"KEBENARAN TIDAK DITENTUKAN OLEH SEDIKIT BANYAKNYA ORANG YANG BERKATA BAHWA ITU BENAR"

Senin, 11 Juli 2016

(FREE E-Book) Imam Mahdi yang kita tunggu dalam ketaatan dan kesabaran

KLIK SAMPULNYA UNTUK MEN-DOWNLOAD


Siapakah gerangan, Imam Mahdi (as) yang kita tunggu-tunggu sepanjang jaman? Siapakah dia yang akan mengubah dunia kita yang penuh laknat dan dosa sehingga menjadi surga yang suci bersih tiada tara? Kita hanya tahu bahwa Imam zaman yang kita tunggu itu berasal dari keturunan suci sang Nabi penutup segala Nabi. Kita juga tahu dari hadits-hadits suci bahwa beliau memiliki dahi yang lebar dan hidung yang mancung. Kita tahu ia bakal menjadi pemimpin kuat yang bahkan bisa memimpin seorang Nabi (Nabi Isa as.). Kita juga sudah tahu dari dulu, ia bernama Muhammad—sama dengan nama kakek buyutnya, Muhammad al-Mustafa (SAW)—Rasulullah termulia. Kita masih harus menelaah lagi hadits-hadits shahih lainnya tentang garis keturunan dan ciri-ciri fisik dari maula kita—pemimpin kita; juru selamat umat manusia. Meskipun begitu, apa yang sudah kita miliki sekarang ini sudah sangat cukup sebagai menjadi petunjuk yang baik untuk mencari dan mengenali sang Mahdi yang kita nanti.

Sementara itu, sudah banyak orang yang mengklaim bahwa dirinyalah sang Mahdi yang ditunggu kedatangannya sepanjang sejarah Islam. Sudah banyak pula orang yang dianggap memiliki kemiripan dengan “Al-Mahdi”, meskipun orang dimaksud tidak setuju dan menentang disebut Al-Mahdi.[1]

Duhai, kapankah dikau datang, wahai Imam yang kami tunggu dan dambakan sepanjang zaman ...............




[1] Untuk mengetahui lebih jauh tentang daftar nama “para Imam Mahdi”—orang-orang dianggap sebagai Mahdi (baik sepengetahuannya maupun tanpa sepengetahuannya) atau orang-orang yang mengaku dirinya sebagai Mahdi, sebaiknya membacara referensi: Dr. ‘Abd al-‘Alim ‘Abd al-‘Azim al-Bastawi, al-Mahdi al-Muntazar fi Dhaw-i al-Ahadith wa al-Athar al-Sahihah wa Aqwal al-‘Ulama wa Ara al-Firaq al-Mukhtalifah (Beirut: Dar Ibn Hazm; Edisi Pertama, 1420 H), halaman 60-118.

Kamis, 07 Juli 2016

HADITS-HADITS AHLUL SUNNAH MENYATAKAN PERLUNYA MENGENAL IMAM ZAMAN



Menurut hadits-hadits yang shahih dari Ahlul Sunnah, setiap orang yang meninggal tanpa mengetahui seorang Imam yang diutus oleh Allah di jamannya, maka kalau ia meninggal, ia meninggal dalam keadaan jahiliyyah.

Dalam setiap penggalan jaman, pastilah ada seseorang yang diutus sebagai seorang Imam. Adalah penting sekali bagi setiap orang untuk mengenalinya, percaya kepada IMAMAH-nya dan wajib bagi dirinya untuk mengikuti Imam yang sudah ia kenali itu. Apabila seorang Muslim meninggal tanpa mengetahui Imam zamannya, maka ia akan meninggal dalam keadaan jahiliyyah.  

Hal ini sudah dinyatakan dalam berbagai hadits dari berbagai rantai sanad dan dari berbagai sumber perawi hadits yang terpercaya. Kami  yakin tidak ada satupun yang ulama yang berakal sehat yang berani meragukan “sanad” dan “matan” dari hadits-hadits ini. Hadits-hadits tersebut terekam dengan baik di dalam kitab-kitab hadits Ahlus Sunnah yang terkemuka seperti kitab Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Musnad, Sunan dan beberapa kitab hadits lainnya. Hadits-hadits tersebut dipercayai dan diyakini serta dipakai baik di kalangan Sunni maupun di kalangan Syi’ah.

Kaum Muslimin semuanya sepakat bahwa Rasulullah pernah bersabda seperti:

مَنْ مَاتَ وَلَمْ يَعْرِفْ اِمَامَ زَمَانِه مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً
“Barangsiapa yang mati tanpa sempat mengetahui Imam zamannya, maka ia mati dalam keadaan jahiliyyah.”

Hadits ini muncul dengan redaksi kata-kata yang sama di dalam berbagai kitab referensi Ahlu Sunnah. Syeikh Sa’ad al-Din Taftazani memusatkan perhatiannya untuk membahas masalah IMAMAH di dalam kitabnya yang berjudul Sharh al-Maqasi. Ia mengutip hadits tersebut di atas.[1]

Hadits ini juga muncul di berbagai kitab hadits dengan redaksi kata-kata yang sedikit berbeda, akan tetapi kami yakin bahwa hadits-hadits tersebut masih memiliki pesan yang sangat identik satu sama lainnya. Rasulullah (SAW) bermaksud untuk menyampaikan bahwa kaum Muslimin itu senantiasa memerlukan kehadiran seorang Imam di dalam kehidupannya sehari-hari untuk membimbing mereka; selain itu memang itu sudah kewajiban bagi seluruh kaum Muslimin untuk mengikuti seorang Imam dan meminta petunjuk dan bimbingan darinya (karena Imam itu—seperti halnya Nabi dan Rasul—adalah  wakil Tuhan di bumi—red.).

Dalam kitab Musnad-nya, Ahmab Ibn Hanbal mengutip sebuah hadits Rasulullah (SAW) yang bersabda:

مَنْ مَاتَ بِغَيْرِ اِماَمَ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّة
“Barangsiapa yang meninggal padahal ia belum memiliki seorang Imam, maka ia meninggal dalam keadaan jahilliyyah.”[2]

Hadits yang sama juga direkam oleh Abu Daud Tiyalisi di dalam Musnad-nya dan oleh Tabarani di dalam kitab al-Mu’ajam al-Kabir.

Ibn Hayyan di dalam Sahih-nya menuliskan:

مَنْ مَاتَ وَ لَيْثَ لَه اِماَمَ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً
“Barangsiapa yang meninggal sebelum memiliki seorang Imam, maka ia meninggal dalam keadaan jahilliyyah.”[3]

Ada juga beberapa kitab yang menuliskan hadits tersebut dengan sedikit tambahan seperti misalnya dalam hadits:

من مات ولم يعرف امام زمانه فليمت ان شاء يهوديا و ان شاء نصرانيا
“Barangsiapa yang meninggal tanpa mengetahui Imam zamannya, maka ia akan meninggal sebagai seorang Yahudi atau seorang Kristiani seperti yang ia inginkan”[4]

Sejumlah ulama sudah melaporkan hadits ini dengan redaksi kata-kata seperti itu seperti yang tertulis di dalam kitab al-Masail al-Khamsun yang ditulis oleh Fakhr Razi.

Meskipun hadits ini juga muncul dengan redaksi kata-kata yang berbeda seperti yang terdapat di dalam kitab-kitab hadits Ahlu Sunnah baik itu dalam Sahih, Sunan maupun Musnad, kami sudah merasa cukup dengan beberapa hadits yang sudah kami paparkan di sini. Sekarang, kami akan membahas “keunikan” atau “keanehan” dari kandungan hadits-hadits tersebut.

Ungkapan من مات ولم يعرف yang berarti BARANGSIAPA YANG MENINGGAL TANPA SEMPAT MENGETAHUI …. Menunjukkan bahwa IMAM yang dimaksud di dalam hadits-hadits tersebut, bukanlah sembarang Imam (atau pemimpin atau amir atau khalifah). IMAM yang ada di dalam hadits-hadits tersebut menyiratkan sebuah keyakinan akidah karena disangkut-pautkan dengan kematian (dan kehidupan) seseorang segala. IMAM yang kalau kita tidak mengenalinya akan menyebabkan kematian kita berakhir buruk.

BARANGSIAPA YANG MENINGGAL TANPA MEYAKINI SEORANG IMAM DI ZAMANNYA itu jelas menyuratkan dan menyiratkan bahwa IMAM di dalam hadits itu bukanlah Imam atau pemimpin yang kita kenal selama ini. Imam di sana bukanlah sekedar pemimpin yang ada di dalam masyarakat. Imam di sana bukanlah Imam hasil pemilihan PILKADA atau PILPRES. Imam disana bukanlah Imam yang dituakan dan diidolakan oleh masyarakat setempat. Imam yang dimaksud ialah Imam yang telah ditunjuk oleh Allah Ta’ala. Oleh karena itu, kalau kita tidak kenal dia; tidak ikut dia; tidak bermakmum padanya, kemudian kita mati ……. maka kita mati dalam keadaan tanpa petunjuk. Mati jahiliyyah.

Imam yang dimaksud bukan pemimpin politik atau pemimpin masyarakat yang wajib dikenali, dipatuhi, dan diikuti teladannya. Karena kalau kita tidak mengenali mereka sekalipun, kita tidak akan mati dalam keadaan jahiliyyah.

Imam yang dimaksud di dalam hadits-hadits Ahlu Sunnah itu adalah Imam yang dipilih, diangkat, dan ditugaskan oleh Allah (dan RasulNya). Imam yang seperti inilah yang wajib kita kenali. Imam seperti inilah yang wajib kita yakini dan patuhi. Seorang Imam yang ditelah ditunjuk dan diangkat secara hak lewat nash. Imam yang seperti inilah yang akan menjadi wakil Tuhan di bumi. Ia akan menjadi perantara antara kita dan Tuhan yang telah menciptakan kita semua.

Apabila seseorang meninggal tanpa sempat mengenali Imam yang seperti ini; tanpa sempat meyakini dan mengikuti teladan dari Imam yang seperti ini, maka wajarlah dan pantaslah kalau ia mati dalam keadaan sepi petunjuk. Wajar kalau ia mati dalam keadaan tanpa bimbingan suci dari Illahi. Wajar kalau ia mati dalam keadaan jahiliyyah.



[1] Sharh al- Maqasid, vol. 5, halaman 239.

[2] Musnad Ahmad, vol. 4, halaman 96.

[3] Sahih Ibn Hayyan,  vol. 10, halaman 434.

[4] Al-Mu”ajam al-Kabir,  vol. 19, halaman 388.

Jumat, 10 Juni 2016

DUA BELAS KHALIFAH DALAM HADITS SUNNI, ADALAH PARA UTUSAN ALLAH SEPENINGGAL NABI


JUST CLICK THE COVER OF THE BOOK TO DOWNLOAD .........



Oleh: Sayed Jamaluddin Hejazi

Apakah Allah pernah “mengutus” seseorang untuk umat ini setelah meninggalnya Rasulullah (SAW)? Tampaknya pertanyaan ini harus dijabarkan dulu kedalam 3 buah pertanyaan sebagai berikut:

  1. Apakah ada Nabi lain setelah Nabi Muhammad?
  2. Apakah Allah pernah “mengutus” orang-orang yang bukan Nabi untuk umat ini?
  3. Apabila pertanyaan nomor 2 dijawab “YA”, maka siapakah orang-orang yang bukan Nabi yang diutus untuk umat ini  setelah wafatnya Nabi?
Sungguh, tidak ada keraguan lagi kalau Muhammad bin Abdullah itu adalah Nabi dan Rasul terakhir dan tidak ada lagi Nabi yang diutus Allah ke muka bumi ini hingga akhir jaman nanti[1]. Allah berfirman di dalam Al-Qur’an:

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Ahzab: 40)

Oleh karena itu, tidak akan pernah lagi seseorang datang setelahnya dengan mengajukan nubuwwah yang baru; atau risalah yang baru; atau syari’ah yang baru; atau kitab suci yang baru. Nabi Muhammad telah diutus Allah sebagai penutup para Nabi dan Rasul bagi seluruh umat manusia hingga akhir jaman nanti[2]. Jadi, Allah sama sekali TIDAK PERNAH MENGUTUS NABI BARU untuk umat ini setelah Nabi Muhammad meninggal dunia.

Akan tetapi, meskipun begitu, setelah masa Nabi Muhammad, Allah “mengutus” paling tidak satu orang utusan yang bukan Nabi dan bukan Rasul untuk umat ini. Prof. Ibn Yasin mengutip hadits shahih berikut yang menjelaskan akan adanya orang yang dimaksud:

Al-Dhiya al-Maqdisi berkata: “Dari Abu al-Majd Zahir b. Ahmad b. Hamid b. Ahmad al-Thaqafi – Abu ‘Abd Allah al-Husayn b. ‘Abd al-Malik b. al-Husayn al-Khalal – Imam Abu al-Fadhl ‘Abd al-Rahman b. Ahmad b. al-Husayn b. Bandar al-Razi al-Muqri – Abu al-Hasan Ahmad b. Ibrahim b. Ahmad b. ‘Ali b. Faras – Abu Ja’far Muhammad b. Ibrahim al-Duyali – Abu ‘Ubayd Allah Sa’id b. ‘Abd al-Rahman al-Makhzumi – Sufyan b. ‘Uyaynah – Ibn Abi Husayn – Abu al-Tufayl yang mengatakan: “Aku dengar Ibn al-Kawa bertanya kepada ‘Ali bin Abi Thalib (as) mengenai Dzulqarnayn[3], dan kemudian ‘Ali menjawab: “Dia itu BUKAN seorang Nabi; dan ia bukan pula malaikat. Ia adalah hamba Allah yang shaleh. Ia mencintai Allah; dan Allah mencintiainya juga. Ia mencari petunjuk Allah; dan Allah membimbingnya. IA DIUTUS UNTUK UMATNYA. Akan tetapi, mereka memukulnya pada QARN-nya[4] dan kemudian ia meninggal dunia. Kemudian Allah membangkitkannya, dan oleh karena itu ia diberinama Dzul-QARNayn.”[5]

Kemudian, professor kita ini melanjutkan pembicaraannya:

“(Al-Mukhtarat 2/175, #555) dan al-Hafiz Ibn Hajar menyatakannya sebagai hadits shahih setelah menisbahkannya kepada kitab al-Mukhatarat-nya al-Hafiz al-Dhiya (al-Fath 6/383)”[6]

Kata-kata tepatnya yang diucapkan oleh al-Hafiz di dalam kitab al-Fath-nya ialah sebagai berikut:

Sufyan b. ‘Uyaynah mencatat di dalam kitab Jami’-nya dari Ibn Abi Husayn dari Abu Tufayl, dan ia menambahkan: “Ia memohon bimbingan dari Allah; dan oleh karena itu, DIA membimbingnya.” Dan di dalam kitab itu juga disebutkan: “Ia itu bukan seorang Nabi, dan ia juga bukan malaikat.” Rantai sanadnya shahih. Kami mendengarnya di dalam Ahadith al-Mukhtarat-nya al-Hafiz al-Dhiya.”[7]

Al-Hafiz menyatakan shahih rantai sanad lainnya yang lebih pendek dari Sufyan di dalam kitab-nya Jami’. Akan tetapi kemudian ia menegaskan lebih jauh bahwa apa yang kita temukan di dalam al-Ahadith al-Mukhtarat-nya al-Dhiya sebenarnya sama dengan yang dicatat oleh Sufyan di dalam kitabnya.

Dzulqarnayn, ‘alaihi al-salam, itu bukan seorang Nabi—dan ia juga bukan seorang Rasul.[8] Akan tetapi Allah “mengutusnya” untuk umatnya. Menariknya, Imam ‘Ali bin Abi Thalib (as) juga memproklamirkan dirinya sebagai seseorang yang “serupa” dengan Dzulqarnayn. At-Tabari (meninggal tahun 310H) mencatat sebuah hadits sebagai berikut:

“Dari Muhammad b. al-Muthanna – Muhammad b. Ja’far – Shu’bah – al-Qasim b. Abi Bazzah – Abu al-Tufayl, yang mengatakan: “Aku dengar ‘Ali ketika mereka menanyainya tentan Dzulqarnayn: “Apakah ia itu seorang Nabi?” Ia menjawab: “Ia itu seorang hamba Allah yang shaleh. Ia mencintai Allah dan Allah mencintainya. Ia memohon bimbingan dari Allah dan DIA membimbingnya. Kemudian, Allah MENGUTUS nya kepada kaumnya. Akan tetapi, mereka memukulnya dua kali di kepalanya. Oleh karena itu, ia dinamai Dzulqarnayn. Dan diantara kalian SEKARANG ada seseorang yang seperti dia.”[9]

Mengenai pemisalan tersebut di atas, Prof. Ibn Yasin mengatakan:

“Rantai sanadnya shahih”[10]

Imam Ibn Salam (meninggal tahun 224H) juga menjelaskan tentang hadits itu seperti ini:

“Aku lebih memilih penjelasan ini dibandingkan dengan yang pertama karena sebuah hadits dari ‘Ali sendiri. Hadits itu, menurut pendapatku, menjelaskan segala sesuatunya kepada kita. Di dalam hadits itu, dia (‘Ali) menyebutkan Dzulqarnayn sambil berkata, “Ia mengajak orang-orang untuk menyembah Allah, akan tetapi mereka memukulnya di kepalanya (qarn) dua kali. Dan  diantara kalian sekarang adalah yang serupa dengannya.”  Jadi, kita bisa lihat bahwa dia (‘Ali) menunjuk kepada dirinya sendiri dengan pernyataannya—Aku akan mengajak orang-orang kepada kebenaran hingga aku akan dipukul dua kali pada kepalaku. Kematianku disebabkan oleh itu.”[11]

Keadaan atau status ‘Ali yang “serupa” dengan Dzulqarnayn menyebabkan banyak sekali kesamaan yang terjadi diantara mereka berdua—terutama di dalam hal “al-Raj’ah” dan “Dakwah”. Akan tetapi di sini kami hanya akan menekankan kepada aspek dakwah saja sebagai aspek yang sama antara diri mereka berdua. Diantaranya ialah:

  1. Dzulqarnayn bukan seorang Nabi, ‘Ali juga bukan seorang Nabi
  2. Dzulqarnayn itu memohon bimbingan Allah dan Allah memberikan bimbinganNya; begitu juga ‘Ali yang memohon bimbingan Allah, dan Allah memberikan bimbinganNya
  3. Dzulqarnayn “diutus” kepada kaumnya oleh Allah. Begitu juga ‘Ali yang “diutus” kepada kaumnya oleh Allah
Sementara itu (kembali kepada pembahasan tentang 12 khalifah setelah Nabi—red.) selain Amirul Mukminin, masih ada orang-orang yang bukan Nabi yang datang sepeninggal Nabi Muhammad. Mereka juga sudah “diutus” untuk umat ini. Abu Daud (meninggal tahun 275H) mencatat secara jelas sebuah hadits yang berkenaan dengan hal ini:

“Dari Sulayman b. Dawud al-Mahri – Ibn Wahb – Sa’id b. Abi Ayub – Sharahil b. Yazid al-Ma’afiri – Abu ‘Alqamah – Abu Hurayrah, yang mengatakan: “Dari apa yang aku dengar dari Rasulullah (SAW), beliau mengatakan, “Sesungguhnya Allah MENGUTUS untuk umat ini, setiap seratus tahun, seseorang yang memperbaharui agama ini.”[12]

 ‘Allamah al-Albani (meninggal tahun 1420 H) berkomentar: “Itu shahih”[13]

Al-Hakim (meninggal tahun 403 H) juga memiliki hadits yang kurang lebih sama—akan tetapi malah jauh lebih jelas. Haditsnya sebagai berikut:

“Dari Abu al-‘Abbas Muhammad b. Ya’qub – al-Rabi’ b. Sulayman b. Kamil al-Muradi – ‘Abd Allah b. Wahb – Sa’id b. Abi Ayub – Sharahil b. Yazid – Abu ‘Alqamah – Abu Hurayrah, semoga Allah meridhoinya, yang mengatakan: “Aku tidak mendapati ini kecuali dari Rasulullah (SAW) dimana beliau berkata, “Sesungguhnya, Allah MENGUTUS untuk kaumnya, di awal setiap seratus tahun, seseorang yang akan memperbaharui agama ini.”[14]

Al-Albani memberikan pernyataan berkenaan dengan hadits ini di dalam kitabnya Shahihah. Pernyataannya sebagai berikut:

“Rantai sanad dari hadits ini shahih. Para perawinya semuanya tsiqah (bisa dipercaya); semuanya perawi yang dikutip di dalam (Shahih) Muslim.”[15]

Siapakah orang-orang ini yang sudah “DIANGKAT” dan “DIUTUS” untuk umat ini oleh Allah? Saudara kita dari Ahlu Sunnah biasanya malah berdebat satu sama lainnya dan kebingungan menentukan siapakah 12 orang khalifah yang disebutkan oleh Nabi akan memimpin umat ini. Kaum Ahlu Sunnah tidak pernah sepakat mengenai nama-nama orang-orang yang dimaksud. Itu sangat ironis mengingat ke dua belas khalifah itulah yang nantinya akan membimbing kita semua di dalam kehidupan ini. Lebih ironis lagi ketika para ulama ternama (seperti al-Ghazali (meninggal tahun 505H); Syaikh Ibnu Taymiah (meninggal tahun 728H); al-Hafiz al-‘Asqalani (meninggal tahun 852H); dan ‘Allamah al-Albani) menyebutkan beberapa nama tetapi tidak seorangpun dari nama-nama yang disebutkan oleh mereka itu pernah mengaku “DIANGKAT” dan “DIUTUS” oleh Allah. Jadi nama-nama itu bukanlah termasuk 12 khalifah yang dimaksud oleh Nabi.

Apa sebenarnya yang dimaksud dengan “diutus setiap seratus tahun” untuk membersihkan Islam dari bid’ah-bid’ah dan kesalah-pahaman? Apakah memang benar-benar tiap seratus tahun sekali? Ataukah hanya ungkapann metafora saja untuk menunjukkan betapa seringnya kedatangannya itu. Selain itu, apakah “seratus tahun” itu waktu yang tepat? Apakah itu waktu yang penting untuk memulai sesuatu atau mengakhiri sesuatu? Apakah ada beberapa orang yang bisa hidup hingga seratus tahun? Apa yang terjadi kalau salah seorang dari mereka ternyata bisa hidup lebih dari seratus tahun? Apakah ia harus dibebas-tugaskan dari tugas kekhalifahan? Apakah ia harus pensiun atau dipensiunkan? Atau apakah ia akan diberi perpanjangan waktu untuk bertugas lebih lama? Lalu apa yang akan terjadi kalau ia misalnya meninggal atau terbunuh sebelum seratus tahun? Atau bagaimana kalau ia hanya berdakwah hingga satu tahun saja atau beberapa tahun saja? Kalau itu terjadi, siapa yang akan menggantikannya? Apakah “orang-orang seperti itu” pernah bertentangan satu sama lainnya dalam permasalahan agama? Karena “DUA BELAS KHALIFAH” ini adalah utusan Allah (yang bukan Nabi); karena mereka ini DIANGKAT dan DIUTUS oleh Allah, apa yang akan terjadi pada orang-orang yang tidak mau mengikuti mereka? Apakah orang-orang itu tetap Muslim? Apakah mereka menjadi kafir?

Pertanyaan-pertanyaan di atas adalah pertanyaan-pertanyaan yang membutuhkan jawaban yang jelas.

SIAPAKAH 12 IMAM ATAU 12 KHALIFAH YANG DIMAKSUD DI DALAM HADITS-HADITS SUNNI, TAMPAKNYA MASIH MISTERI UNTUK ORANG-ORANG SUNNI SENDIRI ……………..




[1] Qur’an (QS. Al-Ahzab: 40)
[2] Qur’an 7:158, 34:28 and Qur’an 25:1
[3] “Dzulqarnayn”, secara bahasa berarti: “Dia pemilik Dua Tanduk” . Dia adalah seorang tokoh yang  disebutkan oleh Al-Qur’an. Ia digambarkan sebagai figur tokoh besar dan shaleh yang membangun dinding panjang raksasa untuk melindungi umat manusia pada waktu itu dari serangan Ya’juz dan Ma’juz

[4] Kepalanya

[5] Prof. Dr. Hikmat b. Bashir b. Yasin, Mawsu’at al-Sahih al-Masbur min al-Tafsir bi al-Mathur (Madinah: Dar al-Mathar li al-Nashr wa al-Tawzi’ wa al-Taba’at; 1st edition, 1420 H), vol. 3, p. 322

[6] Ibid

[7] Shihab al-Din Ibn Hajar al-‘Asqalani, Fath al-Bari Sharh Sahih al-Bukhari (Beirut: Dar al-Ma’rifah li al-Taba’ah wa al-Nashr; Edisi Kedua), vol. 6, halaman 271

[8] Ada ijma’ atau kesepakatan diantara para ulama bahwa untuk menjadi seorang Rasul itu, seseorang harus menjadi seorang Nabi terlebih dahulu. Kalau ia bukan seorang Nabi, maka ia juga tidak mungkin menjadi seorang Rasul. Akan tetapi tidak semua Nabi menjadi Rasul. Itulah sebabnya status Muhammad sebagai seorang Nabi juga otomatis menjadi seorang Rasul.

[9] Abu Ja’far Muhammad b. Jarir b. Yazid b. Kathir b. Ghalib al-Amuli al-Tabari, Jami al-Bayan fi Tawil al-Qur’an (Dar al-Fikr; 1415 H) [pemberi catatan kaki: Sidqi Jamil al-‘Aṭṭar], vol. 16, halaman 12-13

[10] Prof. Dr. Hikmat b. Bashir b. Yasin, Mawsu’at al-Sahih al-Masbur min al-Tafsir bi al-Mathur (Madinah: Dar al-Mathar li al-Nashr wa al-Tawzi’ wa al-Taba’at; Edisi Pertama, 1420 H), vol. 3, halaman 322

[11] Abu ‘Ubayd al-Qasim b. Salam al-Harwi, Gharib al-Hadith (Haydarabad: Majlis Dairah al-Ma’arif al-‘Uthmaniyyah; Edisi Pertama, 1385 H), vol. 3, halaman 80
[12] Abu Dawud Sulayman b. al-Ash’ath al-Sijistani al-Azdi, Sunan (Dar al-Fikr) [pemberi catatan kaki: Muhammad Nasir al-Din al-Albani], vol. 2, halaman 512, # 4291

[13] Ibid

[14] Abu ‘Abd Allah Muhammad b. ‘Abd Allah al-Hakim al-Naysaburi, al-Mustadrak ‘ala al-Sahihayn (Beirut: Dar al-Kutub al-’Ilmiyyah; Edisi Pertama, 1411 H) [pemberi catatan kaki: Mustafa ‘Abd al-Qadir ‘Aṭa], vol. 4, halaman 567, # 8592

[15] Abu ‘Abd al-Rahman Muhammad Nasir al-Din b. al-Hajj Nuh b. Tajati b. Adam al-Ashqudri al-Albani, Silsilah al-Ahadith al-Sahihah wa Shayhun min Fiqhihah wa Fawaidihah (Riyadh: Maktabah al-Ma’arif li al-Nashr wa al-Tawzi’; Edisi Pertama, 1415 H), vol. 2, halaman 148, # 599

Selasa, 07 Juni 2016

(Free E-book) MENCARI IMAM MAHDI YANG SEJATI





Oleh: Sayed Jamaluddin Hejazi

Sistem pemerintahan yang telah ditentukan di dalam Islam sebenarnya ialah sistem Khilafah. Sistem Khilafah ini dipimpin oleh seorang Khalifah—yang juga seringkali disebut sebagai Imam atau Amir. Ia memimpin seumur hidupnya dan ia mewakili Allah (SWT) dan RasulNya (SAW) di muka bumi ini. Ia sebenarnya sama dengan pewaris tahta dari Nabi Ibrahim (as) yang berasal dari keturunannya yang suci. Khilafah itu tidak bisa dibatalkan dan tidak bisa ditarik kembali dan jabatannya terus berlanjut tidak terputus hingga ia meninggal dunia. 

Allah sudah menggariskan hukumNya di dalam Al-Qur’an sebagai berikut:

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia". Ibrahim berkata: "(Dan saya mohon juga) dari keturunanku". Allah berfirman: "Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang dzalim".” (QS. Al-Baqarah: 124)

Untuk menjelaskan ayat ini, al-Hafiz Ibn Katsir (meninggal tahun 774H) menyatakan: 

“Allah Ta’ala berfirman {“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia". Ibrahim berkata: "(Dan saya mohon juga) dari keturunanku". Allah berfirman: "Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang dzalim}. Ketika ia telah memenuhi kewajiban-kewajiban yang sangat berat yang telah dibebankan oleh Allah kepadanya, maka kemudian Allah menunjuknya menjadi Imam untuk umat manusia yang harus dipatuhi dan ditaati oleh manusia; yang bimbingannya harus diikuti. Ibrahim kemudian memohon kepada Allah agar IMAMAH ini diteruskan oleh keturunannya, dan tidak terputus dalam keturunannya itu turun temurun. Lalu apa yang dimohon oleh Ibrahim (as) itu DIKABULKAN oleh Allah. Ibrahim diberikan otoritas penuh atas IMAMAH akan tetapi di sisi lain orang-orang yang dzalim yang ada diantara keturunannya tidak akan mencapai khilafah itu. Khilafah itu hanya bisa menjadi milik eksklusif bagi orang-orang berilmu yang tulus dan shaleh diantara keturunannya.

SILAHKAN DOWNLOAD BUKUNYA! SELAMAT MENIKMATI DAN MEMPELAJARI!

Sabtu, 28 Mei 2016

(free e-book to download) BENARKAH KHILAFAH ITU SISTEM KEPEMIMPINAN ISLAM?


KLIK SAJA SAMPUL BUKUNYA UNTUK MEN-DOWN-LOAD


Di dunia politik, biasanya sebuah undang-undang dasar negara itu disusun terlebih dahulu sebelum negara itu terbentuk. Dan ketika negara itu akan melangsungkan pemilihan umum untuk menentukan calon pemimpinnya, maka perangkat untuk itu sudah ada sebelumnya. Undang-undang pemilu yang mengatur pemilihan harus sudah ada sebelumnya. Setiap kegiatan untuk menentukan calon dan memilih calon, mengangkat calon, memberhentikan calon, dan lain sebagainya sudah diatur dalam undang-undang itu. Kalau setiap aturan yang ada dalam undang-undang itu dipatuhi, maka itu artinya kita mematuhi undang-undang (dalam hal ini mematuhi hukum Islam); sedangkan kalau tidak mengikuti aturan itu kita dianggap membangkang dan harus dikenakan hukuman atas tindakan menyimpang itu. Belum lagi kita akan dianggap berdosa karena setiap pelanggaran hukum Islam bisa berdampak ganda. Melanggar aturan sosial dan dianggap berdosa.

Menurut Ahlu Sunnah, mengangkat khalifah itu adalah tanggung jawab dan hak umat Islam (walaupun pada hakikatnya hanya ketika mengangkat Ali lah umat diberikan hak untuk mengangkat khalifah—red). Karena Ahlu Sunnah berpendapat demikian, maka itu artinya sudah selayaknya kalau kita menyebutkan bahwa Allah dan RasulNya harus terlebih dahulu menyediakan perangkat undang-undang (lengkap dengan prosedur pemilihan khalifah dan lain-lain). Dan apabila Rasulullah belum sempat membuatnya, maka seharusnya umat sudah membuat langkah-langkah konstitusional (membuat aturan pemilihan terlebih dahulu) sebelum akhirnya memilih khalifah.[1]

Akan tetapi anehnya ini belum pernah dilakukan sama sekali! Tidak pernah di dalam sejarah disebutkan bahwa umat berembuk untuk menentukan sistem pemilihan khalifah sebelum mereka memilih khalifah. Semua serba mendadak. Semua serba kebetulan. Semua serba darurat. Itulah fakta sejarah yang menyedihkan!

Kita bisa lihat bahwa “undang-undang” atau “aturan” pemilihan tidak mengikuti aturan baku karena memang tidak pernah ada aturan baku sebelumnya! Undang-undang atau aturan pemilihan hanya mengikuti perkembangan politik terkini saat itu!

Argumen atau alasan yang paling baik yang bisa diajukan kelompok Ahlu Sunnah demi membendung keheranan dan keberatan kelompok lain ialah bahwa mengangkat khalifah itu adalah sesuatu yang sangat penting. Saking pentingnya sampai orang-orang pada waktu itu mengabaikan dan menelantarkan keawajiban untuk mengurus jenazah Nabi yang suci. Para elit politik pada waktu itu malah secara sembunyi-sembunyi pergi ke Saqifah Bani Saidah untuk menetapkan khalifah penerus kepemimpinan umat Islam. Dari titik poin ini, kelompok Ahlu Sunnah berketetapan bahwa memilih khalifah itu adalah kewajiban umat.

Akan tetapi sekali lagi mereka gagal membuktikan bahwa pemilihan khalifah di Saqifah itu adalah benar-benar pemilihan yang diketahui oleh umum (ingat! mereka bilang itu kewajiban umat!).

Kelompok pengikut Ahlul Bayt Nabi (Syi’ah) menganggap pemilihan Abu Bakar itu sebagai pemilihan ilegal dan bertentangan dengan Islam; sementara itu kelompok Ahlu Sunnah (Sunni) menganggap itu legal dan benar. Bagaimana kelompok Ahlu Sunnah bisa membuktikan bahwa klaim mereka itu benar?

Kita bisa merangkum klaim mereka dengan sebuah peribahasa:

“TINGKAHKU INI BENAR KARENA AKU TELAH MELAKUKANNYA”

Pengadilan mana yang bisa membenarkan pernyataan tersebut di atas?
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
ULASAN:

  1. Klaim Ahlu Sunnah sangat lemah untuk menyebut tiga khalifah pertama sebagai khalifah yang sah karena sistem pemilihan mereka sangat berbeda dari satu pemilihan ke pemilihan yang lainnya

  1. Kaum Ahlu Sunnah tidak bisa membuktikan bahwa ada undang-undang pemilihan sebelumnya yang akan dipakai untuk memilih khalifah

  1. Pemilihan khalifah itu bukan seperti permainan anak-anak. Ini masalah serius. Tidak mungkin aturan dibuat mendadak dan tergesa-gesa tanpa sosialisasi kepada umat. Ingat! Hasil pemilihan itu harus dipertanggung jawabkan kepada umat (ingat! Kelompok Ahlu Sunnah percaya bahwa ini hak dan kewajiban umat, jadi wajar kalau umat harus—paling tidak—diberitahu tentang ini)

  1. Perbedaan tata cara pemilihan khalifah itu menyiratkan bahwa tata cara itu illegal dan tidak mengikuti syariat Islam karena syariat Islam pastilah memberlakukan satu sistem yang baku dan tegas dan tidak pernah berubah-ubah




[1] INGAT. Memilih pemimpin itu sangat vital dan penting—lebih penting daripada mengatur orang bersin, menyikat gigi, menguap, mencukur rambut, makan dan minum dan lain-lain. Kalau Islam mengatur tata-cara bersin, menyikat gigi, menguap, mencukur rambut, makan dan minum yang tidak lebih penting daripada memilih pemimpin, maka mengapa kita tidak bisa mendapati tata-cara memilih pemimpin (khalifah) di dalam Islam (khususnya Islam Sunni)?

Rabu, 25 Mei 2016

Karena tidak suka dengan Ziarah ke makam Nabi, kaum Wahabi mengkorupsi kata-kata Nawawi—seorang ulama Sunni





Kaum Salafi/Wahabi sangat sering melakukan tindak kejahatan akademis dengan memalsukan atau mengubah-ubah kitab-kitab atau tulisan-tulisan dari saudara kita kalangan Ahlu Sunnah (Sunni). Karena menurut pemahaman mereka yang sempit, bahwa ziarah kubur itu bid’ah, maka mereka juga menolak ziarah kubur kepada Makam Nabi Suci Muhammad (SAW). Mereka malah menyebut ziarah kubur itu sebagai bentuk penyembahan (bentuk kemusyrikan—menduakan Allah Ta’ala). Ini tidak mengherankan sama sekali karena mereka memang termasuk kaum NAWASIB (kelompok orang yang suka memusuhi Nabi dan keluarga Nabi). Anda mungkin sekali akan terkejut melihat bagaimana mereka memalsukan sebuah kitab dari seorang ulama Sunni ternama yaitu Imam al-Nawawi (631H—676H), agar kitab itu bisa mendukung ajaran mereka yang sesat!
Imam al-Nawawi di dalam kitab-nya Al-Adhkar (Dar Ibn Katsir: Damaskus, Beirut), edisi pertama, yang diberi keterangan oleh Muhyi al-Din Muttaqi, halaman 333, menuliskan:

فصل في زيارة قبر رسول اللّه وأذكارها
اعلم أنّه ينبغي لكلّ من حجّ أن يتوجّه إلى زيارة رسول اللّه، سواء أكان ذلك في طريقه أم لم يكن، فانّ زيارته من أهمّ القربات وأربح المساعي وأفضل الطلبات، فإذا توجّه للزيارة أكثَرَ من الصلاة عليه في طريقه، فإذا وقع بصره على أشجار المدينة وقُراها وما يعرّف بها، زاد من الصلاة والتسليم عليه، وسأل اللّه تعالى أن ينفعه بزيارته وأن يسعده بها في الدارين.
وليقل: اللَّهُمَّ افْتَحْ عَليَّ أبْوابَ رَحمَتِكَ وَارْزُقْني في زيارَة قَبْرِ نَبِيِّك  ما رَزَقْتَهُ أولِياءَكَ وَأهْل طاعَتِكَ وَاْغْفِر لي وَارْحَمْني يا خَيْرَ مَسْؤول.

TENTANG MENGUNJUNGI MAKAM NABI DAN DO’A-DO’A YANG DIPANJATKAN KETIKA BERZIARAH KE SANA
Ketahuilah bahwa telah diwajibkan bagi setiap jema’ah yang pergi dan mengunjungi makam Nabi, baik itu ia sedang menuju kesana atau tidak. Sesungguhnya, mengunjungi Nabi itu adalah salah satu bentuk perbuatan yang penting sekali yang bisa mendekatkan diri seseorang kepada Allah; sekaligus mendatangkan keberkahan bagi pelakunya. Ketika seseorang melangkahkan kakinya untuk mengunjungi makam Nabi (SAW), maka biarkanlah ia mendapatkan keberkahan di sepanjang jalan yang ia lalui. Ketika ia bisa melihat pepohonan di kota Madinah, maka ia akan mendapatkan lebih banyak lagi keberkahan. Ia diharuskan memohon kepada Allah melalui ziarah kepadanya (kepada Nabi) dan memohonkan kemenangan di dua dunia[1] karenanya.
Ia harus berdo’a: “Ya, Allah! Bukakanlah bagiku pintu-pintu ma’afMu! Dan sediakanlah bagiku melalui ziarah ke makam Nabi ini apa-apa telah engkau sediakan untuk kekasih-kekasihMu dan hamba-hambaMu. Dan ampunilah aku; sayangilah aku, wahai Engkau sebaik-baik tempat untuk meminta bagi orang-orang yang sedang membutuhkan.

Di dalam kitab yang sama yaitu kitab Al-Adhkar, yang ditulis oleh orang yang sama yaitu Imam al-Nawawi, tapi diterbitkan di Saudi Arabia, oleh Dar al-Huda, Riyadh, edisi kedua, tahun 1408H,dan diberi keterangan oleh Abd al-Qadir al-Arnaut, di halaman 295, maka inilah yang bisa kita baca di dalam kitab yang sudah dikorup oleh kaum Salafi/Wahabi  itu:

فصل في زيارة مسجد رسول اللّه
«اعلم انّه يُستحب لمن أراد زيارة مسجد رسول اللّه أن يكثر من الصلاة عليه في طريقه، فإذا وقع بصره على أشجار المدينة وحرمها وما يعرّف بها، زاد من الصلاة والتسليم عليه وسأل اللّه تعالى أن ينفعه بزيارته لمسجده وأن يُسعده بها في الدارين وليقل:
اللّهمّ افتَحْ عَليَّ أبْواب رَحْمَتِكَ، وَارزُقْني فِي زيارَةِ مَسْجِدِ نبيّك ما رَزَقْته أولياءك وَ أهل طاعَتِكَ ، واغفر لي وَارحَمْني يا خَيرَ مَسْؤول.

TENTANG MENGUNJUNGI MESJID NABI[2] 
Ketahuilah bahwa disarankan bagi siapa saja yang ingin mengunjungi masjid Nabi untuk memohonkan keberkahan untuknya ketika sedang dalam perjalanan menuju ke sana. Dan ketika ia melihat pepohonan kota Madinah dan perbatasan kota, maka ia boleh memohon keberkahan lebih banyak dan menyampaikan salam kepadanya (kepada Rasulullah) . ia harus memohon kepada Allah agar ia mendapatkan keberkahan melalui ziarah kepada masjid dan memohon agar diberikan kemenangan di dunia maupun akhirat.
Ia harus berdo’a: “Ya, Allah! Bukakanlah pintu ma’afMu dan berikanlah kepadaku dari ziarah kepada masjid NabiMu, apa-apa telah engkau sediakan untuk kekasih-kekasihMu dan hamba-hambaMu. Dan ampunilah aku; sayangilah aku, wahai Engkau sebaik-baik tempat untuk meminta bagi orang-orang yang sedang membutuhkan.
Lihatlah perubahan yang telah mereka buat! Itu adalah sebuah kejahatan akademis yang melecehkan dunia ilmiah. Karya Imam Nawawi telah diubah begitu rupa hanya untuk mewadahi keyakinan mereka yang keliru!
Ziarah kepada Nabi yang mulia dan suci, digantikan dengan ziarah kepada masjid Nabi yang kemuliaannya tidak akan pernah melampaui kemuliaan Nabi. Mesjid itu memperoleh kemuliaan karena ia pernah dibangun oleh Nabi. Tanpa ada embel-embel Nabi, masjid Nabi itu akan sama saja dengan masjid lainnya.
Sebuah Sunni website juga telah mengkonfirmasi perubahan yang telah dilakukan atas tulisan Imam Nawawi ini. Kita bisa baca di sana sebagai berikut:
Mengenai Shaykh `Abd al-Qadir al-Arna'ut, aku melihat yang berikut ini di dalam sebuah buku kecil yang ditulis oleh Hassan Ibn ‘Ali al-Saqqaf yang diberijudul:  “al-Ighatsa bi adillat al-istighatsa”[Amman: Maktabat al-Imam Nawawi, 1410/1990, halaman 17]:
"Ini adalah tulisan asli [ghayr munharif] dari tulisannya Imam Nawawi dalam Kitab Jema’ah yang merupakan sebuah bagian dari sebuah kitab yang lebih besar lagi yang berjudul “Kitab al-Adhkar” [Kitab tentang do’a dan shalat], menurut manuskrip aslinya yang pernah diterbitkan (cf. Dar al-Fikr di Damaskus, halaman 306). Ibn ‘Allan memberikan komentarnya terhadap Kitab al-Adhkar itu sebagai berikut:
TENTANG MENGUNJUNGI MAKAM NABI (Qubr) DAN DO’A-DO’A YANG DIPANJATKAN KETIKA BERZIARAH KE SANA
Ketahuilah bahwa telah diwajibkan bagi setiap jema’ah (yanbaghi) yang pergi dan mengunjungi makam Nabi, baik itu ia sedang menuju kesana atau tidak. Sesungguhnya, mengunjungi Nabi itu adalah salah satu bentuk perbuatan yang penting sekali yang bisa mendekatkan diri (quburat) seseorang kepada Allah; sekaligus mendatangkan keberkahan bagi pelakunya. Ketika seseorang melangkahkan kakinya untuk mengunjungi makam Nabi (SAW), maka biarkanlah ia mendapatkan keberkahan di sepanjang jalan yang ia lalui. Ketika ia bisa melihat pepohonan di kota Madinah, maka ia akan mendapatkan lebih banyak lagi keberkahan…”
“Sementara itu di bawah ini kami sajikan tulisan Imam Nawawi di halaman yang sama dalam kitab tersebut akan tetapi telah dikorup oleh kaum Salafi/Wahabi. Tulisan itu telah dikorup oleh seorang Salafi/Wahabi bernama Abdul Qadir al-Arna’ut [al-mutamaslif] ….. di dalam edisi terbitan Dar al-Huda, Riyadh, 1409/1989. Terbitan itu disponsori oleh Supervisory Board for Publications, yang diketuai oleh Authority for Scholarly Research and Ifta, halaman 295, sebagai berikut:
TENTANG MENGUNJUNGI MESJID NABI
Ketahuilah bahwa disarankan [yustahab] bagi siapa saja yang ingin mengunjungi masjid Nabi untuk memohonkan keberkahan untuknya ketika sedang dalam perjalanan menuju ke sana. Dan ketika ia melihat pepohonan kota Madinah dan perbatasan kota, maka ia boleh memohon keberkahan lebih banyak ……”

“Kemudian editor yang bersekte Salafi/Wahabi itu melakukan tindakan yang lebih jauh lagi dengan menghapuskan catatan al-‘Utbiy yang dilaporkan oleh al-Nawawi [pada bagian akhir dari bagian ini], karena menurutnya bertentangan dengan pemahaman asli mereka [pemahaman Salafi/Wahabi]. Bagaimana menurut anda? Bukankah ini pantas disebut dengan pelacuran akademis? Bukankah apa yang dia lakukan itu sama sekali tidak ada gunanya dalam dunia ilmiah? Bukankah yang ia lakukan itu akan malah melecehkan dan menghancurkan dunia ilmiah? Ia sebenarnya bisa saja memberikan komentar saja atau menolaknya saja tanpa harus mengubah-ubah apa yang sudah dituliskan oleh orang lain. Ia tidak usah mengubah-ubah atau mengkorupsi hasil karya orang lain yang menyebabkan kaum Muslimin menjadi kebingungan dan ragu-ragu terhadap tulisan-tulisan para ulama terdahulu yang sebenarnya merupakan warisan tak ternilai di dalam khasanah ilmu keIslaman. Kalau kaum Salafi/Wahabi terus menerus melakukan korupsi terhadap tulisan-tulisan para ulama terdahulu, maka kaum Muslimin bisa saja akan meragukan semua tulisan yang ada yang pernah diwariskan oleh para ulama terdahulu.” (akhir tulisan Saqqaf).

Berikut adalah kisah al-‘Utbiy yang tertulis di dalam kitabnya Imam al-Nawawi:
"Al-‘Utbiy berkata: “Ketika aku sedang duduk di samping makam Rasulullah (SAW), seorang Arab Baduy datang kepadaku seraya berkata: ‘Salamun ‘Alaykum, ya Rasulullah! Aku telah mendengar bahwa Allah pernah berfirman: “… Sesungguhnya jika mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.”(QS. An-Nisaa: 64) oleh karena itu, aku datang kepadamu untuk memohonkan ampun (kepada Allah) atas dosa-dosaku. Aku memohon syafa’atmu untuk Tuhanku (mustasyfi’an bika ila rabbi).” Kemudian setelah itu ia membacakan sebuah sya’ir puisi:

“Wahai engkau sebaik-baiknya tulang belulang yang terkubur di dalam tanah
Dan wewangianmu yang harum semerbak menjulang tinggi ke segala arah
Bolehlah kiranya hamba mengurbankan diri,  demi kubur yang engkau huni
Dimana kesucian, karunia Illahi, menawarkan kasih sayang dan kemurahan hati!”

Kemudian setelah itu ia pergi, dan aku dalam keadaan setengah sadar setengah tertidur melihat Rasulullah (SAW) di dalam mimpiku. Ia berkata kepadaku:
“Wahai Utbiy, larilah dan kejarlah orang Baduy itu; dan beritahulah kepadanya kebahagiaan yang telah Allah berikan kepadanya.” Dan Allah yang maha-kuasa maha-tahu akan segala sesuatu”
(LIHAT: al-Nawawi, Kitab al-Adhkar (Mekah: al-Maktaba al-Tijariyya, 1412/1992; halaman 253—254)

Sebuah Sunni website lainnya pernah membuat SCAN dari tulisan Imam al-Nawawi yang belum mengalami perubahan (korupsi)!
Jadi, sekarang kita dihadapkan kepada sebuah permasalahan yang cukup memusingkan. Kalau kita mencoba meyakinkan kaum Salafi/Wahabi tentang pentingnya ziarah kepada Nabi dengan menggunakan kitab al-Adhkar karya Imam al-Nawawi sebagai hujjah-nya; maka orang-orang Salafi/Wahabi lainnya akan menyerang kita dengan membawakan kitab al-Adhkar yang sudah mereka ubah-ubah. Orang-orang yang melihat dan menyaksikan akan kebingungan dibuatnya!
Begitulah cara kaum Salafi (dan juga Sunni pada umumnya) berdusta dan mengubah-ubah karya para ulamanya!


Wallahu ‘alam




[1] Dunia fana dan Akhirat
[2] Jadi kata-kata KUBURAN NABI diubah menjadi MESJID NABI, karena kaum Salafi/Wahabi mengharamkan ziarah ke makam Nabi