"KEBENARAN TIDAK DITENTUKAN OLEH SEDIKIT BANYAKNYA ORANG YANG BERKATA BAHWA ITU BENAR"

Jumat, 16 Mei 2014

FREE E-BOOK: “Saudi dan Israel bersatu melawan Iran dan Palestina”

 

JUST CLICK TO DOWNLOAD!

Saudi dan Israel bersatu melawan Iran dan Palestina

Oleh: Ramtanu Maitra


“Yang kami inginkan bukanlah sebuah Negara besar ARABIA bersatu melainkan sebuah kawasan ARABIA yang berpecah belah kedalam kerajaan-kerajaan kecil dibawah kekuasaan kerajaan kami yang besar.”

(1st Earl of Crewe, Menteri Sekretaris Negara Inggris Raya untuk daerah-daerah jajahan Inggris—1914)

“Yang mulia melihat dengan penuh suka cita setiap perkembangan di daerah Palestina yang akan dijadikan rumah kampung halaman bagi kaum Yahudi, dan ia akan menggunakan segenap daya upayanya untuk memudahkan pencapaian rencana ini. Kami paham bahwa kami tidak boleh melakukan apapun yang bisa membuat rakyat sipil dan kaum agamawan curiga karena adanya orang-orang non-Yahudi berkeliaran di Palestina. Kami juga berusaha agar orang-orang tidak curiga dengan diberikannya hak-hak istimewa dan status politik khusus yang hanya dinikmati oleh kaum Yahudi di negara-negara lain.”

(Arthur James Balfour, Sekretaris Luar Negeri Inggris, dalam sebuah suratnya kepada Lord Rothschild, 1917)

Penjajah Inggris memandang perlu untuk membentuk sebuah panitia utama berisikan 7 negara Eropa. Sebuah laporan penting yang diserahkan pada tahun 1907 kepada Perdana Menteri Inggris Sir Henry Campbell-Bannerman menekankan bahwa negara-negara Arab dan orang-orang Arab-Muslim yang tinggal di daerah kekuasaan Ottoman (kekhalifahan Utsmaniyah) bisa memberikan ancaman serius kepada negara-negara Eropa; dan oleh karena itu diperlukan usaha-usaha sebagai berikut:

1. Mereka harus dipecah-belah; dipisah-pisah; dan kemudian diberikan batasan-batasan satu sama lainnya di kawasan yang sama.

2. Berikan kepada mereka identitas politis buatan yang diletakkan di bawah kekuasaan negara-negara imprealis.

3. Memberangus segala bentuk persatuan atau organisasi, apapun namanya dan alasannya—baik itu organisasi intelektual, keagamaan, atau organisasi yang dibentuk atas alasan historis—dan selain itu harus dilakukan usaha-usaha untuk memecah belah para penduduk yang tinggal di kawasan itu.

4. Untuk mencapai semua ini diperlukan sebuah “buffer state” atau negara penyangga yang didirikan di Palestina; dihuni oleh orang-orang asing yang memiliki kekuatan yang tidak bermurah hati atau tidak ramah kepada para tetangganya dan sebaliknya sangat ramah dan bersahabat kepada orang-orang yang datang dari negara-negara Eropa dan mendukung segala kepentingan mereka.

(Dari sebuah Laporan untuk Campbell-Bannerman,1907)

Setelah itu lahirlah negara Israel di tanah Palestina yang keberadaannya itu tidak lepas dari peran Saudi Arabia. Saudi Arabia berperan besar atas lahirnya negara Israel; dan oleh karena itu maka Saudi dan Israel akan senantiasa tampak mesra. Ketika Gaza dibombardir dan kocar-kacir, Saudi malah memenjarakan seorang ulama yang menyatakan perasaan simpatinya kepada rakyat Gaza. Ketika Iran berhasil mengembangkan nuklirnya untuk tujuan damai, Saudi dan Israel ketakutan dan merasa bersalah. Padahal nuklir Iran bukan untuk perang melainkan untuk energi negaranya sendiri. Sebagai warga dunia, Iran memiliki hak untuk mengembangkan nuklirnya. Saudi dan Israel sedang merencanakan perang besar dengan target utama IRAN. Dengan bantuan Amerika dan negara-negara sekutunya………….tampaknya usaha itu tinggal menunggu waktu. Sementara Gaza Palestina hanya dijadikan uji coba senjata, sebelum mereka benar-benar menyerang negara yang mereka semua takuti yaitu IRAN!!!

Jumat, 25 April 2014

(Free E-Book) Khalid bin Walid: Pahlawan Perang atau Penjahat Perang?


Khalid bin Walid penjahat perang

“Sejarah itu selalu ditulis oleh para pemenang perang untuk kemudian dijadikan doktrin yang diajarkan di sekolah-sekolah agar anak cucunya tetap memuja-mujinya dan menghormatinya. Padahal seringkali pemenang perang adalah mereka yang tega berbuat curang dan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Sejarah yang sejati dan hakiki seringkali ada di lubuk hati mereka-mereka yang tertindas dan tidak punya kekuatan serta kekuasaan untuk menjadikan kisahnya sebagai bahan ajaran di sekolah-sekolah yang kurikulumnya diatur dan diawasi secara ketat oleh para tiran”


Karena para pemenang perang itu seringkali datang dari golongan para tiran yang dzalim, maka sejarah dunia lebih sering menceritakan tentang para tiran sebagai sosok kebaikan. Hanya para tiran dan orang-orang jahat yang tega berbuat curang untuk menang dalam perang. Dan hanya orang-orang tiran dan jahat yang seringkali menuliskan sejarah untuk menghapus jejak kejahatannya.

Di masa sekarang mereka mencoba untuk mengubah masa lalu agar mereka hidup tenteram di masa yang akan datang.

Tapi para pencari kebenaran tidak akan pernah puas membaca kitab-kitab sejarah yang ditulis oleh para tiran itu. Mereka senantiasa melihat “kecurangan” dan “kebohongan” dalam setiap penggalan sejarah yang dituliskan oleh para tiran. Sudah waktunya sejarah yang benar ditampakkan agar keturunan kita mendapatkan kebenaran sebagai satu-satunya jalan kehidupan!

Senin, 07 April 2014

Biarkan Hadits Nabi dan Ayat suci Qur’ani berkata jujur tentang Para Sahabat Nabi

 

KLIK SAJA GAMBAR SAMPUL E-BOOK DI BAWAH INI UNTUK MEN-DOWNLOAD

Biarkan ayat suci qur'ani dan hadits nabi berkata jujur tentang para sahabat nabi

Sikap berlebihan dalam memuja dan memuji para sahabat Nabi dapat membutakan pikiran dan menyesatkan kita dari petunjuk kebenaran. Mengapa bisa begitu? Karena para sahabat Nabi—siapapun dia—adalah orang-orang yang tidak pernah mendapatkan jaminan kema’shuman (keterjagaan dari berbuat dosa) dari Allah. Kalau ada jaminan tentang kesalehan dan kejujuran para sahabat, maka itu datangnya dari saudara-saudara kita dari kelompok Ahlu Sunnah wal Jama’ah dan bukan dari Allah Ta’ala.

Ketika kita mengikuti orang yang tidak ma’shum, maka kemungkinan kita akan tersesat dan jauh dari petunjuk itu sama besarnya dengan kemungkinan untuk mendapatkan petunjuk. Jadi peluangnya hanya 50 persen saja. Itu mirip-mirip perjudian, padahal hidup kita dan mati kita tergantung dari petunjuk yang kita ikuti.

Mengikuti teladan para sahabat Nabi tentu saja tidak salah. Akan tetapi menganggap mereka seperti malaikat; menganggap mereka semua jujur dan adil dan takkan mungkin berbuat salah adalah sebuah kesalahan dan sikap yang keterlaluan.

Para sahabat Nabi—seperti dalam sejarah—terbukti sama saja dengan manusia lainnya. Mereka banyak yang berbuat salah dan sebagian malah berbuat terlalu salah. Sebagian lain suka menyakiti Nabi. Sebagian yang lain suka menyembunyikan keyakinan asli mereka yang bertentangan dengan Islam sampai Nabi pun tidak tahu bahwa mereka itu orang-orang munafik. Kita tahu bahwa seorang sahabat Nabi itu pantas kita ikuti atau tidak dengan melihat track record atau sejarah hidup mereka. Oleh karena itu, pembahasan tentang para sahabat mana yang jujur dan mana yang pendusta; mana yang saleh dan mana yang salah; mana yang amanat dan mana yang khianat, menjadi sangat diperlukan.

Kita menerima Islam lewat para sahabat Nabi. Kita menerima Islam lewat hadits-hadits yang direkam dalam ingatan dan dituliskan lewat buku-buku dan lembaran lainnya oleh para sahabat Nabi. Kalau sahabat yang kita teladani itu kebetulan sahabat Nabi yang setia dan patuh serta taat kepada Rasulullah, maka kita kemungkinan akan mendapatkan petunjuk yang benar. Akan tetapi kalau kita mendapatkan Islam lewat seorang sahabat Nabi yang khianat, maka kita hanya akan mendapatkan Islam yang palsu. Islam yang tidak murni karena mungkin sudah diubah-ubah oleh sahabat yang khianat itu dengan alasan yang hanya dia dan Allah yang tahu.

Walhasil, untuk mendapatkan Islam yang murni; Islam yang sejati; Islam yang persis seperti yang diajarkan Allah kepada Nabi, kita harus meneliti para sahabat Nabi yang menyampaikan Islam itu kepada kita. Ilmu Hadits sudah melakukan itu dengan sistem “Al-Jarh wa-Ta’dil”, jadi adalah sangat dianjurkan kalau kita memiliki sikap kritis kepada para sahabat Nabi demi untuk mendapatkan Islam yang suci.

Wallahu ‘alam.

Selasa, 25 Maret 2014

E-BOOK (free download): KETIKA NABI DITOLONG LIMA ORANG NASRANI, DIMANAKAH GERANGAN PARA SAHABAT NABI?

 

ketika nabi ditolong 5 orang nasrani

KLIK SAMPULNYA UNTUK MENGUNDUH BUKUNYA

Lokasi kejadian: Syi’b Abu Thalib

Waktu kejadian: 15 Mei 616

Rasulullah bersama keluarganya dari suku Bani Hasyim (sukunya Rasulullah) dikurung di sebuah lembah bernama Syi’b Abu Thalib. Peristiwa itu terjadi pada awal bulan Muharram, tahun ketujuh kenabian.

Tidak lama sebelum kejadian, Rasulullah dan Bani Hasyim sudah dijadikan musuh bersama atau Public Enemy dengan selebaran yang ditulis dan diedarkan ke masyarakat. Selebaran itu berbunyi:

  1. Tidak diperbolehkan menikah dengan anggota keluarga Bani Hasyim.
  2. Tidak diperbolehkan melakukan perniagaan atau jual beli dengan keluarga Bani Hasyim.
  3. Anggota keluarga Bani Hasyim tidak boleh keluar dari lembah Abu Thalib kecuali untuk umrah di bulan Syawwal atau berhaji di bulan haji.

Pengepungan itu berlangsung hingga 3 tahun lebih dimana selama kurun waktu itu, Rasulullah mengalami berbagai tekanan dari kaum Jahiliyah Makkah berupa pelecehan, penghinaan, penyiksaan, penganiayaan, pemenjaraan, pengucilan, pemboikotan dan berbagai macam bentuk tekanan dan ancaman lainnya.

Sabtu, 22 Maret 2014

KA’AB AL-AHBAR: PEMBAWA PENGARUH AGAMA YAHUDI DI DALAM KEYAKINAN PARA SAHABAT NABI



 KLIK SAMPUL BUKUNYA UNTUK MEN-DOWNLOAD E-BOOK NYA


Sang Mu’alaf Yahudi yang masuk Islam dan ingin memasukan Agama Yahudi kedalam Islam

Kita kesampingkan dulu tokoh fiktif Yahudi bernama Abdullah bin Saba. Mari kita bicarakan tentang tokoh Yahudi yang lain yang benar-benar ada dan sangat berpengaruh di kalangan beberapa orang sahabat Nabi. Imam Ali sendiri sangat waspada akan datangnya beberapa orang yang berpindah keyakinan kepada Islam setelah sebelumnya mereka larut dalam keyakinan Yahudi dan Nasrani. Imam Ali ingin agar Islam yang baru saja ditinggalkan Nabi-nya tetap menjadi Islam yang suci dan murni dan terbebas dari pengaruh agama lain yang terkadang sangat bertentangan.

Mereka yang dulunya beragama Yahudi atau Nasrani dan kemudian masuk menjadi mu’alaf seringkali mengaku bahwa mereka mengetahui agama Islam itu melalui Kitab Perjanjian Lama dan sekarang mereka berkehendak untuk “mewariskan” pengetahuan mereka itu dan “memasukkan” nya kedalam Islam.

Sikap Imam Ali ini jauh lebih bijaksana dibandingkan dengan sikap dari para sahabat senior lainnya yang dengan mudahnya tertipu oleh para ahlul kitab yang sedang berbondong-bondong masuk Islam pada waktu itu. Kita akan lanjutkan perbincangan tentang hal ini nanti.
 

KAAB AL-AHBAR, Ulama Yahudi yang menancapkan ajaran Yahudi ke jantung keyakinan Umat Islam

Ka’ab al-Ahbar adalah seorang pria Yahudi yang datang dari Yaman dengan nama lengkap Kaab Ibn Mati al-Humyari alias Abu Ishaq. Ia datang ke kota Madinah pada jaman rezim pemerintahan Umar bin Khattab. Ia adalah seorang ulama Yahudi (Rabbi) yang lebih dikenal dengan nama Ka’ab al-Ahbar. Ia kemudian masuk Islam dan menyatakan dirinya sebagai Muslim dan kemudian tinggal menetap di Madinah hingga berakhirnya masa rezim pemerintahan Utsman bin Affan. Dalam tulisan bagian pertama ini kita akan menyimak beberapa pernyataannya yang kontroversial; kemudian keahliannya dalam menipu khalifah Umar; usaha-usaha pembunuhan para khalifah yang dirancangnya; serta sikap Imam Ali bin Abi Thalib terhadap dirinya.

Tokoh Ka’ab al-Ahbar ini berbeda dengan tokoh Abdullah bin Saba yang memang fiktif adanya. Ka’ab al-Ahbar tercatat rapi dalam sejarah. Orangnya benar-benar ada dan selama ia hidup dan tinggal di kota Madinah orang-orang sangat respek terhadap dirinya termasuk dua khalifah (Umar dan Utsman; Abu Bakar sudah meninggal pada waktu itu—red). Ia seringkali menceritakan kisah-kisah (Israiliyyat) yang ia klaim sebagai kisah-kisah yang berasal dari Kitab Perjanjian Lama. Banyak sekali sahabat Nabi seperti:
 
· Abu Hurairah

· Abdullah bin Umar

· Abdullah Ibn Amr Ibn al-Aas

· Mu’awiyyah Ibn Abu Sufyan

yang meneruskan cerita Ka’ab al-Ahbar ini dan meyakininya sebagai kebenaran. Ulama Yahudi ini seringkali meriwayatkan cerita-cerita yang aneh  yang isinya sangat tidak bisa dipertanggung-jawabkan. Salah satu dari cerita yang ia buat-buat ialah sebagai berikut:
“Seorang sahabat bernama Qais Ibn Kharshah al-Qaisi melaporkan bahwa Ka’ab al-Ahbar pernah berkata: ‘Setiap peristiwa  yang pernah terjadi dan akan terjadi di permukaan bumi ini semuanya tertulis dalam kitab Torat (Kitab Perjanjian Lama) yang diturunkan kepada Musa”
(LIHAT: (referensi dari Sunni) Ibn Abdul Barr, Al-Istiab, volume 3, halaman 1287, Kairo 1380H)