"KEBENARAN TIDAK DITENTUKAN OLEH SEDIKIT BANYAKNYA ORANG YANG BERKATA BAHWA ITU BENAR"

Sabtu, 06 September 2014

Peti mati cucu Nabi, ditembaki panah oleh para sahabat Nabi

 

923072_405432942887463_1657363399_n

Beberapa anggota keluarga ‘Aisyah sendiri mengaku bahwa mereka lebih suka ‘Aisyah tidak pernah mengepalai sebuah pasukan dan bertempur di dalam peperangan. Pada suatu kesempatan, ia mengirimkan seorang utusan kepada keponakannya—Ibn Abil-Atiq—untuk meminta dirinya mengirimkan seekor keledai untuk dikendarai ‘Aisyah. Ketika keponakannya itu menerima pesan itu, ia berkata kepada utusan yang memberinya pesan:

“Katakan kepada Ummul Mukminin bahwa, demi Allah, kami belum bersih betul mencuci darah kaum Mukminin dari unta yang ia naiki. Apakah ia sekarang ingin menumpahkan darah lagi dan mengotori keledai yang akan ia naiki?” (LIHAT: Baladzuri dalam kitab Ansab al-Ashraf, volume 1, halaman431)

Ibn Abil Atiq seperti mengolok-olok ‘Aisyah ketika mengatakan kalimat di atas. Akan tetapi pada tahun 669, akhirnya hari itu datang juga. ‘Aisyah benar-benar menunggang seekor keledai dan menghasut orang-orang untuk melakukan sesuatu.

Ketika peti jenazah yang berisi cucu Nabi—Imam Hasan (as)—dibawa ke pemakaman Rasulullah—kakeknya yang sangat ia cintai, Marwan bin Al-Hakam dan para anggota keluarga Bani Umayyah lainnya datang ke pemakaman. Mereka datang lengkap dengan perlengkapan perangnya seolah-olah keluarga Nabi ke sana hendak berperang dan bukan hendak mengebumikan salah seorang anggota keluarganya yang meninggal. Kaum Bani Umayyah (individu-individu yang ada di dalamnya tentu saja termasuk para sahabat Nabi—menurut definisi Kaum Sunni—karena mereka pernah melihat Nabi dan hidup sejaman dengan Nabi) mencoba untuk mencegah Bani Hasyim (Klan Keluarga Nabi) yang hendak mengebumikan jenazah Imam Hasan (as) di samping kuburan kakeknya yang tercinta. Kaum Bani Umayyah tidak sendirian dalam menentangan pemakaman itu. Diantara mereka ada pula ‘Aisyah binti Abu Bakar (istri Nabi) dengan mengendarai seekor keledai!!! Ketika Perang Unta, ‘Aisyah menunggang unta memerangi keluarga Nabi. Sekarang ‘Aisyah menunggangi seekor keledai untuk mencegah Keluarga Nabi memakamkan salah satu anggota keluarganya yang mereka cintai.

‘Aisyah memang kalah telak di Perang Unta (Perang Jamal) di kota Basrah, akan tetapi tampaknya ia menang perang melawan jenazah Imam Hasan (as) di kota Madinah. Imam Hasan (as) tentu saja tidak bisa melawan karena ia sudah meninggal. Imam Hasan (as) hendak dikuburkan di dekat pusara kakeknya akan tetapi hal itu tidak terlaksana karena pemakamannya ditentang oleh ‘Aisyah dan kelompok Bani Umayyah. Akhirnya ia dikebumikan di pekuburan Jannat-ul-Baqi.

Sepanjang hidup ‘Aisyah seringkali membuat Nabi merasa sakit hati (LIHAT: Biarlah Al-Qur’an dan Hadits-hadits Shahih Ahlul Sunnah Berbicara Jujur tentang ‘Aisyah). ‘Aisyah juga menyakiti keluarga Nabi dengan memerangi mereka dalam Perang Unta (LIIHAT: HUBUNGAN ANTARA PERANG UNTA DAN PENCIPTAAN TOKOH “ABDULLAH BIN SABA”). Dan sekarang daftar kesalahan fatal ‘Aisah bertambah lagi dengan menunggangi seekor keledai untuk menghalang-halangi penguburan cucu terkasih Nabi agar tidak dikuburkan di samping pusara Nabi.

Para Ulama Sunni terkenal dan ternama yang sekaligus juga pakar sejarah terkemuka, semuanya menuliskan bahwa ketika jenazah Imam Hasan (as) hendak dibawa ke Madinah, ‘Aisyah menaiki seekor keledai diikuti oleh sekelompok tentara Bani Umayyah beserta budak-budak mereka berusaha untuk menghentikan prosesi itu. ‘Aisyah dan orang-orang Bani Umayyah itu berkata bahwa mereka tidak akan pernah mengizinkan Imam Hasan (as) dikebumikan di samping pusara Rasulullah. Para ulama sejarawan dari Ahlu Sunnah yang menuliskan fakta sejarah seperti itu diantaranya ialah:

  1. Yusuf Sibt Ibn Jauzi dalam kitabnya Tadhkira Khawasu’l-Umma, halaman 122
  2. Allama Mas’udi, penulis Muruju’z-Dhahab, dalam kitabnya Isbatu’l-Wasiyya, halaman 136
  3. Ibn Abi’l-Hadid dalam kitabnya Sharh-e-Nahju’l-Balagha, vol. IV, halaman 18, melaporkan dari Abu’l-Faraj dan Yahya Bin Hasan, penulis kitab Kitabu’n-Nasab; Muhammad Khwawind Shah dalam kitabnya Rauzatu’s-Safa
  4. dan masih banyak yang lainnya yang ruangan ini tidak cukup untuk menuliskannya.

Menurut sebuah laporan Mas’udi Ibn Abbas berkata:

“Aneh sekali perbuatan dirimu ‘Aisyah! Bukankah cukup engkau mengobarkan perang Jamal dengan menunggangi seekor unta? Mengapa engkau tambah malapetaka dengan mengobarkan perang dari punggung keledai pula? Dengan mengendarai seekor keledai kau hendak larang pemakaman putera Rasulullah. Satu hari engkau menunggangi seekor unta; di hari lain engkau tunggangi seekor keledai. Engkau telah runtuhkan wibawa dan hancurkan kemuliaan Rasulullah. Apakah engkau ingin memadamkan cahaya Allah? Akan tetapi sesungguhnya Allah berkehendak untuk menyempurnakan cahayaNya walaupun orang-orang musyrikin benci; sesungguhnya kita ini milik Allah dan kepadaNya kita akan kembali.”

Beberapa sejarawan malah menuliskan bahwa Ibn Abbas pernah berkata kepada ‘Aisyah:

“Pada suatu ketika engkau menunggangi unta dan pada suatu ketika yang lain engkau menunggangi keledai. Apabila engkau hidup lebih lama lagi, niscaya engkau akan menunggangi gajah (untuk menentang Allah)! Meskipun dari seperdelapan engkau hanya memiliki sepersembilan bagian. Tapi engkau sudah mengambil semua bagian.”

Kaum Bani Hasyim (keluarga Rasulullah) menghunus pedang-pedangnya dan bermaksud untuk mengusir ‘Aisyah dan tentara Bani Umayyah, akan tetapi Imam Husein (as) melerai mereka dan berkata bahwa saudaranya (yaitu Imam Hasan (as)) telah berwasiat kepadanya agar ia tidak menumpahkan setetes darahpun di pemakamannya. Oleh karena itu, keluarga Rasulullah tidak jadi melawan. Mereka memutar balik arah dan tidak jadi menguburkan jenazah Imam Hasan (as) di sisi pusara Rasulullah. Jenazah Imam Hasan (as) akhirnya dikebumikan di Pekuburan Baqi (sebuah kompleks pemakaman di kota Madinah dan sampai sekarang masih diziarahi orang-orang yang peduli dan mencintai Ahlul-Bayt Nabi yang suci).

Kebiadaban Mu’awiyah (yang notabene adalah sahabat Nabi dan dihormati oleh kaum Muslimin Sunni) terhadap Imam Hasan (as) diwujudkan dalam bentuk persekongkolan jahat dengan istri Imam Hasan sendiri yang bernama Ja’dah binti Asy’ats (yang tidak lain adalah cucu Abu Bakar. Jadi cucu Nabi itu dibunuh oleh cucu Abu Bakar (LIHAT: Derita Cucu Nabi yang dibunuh oleh Sahabat Nabi). Imam Hasan (as) menemui kesyahidannya pada tanggal 28 Safar 50H. Penguburannya dihadiri oleh Imam Husein (adiknya sendiri) dan seluruh keluarga Bani Hasyim. Tandu jenazahnya dihujani panah oleh musuh-musuhnya (yaitu ‘Aisyah binti Abu Bakar dan Bani Umayyah); sehingga akhirnya usungan tandu jenazah itu tidak jadi dibawa ke pusara Nabi melainkan dibawa ke kompleks pekuburan Jannat-ul-Baqi di kota Madinah. ‘Aisyah tidak menyukai jenazah musuhnya (yaitu Imam Hasan) mendapatkan kehormatan dan kemuliaan dikuburkan di samping pusara Rasulullah. ‘Aisyah sudah pernah berhadapan dengan kelompok Bani Hasyim atau keluarga Nabi dalam Perang Unta (Perang Jamal). Dan ia masih memendam dendam kepada keluarga Nabi karena ia kalah dalam perang itu.

Di jaman moderen, Kuburan Imam Hasan (as) dihancur leburkan oleh kaum Wahabi pada tanggal 8 Syawwal 1344H (atau tanggal 21 April 1926). Kaum Wahabi mendapatkan dukungan yang sangat kuat dari pemerintah Saudi—bahkan orang-orang Wahabi adalah orang-orang Saudi sendiri karena Wahabi menjadi madzhab resmi di Saudi Arabia. Para penguasa Saudi menjadi sangat kuat dan memerintah daerah Hijaz hingga sekarang. Dan oleh karena itu, kuburan Imam Hasan (as) masih hancur lebur dan belum pernah diperbaiki kembali hingga detik ini.

http://www.al-islam.org/brief-history-of-fourteen-infallibles/

Senin, 01 September 2014

Derita cucu Nabi yang dibunuh sahabat Nabi

Oleh: Ali Jamaleddine

oppressed_grandson_prophet_jamaleddine_small

KEDZALIMAN TERHADAP AL-MUJTABA TAK BERAKHIR WALAU IA SUDAH SYAHID
 
Rasulullah dan Ahlul Bayt suci Nabi (shalawat dan salah tercurah kepada mereka semua) telah mengalami sejumlah kesulitan hidup dan kesengsaraan dalam tugas dakwah Islam dan penyampaian pesan-pesan kemanusiaan. Ketika kita memasuki bulan Safar, segera ingatan kita kembali kepada sebuah peristiwa yang memilukan hati. Kita segera teringat kembali kepada kejadian dimana para sahabat Nabi memperlakukan cucu Nabi dengan sangat tega. Imam Hasan al-Mujtaba (as) menjadi sasaran kedengkian dan dendam yang tidak terkira. Imam Hasan (as) sudah merasakan penderitaan pada usia yang masih teramat muda dengan melihat ibunya yang tercinta—Fathimah az-Zahra (as)—diserang, dilukai, dan kemudian menemui kesyahidannya setelah menderita luka-luka yang sangat serius. Cucu Nabi yang terkasih itu juga harus melihat hak ayahnya—Imam Ali (as)—dirampas oleh rezim yang berkuasa sepeninggal kakeknya (Rasulullah SAW). Penderitaannya berlanjut ketika ia harus menyaksikan ayahnya juga syahid di mesjid Kufah. Pada saat kesyahidan Imam Ali (as)-lah, Imamah dilanjutkan olehnya; akan tetapi penderitaan yang diderita olehnya malah terus bertambah dan akhirnya berakhir 10 tahun kemudian dengan kesyahidan dirinya. Dan sejak hari kesyahidannya hingga detik ini, Imam Hasan (as) tetap harus menderita. Ia sekarang menjadi korban para sejarawan; pemerintah yang dzalim; dan kebudayaan keliru yang sudah mendarah daging.
 
KESALAHAN MEDIA DAN TUDUHAN YANG KEJI
 
Imam Hasan (as) beratus-ratus tahun menderita oleh media yang dikuasai oleh keluarga Bani Umayyah yang memerintah dunia Islam dengan kekejaman. Kabar-kabar burung disebarluaskan lewat-lewat mimbar-mimbar mesjid. Isu-isu miring dihembuskan di sekitar penyerahan kekuasaan dari Imam Hasan (as) ke Mu’awiyah. Mereka menyebarkan pendapat miring setelah Imam Hasan (as) berperang melawan Mu’awiyah dan para tentara bayarannya; dan kemudian dikatakan menyerah takluk serta mencari kesepakatan damai dengan Mu’awiyah agar nyawanya selamat. Media yang dikuasai dan dikendalikan oleh Mu’awiyah—sebagai penguasa dari Bani Umayyah—bahkan bertindak lebih jauh lagi sampai mendiskreditkan figur Imam Hasan (as) yang mulia. 
 
Buku-buku sejarah—yang tentu saja dipengaruhi oleh propaganda media Bani Umayyah—menggambarkan Imam Hasan (as)—cucu terkasih Rasulullah; pemimpin pemuda di surga—sebagai seorang laki-laki yang senang menikah dan bercerai. Bani Umayyah menggambarkan Imam Hasan (as) sebagai orang yang suka berfoya-foya dan hidup dalam gemerlap dunia; dan beberapa sejarawan lainnya malah menuduh Imam Hasan (as) menjual Imamah dan kepemimpinan kepada Mu’awiyah karena ia lebih mementingkan kesenangan dunia!!! 

Tentu saja semua tuduhan (atau lebih tepatnya fitnahan) tidak benar sama sekali. Semua fitnah itu dulunya ditujukan untuk menggerus kemuliaan dan keagungan dari Imam Hasan (as) di mata masyarakat. Ketika Imam Hasan (as) masih hidup, fitnah itu berkembang begitu masif-nya hingga banyak orang yang menganggap bahwa Imam Hasan (as) telah membuat malu orang-orang yang beriman. Sayangnya fitnahan ini masih tetap diyakini orang sebagai kebenaran karena sudah tertulis di dalam berbagai buku sejarah. Imam Hasan (as) rupanya harus menderita lebih lama lagi. 14 abad sudah berlalu ……. Sang Imam tetap harus menderita. 

 
MUSUH TERSEMBUNYI
 
Imam Hasan (as) juga menderita dari kekejaman yang dilakukan oleh musuh tersembunyi. Musuh tersembunyi adalah musuh yang tidak berhadapan langsung dengan sang Imam akan tetapi terus menerus menyerang sang Imam. Musuh tersembunyi yang pertama asalnya adalah media Bani Umayyah. Sementara di sisi lain, ada musuh lainnya yang juga sama bahayanya karena sama-sama tersembunyinya. Musuh tersembunyi yang dimaksud adalah emas dan perak; selain itu musuh lainnya ialah para sahabat Nabi yang masih hidup akan tetapi lemah imannya. 

Semangat para pengikut Imam Hasan (as) itu sudah terguncang, dan penderitaan yang mereka pikul dengan cepat menggerus kesetiaan mereka. Pasukan Imam Hasan (as) sudah mulai mempertanyakan perang yang mereka lakukan dengan Mu’awiyah. Mu’awiyah menggunakan kesempatan itu untuk menggoda mereka yang sudah berbai’at kepada Imam Hasan (as) agar mau bergabung dengan dirinya. Emas dan perak digunakan sebagai pancingan yang dasyhat. Banyak sekali para pengikut Imam Hasan (as) yang akhirnya beralih menjadi pengikut Mu’awiyah—dan itu termasuk para komandan perangnya yang seharusnya menjadi teladan yang baik. 

Melihat para sahabat Nabi (yang menjadi pengikut Imam Hasan) dan para pengikutnya satu persatu bergabung dengan Mu’awiyah, Imam Hasan (as) menjadi sangat terasing dan kesepian di kampung halamannya sendiri. Imam Hasan (as) tidak lagi berperang melawan musuh yang jelas. Bergabungnya para sahabat Nabi dan para pengikut dirinya ke pihak musuh, membuat Imam Hasan (as) merasa sangat terpukul. Itu jauh lebih menyakitkan daripada serangan yang dilancarkan langsung oleh Mu’awiyah. 

 
KISAH RACUN MEMATIKAN
 
Mu’awiyah belum merasa cukup. Ia ingin benar-benar melenyapkan Imam Hasan (as); Mu’awiyah ingin menyelewengkan gambaran Imam Hasan (as) yang penuh dengan kemuliaan digantikan dengan gambaran lain yang sudah dikotori oleh rezim Bani Umayyah. Di jaman sekarang ini, kalau ada percobaan pembunuhan dengan racun satu kali saja dan kemudian gagal, maka itu akan menjadi pembicaraan dimana-mana. Itu akan menjadi berita yang menggemparkan dunia. Akan tetapi pada jaman itu, percobaan pembunuhan terhadap Imam Hasan (as) itu berlangsung beberapa kali dan menemui kegagalan. Selain itu Imam Hasan (as)  juga seringkali diserang secara fisik dan mengalami luka-luka diantaranya cukup serius. Satu usaha pembunuhan disusul usaha pembunuhan lainnya semuanya menemui kegagalan hingga akhirnya…..sang Imam menemui kesyahidan setelah sebuah racun yang sangat mematikan merusak hatinya dan membuatnya muntah-muntah hebat dan sebagian dari hatinya termuntahkan keluar bersama muntahnya. Ia menemui kesyahidan setelah beberapa kali usaha pembunuhan yang tidak berhasil. 

 
TEMAN TERDEKATNYA
 
Melihat para sahabat Nabi yang menjadi pengikutnya serta melihat para sahabatnya sendiri satu persatu meninggalkannya memang menyakitkan hati. Akan tetapi ada yang jauh lebih menyakitkan hatinya lagi. Orang yang paling dekat dengan dirinya adalah orang yang meracuninya hingga menemui kematian!!! Imam Hasan (as) diracuni oleh istrinya sendiri yang bernama Ja’dah binti Al-Asy’ats. Dialah yang memberikan racun kepada Imam Hasan (as) setelah ia diberi iming-iming oleh Mu’awiyah dengan sejumlah uang dan gelar kehormatan. Menurut beberapa laporan, Mu’awiyah juga memberikan janji akan menikahkan Ja’dah dengan putera mahkotanya yaitu Yazid bin Mu’awiyah. Ja’dah binti Asy’ats sendiri adalah  puteri dari Ummi Farwa. Ummi Farwa sendiri adalah saudari dari Abu Bakar. Jadi Ju’dah itu keponakan dari Abu Bakar. Ia membunuh Hasan bin Ali bin Abi Thalib, cucu Nabi. Jadi cucu Nabi dibunuh oleh cucu Abu Bakar. Yang menarik ialah JA’DAH BINTI ASY’ATS itu adalah istri dari Hasan bin Ali, Jadi Hasan bin Ali bin Abi Thalib—cucu Nabi—dibunuh oleh istrinya sendiri. (LIHAT: SEJARAH MENCATAT PERSETERUAN ANTARA KELUARGA ABU BAKAR vs KELUARGA FATHIMAH BINTI MUHAMMAD, PUTERI NABI). Allah berfirman dalam Al-Qur’an: “Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).”(QS. Ar-Rahman: 60), akan tetapi kebaikan Imam Hasan (as) yang dilakukan kepada setiap orang—terutama kepada istrinya, tentunya—dibalas dengan kejahatan berupa racun mematikan!!!
 

IMAM HASAN (AS) DIBUNUH ISTRINYA ATAS PERINTAH SEORANG SAHABAT NABI YANG SEKARANG NAMANYA HARUS DI KALANGAN SEBAGIAN BESAR KAUM MUSLIMIN!!!


 
DIJAUHKAN DARI KAKEKNYA SETELAH KESYAHIDANNYA
 
Dalam berbagi riwayat disebutkan bahwa Imam Hasan (as) itu berwasiat bahwa kelak kalau sudah meninggal beliau ingin dikebumikan disamping pusara kakeknya—Rasulullah (SAW). Dalam beberapa riwayat yang lainnya, beliau meminta jenazahnya dibawa ke pusara kakeknya dulu sebelum dikebumikan untuk menghormati kakeknya yang sangat ia cintai. Akan tetapi kedua wasiat itu ditentang oleh kelompok Bani Umayyah. Padahal itu hanya permintaan yang sangat wajar dari seorang cucu terhadap kakeknya. Tidak ada sesuatu yang melanggar syari’ah manapun.
 
HUJAN PANAH DI PEMAKAMAN
 
Kelompok Bani Umayyah tidak berpuas diri walaupun Imam Hasan (as) sudah tiada. Di pemakaman cucu Nabi itu, kelompok Bani Umayyah—yang tentu saja sebagian besar ialah para sahabat Nabi ketika Nabi masih hidup—menyerang upacara pemakaman itu. Mereka menembakkan puluhan anak panah ke peti mati Imam Hasan (as). Tidak kurang dari 70 anak panah tepat mengenai sasaran!!! Inilah perlakuan orang-orang yang mengaku Muslim dan notabene masih para sahabat Nabi kepada seorang Muslim lainnya yang sangat dicintai Nabi; yang ketika hidupnya Nabi pernah menyebutnya sebagai “hiasan mataku”. 

 
KUBURANNYA PUN BEBERAPA KALI DIRUSAK
 
Bahkan setelah Imam Hasan (as) dikuburkan, kuburannya pun tetap menjadi sasaran kebencian dan dendam tak berkesudahan. Pada tahun 1221H, kaum Wahabi meluluh-lantakkan kuburan di Jannat al-Baqi—Madinah—termasuk kuburan dari Imam Hasan (as).
Setelah kuburan itu diperbaiki oleh orang-orang yang peduli , pada tahun 1335H, kembali kaum Wahabi menyerang kembali kuburan Imam Hasan (as) hingga rata dengan tanah. Kerusakan itu tidak lagi diperbaiki hingga sekarang karena yang memerintah di jazirah Arab (Arab Saudi) adalah tidak lain dari orang-orang Wahabi. Dan mereka masih merasa kurang sempurna dalam mendzalimi cucu Nabi. Mereka melarang para peziarah yang mencintai cucu Nabi ini datang dan menjenguk kuburannya. Mereka menutup-nutupi pelarangan itu dibalik kata-kata bahwa mereka “mencegah orang berbuat kemusyrikan”. 

Ya, Abu Muhammad, Ya Hasan Putera Ali,
Wahai dikau yang terpilih Nabi, Wahai sang cucu dari Utusan Illahi,
Engkau pemutus perkara bagi setiap insani
Engkau pemuka dan pemimpin kami
 


Kepadamu kami hadapkan wajah kami                                                                 
Kepadamu kami mencari syafa’at suci                                                                   
Kepadamu kami sampaikan kebutuhan dan ajukan keluhan kami 
Karena lewat dirimu, Allah memberikan kasih dan cinta kepada kami 


Belalah kami di hari pengadilan nanti                                                                         
Seperti kami telah bela namamu yang suci                                                                       
Walau pembelaan dan pemihakkan dari kami 
Belumlah sepadan dengan yang kau buat bagi kami, wahai cucu Nabi




























Jumat, 29 Agustus 2014

Seorang sahabat Nabi dikutuk Imam Ali hingga ada tanda kutukan di wajahnya

KITAB AL-MA’ARIF KARYA IBNU QUTAYBAH

Di bagian akhir dari kitabnya Ibnu Qutaybah yang berjudul Kitab al-Ma’arif, ada bagian yang sangat menarik perhatian kita yaitu pada bagian yang diberijudul “al-Baras” dimana ia menuliskan nama-nama orang-orang yang terkena serangan penyakit lepra (leprosy) atau leukoderma sepanjang masa hidupnya. Dari daftar nama-nama orang dalam sejarah Islam yang dicatat oleh Ibnu Qutaybah ialah Anas bin Malik—salah seorang sahabat Nabi yang terkenal di dunia Muslim Sunni karena hadits-hadits yang melalui dirinya itu jumlahnya cukup banyak dan terkenal. Ibnu Qutaybah menuliskan juga bagaimana sejarahnya hingga Anas bin Malik menderita penyakit lepra atau kanker kulit yang menyebabkan cacat di wajahnya yang tidak bisa ditutupi seumur hidupnya. Ibnu Qutaybah menyebutkan bahwa penyakit yang diderita oleh Anas bin Malik itu disebabkan oleh kutukan Imam Ali (as) terhadap dirinya.

Ada sesuatu yang menggelikan dalam buku terbitan Mesir dari karya Ibnu Qutaybah ini. Ada kalimat terakhir yang konon katanya ditulis oleh Ibnu Qutaybah sendiri yang menyebutkan bahwa Ibnu Qutaybah meragukan kebenaran dari kisah itu. Lucunya kalimat terakhir ini tidak ada dalam kitab aslinya karya Ibnu Qutaybah yang usianya sekitar 700 tahun. Kitab aslinya itu sekarang tersimpan di Perpustakaan The British Library!!!

Klik tandadi bawah ini untuk melihat gambar secara utuh dari manuskrip yang telah di-scan untuk tujuan ini.  Untuk studi yang lebih serius anda bisa melanjutkan ke link Guide to Online Libraries (JUST CLICK) yang menghubungkan anda dengan perpustakaan dunia.

 

SUMBER TUDUHAN

[LIHAT: Al-Ghadir fi al-Kitab wa al-Sunnah wa al-Adab, karya Allamah al-‘Amini, Beirut Edition, volume 1, halaa 235]

ANALISA DAN BUKTI-BUKTI

Ibnu Qutaybah al-Dinawari hidup diantara tahun 213H sampai 276H dan ia termasuk seorang ulama Sunni yang paling awal yang menulis banyak sekali karya-karya penting mengenai Al-Qur’an dan Ilmu-ilmu Hadits. Kitab al-Ma’arif yang ia tulis berisi beberapa anekdot dan informasi biografis tentang masyarakat Muslim pada abad-abad awal.

Kejadian itu (Kejadian Imam Ali mengutuk Anas bin Malik hingga bekas kutukannya membekas di wajah Anas bin Malik) termaktub dalam kitab karya Ibnu Qutaybah yang diterbitkan di Mesir. Anda bisa melihat kutipannya di bawah ini:

LIHAT: Kitab al-Ma’arif, Ibnu Qutaybah al-Dinawari (meninggal tahun 276H), halaman 251, Cairo: Matba’at al-‘Islamiyyah, 1353H/1935M

Al-Baras (Lepra atau Leukoderma)

Anas bin Malik memiliki al-Baras (bukti) di wajahnya. Beberapa orang melaporkan bahwa ‘Ali—semoga Allah meridhoinya—bertanya kepadanya apakah ia masih ingat mengenai sabda Rasulullah—shalawat dan salam atasnya—yaitu: “Ya Allah, bimbinglah dia yang menerima kepemimpinannya dan musuhilah dia yang memusuhinya.” Dia (Anas bin Malik) berkata: “Aku ini sudah tua dan aku sudah lupa!” Lalu ‘Ali berkata kepadanya: “Apabila engkau berdusta, semoga Allah memberimu tanda putih yang tidak akan pernah bisa engkau tutupi dengan sorbanmu.”

 

ABU MUHAMMAD BERKATA: “TIDAK ADA DASAR SAMA SEKALI”

Harus semua kita ketahui bahwa yang namanya ABU MUHAMMAD yang dimaksud tidak lain adalah Ibnu Qutaybah sendiri. Abu Muhammad adalah nama julukan (nama Kunyah) dari Ibnu Qutaybah sendiri. Jadi itu artinya Ibnu Qutaybah sudah memasukan anekdot kejadian kutukan Imam Ali itu kedalam karyanya akan tetapi kemudian ia mengira bahwa kejadian itu tidak mungkin terjadi. Ia meragukan kejadian itu pernah terjadi.

 

LALU APA MASALAHNYA DARI PERNYATAAN INI?

Ada tiga masalah yang bisa kita simpulkan dari pernyataan ini:

PERTAMA: Allamah al-‘Amini, dalam kitab Al-Ghadir, volume 1, halaman 236, menyatakan bahwa sejak awal hingga akhir dari Kitab al-Ma’arif, tidak ada pernyataan dari Ibnu Qutaybah yang menyebutkan bahwa ia meragukan tentang kejadian itu! Gaya penulisan dari buku itu jelas-jelas menunjukkan bahwa si penulis (IBN QUTAYBAH) hanya menuliskan apa yang memang ia yakini sebagai kebenaran. (Apa untungnya menuliskan sebuah kejadian yang kita tidak yakini pernah terjadi, kemudian kita beri komentar bahwa itu tidak pernah terjadi tanpa ada orang yang mempermasalahkan itu sebelumnya—red)

KEDUA: Seorang ulama Sunni dari golongan Muatzillah yang bernama Ibnu Abi Al-Hadid (meninggal tahun 656H), pernah menuliskan dalam Sharh Nahj al-Balaghah, Ibn Abi Al-Hadid al-Mu’tazili (meninggal tahun 656H), volume 3, halaman 388

... Ibnu Qutaybah telah menceritakan kepada kita kisah tentang penyakit lepra atau leukodermia (hadits al-baras) yang dihubungkan dengan kutukan Amirul Mukminin ‘Ali (as) terhadap Anas bin Malik, dalam kitab Kitab al-Ma’arif dalam bab ‘bab al-baras min a'yan al-rijal'.Dan Ibnu Qutaybah tidak bisa kita tuduh sebagai orang yang memiliki kecenderungan khusus kepada Imam Ali. Malahan di berbagai kesempatan ia terkenal kelihatan sekali cenderung berseberangan atau memilih sisi yang berlainan dengan Imam Ali. 

Tampaknya salinan dari kitab Kitab al-Ma’arif yang dilihat oleh Ibnu Abu Al-Hadid tidak mengandung kalimat terakhir yang ada dalam edisi Mesir seperti yang disebutkan di atas.

KETIGA ATAU TERAKHIR: Ada sebuah salinan lainnya dari kitab Kitab al-Ma’arif  dalam bentuk sebuah manuskrip yang berusia kurang lebih 700 tahun yang menegaskan kecurigaan kita  

Kitab al-Ma'arif, Ibn Qutaybah al-Dinawari (meninggal tahun 276 AH), folio 118r
Manuscript: British Library catalogue reference Or. 1491
Dated last day of Sha'ban, 710 AH (1310 CE)
[Foll. 136; 9.75 in. by 7.25; 25 lines, 5.5 in. long]

Al-Baras (Lepra/Leukoderma)

Anas bin Malik memiliki al-baras [bukti atau tanda] di wajahnya. Beberapa orang menyebutkan bahwa ‘Ali pada suatu ketika bertanya kepadanya tentang sebuah hadits atau sabda Rasulullah—shalawat dan salam atasnya—yang berbunyi: “Ya Allah, bimbinglah orang yang menerima kepemimpinannya dan musuhilah orang yang menjadikan dia musuhnya.” Dia (Anas) berkata: “Aku ini sudah tua dan aku sudah lupa!” Lalu ‘Ali—salam semoga tercurah kepadanya (‘alaihi salam)—berkata kepadanya: “Apabila engkau berdusta, maka Allah akan memberikanmu sebuah tanda putih yang tidak akan bisa engkau tutupi dengan sorban.”

Bandingkanlah teks ini dengan teks dari kitab Kitab al-Ma’arif terbitan Mesir di atas. Meskipun halaman ini merekam penuh seluruh kejadian dimana Imam Ali (as) mengutuk Anas bin Malik yang menyebabkannya terkena lepra atau tanda putih di wajahnya, tapi sama sekali TIDAK ADA TULISAN yang menyebutkan bahwa “ABU MUHAMMAD MENGATAKAN TIDAK ADA DASAR SAMA SEKALI”!!!

Juga lihatlah “Salam Hormat”—‘Alaihi Salam—yang diberikan kepada ‘Ali yang terdapat dalam edisi yang dicetak di Mesir.

 

AKAN TETAPI SEBUAH HADITS TANPA SANAD YANG PENUH BUKANKAH TIDAK BISA KITA PERCAYAI?

Kitab al-Ma’arif itu bukanlah sebuah kitab yang dipenuhi hadits-hadits yang ditulis lengkap dengan rantai sanadnya. Ibnu Qutaybah itu terkenal sebagai seorang ulama yang seringkali mengungkapkan kekecewaanya terhadap Imam Ali (as) akan tetapi ia—ketika menulis Kitab al-Ma’arif—memasukkan anekdot (kutukan Imam Ali terhadap Anas bin Malik) yang ia yakini ada kebenaran di dalamnya.

 

KALAU BEGITU, ADAKAH SUMBER-SUMBER YANG BISA DIPERCAYA YANG BISA MENGUATKAN KEJADIAN INI?

Ada. Tentu saja ada. Ada beberapa sumber yang kita bisa temukan kejadian ini (kejadian dimana Imam Ali (as) telah mengutuk Anas bin Malik karena ia berbohong terhadap kepemimpinan Imam Ali (as)). Sumber-sumber itu menjelaskan secara rinci dan lengkap rantai sanad dari kejadian ini. Sumber-sumber ini telah diteliti dalam riset yang dilakukan oleh Allamah al-‘Amini dan bisa anda temukan dalam karyanya yang berjudul Al-Ghadir terbitan Lebanon (Beirut Edition), volume 1, halaman 207—238. Bagi anda yang ingin mencari kebenaran dan selalu haus akan kebenaran pastilah tentunya akan segera mencari sumber ini.

 

KAPANKAH RASULULLAH (SAW) BERKATA KEPADA IMAM ALI: “YA, ALLAH. JADIKANLAH SAHABATMU ORANG YANG MENJADIKAN DIA SAHABAT”?

Pernyataan Rasulullah itu sebenarnya merupakan bagian dari kejadian yang jauh lebih agung lagi yaitu peristiwa Ghadir Khum ketika Imam Ali (as) secara nyata dan terang benderang ditunjuk sebagai penerus Nabi yang menggantikan kedudukan Nabi sebagai pemimpin umat; menjaga risalah Illahi. Untuk lebih jelas lagi bisa dilihat dalam referensi berikut ini:

 

KESIMPULAN

Kita bisa simpulkan di sini bahwa yang namanya kebenaran itu senantiasa ada orang yang mencoba menutup-nutupi atau menyimpangkannya. Caranya bisa dengan berbagai macam cara. Salah satunya seperti yang terjadi pada peristiwa pengutukan oleh Imam Ali terhadap Anas bin Malik ialah dengan menyisipkan pernyataan palsu yang dinisbahkan kepada Ibnu Qutaybah seolah-olah dirinyalah yang memang menuliskan pernyataan itu.

Jumat, 08 Agustus 2014

ISIS MELULUH LANTAKAN MESJID-MESJID DAN MAKAM NABI YUNUS (as), DI KOTA MOSUL

“Berperanglah kamu di jalan Allah. Perangilah orang yang kafir kepada Allah. Berperanglah namun jangan mengambil berlebih-lebihan, jangan menipu (memperdaya), jangan membunuh dengan sadis, membunuh anak-anak, dan membunuh para penghuni rumah ibadah (biara dan gereja).” (HR Muslim)  

 

Staf Penulis dari Al-Arabiya News (Kamis, 24 Juli, 2014) melaporkan:   


Kelompok radikal yang menamakan diri mereka sebagai Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) telah meluluh-lantakan tempat-tempat suci milik dua orang Nabi yang dicintai dan dihormati oleh baik kaum Muslimin maupun kaum Nasrani. Tempat suci itu adalah kompleks pemakaman yang terletak di sebelah utara kota Mosul, seperti dilaporkan oleh AL-SUMARIA NEWS pada hari Kamis.
“Kaum militan ISIS telah meluluh-lantakan makam dari Nabi Yunus (Jonah) yang terletak di sebelah timur kota Mosul setelah mereka sebelumnya mengambil alih kendali dari seluruh kuburan itu”, ujar seorang penjaga keamanan yang merahasiakan identitasnya kepada Al-Sumeria News, kantor berita yang berbasis di Iraq.
“Kaum militan itu menutup semua pintu mesjid dan melarang para jema’ah masuk untuk shalat,” salah satu sumber berujar.

Salah seorang saksi mata yang tidak ingin memberikan namanya berkata bahwa kaum militan ISIS itu “awalnya memberhentikan orang-orang yang hendak shalat; kemudian mereka memasang bahan peledak di sekitarnya dan di dalam mesjid dan meledakkannya di tengah kerumunan orang-orang banyak,” menurut Agence France-Presse. 

Petugas pengumpul zakat dan shadaqah yang tidak bersedia menyebutkan namanya, juga penduduk di sekitar kota Mosul memberitahu AFP (Agence France-Presse) bahwa kaum ekstrimis Sunni memerlukan waktu sekitar satu jam untuk mengebor lubang-lubang di dinding bangunan itu dan memenuhinya dengan bahan-bahan peledak. 

Petugas pengumpul zakat dan shadaqah itu menybutkan bahwa kelompok jihad “Negara Islam” yang telah menyapu daerah utara dan barat Irak bulan lalu telah berhasil merusak  atau membumi-hanguskan 30 tempat suci—15 huseiniyyah (mesjid kaum Syi’ah) dan beberapa mesjid lainnya di dalam kota Mosul atau di sekitar kota Mosul.
“Akan tetapi perusakan yang paling parah yang mereka lakukan ialah perusakan terhadap makam Nabi Yunus (as), yang mereka rusakkan hingga menjadi debu,” ia menambahkan keterangannya kepada AFP.

Di dalam Al-Qur’an dan Injil, Nabi Yunus itu dikenal sebagai Nabi yang memiliki mukjizat yang unik. Ia bisa selamat walaupun sudah ditelan hidup-hidup oleh seekor ikan. Hidup pada abad ke-8 sebelum Masehi, Nabi Yunus (Jonah) dipercayai dikubur di kota Mosul dan makamnya dijadikan sebagai mesjid. Makam yang berikut mesjid itu dianggap sebagai peninggalan yang sangat bersejarah dari beberapa peninggalan lainnya yang ada di sebelah timu kota itu. 

Menjadikan sebuah makam atau kuburan dari para wali Allah atau dari para Nabi atau dari orang-orang yang dianggap suci sebagai mesjid, memang sudah menjadi tradisi kaum Muslimin yang tidak lepas dari peradaban dan sejarah panjang. Tradisi itu bisa dilihat dari makam Nabi Muhammad yang ada di mesjid Nabawi. Juga makam-makam para Nabi lainnya yang dijadikan mesjid. Di Indonesia, kuburan para wali dan orang suci juga dijadikan sebagai mesjid. Ini tidak lepas dari ayat suci Al-Qur’an yang menggambarkan dengan indah sekali penghormatan orang-orang yang hidup pada jaman “Para Pemuda Gua”. Para Pemuda Gua (Al-Kahfi) meninggal dunia tidak jauh dari tempat itu dan di atas kuburan mereka didirikanlah mesjid. Al-Qur’an menggambarkan peristiwa itu di dalam ayat ke-21 surat Al-Kahfi sebagai berikut ini:
Dan demikian (pula) Kami mempertemukan (manusia) dengan mereka, agar manusia itu mengetahui, bahwa janji Allah itu benar, dan bahwa kedatangan hari kiamat tidak ada keraguan padanya. Ketika orang-orang itu berselisih tentang urusan mereka, orang-orang itu berkata: "Dirikanlah sebuah bangunan di atas (gua) mereka, Tuhan mereka lebih mengetahui tentang mereka". Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata: "Sesungguhnya kami akan mendirikan sebuah rumah peribadatan di atasnya". (QS. Al-Kahfi: 21)




Sementara itu, seorang petugas masyarakat di kota Mosul yang  bernama Zuhair al-Chalabi memberitahu al-Sumari News bahwa makam Nabi Danie pun dirusak oleh militan ISIS. Nabi Daniel dihormati sebagai seorang Nabi oleh kaum Muslimin meskipun namanya tidak dicantumkan dalam Al-Qur’an. 
“ISIS memasang bahan-bahan peledak di sekitar makam Nabi Daniel di Mosul dan kemudian meledakannya hingga hancur berkeping-keping,” ia memberitahu Al-Sumaria News.
“Kota Mosul sekarang menjadi tempat yang sangat mengerikan,” tukas Chalabi.



Salah satu sumber lainnya memberitahu Al-Sumaria News bahwa militan ISISI telah menghancurkan tempat ibadah milik dari Abu al-Ila di kota Mosul setelah terlebih dahulu menempatkan berbagai bahan peledak di sekitar tempat itu. Sumber itu juga mengatakan bahwa sebuah mesjid di distrik Al-Faisaliya dibom setelah sebelumnya mereka membom sebuah mesjid (Husainiyyah) milik kaum Syi’ah yang diberinama Fathimah az-Zahra. Kedua mesjid itu dihancurkan sampai menjadi puing-puing.
“Sekelompok orang tak dikenal membom makam Abu al-Ila yang terletak di tengah daerah Bab al-Jadeed di sebelah selatan Mosul,” seperti dikutip oleh Iraq Press Agency (IPA) dari seorang saksi mata.
“Rumah-rumah yang ada di sekitar makam juga terkena dampaknya dan hancur berat di sana-sini,” tambahnya.

Mesjid dan makam lainnya turut juga menjadi korban kebiadaban kelompok militan ISIS seperti makam Imam Yahya Abu al-Qaseem; puluhan tempat suci dan mesjid-mesjid di sekitar kota Mosul, dan lain-lain. Paling tidak ada 4 tempat suci orang Sunni yang berupa makam para sufi juga dihancurkan; dan ada 6 mesjid (Huseiniyyah) milik kaum Syi’ah diratakan dengan tanah.

















Jumat, 16 Mei 2014

FREE E-BOOK: “Saudi dan Israel bersatu melawan Iran dan Palestina”

 

JUST CLICK TO DOWNLOAD!

Saudi dan Israel bersatu melawan Iran dan Palestina

Oleh: Ramtanu Maitra


“Yang kami inginkan bukanlah sebuah Negara besar ARABIA bersatu melainkan sebuah kawasan ARABIA yang berpecah belah kedalam kerajaan-kerajaan kecil dibawah kekuasaan kerajaan kami yang besar.”

(1st Earl of Crewe, Menteri Sekretaris Negara Inggris Raya untuk daerah-daerah jajahan Inggris—1914)

“Yang mulia melihat dengan penuh suka cita setiap perkembangan di daerah Palestina yang akan dijadikan rumah kampung halaman bagi kaum Yahudi, dan ia akan menggunakan segenap daya upayanya untuk memudahkan pencapaian rencana ini. Kami paham bahwa kami tidak boleh melakukan apapun yang bisa membuat rakyat sipil dan kaum agamawan curiga karena adanya orang-orang non-Yahudi berkeliaran di Palestina. Kami juga berusaha agar orang-orang tidak curiga dengan diberikannya hak-hak istimewa dan status politik khusus yang hanya dinikmati oleh kaum Yahudi di negara-negara lain.”

(Arthur James Balfour, Sekretaris Luar Negeri Inggris, dalam sebuah suratnya kepada Lord Rothschild, 1917)

Penjajah Inggris memandang perlu untuk membentuk sebuah panitia utama berisikan 7 negara Eropa. Sebuah laporan penting yang diserahkan pada tahun 1907 kepada Perdana Menteri Inggris Sir Henry Campbell-Bannerman menekankan bahwa negara-negara Arab dan orang-orang Arab-Muslim yang tinggal di daerah kekuasaan Ottoman (kekhalifahan Utsmaniyah) bisa memberikan ancaman serius kepada negara-negara Eropa; dan oleh karena itu diperlukan usaha-usaha sebagai berikut:

1. Mereka harus dipecah-belah; dipisah-pisah; dan kemudian diberikan batasan-batasan satu sama lainnya di kawasan yang sama.

2. Berikan kepada mereka identitas politis buatan yang diletakkan di bawah kekuasaan negara-negara imprealis.

3. Memberangus segala bentuk persatuan atau organisasi, apapun namanya dan alasannya—baik itu organisasi intelektual, keagamaan, atau organisasi yang dibentuk atas alasan historis—dan selain itu harus dilakukan usaha-usaha untuk memecah belah para penduduk yang tinggal di kawasan itu.

4. Untuk mencapai semua ini diperlukan sebuah “buffer state” atau negara penyangga yang didirikan di Palestina; dihuni oleh orang-orang asing yang memiliki kekuatan yang tidak bermurah hati atau tidak ramah kepada para tetangganya dan sebaliknya sangat ramah dan bersahabat kepada orang-orang yang datang dari negara-negara Eropa dan mendukung segala kepentingan mereka.

(Dari sebuah Laporan untuk Campbell-Bannerman,1907)

Setelah itu lahirlah negara Israel di tanah Palestina yang keberadaannya itu tidak lepas dari peran Saudi Arabia. Saudi Arabia berperan besar atas lahirnya negara Israel; dan oleh karena itu maka Saudi dan Israel akan senantiasa tampak mesra. Ketika Gaza dibombardir dan kocar-kacir, Saudi malah memenjarakan seorang ulama yang menyatakan perasaan simpatinya kepada rakyat Gaza. Ketika Iran berhasil mengembangkan nuklirnya untuk tujuan damai, Saudi dan Israel ketakutan dan merasa bersalah. Padahal nuklir Iran bukan untuk perang melainkan untuk energi negaranya sendiri. Sebagai warga dunia, Iran memiliki hak untuk mengembangkan nuklirnya. Saudi dan Israel sedang merencanakan perang besar dengan target utama IRAN. Dengan bantuan Amerika dan negara-negara sekutunya………….tampaknya usaha itu tinggal menunggu waktu. Sementara Gaza Palestina hanya dijadikan uji coba senjata, sebelum mereka benar-benar menyerang negara yang mereka semua takuti yaitu IRAN!!!