"KEBENARAN TIDAK DITENTUKAN OLEH SEDIKIT BANYAKNYA ORANG YANG BERKATA BAHWA ITU BENAR"

Sabtu, 28 Mei 2016

(free e-book to download) BENARKAH KHILAFAH ITU SISTEM KEPEMIMPINAN ISLAM?


KLIK SAJA SAMPUL BUKUNYA UNTUK MEN-DOWN-LOAD


Di dunia politik, biasanya sebuah undang-undang dasar negara itu disusun terlebih dahulu sebelum negara itu terbentuk. Dan ketika negara itu akan melangsungkan pemilihan umum untuk menentukan calon pemimpinnya, maka perangkat untuk itu sudah ada sebelumnya. Undang-undang pemilu yang mengatur pemilihan harus sudah ada sebelumnya. Setiap kegiatan untuk menentukan calon dan memilih calon, mengangkat calon, memberhentikan calon, dan lain sebagainya sudah diatur dalam undang-undang itu. Kalau setiap aturan yang ada dalam undang-undang itu dipatuhi, maka itu artinya kita mematuhi undang-undang (dalam hal ini mematuhi hukum Islam); sedangkan kalau tidak mengikuti aturan itu kita dianggap membangkang dan harus dikenakan hukuman atas tindakan menyimpang itu. Belum lagi kita akan dianggap berdosa karena setiap pelanggaran hukum Islam bisa berdampak ganda. Melanggar aturan sosial dan dianggap berdosa.

Menurut Ahlu Sunnah, mengangkat khalifah itu adalah tanggung jawab dan hak umat Islam (walaupun pada hakikatnya hanya ketika mengangkat Ali lah umat diberikan hak untuk mengangkat khalifah—red). Karena Ahlu Sunnah berpendapat demikian, maka itu artinya sudah selayaknya kalau kita menyebutkan bahwa Allah dan RasulNya harus terlebih dahulu menyediakan perangkat undang-undang (lengkap dengan prosedur pemilihan khalifah dan lain-lain). Dan apabila Rasulullah belum sempat membuatnya, maka seharusnya umat sudah membuat langkah-langkah konstitusional (membuat aturan pemilihan terlebih dahulu) sebelum akhirnya memilih khalifah.[1]

Akan tetapi anehnya ini belum pernah dilakukan sama sekali! Tidak pernah di dalam sejarah disebutkan bahwa umat berembuk untuk menentukan sistem pemilihan khalifah sebelum mereka memilih khalifah. Semua serba mendadak. Semua serba kebetulan. Semua serba darurat. Itulah fakta sejarah yang menyedihkan!

Kita bisa lihat bahwa “undang-undang” atau “aturan” pemilihan tidak mengikuti aturan baku karena memang tidak pernah ada aturan baku sebelumnya! Undang-undang atau aturan pemilihan hanya mengikuti perkembangan politik terkini saat itu!

Argumen atau alasan yang paling baik yang bisa diajukan kelompok Ahlu Sunnah demi membendung keheranan dan keberatan kelompok lain ialah bahwa mengangkat khalifah itu adalah sesuatu yang sangat penting. Saking pentingnya sampai orang-orang pada waktu itu mengabaikan dan menelantarkan keawajiban untuk mengurus jenazah Nabi yang suci. Para elit politik pada waktu itu malah secara sembunyi-sembunyi pergi ke Saqifah Bani Saidah untuk menetapkan khalifah penerus kepemimpinan umat Islam. Dari titik poin ini, kelompok Ahlu Sunnah berketetapan bahwa memilih khalifah itu adalah kewajiban umat.

Akan tetapi sekali lagi mereka gagal membuktikan bahwa pemilihan khalifah di Saqifah itu adalah benar-benar pemilihan yang diketahui oleh umum (ingat! mereka bilang itu kewajiban umat!).

Kelompok pengikut Ahlul Bayt Nabi (Syi’ah) menganggap pemilihan Abu Bakar itu sebagai pemilihan ilegal dan bertentangan dengan Islam; sementara itu kelompok Ahlu Sunnah (Sunni) menganggap itu legal dan benar. Bagaimana kelompok Ahlu Sunnah bisa membuktikan bahwa klaim mereka itu benar?

Kita bisa merangkum klaim mereka dengan sebuah peribahasa:

“TINGKAHKU INI BENAR KARENA AKU TELAH MELAKUKANNYA”

Pengadilan mana yang bisa membenarkan pernyataan tersebut di atas?
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
ULASAN:

  1. Klaim Ahlu Sunnah sangat lemah untuk menyebut tiga khalifah pertama sebagai khalifah yang sah karena sistem pemilihan mereka sangat berbeda dari satu pemilihan ke pemilihan yang lainnya

  1. Kaum Ahlu Sunnah tidak bisa membuktikan bahwa ada undang-undang pemilihan sebelumnya yang akan dipakai untuk memilih khalifah

  1. Pemilihan khalifah itu bukan seperti permainan anak-anak. Ini masalah serius. Tidak mungkin aturan dibuat mendadak dan tergesa-gesa tanpa sosialisasi kepada umat. Ingat! Hasil pemilihan itu harus dipertanggung jawabkan kepada umat (ingat! Kelompok Ahlu Sunnah percaya bahwa ini hak dan kewajiban umat, jadi wajar kalau umat harus—paling tidak—diberitahu tentang ini)

  1. Perbedaan tata cara pemilihan khalifah itu menyiratkan bahwa tata cara itu illegal dan tidak mengikuti syariat Islam karena syariat Islam pastilah memberlakukan satu sistem yang baku dan tegas dan tidak pernah berubah-ubah




[1] INGAT. Memilih pemimpin itu sangat vital dan penting—lebih penting daripada mengatur orang bersin, menyikat gigi, menguap, mencukur rambut, makan dan minum dan lain-lain. Kalau Islam mengatur tata-cara bersin, menyikat gigi, menguap, mencukur rambut, makan dan minum yang tidak lebih penting daripada memilih pemimpin, maka mengapa kita tidak bisa mendapati tata-cara memilih pemimpin (khalifah) di dalam Islam (khususnya Islam Sunni)?

Rabu, 25 Mei 2016

Karena tidak suka dengan Ziarah ke makam Nabi, kaum Wahabi mengkorupsi kata-kata Nawawi—seorang ulama Sunni





Kaum Salafi/Wahabi sangat sering melakukan tindak kejahatan akademis dengan memalsukan atau mengubah-ubah kitab-kitab atau tulisan-tulisan dari saudara kita kalangan Ahlu Sunnah (Sunni). Karena menurut pemahaman mereka yang sempit, bahwa ziarah kubur itu bid’ah, maka mereka juga menolak ziarah kubur kepada Makam Nabi Suci Muhammad (SAW). Mereka malah menyebut ziarah kubur itu sebagai bentuk penyembahan (bentuk kemusyrikan—menduakan Allah Ta’ala). Ini tidak mengherankan sama sekali karena mereka memang termasuk kaum NAWASIB (kelompok orang yang suka memusuhi Nabi dan keluarga Nabi). Anda mungkin sekali akan terkejut melihat bagaimana mereka memalsukan sebuah kitab dari seorang ulama Sunni ternama yaitu Imam al-Nawawi (631H—676H), agar kitab itu bisa mendukung ajaran mereka yang sesat!
Imam al-Nawawi di dalam kitab-nya Al-Adhkar (Dar Ibn Katsir: Damaskus, Beirut), edisi pertama, yang diberi keterangan oleh Muhyi al-Din Muttaqi, halaman 333, menuliskan:

فصل في زيارة قبر رسول اللّه وأذكارها
اعلم أنّه ينبغي لكلّ من حجّ أن يتوجّه إلى زيارة رسول اللّه، سواء أكان ذلك في طريقه أم لم يكن، فانّ زيارته من أهمّ القربات وأربح المساعي وأفضل الطلبات، فإذا توجّه للزيارة أكثَرَ من الصلاة عليه في طريقه، فإذا وقع بصره على أشجار المدينة وقُراها وما يعرّف بها، زاد من الصلاة والتسليم عليه، وسأل اللّه تعالى أن ينفعه بزيارته وأن يسعده بها في الدارين.
وليقل: اللَّهُمَّ افْتَحْ عَليَّ أبْوابَ رَحمَتِكَ وَارْزُقْني في زيارَة قَبْرِ نَبِيِّك  ما رَزَقْتَهُ أولِياءَكَ وَأهْل طاعَتِكَ وَاْغْفِر لي وَارْحَمْني يا خَيْرَ مَسْؤول.

TENTANG MENGUNJUNGI MAKAM NABI DAN DO’A-DO’A YANG DIPANJATKAN KETIKA BERZIARAH KE SANA
Ketahuilah bahwa telah diwajibkan bagi setiap jema’ah yang pergi dan mengunjungi makam Nabi, baik itu ia sedang menuju kesana atau tidak. Sesungguhnya, mengunjungi Nabi itu adalah salah satu bentuk perbuatan yang penting sekali yang bisa mendekatkan diri seseorang kepada Allah; sekaligus mendatangkan keberkahan bagi pelakunya. Ketika seseorang melangkahkan kakinya untuk mengunjungi makam Nabi (SAW), maka biarkanlah ia mendapatkan keberkahan di sepanjang jalan yang ia lalui. Ketika ia bisa melihat pepohonan di kota Madinah, maka ia akan mendapatkan lebih banyak lagi keberkahan. Ia diharuskan memohon kepada Allah melalui ziarah kepadanya (kepada Nabi) dan memohonkan kemenangan di dua dunia[1] karenanya.
Ia harus berdo’a: “Ya, Allah! Bukakanlah bagiku pintu-pintu ma’afMu! Dan sediakanlah bagiku melalui ziarah ke makam Nabi ini apa-apa telah engkau sediakan untuk kekasih-kekasihMu dan hamba-hambaMu. Dan ampunilah aku; sayangilah aku, wahai Engkau sebaik-baik tempat untuk meminta bagi orang-orang yang sedang membutuhkan.

Di dalam kitab yang sama yaitu kitab Al-Adhkar, yang ditulis oleh orang yang sama yaitu Imam al-Nawawi, tapi diterbitkan di Saudi Arabia, oleh Dar al-Huda, Riyadh, edisi kedua, tahun 1408H,dan diberi keterangan oleh Abd al-Qadir al-Arnaut, di halaman 295, maka inilah yang bisa kita baca di dalam kitab yang sudah dikorup oleh kaum Salafi/Wahabi  itu:

فصل في زيارة مسجد رسول اللّه
«اعلم انّه يُستحب لمن أراد زيارة مسجد رسول اللّه أن يكثر من الصلاة عليه في طريقه، فإذا وقع بصره على أشجار المدينة وحرمها وما يعرّف بها، زاد من الصلاة والتسليم عليه وسأل اللّه تعالى أن ينفعه بزيارته لمسجده وأن يُسعده بها في الدارين وليقل:
اللّهمّ افتَحْ عَليَّ أبْواب رَحْمَتِكَ، وَارزُقْني فِي زيارَةِ مَسْجِدِ نبيّك ما رَزَقْته أولياءك وَ أهل طاعَتِكَ ، واغفر لي وَارحَمْني يا خَيرَ مَسْؤول.

TENTANG MENGUNJUNGI MESJID NABI[2] 
Ketahuilah bahwa disarankan bagi siapa saja yang ingin mengunjungi masjid Nabi untuk memohonkan keberkahan untuknya ketika sedang dalam perjalanan menuju ke sana. Dan ketika ia melihat pepohonan kota Madinah dan perbatasan kota, maka ia boleh memohon keberkahan lebih banyak dan menyampaikan salam kepadanya (kepada Rasulullah) . ia harus memohon kepada Allah agar ia mendapatkan keberkahan melalui ziarah kepada masjid dan memohon agar diberikan kemenangan di dunia maupun akhirat.
Ia harus berdo’a: “Ya, Allah! Bukakanlah pintu ma’afMu dan berikanlah kepadaku dari ziarah kepada masjid NabiMu, apa-apa telah engkau sediakan untuk kekasih-kekasihMu dan hamba-hambaMu. Dan ampunilah aku; sayangilah aku, wahai Engkau sebaik-baik tempat untuk meminta bagi orang-orang yang sedang membutuhkan.
Lihatlah perubahan yang telah mereka buat! Itu adalah sebuah kejahatan akademis yang melecehkan dunia ilmiah. Karya Imam Nawawi telah diubah begitu rupa hanya untuk mewadahi keyakinan mereka yang keliru!
Ziarah kepada Nabi yang mulia dan suci, digantikan dengan ziarah kepada masjid Nabi yang kemuliaannya tidak akan pernah melampaui kemuliaan Nabi. Mesjid itu memperoleh kemuliaan karena ia pernah dibangun oleh Nabi. Tanpa ada embel-embel Nabi, masjid Nabi itu akan sama saja dengan masjid lainnya.
Sebuah Sunni website juga telah mengkonfirmasi perubahan yang telah dilakukan atas tulisan Imam Nawawi ini. Kita bisa baca di sana sebagai berikut:
Mengenai Shaykh `Abd al-Qadir al-Arna'ut, aku melihat yang berikut ini di dalam sebuah buku kecil yang ditulis oleh Hassan Ibn ‘Ali al-Saqqaf yang diberijudul:  “al-Ighatsa bi adillat al-istighatsa”[Amman: Maktabat al-Imam Nawawi, 1410/1990, halaman 17]:
"Ini adalah tulisan asli [ghayr munharif] dari tulisannya Imam Nawawi dalam Kitab Jema’ah yang merupakan sebuah bagian dari sebuah kitab yang lebih besar lagi yang berjudul “Kitab al-Adhkar” [Kitab tentang do’a dan shalat], menurut manuskrip aslinya yang pernah diterbitkan (cf. Dar al-Fikr di Damaskus, halaman 306). Ibn ‘Allan memberikan komentarnya terhadap Kitab al-Adhkar itu sebagai berikut:
TENTANG MENGUNJUNGI MAKAM NABI (Qubr) DAN DO’A-DO’A YANG DIPANJATKAN KETIKA BERZIARAH KE SANA
Ketahuilah bahwa telah diwajibkan bagi setiap jema’ah (yanbaghi) yang pergi dan mengunjungi makam Nabi, baik itu ia sedang menuju kesana atau tidak. Sesungguhnya, mengunjungi Nabi itu adalah salah satu bentuk perbuatan yang penting sekali yang bisa mendekatkan diri (quburat) seseorang kepada Allah; sekaligus mendatangkan keberkahan bagi pelakunya. Ketika seseorang melangkahkan kakinya untuk mengunjungi makam Nabi (SAW), maka biarkanlah ia mendapatkan keberkahan di sepanjang jalan yang ia lalui. Ketika ia bisa melihat pepohonan di kota Madinah, maka ia akan mendapatkan lebih banyak lagi keberkahan…”
“Sementara itu di bawah ini kami sajikan tulisan Imam Nawawi di halaman yang sama dalam kitab tersebut akan tetapi telah dikorup oleh kaum Salafi/Wahabi. Tulisan itu telah dikorup oleh seorang Salafi/Wahabi bernama Abdul Qadir al-Arna’ut [al-mutamaslif] ….. di dalam edisi terbitan Dar al-Huda, Riyadh, 1409/1989. Terbitan itu disponsori oleh Supervisory Board for Publications, yang diketuai oleh Authority for Scholarly Research and Ifta, halaman 295, sebagai berikut:
TENTANG MENGUNJUNGI MESJID NABI
Ketahuilah bahwa disarankan [yustahab] bagi siapa saja yang ingin mengunjungi masjid Nabi untuk memohonkan keberkahan untuknya ketika sedang dalam perjalanan menuju ke sana. Dan ketika ia melihat pepohonan kota Madinah dan perbatasan kota, maka ia boleh memohon keberkahan lebih banyak ……”

“Kemudian editor yang bersekte Salafi/Wahabi itu melakukan tindakan yang lebih jauh lagi dengan menghapuskan catatan al-‘Utbiy yang dilaporkan oleh al-Nawawi [pada bagian akhir dari bagian ini], karena menurutnya bertentangan dengan pemahaman asli mereka [pemahaman Salafi/Wahabi]. Bagaimana menurut anda? Bukankah ini pantas disebut dengan pelacuran akademis? Bukankah apa yang dia lakukan itu sama sekali tidak ada gunanya dalam dunia ilmiah? Bukankah yang ia lakukan itu akan malah melecehkan dan menghancurkan dunia ilmiah? Ia sebenarnya bisa saja memberikan komentar saja atau menolaknya saja tanpa harus mengubah-ubah apa yang sudah dituliskan oleh orang lain. Ia tidak usah mengubah-ubah atau mengkorupsi hasil karya orang lain yang menyebabkan kaum Muslimin menjadi kebingungan dan ragu-ragu terhadap tulisan-tulisan para ulama terdahulu yang sebenarnya merupakan warisan tak ternilai di dalam khasanah ilmu keIslaman. Kalau kaum Salafi/Wahabi terus menerus melakukan korupsi terhadap tulisan-tulisan para ulama terdahulu, maka kaum Muslimin bisa saja akan meragukan semua tulisan yang ada yang pernah diwariskan oleh para ulama terdahulu.” (akhir tulisan Saqqaf).

Berikut adalah kisah al-‘Utbiy yang tertulis di dalam kitabnya Imam al-Nawawi:
"Al-‘Utbiy berkata: “Ketika aku sedang duduk di samping makam Rasulullah (SAW), seorang Arab Baduy datang kepadaku seraya berkata: ‘Salamun ‘Alaykum, ya Rasulullah! Aku telah mendengar bahwa Allah pernah berfirman: “… Sesungguhnya jika mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.”(QS. An-Nisaa: 64) oleh karena itu, aku datang kepadamu untuk memohonkan ampun (kepada Allah) atas dosa-dosaku. Aku memohon syafa’atmu untuk Tuhanku (mustasyfi’an bika ila rabbi).” Kemudian setelah itu ia membacakan sebuah sya’ir puisi:

“Wahai engkau sebaik-baiknya tulang belulang yang terkubur di dalam tanah
Dan wewangianmu yang harum semerbak menjulang tinggi ke segala arah
Bolehlah kiranya hamba mengurbankan diri,  demi kubur yang engkau huni
Dimana kesucian, karunia Illahi, menawarkan kasih sayang dan kemurahan hati!”

Kemudian setelah itu ia pergi, dan aku dalam keadaan setengah sadar setengah tertidur melihat Rasulullah (SAW) di dalam mimpiku. Ia berkata kepadaku:
“Wahai Utbiy, larilah dan kejarlah orang Baduy itu; dan beritahulah kepadanya kebahagiaan yang telah Allah berikan kepadanya.” Dan Allah yang maha-kuasa maha-tahu akan segala sesuatu”
(LIHAT: al-Nawawi, Kitab al-Adhkar (Mekah: al-Maktaba al-Tijariyya, 1412/1992; halaman 253—254)

Sebuah Sunni website lainnya pernah membuat SCAN dari tulisan Imam al-Nawawi yang belum mengalami perubahan (korupsi)!
Jadi, sekarang kita dihadapkan kepada sebuah permasalahan yang cukup memusingkan. Kalau kita mencoba meyakinkan kaum Salafi/Wahabi tentang pentingnya ziarah kepada Nabi dengan menggunakan kitab al-Adhkar karya Imam al-Nawawi sebagai hujjah-nya; maka orang-orang Salafi/Wahabi lainnya akan menyerang kita dengan membawakan kitab al-Adhkar yang sudah mereka ubah-ubah. Orang-orang yang melihat dan menyaksikan akan kebingungan dibuatnya!
Begitulah cara kaum Salafi (dan juga Sunni pada umumnya) berdusta dan mengubah-ubah karya para ulamanya!


Wallahu ‘alam




[1] Dunia fana dan Akhirat
[2] Jadi kata-kata KUBURAN NABI diubah menjadi MESJID NABI, karena kaum Salafi/Wahabi mengharamkan ziarah ke makam Nabi

Jumat, 13 Mei 2016

PERNYATAAN IBNU ARABI (SEORANG ULAMA SUNNI) TENTANG IMAM MAHDI, YANG KEMUDIAN DIUBAH ORANG DI KEMUDIAN HARI



Sebagian ulama Ahlu Sunnah begitu sering menyelewengkan isi dari kitab-kitab mereka sendiri. Ketika mereka mengetahui bahwa ada sesuatu yang bisa membuat mereka malu, maka kemudian mereka akan menghapus itu dalam kitab-kitab mereka, dan kemudian mereka berpura-pura seolah-olah tidak ada perubahan sama sekali; seolah-olah segala sesuatunya memang begitu adanya. Anda bisa menemukan banyak sekali contoh-contoh seperti itu di alamat http://www.al-islam.org/tahrif/. Sebuah website kaum Sufi juga menuliskan tentang hal itu dalam "Salafi" forgeries/manipulations dan juga dalam "Salafi" Tampering of Tafsir Ruh al-Ma`ani yang berisi LEBIH BANYAK lagi contoh-contoh! Di dalam tulisan ini saya hanya akan menunjukkan satu saja tentang PERNYATAAN YANG MENGEJUTKAN dari saudara kita kaum Ahlu Sunnah!



Seorang ulama sufi yang bernama Shaykh Abd al-Wahab al-Shi’rani dalam kitabnya yang berjudul al-Yawaqit wa al-Jawahir fi Bayan ‘Aqaid al-Akbar, vol. 2, halaman 143 (edisi tahun 1959), menuliskan tentang Imam Mahdi (as) sebagai berikut:

وهو من أولاد الإمام الحسن العسكري ومولده ـ عليه السَّلام ـ ليلة النصف من شعبان سنة 255هـ و هو باق إلى أن يجتمع به عيسى ابن مريم ـ عليه السَّلام ـ فيكون عمره إلى وقتنا هذا وهو سنة 958 هـ، 706 سنين

“Ia adalah salah satu dari anak-anak Imam al-Hasan al-Askari (as) dan ia lahir pada malam Nisfu Sya’ban pada tahun 255H. Ia akan tetap hidup hinga (turunnya) Isa ibn Maryam (as) bergabung dengannya. Dan usianya pada saat ini (yaitu tahun 958H) sekitar 706 tahun.”

Kemudian al-Shi’rani mengemukakan:

عبارة الشيخ محيي الدين في الباب السادس والستين وثلاثمائة من الفتوحات هكذا:

واعلموا أنّه لابد من خروج المهدي لكن لا يخرج حتّى تمتلئ الأرض جوراً وظلماً فيملؤها قسطاً وعدلاً، ولو لم يكن من الدنيا إلاّ يوم واحد طوّل اللّه تعالى ذلك اليوم حتّى يلي ذلك الخليفة، وهو من عترة رسول اللّه ـ صلَّى الله عليه وآله وسلَّم ـ من ولد فاطمة رضي اللّه عنها، جدُّه الحسين بن علي بن أبي طالب ووالده حسن العسكري بن الإمام علي النقي (بالنون) ابن محمد التقي (بالتاء) بن الإمام علي الرضا بن الإمام موسى الكاظم بن الإمام جعفر الصادق بن الإمام محمد الباقر بن الإمام زين العابدين علي بن الإمام الحسين بن الإمام علي بن أبي طالب رضي اللّه عنه يواطئ اسمُه اسمَ رسول اللّه ـ صلَّى الله عليه وآله وسلَّم ـ يبايعه المسلمون بين الركن والمقام يُشبه رسول اللّه ـ صلَّى الله عليه وآله وسلَّم ـ في أخلاقه واللّه تعالى يقول: (وَإِنّكَ لعَلى خُلُق عَظيم) .

“Kata-kata dari Shaykh Muhyi al-Din (ibn Arabi) dalam Bab 366 di dalam kitab al-Futuhat (al-Makiyyah) adalah sebagai berikut:

“Ketahuilah bahwa TIDAK ada lagi keraguan akan datangnya al-Mahdi. Akan tetapi ia tidak akan muncul kecuali kalau dunia ini sudah dipenuhi oleh ketidak-adilan dan kedzaliman dan ia akan memenuhi dunia ini dengan keadilan dan kesetaraan. Bahkan apabila hanya ada satu hari lagi yang tersisa di dunia ini, maka Allah tetap akan memanjangkan hari itu hingga bisa cukup untuk Khilafahnya. Ia itu berasal dari keturunan (Itrah) Nabi (SAW); ia berasal dari keturunan Fathimah (as). Kakek moyangnya ialah AL-HUSAYN ibn Ali ibn Abi Thalib dan ayahnya ialah Hasan al-Askari, putera dari Imam Ali al-Naqi, putera dari Muhammad al-Taqi, putera dari Imam Ali al-Rida, putera dari Imam Musa al-Kazim, putera dari Imam Ja’far as-Sadiq, putera dari Imam Muhammad al-Baqir, putera dari Imam Zayn al-Abidin, Ali putera dari Imam al-Husayn, putera dari Imam Ali ibn Abi Talib, semoga Allah meridhoinya. Namanya sama dengan nama Rasulullah (artinya, nama al-Mahdi yang sebenarnya ialah Muhammad). Kaum Muslimin akan memberinya Bai’at diantara Rukn dan Maqam. Ia mirip sekali dengan Rasulullah (SAW) dalam hal akhlak padahal Allah seringkali berkata {Dan engkau (wahai Muhammad) benar-benar memiliki akhlak yang agung}.”

Itulah yang kita lihat di dalam kitab al-Futuhat al-Makkiyyah yang ditulis oleh Shaykh Muhyi al-Din ibn Arabi (atau dikenal dengan IBNU ARABI saja) pada jaman Shaykh al-Shi’rani. Akan tetapi kalau kita konfirmasi cetakan moderen-nya dari kitab yang sama yaitu kitab al-Futuhat al-Makkiyyah, vol. 3, halaman 327 (Dar Sadr, Beirut), maka inilah yang anda bisa temukan:

اعلم أيّدنا اللّه إنّ للّه خليفة يخرج وقد امتلأت الأرض جوراً و ظلماً فيملؤها قسطاً وعدلاً، لو لم يبق من الدنيا إلاّ يوم واحد طوَّل اللّه ذلك اليوم حتّى يلي هذا الخليفة من عترة رسول اللّه ـ صلَّى الله عليه وآله وسلَّم ـ من ولد فاطمة يواطئ اسمه اسم رسول اللّه ـ صلَّى الله عليه وآله وسلَّم ـ جدّه الحسن بن علي بن أبي طالب، يبايع بين الركن والمقام، يُشبه رسول اللّه ـ صلَّى الله عليه وآله وسلَّم ـ في خلقه(بفتح الخاء) و ينزل عنه في الخلق (بضم الخاء) لأنّه لايكون أحد مثل رسول اللّه ـ صلَّى الله عليه وآله وسلَّم ـ في أخلاقه واللّه يقول فيه:(وَإِنَّكَ لَعلى خُلُق عَظِيم)

“Ketahuilah, semoga Allah melindungi kita bahwa Allah akan mengutus seorang Khalifah yang akan muncul setelah bumi ini dipenuhi oleh ketidak-adilan dan kezaliman dan ia akan memenuhi bumi ini dengan keadilan dan persamaan. Bahkan apabila hanya tersisa satu hari lagi bagi bumi, makan Allah akan memanjangkan hari itu hingga bisa digunakan untuk Khalifah yang berasal dari keturunan (itrah) Rasulullah (SAW) dari keturunan Fathimah. Namanya itu sama dengan nama Rasulullah (SAW). Kakek moyangnya ialah AL-HASAN ibn Ali ibn Abi Talib. Bai’at akan diberikan kepadanya diantara Rukn dan Maqam. Ia itu mirip sekali dengan Rasulullah (SAW) dalam hal rupanya, dan mengikuti Rasulullah akhlaknya karena tidak ada satu orangpun yang mirip dengan Rasulullah dalam hal akhlaknya padahal Allah senantiasa berkata {Dan engkau (wahai Muhammad) benar-benar memiliki akhlak yang agung}.”

Anda bisa lihat sendiri ……. Pengubahan atau korupsi yang mereka sudah lakukan terhadap kitab dari IBNU ARABI itu. Ini selain memang mengubah arti secara keseluruhan, juga menyebabkan distorsi besar-besaran. Ini adalah penyelewengan yang tidak bisa dima’afkan!!!

Allah sudah membuat mereka putus asa dan frustasi karena TULISAN ASLI DARI IBNU ARABI itu masih terpelihara hingga kini. Mereka berusaha sekuat tenaga untuk menyembunyikan kebenaran, akan tetapi Allah tak memberikan peluang sedikitpun bagi mereka untuk menyesatkan orang-orang.

Begitulah cara saudara kita dari kalangan Ahlu Sunnah (Sunni) mengubah dan mengutak-atik kitab mereka sendiri untuk menyembunyikan kebenaran yang sebenar-benarnya.

Insya Allah, kita akan bongkar lagi beberapa usaha keji yang sama seperti ini hingga nyata benang merah dan benang putihnya.

“Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.”

(QS. At-Taubah: 32)

Rabu, 04 Mei 2016

(Free E-Book to download) PERANG SIFFIN, perang saudara antara kaum Muslimin

I
Perang Siffin
Untuk mencegah Mu’awiyah melancarkan peperangan terhadap kaum Muslimin, Imam Ali menggunakan argumen yang sama yang ia pernah gunakan ketika membujuk ‘Aisyah, Thalhah, dan Zubayr agar mereka tidak memerangi kaum Muslimin meskipun mereka tetap saja ngotot untuk berperang dan akhirnya perang Unta[1] terjadi juga. Sama halnya dengan perang Unta, perang antara Imam Ali dan Mu’awiyah ini akhirnya terjadi juga meskipun Imam Ali sudah membujuk Mu’awiyah agar tidak berperang. Di mata musuh Imam Imam Ali, perdamaian itu hanyalah akan menambah masalah kepada masalah-masalah yang sedang dihadapi oleh umat Islam. Mereka hanya melihat sebuah jawaban atau pemecahan dari masalah itu yaitu melalui peperangan.

Kali ini, Imam Ali dihadapkan dengan seorang musuh yang jauh lebih licin, cerdik, kejam, jahat dan jauh lebih berbahaya dibandingkan tiga orang musuhnya yang terdahulu (‘Aisyah, Thalhah, dan Zubayr). Malahan apabila dibandingkan ‘Aisyah, Thalhah, dan Zubayr itu tidak ada apa-apanya dibanding dengan Mu’awiyah.

Di kota Basrah, kelompok pemberontak yang ada di dalam perang Unta (perang antara para sahabat Nabi yang dikobarkan oleh ‘Aisyah) ini terdiri dari kelompok yang memiliki kepentingan yang berbeda-beda akan tetapi dipersatukan dengan satu kesamaan yaitu kebencian terhadap Imam Ali. Tujuan atau kepentingan mereka tidak sama dan tidak bisa dipersatukan. ‘Aisyah memerangi Imam Ali dengan tujuan bahwa ia kelak bisa mengusung keponakannya yaitu Abdullah bin Zubayr ke tampuk kekuasaan kekhalifahan. Akan tetapi Thalhah dan Zubayr tidak memiliki tujuan yang sama dengan ‘Aisyah. Mereka berdua juga menginginkan tampuk kekhalifahan itu bagi mereka sendiri (meskipun Zubayr adalah ayah dari Abdullah bin Zubayr—keponakan ‘Aisyah). Itu menjadikan koalisi yang mereka bangun menjadi rapuh dan tidak bisa menjadi suatu kekuatan yang satu dan solid seperti yang diinginkan oleh para pengikutnya.

Kelompok tiga serangkai kota Basrah (‘Aisyah, Thalhah, Zubayr) dipusingkan oleh tujuan dan impian mereka yang berbeda-beda sedangkan Mu’awiyah tidak sama sekali. Mu’awiyah mencari nasehat dari penasehatnya yang sangat licik yaitu Amr bin Aas dan kawan-kawan. Akan tetapi Mu’awiyah sendiri yang akhirnya memutuskan segala sesuatunya.

Imam Ali sendiri sedang berusaha sekuat tenaga untuk mempersatukan umat Muhammad. Persatuan umat Muhammad sedang dilanda kekacauan dan ketegangan, dan ia ingin mempersatukan umat Muhammad itu seperti dulu di bawah kepemimpinan sepupunya itu. Di sisi lain, musuh Imam Ali sama sekali tidak peduli. Ia tidak peduli umat Muhammad bertikai dan berselisih. Ia tidak peduli umat Muhammad kacau balau dan hancur. Tujuan mereka malah menghancurkan umat Muhammad dan kemudian menguasai mereka di bawah kaki kekuasaannya.
Pada musim semi tahun 657, Mu’awiyah meninggalkan kota Damaskus bersama pasukannya untuk memperluas perang ke wilayah Irak. Ia melintasi daerah perbatasan dan kemudian ia berhenti di sebuah desa yang disebut dengan Siffin—Siffin terletak di tepian sungai Efrat. Yang mula-mula ia lakukan pada waktu itu ialah menguasai mata air untuk kepentingannya sendiri.

Demi mendengar kabar tentang pergerakan tentara Syria (tentaranya Mu’awiyah), Imam Ali menunjuk Aqaba Ibn Amr Ansari sebagai gubernur kota Kufah. Setelah itu Imam Ali memanggil Abdullah Ibn Abbas dari kota Basrah untuk menemaninya. Kemudian mereka meninggalkan kota Kufah bersama pasukannya ke desa Siffin pada bulan April 657. “Sebanyak 70 orang veteran perang Badar dan sebanyak 250 orang sahabat Nabi yang pernah berbai’at di bawah pohon merangsek maju di bawah panji Imam Ali. Mereka berjalan di tepian sungai Efrat menuju desa Siffin.” (LIHAT: Mustadrak, vol 3).



[1] Perang antara keluarga Abu Bakar (‘Aisyah binti Abu Bakar—puteri Abu Bakar, Thalhah bin Ubaydillah—sepupu Abu Bakar, Zubayr bin Awwam—menantu Abu Bakar, Abdullah bin Zubayr—cucu Abu Bakar, dll) melawan keluarga Nabi Muhammad (Ali bin Abi Thalib—sepupu Nabi, Hasan dan Husain—cucu Nabi, dll). Untung perang dimenangkan oleh keluarga Nabi Muhammad, karena kalau dimenangkan keluarga Abu Bakar, maka itu akhir dari Islam itu sendiri. Islam akan hilang sebagai agama para Nabi.

Senin, 04 April 2016

(E-BOOK GRATIS) Mengapa isteri-isteri Rasulullah disebut sebagai Ummul Mukminin

DOWNLOAD E-BOOK (GRATIS):




Salah satu hal yang selalu dikatakan oleh saudara-saudara kita dari kalangan Ahlu Sunnah (Sunni) untuk membela ‘Aisyah habis-habisan ialah bahwa ‘Aisyah itu disebut sebagai salah seorang Ummul Mukminin atau ibu kaum beriman. Bahkan Al-Qur’an sendiri telah berkata bahwa memang para isteri Rasulullah itu adalah termasuk “Ibu-ibu kaum beriman”. Akan tetapi marilah kita bicarakan beberapa poin di bawah ini:

1. Andaikan, misalnya, anda itu seorang yang beriman. Maka sudah barang tentu orang-orang akan menyebut ibu anda sebagai “Ibu orang yang beriman.” Lalu apakah itu artinya bahwa ibu anda juga seorang yang beriman? Tentu saja tidak! Ia hanya menjadi seorang ibu dari seorang anak yang beriman. Dengan menjadi seorang ibu dari orang yang beriman itu belum tentu menjadikan dirinya sebagai seorang ibu yang  beriman. Alasan yang sama atau logika yang sama bisa dipakai kepada julukan “Ummul Mukminin.” “Ibu-ibu dari kaum mukminin” belum tentu menjadi mukminin sendirinya.

2. Kitab-kitab kumpulan hadits yang beredar di kalangan Ahlu Sunnah  (Sunni) senantiasa dipenuhi oleh hadits-hadits yang disampaikan oleh Ummul Mukminin ‘Aisyah. Sedangkan Rasulullah itu memiliki banyak isteri dan semua isterinya itu juga memiliki gelaran “Ummul Mukminin”. Diantara isteri-isteri Rasulullah itu ada yang memiliki keshalehan dan ketakwaan yang tinggi seperti Ummu Salamah dan Ummu ‘Ayman, misalnya. 

Akan tetapi sayang sekali hadits-hadits yang disampaikan oleh mereka itu tidak banyak dituliskan di dalam kitab-kitab hadits Ahlu Sunnah dalam kitab Sihah Sittah (tidak sampai 5% nya dari hadits-hadits yang disampaikan oleh ‘Aisyah sendirian). Jadi meskipun isteri-isteri Rasulullah yang lain pula memiliki hak yang sama untuk mendapatkan gelar Ummul Mukminin dan dihormati secara adil oleh kaum Muslimin, akan tetapi saudara kita dari kalangan Ahlu Sunnah sama sekali tidak mempedulikan hal ini. Hadits-hadits yang disampaikan oleh ‘Aisyah dihormati setinggi langit dan dikumpulkan sehingga jumlahnya sangat banyak sekali. Sementara hadits-hadits yang melewati para isteri Rasulullah yang lain kurang mendapatkan penghormatan yang layak dan semestinya. Apakah karena ‘Aisyah itu anaknya Abu Bakar, sehingga ia mendapatkan perlakuan yang istimewa dari saudara kita dari Ahlu Sunnah? Atau apakah karena ‘Aisyah itu telah menentang Imam Ali dan hendak membunuh Imam Ali  sehingga ‘Aisyah lebih dihormati dan diagung-agungkan oleh saudara kita dari Sunni?

3. Menurut Islam, seseorang yang beriman haruslah menghormati ibunya. Akan tetapi kalau si ibu itu sendiri menentang aturan dan ajaran yang sudah diberikan oleh Rasulullah: apabila seorang ibu itu telah menghasut orang-orang; kemudian memimpin sebuah pemberontakan  terhadap pemimpin yang hak; membunuhi orang-orang tak berdosa, maka agama Islam memerintahkan umatnya untuk memisahkan diri dari seorang ibu yang demikian. Malahan kita TIDAK BOLEH mempercayai dan mengikuti si ibu itu apabila si ibu itu menyampaikan hadits-hadits dari Nabi, walaupun jumlah haditsya itu banyak sekali. Umat Islam tidak boleh mengikuti orang yang telah menyalahi ajaran Islam.

4. Lalu mengapa Allah masih memberikan gelaran “Ibu dari kaum beriman”, walaupun si ibu itu misalnya menentang ajaran Islam? Allah memberikan gelaran “Ibu kaum beriman” (Ummul Mukminin) supaya orang-orang tidak menikahi mereka setelah Rasulullah meninggal dunia. Bukankah seorang anak itu tidak boleh menikahi ibunya sendiri?

Apabila Allah tidak memberikan gelaran ini kepada janda-janda Rasulullah, maka orang-orang yang memiliki kedudukan tinggi dan memiliki pengaruh yang kuat di masyarakat pada waktu itu, mungkin merasa cukup layak untuk menikahi janda-janda dari Rasulullah ini. Dan apabila mereka menikah, maka ada kemungkinan mereka menghasilkan anak-anak. Dan kemungkinan besar banyak orang yang menyangka bahwa “anak-anak” ini bagian dari Ahlul Bayt Nabi (padahal bukan sama sekali). Kemungkinan terburuk ialah anak-anak itu bisa saja kemudian mengaku dirinya sebagai putera-putera Rasulullah atau keturunan-keturunan Rasulullah yang apabila diyakini bisa berakibat buruk karena umat Islam mungkin akan mematuhi mereka padahal ada kemungkinan mereka berlaku buruk di masyarakat. Oleh karena itu, Allah memberikan gelaran “Ibu kaum beriman” (Ummul Mukminin) untuk mencegah orang-orang menikahi mereka setelah Rasulullah meninggal dunia.

Rabu, 10 Februari 2016

(FREE E-BOOK) PERANG HUNAYN: Para Sahabat Nabi kabur meninggalkan Nabi yang terluka dan hampir terbunuh


(KLIK SAMPULNYA UNTUK MEN-DOWN LOAD)


لقد نصركم الله في مواطن كثيرة ويوم حنين إذ أعجبتكم كثرتكم فلم تغن عنكم شيئا وضاقت عليكم الأرض بما رحبت ثم وليتم مدبرين


“Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikit pun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai.” (QS. At-Taubah: 25)

Ketika pasukan Islam berlarian balik ke belakang, Rasulullah tetap tegar dan diam di tempat. Ia tidak meninggalkan pos-nya. Hanya ada 8 orang yang tetap tinggal bersamanya; dan mereka menyaksikan pasukan kaum Muslimin kabur tunggang-langgang. Delapan orang yang masih tinggal bersamanya ialah:

1. Ali ibn Abi Talib
2. Abbas ibn Abdul Muttalib
3. Fadhl ibn Abbas
4. Abu Sufyan ibn al-Harith ibn Abdul Muttalib
5. Rabi'a, saudara laki-laki dari Abu Sufyan ibn al-Harith
6. Abdullah ibn Mas’ud
7. Usama ibn Zayd ibn Haritsa
8. Ayman ibn Ubaid


Untuk seorang Muslim memenangkan perang itu adalah baik dan terbunuh juga baik. Keduanya mendapatkan pahala yang besar di sisi Allah. Sedangkan kabur dari Jihad adalah memalukan dan perbuatan dosa. Para sahabat Nabi ternyata lebih memilih untuk kabur daripada bertahan dan melindungi Nabi. Kecintaan mereka terhadap Nabi ternyata hanya isapan jempol belaka. 

Dari 12.000 orang tentara Nabi hanya sekitar 100 saja yang kemudian masih memberikan pelayanan terhadap Nabi dan mau bertempur bersama Nabi. Sahabat-sahabat besar yang sering diagung-agungkan oleh saudara kita dari Ahlusunnah malah ikut kabur bersama para pengecut lainnya ...................


Jumat, 08 Januari 2016

7 HADITS SUNNI MENGATAKAN: "MEMANDANG WAJAH IMAM 'ALI ITU IBADAH"




Hadits Pertama:

Kita bisa temukan hadits ini di dalam kitab Sharah Madahib Ahlu Sunnah oleh Ibn Shaheen, dimana ia mengatakan:

103 – حدثنا محمد بن الحسين بن حميد بن الربيع ، ثنا محمد بن عبيد بن عتبة ، ثنا عبد الله بن سالم القزاز ، ثنا يحيى بن عيسى الرملي ، عن الأعمش ، عن إبراهيم عن علقمة ، عن عبد الله ، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « النظر إلى وجه علي عبادة » تفرد علي بهذه الفضيلة ، لم يشركه فيها أحد

[LIHAT: Sharah Madahib-e-Ahlusunnah, Ibn Shaheen, vol 1, halaman 136, bab Fadilat ‘Ali bin Abi Talib, hadits nomor 103]


Ibn Shaheen meriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud bahwa Rasulullah (SAW) pernah bersabda bahwa memandang wajah ‘Ali itu adalah ibadah. 

(Ibn Shaheen memberikan pandangannya)bahwa hanya ‘Ali saja yang memiliki fadilah (keutamaan) ini dan tidak yang selain dirinya di kalangan para sahabat.
Kami sangat berterimakasih kepada Ibn Shaheen karena beliau sudah menyampaikan sebuah pernyataan yang indah dan memberitahu kami semua tentang aqidah anda dan pandangan anda.

Hadits Kedua:
Di sini kami hadirkan sebuah riwayat dari Maujam Kabir, Tabarani: 

حدثنا محمد بن عثمان بن ابي شيبة ، حدثنا احمد بن بديل اليامي ، حدثنا يحيى بن عيسى ، عن الاعمش ، عن ابراهيم ، عن علقمة عن عبد الله عن النبي (ص) قال : النظر الى وجه علي عبادة . “
Abdullah meriwayatkan dari Rasulullah (SAW) bahwa MEMANDANG WAJAH ALI itu adalah termasuk ibadah.
[LIHAT: Maujam Kabir, Tabarani; vol 10, halaman 93, Bab Tabi'i Abdullah bin Mas'ud; hadits nomor 10006, dicetak oleh  Maktba Ibn Taimiyya, Kairo]

Hadits Ketiga:

Kita bisa temukan seorang ulama ternama dari Ahlu Sunnah yang bernama Abu Na'im Isfahani mengatakan: 

38 – حدثنا محمد بن الحسن بن محمد بن الحسين بن أبي الحسين ، ثنا أحمد بن جعفر بن أصرم ، ثنا علي بن المثنى ، ثنا عاصم بن عمر البجلي ، عن الأعمش ، عن إبراهيم ، عن علقمة ، عن عبد الله ، قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « النظر إلى وجه علي عبادة » رواه عبيد الله بن موسى ومنصور بن أبي الأسود ويحيى بن عيسى الرملي عن الأعمش مثله
Muhammad bin Hasan mendengar dari  Ahmad bin Ja'far yang mendengar dari  Ali bin Mathna yang mendengar dari  Asim bin Umar yang mendengar dari  Aymash dari  Ibrahim dari Alqama dari Abdullah bahwa : "Rasulullah (SAW) pernah bersabda: 'Memandang wajah 'Ali itu ibadah'"
Abuaidullah bin Musa dan Mansur dan Yahya yang meriwayatkan dari Ayamash menyukainya.
[LIHAT: Fadail Khulafa Rashideen, vol 2, halaman 67]

Hadits Keempat: 


Hafiz Haithmi mengatakan:
عن عبد الله يعني ابن مسعود ان النبي صلى الله عليه وسلم قال النظر إلى علي عبادة. رواه الطبراني وفيه أحمد بن بديل اليامي وثقه ابن حبان وقال مستقيم الحديث، وابن أبي حاتم وفيه ضعف، وبقية رجاله رجال الصحيح. وعن طليق بن محمد قال رأيت بن الحصين يحد النظر إلى علي فقيل له فقال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول النظر إلى علي عبادة. رواه الطبراني وفيه عمران بن خالد الخزاعي وهو ضعيف. 
"Dari Abdullah bin Mas'ud mengatakan bahwa Rasulullah (SAW) bersabda: 'Memandang wajah 'Ali itu ibadah' Tabarani meriwayatkan itu dan di dalam hadits itu ada sanad Ahmad bin Badil dan ia adalah seorang tsiqah seperti yang dikataka oleh Ibn Haban; dan haditsnya kuat. dan ada juga Ibn Abi Hatim yang mengatakan ada kelemahan sementara para perawi lain dari hadits itu sahih semua. 
"Dan dari Taliq bin Muhammad yang mengatakan: 'Aku melihat Ibn Hasain yang sedang memandang wajah 'Ali (as); lalu aku bertanya mengenai hal itu. Lalu ia menjawab: 'Aku mendengar Rasulullah (SAW) bersabda bahwa memandang wajah 'Ali (as) itu ibadah.' Tabarani meriwayatkan hal itu dah ia menyebutkan ada sanad Imran bin Khalid yang lemah."


Hadits Kelima:


Ibnu Hajar Haitsami mengatakan di dalam kitab Sawaiq al-Muharriqah sebagai berikut:
الحديث الخامس عشر أخرج الطبراني والحاكم عن ابن مسعود رضي الله عنه أن النبي قال النظر إلى علي عبادة إسناده حسن
Tabarani dan Hakim meriwayatkan dari Ibnu Mas'ud bahwa  Rasulullah telah bersabda bahwa memandang wajah 'Ali adalah ibadah; isnad dari hadits ini hasan
As-Suyuthi menuliskan dalam tarikh-nya sebagai berikut: 
و أخرج الطبراني و الحاكم [ عن ابن مسعود رضي الله عنهما أن النبي صلى الله عليه و سلم قال : النظر إلى علي عبادة ] إسناده حسن
و أخرج الطبراني و الحاكم أيضا من حديث عمران بن حصين

Tabarani dan Hakim meriwayatkan dari Ibnu Mas'ud yang mengatakan bahwa Rasulullah pernah bersabda bahwa memandang wajah 'Ali itu adalah ibadah; isnaad dari hadits itu hasan
Dan Tabarani and Hakim meriwayatkan dari Imran bin Hasin
[LIHAT: Tareekh-ul-Khulafa, vol 1, halaman 150]


Hadits Ketujuh:

Imam Hakim menuliskan dalam kitabnya al-Mustadrak sebagai berikut:

4681 – حدثنا دعلج بن أحمد السجزى ثنات علي بن عبد العزيز بن معاوية ثنا إبراهيم بن إسحاق الجعفي ثنا عبد الله بن عبد ربه العجلي ثنا شعبة عن قتادة عن حميد بن عبد الرحمن عن أبي سعيد الخدري عن عمران بن حصين قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم النظر إلى علي عبادة
هذا حديث صحيح الإسناد و شواهده عن عبد الله بن مسعود صحيحة

Imran bin Hasin berkata: Rasulullah bersabda bahwa memandang wajah 'Ali itu ibadah 
"Hadits ini shahih dalam rantai sanad-nya dan hadits itu didukung oleh (hadits lain yang diriwayatkan) Abdullah bin Mas'ud, yang shahih"

[LIHAT: Mustadarak Imam Hakim, vol 3, halaman 153]



UNTUK LEBIH LENGKAP TENTANG PENJELASAN RANTAI SANAD BISA ANDA RUJUK DI TAUTAN BERIKUT INI: (klik saja)