"KEBENARAN TIDAK DITENTUKAN OLEH SEDIKIT BANYAKNYA ORANG YANG BERKATA BAHWA ITU BENAR"

Senin, 16 Februari 2015

SIAPAKAH AHLUL BAYT NABI ITU MENURUT PARA ISTERI NABI?


 

 
Menarik sekali untuk kita simak bahwa baik itu Sahih Muslim dan Sahih al-Tirmidzi juga kitab-kitab hadits Ahlul Sunnah lainnya semuanya malah memperkuat pandangan kaum Syi’ah tentang Ahlul Bayt Nabi. Di dalam Sahih Muslim, misalnya, ada sebuah bab khusus yang diberi-judul “Bab Keutamaan Para Sahabat”. Di dalam bab itu, ada sebuah bagian yang disebut dengan “Keutamaan Ahlul Bayt Nabi”. Di sana hanya ada SATU HADITS SAJA, dan hadits itu sama sekali tidak menyebutkan tentang para isteri Rasulullah. Hadits yang dimaksud ialah sebuah hadits terkenal yang disebut dengan HADITS MANTEL atau HADITS AL-KISA, dan hadits itu berbunyi sebagai berikut: 
 
Diriwayatkan oleh ‘Aisyah:
“Pada suatu ada suatu hari Nabi (SAW) pergi keluar dengan mengenakan sebuah mantel (atau jubah) berwarna hitam. Kemudian al-Hasan ibn Ali datang dan Nabi memasukkannya kedalam mantel yang sama; kemudian al-Husein datang dan juga masuk kedalam mantel yang sama; kemudian Fathimah datang, dan Nabi memasukkannya kedalam mantel yang sama; kemudian Ali datang dan Rasulullah juga memasukkannya kedalam mantel yang sama. Kemudian Rasulullah membacakan sebuah ayat:
“Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (kalimat terakhir dari ayat ke-33 surah ke-33).
(LIHAT: Referensi Sunni
• Sahih Muslim, Bab Keutamaan Para Sahabat, bagian Keutamaan Ahlul Bayt Nabi (as), edisi tahun 1980, diterbitkan di Saudi Arabia, Versi Bahasa Arab, volume 4, halaman 1883, Hadits Nomor 61.)
Di bawah ini tulisan khat Arab dari hadits yang kami sebutkan di atas yaitu yang dikutip dari kumpulan hadits Sahih Muslim
 
خرج النبي غداة وعليه مرط مرحل من شعر أسود فجاء الحسن فأدخله معه ، ثم جاء الحسين فأدخله معه ، ثم جاءت فاطمة فأدخلها، ثم جاء علي فأدخله ثم قال: إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

Kita bisa lihat bersama-sama bahwa penulis dari kitab hadits Sahih Muslim ini menyatakan bahwa:
  1. Imam ‘Ali, Fatimah, al-Hasan, dan al-Husein semuanya termasuk kedalam Ahlul-Bayt,
  2. Kalimat pensucian dalam Al-Qur’an itu (ayat terakhir dari QS. Al-Ahzab: 33) diturunkan untuk menggambarkan keutamaan yang dimiliki oleh orang-orang yang disebutkan di atas, dan BUKAN untuk orang-orang yang tidak disebutkan oleh hadits itu. Karena para isteri Nabi tidak disebutkan sama sekali dalam hadits tersebut, maka mereka sama sekali tidak termasuk kedalam Ahlul Bayt Nabi.
Muslim, pengumpul hadits itu dan penulis dari Kitab Sahih Muslim, tidak menuliskan hadits yang lain selain hadits itu di bagian yang ia sebut sebagai “Bagian Keutamaan Ahlul Bayt Nabi”. Apabila si penulis Kitab Sahih Muslim itu percaya dan yakin bahwa para isteri Rasulullah itu termasuk kedalam Ahlul Bayt, maka ia akan menuliskan hadits-hadits tentang itu dalam bagian tersebut—tapi sayang hadits-hadits seperti itu tidak ada sama sekali. 
 
Patut diingat bahwa ‘Aisyah sendiri—sebagai salah satu isteri Rasulullah; sekaligus sebagai penyampai hadits itu—menyebutkan bahwa para anggota Ahlul Bayt itu adalah orang-orang yang disebutkan di dalam hadits tersebut (yaitu Imam Ali, Fathimah, al-Hasan, dan al-Husein alayhimussalam). 
 
Sebuah hadits lainnya yang juga disebut sebagai “Hadits al-Kisa (Mantel)” tertulis di dalam Kitab Sahih Al-Tirmidzi, yang diriwayatkan oleh Umar ibn Abi Salamah—putera dari Ummu Salamah (salah seorang isteri Rasulullah), yang berbunyi sebagai berikut: 
 
Ayat "….Sesungguhnya Allah bermaksud hendak ….” (QS. Al-Ahzab: 33)" diturunkan kepada Rasulullah (SAW) di rumah Ummu Salamah. Pada saat itulah, Rasulullah mengumpulkan Fathimah, al-Hasan, al-Husein, dan menyelimutinya dengan sebuah mantel; dan ia juga menyelimuti Ali yang berada di belakangnya. Kemudian Rasulullah bersabda: “Ya, Allah! Inilah anggota keluargaku (Ahlul Bayt). Jauhkanlah mereka dari setiap kotoran dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya. “Ummu Salamah (isteri Rasulullah) bertanya: ‘Apakah aku juga termasuk bagian dari mereka, Ya Rasulullah?’ Rasulullah menjawab: “engkau tetaplah di tempatmu dan engkau termasuk orang yang cenderung kepada kebaikan.’”
(LIHAT: Referensi Sunni: Sahih al-Tirmidzi, volume 5, halaman 351,663)
Berikut adalah teks Arab-nya dari hadits yang kami sampaikan di atas yaitu hadits yang dituliskan di dalam Sahih al-Tirmidzi
 
نزلت هذه الآية على النبي "إنَّما يريدُ اللهَ...”في بيت أُم سلمه فدعا النبي فاطمه و حسناً و حسيناً فجعلهم بكسائه و علي خلف ظهره ثم قال: ألَّلهم هؤلاء أهل بيتي فاْذهب عنهم الرجس و طهرهم تطهيراً. قالت أمُّ سلمه: و أنا معهم يا نبي الله؟ قال أنتِ على مكانك و أنتِ إلى خير.

Seperti yang kita lihat, al-Tirmidzi juga menyatakan bahwa Imam Ali, Fathimah, al-Hasan, dan al-Husein itu adalah Ahlul Bayt Nabi, dan ayat pensucian yang terdapat di dalam Al-Qur’an (kalimat terakhir dalam ayat QS. Al-Ahzab: 33) itu diturunkan sebagai bentuk maklumat atas keutamaan dari orang-orang yang dimaksud dalam hadits-hadits itu. Jadi sekali lagi, para isteri Nabi TIDAK TERMASUK kedalam anggota Ahlul Bayt Nabi. Bahkan di dalam hadits-hadits sahih tersebut di atas terlihat jelas sekali bahwa Rasulullah-lah yang menyebutkan bahwa para isteri Rasulullah itu tidak termasuk Ahlul Bayt Nabi. Apabila Ummu Salamah (ra) termasuk kedalam Ahlul Bayt Nabi, maka Rasulullah (SAW) sendiri akan memasukkannya. Akan tetapi dalam hadits itu sendiri Rasulullah (SAW) malah bersabda bahwa Ummu Salamah hendaknya tetap di tempatnya dan tidak masuk kedalam selimut atau mantel yang menutupi para Ahlul Bayt Nabi. Rasulullah tidak memasukkan Ummu Salamah kedalam mantel yang sama dengan para anggota Ahlul Bayt lainnya. Ummu Salamah tetap berada di luar mantel itu ketika Rasulullah berdoa untuk para Ahlul Bayt yang ada di dalam mantelnya. 
 
Patut untuk kita sebutkan di sini bahwa Rasulullah TIDAK PERNAH BERSABDA:
“Inilah sebagian dari keluargaku (Ahlul Baytku).” Tapi beliau malah bersabda: “Inilah keluargaku (Ahlul Baytku).” Karena tidak ada lagi anggota Ahlul Bayt lainnya yang hidup di jaman itu. Juga catat bahwa Ummu Salamah (ra) yang merupakan salah satu isteri Rasulullah yang salehah adalah tidak lain dari orang yang meriwayatkan hadits sahih tersebut. Ia menyampaikan hadits itu kepada puteranya dan memberikan kesaksian tentang siapakah yang dimaksud dengan Ahlul Bayt Nabi itu.
Di dalam hadits al-Hakim, terdapat perbincangan antara Nabi dan Ummu Salamah sebagai berikut: 
 
Ummu Salamah berkata: “Ya, Rasulullah! Bukankah saya ini anggota keluargamu juga?” Rasulullah menjawab “Engkau memiliki masa depan yang baik akan tetapi keluargaku HANYA ini saja. Ya, Allah! Anggota keluargaku lebih layak bagimu.”
(LIHAT: Referensi Sunni: al-Mustadrak, oleh al-Hakim, volume 2, halaman 416)
Al-Suyuti dan Ibn al-Atsir melaporkan bahwa hadits itu kata-kata terakhirnya berbunyi sebagai berikut: 
 
“Ummu Salam berkata kepada Nabi: “Apakah aku termasuk salah seorang dari mereka?” Nabi menjawab: “Tidak. Engkau tidak termasuk. Tetapi engkau memiliki kedudukan yang istimewa dan masa depan dirimu baik sekali.”
(LIHAT: Referensi Sunni:
Usdul Ghabah, oleh Ibn al-Atsir, volume 2, halaman 289
Tafsir al-Durr al-Mantsur, oleh al-Suyuti, volume 5, halaman 198)

Dalam al-Tabari juga bisa kita lihat Ummu Salamah berkata seperti berikut ini:
“Aku berkata, “Ya, Rasulullah! Apakah aku ini termasuk salah satu dari Ahlul Bayt Nabi?” Aku bersumpah demi Dia yang maha tinggi bahwa Rasulullah TIDAK memberi aku kesempatan dan ia bersabda: “Tapi engkau memiliki masa depan yang sangat baik.”
(LIHAT: Referensi Sunni: Tafsir al-Tabari, volume 22, halaman 7 di dalam bagian tafsir dari ayat QS. Al-Ahzab: 33)
 



 
Selain Sahih Muslim dan Sahih al-Tirmidzi yang kami kutip haditsnya yaitu “Hadits Al-Kisa (mantel)”—yang masing-masing diriwayatkan oleh ‘Aisyah dan Ummu Salamah—berikut ini ada referensi lainnya dari kumpulan hadits-hadits Ahlu Sunnah yang meriwayatkan kedua hadits itu: 
 
1. Musnad Ahmad Ibn Hanbal, volume 6, halaman 323, 292, 298; volume 1, halaman 330-331; volume 3, halaman 252; volume 4, halaman 107 dari Abu Sa’id al-Khudri
2. Fadha’il al-Sahaba, oleh Ahmad Ibn Hanbal, volume 2, halaman 578, Hadits #978
3. al-Mustadrak, oleh al-Hakim, volume 2, halaman 416 (dua hadits) dari Ibn Abi Salama, volume 3, halaman 146-148 (5 hadits), halaman 158, 172
4. al-Khasa’is, oleh an-Nisa’i, halaman 4,8
5. al-Sunan, oleh al-Bayhaqi, diriwayatkan dari ‘Aisyah dan Ummu Salamah
6. Tafsir al-Kabir, oleh al-Bukhari (penulis kitab Sahih), volume 1, bagian 2, halaman 69
7. Tafsir al-Kabir, oleh Fakhr al-Razi, volume 2, halaman 700 (Istanbul), dari ‘Aisyah
8. Tafsir al-Durr al-Mantsur, oleh al-Suyuti, volume 5, halaman 198, 605 dari Aisha and Umm Salama
9. Tafsir Ibn Jarir al-Tabari, volume 22, halaman 5-8 (dari ‘Aisyah dan Abu Sa’id al-Khudri), halaman 6, 8 (dari Ibn Abi Salama) (10 hadits)
10. Tafsir al-Qurtubi, di dalam bagian tafsir ayat QS. Al-Ahzab: 33 dari Umm Salama
11. Tafsir Ibn Katsir, volume 3, halaman 485 (versi lengkap) dari ‘Aisyah dan Umar Ibn Abi Salama
12. Usdul Ghabah, by Ibn al-Atsir, volume 2, halaman 12; volume 4, halaman 79, diriwayatkan dari Ibn Abi Salama
13. Sawa’iq al-Muhriqah, oleh Ibn Hajar al-Haythami, Bab 11, bagian 1, halaman 221, dari Umm Salama
14. Tarikh, oleh al-Khateeb Baghdadi, volume 10, diriwayatkan dari Ibn Abi Salama
15. Tafsir al-Kashshaf, oleh al-Zamakhshari, volume 1, halaman 193, diriwayatkan dari ‘Aisyah
16. Mushkil al-Athar, oleh al-Tahawi, volume 1, halaman 332-336 (7 buah hadits)
17. Dhakha’ir al-Uqba, oleh Muhibb al-Tabari, halaman 21-26, dari Abu Sa’id Khudri
18. Majma’ al-Zawa’id, oleh al-Haythami, volume 9, halaman 166 (oleh beberapa perawi)
... dan masih banyak lagi ...
 
 
Masih ada lagi satu hadits “Al-Kisa”. Hadits “Al-Kisa” berikut ini berkenaan dengan Safiyya—salah seorang isteri Rasulullah (SAW). Ja’far bin Abi Thalib meriwayatkan: 
 
“Ketika Rasulullah mengetahui bahwa wahyu Allah hendak turun, ia cepat-cepat memberitahu Safiyya (salah seorang isterinya): “Bawakan kepadaku! Bawakan kepadaku!” Safiyya bertanya: “Siapa yang dimaksud, Ya Rasulullah?” Ia menjawab: “Bawakan kepadaku Ahlul Baytku: Ali, Fathimah, al-Hasan, dan al-Husein.” Setelah itu kami menyuruh seseorang untuk memberitahu mereka dan akhirnya mereka datang kepadanya.” 
 
“Kemudian Rasulullah (SAW) membentangkan mantelnya menyelimuti mereka, dan mengangkat kedua tanganya (ke langit) seraya berdo’a: “Ya, Allah! Inilah keluargaku (Aali), berkahilah Muhammad dan keluarga Muhammad. “Dan Allah—pemilik Keagungan dan Kemuliaan—telah mewahyukan: “Sesungguhnya Allah berkehendak untuk mensucikan kalian dari segala ketidak-sucian, hai Ahlul Bayt dan akan mensucikan kalian sesuci-sucinya (QS. Al-Ahzab: 33, kalimat terakhir).” 
 
(LIHAT: Referensi Sunni
al-Mustadrak oleh al-Hakim, Bab “Memahami (keutamaan) Para Sahabat Nabi”, volume 3, halaman 148. Si penulis menuliskanThe author then wrote: "This tradition is authentic (Sahih) based on the criteria of the two Shaikhs (al-Bukhari and Muslim)."
Talkhis of al-Mustadrak, oleh al-Dhahabi, volume 3, halaman 148
Usdul Ghabah, oleh Ibn al-Atsir, volume 3, halaman 33)
Meskipun kebanyakan hadits tentang masalah Ahlul Bayt ini menunjukkan bahwa ayat pensucian itu diturunkan di rumahnya Ummu Salamah (seperti yang sudah didiskusikan di atas), akan tetapi hadits di atas menyiratkan bahwa ayat pensucian itu turun di rumahnya Safiyyah. 
 
Menurut para ulama Sunni terkemuka—termasuk Ibnu Hajar—ayat pensucian itu kemungkinan besar turun beberapa kali. Dalam setiap kesempatan Rasulullah mengulangi lagi perbuatannya—yaitu menyelimuti setiap anggota Ahlul Bayt dengan mantelnya. Dan ini terjadi di depan setiap isterinya dalam kesempatan yang berbeda sehingga kita—dan juga mereka (para isteri Nabi)—tahu benar siapakah yang dimaksud dengan Ahlul Bayt Nabi itu. 
 
 
Testimoni atau kesaksian dari tiga orang isteri Nabi itu (yaitu ‘Aisyah, Ummu Salamah, dan Safiyya) betul-betul tidak lagi menyisakan ruang untuk penafsiran lain tentang siapa yang dimaksud dengan Ahlul Bayt itu. Kita mau tidak mau harus meyakini dan mengimani bahwa anggota keluarga yang dimaksud dengan Ahlul Bayt itu ialah tidak lain melainkan: Nabi Muhammad, Fathimah, Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husein (shalawat senantiasa tercurah untuk mereka semua). 
 
Fakta bahwa jender atau bentuk kata ganti berubah di akhir kalimat dari ayat QS. Al-Ahzab: 33 dari bentuk feminim ke maskulin, itu membuat hampir seluruh ahli tafsir Sunni percaya dan yakin bahwa memang bagian terakhir dari ayat pensucian itu ditujukan untuk Ali, Fathimah, al-Hasan dan al-Husein. Ibnu Hajar al-Haytsami menunjukkan:
“Berdasarkan pendapat mayoritas para ahli tafsir (Sunni), firman Allah yang berbunyi: “Sesungguhnya Allah bermaksud untuk …. (kalimat terakhir dari surah Al-Ahzab, ayat ke-33)” memang diturunkan untuk Ali, Fathimah, al-Hasan, dan al-Husein, karena penggunaan kata ganti maskulin berupa kata “ANKUM” dan kata-kata selanjutnya.”
(LIHAT: Referensi Sunni: al-Sawa’iq al-Muhriqah, oleh Ibn Hajar, Bab 11, bagian 1, halaman 220)
Meskipun para pengikut Ahlul Bayt Nabi (Syi’ah) memiliki rasa hormat yang tinggi sekali kepada para isteri Nabi saleh (dari beberapa isteri Nabi) seperti Khadijah, Ummu Salamah, Ummu Ayman, dan ….. (semoga Allah meridhoi mereka semua) yang tetap setia dan mengikuti Rasulullah dan Ahlul Bayt-nya—baik selama masa hidup Rasulullah maupun sepeninggalnya—para pengikut Ahlul Bayt tetap tidak memasukkan mereka kedalam kelompok anggota keluarga Ahlul Bayt Nabi karena Rasulullah sendiri secara tegas dan jelas memisahkan mereka. Itu bisa kita lihat dari hadits-hadits sahih baik dari kalangan Sunni maupun kalangan Syi’ah.
 
Ahlul Bayt Nabi memiliki keutamaan khusus yang tidak dimiliki oleh orang-orang lainnya walaupun mereka sangat saleh dan bertakwa. Ahlul Bayt Nabi memiliki ismah (kema’shuman) yang membuat mereka bersih dari dosa, terjaga dari ketidak-sucian dan mereka suci sesuci-sucinya.

Minggu, 01 Februari 2015

(E-BOOK GRATIS) DIMANAKAH 'AISYAH KETIKA UTSMAN DIBUNUH?

http://www.4shared.com/office/7zRFJgnzce/Dimana_Aisyah_ketika_Utsman_di.html
KLIK JILIDNYA UNTUK MEN-DOWNLOAD BUKUNYA, GRATIS ....
Hadits-hadits berikut ini dari kitab-kitab Sunni yang terkemuka dan dipakai luas:
  1. Majma al-Zawaed, oleh Haythami, Volume 9, halaman 95
  2. Al-Muj'am al-Kabir, oleh Tabarani, Volume 1, halaman 79
  3. Al-Istiab, oleh Ibn Abdulbar, Volume 3, halaman 1048
Kami baca dalam Majma al-Zawaid

وعن ملك يعني ابن انس قال قتل عثمان فأقام مطروحا على كناسة بني فلان ثلاثا

Malik bin Anas berkata: Ketika Utsman terbunuh, tubuhnya dilemparkan ke tumpukan sampah selama tiga hari.
 
Imam Abi Bakar Al-Haythami berkomentar: “Para perawinya semuanya terpercaya (tsiqah).”
Lebih lanjut kami juga baca dalam Al-Istiab

عن مالك قال لما قتل عثمان رضي الله عنه ألقى على المزبلة ثلاثة أيام

Malik berkata: “Ketika Utsman [ra] terbunuh, mereka melemparkannya ke tumpukan sampah selama tiga hari.”

LALU, BERAPA ORANG SAHABAT DAN TABI’IN YANG MENSHALATI JENAZAH UTSMAN?
 
Ada beribu-ribu sahabat Nabi dan para tabi’in di kota Madinah, akan tetapi berapakah yang menshalati jenazah Utsman—sang khalifah ketiga?

Hanya ada 5 orang saja dari Bani Umayyah yang melaksanakan shalat jenazah (bukti-buktinya sudah kami berikan dalam hadits-hadits di atas). 

Apabila memang para sahabat Nabi dan para tabi’in itu suka dan mencintai Utsman bin Affan, maka mereka pastinya akan berebut untuk bisa menshalati jenazah Utsman. Tidak hadirnya mereka di pemakaman Utsman menandakan bahwa mereka memang tidak mencintai Utsman. Lemparan batu dan teriakan untuk mencegah pemakaman malah menunjukkan sebaliknya.

Mereka membenci Utsman …………………..

LALU … DIMANAKAH ‘AISYAH KETIKA PEMBUNUHAN UTSMAN TERJADI?
APA PERAN ‘AISYAH DALAM PEMBUNUHAH UTSMAN?
BUKU INI AKAN MEMBERIKAN PENJELASANNYA………..
SELAMAT MENGUNDUH DAN MEMBACA

Jumat, 23 Januari 2015

(free e-book) TANAH FADAK DAN KESERAKAHAN POLITIK

 

TINGGAL KLIK SAMPUL-NYA UNTUK MENGUNDUH

tanah fadak dan keserakahan politik

 

TANAH FADAK: SEBUAH WARISAN DARI SEORANG UTUSAN TUHAN

Tanah Fadak itu sebenarnya merupakan sebuah masalah pelik antara dua orang individu yang menduduki tingkat yang tinggi di dalam masyarakat Islam. Dua orang individu itu juga dihormati oleh seluruh madzhab Islam. Kaum Ahlusunnah sangat menghormati dan memuja Abu Bakar dan menghormati Bunda Fathimah az-Zahra; sementara kaum Syi’ah memuliakan figur Bunda Fathimah az-Zahra tapi tidak memberikan penghormatan yang lebih pada sosok Abu Bakar karena masalah tanah Fadak dan masalah lainnya yang berkenaan dengan kedua tokoh ini.

Tanah Fadak itu ialah sebidang tanah yang diberikan kepada Rasulullah (SAW) oleh orang-orang Yahudi dalam sebuah perjanjian yang saling menguntungkan. Rasulullah diberikan tanggung-jawab atas tanah itu. Yang diributkan oleh seluruh kelompok madzhab Islam itu ialah apakah tanah Fadak itu dikelola oleh Rasulullah sebagai pribadi atau sebagai kepala Negara.

Setelah wafatnya Rasulullah (SAW), puteri Rasulullah—Bunda Fathimah az-Zahra—mengklaim tanah Fadak sebagai hak milik pribadi karena tanah itu merupakan warisan dari Rasulullah untuk dirinya. Akan tetapi klaim Bunda Fathimah az-Zahra itu ditentang oleh rezim pemerintah yang berkuasa pada waktu itu dengan alasan bahwa ada “hadits” yang menyebutkan bahwa Rasulullah itu tidak memiliki warisan sama sekali.

Sebelum kita berbicara terlalu jauh tentang hal ini, perkenankanlah kami untuk menyebutkan sebuah tafsiran dari salah seorang kawan kita dari kelompok Ahlusunnah (Sunni). Kawan Sunni kita itu mengatakan bahwa kepemilikan dan status dari tanah Fadak itu adalah masalah yang khusus dan berdiri sendiri. Yang menjadi masalah disini ialah bukan hanya tentang perkara warisan semata akan tetapi siapakah yang sedang memperkarakan warisan tersebut dan dari siapa warisan itu berasal. Bunda Fathimah binti Muhammad itu adalah puteri Rasulullah yang terkenal kejujurannya dan kesalehannya. Itu sudah dua hal. Hal yang lain ialah ia menuntut sebidang tanah yang diklaim sebagai haknya. Bunda Fathimah az-Zahra yang dirinya dikenai oleh ayat kesucian tentu saja tidak akan menuntut tanah Fadak apabila dirinya tidak memiliki bukti yang kuat karena kalau ia tidak bisa menunjukkan bukti itu, maka ia akan kehilangan kesuciannya yang sudah dijamin oleh Allah Ta’ala. Ini jelas tidak mungkin terjadi. Tidak mungkin seorang puteri Rasulullah bertindak ngawur. Jadi kalau ada yang ngawur, maka itu mestinya orang yang tidak memberikan tanah Fadak itu kepada Bunda Fathimah az-Zahra (as).

Itulah pendirian kami. Bagi orang yang tertarik untuk membahas hal ini lebih jauh, buku sederhana ini adalah untuk anda.

Rabu, 21 Januari 2015

KUMPULAN BUKU-BUKU TENTANG SYI’AH GRATIS (FREE E-BOOKS)


BERIKUT INI ADALAH BUKU-BUKU TENTANG SYI’AH ATAU TENTANG ISLAM SECARA UMUM YANG ANDA BISA DOWNLOAD SECARA GRATIS. MUDAH-MUDAHAN BERMANFAAT.
(KLIK SAJA SAMPUL BUKUNYA UNTUK MENGUNDUH)
---------------------------------------------------------------------------------

1.

Judul buku: abdullah ibn saba tokoh fiksi dalam perang unta
“Abdullah bin Saba: Tokoh Fiksi dalam Perang Unta”
Penerbit/Penyusun:
ISLAM ITU CINTA
Jumlah Halaman:
72 halaman






2.
Ahmad Deedat tentang iranJudul Buku:
“Ahmad Deedat tentang Iran”
Penerbit/Penyusun;
 ISLAM ITU CINTA
Jumlah Halaman:
43 halaman







3.
Alien tuhan baru di negara maju
Judul buku:
“ALIEN: TUHAN BARU DI NEGARA MAJU”
Penulis:
Apep Wahyudin / ISLAM ITU CINTA
Jumlah Halaman:
195 halaman






4.
PARA SAHABAT NABI MENURUT HADITS DAN AYAT SUCIJudul Buku:
“Para Sahabat Nabi menurut Hadits dan Ayat Suci”
Penerbit/Penyusun;
ISLAM ITU CINTA / SDOL
Jumlah Halaman:
95 halaman






5.
Imama kepemimpinan penerus nabi penjaga risalah illahi

Judul Buku:
IMAMAH: Kepemimpinan Penerus Nabi, Penjaga Risalah Illahi
Penulis/Penerbit: Sayyid Saeed Akhtar Rizvi /
ISLAM ITU CINTA
Jumlah Halaman:
127 halaman



6.
KA'AB AL-AHBAR
Judul Buku:
“KA’AB AL-AHBAR: Pembawa Pengaruh Agama Yahudi di dalam Keyakinan Para Sahabat Nabi”
Penerbit/Penyusun:
ISLAM ITU CINTA
Jumlah Halaman:
27 halaman



7.
KEDASYHATAN ILMU IMAM JA'FAR AS-SADIQ
Judul Buku:
“Kedasyhatan Ilmu Imam Ja’far as-Sadiq”
Penyusun/Penerbit:
ISLAM ITU CINTA / FEEDBOOKS
Jumlah Halaman”":
70 halaman





 

8.
ketika nabi ditolong 5 orang nasrani
Judul Buku:
“Ketika Nabi ditolong Lima Orang Nasrani, dimanakah gerangan para sahabat Nabi?”
Penerbit/Penulis:
ISLAM ITU CINTA / Yasser Al-Madani
Jumlah Halaman:
12 halaman




9.
Judul Buku: Kaum Wahabi itu bilang Yazid Amirulmukminin
Kaum Wahabi itu bilang: “Pembunuh cucu Nabi itu Amirul Mukminin”
Penerbit/Penyusun:
ISLAM ITU CINTA / www.al-islam.org /Sheikh Abdillah Nasser
Jumlah Halaman:
38 halaman




10.
Khalid bin Walid penjahat perang
Judul Buku:
KHALID BIN WALID: “Benarkah ia pahlawan perang?”
Penerbit/Penyusun:
ISLAM ITU CINTA / SHIAPEN
Jumlah Halaman:
73 halaman






11.
Nabi pun menangisi imam husein
Judul Buku:
NABI PUN MENANGISI IMAM HUSEIN
Penerbit/ Penyusun:
ISLAM ITU CINTA / www.al-islam.org
Jumlah Halaman:
11 halaman







12.
peran 'aisyah dalam islam
Judul Buku:
Peran ‘Aisyah dalam Islam
Penerbit/Penyusun:
SDOL / ISLAM ITU CINTA
Jumlah Halaman:
51 halaman







13.
perang unta perang saudara pertama dalam islam
Judul Buku:
PERANG UNTA: Perang Saudara Pertama dalam Islam
Penerbit/Penyusun:
ISLAM ITU CINTA / A Restatement of Islamic History
Jumlah Halaman:
69 Halaman




14.
Perbedaan antara Syi'ah dan Sunni bukan halangan untuk persaudaraan
Judul Buku:
Perbedaan mendasar antara Syi’ah dan Sunni, bukan penghalang persaudaraan
Penerbit/Penulis:
ISLAM ITU CINTA / Sayyid Saeed Akhtar Rizvi
Jumlah Halaman:
29 halaman




15.
perebutan khilafah di saqifah
Judul Buku:
Perebutan Kursi Khilafah Sepeninggal Rasulullah
Penerbit/Penyusun:
ISLAM ITU CINTA / A Restatement of Islamic History
Jumlah Halaman:
44 halaman




16.

Judul Buku:PLURALISM FOR DUMMIES: “Pluralisme untuk Pemula”
Penulis/Penerbit:
Apep Wahyudin / ISLAM ITU CINTA
Jumlah Halaman:
140 halaman






17.
Saudi dan Israel bersatu melawan Iran dan Palestina
Judul Buku:
Saudi dan Israel bersatu melawan Iran dan Palestina
Penerbit/Penulis:
ISLAM ITU CINTA / Ramtanu Maitra
Jumlah Halaman:
12 halaman




18.
SYI'AH DI DALAM MUSNAD IBN HANBAL

Judul Buku:
Syi’ah di dalam Musnad Ibn Hanbal
Penerbit/Penyusun:
ISLAM ITU CINTA / DR. Sayyid Kazim Tabataba’i / www.al-islam.org
Jumlah Halaman:
66 halaman




19.
Sunnah-Syi'ah dalam dialog santai
Judul Buku:
Sunnah-Syi’ah dalam Dialog: Dialog antara Ust. Hussein al-Habsy bersama para mahasiswa UGM dan UII Yogyakarta
Penerbit/Penyusun:
(disusun ulang tanpa mengubah isi oleh ISLAM ITU CINTA)
Jumlah Halaman:
58 halaman




20.
cover buku putih mahzab syiah digital


Judul Buku:
Buku Putih Madzhab Syi’ah
Penulis/Kata Pengantar:
Tim Ahlul Bayt Indonesia (ABI) / Prof. Dr. Qurays Shihab
Jumlah Halaman:
272 halaman




21.
FATHIMAH AZ-ZAHRA
Judul Buku:
Fatimah az-Zahra: Wanita Teladan Sepanjang Masa
Penulis:
Ibrahim Amini
Jumlah Halaman:
221 halaman






22.
22719872
Judul Buku:
ILUSI NEGARA ISLAM
Pengantar/Editor:
GUS DUR
Jumlah Halaman:
325 halaman







23.
buku pintar berdebat dengan wahabi
Judul Buku:
Buku Pintar Berdebat dengan Wahhabi
Penulis/Penerbit:
Muhammad Idrus Ramli / Bina ASWAJA
Jumlah Halaman:
100 halaman






24.
fikih islam berdasarkan fatwa
Judul Buku:
FIKIH ISLAM berdasarkan Fatwa Ayatullah Sayyid Ali Sistani
Penulis/Penerbit:
Ayatullah Sayyid Ali Sistani
Jumlah Halaman:
479 halaman






25.
then i was guided
Judul Buku:
Then I was Guided
Penulis:
Dr. Muhammad a-Tijani as-Samawi
Jumlah Halaman:
187 halaman







26.
shia the real followers of ahlu sunnah
Judul Buku:
The Shia: The Real Followers of the Sunnah
Penulis:
Dr. Muhammad al-Tijani al-Samawi
Jumlah Halaman:
259 halaman







27.
ask those who know
Judul Buku:
Ask Those Who Know
Penulis:
Dr. Muhammad al-Tijani al-Samawi
Jumlah Halaman:
230 halaman







28.
madzhab alternatif
Judul Buku:
Madzhab Alternatif (Perbandingan Syi’ah-Sunnah)
Penulis:
Dr. Muhammad at-Tijani as-Samawi
Jumlah Halaman:
309 halaman




29.
Judul Buku: 
Dimanakah 'Aisyah ketika Utsman dibunuh? 
Penerbit/Penyusun:
www.wilayat.net 
Jumlah Halaman:
34 halaman



30.

Judul Buku:
Tanah Fadak dan Keserakahan Politik
Penerbit/Penyusun:
SDOL
Jumlah Halaman:
38 halaman




Buku-buku lainnya: (klik saja link-nya)
  1. al-Murojaat-Dialog-sunni-syiah-(Sayyed-allamah-syarafuddin-al-musawi-ra)
  2. Isu-Isu-Penting-Ikhtilaf-Sunnah-Syiah
  3. sunnah-syiah-dalam-dialog
  4. Sunnah-Syiah-dalam-dialog-mahasiswa-UIN-Sunan-Kalijaga-Jogjakarta
  5. Tanggapan-atas-buku-Gen-Syiah
  6. Akhirnya-Kutemukan-Kebenaran-Dr.sayyid-Muhammad-al-Tijani-al-Samawi
  7. Fiqih-ahlulbayt-untuk-tingkat-pemula
  8. Fiqih-Amaliyah-Praktis-(Sayyid-Husain-al-Kaff)
  9. Asyura-dan-Tradisi
  10. Sejarah-Singkat-Majelis-Ratapan-al-Husain
  11. Tiga-Faktor-Kebangkitan-Imam-al-Husain(as)
  12. Tragedi-Karbala_-Peristiwa_-Riwayat_-Sejarah-Asyuro-10-muharram
  13. Tragedi-Karbala-dan-Menjawab-Pelbagai-Keraguan-Tentangnya
  14. Abu-Hurairah-dan-pemalsuan-hadits-(Sayyid-allamah-syarafuddin-al-Musawi)
  15. Dialog-Imam-Ali-(as)-dengan-dewan-syuro-di-Saqifah-Bani-Saidah
  16. Fatwa-Ulama-Islam-Dunia-Mengenai-Syiah
  17. Kitab-Muktamar-Baghdad-(Dialog-Sunni-Syiah)
  18. MENGAPA-AKU-MEMILIH-MAZHAB-AHLULBAIT-ASa