu. Gunakanlah negara mereka itu dan hasutlah para ulamanya! Pelajarilah kebiasaan mereka dan adat istiadat mereka. Karena mereka itu adalah orang-orang bodoh dan keras kepala.”

Hamid Algar, dalam Wahhabism, A Critical Essay, menuliskan:
“Apabila ia memang melakukan perjalanan (ke Iran) walaupun ia sangat membenci Syi’isme, motif yang ia miliki untuk melakukan perjalanan itu masih sangat misterius. Tidak ada satupun sumber tertulis dalam bahasa Persia yang menyebutkan bahwa Muhammad bin Abdul Wahab itu pernah berkunjung ke sana. Tidak ada catatan bahwa ia pernah datang kesana kemudian ajarannya dilecehkan, misalnya. Tidak ada catatan bahwa ia mendapatkan kesulitan ketika sedang bertaqiyah.[6]

Hempher kemudian dipanggil kembali ke London. Para pejabat tinggi merasa senang dengan sepak terjangnya itu dan mereka setuju dengan gagasan Hempher untuk memberikan penghormatan dan status yang tinggi kepada Abdul Wahab. Abdul Wahab kemudian diperkenalkan kepada beberapa orang pejabat tinggi yang dirahasiakan identitasnya dan banyak dari mereka namanya ada di dalam sebuah buku setebal seribu halaman yang menjelaskan tentang kelemahan-kelemahan yang dimiliki oleh umat Islam pada waktu itu dan cara-cara bagaimana untuk menghancurkan umat Islam secara seksama. Buku itu menunjukkan bahwa selain ajaran Islam yang beraneka ragam (tergantung dari madzhab yang dianut), umat Islam juga memiliki kelemahan lainnya. Umat Islam itu terkotak-kotak dalam berbagai madzhab dan aliran atau sekte; selain itu mereka itu kebanyakan buta huruf (tidak mengenal baca tulis huruf latin); dan mereka kebanyakan hidup dalam kemiskinan  serta kemelaratan—mereka hidup secara tidak layak dalam perkampungan-perkampungan yang tidak sehat yang menyebabkan mereka mudah sekali terjangkit penyakit menular. Mereka kebanyakan hidup dalam kekangan—dipimpin oleh para pemimpin tiran (diktator). Lingkungan dimana mereka tinggal sangat miskin infrastruktur-nya; tidak teratur ketertibannya; ajaran-ajaran mulia yang ada di dalam Al-Qur’an tidak mereka ejawantahkan dalam kehidupan sehari-hari. Mereka hidup dalam keadaan morat-marit, miskin papa, dan kondisi mereka itu makin memburuk dari waktu ke waktu. Tentara mereka lemah, dan persenjataan mereka banyak yang sudah usang dan rusak berat. Hak-hak kaum wanita diabaikan dan tak pernah diperjuangkan.
Apa yang diusulkan oleh si penulis buku tersebut di dalam buku tersebut sangat berkenaan erat dengan strategi rahasia Amerika Serikat dan Inggris atas negara dunia ketiga. Isi buku tersebut masih terus diterapkan hingga abad kedua-puluh. Buku itu menyarankan bahwa untuk merusak keunggulan atau keutamaan kaum Muslimin, dan sekaligus untuk menggembar-gemborkan kekurangan kaum Muslimin, diperlukan beberapa cara atau metoda seperti berikut ini:
  1. Semaikan bibit permusuhan dan pertikaian diantara mereka (kaum Muslimin)
  2. Terbitkan buku-buku yang bisa memperburuk perselisihan atau menimbulkan kekacauan yang lebih jauh lagi
  3. Haling-halangi atau persulit cara untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi
  4. Tebarkan atau beri semangat kepada orang-orang yang lebih menyukai kehidupan sufi, kehidupan miskin, atau kehidupan yang tidak mempedulikan dunia nyata
  5. Beri peluang lebih bebas kepada para penguasa (diktator) di dunia Muslim untuk mempraktekan kedzaliman dan penindasan
  6. Tumbuhkan semangat paham sekularisme yang memisahkan kehidupan agama dengan urusan-urusan dunia
  7. Sabotase kehidupan ekonomi dunia Muslim supaya tidak bangkit dari keterpurukan dan tidak pernah maju menjadi individu yang mandiri
  8. Manjakan para negarawan dari negara Muslim itu dengan kehidupan yang mewah dipenuhi dengan seks, olah-raga yang melupakan diri mereka; alkohol dan judi serta kesenangan untuk menumpuk-numpuk harta dan mendapatkan riba yang tinggi dari beberapa bank yang memang sudah disediakan untuk itu
  9. Dan untuk kaum mudanya, beri tahu mereka akan tindak laku korup dari para pejabat dan negarawan mereka agar para pemuda itu bertindak kasar dan kejam terhadap para pemimpin dan para ulama yang hidup bersama para pemimpin itu
  10. Untuk menebarkan pemahaman (yang keliru) bahwa Islam itu memiliki  sifat chauvinis (chauvinistic) terhadap kaum wanita, mereka harus mendukung dan menyebarkan tafsir (yang keliru) dari ayat Al-Qur’an yang menyebutkan bahwa “Kaum laki-laki adalah penguasa dari kaum wanita” dan juga menebalkan keyakinan bahwa “Wanita itu semuanya jahat (buruk)”.
  11. Kaum Muslimin harus dididik menjadi kaum fanatis buta dan nantinya Islam akan dikenal sebagai agama teror semata.[7]
Usaha-usaha untuk mempopulerkan metoda-metoda tersebut di atas bisa diusahakan oleh para mata-mata yang ditunjuk untuk membantu para negarawan di negara-negara Muslim; bisa juga dengan menyelundupkan mata-mata dengan penyamaran sebagai budak belian atau sebagai para selir yang siap memenuhi nafsu syahwa para negarawan di negara Muslim. Para budak belian atau selir itu diperjual-belikan diantara keluarga terdekat supaya tidak ketahuan dan bisa dimonitor dari jauh penyebarannya. Proyek-proyek misionari Kristen juga dilakukan agar bisa memasuki seluruh kelas sosial masyarakat terutama kelompok pekerja yang bekerja di bidang obat-obatan, mesin dan bangunan serta perpustakaan. 
Buku-buku propaganda Kristen dibagi-bagikan di gereja, sekolah, rumah sakit, perpustakaan dan lembaga-lembaga sosial di negara-negara Muslim. Jutaan buku-buku Kristen harus dibagi-bagikan secara gratis. Para mata-mata menyamar sebagai ruhaniawan dan para biarawati, dan mereka ditempatkan di gereja-gereja dan biara-biara. Mereka nantinya ditunjuk sebagai para pemimpin pergerakan Kristen.



Segera, pemerintah Inggris secepatnya memutuskan untuk  berterus terang mengenai niat dan itikad mereka terhadapnya. Abdul Wahab setuju untuk bekerja sama akan tetapi dengan beberapa syarat yang sudah ia tetapkan. Salah satu syarat yang ia ajukan ialah ia ingin didukung oleh pemerintah Inggris dengan uang dan senjata yang memadai. Itu ditujukan untuk melindungi dirinya dari negara-negara lain dan dari para ulama yang tentu saja akan senantiasa menyerangnya karena Abdul Wahab sudah memperkenalkan (dan memaksakan) pemahaman agama yang baru dan kontroversial.  Abdul Wahab juga menghedaki berdirinya sebuah kerajaan di tanah kelahirannya, jazirah Arab.
Akhirnya, Hempher bergabung dengan Abdul Wahab di Najd. Mereka segera mengumumkan beberapa kewajiban yang harus dipatuhi oleh kaum Muslimin yang ada di daerah Najd dan sekitarnya. Kaum Muslimin harus mengikuti Abdul Wahab dan apabila mereka tidak bersedia untuk mengikuti Abdul Wahab, maka mereka akan dinyatakan sebagai kaum kafir. Setelah dinyatakan kafir, maka nyawa mereka boleh saja langsung diambil; harta bendanya boleh dijarah; kehormatannya boleh dirusak; dan mereka yang tertangkap akan dijadikan budak belian dan dijual di pasar budak. Abdul Wahab menakut-nakuti kaum Muslimin agar mereka tidak patuh lagi kepada Sultan di Istanbul. Ia menghasut kaum Muslimin agar mereka berontak kepada khilafah Utsmaniyyah.
Abdul Wahab bertindak lebih jauh lagi. Ia menyatakan bahwa seluruh tempat suci dan peninggalan sejarah Islam itu tidak lebih daripada biang kemusyrikan—itu hanyalah berhala-berhala saja. Dan apabila kaum Muslimin menghormati tempat-tempat suci itu—baik itu tempat bersejarah atau makam-makam orang shaleh—maka mereka akan dihukumi sebagai orang-orang murtad atau orang-orang musyrik yang sesat dan menyesatkan. Dan setelah itu maka mereka boleh juga dibunuh.
Abdul Wahab mulai memberikan ceramah-ceramah dan hampir dalam setiap kesempatan ia gunakan untuk bercerita yang isinya menghina Rasulullah, para khalifahnya, dan semua ulama terkenal dari berbagai madzhab Islam yang ada yang berbeda dengan "madzhab" dirinya. Ia juga menghasut orang-orang agar mau bangkit untuk melakukan pemberontakan di negara-negara Muslim dimanapun mereka berasal. Abdul Wahab menghalalkan tindakan kekerasan dan anarki yang diperbuat mereka untuk meraih setiap cita-citanya.
Akhirnya, reformasi atau pembaruan Islam yang digembar-gemborkan oleh pemerintah Inggris lewat mulut Abdul Wahab pada kenyataannya hanyalah sebuah rancangan untuk menghasut kaum Muslimin agar mau menentang kaum Muslimin lainnya terutama sekali menentang Kekhalifahan Utsmaniyyah.
Segera dunia Muslim berubah. Kaum Muslimin mulai menunjukkan kelemahannya di sana-sini. Mereka tidak lagi berkuasa di tanahnya sendiri. Mereka sibuk dengan pertikaiannya masing-masing. Akan tetapi di tengah-tengah masalah yang sangat serius yang mengancam eksistensi kaum Muslimin dan negaranya ini, Abdul Wahab malah berdakwah yang tidak ada hubungan ril-nya dengan permasalahan yang dihadapi oleh kaum Muslimin. Ia malah berdakwah tentang pemikiran kaum Muslimin yang ia anggap telah sesat dan dipenuhi takhayul, bid’ah dan kurafat. Kebiasaan kaum Muslimin seperti berziarah ke makam para wali atau berwasilah dan bertabaruk kepada mereka sebagai kebiasaan jahiliah yang harus segera dibasmi. Semua dakwah itu jelas berbeda dengan apa yang sedang dihadapi secara nyata oleh kaum Muslimin pada waktu itu. Kaum Muslimin sedang dilanda perpecahan dan pertentangan dan itu adalah masalah yang sangat nyata dan berbahaya. Tapi mungkin karena yang menyebabkan itu semua ialah Abdul Wahab sendiri dan para anteknya, maka mereka tidak ambil pusing dengan itu semua.
Kaum Muslimin seringkali melakukan ziarah kubur dan mereka berdo’a di kuburan para Wali Allah. Mereka memohon kepada para Wali Allah itu agar mendo’akan mereka supaya hajat mereka bisa tercapai. Demi untuk menyenangkan dan demi untuk menunaikan tugas yang diberikan oleh pemerintah Inggris, Abdul Wahab menggunakan ajaran barunya itu untuk menentang dan melarang kebiasaan ziarah kubur yang sudah menjadi adat kebiasaan kaum Muslimin sedunia selama berabad-abad dan tidak ada pertentangan tentang hal itu diantara mereka. Abdul Wahab berkata bahwa yang dilakukan oleh kaum Muslimin itu pada hakikatnya memohon pertolongan kepada selain Allah dan oleh karena itu mereka sudah “menuhankan” para Wali Allah itu. Menurut Abdul Wahab ini jelas sebuah bentuk kemusyrikan dan para pelakunya bisa dikategorikan sebagai seorang Musyrik atau murtad dan keluar dari Islam. Maka oleh karena itu, boleh saja memerangi mereka dan membunuh mereka. Ini sebenarnya ajaran yang digunakan oleh pemerintah Inggris melalui mulut-mulut para pengikut Wahabi (pengikut Abdul Wahab). Pemerintah ingin menghasut bangsa Arab untuk menentang bangsa Turki.
Lebih jauh lagi, Abdul Wahab menuduh bahwa situasi dunia Islam pada jamannya itu sama dengan situasi di jaman jahiliyah—yaitu jaman ketika Islam belum muncul di jazirah Arabia. Masa itu disebut masa kebodohan—kebodohan agama dan kebodohan sosial. Ada beberapa contoh yang bisa diambil di dalam Al-Qur’an dimana Allah menggambarkan seorang munafik yang hanya akan berdo’a kepada Allah saja ketika ia dihadapkan kepada berbagai masalah, akan tetapi ketika ia sudah terbebas dari segala kesusahan, ia kemudian kembali lagi menyembah berhala-berhalanya. Abdul Wahab menyatakan bahwa kaum Muslimin juga sama saja yaitu mereka mengaku bahwa hanya menyembah Allah saja tetapi pada kenyataannya mereka juga menyembah para berhala. Oleh karena itu, Abdul Wahab merasa bahwa ia sudah melengkapi ramalan Nabi yang memperingatkan bahwa akan datang sekelompok orang yang  memutar-balikkan fakta: “menafsirkan ayat-ayat Qur’an yang sebenarnya ditujukan untuk kaum kufar menjadi ayat-ayat yang ditujukan untuk orang-orang beriman.”


BERSAMBUNG KE BAGIAN KE DUA ...........

[1] Islam yang ada di Arab harus diubah supaya berbeda dengan Islam yang ada di Turki. Jadi walaupun mereka sama-sama Islam, tetapi mereka berbeda pemahamannya dan oleh karena itu, mereka merasa tidak lagi saudara dan malah mereka merasa yang lain telah sesat dan boleh diperangi karenanya—red.
[2] Konsep jihad yang agung dan suci menjadi penuh kelicikan, penindasan, dan kemunafikan. Jihad hanya dijadikan alat untuk membunuh dengan semena-mena.
[3] Two Faces of Islam, halaman 74.
[4] Ayyub Sabri Pasha. Bagian Dua: The Beginnings and Spread of Wahhabism.
[5] Maksudnya minuman keras dan kaum wanita; dua senjata yang halus tapi sanggup mematahkan dan mematikan semangat kaum pemuda; menjadikannya generasi yang lemah dan tidak berdaya.
[6] LIHAT: halaman 12-13, Wahhabism, A Critical Essay
[7] Semua metoda ini ternyata terbukti sangat efektif karena sekarang Islam sudah dikenal sebagai agama teror—agama yang sangat tidak toleran terhadap perbedaan; kaku, jumud, tidak tercerahkan, tidak berwawasan dll.