"KEBENARAN TIDAK DITENTUKAN OLEH SEDIKIT BANYAKNYA ORANG YANG BERKATA BAHWA ITU BENAR"

Senin, 07 April 2014

Biarkan Hadits Nabi dan Ayat suci Qur’ani berkata jujur tentang Para Sahabat Nabi

 

KLIK SAJA GAMBAR SAMPUL E-BOOK DI BAWAH INI UNTUK MEN-DOWNLOAD

Biarkan ayat suci qur'ani dan hadits nabi berkata jujur tentang para sahabat nabi

Sikap berlebihan dalam memuja dan memuji para sahabat Nabi dapat membutakan pikiran dan menyesatkan kita dari petunjuk kebenaran. Mengapa bisa begitu? Karena para sahabat Nabi—siapapun dia—adalah orang-orang yang tidak pernah mendapatkan jaminan kema’shuman (keterjagaan dari berbuat dosa) dari Allah. Kalau ada jaminan tentang kesalehan dan kejujuran para sahabat, maka itu datangnya dari saudara-saudara kita dari kelompok Ahlu Sunnah wal Jama’ah dan bukan dari Allah Ta’ala.

Ketika kita mengikuti orang yang tidak ma’shum, maka kemungkinan kita akan tersesat dan jauh dari petunjuk itu sama besarnya dengan kemungkinan untuk mendapatkan petunjuk. Jadi peluangnya hanya 50 persen saja. Itu mirip-mirip perjudian, padahal hidup kita dan mati kita tergantung dari petunjuk yang kita ikuti.

Mengikuti teladan para sahabat Nabi tentu saja tidak salah. Akan tetapi menganggap mereka seperti malaikat; menganggap mereka semua jujur dan adil dan takkan mungkin berbuat salah adalah sebuah kesalahan dan sikap yang keterlaluan.

Para sahabat Nabi—seperti dalam sejarah—terbukti sama saja dengan manusia lainnya. Mereka banyak yang berbuat salah dan sebagian malah berbuat terlalu salah. Sebagian lain suka menyakiti Nabi. Sebagian yang lain suka menyembunyikan keyakinan asli mereka yang bertentangan dengan Islam sampai Nabi pun tidak tahu bahwa mereka itu orang-orang munafik. Kita tahu bahwa seorang sahabat Nabi itu pantas kita ikuti atau tidak dengan melihat track record atau sejarah hidup mereka. Oleh karena itu, pembahasan tentang para sahabat mana yang jujur dan mana yang pendusta; mana yang saleh dan mana yang salah; mana yang amanat dan mana yang khianat, menjadi sangat diperlukan.

Kita menerima Islam lewat para sahabat Nabi. Kita menerima Islam lewat hadits-hadits yang direkam dalam ingatan dan dituliskan lewat buku-buku dan lembaran lainnya oleh para sahabat Nabi. Kalau sahabat yang kita teladani itu kebetulan sahabat Nabi yang setia dan patuh serta taat kepada Rasulullah, maka kita kemungkinan akan mendapatkan petunjuk yang benar. Akan tetapi kalau kita mendapatkan Islam lewat seorang sahabat Nabi yang khianat, maka kita hanya akan mendapatkan Islam yang palsu. Islam yang tidak murni karena mungkin sudah diubah-ubah oleh sahabat yang khianat itu dengan alasan yang hanya dia dan Allah yang tahu.

Walhasil, untuk mendapatkan Islam yang murni; Islam yang sejati; Islam yang persis seperti yang diajarkan Allah kepada Nabi, kita harus meneliti para sahabat Nabi yang menyampaikan Islam itu kepada kita. Ilmu Hadits sudah melakukan itu dengan sistem “Al-Jarh wa-Ta’dil”, jadi adalah sangat dianjurkan kalau kita memiliki sikap kritis kepada para sahabat Nabi demi untuk mendapatkan Islam yang suci.

Wallahu ‘alam.

Selasa, 25 Maret 2014

E-BOOK (free download): KETIKA NABI DITOLONG LIMA ORANG NASRANI, DIMANAKAH GERANGAN PARA SAHABAT NABI?

 

ketika nabi ditolong 5 orang nasrani

KLIK SAMPULNYA UNTUK MENGUNDUH BUKUNYA

Lokasi kejadian: Syi’b Abu Thalib

Waktu kejadian: 15 Mei 616

Rasulullah bersama keluarganya dari suku Bani Hasyim (sukunya Rasulullah) dikurung di sebuah lembah bernama Syi’b Abu Thalib. Peristiwa itu terjadi pada awal bulan Muharram, tahun ketujuh kenabian.

Tidak lama sebelum kejadian, Rasulullah dan Bani Hasyim sudah dijadikan musuh bersama atau Public Enemy dengan selebaran yang ditulis dan diedarkan ke masyarakat. Selebaran itu berbunyi:

  1. Tidak diperbolehkan menikah dengan anggota keluarga Bani Hasyim.
  2. Tidak diperbolehkan melakukan perniagaan atau jual beli dengan keluarga Bani Hasyim.
  3. Anggota keluarga Bani Hasyim tidak boleh keluar dari lembah Abu Thalib kecuali untuk umrah di bulan Syawwal atau berhaji di bulan haji.

Pengepungan itu berlangsung hingga 3 tahun lebih dimana selama kurun waktu itu, Rasulullah mengalami berbagai tekanan dari kaum Jahiliyah Makkah berupa pelecehan, penghinaan, penyiksaan, penganiayaan, pemenjaraan, pengucilan, pemboikotan dan berbagai macam bentuk tekanan dan ancaman lainnya.

Sabtu, 22 Maret 2014

KA’AB AL-AHBAR: PEMBAWA PENGARUH AGAMA YAHUDI DI DALAM KEYAKINAN PARA SAHABAT NABI



 KLIK SAMPUL BUKUNYA UNTUK MEN-DOWNLOAD E-BOOK NYA


Sang Mu’alaf Yahudi yang masuk Islam dan ingin memasukan Agama Yahudi kedalam Islam

Kita kesampingkan dulu tokoh fiktif Yahudi bernama Abdullah bin Saba. Mari kita bicarakan tentang tokoh Yahudi yang lain yang benar-benar ada dan sangat berpengaruh di kalangan beberapa orang sahabat Nabi. Imam Ali sendiri sangat waspada akan datangnya beberapa orang yang berpindah keyakinan kepada Islam setelah sebelumnya mereka larut dalam keyakinan Yahudi dan Nasrani. Imam Ali ingin agar Islam yang baru saja ditinggalkan Nabi-nya tetap menjadi Islam yang suci dan murni dan terbebas dari pengaruh agama lain yang terkadang sangat bertentangan.

Mereka yang dulunya beragama Yahudi atau Nasrani dan kemudian masuk menjadi mu’alaf seringkali mengaku bahwa mereka mengetahui agama Islam itu melalui Kitab Perjanjian Lama dan sekarang mereka berkehendak untuk “mewariskan” pengetahuan mereka itu dan “memasukkan” nya kedalam Islam.

Sikap Imam Ali ini jauh lebih bijaksana dibandingkan dengan sikap dari para sahabat senior lainnya yang dengan mudahnya tertipu oleh para ahlul kitab yang sedang berbondong-bondong masuk Islam pada waktu itu. Kita akan lanjutkan perbincangan tentang hal ini nanti.
 

KAAB AL-AHBAR, Ulama Yahudi yang menancapkan ajaran Yahudi ke jantung keyakinan Umat Islam

Ka’ab al-Ahbar adalah seorang pria Yahudi yang datang dari Yaman dengan nama lengkap Kaab Ibn Mati al-Humyari alias Abu Ishaq. Ia datang ke kota Madinah pada jaman rezim pemerintahan Umar bin Khattab. Ia adalah seorang ulama Yahudi (Rabbi) yang lebih dikenal dengan nama Ka’ab al-Ahbar. Ia kemudian masuk Islam dan menyatakan dirinya sebagai Muslim dan kemudian tinggal menetap di Madinah hingga berakhirnya masa rezim pemerintahan Utsman bin Affan. Dalam tulisan bagian pertama ini kita akan menyimak beberapa pernyataannya yang kontroversial; kemudian keahliannya dalam menipu khalifah Umar; usaha-usaha pembunuhan para khalifah yang dirancangnya; serta sikap Imam Ali bin Abi Thalib terhadap dirinya.

Tokoh Ka’ab al-Ahbar ini berbeda dengan tokoh Abdullah bin Saba yang memang fiktif adanya. Ka’ab al-Ahbar tercatat rapi dalam sejarah. Orangnya benar-benar ada dan selama ia hidup dan tinggal di kota Madinah orang-orang sangat respek terhadap dirinya termasuk dua khalifah (Umar dan Utsman; Abu Bakar sudah meninggal pada waktu itu—red). Ia seringkali menceritakan kisah-kisah (Israiliyyat) yang ia klaim sebagai kisah-kisah yang berasal dari Kitab Perjanjian Lama. Banyak sekali sahabat Nabi seperti:
 
· Abu Hurairah

· Abdullah bin Umar

· Abdullah Ibn Amr Ibn al-Aas

· Mu’awiyyah Ibn Abu Sufyan

yang meneruskan cerita Ka’ab al-Ahbar ini dan meyakininya sebagai kebenaran. Ulama Yahudi ini seringkali meriwayatkan cerita-cerita yang aneh  yang isinya sangat tidak bisa dipertanggung-jawabkan. Salah satu dari cerita yang ia buat-buat ialah sebagai berikut:
“Seorang sahabat bernama Qais Ibn Kharshah al-Qaisi melaporkan bahwa Ka’ab al-Ahbar pernah berkata: ‘Setiap peristiwa  yang pernah terjadi dan akan terjadi di permukaan bumi ini semuanya tertulis dalam kitab Torat (Kitab Perjanjian Lama) yang diturunkan kepada Musa”
(LIHAT: (referensi dari Sunni) Ibn Abdul Barr, Al-Istiab, volume 3, halaman 1287, Kairo 1380H)

Minggu, 16 Maret 2014

SEJARAH MENCATAT PERSETERUAN KELUARGA ABU BAKAR VS KELUARGA FATHIMAH BINTI MUHAMMAD (keluarga Nabi)

PERSETERUAN ITU BERLANJUT HINGGA KE ANAK CUCU

Ketidak-adilan Abu Bakar terhadap bunda Fathimah az-Zahra memberikan jalan yang mulus kepada para karib kerabatnya dan keluarganya untuk melakukan hal yang sama kepada keturunan Nabi. Sayyid Safdar Hussain, dalam bukunya yang sangat berharga yang diberijudul The Early History of Islam, halaman 242, merangkum tindak kejahatan yang dilakukan oleh keluarga Abu Bakar (keturunan, sanak kerabat, dan keluarga karena pernikahan dari keturunan Abu Bakar) kepada keluarga Fathimah dan keturunannya. Ia menuliskan sebagai berikut:

“Sejarah telah menunjukkan dengan jelas sekali kepada kita bahwa Abu Bakar sendiri dan seluruh keluarganya (kecuali Asma dan puteranya Muhammad) bersikap bermusuhan dengan keluarga Nabi, walaupun Al-Qur’an telah mewajibkan kita untuk mencintai keluarga Nabi dan Rasulullah pernah bersabda mengenai rasa hormat dan rasa cinta kepada keluarganya. Berikut adalah bukti-bukti nyata yang menunjukkan sikap permusuhan dari keturunan Abu Bakar terhadap keturunan atau keluarga Nabi:

  1. ABU BAKAR, ketika naik menjadi khalifah, ia mengirimkan Umar untuk menemui bunda Fathimah dan mewajibkan Ali dengan paksaan untuk mendatanginya dan memberikan bai’at kepadanya. Umar mengancam untuk membakar rumah bunda Fathimah. Umar menggiring Imam Ali dengan todongan senjata ke hadapan Abu Bakar dimana disana ia dipermalukan dan dihina. Imam Ali merasa sangat sedih atas perlakuan itu hingga ia tersungkur di pusara Rasulullah dan kemudian ia menangis sejadinya di sana. Bunda Fathimah sendiri sangat sedih dan marah sekaligus hingga tidak lama setelah ayahnya yang tercinta meninggal, maka ia tidak lagi bertegur sapa dengan Abu Bakar. Sejarah mencatat bahwa bunda Fathimah tidak lagi terlihat berbicara dengan Abu Bakar. Di pembaringannya ketika bunda Fathimah hendak meninggal dunia, bunda Fathimah berwasiat agar pemakamannya tidak dihadiri oleh dua orang itu: ABU BAKAR dan UMAR IBN KHATTAB. Pemakaman bunda Fathimah dilangsungkan pada malam hari dan tidak diketahui oleh seluruh penduduk kota Madinah. Hanya beberapa gelintir orang saja (keluarga dan pendukung keluarga Rasulullah) yang hadir di pemakaman itu. Hingga kini makam bunda Fathimah tidak diketahui orang dimana letak sebenarnya.
  2. ‘AISYAH BINTI ABU BAKAR, puteri dari Abu Bakar. Aisyah memberontak dan memerangi Ali bin Abi Thalib—khalifah yang sah; khalifah pertama yang ditunjuk oleh umat secara aklamasi (beda dengan para khalifah sebelumnya yang menjadi khalifah dengan intrik-intrik politik). Aisyah tidak pernah membai’at Ali sebelumnya dan ketika Ali baru saja menjabat jabatan khalifah, Aisyah langsung menyatakan perang terhadapnya. 30,000 nyawa melayang ….. dan mereka adalah para sahabat Nabi. Sebagian kecil sahabat Nabi yang setia kepada Nabi ikut dengan Ali; dan sebagian lagi yang lebih mencintai harta dan kekuasaan politik lebih memilih Aisyah. Untunglah pihak Aisyah kalah dalam perang itu. Kalau Aisyah menang, maka Islam akan jatuh ke tangan para sahabat Nabi yang lebih menyukai dunia dibandingkan akhirat; dan wajah Islam akan berubah seratus delapan puluh derajat.
  3. ZUBAYR BIN AWWAM, menantu dari Abu Bakar. Zubayr bin Awwam menikah dengan Asma binti Abu Bakar—puteri tertuanya. Zubayr juga memerangi keluarga Nabi dalam Perang Unta. Ia menjadi salah satu jendral pasukan dalam Perang Unta. Ia memilih untuk berpihak kepada Aisyah daripada Ali. Ia lebih memilih keluarga Abu Bakar daripada keluarga Nabi. Di tengah-tengah peperangan (Perang Unta) yang makin berkecamuk, Zubayr mundur dari peperangan dan pergi meninggalkan medan perang menuju kota Mekah. Akan tetapi ia dibunuh orang tidak jauh dari medan perang.
  4. ABDULLAH BIN ZUBAYR, cucu dari Abu Bakar. Abdullah bin Zubayr adalah putera dari Zubayr bin Awwam dan Asma binti Abu Bakar. Ia menjadi komandan pasukan infantri dalam pasukan pemberontak pimpinan Aisyah yang ditujukan untuk memerangi dan membunuh Ali bin Abi Thalib; dan kemudian merampas jabatan khalifah darinya. Abdullah bin Zubayr diadopsi oleh Aisyah yang tidak lain adalah tantenya sendiri. Setelah Perang Unta selesai, ia diketemukan diantara tumpukan mayat-mayat yang bergelimpangan. Ia kemungkinan besar bersembunyi di tumpukan mayat itu karena ketakutan. Ia masih hidup.
  5. THALHAH BIN UBAYDILLAH, sepupu sekaligus menantu dari Abu Bakar. Thalhah adalah suami dari puteri Abu Bakar yaitu Ummi Kultsum. Thalhah adalah komandan pasukan pemberontak pimpinan Aisyah. Ketika Perang Unta berkecamuk, Marwan bin Hakam (kelak menjadi khalifah kaum Muslimin; sementara pada waktu itu ia adalah sekretaris negara yang ditunjuk oleh Utsman bin Affan, saudaranya. Marwan adalah otak jahat yang ada di dalam kekhalifahan Utsman) datang mengendap-endap mendekati Thalhah bin Ubaydillah. Marwan dan Thalhah sebenarnya ada dalam pasukan yang sama dan memerangi orang yang sama yaitu Ali bin Abi Thalib. Akan tetapi Marwan mengetahui bahwa Thalhah adalah orang yang ikut bertanggung jawab atas kematian Utsman bin Affan. Ketika melihat Thalhah sedang sibuk, Marwan berkata kepada budaknya, “Beberapa hari sebelumnya Thalhah sibuk menghasut orang-orang agar membunuh Utsman bin Affan; tapi sekarang ia sibuk untuk membalaskan darah Utsman bin Affan. Betapa memuakkan! Ia itu orang yang sangat munafik dan hanya mencari kesenangan dunia saja kerjanya!” Setelah berkata seperti itu, Marwan menembakkan sebuah panah yang kemudian menembus paha Thalhah dan menusuk kuda yang ditungganginya. Kuda itu menjerit keras dan lari kencang meninggalkan pasukan. Thalhah sendiri terlempar dari kudanya dan jatuh terjerembab ke tanah. Ia kemudian cepat-cepat dibawa ke kota Basrah dan ia tewas di sana tidak berapa lama kemudian.
  6. ABU AL-RAHMAN, sepupu Abu Bakar saudara dari Thalhah. Abu Al-Rahman juga ikut dalam Perang Unta untuk membela Aisyah dan memerangi Ali bin Abi Thalib dan keluarga Nabi.
  7. MUHAMMAD BIN THALHAH, putera Thalhah, juga ikut dalam perang untuk membunuh Ali bin Abi Thalib dan keluarga Nabi.
  8. JA’DAH BINTI ASY’ATS, puteri dari Ummi Farwa. Ummi Farwa sendiri adalah saudari dari Abu Bakar. Jadi Ju’dah itu keponakan dari Abu Bakar. Ia membunuh Hasan bin Ali bin Abi Thalib, cucu Nabi. Jadi cucu Nabi dibunuh oleh cucu Abu Bakar. Yang menarik ialah JA’DAH BINTI ASY’ATS itu adalah istri dari Hasan bin Ali, Jadi Hasan bin Ali bin Abi Thalib—cucu Nabi—dibunuh oleh istrinya sendiri.

    Mas’ûdî mengatakan: ‘Tatkala ia diberi minum racun, ia bangun menjenguk beberapa orang kemudian, setelah sampai di rumah, ia berkata: ‘Aku telah diracuni, berkali-kali tetapi belum pernah aku diberi minum sepertiini, aku sudah keluarkan racun itu sebagian, tetapi kemudian kembali biasa lagi’.
    Husain berkata: ‘Wahai saudaraku, siapa yang meracunimu?’.
    Hasan menjawab: ‘Dan apa yang hendak kau lakukan dengannya? Bila yang kuduga benar, maka Allâh-lah yang melakukan hisab terhadapnya. Bila bukan dia, aku tidak menghendaki orang membebaskan diriku. Dan dia berada dalam keadaan demikian sampai 3 hari sebelum ia ra. akhirnya meninggal. Dan yang meminumkan racun kepadanya adalah Ja’dah binti Asy’ats bin Qais al-Kindî, dan Mu’âwiyah yang memerintahkan kepadanya, dan bila ia berhasil membunuh Hasan ia akan dapat 100.000 dirham dan ‘ akan mengawinkannya dengan Yazîd’. Ialah yang mengirim racun kepada Ja’dah, istri Hasan. Dan tatkala Hasan meninggal, ia mengirim uang tersebut dengan surat:
    Sesungguhnya kami mencintai nyawa Yazîd, kalau tidak maka tentu akan kami penuhi janji dan mengawinkan engkau dengannya’. {Mas’ûdî, Murûj adz-Dzahab, jilid 2, hlm. 50}

    As-Sibth bin Jauzi meriwayatkan dari Ibnu Sa’d dalam kitab At-Thabaqaat dan ia meriwayatkan dari Al-Waqidi bahwa Imam Hasan bin Ali a.s. ketika sedang menghadapi sakaratul maut pernah berwaiat: “Kuburkanlah aku di samping kakekku Rasulullah SAWW”. Akan tetapi, Bani Umaiyah, Marwan bin Hakam dan Sa’d bin Al-’Ash sebagai gubernur Madinah kala itu tidak mengizinkannya untuk dikuburkan sesuai dengan wasiatnya.

    Ibnu Sa’d pengarang kitab At-Thabaqaat berkata: “Salah seorang sahabat yang menentang penguburan Imam Hasan a.s. di samping Rasulullah SAWW adalah A’isyah. Ia berkata: “Tidak ada seorang pun yang berhak dikubur di samping Rasulullah”. Jadi selain diracun Hasan bin Ali cucu Nabi itu juga dilarang oleh Aisyah jenazahnya dikuburkan disamping kakeknya yang sangat mencintai dan dicintainya.

    Akhirnya, jenazah Imam Hasan a.s. diboyong menuju ke pekuburan Baqi’ dan dikuburkan di samping kuburan neneknya, Fathimah binti Asad.

    Dalam kitab Al-Ishaabah, Al-Waqidi bercerita: “Pada hari (penguburan Imam Hasan a.s.) orang-orang yang menghadirinya sangat banyak sekiranya jarum dilemparkan di atas mereka, niscaya jarum tersebut akan jatuh di atas kepala mereka dan tidak akan menyentuh tanah”.

  9. ISHAQ, putera dari Ummi Farwa (saudari dari Abu Bakar), juga dua orang putera dari Asy’ats, semuanya ambil bagian dalam tentara Yazid untuk membunuh Husein bin Ali (cucu Nabi, saudara dari Hasan bin Ali). Keturunan Abu Bakar itu ikut dalam pasukan Yazid bin Mu’awiyah (l.a) yang membantai keluarga Nabi di padang Karbala. Keturunan Abu Bakar  ini kelak dibunuh oleh pengikut Imam Husein yang setia yang bernama Mukhtar yang membalaskan dendam cucu Nabi. Sementara yang lainnya mati digigit dan dikoyak-koyak oleh anjing-anjing buas.

  10. MUS’AB BIN ZUBAYR, putera dari Zubayr bin Awwam yang merupakan menantu dari Abu Bakar. Mus’ab bin Zubayr memerangi Al-Mukhtar (pengikut setia dari Imam Husein bin Ali bin Abi Thalib—cucu Nabi)

 

PERANG UNTA MEMANG LEGENDARIS. SELAIN IA JUGA MEMALUKAN DAN MEMILUKAN.

Perang Unta itu mirip-mirip perang MAHABHARATA dalam kisah pewayangan. Perang itu perang saudara karena yang bertikai masih banyak pertalian darah antara satu dan lainnya.

Yang jelas perang itu melibatkan Keluarga Fathimah (keluarga Nabi) di satu sisi dan Keluarga Abu Bakar (keluarga Aisyah) di sisi lain.

Perang ini sarat kepentingan. Di pihak Ali bin Abi Thalib. Perang ini selain untuk mempertahankan kedaulatan negara (untuk melindungi rakyatnya) juga untuk mempertahankan Islam dari gangguan orang-orang yang tidak bertanggung-jawab. Kalau saja Ali dan keluarga Nabi kalah dan terbunuh dalam perang itu, maka itu artinya Islam yang asli akan musnah di muka bumi ini; digantikan dengan Islam palsu yang disebarkan oleh kalangan istana oleh para penguasa yang menjadikan Islam itu sebagai alat untuk melegitimasi kekuasaannya sekaligus untuk menindas rakyatnya.

Di sisi lain, di pihak Aisyah, Thalhah, Zubayr (Keluarga Abu Bakar), perang ini adalah sebuah kesempatan emas untuk kembali mendapatkan tahta khilafah setelah sebelumnya pernah ada bersama mereka. Di dalam pasukan mereka ada juga para petualang yang mencoba untuk mencari peruntungan. Siapa tahu setelah perang, mereka bisa mendapatkan harta pampasan perang, atau jabatan, atau kedudukan; karena mereka kebanyakan adalah tentara bayaran.

Untuk lebih rinci tentang Perang Unta ini anda bisa baca: (JUST CLICK THE LINK BELOW):

PERANG UNTA, PERANG SAUDARA PERTAMA DALAM ISLAM

.

Selasa, 18 Februari 2014

SUNNAH–SYI’AH DALAM DIALOG SANTAI ANTARA MAHASISWA UGM, UII (YOGYAKARTA) BERSAMA USTADZ HUSSEIN AL-HABSYI

KLIK SAJA GAMBAR DI BAWAH INI UNTUK MEN-DOWNLOAD E-BOOK INI (GRATIS)

1. Benarkah Syi ‘ah itu Kafir?

2. Bagaimana pendirian Madzhab Syi’ah tentang sahabat Nabi Saww?

3. Benarkah Syi‘ah berpendapat bahwa Khalifah Abu Bakar, Umar dan Utsman itu tidak sah?

4. Benarkah Syi‘ah itu meragukan Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah dan bahkan tidak menggunakannya? Apakah dengan membuang Hadits-hadits riwayat Abu Hurairah, Islam ini akan lenyap? Dan bagaimana akhirnya nanti?

5. Mohon penjelasan tentang Hadits Tsaqalain (Qur’an wa Sunnati) atau Qur’an wa Itrahi AhIi Baiti mana yang lebih shahih?

6. Kalau Sunnah pada zaman Nabi ternyata tidak dibukukan, tetapi mengapa sampai juga kepada kita dan dipakai oleh kita Ahlussunnah. Kemudian apakah mungkin di zaman itu ada pemalsu-pemalsu Hadits?

7. Apakah Itrah itu? Apakah yang dimaksud ltrah itu sampai keturunan Rasulullah SAWW yang sekarang ini atau mungkin ada batasannya?

8. Di mana turunnya ayat yang berkenaan dengan peristiwa Ghadir Khum dan berkaitan dengan peristiwa apa?

9. Benarkah tuduhan bahwa Syi’ah itu menambah dan mengurangi ayat-ayat Al Qur’an dan melakukan perubahan-perubahan?

10. Mengapa Syi’ah Imamiyah kalau Shalat hanya tiga waktu?

11. Bagaimapa menurut faham kita Ahlus sunnah tentang masalah Raj’ah?

12. Mungkin Ustadz tahu apa sebenarnya makna Rafidhah?

Dalam jawabannya terhadap pertanyaan mereka, Ustadz Husein menggunakan pendapat Ahlus sunnah, dengan maksud agar serangan-serangan (tuduhan-tuduhan) yang dilemparkan kepada Madzhab Syi’ah lmamiyah dapat dihentikan karena kedua Madzhab itu tidak berbeda dalam masalah-masalah pokok.

Semoga risalah kecil yang kami kutip dari kaset tanya jawab Ustadz Husein dengan para mahasiswa ini, dengan kami tambahkan catatan kaki dan setelah kami tanyakan kepada Ustadz sebagai sumber rujukan, maka dapat menambah wawasan pengetahuan kita, agar kita tidak mudah memvonis saudara-saudara kita sesama muslim secara in-absentia dan teks-book thinking kita.