"KEBENARAN TIDAK DITENTUKAN OLEH SEDIKIT BANYAKNYA ORANG YANG BERKATA BAHWA ITU BENAR"

Rabu, 04 Mei 2016

(Free E-Book to download) PERANG SIFFIN, perang saudara antara kaum Muslimin

I
Perang Siffin
Untuk mencegah Mu’awiyah melancarkan peperangan terhadap kaum Muslimin, Imam Ali menggunakan argumen yang sama yang ia pernah gunakan ketika membujuk ‘Aisyah, Thalhah, dan Zubayr agar mereka tidak memerangi kaum Muslimin meskipun mereka tetap saja ngotot untuk berperang dan akhirnya perang Unta[1] terjadi juga. Sama halnya dengan perang Unta, perang antara Imam Ali dan Mu’awiyah ini akhirnya terjadi juga meskipun Imam Ali sudah membujuk Mu’awiyah agar tidak berperang. Di mata musuh Imam Imam Ali, perdamaian itu hanyalah akan menambah masalah kepada masalah-masalah yang sedang dihadapi oleh umat Islam. Mereka hanya melihat sebuah jawaban atau pemecahan dari masalah itu yaitu melalui peperangan.

Kali ini, Imam Ali dihadapkan dengan seorang musuh yang jauh lebih licin, cerdik, kejam, jahat dan jauh lebih berbahaya dibandingkan tiga orang musuhnya yang terdahulu (‘Aisyah, Thalhah, dan Zubayr). Malahan apabila dibandingkan ‘Aisyah, Thalhah, dan Zubayr itu tidak ada apa-apanya dibanding dengan Mu’awiyah.

Di kota Basrah, kelompok pemberontak yang ada di dalam perang Unta (perang antara para sahabat Nabi yang dikobarkan oleh ‘Aisyah) ini terdiri dari kelompok yang memiliki kepentingan yang berbeda-beda akan tetapi dipersatukan dengan satu kesamaan yaitu kebencian terhadap Imam Ali. Tujuan atau kepentingan mereka tidak sama dan tidak bisa dipersatukan. ‘Aisyah memerangi Imam Ali dengan tujuan bahwa ia kelak bisa mengusung keponakannya yaitu Abdullah bin Zubayr ke tampuk kekuasaan kekhalifahan. Akan tetapi Thalhah dan Zubayr tidak memiliki tujuan yang sama dengan ‘Aisyah. Mereka berdua juga menginginkan tampuk kekhalifahan itu bagi mereka sendiri (meskipun Zubayr adalah ayah dari Abdullah bin Zubayr—keponakan ‘Aisyah). Itu menjadikan koalisi yang mereka bangun menjadi rapuh dan tidak bisa menjadi suatu kekuatan yang satu dan solid seperti yang diinginkan oleh para pengikutnya.

Kelompok tiga serangkai kota Basrah (‘Aisyah, Thalhah, Zubayr) dipusingkan oleh tujuan dan impian mereka yang berbeda-beda sedangkan Mu’awiyah tidak sama sekali. Mu’awiyah mencari nasehat dari penasehatnya yang sangat licik yaitu Amr bin Aas dan kawan-kawan. Akan tetapi Mu’awiyah sendiri yang akhirnya memutuskan segala sesuatunya.

Imam Ali sendiri sedang berusaha sekuat tenaga untuk mempersatukan umat Muhammad. Persatuan umat Muhammad sedang dilanda kekacauan dan ketegangan, dan ia ingin mempersatukan umat Muhammad itu seperti dulu di bawah kepemimpinan sepupunya itu. Di sisi lain, musuh Imam Ali sama sekali tidak peduli. Ia tidak peduli umat Muhammad bertikai dan berselisih. Ia tidak peduli umat Muhammad kacau balau dan hancur. Tujuan mereka malah menghancurkan umat Muhammad dan kemudian menguasai mereka di bawah kaki kekuasaannya.
Pada musim semi tahun 657, Mu’awiyah meninggalkan kota Damaskus bersama pasukannya untuk memperluas perang ke wilayah Irak. Ia melintasi daerah perbatasan dan kemudian ia berhenti di sebuah desa yang disebut dengan Siffin—Siffin terletak di tepian sungai Efrat. Yang mula-mula ia lakukan pada waktu itu ialah menguasai mata air untuk kepentingannya sendiri.

Demi mendengar kabar tentang pergerakan tentara Syria (tentaranya Mu’awiyah), Imam Ali menunjuk Aqaba Ibn Amr Ansari sebagai gubernur kota Kufah. Setelah itu Imam Ali memanggil Abdullah Ibn Abbas dari kota Basrah untuk menemaninya. Kemudian mereka meninggalkan kota Kufah bersama pasukannya ke desa Siffin pada bulan April 657. “Sebanyak 70 orang veteran perang Badar dan sebanyak 250 orang sahabat Nabi yang pernah berbai’at di bawah pohon merangsek maju di bawah panji Imam Ali. Mereka berjalan di tepian sungai Efrat menuju desa Siffin.” (LIHAT: Mustadrak, vol 3).



[1] Perang antara keluarga Abu Bakar (‘Aisyah binti Abu Bakar—puteri Abu Bakar, Thalhah bin Ubaydillah—sepupu Abu Bakar, Zubayr bin Awwam—menantu Abu Bakar, Abdullah bin Zubayr—cucu Abu Bakar, dll) melawan keluarga Nabi Muhammad (Ali bin Abi Thalib—sepupu Nabi, Hasan dan Husain—cucu Nabi, dll). Untung perang dimenangkan oleh keluarga Nabi Muhammad, karena kalau dimenangkan keluarga Abu Bakar, maka itu akhir dari Islam itu sendiri. Islam akan hilang sebagai agama para Nabi.

Senin, 04 April 2016

(E-BOOK GRATIS) Mengapa isteri-isteri Rasulullah disebut sebagai Ummul Mukminin

DOWNLOAD E-BOOK (GRATIS):




Salah satu hal yang selalu dikatakan oleh saudara-saudara kita dari kalangan Ahlu Sunnah (Sunni) untuk membela ‘Aisyah habis-habisan ialah bahwa ‘Aisyah itu disebut sebagai salah seorang Ummul Mukminin atau ibu kaum beriman. Bahkan Al-Qur’an sendiri telah berkata bahwa memang para isteri Rasulullah itu adalah termasuk “Ibu-ibu kaum beriman”. Akan tetapi marilah kita bicarakan beberapa poin di bawah ini:

1. Andaikan, misalnya, anda itu seorang yang beriman. Maka sudah barang tentu orang-orang akan menyebut ibu anda sebagai “Ibu orang yang beriman.” Lalu apakah itu artinya bahwa ibu anda juga seorang yang beriman? Tentu saja tidak! Ia hanya menjadi seorang ibu dari seorang anak yang beriman. Dengan menjadi seorang ibu dari orang yang beriman itu belum tentu menjadikan dirinya sebagai seorang ibu yang  beriman. Alasan yang sama atau logika yang sama bisa dipakai kepada julukan “Ummul Mukminin.” “Ibu-ibu dari kaum mukminin” belum tentu menjadi mukminin sendirinya.

2. Kitab-kitab kumpulan hadits yang beredar di kalangan Ahlu Sunnah  (Sunni) senantiasa dipenuhi oleh hadits-hadits yang disampaikan oleh Ummul Mukminin ‘Aisyah. Sedangkan Rasulullah itu memiliki banyak isteri dan semua isterinya itu juga memiliki gelaran “Ummul Mukminin”. Diantara isteri-isteri Rasulullah itu ada yang memiliki keshalehan dan ketakwaan yang tinggi seperti Ummu Salamah dan Ummu ‘Ayman, misalnya. 

Akan tetapi sayang sekali hadits-hadits yang disampaikan oleh mereka itu tidak banyak dituliskan di dalam kitab-kitab hadits Ahlu Sunnah dalam kitab Sihah Sittah (tidak sampai 5% nya dari hadits-hadits yang disampaikan oleh ‘Aisyah sendirian). Jadi meskipun isteri-isteri Rasulullah yang lain pula memiliki hak yang sama untuk mendapatkan gelar Ummul Mukminin dan dihormati secara adil oleh kaum Muslimin, akan tetapi saudara kita dari kalangan Ahlu Sunnah sama sekali tidak mempedulikan hal ini. Hadits-hadits yang disampaikan oleh ‘Aisyah dihormati setinggi langit dan dikumpulkan sehingga jumlahnya sangat banyak sekali. Sementara hadits-hadits yang melewati para isteri Rasulullah yang lain kurang mendapatkan penghormatan yang layak dan semestinya. Apakah karena ‘Aisyah itu anaknya Abu Bakar, sehingga ia mendapatkan perlakuan yang istimewa dari saudara kita dari Ahlu Sunnah? Atau apakah karena ‘Aisyah itu telah menentang Imam Ali dan hendak membunuh Imam Ali  sehingga ‘Aisyah lebih dihormati dan diagung-agungkan oleh saudara kita dari Sunni?

3. Menurut Islam, seseorang yang beriman haruslah menghormati ibunya. Akan tetapi kalau si ibu itu sendiri menentang aturan dan ajaran yang sudah diberikan oleh Rasulullah: apabila seorang ibu itu telah menghasut orang-orang; kemudian memimpin sebuah pemberontakan  terhadap pemimpin yang hak; membunuhi orang-orang tak berdosa, maka agama Islam memerintahkan umatnya untuk memisahkan diri dari seorang ibu yang demikian. Malahan kita TIDAK BOLEH mempercayai dan mengikuti si ibu itu apabila si ibu itu menyampaikan hadits-hadits dari Nabi, walaupun jumlah haditsya itu banyak sekali. Umat Islam tidak boleh mengikuti orang yang telah menyalahi ajaran Islam.

4. Lalu mengapa Allah masih memberikan gelaran “Ibu dari kaum beriman”, walaupun si ibu itu misalnya menentang ajaran Islam? Allah memberikan gelaran “Ibu kaum beriman” (Ummul Mukminin) supaya orang-orang tidak menikahi mereka setelah Rasulullah meninggal dunia. Bukankah seorang anak itu tidak boleh menikahi ibunya sendiri?

Apabila Allah tidak memberikan gelaran ini kepada janda-janda Rasulullah, maka orang-orang yang memiliki kedudukan tinggi dan memiliki pengaruh yang kuat di masyarakat pada waktu itu, mungkin merasa cukup layak untuk menikahi janda-janda dari Rasulullah ini. Dan apabila mereka menikah, maka ada kemungkinan mereka menghasilkan anak-anak. Dan kemungkinan besar banyak orang yang menyangka bahwa “anak-anak” ini bagian dari Ahlul Bayt Nabi (padahal bukan sama sekali). Kemungkinan terburuk ialah anak-anak itu bisa saja kemudian mengaku dirinya sebagai putera-putera Rasulullah atau keturunan-keturunan Rasulullah yang apabila diyakini bisa berakibat buruk karena umat Islam mungkin akan mematuhi mereka padahal ada kemungkinan mereka berlaku buruk di masyarakat. Oleh karena itu, Allah memberikan gelaran “Ibu kaum beriman” (Ummul Mukminin) untuk mencegah orang-orang menikahi mereka setelah Rasulullah meninggal dunia.

Rabu, 10 Februari 2016

(FREE E-BOOK) PERANG HUNAYN: Para Sahabat Nabi kabur meninggalkan Nabi yang terluka dan hampir terbunuh


(KLIK SAMPULNYA UNTUK MEN-DOWN LOAD)


لقد نصركم الله في مواطن كثيرة ويوم حنين إذ أعجبتكم كثرتكم فلم تغن عنكم شيئا وضاقت عليكم الأرض بما رحبت ثم وليتم مدبرين


“Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikit pun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai.” (QS. At-Taubah: 25)

Ketika pasukan Islam berlarian balik ke belakang, Rasulullah tetap tegar dan diam di tempat. Ia tidak meninggalkan pos-nya. Hanya ada 8 orang yang tetap tinggal bersamanya; dan mereka menyaksikan pasukan kaum Muslimin kabur tunggang-langgang. Delapan orang yang masih tinggal bersamanya ialah:

1. Ali ibn Abi Talib
2. Abbas ibn Abdul Muttalib
3. Fadhl ibn Abbas
4. Abu Sufyan ibn al-Harith ibn Abdul Muttalib
5. Rabi'a, saudara laki-laki dari Abu Sufyan ibn al-Harith
6. Abdullah ibn Mas’ud
7. Usama ibn Zayd ibn Haritsa
8. Ayman ibn Ubaid


Untuk seorang Muslim memenangkan perang itu adalah baik dan terbunuh juga baik. Keduanya mendapatkan pahala yang besar di sisi Allah. Sedangkan kabur dari Jihad adalah memalukan dan perbuatan dosa. Para sahabat Nabi ternyata lebih memilih untuk kabur daripada bertahan dan melindungi Nabi. Kecintaan mereka terhadap Nabi ternyata hanya isapan jempol belaka. 

Dari 12.000 orang tentara Nabi hanya sekitar 100 saja yang kemudian masih memberikan pelayanan terhadap Nabi dan mau bertempur bersama Nabi. Sahabat-sahabat besar yang sering diagung-agungkan oleh saudara kita dari Ahlusunnah malah ikut kabur bersama para pengecut lainnya ...................


Jumat, 08 Januari 2016

7 HADITS SUNNI MENGATAKAN: "MEMANDANG WAJAH IMAM 'ALI ITU IBADAH"




Hadits Pertama:

Kita bisa temukan hadits ini di dalam kitab Sharah Madahib Ahlu Sunnah oleh Ibn Shaheen, dimana ia mengatakan:

103 – حدثنا محمد بن الحسين بن حميد بن الربيع ، ثنا محمد بن عبيد بن عتبة ، ثنا عبد الله بن سالم القزاز ، ثنا يحيى بن عيسى الرملي ، عن الأعمش ، عن إبراهيم عن علقمة ، عن عبد الله ، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « النظر إلى وجه علي عبادة » تفرد علي بهذه الفضيلة ، لم يشركه فيها أحد

[LIHAT: Sharah Madahib-e-Ahlusunnah, Ibn Shaheen, vol 1, halaman 136, bab Fadilat ‘Ali bin Abi Talib, hadits nomor 103]


Ibn Shaheen meriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud bahwa Rasulullah (SAW) pernah bersabda bahwa memandang wajah ‘Ali itu adalah ibadah. 

(Ibn Shaheen memberikan pandangannya)bahwa hanya ‘Ali saja yang memiliki fadilah (keutamaan) ini dan tidak yang selain dirinya di kalangan para sahabat.
Kami sangat berterimakasih kepada Ibn Shaheen karena beliau sudah menyampaikan sebuah pernyataan yang indah dan memberitahu kami semua tentang aqidah anda dan pandangan anda.

Hadits Kedua:
Di sini kami hadirkan sebuah riwayat dari Maujam Kabir, Tabarani: 

حدثنا محمد بن عثمان بن ابي شيبة ، حدثنا احمد بن بديل اليامي ، حدثنا يحيى بن عيسى ، عن الاعمش ، عن ابراهيم ، عن علقمة عن عبد الله عن النبي (ص) قال : النظر الى وجه علي عبادة . “
Abdullah meriwayatkan dari Rasulullah (SAW) bahwa MEMANDANG WAJAH ALI itu adalah termasuk ibadah.
[LIHAT: Maujam Kabir, Tabarani; vol 10, halaman 93, Bab Tabi'i Abdullah bin Mas'ud; hadits nomor 10006, dicetak oleh  Maktba Ibn Taimiyya, Kairo]

Hadits Ketiga:

Kita bisa temukan seorang ulama ternama dari Ahlu Sunnah yang bernama Abu Na'im Isfahani mengatakan: 

38 – حدثنا محمد بن الحسن بن محمد بن الحسين بن أبي الحسين ، ثنا أحمد بن جعفر بن أصرم ، ثنا علي بن المثنى ، ثنا عاصم بن عمر البجلي ، عن الأعمش ، عن إبراهيم ، عن علقمة ، عن عبد الله ، قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « النظر إلى وجه علي عبادة » رواه عبيد الله بن موسى ومنصور بن أبي الأسود ويحيى بن عيسى الرملي عن الأعمش مثله
Muhammad bin Hasan mendengar dari  Ahmad bin Ja'far yang mendengar dari  Ali bin Mathna yang mendengar dari  Asim bin Umar yang mendengar dari  Aymash dari  Ibrahim dari Alqama dari Abdullah bahwa : "Rasulullah (SAW) pernah bersabda: 'Memandang wajah 'Ali itu ibadah'"
Abuaidullah bin Musa dan Mansur dan Yahya yang meriwayatkan dari Ayamash menyukainya.
[LIHAT: Fadail Khulafa Rashideen, vol 2, halaman 67]

Hadits Keempat: 


Hafiz Haithmi mengatakan:
عن عبد الله يعني ابن مسعود ان النبي صلى الله عليه وسلم قال النظر إلى علي عبادة. رواه الطبراني وفيه أحمد بن بديل اليامي وثقه ابن حبان وقال مستقيم الحديث، وابن أبي حاتم وفيه ضعف، وبقية رجاله رجال الصحيح. وعن طليق بن محمد قال رأيت بن الحصين يحد النظر إلى علي فقيل له فقال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول النظر إلى علي عبادة. رواه الطبراني وفيه عمران بن خالد الخزاعي وهو ضعيف. 
"Dari Abdullah bin Mas'ud mengatakan bahwa Rasulullah (SAW) bersabda: 'Memandang wajah 'Ali itu ibadah' Tabarani meriwayatkan itu dan di dalam hadits itu ada sanad Ahmad bin Badil dan ia adalah seorang tsiqah seperti yang dikataka oleh Ibn Haban; dan haditsnya kuat. dan ada juga Ibn Abi Hatim yang mengatakan ada kelemahan sementara para perawi lain dari hadits itu sahih semua. 
"Dan dari Taliq bin Muhammad yang mengatakan: 'Aku melihat Ibn Hasain yang sedang memandang wajah 'Ali (as); lalu aku bertanya mengenai hal itu. Lalu ia menjawab: 'Aku mendengar Rasulullah (SAW) bersabda bahwa memandang wajah 'Ali (as) itu ibadah.' Tabarani meriwayatkan hal itu dah ia menyebutkan ada sanad Imran bin Khalid yang lemah."


Hadits Kelima:


Ibnu Hajar Haitsami mengatakan di dalam kitab Sawaiq al-Muharriqah sebagai berikut:
الحديث الخامس عشر أخرج الطبراني والحاكم عن ابن مسعود رضي الله عنه أن النبي قال النظر إلى علي عبادة إسناده حسن
Tabarani dan Hakim meriwayatkan dari Ibnu Mas'ud bahwa  Rasulullah telah bersabda bahwa memandang wajah 'Ali adalah ibadah; isnad dari hadits ini hasan
As-Suyuthi menuliskan dalam tarikh-nya sebagai berikut: 
و أخرج الطبراني و الحاكم [ عن ابن مسعود رضي الله عنهما أن النبي صلى الله عليه و سلم قال : النظر إلى علي عبادة ] إسناده حسن
و أخرج الطبراني و الحاكم أيضا من حديث عمران بن حصين

Tabarani dan Hakim meriwayatkan dari Ibnu Mas'ud yang mengatakan bahwa Rasulullah pernah bersabda bahwa memandang wajah 'Ali itu adalah ibadah; isnaad dari hadits itu hasan
Dan Tabarani and Hakim meriwayatkan dari Imran bin Hasin
[LIHAT: Tareekh-ul-Khulafa, vol 1, halaman 150]


Hadits Ketujuh:

Imam Hakim menuliskan dalam kitabnya al-Mustadrak sebagai berikut:

4681 – حدثنا دعلج بن أحمد السجزى ثنات علي بن عبد العزيز بن معاوية ثنا إبراهيم بن إسحاق الجعفي ثنا عبد الله بن عبد ربه العجلي ثنا شعبة عن قتادة عن حميد بن عبد الرحمن عن أبي سعيد الخدري عن عمران بن حصين قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم النظر إلى علي عبادة
هذا حديث صحيح الإسناد و شواهده عن عبد الله بن مسعود صحيحة

Imran bin Hasin berkata: Rasulullah bersabda bahwa memandang wajah 'Ali itu ibadah 
"Hadits ini shahih dalam rantai sanad-nya dan hadits itu didukung oleh (hadits lain yang diriwayatkan) Abdullah bin Mas'ud, yang shahih"

[LIHAT: Mustadarak Imam Hakim, vol 3, halaman 153]



UNTUK LEBIH LENGKAP TENTANG PENJELASAN RANTAI SANAD BISA ANDA RUJUK DI TAUTAN BERIKUT INI: (klik saja)


Senin, 14 Desember 2015

WAHABI DAN MATA-MATA INGGRIS (bagian 2: CIKAL BAKAL TERORISME DALAM ISLAM)

IBN TAYMIYYAH

Pengepungan kota Baghdad oleh pasukan Mongol (1258)
Akhirnya, di atas segala keburukan yang dilakukan oleh Abdul Wahab terhadap kaum Muslimin, ia mengumumkan wajib hukumnya bari para pengikutnya untuk melancarkan “jihad” terhadap kaum Muslimin. Para pengikutnya diperbolehkan untuk memperbudak kaum wanita dan anak-anak dari kaum Muslimin. Abdul Wahab melakukan hal ini karena ia terpengaruh sekali dengan pandangan-pandangan Ibnu Taymiah—yang sampai hari ini, pandangan-pandangannya memberikan pengaruh yang besar sekali dan memberikan semangat dan bimbingan terhadap tumbuhnya terorisme di dalam Islam. (LIHAT: IBNU TAYMIAH: ULAMA TAKFIRI PENEBAR BENCI (berikut daftar para ulama Salafi Ahlu Sunnah yang menentang Ibnu Taymiah)).
Sungguh mengherankan sekali, dari seluruh Ulama sepanjang sejarah yang bisa dipilih sebagai panutan, kaum Wahabi dan kaum Muslimin modern yang merasa menjadi kaum reformis Islam malah memilih Ibnu Taymiah sebagai ulama panutan mereka. Padahal Ibnu Taymiah terkenal sebagai ulama yang ortodoks (kolot) yang ketika semasa hidupnya ia seringkali bertentangan dengan para ulama lainnya yang jauh lebih berilmu dan lebih shaleh serta lebih terkemuka dan lebih terpercaya.
Ibnu Taymiah hidupnya dipenuhi oleh pertentangan dalam melawan hukum. Pada tahun 1293—misalnya—ia menentang hukum dengan membela seorang Kristen yang jelas-jelas telah menghina Nabi. Orang Kristen itu sudah diputuskan bersalah lewat pengadilan agama, akan tetapi Ibnu Taymiah malah membelanya dengan memprotes hukuman yang sudah dijatuhkan kepada orang Kristen itu. Pada tahun 1298, ia dituduh mengkritik para ulama yang memiliki otoritas di jamannya. Kemudian ia juga dituduh memiliki paham anthropomorphism[1] walaupun paham itu jelas-jelas bertentangan dengan Islam. Ibnu Battutah—seorang penulis dan musafir terkenal—melaporkan sebuah kejadian yang menarik. Ketika itu Ibnu Taymiah sedang berkhutbah di sebuah masjid. Ibnu Taymiah berkata, “Allah itu turun dari langit ke dunia ini seperti aku turun sekarang ini”; dan Ibnu Taymiah turun dari mimbarnya satu undakan tangga.[2]
Pendapat-pendapat mengenai sosok Ibnu Taymiah itu banyak sekali dan beragam. Selain banyak yang mengecam ada juga yang memujinya. Bahkan musuh-musuhnya pun seperti Taqiuddin al-Subki, misalnya, mau juga mengakui keunggulan-keunggulan yang dimiliki oleh Ibnu Taymiah. Ia pada suatu ketika berkata:
“Secara pribadi, aku sebenarnya mengagumi sifat kezuhudan dan kesalehan dari Ibnu Taymiah, yang mungkin sudah pemberian Tuhan dari sananya.”[3]
Akan tetapi di sisi lain, Ibnu Taymiah malah dicela oleh salah seorang muridnya sendiri--yang sudah barang tentu jauh lebih mengenalnya dibanding lawan-lawannya--yaitu Al-Dhahabi—seorang sejarawan dan ulama Sunni yang terkenal. Al-Dhahabi berkata:
“Beruntunglah dia yang memiliki kesalahan yang banyak sehingga ia terlalu sibuk dan tidak mempedulikan kesalahan-kesalahan orang lain! Dan celakalah ia yang terlalu sibuk meneliti kesalahan-kesalahan orang lain hingga lupa kesalahannya sendiri! Betapa terlalu lama ia memperhatikan debu yang ada di mata orang lain dan kemudian ia melupakan bahwa ada kerikil di matanya sendiri!”[4]
Karena sifat Ibnu Taymiah yang suka berlebih-lebihan dalam menilai dan mencela orang itulah maka Ibnu Battutah menyatakan bahwa Ibnu Taymiah itu salah satu “mur-nya lepas” (he had a screw loose)—ungkapan sindiran halus kepada Ibnu Taymiah.[5]
Selama penyerbuan bangsa Mongol antara tahun 1299 sampai dengan tahun 1303 dan juga selama penjajahan oleh bangsa Mongol di Damaskus, Ibnu Taymiah memimpin kelompok perlawanan. Ia juga mencela agama yang dianut oleh para penjajah itu walaupun mereka sudah pindah agama menjadi pemeluk Islam. Ibnu Taymiah tetap mencurigai mereka. Selama penjajahan Mongol, Ibnu Taymiah tetap tinggal di Harran—tempat kediaman orang-orang penganut Saba’iyah dan kemungkinan besar ia terpengaruh oleh pola pemikiran mereka.  
Pada tahun 1306, Ibnu Taymiah dipanggil untuk menjelaskan pemahaman dirinya akan Islam di depan dewan gubernur. Walaupun pada waktu itu dewan gubernur tidak sampai mengecam atau mengutuk dirinya akan tetapi Ibnu Taymiah tetap saja diusir ke Kairo. Di sana Ibnu Taymiah juga dipanggil oleh dewan lainnya yang menuduh dirinya memiliki paham Anthropomorfisme. Di sana ia akhirnya terbukti bersalah dan dipenjara selama 18 bulan lamanya.
Walaupun Ibnu Taymiah sangat meyakini paham itu—sepertinya halnya orang-orang Ismailiyyah pada waktu itu—ia tetap hanya menyebarkan pahamnya itu secara rahasia diantara para muridnya yang telah mencapai kelas tingkatan teratas. Abu Hayyan—salah seorang yang benar-benar mengenali Ibnu Taymiah secara pribadi—menghormatinya setinggi langit hingga akhirnya ia berkenalan dengan salah satu hasil karya tulis atau buku Ibnu Taymiah yang mana di dalamnya ia melihat Ibnu Taymiah menggambarkan Tuhan seolah-olah Tuhan itu manusia karena memiliki sifat-sifat dan karakter manusia (Anthropomorfisme)[6]
Buku Ibnu Taymiah tersebut didapatkan oleh seseorang dengan menggunakan tipuan tertentu. Orang itu berpura-pura menjadi salah seorang pengikut setianya supaya ia mendapatkan pelajaran khusus dari Ibnu Taymiah karena Ibnu Taymiah hanya memberikan ilmu-ilmu tertentu pada orang-orang tertentu. Ibnu Taymiah sengaja mengkhususkan ilmu tertentu hanya untuk orang-orang yang dianggap dekat dan setia kepadanya. Ini menunjukkan bahwa Ibnu Taymiah menganut sebuah doktrin tertentu yang ia sampaikan kepada masyarakat; tetapi dalam waktu yang sama, ia juga memiliki doktrin yang lain yang hanya dipahami oleh kalangan tertentu dan doktrin itu ia ajarkan hanya kepada orang-orang yang ingin menjadi pendukung setianya. Doktrin yang ia ajarkan itu lebih mirip dengan ilmu klenik.
Ketika Ibnu Taymiah melarang orang yang hendak bertabarruk atau bertawassul kepada para wali Allah, para pengikutnya menganggap bahwa Ibnu Taymiah sedang melakukan usaha pembersihan atau pensucian ajaran Islam agar tetap bertauhid (monoteisme). Tiang agama Islam itu adalah keesaan Allah (Tauhid atau monoteisme). Ketika Islam turun yang dilakukan pertama kali ialah melarang paganisme bangsa-bangsa Arab. Para pengikut Ibnu Taymiah menganggap diri mereka sebagai orang-orang suci yang mencoba untuk mengembalikan kaum Muslimin agar menyembah Tuhan yang satu—Tuhan yang sama yang disembah oleh para Nabi dalam kitab Perjanjian Lama. Oleh karena itu, “menyembah” selain Allah dianggap sebagai kesesatan yang paling utama. Di sinilah awal dari penyimpangan yang paling ekstrim dari paham Wahabi.

KELUARGA SAUDI, KELUARGA WAHABI SEJATI

Ruins of Dariyah
Segera Menteri Persemakmuran Inggris Raya berupaya untuk mendapatkan bantuan sebesar-besarnya dari Muhammad Ibnu Saud (Amir atau pemimpin Dariyah) untuk Abdul Wahab agar ia bisa mengembangkan dan menyebarkan “agama baru” itu kepada masyarakat. Dicapailah sebuah keputusan sejak saat itu dimana kekuasaan di jazirah Arabia itu akan dipegang oleh keturunan mereka: dimana keluarga Saudi (yang menjadi satu keluarga dengan keluarga Wahabi karena pernikahan) akan memegang kekuasaan politis; dan keluarga Wahabi yang akan mengurusi urusan keagamaan dan tata cara ibadah menurut mereka. 
Keluarga Saudi sendiri adalah keluarga Iluminati[7]Keluarga Saudi itu sebenarnya adalah keturunan Yahudi yang merahasiakan keturunannya sama persis seperti kawan-kawan mereka keturunan Donmeh (LIHAT: PERAN KELUARGA SAUDI DAN WAHABI DALAM PEMBENTUKAN NEGARAISRAEL) yang ada di Turki. Menurut Mohammad Sakher—keluarga Saudi memerintahkan pembunuhan terhadapnya karena tulisan-tulisannya yang berdasarkan penelitian yang ia lakukan terhadap keluarga Saudi—keluarga Saudi itu meskipun mereka mendukung gerakan pembaruan yang dilakukan oleh Abdul Wahab, mereka itu adalah keturunan Yahudi asli yang secara hakikat tidak pernah menyukai Islam dan kaum Muslimin. Pada abad ke-15, Sakher menuliskan, seorang pedagang Yahudi dari kota Basrah yang bernama Mordechai pindah ke jazirah Arab dan ia kemudian bermukim di Dariyah dimana ia mengaku (berpura-pura) sebagai seorang Arab yang berasal dari sebuah suku Arab Aniza. Ia mengaku bernama Markan bin Dariyah (LIHAT: KELUARGA SAUDI ….. SIAPAKAH MEREKA SEBETULNYA?)[8]
Suku Aniza (yang diklaim oleh nenek moyang keluarga Saudi sebagai suku mereka yang asli) sama halnya dengan keluarga Sabah di Kuwait yang dipercayai berasal dari Khaybar, Saudi Arabia. Dan menurut dokumen yang sangt dipercayai, di Khaybar itu tinggal orang-orang keturunan Yahudi[9] yang terpaksa masuk Islam pada waktu itu. Secara khusus menurut legenda modern, suku Aniza itu disebut-sebut sebagai asal-usul orang-orang pemuja setan dan para penyihir di Eropa dan tradisi itu sampai ke Eropa sana melalui Abu el-Atahiyya.[10] Legenda modern ini di populerkan oleh Gerald Gardner—orang yang mengenalkan kelompok pemuja setan yang bernama Wicca.[11] Gardner juga berteman baik dengan Aleister Crowley. Mereka sama-sama menjad aktifis Co-Freemason—sempalan dari French Masonry—yang ia didirikan bersama-sama dengan Annie Besant.
Gardner juga berteman dan sekaligus menjadi guru dari Charlatan Idries Shah—ia pernah menulis buku tentang Sufisme yang sebenarnya bukan tentang Sufisme melainkan tentang Luciferianisme[12].
Pada awal abad ke-18, suku Aniza sudah memasuki gurun pasir Syria dimana mereka membentuk diri mereka menjadi suku yang sangat kuat dan sangat berpengaruh. Seorang pengelana dari Jerman yang bernama Carlsten Niehbuhr menyebutkan bahwa suku Aniza itu (pada tahun 1761) sebagai suku yang paling kuat di gurun pasir Syria. Sekarang ini suku Aniza tetap menjadi suku yang paling besar diantara suku-suku Arab lainnya dan mereka tersebar di negara Yordan, Saudi   Arabia, dan Kuwait.
Keluarga Saudi sejak dulu memang dikenal sebagai keluarga bandit—keluarga para perampok. Ini pada akhirnya menyebabkan mereka harus berhadapan dengan kekuasaan Kekhalifahan Turki Utsmaniyyah.  Karena itulah maka—ujar Schwartz: “Arab Saudi memelihara hubungan baik dan bersekutu dengan Inggris yang kemudian mengambil alih kendali atas daerah-daerah kaya di seluruh jazirah Arabia: mulai dari daerah pesisir Arab Emirat dari Kuwait hingga ke Aden.”[13]
Pada tahun 1746, aliansi Wahabi-Saudi menyatakan seluruh umat Muslim yang tidak sepakat dan tidak sepaham dengan mereka sebagai “orang-orang sesat” dan oleh karena itu wajib hukumnya melancarka “jihad” atau perang suci terhadap mereka “orang-orang sesat”. Mulailah harta benda mereka dijarah dan dirampok tanpa ampun. Setiap nyawa dari kaum Muslimin yang tidak sepakat dengan mereka menjadi tidak aman dari gangguan mereka.
Di dalam Islam, sangat diharamkan untuk menuduh sesama Muslim itu dengan tuduhan bahwa ia kafir atau murtad atau sesat. Itu adalah tuduhan yang sangat serius. Sebuah hadits menyebutkan bahwa apabila seseorang telah menuduh bahwa seorang Muslim itu telah murtad atau kafir atau sesat, maka yang dituduh dan yang menuduh sama-sama sesatnya. Akan tetapi hadits yang berisi peringatan keras seperti itu rupanya sama sekali tidak membuat Abdul Wahab takut atau segan. Abdul Wahab tetap saja secara serabutan menyebutkan bahwa siapapun yang tidak suka atau tidak sepakat atau tidak setuju dengan pemahamannya akan Islam, maka ia akan dianggap sebagai orang kafir, murtad, atau sesat.
Pada tahun 1746, bahkan sebelum ia berkongsi dengan Ibnu Saud, Abdul Wahab pernah mengirimkan sebuah delegasi berjumlah 30 orang untuk bertemu dengan seorang Syarif di kota Mekah. Abdul Wahab ingin mendapatkan restu bagi dirinya dan para pengikutnya untuk melaksanakan ibadah haji di sana. Syarif itu merasakan ada motif tersembunyi yang lain di balik permohonannya itu. Syarif merasa bahwa Abdul Wahab sebenarnya ingin menyebarkan paham Wahabi-nya yang sesat itu di kota Mekah. Oleh karena itu, ia mengatur sebuah perdebatan antara mereka dengan para ulama di kota Mekah dan Madinah pada waktu itu. Para delegasi Abdul Wahab itu gagal total untuk mempertahankan keyakinan mereka yang sesat itu dan Qadi—atau hakim ketua—di kota Mekah menyebutkan bahwa mereka itu memang telah sesat karena mereka telah menuduh orang-orang lain—walaupun sesama Muslim—sebagai orang-orang sesat.[14]


Jazirah Arab

Mulai sejak tahun itulah gerakan Wahabi itu dikenal orang sebagai gerakan yang sangat membahayakan dan jahat terhadap kaum Muslimin. Selain itu di wilayah yang sama ada pelanggaran batas yang masif oleh “orang-orang kafir” Inggris. Didorong oleh keberhasilan mereka di India, pada tahun 1755 Inggris juga membuat usaha awal untuk mendongkel Kuwait dari kekuasaan Kekhalifahan Turki Utsmaniyyah, akan tetapi usahanya tidak berhasil. 10 tahun kemudian, Muhammad Ibnu Saud meninggal dan puteranya yang bernama Abdul Aziz mulai berkuasa di Dariyyah. Selama kurun waktu 2 dekade, kaum Wahabi memperluas daerah pengaruhnya seiring dengan infiltrasi yang dilakukan oleh Inggris. Inggris mulai lagi untuk mendongkel Kuwait pada tahun 1755—pada tahun yang sama. Masuknya Inggris ke Kuwait terutama untuk melindungi pelayanan surat menyurat yang melewati kawasan itu. Inggris untuk kedua kalinya juga tidak berhasil mencaplok Kuwait. Mereka dikalahkan oleh tentara Kekhalifahan Turki Utsmaniyyah.
Di tahun berikutnya, Abdul Wahab memproklamasikan dirinya sebagai penguasa dan pemimpin bagi kaum Muslimin di seluruh dunia. Ia sengaja melakukan itu untuk menantang kekuasaan Sultan di Istanbul—Turki. Abdul Wahab juga mengumumkan “Perang Jihad” menentang kekuasaan Kekhalifahan Turki Utsmaniyyah. Dan pada tahun 1788, Abdul Aziz Ibnu Saud dengan didukung oleh kekuatan militer Inggris,  berhasil mendongkel dan menguasai Kuwait.
Pada tahun 1792, Abdul Wahab mati dan Abdul Aziz mengambil alih kendali kepemimpinan gerakan Wahabi. Di bawah kendalinya, kaum Wahabi mulai melancarkan serangan-serangan selama tiga tahun berikutnya ke kota Madinah; dan kemudian ke daerah-daerah Syria dan Irak. Pada tahun 1801, kaum Wahabi menyerang kota suci kaum Syi’ah, Karbala, di Irak. Mereka membantai ribuan penduduknya. Mereka merusak dan menjarah makam Imam Husein—cucu dari Rasulullah Muhammad SAW. Sebagai akibatnya, Abdul Aziz ada yang membunuh pada tahun 1803—ada kemungkinan dilakukan oleh seorang Syi’ah yang merasa dendam terhadapnya. Putera dari Abdul Aziz ialah Saud Ibnu Abdul Aziz dan ia kemudian menjadi penggantinya. Setelah menyerang dan meluluh-lantakkan kota Karbala, kaum Wahabi kemudian mulai menyerang kota Mekah. Gubernur Mekah yang menjadi perwakilan dari Kekhalifahan Turki Utsmaniyyah gagal untuk mengadakan perundingan damai dengan mereka. Ia melarikan diri ke sebuah benteng yang terletak di kota Taif. Ia dikejar-kejar oleh sekitar 10,000 orang Wahabi untuk dibunuh.
Akhirnya kaum Wahabi berhasil menaklukan kota Taif. Mereka kemudian mulai merusak segala sesuatu yang ada di sana. Mereka menghancurkan makam-makam dan kompleks pekuburan. Mereka juga merusak masjid-mesjid dan sekolah-sekolah Madrasah. Bahkan mereka lebih gila lagi: mereka mencabuti jilid-jilid dan pembungkus Al-Qur’an yang terbuat dari bahan kulit bermutu tinggi dan menjadikan sandal-sandal yang kemudian mereka pakai. Al-Zahawi—seorang sejarawan Islam yang hidup pada waktu itu—menuliskan sebagai berikut:
“Mereka membunuh setiap orang yang tampak di hadapan mata mereka. Mereka membantai anak-anak dan orang dewasa; baik seorang pemimpin maupun seorang rakyat jelata; baik yang baru lahir maupun yang sudah tumbuh remaja. Mereka mulai membunuh para bayi yang sedang menyusu pada ibunya dan mereka juga membunuhi orang-orang yang sedang belajar Al-Qur’an. Mereka menyembelih orang-orang yang tak berdosa dan tak bersenjata hingga tak ada yang tersisa. Dan setelah mereka menyingkirkan semua orang-orang yang sedang berada di rumahnya masing-masing, mereka kemudian mulai keluar dan turun ke jalan-jalan. Mereka memasuki toko-toko dan pasar dan juga masjid-mesjid dan membunuhi siapapun yang ada di sana. Mereka bahkan tega sekali membunuh seseorang yang sedang melakukan ruku’ dalam shalatnya. Mereka akhirnya berhasil membunuhi semua Muslim yang tinggal di kota Taif. Hanya beberapa gelintir saja dari mereka yang masih sempat hidup. Kurang lebih hanya ada 20 orang yang selamat.”
“Mereka yang masih selamat tersudutkan di Bait al-Fitni dengan persenjataan atau amunisi mereka dan mereka aman dari ancaman kaum Wahabi. Ada satu kelompok orang lagi di Bait al-Far berjumlah 270 orang yang melawan pada hari itu; selain itu ada kelompok kedua dan ketiga. Kaum Wahabi mengirimkan seorang utusan untuk memberikan garansi kepada mereka bahwa mereka akan mendapatkan pengampunan. Akan tetapi ini sebenarnya hanya akal-akalan kaum Wahabi saja karena ketika kaum Wahabi itu memasuki daerah perlindungan mereka, kaum Wahabi itu mulai merampas senjata mereka dan membantai mereka satu per satu hingga tersisa satu orang saja. Kaum Wahabi juga membujuk yang lainnya agar bertekuk lutut dengan jaminan keamanan dan pengampunan. Yang menyerahkan diri kemudian dibawa ke lembah Waj dan kaum Wahabi itu kemudian meninggalkan mereka di sana kedinginan dalam salju dan bertelanjang kaki, telanjang bulat dan tidak bisa menyembunyikan diri mereka dari kaum wanita. Mereka biasanya sangat tertutup dan sopan sekali karena menjunjung aturan agama akan tetapi hari itu mereka harus menanggalkan itu semua. Kaum Wahabi itu kemudian merampas semua harta benda mereka—apapun bentuknya, juga merampas peralatan rumah tangga, perhiasan dan uang tunai”
“Mereka membuang buku-buku ke jalanan, ke gang-gang agar rusak dan sobek serta lembarannya berhamburan ke sana kemari oleh angin. Sebagian dari buku-buku yang dilemparkan ke jalanan itu ialah mushaf Al-Qur’an; kitab-kitab Bukhari dan Muslim atau kitab-kitab hadits shahih lainnya; juga kitab-kitab fikih yang jumlahnya ribuan kopi. Buku-buku atau kitab-kitab yang berharga itu tercampakkan di jalanan selama beberapa hari. Sebagian besar dikotori oleh kaum Wahabi itu dengan menginjak-injaknya. Tidak ada satupun dari mereka kaum Wahabi itu yang berusaha untuk memisahkan kitab Al-Qur’an dari kaki-kaki mereka. Mereka menganggap itu sama saja. Mereka menginjak-nginjaknya juga, tanpa ampun sama sekali. Setelah itu mereka menyasar rumah-rumah dan mengotori rumah-rumah itu dengan sampah dan kotoran. Sebelumnya tempat itu merupakan kota yang bersih; sekarang menjadi kota yang kumuh, kotor, penuh darah dan sampah.”


Mohammed Ali Pasha
Kemudian kaum Wahabi itu memasuki kota suci Mekah. Ghalib—penjaga dari kota itu—berusaha untuk mengusir mereka, akan tetapi kaum Wahabi itu berbalik menyerang kota lainnya yaitu kota Madinah. Saud Ibn Abdul Aziz berteriak kepada orang-orang di sana:
“Tidak ada kata lain bagi kalian selain menyerahkan diri. Aku akan buat kalian menangis keras dan kemudian lenyap seperti yang aku pernah lakukan kepada para penduduk kota Taif.”
Di kota Madinah, mereka menjarah harta Rasulullah termasuk kitab-kitab berharga; karya-karya seni; dan peninggalan-peninggalan bersejarah lainnya yang sangat berharga dan sudah dikumpulkan dan dilindungi selama seribu tahun lebih. Akhirnya setelah mereka berhasil menguasai dua kota suci ini, mereka memperkenalkan Islam versi baru (yang belum pernah dikenal dalam sejarah sebelumnya). Islam yang melarang orang-orang yang hendak melakukan haji; Islam yang menyuruh orang-orang untuk menutupi Ka’bah dengan kain hitam yang kasar; Islam yang memerintahkan untuk penghancuran kota-kota suci dan makam-makam suci bersejarah.
Kejahatan Wahabi terhadap kekhalifahan Turki Utsmaniyyah berlanjut. Mereka tetap menjadi pelayan pemerintah Inggris yang sejati. Selama masa ini, pemerintah Inggris memerankan diri sebagai rekanan di wilayah Arab Tenggara, di negara Oman, Zanzibar (Afrika), dan beberapa wilayah di Iran serta beberapa pesisir pantai di negara-negara tetangga. Inggris juga memperluas pengaruhnya ke sebelah utara ke wilayah Uni Emirat Arab. Pemerintah Inggris juga merampas kendali dari Aden yang terletak di pantai selatan Yaman. Meskipun Inggris itu benar-benar penjajah dan meskipun Inggris itu menjarah negara-negara atau wilayah-wilayah yang notabene merupakan wilayah kaum Muslimin, kaum Wahabi sama sekali tidak peduli. Mereka asyik sendiri. Mereka asyik dengan “Jihad”-nya sendiri. Jihad untuk memerangi kaum Muslimin yang menurut mereka sesat dan kafir walaupun pada kenyataannya hanya berbeda pendapat dengan kaum Wahabi atas pemahaman Islam.
Kaum Wahabi tetap melakukan tindak kekerasan yang teramat sadis di seluruh jazirah Arabia hingga tahun 1811—sampai saat Muhammad Ali Pasha—seorang raja muda dari Mesir—dimohon oleh Kekhaliafahan Turki Utsmani untuk menegur kaum Wahabi. Ia menunjuk puteranya Komandan Tosun Pasha akan tetapi tentaranya dikalahkan dan dihancurkan. Ali Pasha kemudian mengambil alih komando, dan di tahun 1812 ia berhasil menyapu seluruh jazirah Arabia menghapuskan masalah-masalah yang ditimbulkan oleh kaum Wahabi. Dua orang Wahabi fanatis yang paling kejam yang bernama Utsman al-Mudayiqi dan Mubarak Ibn Maghyan dikirimkan ke Istanbul. Mereka berdua diarak di sepanjang jalan hingga kemudian mereka akhirnya dihukum mati.
Ali Pasha juga mengirimkan tentara dibawah komando putera keduanya, Ibrahim Pasha untuk mengusir kaum Wahabi dari Syria, Irak, dan Kuwait. Bangsa Arab yang sudah menderita di bawah kaki orang-orang Wahabi sekarang berontak dan bergabung dengan pasukan Ali Pasha. Pada tahun 1818, wilayah Dariyyah yang dikuasai oleh Kaum Wahabi berhasil direbut dan kemudian diluluh-lantakkan. Meskipun begitu, keluarga Saudi mendapatkan perlindungan dari pemerintah Inggris di kota Jeddah. Saud Ibn Abdul Aziz sendiri kemudian meninggal pada tahun 1814 karena demam akan tetapi putera mahkotanya Abdullah Ibn Saud dibawa ke Istanbul dan kemudian ia dihukum mati di sana bersama para begundal Wahabi lainnya. Sisa-sisa dari kaum Wahabi berhasil diusir dari kota Kairo.
Meskipun mereka mendapatkan kekalahan awal yang buruk, kaum Wahabi berhasil berkumpul lagi di Najd. Mereka membangun sebuah ibu kota yang baru di daerah Najd yang mereka berinama Riyad. Dalam beberapa dekade berikutnya, kaum Wahabi mulai untuk melakukan ekspansi wilayah lagi. Hamid Algar berujar, “Secara kebetulan hal itu menjadikan Keluarga Saud berhubungan erat dengan pemerintah Inggris yang bukan saja sedang mengkonsolidasi kekuatan di kawasan Teluk Persia melainkan juga sedang mencoba untuk mempreteli kekuasaan dan kekuatan Kekhalifahan Turki Utsmaniyyah.”



[1] Yaitu sebuah paham yang menyamakan Tuhan dengan manusia; atau mensifati Tuhan dengan sifat-sifat manusia yang jelas bertentangan dengan kemuliaan dan keagungan Tuhan menurut ajaran Islam.
[2] Rihla, mengutip dari tulisan Little, “Did Ibn Taymiyya Have a Screw Loose”, Studia Islamica xli (1975). Halaman 95.
[3] Dikutip dari tulisan Little, "Did Ibn Taymiyya Have a Screw Loose", halaman 100
[4] LIHAT: al Nasiha al Dhahabiyya li Ibn Taymiyya, dikutip dari tulisan Little, "Did Ibn Taymiyya Have a Screw Loose", halaman 100
[5] Rihla, dikutip dari Little, "Did Ibn Taymiyya Have a Screw Loose", halaman 95.
[6] Nuh Ha Mim Keller, The Re-Formers of Islam. “Question 3 Re-Forming Classical Texts”.
[7] Illuminati (bentuk plural dari bahasa Latin illuminatus, "tercerahkan") adalah nama yang diberikan kepada beberapa kelompok, baik yang nyata (historis) maupun fiktif. Secara historis, nama ini merujuk pada Illuminati Bavaria, sebuah kelompok rahasia pada Zaman Pencerahan yang didirikan pada tanggal 1 Mei tahun 1776.

Sejak diterbitkannya karya fiksi ilmiah postmodern berjudul The Illuminatus! Trilogy (1975-7) karya Robert Shea dan Robert Anton Wilson, nama Illuminati menjadi banyak digunakan untuk menunjukkan organisasi persekongkolan yang dipercaya mendalangi dan mengendalikan berbagai peristiwa di dunia melalui pemerintah dan korporasi untuk mendirikan Tatanan Dunia Baru. Dalam konteks ini, Illuminati biasanya digambarkan sebagai versi modern atau keberlanjutan dari Illuminati Bavaria.

Illuminati (bentuk plural dari bahasa Latin illuminatus, "tercerahkan") adalah nama yang diberikan kepada beberapa kelompok, baik yang nyata (historis) maupun fiktif. Secara historis, nama ini merujuk pada Illuminati Bavaria, sebuah kelompok rahasia pada Zaman Pencerahan yang didirikan pada tanggal 1 Mei tahun 1776.

Sejak diterbitkannya karya fiksi ilmiah postmodern berjudul The Illuminatus! Trilogy (1975-7) karya Robert Shea dan Robert Anton Wilson, nama Illuminati menjadi banyak digunakan untuk menunjukkan organisasi persekongkolan yang dipercaya mendalangi dan mengendalikan berbagai peristiwa di dunia melalui pemerintah dan korporasi untuk mendirikan Tatanan Dunia Baru. Dalam konteks ini, Illuminati biasanya digambarkan sebagai versi modern atau keberlanjutan dari Illuminati Bavaria.

[8] The Saudi Dynasty: From Where is it? And Who is the Real Ancestor of this Family?

[9] Mungkin mereka sisa-sisa keturunan Yahudi setelah perang Khaybar antara kaum Muslimin dan kaum Yahudi yang dimenangkan oleh Ali sendirian.

[10] Abū l-ʻAtāhiyya (أبو العتاهية, nama lengkapnya ialah Abu Isħaq Ismā'īl ibn Qāsim al-ʻAnazī إسماعيل بن القاسم (العنزي، بن سويد العيني)[1] Abu l-'Atahiyya (748-828) adalah penyair dari Arab yang lahir di 'Aynu t-Tamar, di gurun pasir Irak dekat al-Anbar. Kakek moyangnya berasal dari suku Aniza. Masa mudanya dihabiskan di kota Kufah dimana di sana ia berjualan peralatan dari tembikar. Setelah pindah ke Baghdad, ia melanjutkan bisnisnya di sana, akan tetapi ia menjadi orang yang terkenal karena ia suka menulis syair-syair yang terutama ia tujukan kepada ‘Utbah salah seorang selir dari Khalifah Abbasiyah, al-Mahdi. Cintanya tak pernah terbalas.

Ia pernah ditahan walaupun tidak lama karena ia dianggap telah menyerang kepribadian khalifah. Ia meninggal pada tahun 828M pada masa rezim pemerintahan Khalifah al-Ma’mun.

Semasa hidupnya, ia juga dikenal sebagai orang yang cenderung kepada hal-hal yang bid’ah atau sesat pada jamannya.

[11] Wicca adalah kelompok pemuja setan yang mempraktekan sihir. Sekarang menjadi agama Pagan gaya baru. Mula-mula dibuat atau dilembagakan di Inggris pada permulaan abad ke-20 kemudian diperkenalkan kepada masyarakat pada tahun  It was developed in England during the first half of the 20th century and was introduced to the public in 1954 by Gerald Gardner, a retired British civil servant. Wicca draws upon a diverse set of ancient pagan and 20th century hermetic motifs for its theological structure and ritual practice.
[12] Lucifer (alias Azazil) adalah nama yang seringkali diberikan kepada Iblis dalam keyakinan Kristen karena penafsiran tertentu atas sebuah ayat dalam Kitab Yesaya. Secara lebih khusus, diyakini bahwa inilah nama Iblis sebelum ia diusir dari surga.

[13] Two Faces of Islam, halaman 82.
[14] Algar, Hamid. Wahhabism: A Critical Essay, halaman 23.