"KEBENARAN TIDAK DITENTUKAN OLEH SEDIKIT BANYAKNYA ORANG YANG BERKATA BAHWA ITU BENAR"

Karbala Berduka

Karbala Berduka
Ya, Syahid! Ya, Madzhlum! Ya, Imam! Ya, Husein!

Senin, 24 April 2017

SERIAL UMAR BIN KHATTAB (episode 1)

Umar bin Khattab, Sang Khalifah

Pada jaman jahiliyyah, Umar bekerja sebagai seorang agen pedagang. Shibli—seorang ahli biografi—menuturkan bahwa pada masa mudanya, Umar bekerja menggembalakan unta-unta. Sebelum Umar memeluk Islam, Umar adalah seorang musuh Nabi Muhammad yang sangat sengit permusuhannya. 

Ketika Rasulullah menyebarkan dakwah Islamnya, banyak sekali orang yang mengenalinya sebagai seorang utusan Tuhan. Umar sendiri baru menganggap Muhammad sebagai Rasulullah setelah 6 tahun Muhammad (SAW) mengemban misi dakwahnya.

Ada beberapa gelintir sejarawan yang mengatakan bahwa Umar itu adalah seseorang yang sangat kuat dan berpengaruh di masanya dan ketika ia memeluk Islam maka para penyembah berhala pun merasa takut dan terancam nyawanya. Akan tetapi ini tampaknya hanya mitos saja yang bertolak belakang dengan fakta-fakta sejarah yang ada dan sangat kuat.

Ketika Umar masuk Islam, para penyembah berhala itu tetap saja tidak masuk Islam dan tidak merasa harus masuk Islam. Tidak ada yang berubah. Malah Nabi Muhammad sendiri yang harus terusir dari rumahnya. Beliau dengan sanak keluarganya dari klan Bani Hasyim, diasingkan di sebuah lembah (yang dikenal dalam sejarah sebagai Lembah Abu Thalib, Syi’ib Abu Thalib). Tiga tahun lamanya Rasulullah beserta klan Banu Hasyim (yang pada waktu itu tidak semau menganut Islam) menghabiskan waktu kurang lebih 3 tahun lamanya dalam lembah pengasingan itu. Selama kurun waktu tersebut, nyawa Rasulullah sangat terancam setiap siang dan malam.

Selama kurun waktu yang hampir sama dengan 1000 hari itu, Umar bin Khattab—beserta kaum Muslimin lainnya yang ada di kota Makkah—sama sekali tidak berbuat apa-apa. Tidak menolong dan tidak mengulurkan bantuan sedikitpun. Hanya menyaksikan berbagai kejadian pahit yang dialami dan yang bakal terjadi pada tuannya itu dari kejauhan.

Umar—juga Abu Bakar dan kaum Muslimin awal lainnya—tidak mencoba untuk mengakhiri penderitaan Rasulullah dan klan Bani Hasyim. (LIHAT: KETIKA NABI DITOLONG 5 ORANG NASRANI, DIMANAKAH GERANGAN PARA SAHABAT NABI? (Peristiwa di Syi’b Abu Thalib)—red)

Muhammad al-Mustafa (SAW) mempersaudarakan kaum Muslimin yang berasal dari kota Madinah dan kota Mekah.  Di kota Mekah, Umar “dipersaudarakan” dengan Abu Bakar. Sementara ketika di Madinah, Umar “dipersaudarakan” dengan Utban bin Malik. Sementara itu, Rasulullah (SAW) memilih Ali bin Abi Thalib untuk “dipersaudarakan” dengan dirinya sendiri baik di kota Mekah maupun di kota Madinah.

Pada tahun 3H, puteri dari Umar bin Khattab dinikahkan kepada Rasulullah (SAW).
Umar bin Khattab menurut sejarah yang sangat dipercaya, selalu menjadi orang yang melarikan diri dari peperangan. Ia melarikan diri dari Perang Uhud (Lihat: Baladzuri). Umar sendiri bahkan yang berkata bahwa ia memang melarikan diri dari perang itu. Dalam Kitab Dzurul Mantsur karya Jalaluddin As-Suyuti (sejarawan Sunni), ia disebutkan pernah berkata:

“Ketika kaum Muslimin kalah di Perang Uhud, aku lari ke gunung.”

Dalam peristiwa Perang Khaybar dimana kaum Muslimin mengepung benteng Khaybar, Umar ingin melakukan upaya heroik dengan menyerang benteng Khaybar itu, akan tetapi ia gagal total.
Umar juga termasuk dari begitu banyak sahabat Nabi yang melarikan diri dari Perang Hunayn. Abu Qatadah—salah seorang sahabat Nabi—berkata:

“Di Hunayn, ketika pasukan Muslimin melarikan diri, aku juga ikut melarikan diri. Dan aku lihat Umar bersama yang lainnya juga.”
(LIHAT: Bukhari dan Kitabul-Maghazi).

Pada tahun 8H, Rasulullah (SAW) mengutus Umar sebagai seorang prajurit bersama para prajurit lainnya di bawah kepemimpinan Amr bin Aas untuk pergi dalam sebuah misi dakwah ke Dhatus Salasil.

Sementara pada tahun 11H, Rasulullah (SAW) membentuk sebuah ekspedisi ke Syria dan beliau (SAW) menunjuk Usama bin Zayd bin Haritsa sebagai jenderal pasukan. Rasulullah (SAW) memerintahkan Umar bin Khattab untuk menjadi seorang prajurit biasa saja di dalam pasukan yang dipimpin oleh Usamah yang masih sangat belia itu.[1]

Meskipun Umar sudah menghabiskan waktu lebih dari 18 tahun lamanya bersama Muhammad al-Mustafa (SAW), tampaknya Muhammad al-Mustafa (SAW) tidak pernah menunjuknya untuk sebuah jabatan yang sangat penting di masa hidupnya—baik itu jabatan di pemerintahan sipil, apalagi jabatan penting di militer.
Ketika Rasulullah (SAW) sedang terbaring sakit dan menjelang wafatnya, Rasulullah (SAW) memerintahkan para sahabatnya untuk membawakannya sebuah pena dan tinta serta selembar kertas agar beliau bisa mendiktekan surat wasiatnya; akan tetapi pada waktu itu Umar mencegah hal itu agar tidak terjadi. Umar tidak membiarkan Rasulullah mendiktekan wasiat terakhirnya[2].

Pada upacara pemakaman Rasulullah (SAW) yang mulia, Umar bin Khattab sama sekali tidak tampak batang hidungnya. Ia memilih untuk bertarung melawan kaum Ansar (yang tentu saja Muslim) di sebuah balairung yang bernama Saqifah. Ketika pertikaian memperebutkan kekhalifahan itu berlangsung, Rasulullah (SAW) sedang dimakamkan oleh para keluarga terdekat dan para sahabat lainnya yang jauh lebih setia.

Umar bersama Abu Bakar sedang memperebutkan jabatan khalifah. Umar menjadi KING-MAKER atau CALIPH-MAKER untuk Abu Bakar. Ketika Abu Bakar memerintah inilah Umar menjadi penasihat utamanya.

Kaum Bani Umayyah itu sejak dulu menjadi musuh abadi dari keluarga Rasulullah (SAW) yaitu keluarga Bani Hasyim. Mereka sejak dulu menjadi para penyembah berhala. Muhammad (SAW) berhasil melumpuhkan kekuatan Bani Umayyah ini akan tetapi pada masa pemerintahan Umar, Umar menghidupkan kembali kekuatan Bani Umayyah ini. Sebagai pemerintah yang mendapatkan kekuasaannya dari hasil pertikaian di Saqifah, Umar mengembalikan kekuasaan-kekuasaan Bani Umayyah. Ia memberikan kekuasaan atas wilayah Syria kepada kelompok Bani Umayyah. Umar menjadikan keluarga Bani Umayyah sebagai keluarga pertama yang memiliki kekuasaan kerajaan.  

Seorang pelajar sejarah di masa sekarang ini mungkin saja sudah menemukan alasan-alasan yang bisa dijadikan untuk membela tingkah laku para sahabat Rasulullah (SAW) di masa lampau yang sangat membingungkan dan sangat mengherankan kita. Seorang mahasiswa jurusan sejarah bisa dengan jelas juga melihat pertikaian antara realita sejarah yang kuat dan jelas dengan khayalan tentan kesempurnaan akhlak para sahabat Nabi. Perbedaannya terasa sangat mencolok.

Apabila ia—sebagai mahasiswa yang sedang mempelajari sejarah Islam—menginginkan kebenaran di balik cerita-cerita itu, maka ia mau tidak mau harus mengesampingkan kisah-kisah yang menyanjung-nyanjung para sahabat itu dan lebih memfokuskan diri pada fakta dan data sejarah yang lebih ilmiah dan condong pada kebenaran. 



[1] Rupanya usia Umar bin Khattab sama sekali tidak menjadi keutamaan yang bisa menjadikan dirinya untuk memperoleh jabatan yang lebih tinggi (pen.).
[2] Padahal kalau ada narapidana mati yang hendak menjalani hukuman mati, ia diberikan haknya untuk meninggalkan wasiat kepada yang akan ditinggalkannya. Ini bukan narapidana, ini Rasulullah yang mulia, akan tetapi Umar menghalangi orang yang teramat mulia ini agar tidak berwasiat pada yang ditinggalkannya (pen.).

Minggu, 06 November 2016

SIAPAKAH ISTRI NABI YANG PALING DICINTAI NABI?

JUST CLICK THE E-BOOK COVER TO DOWNLOAD

Istri nabi yang paling dicintai Nabi

Sebagian umat Islam mengklaim bahwa ‘Aisyah-lah istri Nabi yang paling dicintai oleh Nabi (SAW) dan Nabi (SAW) tidak bisa berpisah dengannya sedikitpun juga. Mereka malah mengarang-ngarang bahwa sebagian dari istri Nabi itu merelakan gilirannya untuk dikunjungi Nabi untuk diberikan kepada ‘Aisyah begitu mereka tahu bahwa Rasulullah (SAW) itu sangat mencintainya dan tidak sabar untuk menunggu giliran mengunjunginya!!! 

Klaim yang tidak berdasar dan mengada-ada seperti itu sangat bertentangan dengan hadits-hadits riwayat yang sahih yang malah menyebutkan bahwa Khadijah adalah istri Nabi (SAW) yang terbaik bagi Nabi. Sedangkan hadits-hadidts yang shahih menyebutkan bahwa ‘Aisyah hanya dikenal sebagai istri yang paling pencemburu.

Karena seandainya ‘Aisyah itu adalah istri yang paling dicintai Nabi, maka buat apa ‘Aisyah harus cemburu kepada istri-istri Nabi lainnya? Selain itu, sebaliknya kita bisa menyebutkan bahwa kalau ‘Aisyah itu adalah istri yang paling dicintai Nabi, maka para istri lainnya akan cemburu kepada ‘Aisyah karena konon Rasulullah (SAW) sangat mencintainya dan cenderung untuk terus berduaan dengannya—seperti yang dikhayalkan oleh mereka! Kalau memang benar ia senantiasa dimanja oleh Nabi (SAW) maka buat apa ‘Aisyah cemburu pada istri-istri Nabi yang lainnya?


Sabtu, 24 September 2016

(Free E-Book) UJIAN BAGI IMAM ALI, SEBAGAI PEWARIS KEPEMIMPINAN NABI

KLIK SAJA SAMPUL BUKUNYA UNTUK MEN-DOWNLOAD BUKUNYA


Siapapun orangnya yang menggantikan atau meneruskan kepemimpinan seorang Nabi, tapi ia sendiri bukan seorang Nabi, maka ia harus melewati berbagai ujian yang sangat berat. Allah memberikan ujian itu kepada Ali bin Abi Thalib (as). Allah tidak memberikan ujian yang sama atau serupa baik dalam kuantitas apalagi kualitas kepada Abu Bakar, Umar, ataupun Utsman. Ketiga khalifah sebelum Imam Ali bin Abi Thalib bukanlah khalifah atau pemimpin yang ditunjuk, diangkat dan dilantik oleh Allah dan RasulNya. Hanya Imam Ali bin Abi Thalib yang merasakan dan mengalami itu semua.

Lalu apakah ujian yang diterima Imam Ali itu? 

Berikut adalah satu buku yang menjelaskan 14 ujian yang harus dilalui oleh Imam Ali (as). 7 ujian datang sebelum Imam Ali resmi menjadi khalifah umat ini. Dan 7 ujian lagi dilalui dengan sukses oleh Imam Ali ketika beliau menjadi khalifah umat ini. 

Silahkan klik sampul bukunya untuk mengunduh buku ini. 

Selamat membaca!

Rabu, 24 Agustus 2016

DUA IDEOLOGI YANG SALING BERHADAPAN

oleh: KH. Jalauddin Rakhmat
(dari Buletin Al-Tanwir; nomor 310, Edisi 24  November 2012/10 Muharram 1434H)

Di tengah-tengah puing-puing kota purba Babilonia, Kur Babil, bertemulah dua pasukan. Kalau tidak kedua-duanya beragama Islam, kedua pasukan itu bertentangan dalam segala hal. Yang satu datang dari dari arah utara dengan puluhan ribu tentara. Yang lain datang dari selatan dengan puluhan orang warga sipil. Yang satu membawa persenjataan yang lengkap. Yang satu lagi hanya memikul bekal untuk perjalanan sekejap. Di sebelah sana berdiri puluhan ribu orang yang siap menumpahkan darah. Di sebelah sini berkumpul segelintir orang yang siap menebarkan damai.

Sebenarnya, ruang antara dua pasukan itu adalah celah yang memisahkan dua ideologi besar dunia: madzhab kecintaan dan madzhab kebendaan. Madzhab kecintaan adalah madzhab Illahi, yang kepadanya bergantung keadilan dan kasih sayang. Madzhab kebendaan adalah madzhab yang di atasnya ditegakkan kezaliman dan kebencian. Namun, yang paling menarik dari kedua pasukan ini ialah kenyataan bahwa mereka semua menisbahkan dirinya kepada agama Islam.

Ada ahli sejarah yang menyebutkan bahwa inilah pertarungan antara keluarga Abu Sufyan dan keluarga Nabi SAW, atau antara dua kabilah yang saling bermusuhan sejak Abdu Manaf bin Qushay, atau antara dua partai politik besar dalam sejarah Islam masa dulu. Sebut apa saja sekehendakmu. Imam Ja’far as-Sadiq (as) berkata: “Kami dan keluarga Abu Sufyan memang bermusuhan karena Allah. Kami berkata: ‘Allah benar’, mereka berkata: ‘Allah bohong’”[1]

Dr. Fuad Jabali[2] melakukan penelitian mendalam tentang dua kelompok sahabat yang berhadapan di Shiffin; persis seperti mereka yang berhadapan di Karbala (nama kemudian dari Kur Babil). Diduga mereka bermusuhan karena fanatisme kabilah, karena letak geografis tempat tinggalnya, atau kepentingan ekonomi. Semua hipotesis itu keliru. Mereka bermusuhan karena perbedaan ideologis; antara orang-orang yang dibesarkan dalam asuhan wahyu dengan orang-orang yang masuk berbondong-bondong setelah berakhirnya wahyu.

Di Karbala, lebih dari 1400 tahun yang lalu, dari pihak pembawa pesan Madinah berdiri sosok indah pelanjut risalah, al Imam. Ia hadapkan seluruh wajahnya kepada lautan manusia dari Syam. Kali ini mereka diwakili oleh ‘Umar bin Sa’ad (bin Abi Waqqas)[3], yang mau membunuh cucu Nabi SAW karena tergiur jabatan sebagai gubernur.

Dengarkan dialog diantara dua kubu ideologi dunia ini:
Imam Husein mengajak dia (‘Umar bin Sa’ad) untuk meninggalkan Ibnu Ziyad dan bergabung dengan beliau. (Kemudian ‘Umar bin Sa’ad menjawab):
“Aku takut mereka akan menghancurkan rumahku.”
(Imam Husein berkata): “Aku nanti membangunkan bagimu rumah yang bagus.”
(Umar berkata lagi): “Aku takut mereka merampas harta bendaku.”
(Imam Husein menukas): “Aku akan gantikan hartamu dengan yang lebih baik dari itu.”
(Umar bersikukuh): “Di Kufah aku punya keluarga, aku takut mereka akan dibunuh Ibn Ziyad.”

Ayat (QS. At-Taubah: 24) seakan-akan turun khusus untuk ‘Umar bin Sa’ad:

“Katakanlah: "Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik” (QS. At-Taubah: 24)

Namun ayat ini boleh jadi turun untuk kita—wal ‘iyadzu billah—jika kita lebih mendahulukan kepentingan keluarga dan kelompok kita, rumah yang kita banggakan, harta kekayaan yang kita kumpulkan, perdagangan yang kita jalankan, di atas kecintaan kepada Allah dan RasulNya dan jihad di jalannya.

“Inilah ideologi Ibnu Sa’ad, untuk itu ia hidup dan mati: hartanya, rumahnya, keluarganya, dan kelompoknya,” kata Syaikh Jawad Mughniyah. “Adapun agama dan hati nurani, adapun Allah dan Rasulnya hanyalah kata-kata yang diulang-ulang selama terpelihara hartanya, rumahnya, anak-anaknya, dan kelompoknya. Ibnu Sa’ad memerangi Imam Husein demi kepentingan pribadi dan kecintaan kepada dunia. Semua yang mendahulukan kekayaan dan keluarga di atas ketaatan kepada Allah dan RasulNya, maka ia sedang hidup dengan ideologi Ibnu Sa’ad walupun ia menangisi Imam Husein sampai memutih matanya, walaupun ia mengutuk Ibnu Ziyad seribu kali, selama yang mendorongnya untuk bertindak sama dengan yang mendorong Ibnu Sa’ad untuk membunuh Imam Husein.”[4]

Pilihlah jalan hidupmu sekarang. Bergabunglah dengan Ibnu Sa’ad. Dahulukan rumahmu, keluargamu, kelompokmu, kalau perlu dengan mengurbankan agamamu. Agama hanya kamu ucapkan ketika kepentingan-kepentingan pribadimu terjaga.

Atau bergabunglah dengan al-Imam al-Husein seperti Ummu Wahab. Ia berkata kepada anaknya: 
“Bangunlah anakku, bela anak puteri Nabi SAW.”  Anaknya menjawab: “Pasti aku lakukan, ya ummah. Aku takkan pernah gentar.”Melejitlah ia ke tengah-tengah musuh. Ia berhasil membunuh sekelompok lawannya. Ia kembali kepada ibunya, dengan nafas terengah-engah: “Ya Ummah, aradhiiti, sudah ridha-kah engkau, ibu.”“Tidak, sebelum engkau terbunuh di hadapan al-Husein.”
Dia menyerbu ke tengah-tengah pasukan musuh, membunuh sekitar 19 orang berkuda dan 12 orang pasukan jalan kaki. Kedua tangannya dipotong, kepalanya dipenggal. Ummu Wahab mengambil tongkat dan membunuh pembunuh anaknya: “Biarlah ibuku dan bapakku menjadi tebusanmu. Ia telah berperang demi manusia-manusia suci dari keluarga Rasulullah (SAW).”

Assalamu ‘alayka ya aba ‘Abdillah, ‘alayka minni salaamullahi abadan ma baqiitu wa baqiyal layli wa al-nahar. Assalamu ‘ala al-Husein. Assalamu ‘ala ‘alayyibnil Husein. Assalamu  ‘ala awlaadil Husein. Assamu ’ala ashhabil Husein wa rahmatullahi wa barakatu. Wa la ja’alahullahu achiral ‘ahdi minni liziyaratihim …..

Asyura, 10 Muharram 1434H
Jalaluddin Rakhmat






[1] Majma al-Zawaid, 7:239; Musnad al-Bazzar, 2:191, halaman 571; Waq’ah al-Shiffin 318; Al-Nashaih al-Kafiyah 46
[2] Fuad Jabali, Sahabat Nabi SAW, Bandung, Mizan, dari Disertasi tahun 2003, diterbitkan tahun 2010
[3] ‘Umar bin Sa’ad ialah putera dari Sa’ad bin Abi Waqqas—salah seorang sahabat Nabi yang terkenal. Umar bin Sa’ad inilah yang kelak akan menyembelih leher Imam Husein (as) cucu Nabi. Jadi cucu Nabi disembelih oleh putera sahabat Nabi.
[4] Syaikh Muhammad Jawad Mughniyyah, Al-Husayn wa Bathalat al-Karbala, Beirut; Muassasah Dar al-Kitab al-Islami.

Minggu, 31 Juli 2016

RUMAH TANGGA NABI: TELADAN SUCI

Oleh: KH. JALALUDDIN RAKHMAT

Ketika kita menempuh bahtera rumah tangga, ketika kita sedang menjalankan perintah Allah dan RasulNya, kita dianjurkan untuk menengok kembali kecintaan kita kepada keluarga Nabi. Dalam memperkuat kecintaan kita kepada keluarga Nabi di dalam mengayuh bahtera keluarga, kita diwajibkan mencontoh prilaku kehidupan keluarga Rasulullah, baik prilaku terhadap istri maupun anak.

Dalam memperlakukan istrinya, Rasulullah senantiasa menghormati dan menjaga perasaan istrinya melebihi suami-suami yang lainnya. Suatu saat ketika Rasulullah hendak melaksanakan shalat malam, beliau dekati istrinya ‘Aisyah sampai ‘Aisyah berkata: “Di tengah malam beliau mendekatiku dan ketika kulitnya bersentuhan dengan kulitku beliau berbisik, “Wahai ‘Aisyah izinkan aku untuk beribadah kepada Tuhanku.”

Kita bayangkan betapa besar penghormatan Rasulullah kepada istrinya sampai ketika beliau hendak melakukan shalat malam, beliau terlebih dahulu meminta izin kepada istrinya pada tengah malam, di saat istrinya membutuhkannya. Pada izin Rasulullah itulah tergambar kecintaan dan penghormatan terhadap istrinya.


Nabi adalah sosok yang sangat sabar dalam memperlakukan istrinya. Hal ini terlihat ketika suatu hari ada salah seorang istrinya datang dengan membawa makanan untuk dikirim kepada Rasulullah yang sedang tinggal di rumah ‘Aisyah. ‘Aisyah dengan sengaja menjatuhkan kiriman makanan itu hingga piringnya pecah dan makanannya jatuh berderai. Rasulullah hanya mengatakan: “Wahai ‘Aisyah, kifaratnya adalah mengganti makanan itu dengan makanan yang sama.”

"Rasulullah mengecam suami-suami yang suka memukuli istri-istrinya sampai Rasulullah berkata: “Aku heran melihat suami-suami yang menyiksa istrinya padahal dia lebih patut disiksa oleh Allah.”

"Nabi pun mengecam suami-suami yang menghinakan istri-istrinya, tidak menghargainya; tidak mengajaknya bicara; dan tidak mempertimbangkan istrinya dalam mengambil keputusan. Nabi bersabda: “Tidak akan pernah memuliakan istri kecuali lelaki yang mulia dan tidak akan pernah menghinakan istri kecuali lelaki yang hina.”

Oleh karena itu, marilah kita berusaha menjadi suami yang mulia yang menempatkan istri pada tempat yang mulia.

Salah satu ibadah yang paling besar di dalam Islam adalah berkhidmat kepada istri. Rasulullah bersabda:

“Duduknya seorang lelaki dengan istrinya kemudian membahagiakan istrinya, pahalanya sama dengan orang yang itikaf di masjidku.”

Kita dapat saksikan para Jemaah haji ketika tinggal selama seminggu di sana mereka berusaha melakukan itikaf dengan sebaik-baiknya di masjid Nabi (Nabawi). Kita akan memperoleh pahala yang sama seperti itikafnya para Jemaah haji kalau kita duduk bersama istri dan berusaha membahagiakan, memberikan ketentraman dan kenyamanan kepadanya.

Begitu pula bagi para istri. Mereka haruslah menjadi seorang istri seperti Khadijah Al-Kubra. Khadijah adalah sosok istri yang sangat dicintai oleh suaminya (Nabi Muhammad—red.). Selama Rasulullah (SAW) menikah dengannya, Rasulullah tidak pernah memikirkan the other women beside her, wanita lain di samping Khadijah. Rasulullah hidup dalam suasana yang penuh dengan kecintaan  dan kasih sayang.

Cinta kasih Nabi terhadap Khadijah tergambar dalam riwayat berikut ini:

“Setelah Khadijah meninggal dunia, Rasulullah menikah dengan ‘Aisyah. Suatu hari Rasulullah sedang berada di depan rumah. Tiba-tiba Rasulullah meninggalkan ‘Aisyah menuju kepada seorang perempuan. Rasulullah memanggilnya  dan menyuruh perempuan itu duduk di hadapannya, kemudian mengajaknya berbicara. ‘Aisyah bertanya: “Siapakah perempuat tua ini?” Rasul menjawab: “Inilah sahabat Khadijah dulu.” Lalu ‘Aisyah berkata, “Engkau sebut-sebut juga Khadijah padahal Allah telah menggantikannya dengan istri yang lebih baik” Ketika itu marahlah Rasul sampai berguncang rambut di atas kepalanya. Lalu beliau berkata: “Demi Allah. Tidak ada yang dapat menggantikan Khadijah. Dialah yang memberikan kepadaku kebahagiaan ketika orang mencelakakanku. Dialah yang menghiburku dalam penderitaan ketika semua orang membenciku. Dialah yang memberikan seluruh hartanya kepadaku ketika semua orang menahan pemberiannya. Dan dialah yang menganugerahkan kepadaku anak ketika istri-istri yang lain tidak memberikannya.”

Mendengar itu ‘Aisyah tidak dapat memberikan jawaban. Hadits ini diriwayatkan dalam shahih Bukhari dan Muslim.

Dalam ucapan Rasulullah itu, selain terkandung kecintaan Rasul terhadap Khadijah, juga terkandung kebaktian Khadijah terhadap suaminya. Khadijahlah yang menghibur suaminya ketika dalam perjuangan dilanda berbagai penderitaan. Khadijahlah yang mengorbankan seluruh hartanya ketika suaminya memerlukan. Khadijahlah yang mendampingi suaminya dalam suka dan duka. Sehingga Rasul berkata, “Tidak ada seorang pun yang dapat menggantikan Khadijah.”

Kepada para istri jadilah seperti Khadijah yang setiap saat rela mengorbankan apapun demi kebagahagiaan suami. Yang di saat-saat suami ditimpa duka dan kesusahan siap berdiri di sampingnya, memberikan hiburan dan kebahagiaan kepadanya dengan seluruh jiwa dan raga.

Kebaktian kepada suami di dalam Islam dianggap ibadah yang utama. Sampai Rasulullah bersabda:

“Kalau seorang perempuan memberikan setetes minum kepada suaminya, atau memindahkan barang dari rumahnya ke tempat yang lain untuk membahagiakan suaminya, maka pahalanya sama dengan melakukan ibadah satu tahun lamanya.”

Oleh sebab itu, hormatilah suami. Berikan kepadanya penghormatan yang sepenuhnya dan berikanlah kecintaan yang sepenuhnya. Insya Allah, Allah akan berkati keluarga yang seperti demikian. 

Sabtu, 30 Juli 2016