"KEBENARAN TIDAK DITENTUKAN OLEH SEDIKIT BANYAKNYA ORANG YANG BERKATA BAHWA ITU BENAR"

Karbala Berduka

Karbala Berduka
Ya, Syahid! Ya, Madzhlum! Ya, Imam! Ya, Husein!

Kamis, 22 Juni 2017

(free e-book) BERAPAKAH USIA 'AISYAH KETIKA MENIKAH DENGAN RASULULLAH?

Menurut sejarah dalam kitab-kitab Ahlu Sunnah, ‘Aisyah masuk Islam di awal misi Kenabian ketika ia masih kecil (katanya 7 tahun). Kemudian Rasulullah Hijrah ke Madinah 13 tahun kemudian. Dan Rasulullah menikahi ‘Aisyah pada tahun ke-2 setelah peristiwa Hijrah.

KLIK SAMPUL BUKUNYA UNTUK MENGUNDUH .....



Click the book cover to download ....
Kalau begitu usia ‘Aisyah ketika menikah dengan Rasulullah ialah 7 ditambah 13 ditambah 2 sama dengan 22 tahun.

Lalu mengapa ustadz-ustadz kita bilang bahwa Rasulullah menikahi ‘Aisyah ketika ia berusia 6 atau 9 tahun?


MENGAPA DUSTA INI HARUS DISAMPAIKAN BERULANG HINGGA KAUM PEDOFIL BISA MENGAMBIL PEMBENARAN ATAS PERBUATAN MEREKA SAMBIL BERKILAH BAHWA MEREKA HANYA MENGAMBIL SUNNAH RASULULLAH?

Buku kecil nan sederhana ini, Insya Allah, akan memberikan wawasan baru tentang kehidupan Rasulullah. Kami berusaha sekuat tenaga untuk membersihkan nama Rasulullah yang terlanjur dikotori oleh "fakta-fakta" sejarah yang salah yang dulu dibuat oleh rezim Bani Umayyah. Dengan dibersihkannya sejarah Rasulullah dari campur tangan kotor rezim itu, kami berharap kita bisa sampai lagi kepada Islam yang murni; Islam yang sejati; Islam seperti dulu diperkenalkan dan diajarkan oleh sang Nabi.

Senin, 05 Juni 2017

SERIAL UMAR BIN KHATTAB (episode 5)


Apakah agama berperan dalam sejumlah ekspansi wilayah?

Memang benar bahwa agama memegang peranan di kalangan kaum Muslimin untuk keluar dari jazirah Arab (dengan tujuan mendakwahkan Islam) akan tetapi begitu mereka keluar dari jazirah, maka peran agama itu tidak lagi memerankan peranan yang penting lagi ketika mereka melakukan penaklukan bangsa-bangsa. Jadi agama hanya dijadikan dalih saja bagi mereka. Seandainya agama dan keshalehan itu adalah penyebab dari keberhasilan kaum Muslimin di dalam sejumlah penaklukan itu, maka  bagaimana kita menerangkan peran agama (kalau ada) dalam berbagai penaklukan yang dilakukan oleh bangsa-bangsa dunia yang sama sekali bukan kaum Muslimin? 

Bahkan bangsa-bangsa dunia yang melakukan ekspansi wilayah adalah semuanya merupakan musuh-musuh Islam akan tetapi mereka juga sanggup melakukan ekspansi wilayah atau penaklukan daerah dengan luas daerah yang kurang lebih sama atau bahkan lebih besar lagi—lebih luas daripada luas wilayah yang sanggup dikuasai oleh kaum Muslimin. 

Memang penaklukan atau ekspansi wilayah yang dilakukan oleh bangsa Arab itu cukup menakjubkan dalam hal kecepatannya akan tetapi itu tidak cukup hebat apabila dibandingkan dengan penaklukan yang dilakukan oleh bangsa lainnya. 

Alexander the Great
Kurang lebih sekitar seribu tahun sebelum datangnya Islam, Alexander the Great—Alexander yang agung—seorang lelaki dari Makedonia menaklukan wilayah mulai dari semenanjung Balkan hingga daerah perbatasan Cina; dan dari Libya hingga ke Punjab India, dalam kurun waktu hanya 10 tahunan saja. Padahal ia adalah seorang politeis—orang yang menyembah banyak tuhan. Kemanapun ia pergi, ia menyembah tuhan-tuhan setempat di daerah yang ditaklukannya. Di Yunani ia menyembah dewa Zeus. Ketika ia ke Libya, ia menyembah dewa Ammon-Ra; di Babylon ia menyembah Marduk; dan sewaktu sampai di Persepolis, ia menyembah Ahura. 

Penaklukan yang ia lakukan sama sekali tidak berdasarkan kepada agama tertentu atau agama dirinya sendiri. Malah agama sama sekali tidak dijadikan dasar atas penaklukan-penaklukan yang ia lakukan. Kalau saja Alexander yang agung itu tidak meninggal pada usia 32 tahun—usia yang masih sangat muda sebagai seorang penakluk—maka mungkin saja ia bisa menguasai seluruh dunia. 
Alexander the Great

Setelah masa para penakluk dari Yunani Kuno, datanglah para penakluk dari masa kerajaan Romawi. Para penakluk dari kerajaan Romawi itu merupakan para penakluk yang sangat berkuasa dan kuat sepanjang sejarah dan penaklukannya bertahan lebih lama daripada yang dilakukan bangsa manapun di dunia. Sama seperti para penakluk dari Yunani, mereka juga memiliki keyakinan politeisme. Mereka menyembah banyak Tuhan.  Walaupun kelak kekaisaran atau kerajaan Romawi Timur itu memeluk agama Kristiani pada awal abad ke-5 masehi. 




 
Jengis Khan
Pada abad ke-13, tentara Mongol yang dipimpin oleh Jengis Khan berhasil mengguncang dunia. Bangsa Mongol pada waktu itu merupakan musuh Islam yang paling berbahaya yang pernah mereka hadapi. Seluruh wilayah Asia berada di bawah kekuasaannya dan mereka berhasil mempermalukan Islam di seluruh benua itu. Penaklukan yang dilakukan oleh bangsa Mongol itu jauh lebih cepat dan lebih luas cakupannya dibandingkan dengan penaklukan-penaklukan yang dilakukan oleh bangsa Arab. Dalam kurun waktu 15 tahun saja, mereka sudah berhasil menguasai seluruh dataran Cina, seluruh wilayah Rusia, dan seluruh Asia Tengah dan Asia Barat. Bangsa Mongol juga berhasil memasuki wilayah Eropa sampai ke negara Hungaria. Sementara kaum Muslimin dalam usaha penaklukannya malah dikalahkan di sebelah barat di kota Tours (Prancis) dan di sebelah timur di kota Konstatinopel. Sementara itu pasukan Mongol terus-menerus meraih kemenangan dimana-mana. Mereka mundur dari Eropa Pusat hanya karena pemimpin mereka yaitu Jengis Khan yang agung, meninggal di dekat Karakorum.



Pasukan Mongol itu sama sekali tidak menganut agama apapun. Lalu apa yang mendorong mereka untuk melakukan penaklukan dunia ini? Tentu saja bukan didorong oleh motif agama atau karena mereka ini orang-orang shaleh dan bertakwa. 

Pada abad ke-16, Castilian Conquistadores memasukkan bangsa Spanyol sebagai salah satu bangsa terkemuka di dunia. Sekelompok kecil dari orang-orang Spanyol meninggalkan pantai-pantai di Spanyol untuk melakukan penaklukan mencari dunia baru. Mereka menaklukan dua buah benua di bawah kaki raja Spanyol. Memang benar bahwa mereka terilhami atau terdorong oleh ajaran agama mereka walaupun mereka itu tidak shaleh-shaleh amat. Akan tetapi agama yang mendorong mereka untuk melakukan itu ialah agama Katolik (bukan Islam, tentunya).

Ajaran agama yang mendorong mereka bukan Islam, malah sangat anti Islam. Sebelum mereka menemukan benua baru yaitu Amerika, mereka sudah terlebih dahulu mengalahkan kaum Muslimin di Granada pada tahun 1492. Mereka mengusir kaum Muslimin dari Spanyol dan secara membabi buta menghapus setiap peninggalan atau jejak-jejak kebudayaan Islam di sana, di jazirah Iberia.  
Pada abad ke-17, bangsa Belanda giliran memperoleh kejayaannya. Kisah kejayaan mereka ibarat kisah kepahlawanan yang hebat tiada bandingnya. Di negara mereka sendiri, mereka sibuk berjuang untuk mempertahankan diri dari dua musuh berat—yaitu bangsa Spanyol dan laut lepas; dan mereka berhasil mengatasi keduanya. 

Mereka berhasil mengusir bangsa Spanyol dari Belanda, dan mereka sudah bisa menjinakkan laut utara yang buas. 

Karena bangsa Belanda sudah bisa menaklukan dua musuh beratnya itu, maka bangsa Belanda melihat ke laut lepas untuk mengarunginya demi menaklukan dua baru. Dinamika perang dengan bangsa Spanyol dan dengan laut utara yang buas itu memberikan mereka momentum kemenangan dan keberhasilan yang mengantarkan mereka untuk berkelana keliling dunia. Dengan tenaga dan semangat yang menyala-nyala mereka mengelilingi dunia; menaklukan bangsa-bangsa lainnya; menjajah mereka; dan membangun peradaban di daerah-daerah yang ditaklukannya. 

Bangsa Belanda itu bukan saja pelaut ulung akan tetapi mereka juga pandai berdagang selain tentu saja menjadi penjajah bagi wilayah-wilayah koloninya. Mereka membangung pabrik-pabrik di India; mereka mendirikan daerah-daerah jajahan di Amerika Utara dan Amerika Selatan selain juga di Afrika Selatan. Daerah jajahannya di Afrika Selatan menjadi salah satu yang paling berhasil di dunia ini. 

Bangsa Belanda juga mendirikan kerajaan-kerajaan. 12 ribu mil jauhnya dari kampung halamannya, mereka menaklukan Hindia Belanda (Indonesia)—sebuah wilayah yang paling kaya dari seluruh daerah jajahan yang ada. Dan mereka menduduki Hindia Belanda hingga 350 tahun lamanya. 

Pada masa kejayaan bangsa Belanda ini—yaitu pada abad ke-17—bangsa Belanda sebenarnya jumlah populasinya sangatlah kecil. Akan tetapi meskipun mereka itu sangat kecil, mereka memiliki kualitas individu yang sangat prima. Mereka tidak menjadikan kuantitas yang kecil itu sebagai hambatan untuk meraih kesuksesan. Dengan itu mereka sekaligus membuktikan bahwa tidak ada hubungannya antara jumlah populasi sebuah bangsa yang besar dengan kesuksesan bangsa tersebut.

Bangsa Belanda menunjukkan kepada kita sebuah prestasi (kalau itu boleh disebut prestasi) sebuah bangsa yang kecil bisa membuat sebuah perbedaan di pentas sejarah. Kesuksesan mereka juga membuktikan sekaligus bahwa tidak ada hubungan antara agama dan prestasi yang mereka buat. 

Berabad-abad sebelum munculnya ketangguhan yang membuatnya berhasil, bangsa Belanda sudah memeluk agama Kristen dan menjadi pemeluk yang taat. Akan tetapi mereka baru dikenal di pentas sejarah mulai abad ke-17.

Pada abad ke-19, giliran bangsa Inggris yang memulai mengukir sejarah untuk mereka sendiri. Di Amerika Utara, mereka menguasai dan memimpin setengah benua Amerika sebelah utara. Sedangkan di Afrika, kekuasaan mereka membentang dari Alexandria di utara hingga ke Cape Town di selatan. Dan kekuasaannya di Asia Selatan, bangsa Inggris menguasai mulai dari Kabul (Afghanistan) hingga ke Rangoon. Bangsa Inggris menjajah Australia dan New Zealand. Mereka mendirikan Pax Britannia yang melingkupi luas wilayah yang sangat luas sekali sekitar satu perempat dunia.

Pada abad ke-18 ketika bangsa Inggris membangun kekuasaannya, mereka hanya memiliki pasukan 35,000 orang saja dan 7,500 dari mereka sibuk menenteramkan daerah Irlandia. 

Ketika angkatan lautnya merekatkan dan menjaga kerajaan Inggris, para pedagangnya membangun kekuasaan lain—kerajaan bisnis yang tak terkalahkan. Kerajaan perdagangannya-lah yang berhasil menguasai negara-negara yang luput dari kekuasaan politik mereka dan tidak bisa ditaklukan lewat kekuatan senjata.

Pada suatu ketika, ketika kekuasaan Inggris sedang pada puncak-puncak kejayaannya, tidak ada satu bangsa-pun di dunia ini yang bisa mengalahkan mereka baik di darat maupun di laut.  

Akhirnya dengan kekuatan politik dan kekuatan pengaruh bisnisnya, bangsa Inggris berhasil membuat hegemoni budaya atas negara-negara yang ditundukannya. Bangsa Inggris menyebarkan Bahasa Inggris ke berbagai penjuru dunia sehingga Bahasa Inggris menjadi Bahasa yang dipakai di banyak negara di dunia hingga saat ini. 

Inggris mencapai keberhasilan seperti ini bukan karena mereka itu bangsa yang shaleh dan bertakwa; bukan karena mereka sangat taat beragama. Mereka tidak begitu tertarik dengan permasalahan yang menyangkut agama. Jadi ketika mereka mencaplok satu demi satu sebuah negara; ketika mereka mengambil wilayah setiap langkahnya, sama sekali tidak ditujukan untuk agama yang mereka anut. Mereka tidak tertarik untuk menyebarkan agama. Mereka melakukan itu hanya untuk negara mereka. Mereka melakukan hal itu untuk Britania Raya.

Sistem penjajahan yang diterapkan oleh Inggris, Perancis, dan Belanda menguasai dunia selama kurang lebih 2 abad lamanya. Negara-negara yang mayoritas penduduknya Muslim dimana-mana ada di bawah kaki-kaki negara-negara adidaya ini. Akan tetapi setelah dua Perang Dunia, daerah-daerah jajahan ini satu per satu hilang. Dari sisa-sisa dari daerah penjajahan ini mulailah muncul bangsa-bangsa baru. Salah satu dari bangsa ini adalah Bangsa Zionis Israel.

Pada tanggal 14 Mei tahun 1948, Inggris melepaskan mandat mereka terhadap Palestina dan para penduduk Yahudi di negara itu memproklamasikan kelahiran Negara Israel. Pada keesokan harinya, yaitu pada tanggal 15 Mei, 5 negara Arab menginvasi Israel dengan tujuan untuk “memukul mundur Israel ke laut.” Akan tetapi mereka sama sekali tidak mampu mengusir Israel ke laut. Israel malah meluluh lantakkan mereka semua dan mereka akhirnya harus lari terbirit-birit dan berlindung di rumahnya masing-masing. 

Sejak itu, masih ada beberapa perang lagi antara Aran dan Israel. Ada perang pada tahun 1956 dan satu lagi pada tahun 1967. Dalam kedua perang itu, Israel mengalahkan bangsa-bangsa Arab dan mencaplok banyak sekali wilayah mereka termasuk wilayah bersejarah yaitu Jerusalem. 

Pada bulan Agustus tahun 1969, salah satu bagian dari Mesji al-Aqsa Jerusalem, terbakar hebat. Kebakaran itu adalah sebuah perbuatan yang disengaja. Seluruh kaum Muslimin—baik bangsa Arab maupun non-Arab, tersulut amarahnya demi melihat perbuatan yang keterlaluan itu. Gelombang protes dan rasa amarah segera meluas ke berbagai penjuru dunia Muslim—malah sampai ke dunia Muslim yang 10,000 mil jauhnya seperti dari Indonesia di timur dan Mauritania di barat. 

Bangsa-bangsa Muslim di seluruh dunia mengadakan sebuah konferensi di Rabat (Maroko) untuk memutuskan langkah apa yang harus diambil untuk menyelamatkan Jerusalem dari Israel. Israel yang bandel malah balik menantang dunia Muslim, akan tetapi dunia Muslim tidak berani dan tidak mau menyanggupi tantangan itu.

Pada bulan Oktober tahun 1973, giliran Mesir menyerang Israel di Yom Kippur ketika orang-orang Yahudi itu sedang lengah. Bangsa Yahudi berhasil dipukul mundur. Akan tetapi kemudian mereka bangkit dari rasa keterkejutannya dan segera menyerang balik. Mereka bergerak cepat mengarungi gurun Sinai melintasi Suez kemudian mereka berdiam di tepi barat terusan Suez itu—kira-kira 60 mil jauhnya dari Kairo. Kemudian mereka mengepung tentara Mesir dari sana!

Amerika lah yang kemudian datang dan menekan Israel agar segera membebaskan pasukan ketiga Mesir. Akan tetapi lucunya, Mesir kemudian mengklaim bahwa langkah militer terhadap Israel itu adalah sebuah bentuk “kemenangan” bagi Mesir. “Perang kemudian Menang” itulah kata Pemerintah Mesir pada waktu itu, dan itu cukup untuk mengembalikan moral dan harga diri bangsa Mesir meskipun sebenarnya PBB dan Amerika Serikat lah yang sebenarnya telah menyelamatkan mereka dari bencana itu. 
Pada bulan Juni tahun 1982, Israel merangsek maju dengan kasar ke negara Lebanon. Mereka mengeluarkan para gerilyawan Palestina dari negara itu sementara bangsa Arab hanya bisa duduk termangu dan putus asa—walaupun mereka ibaratnya raksasa yang jauh lebih besar dibandingkan dengan Israel. Raksasa yang tanpa daya. 

Di dalam semua peperangan ini, satu-satunya kekuatan negara-negara Arab yang tidak pernah surut ialah kekuatan ekonomi. Mereka memiliki kekuatan ekonomi yang jauh lebih kuat dibandingkan dengan negara-negara dunia ketiga manapun. Sementara untuk tenaga kerjanya atau kualitas manusianya, negara-negara Arab memang jauh dari harapan. Meskipun jumlahnya jauh lebih banyak akan tetapi kualitasnya jauh dibawah Israel. Jumlah penduduk Arab itu 50 dibanding 1 dibanding dengan Israel (artinya jumlah orang Arab 50 kali lipat lebih banyak dibanding jumlah orang Yahudi).  

Kita dihadapkan dengan sebuah paradox dimana ada sebuah bangsa yang memiliki kekayaan akan tetapi di sisi lain mereka memiliki tidak-berdayaan. Harta melimpah ruah akan tetapi moral jatuh rata dengan tanah. Memiliki modal strategis tapi tidak mampu menggunakannya sama sekali ketika mereka berkonfrontasi dengan Israel.

Malah lebih menyedihkan lagi bisa dikatakan bahwa beberapa negara Arab—misalnya Yordania—malah merasa mendapatkan “kebebasan” nya dari “belas kasih” negara Israel. 

Sekali lagi bisa kita simpulkan bahwa agama—baik itu agama apapun, atau paganisme yang menyembah banyak Tuhan, atau animisme sekalipun, atau Kristen, atau Islam sebenarnya tidak begitu memerankan peranan penting dalam sebuah keberhasilan ekspansi wilayah sebuah bangsa (kehebatan Umar bin Khattab atau khalifah lainnya dalam melakukan ekspansi wilayah bukanlah karena ketakwaan dan keshalehan atau kepatuhannya pada Islam—pen.). Fenomena yang terjadi berulang kali di dalam sejarah dunia ialah bahwa sebuah bangsa apapun bisa saja menjadi bangsa yang kuat secara militer, politis, atau juga secara intelektual. Bangsa apapun bisa saja menjadi sangat tak terkalahkan dan tak terbendung kekuatannya. 

Selama beberapa abad dari tahun 632 hingga tahun 732 adalah abad kejayaan bangsa Arab. Bangsa Arab pada waktu itu sangat kuat. Mereka memperoleh kemenangan dimana saja. Mereka tak terbendung kekuatannya. Mereka tak terkalahkan dimana-mana—pada abad-abad itu. 

Islam memang mempersatukan mereka dan memberikan mereka arah dan tujuan hidup. Islam memberikan mereka sebuah kekuatan. Tanpa Islam, masa depan mereka tidak akan memiliki makna dan hampa seperti masa lalu mereka. Akan tetapi, tetap saja tidak ada hubungannya antara penaklukan atau ekspansi wilayah yang mereka lakukan dengan kesalehan dan ketakwaan mereka.

Sabtu, 27 Mei 2017

SERIAL UMAR BIN KHATTAB (episode 4)

Penaklukan yang dilakukan oleh bangsa Arab

Jenderal-jenderal Umar menaklukan bangsa-bangsa besar dunia seperti bangsa Persia, Syria, dan Mesir. Para penerus Umar dari kalangan Bani Umayyah meneruskan penaklukan ini jauh sekali hingga sampai bagian selatan Prancis di sebelah barat dan perbatasan-perbatasan sebelah barat dataran Cina serta lembah Hindustan di sebelah timurnya. Para peneliti sejarah merasa takjub dan heran melihat betapa cepatnya dan betapa luasnya penaklukan-penaklukan yang dilakukan oleh bangsa Arab pada abad ke-7 atau ke-8. Bangsa Arab itu melakukan penaklukan-penaklukan itu dalam kurun waktu 100 tahun saja—dan itu merupakan penaklukan yang tercepat dan terluas dalam sejarah.

Beberapa abad kemudian, para peneliti sejarah terus mencari penjelasan yang bisa menjawab pertanyaan: “Mengapa bangsa Arab itu bisa melakukan penaklukan yang menakjubkan seperti itu?”

Akhirnya para sejarawan berhasil menemukan jawaban dari keberhasilan tentara Arab. Beberapa faktor yang membuat penaklukan-penaklukan itu berhasil diantaranya ialah:

1.  Adanya perang saudara dan perbuatan anarkis di Persia.
2. Adanya perang antara Persia dan Romawi yang baru bisa berakhir setelah 26 tahun lamanya—peperangan itu membuat kedua negara adidaya pada masa itu kehabisan tenaga, menderita banyak korban, dan jatuhnya moral di kedua belah pihak.
3. Adanya ketidak-puasan dan ketidak-sukaan di kalangan masyarakat di Syria dan Mesir terhadap apapun yang berbau Romawi; dan sebaliknya mereka melihat bangsa Arab sebagai bangsa yang akan membebaskan mereka.
4. Hilangnya “payung” bantuan dari masyarakat setempat untuk orang-orang Romawi.
5. Kerajaan Persia dan Romawi sangat bergantung kepada wajib militer dan tentara bayaran untuk menghimpun kekuatan perangnya sedangkan mereka semua sudah kehilangan semangat dan jatuh moralnya.
6. Adanya persekusi atau hukuman berat bagi orang-orang yang memiliki keyakinan dan agama yang berbeda—dan ini dilakukan oleh baik bangsa Persia maupun bangsa Romawi.
7. Adanya pajak yang mencekik leher yang diberlakukan oleh bangsa Persia dan bangsa Romawi terhadap orang asing dan para petani miskin.
8. Tentara Persia dan Romawi tidak bisa bergerak cepat karena mereka membawa perlengkapan sangat berat dan sangat banyak; sementara itu pasukan bangsa Arab sangat mobil dan lincah. Pasukan Arab bisa memilih target dan kemudian menyerangnya secara tiba-tiba dan kemudian mundur ke gurun pasir dengan unta-unta mereka yang gesit sementara pasukan Persia dan Romawi tidak bisa mengejar mereka ke gurun karena mereka memerlukan logistik yang sangat banyak dan mereka tidak didukung oleh itu.
Sebenarnya kalau pasukan Arab itu kalah jumlah dengan musuh-musuhnya akan tetapi ternyata ini bukan masalah sama sekali. Sejarah panjang umat manusia menunjukkan banyak sekali contoh dimana kekuatan kecil bisa mengalahkan kekuatan-kekuatan besar.

Akan tetapi di kalangan Muslim sendiri, alasan-alasan tersebut di atas bukanlah alasan-alasan yang mendasari kemenangan mereka. Kaum Muslimin senantiasa mendasarkan kemenangan pasukan Muslim itu atas keshalehan dan ketakwaan dari pasukannya. Jadi mereka menang karena mereka itu shaleh dan bertakwa; karena mereka dekat dengan Allah Ta’ala.

Kekuatan yang mendorong keberhasilah penaklukan-penaklukan oleh bangsa Arab pada abad ketujuh mereka yakini berasal dari Islam; dan setiap orang Arab yang berangkat meninggalkan jazirah Arab untuk menyerang musuhnya dianggap sebagai Mujahid atau prajurit suci—prajurit yang berjuang untuk Tuhan.

Klaim ini sebenarnya tidak seluruhnya benar. Memang benar, ada sebagian kaum Muslimin yang mau mendakwahkan cahya Islam di dunia ini kepada orang lain, akan tetapi di sisi lain ada juga sekelompok Muslim (yang sayangnya merupakan kelompok mayoritas) yang “berjuang” hanya untuk kepentingan duniawi saja dan menggunakan “penaklukan-penaklukan” itu untuk mengumpul dan menumpuk-numpuk harta saja. Mereka memiliki syahwat yang tinggi dan dasyhat kepada kekuasaan dan kekayaan.

Joel Carmichael

Joel Carmichael mengemukakan sebagai berikut:
Dorongan yang sangat kuat yang bisa mendorong kaum Arab Baduy keluar dari jazirah Arabia ialah perasaan lapar dan keserakahan, sesuatu yang sebenarnya sangat wajar dan alamiah yang terdorong oleh keadaan yang terjadi di sana pada waktu itu. Selain itu juga ada kesempatan dan harapan untuk menemukan dan memiliki harta kekayaan dari daerah yang mereka kuasai.”

“Ada diantara mereka yang ‘membunuh untuk tujuan akhirat’, akan tetapi kebanyakan diantara mereka ‘membunuh untuk tujuan mendapatkan dunia’ semata. Dakwah yang diajarkan Muhammad untuk tujuan akhirat benar-benar lenyap ketika kaum Muslimin melakukan penaklukan-penaklukan dengan menjarah banyak sekali harta pampasan perang yang mereka rebut; menjadikan seorang lelaki Qurays—yang dulunya begitu shaleh dan malah disebut-sebut sebagai salah seorang dari 10 lelaki yang dijamin masuk surga oleh Muhammad karena kepatuhannya kepada ajaran Islam—menjadi seseorang yang kaya dan meninggalkan sebidang tanah yang diperkirakan harganya sekitar 35 dan 52 juta dirham. Ia memiliki 11 buah rumah di Madinah saja; selain itu ia juga memiliki rumah-rumah lainnya di Basrah, Kufah, Fustat, dan Alexandria.”

“Salah seorang sahabat Muhammad yang termasuk kedalam 10 orang yang dijamin masuk surga oleh Muhammad juga memiliki sebuah properti yang diperkirakan harganya sekitar 30 juta dirham. Ketika ia meninggal, pelayannya saja memiliki uang 2 juta dirham banyaknya.”

“Apabila kita lihat contoh-contoh tersebut di atas dengan jelas dan jernih, maka sangat terang-benderang lah bahwa  sangat bodoh kalau kita menyebutkan penaklukan-penaklukan yang dilakukan bangsa Arab itu dilakukan dengan berdasarkan semangat keshalehan atau ketakwaan yang didorong oleh ajaran yang diajarkan oleh Muhammad. ...... tidak diragukan lagi bahwa mengajarkan Islam dan membuat orang tertarik kepada Islam bukanlah tujuan utama dari bangsa Arab pada waktu itu. Secara khusus, yang namanya keshalehan dan ketakwaan itu—yang seharusnya menjadi ciri atau tanda ke-Islam-an, benar-benar jauh dari para penakluk dari bangsa Arab pada waktu itu.”

“Sudah dijelaskan sebelumnya bahwa dorongan kuat yang mendorong kaum Muslimin Arab untuk melakukan ekspansi wilayah itu bukanlahlah berasal dari dorongan relijius, melainkan dorongan untuk melakukan perluasan wilayah yang disebabkan oleh keadaan yang ada di jazirah Arab itu sendiri. Orang-orang seperti Khalid (bin Walid) atau Amr (bin Aas), misalnya, jelaslah bukan orang yang shaleh atau orang yang takwa. Keinginan dan niat mereka sangatlah praktis. Beralihnya mereka kaum aristrokrat ke barisan kaum Muslimin menyuntikan benih-benih sekularisme ke tubuh umat, yang walaupun dibungkus dengan agama tetap saja tujuannya sangat  politis.”

(LIHAT: The Shaping of the Arabs, New York, 1967) 

Minggu, 14 Mei 2017

SERIAL UMAR BIN KHATTAB (episode 3)

Kebijakan Pemerintahan Umar untuk kaum Sipil dan Militer


Karena wilayah kekuasaan rezim pemerintahan Umar makin meluas kemana-mana, maka Umar harus membuat sebuah sistem pemerintahan. Akan tetapi bangsa Arab tidak memiliki pengalaman sedikitpun tentang masalah sistem pemerintahan ini. Oleh karena itu, Umar membiarkan sistem pemerintahan peninggalan Persia dan Romawi di daerah-daerah yang telah ia kuasai tetap berjalan sebagaimana biasanya. Para aparat yang menjalankan sistem pemerintahan itu juga dibiarkan menjalankan tugasnya sehari-hari seperti sebelumnya.

Umar kemudian mendirikan banyak sekali daerah-daerah militer di Irak, Syria, dan Mesir. Karena Umar menginginkan bangsa Arab sebagai kelas penguasa dan petarung, maka Umar tidak mengijinkan merak membeli tanah dan bermukim atau bertani di daerah-daerah yang sudah ditaklukannya. 

Untuk menarik pajak tanah, Umar juga mempertahankan sistem yang telah ditetapkan dan pernah dijalankan oleh bangsa Persia dan Romawi. Akan tetapi di Irak ditemukan bahwa mereka harus mensurvey tanah-tanah yang subur yang sangat bisa ditanami agar tanah-tanah itu bisa ditarik pajaknya. Bangsa Arab pada waktu itu sama sekali tidak mengetahui apapun tentang penarikan pajak atas tanah. Terkecuali salah seorang Arab yang bernama Utsman bin Hunaif yang tinggal di Madinah . Ia adalah orang yang sangat piawai dalam hal pemberlakuan dan penarikan pajak. 

Meskipun Umar memiliki kebijakan politik untuk tidak memilih satu orang Ansar pun untuk jabatan-jabatan penting, akan tetapi untuk hal ini ia tidak memiliki pilihan lain. Umar terpaksa mengangkat Utsman bin Hunaif untuk bertugas sebagai pengawas urusan tanah di Irak. Qadi Yusuf menyebutkan bahwa Utsman bin Hunaif itu megurus perpajakan di seluruh jazirah Arab. Ia juga bertugas untuk menentukan pajak penghasilan tanah dan mengurus reklamasi tanah (LIHAT: Kitabul-Kharaj dan Siyar-ul-Ansar).

Dalam kurun waktu kurang dari satu tahun saja, Utsman bin Hanif berhasil menyelesaikan tugasnya mengukur tanah di seluruh provinsi yang baru dan kemudian menentukan pajak dari masing-masing tanah yang sudah diukurnya itu.

Utsman bin Hanif akhirnya diangkat menjadi Komisaris Keuangan pertama di Irak dan secara kebetula ia menjadi salah seorang Ansar yang jumlahnya sedikit sekali yang berhasil menjadi petugas yang memiliki otoritas di jaman rezim kekhalifahan Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan. 

Ketika Syria, Yordania, dan Palestina ditaklukan, Umar bin Khattab menunjuk Yazid bin Abu Sufyan sebagai gubernur Syria. Sedangkan untuk Yordania ditunjuk Syurahbil bin Hasana sebagai guberunurnya dan untuk Palestina ditunjuk Amr bin Aas sebagai gubernurnya. Sementara Abu Ubaidah bin al-Jarrah ditunjuk sebagai gubernur kota Damaskus.

Ketika Amr bin Aas menaklukan Mesir, Umar menunjuknya menjadi gubernur Mesir. Yazid bin Abu Sufyan sendiri sebagai gubernur Syria meninggal pada peristiwa bencana wabah penyakit menular pada tahun 18H. 

Ketika Umar mendengar berita tentang kematiannya itu, ia pergi untuk menjenguk Abu Sufyan (ayahnya Yazid) untuk menyampaikan rasa duka citanya. Akan tetapi Abu Sufyan menukas Umar dengan bertanya, “SIapa nantinya yang akan engkau tunjuk untuk menggantikan kedudukan anakku Yazid yang sudah meninggal itu?” Umar menjawab, “Tentu saja orang yang akan menggantikannya itu ialah saudaranya sendiri, Mu’awiyah.” Dengan segera saja Abu Sufyan melupakan kesedihannya atas meninggalnya anaknya itu dan ia segera merayakan penunjukkan puteranya yang kedua, yaitu Mu’awiyah, sebagai gubernur Syria.

Ketika Abu Ubaidah meninggal dunia, Umar memasrahkan kota Damaskus di bawah kekuasaan Mu’awiyah. Umar menetapkan gaji Mu’awiyah sebesar 60,000 keping uang emas per tahun (LIHAT: al-Isti’ab, volume I)

Setelah memecat Khalid bin al-Walid sebagai jenderal perang di Syria, Umar menunjuk Khalid sebagai gubernur distrik Kinnisirin untuk sementara waktu akan tetapi setelah itu, Umar kembali memecatnya dengan tuduhan bahwa Khalid itu selalu bersifat “sombong”.

Sa’ad bin Abi Waqqas sebagai salah seorang pemenang Perang Qadisiyyah—berperang dengan orang-orang Persia—ditunjuk menjadi gubernur Umar di Irak. Ia juga kemudian dipecat pada tahun 21H. 

Amr bin Aas menjadi gubernur-nya Umar untuk Mesir. Umar tidak memecat Amr bin Aas akan tetapi Umar membatasi kekuasaannya dengan menunjuk Abdullah bin Saad bin Abi Sarah sebagai “watchdog” (orang yang mengawasi tindak tanduk orang lain) untuk mengawasi Amr bin Aas terutama yang menyangkut masalah keuangan. 

Umar itu terkenal sekali sebagai orang yang sangat teliti dalam masalah kekuasaan dan penugasan para jenderal dan gubernurnya. Umar sangat sensitif dengan desas-desus atau keluhan yang berkaitan dengan para pembantunya itu. Kalua sedikit saja ada keluhan, maka ia akan cepat-cepat memecat mereka tanpa mengenal ampun. Akan tetapi itu tidak berlaku bagi satu orang—satu nama—yaitu MU’AWIYAH! Umar sangat memanjakan putera-putera dari Abu Sufyan dan klan Bani Umayyah. 





Mu’awiyyah bin Abu Sufyan putera dari Hindun, menjadi gubernur Syria dan ia tinggal di kota Damaskus dan hidup dalm kemewahan sebagai seorang raja dikelilingi oleh dayang-dayang dan para pengawal yang banyak. Sebenarnya gaya hidup seperti itu tidak disukai oleh Umar. Umar tidak suka para gubernurnya hidup mewah seperti itu. Akan tetapi Mu’awiyah adalah sebuah kekecualian. Bagi Mu’awiyah Umar menerapkan aturan yang “spesial”. Aturan yang berlaku bagi para gubernur yang lain, tidak berlaku bagi Mu’awiyah.
Di dalam Tarikh-nya (Tarikh, vol. VI), Tabari mencatat sebuah peristiwa sebagai berikut: 

Umar pada suatu ketika berada di Damaskus dan Mu’awiyah mengunjunginya setiap hari—baik itu di pagi hari maupun di malam hari—datang dengan busana mewah seperti yang dikenakan oleh para raja lengkap dengan hiasan dan pernak-pernik kemewahan diiringi para pengawalnya yang lengkap. Ketika Umar berkomentar sedikit sinis dengan penampilannya itu, Mu’awiyah berkata bahwa Syria itu dipenuhi oleh mata-mata dari Romawi, dan ia merasa perlu untuk memberikan kesan kepada para mata-mata Romawi itu agar terkesan dengan “kejayaan” Islam. Jadi tampilan kemewahan yang ia tampilkan itu semata-mata untuk memberikan kesan di luar bahwa Islam itu jaya. 
Akan tetapi Umar tidak yakin dengan hal itu, dan untuk itu ia menukas: “Itu adalah jebakan yang dibuat oleh orang licik dan culas.” Mu’awiyah menjawab: “Kalau begitu aku akan melakukan apa saja yang engkau katakan, ya Amirul Mukminin.” Umar kemudian berkata: “Apabila aku berkeberatan kepads sesuatu (yang engkau lakukan), engkau langsung mengatakan sesuatu yang membingungkan aku. Aku jadi tidak tahu lagi harus melakukan apapun.”
Di sini Umar terlihat sekali sangat “tidak berdaya” di hadapan anak buah kesayangannya itu. Umar bisa dengan mudah memberikan ampunan dan ma’af kepada Mu’awiyah atas apapun yang dilakukan olehnya. Umar malah mempertunjukan sikap ramah yang luar biasa kepada Abu Sufyan dan para puteranya. 

Sekali mereka (keluarga Bani Umayyah) diberikan kedudukan dan kekuasaan—diberikan tugas dan mandat serta kewajiban—maka mereka akan memperkuat kedudukan mereka agar kedudukan mereka itu tidak bisa lagi diambil oleh siapapun. Dengan cara inilah maka keluarga Bani Umayyah yang memiliki sifat penjajah dan penindas berkuasa atas kaum Muslimin selama beberapa abad lamanya.

Tampaknya, penjajahan yang dilakukan oleh Bani Umayyah terhadap kaum Muslimin itu sejalan dengan kebijakan politik yang telah berjalan semenjak peristiwa Saqifah. (LIHAT: Peristiwa Saqifah yang mengantarkan Abu Bakar menjadi Khalifah)

Rabu, 03 Mei 2017

SERIAL UMAR BIN KHATTAB (episode 2)

Peristiwa-peristiwa Penting pada Masa Rezim Pemerintahan Umar

Ketika akhirnya Umar berhasil meraih khilafah, pasukan Kaum Muslimin pada waktu itu sedang memerangi orang-orang Persia di Irak dan orang-orang Romawi di Syria. Pasukan di Syria dipimpin oleh seorang jenderal perang yang bernama Khalid bin Walid—yang menjadi jenderal favorit-nya Abu Bakar. 

Ketika Umar menjadi Khalifah, kebijakan pertama yang dilakukan olehnya memecat Khalid bin Walid dari kedudukannya sebagai seorang jenderal dan mencabut semua wewenangnya sebagai seorang jenderal. 

Umar kemudian mengangkat Abu Ubaidah bin al-Jarrah sebagai jenderal utama yang memimpin pasukan Muslimin di Syria. Shibli—sejarawan India—mengatakan bahwa Umar sudah sejak lama memendam rasa benci kepada Khalid bin Walid karena tindak tanduk dan sifat buruknya. (LIHAT: (Free E-Book) Khalid bin Walid: Pahlawan Perang atau Penjahat Perang?)

 
KHALID BIN WALID: "Benarkah ia pahlawan perang?"

Shibli


Akan tetapi selain rasa benci atau rasa tidak sukanya itu, Umar juga memiliki perasaan lainnya. Ia merasa iri karena Khalid lebih terkenal daripada dirinya dan lebih luas pengaruhnya.

Apabila Umar tidak suka kepada Khalid karena Khalid pernah berbuat jahat, maka sebenarnya Umar harus secara resmi mengajukan tuntutan kepada Khalid. Umar seharusnya melakukan penyelidikan penuh atas kejahatan Khalid karena ia telah membunuh Malik bin Nuwairah dan memperkosa istri Malik setelah berhasil membunuh suaminya. Apabila Khalid terbuti bersalah, maka Umar bisa memerintahkan pengadilan untuk menghukumi Khalid bin Walid berdasarkan syari’at Islam. Seharusnya inilah yang dilakukan Umar. 

Akan tetapi ternyata Umar tidak membuat tuntutan, dan ia juga tidak melakukan penyelidikan atas kejahatan Khalid bin Walid itu. Umar hanya langsung memecat Khalid tanpa alasan yang jelas. Khalid bin Walid kemudian hidup sebagai warga biasa. Ia jatuh miskin dan meninggal dalam kemiskinan pada tahun 21H dan tidak dihiraukan orang.

Rezim pemerintahan Umar ditandai dengan berbagai penaklukan beberapa wilayah. Jenderal-jenderal yang diangkatnya berhasil menaklukan Irak, Iran, Azerbaijan, Kirman, Seistan, Khurasan, Syria, Jordan, Palestina, dan Mesir. Kemudian Umar menggabungkan semua wilayah taklukannya itu menjadi bagian wilayah khilafah Islam. 

Semua wilayah taklukan ini menjadi wilayah taklukan yang bersifat permanen. Kekaisaran Romawi harus merelakan Syria, Palestina dan Mesir selamanya. Sementara kekaisaran di Persia---yaitu kekaisaran Sasani—harus berhenti berkuasa selamanya. 

Beberapa kejadian penting lainnya yang terjadi pada masa rezim kekhalifahan Umar ialah menjangkitnya wabah penyakit pes yang dasyhat di Syria pada tahun 18H. Kemudian juga ada bencana kelaparan di Hijaz pada tahun yang sama. Bencana penyakit menular dan kelaparan itu menelan korban jiwa sebanyak kurang lebih 25.000 orang (LIHAT: Suyuthi dan Abul Fida). 

Serial 1: Umar bin Khattab, Sang Khalifah
Serial 3 : Kebijakan Pemerintahan Umar untuk kaum Sipil dan Militer
Serial 4 : Penaklukan yang dilakukan oleh bangsa Arab
Serial 5 : Apakah agama berperan dalam sejumlah ekspansi wilayah?

Senin, 24 April 2017

SERIAL UMAR BIN KHATTAB (episode 1)

Umar bin Khattab, Sang Khalifah

Pada jaman jahiliyyah, Umar bekerja sebagai seorang agen pedagang. Shibli—seorang ahli biografi—menuturkan bahwa pada masa mudanya, Umar bekerja menggembalakan unta-unta. Sebelum Umar memeluk Islam, Umar adalah seorang musuh Nabi Muhammad yang sangat sengit permusuhannya. 

Ketika Rasulullah menyebarkan dakwah Islamnya, banyak sekali orang yang mengenalinya sebagai seorang utusan Tuhan. Umar sendiri baru menganggap Muhammad sebagai Rasulullah setelah 6 tahun Muhammad (SAW) mengemban misi dakwahnya.

Ada beberapa gelintir sejarawan yang mengatakan bahwa Umar itu adalah seseorang yang sangat kuat dan berpengaruh di masanya dan ketika ia memeluk Islam maka para penyembah berhala pun merasa takut dan terancam nyawanya. Akan tetapi ini tampaknya hanya mitos saja yang bertolak belakang dengan fakta-fakta sejarah yang ada dan sangat kuat.

Ketika Umar masuk Islam, para penyembah berhala itu tetap saja tidak masuk Islam dan tidak merasa harus masuk Islam. Tidak ada yang berubah. Malah Nabi Muhammad sendiri yang harus terusir dari rumahnya. Beliau dengan sanak keluarganya dari klan Bani Hasyim, diasingkan di sebuah lembah (yang dikenal dalam sejarah sebagai Lembah Abu Thalib, Syi’ib Abu Thalib). Tiga tahun lamanya Rasulullah beserta klan Banu Hasyim (yang pada waktu itu tidak semau menganut Islam) menghabiskan waktu kurang lebih 3 tahun lamanya dalam lembah pengasingan itu. Selama kurun waktu tersebut, nyawa Rasulullah sangat terancam setiap siang dan malam.

Selama kurun waktu yang hampir sama dengan 1000 hari itu, Umar bin Khattab—beserta kaum Muslimin lainnya yang ada di kota Makkah—sama sekali tidak berbuat apa-apa. Tidak menolong dan tidak mengulurkan bantuan sedikitpun. Hanya menyaksikan berbagai kejadian pahit yang dialami dan yang bakal terjadi pada tuannya itu dari kejauhan.

Umar—juga Abu Bakar dan kaum Muslimin awal lainnya—tidak mencoba untuk mengakhiri penderitaan Rasulullah dan klan Bani Hasyim. (LIHAT: KETIKA NABI DITOLONG 5 ORANG NASRANI, DIMANAKAH GERANGAN PARA SAHABAT NABI? (Peristiwa di Syi’b Abu Thalib)—red)

Muhammad al-Mustafa (SAW) mempersaudarakan kaum Muslimin yang berasal dari kota Madinah dan kota Mekah.  Di kota Mekah, Umar “dipersaudarakan” dengan Abu Bakar. Sementara ketika di Madinah, Umar “dipersaudarakan” dengan Utban bin Malik. Sementara itu, Rasulullah (SAW) memilih Ali bin Abi Thalib untuk “dipersaudarakan” dengan dirinya sendiri baik di kota Mekah maupun di kota Madinah.

Pada tahun 3H, puteri dari Umar bin Khattab dinikahkan kepada Rasulullah (SAW).
Umar bin Khattab menurut sejarah yang sangat dipercaya, selalu menjadi orang yang melarikan diri dari peperangan. Ia melarikan diri dari Perang Uhud (Lihat: Baladzuri). Umar sendiri bahkan yang berkata bahwa ia memang melarikan diri dari perang itu. Dalam Kitab Dzurul Mantsur karya Jalaluddin As-Suyuti (sejarawan Sunni), ia disebutkan pernah berkata:

“Ketika kaum Muslimin kalah di Perang Uhud, aku lari ke gunung.”

Dalam peristiwa Perang Khaybar dimana kaum Muslimin mengepung benteng Khaybar, Umar ingin melakukan upaya heroik dengan menyerang benteng Khaybar itu, akan tetapi ia gagal total.
Umar juga termasuk dari begitu banyak sahabat Nabi yang melarikan diri dari Perang Hunayn. Abu Qatadah—salah seorang sahabat Nabi—berkata:

“Di Hunayn, ketika pasukan Muslimin melarikan diri, aku juga ikut melarikan diri. Dan aku lihat Umar bersama yang lainnya juga.”
(LIHAT: Bukhari dan Kitabul-Maghazi).

Pada tahun 8H, Rasulullah (SAW) mengutus Umar sebagai seorang prajurit bersama para prajurit lainnya di bawah kepemimpinan Amr bin Aas untuk pergi dalam sebuah misi dakwah ke Dhatus Salasil.

Sementara pada tahun 11H, Rasulullah (SAW) membentuk sebuah ekspedisi ke Syria dan beliau (SAW) menunjuk Usama bin Zayd bin Haritsa sebagai jenderal pasukan. Rasulullah (SAW) memerintahkan Umar bin Khattab untuk menjadi seorang prajurit biasa saja di dalam pasukan yang dipimpin oleh Usamah yang masih sangat belia itu.[1]

Meskipun Umar sudah menghabiskan waktu lebih dari 18 tahun lamanya bersama Muhammad al-Mustafa (SAW), tampaknya Muhammad al-Mustafa (SAW) tidak pernah menunjuknya untuk sebuah jabatan yang sangat penting di masa hidupnya—baik itu jabatan di pemerintahan sipil, apalagi jabatan penting di militer.
Ketika Rasulullah (SAW) sedang terbaring sakit dan menjelang wafatnya, Rasulullah (SAW) memerintahkan para sahabatnya untuk membawakannya sebuah pena dan tinta serta selembar kertas agar beliau bisa mendiktekan surat wasiatnya; akan tetapi pada waktu itu Umar mencegah hal itu agar tidak terjadi. Umar tidak membiarkan Rasulullah mendiktekan wasiat terakhirnya[2].

Pada upacara pemakaman Rasulullah (SAW) yang mulia, Umar bin Khattab sama sekali tidak tampak batang hidungnya. Ia memilih untuk bertarung melawan kaum Ansar (yang tentu saja Muslim) di sebuah balairung yang bernama Saqifah. Ketika pertikaian memperebutkan kekhalifahan itu berlangsung, Rasulullah (SAW) sedang dimakamkan oleh para keluarga terdekat dan para sahabat lainnya yang jauh lebih setia.

Umar bersama Abu Bakar sedang memperebutkan jabatan khalifah. Umar menjadi KING-MAKER atau CALIPH-MAKER untuk Abu Bakar. Ketika Abu Bakar memerintah inilah Umar menjadi penasihat utamanya.

Kaum Bani Umayyah itu sejak dulu menjadi musuh abadi dari keluarga Rasulullah (SAW) yaitu keluarga Bani Hasyim. Mereka sejak dulu menjadi para penyembah berhala. Muhammad (SAW) berhasil melumpuhkan kekuatan Bani Umayyah ini akan tetapi pada masa pemerintahan Umar, Umar menghidupkan kembali kekuatan Bani Umayyah ini. Sebagai pemerintah yang mendapatkan kekuasaannya dari hasil pertikaian di Saqifah, Umar mengembalikan kekuasaan-kekuasaan Bani Umayyah. Ia memberikan kekuasaan atas wilayah Syria kepada kelompok Bani Umayyah. Umar menjadikan keluarga Bani Umayyah sebagai keluarga pertama yang memiliki kekuasaan kerajaan.  

Seorang pelajar sejarah di masa sekarang ini mungkin saja sudah menemukan alasan-alasan yang bisa dijadikan untuk membela tingkah laku para sahabat Rasulullah (SAW) di masa lampau yang sangat membingungkan dan sangat mengherankan kita. Seorang mahasiswa jurusan sejarah bisa dengan jelas juga melihat pertikaian antara realita sejarah yang kuat dan jelas dengan khayalan tentan kesempurnaan akhlak para sahabat Nabi. Perbedaannya terasa sangat mencolok.

Apabila ia—sebagai mahasiswa yang sedang mempelajari sejarah Islam—menginginkan kebenaran di balik cerita-cerita itu, maka ia mau tidak mau harus mengesampingkan kisah-kisah yang menyanjung-nyanjung para sahabat itu dan lebih memfokuskan diri pada fakta dan data sejarah yang lebih ilmiah dan condong pada kebenaran. 

Serial 2: Peristiwa-peristiwa penting pada masa rezim pemerintahan Umar
Serial 3: Kebijakan Pemerintahan Umar untuk kaum Sipil dan Militer
Serial 4 : Penaklukan yang dilakukan oleh bangsa Arab
Serial 5 : Apakah agama berperan dalam sejumlah ekspansi wilayah?



[1] Rupanya usia Umar bin Khattab sama sekali tidak menjadi keutamaan yang bisa menjadikan dirinya untuk memperoleh jabatan yang lebih tinggi (pen.).
[2] Padahal kalau ada narapidana mati yang hendak menjalani hukuman mati, ia diberikan haknya untuk meninggalkan wasiat kepada yang akan ditinggalkannya. Ini bukan narapidana, ini Rasulullah yang mulia, akan tetapi Umar menghalangi orang yang teramat mulia ini agar tidak berwasiat pada yang ditinggalkannya (pen.).