"KEBENARAN TIDAK DITENTUKAN OLEH SEDIKIT BANYAKNYA ORANG YANG BERKATA BAHWA ITU BENAR"

Rabu, 24 Agustus 2016

DUA IDEOLOGI YANG SALING BERHADAPAN

oleh: KH. Jalauddin Rakhmat
(dari Buletin Al-Tanwir; nomor 310, Edisi 24  November 2012/10 Muharram 1434H)

Di tengah-tengah puing-puing kota purba Babilonia, Kur Babil, bertemulah dua pasukan. Kalau tidak kedua-duanya beragama Islam, kedua pasukan itu bertentangan dalam segala hal. Yang satu datang dari dari arah utara dengan puluhan ribu tentara. Yang lain datang dari selatan dengan puluhan orang warga sipil. Yang satu membawa persenjataan yang lengkap. Yang satu lagi hanya memikul bekal untuk perjalanan sekejap. Di sebelah sana berdiri puluhan ribu orang yang siap menumpahkan darah. Di sebelah sini berkumpul segelintir orang yang siap menebarkan damai.

Sebenarnya, ruang antara dua pasukan itu adalah celah yang memisahkan dua ideologi besar dunia: madzhab kecintaan dan madzhab kebendaan. Madzhab kecintaan adalah madzhab Illahi, yang kepadanya bergantung keadilan dan kasih sayang. Madzhab kebendaan adalah madzhab yang di atasnya ditegakkan kezaliman dan kebencian. Namun, yang paling menarik dari kedua pasukan ini ialah kenyataan bahwa mereka semua menisbahkan dirinya kepada agama Islam.

Ada ahli sejarah yang menyebutkan bahwa inilah pertarungan antara keluarga Abu Sufyan dan keluarga Nabi SAW, atau antara dua kabilah yang saling bermusuhan sejak Abdu Manaf bin Qushay, atau antara dua partai politik besar dalam sejarah Islam masa dulu. Sebut apa saja sekehendakmu. Imam Ja’far as-Sadiq (as) berkata: “Kami dan keluarga Abu Sufyan memang bermusuhan karena Allah. Kami berkata: ‘Allah benar’, mereka berkata: ‘Allah bohong’”[1]

Dr. Fuad Jabali[2] melakukan penelitian mendalam tentang dua kelompok sahabat yang berhadapan di Shiffin; persis seperti mereka yang berhadapan di Karbala (nama kemudian dari Kur Babil). Diduga mereka bermusuhan karena fanatisme kabilah, karena letak geografis tempat tinggalnya, atau kepentingan ekonomi. Semua hipotesis itu keliru. Mereka bermusuhan karena perbedaan ideologis; antara orang-orang yang dibesarkan dalam asuhan wahyu dengan orang-orang yang masuk berbondong-bondong setelah berakhirnya wahyu.

Di Karbala, lebih dari 1400 tahun yang lalu, dari pihak pembawa pesan Madinah berdiri sosok indah pelanjut risalah, al Imam. Ia hadapkan seluruh wajahnya kepada lautan manusia dari Syam. Kali ini mereka diwakili oleh ‘Umar bin Sa’ad (bin Abi Waqqas)[3], yang mau membunuh cucu Nabi SAW karena tergiur jabatan sebagai gubernur.

Dengarkan dialog diantara dua kubu ideologi dunia ini:
Imam Husein mengajak dia (‘Umar bin Sa’ad) untuk meninggalkan Ibnu Ziyad dan bergabung dengan beliau. (Kemudian ‘Umar bin Sa’ad menjawab):
“Aku takut mereka akan menghancurkan rumahku.”
(Imam Husein berkata): “Aku nanti membangunkan bagimu rumah yang bagus.”
(Umar berkata lagi): “Aku takut mereka merampas harta bendaku.”
(Imam Husein menukas): “Aku akan gantikan hartamu dengan yang lebih baik dari itu.”
(Umar bersikukuh): “Di Kufah aku punya keluarga, aku takut mereka akan dibunuh Ibn Ziyad.”

Ayat (QS. At-Taubah: 24) seakan-akan turun khusus untuk ‘Umar bin Sa’ad:

“Katakanlah: "Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik” (QS. At-Taubah: 24)

Namun ayat ini boleh jadi turun untuk kita—wal ‘iyadzu billah—jika kita lebih mendahulukan kepentingan keluarga dan kelompok kita, rumah yang kita banggakan, harta kekayaan yang kita kumpulkan, perdagangan yang kita jalankan, di atas kecintaan kepada Allah dan RasulNya dan jihad di jalannya.

“Inilah ideologi Ibnu Sa’ad, untuk itu ia hidup dan mati: hartanya, rumahnya, keluarganya, dan kelompoknya,” kata Syaikh Jawad Mughniyah. “Adapun agama dan hati nurani, adapun Allah dan Rasulnya hanyalah kata-kata yang diulang-ulang selama terpelihara hartanya, rumahnya, anak-anaknya, dan kelompoknya. Ibnu Sa’ad memerangi Imam Husein demi kepentingan pribadi dan kecintaan kepada dunia. Semua yang mendahulukan kekayaan dan keluarga di atas ketaatan kepada Allah dan RasulNya, maka ia sedang hidup dengan ideologi Ibnu Sa’ad walupun ia menangisi Imam Husein sampai memutih matanya, walaupun ia mengutuk Ibnu Ziyad seribu kali, selama yang mendorongnya untuk bertindak sama dengan yang mendorong Ibnu Sa’ad untuk membunuh Imam Husein.”[4]

Pilihlah jalan hidupmu sekarang. Bergabunglah dengan Ibnu Sa’ad. Dahulukan rumahmu, keluargamu, kelompokmu, kalau perlu dengan mengurbankan agamamu. Agama hanya kamu ucapkan ketika kepentingan-kepentingan pribadimu terjaga.

Atau bergabunglah dengan al-Imam al-Husein seperti Ummu Wahab. Ia berkata kepada anaknya: 
“Bangunlah anakku, bela anak puteri Nabi SAW.”  Anaknya menjawab: “Pasti aku lakukan, ya ummah. Aku takkan pernah gentar.”Melejitlah ia ke tengah-tengah musuh. Ia berhasil membunuh sekelompok lawannya. Ia kembali kepada ibunya, dengan nafas terengah-engah: “Ya Ummah, aradhiiti, sudah ridha-kah engkau, ibu.”“Tidak, sebelum engkau terbunuh di hadapan al-Husein.”
Dia menyerbu ke tengah-tengah pasukan musuh, membunuh sekitar 19 orang berkuda dan 12 orang pasukan jalan kaki. Kedua tangannya dipotong, kepalanya dipenggal. Ummu Wahab mengambil tongkat dan membunuh pembunuh anaknya: “Biarlah ibuku dan bapakku menjadi tebusanmu. Ia telah berperang demi manusia-manusia suci dari keluarga Rasulullah (SAW).”

Assalamu ‘alayka ya aba ‘Abdillah, ‘alayka minni salaamullahi abadan ma baqiitu wa baqiyal layli wa al-nahar. Assalamu ‘ala al-Husein. Assalamu ‘ala ‘alayyibnil Husein. Assalamu  ‘ala awlaadil Husein. Assamu ’ala ashhabil Husein wa rahmatullahi wa barakatu. Wa la ja’alahullahu achiral ‘ahdi minni liziyaratihim …..

Asyura, 10 Muharram 1434H
Jalaluddin Rakhmat






[1] Majma al-Zawaid, 7:239; Musnad al-Bazzar, 2:191, halaman 571; Waq’ah al-Shiffin 318; Al-Nashaih al-Kafiyah 46
[2] Fuad Jabali, Sahabat Nabi SAW, Bandung, Mizan, dari Disertasi tahun 2003, diterbitkan tahun 2010
[3] ‘Umar bin Sa’ad ialah putera dari Sa’ad bin Abi Waqqas—salah seorang sahabat Nabi yang terkenal. Umar bin Sa’ad inilah yang kelak akan menyembelih leher Imam Husein (as) cucu Nabi. Jadi cucu Nabi disembelih oleh putera sahabat Nabi.
[4] Syaikh Muhammad Jawad Mughniyyah, Al-Husayn wa Bathalat al-Karbala, Beirut; Muassasah Dar al-Kitab al-Islami.

Minggu, 31 Juli 2016

RUMAH TANGGA NABI: TELADAN SUCI

Oleh: KH. JALALUDDIN RAKHMAT

Ketika kita menempuh bahtera rumah tangga, ketika kita sedang menjalankan perintah Allah dan RasulNya, kita dianjurkan untuk menengok kembali kecintaan kita kepada keluarga Nabi. Dalam memperkuat kecintaan kita kepada keluarga Nabi di dalam mengayuh bahtera keluarga, kita diwajibkan mencontoh prilaku kehidupan keluarga Rasulullah, baik prilaku terhadap istri maupun anak.

Dalam memperlakukan istrinya, Rasulullah senantiasa menghormati dan menjaga perasaan istrinya melebihi suami-suami yang lainnya. Suatu saat ketika Rasulullah hendak melaksanakan shalat malam, beliau dekati istrinya ‘Aisyah sampai ‘Aisyah berkata: “Di tengah malam beliau mendekatiku dan ketika kulitnya bersentuhan dengan kulitku beliau berbisik, “Wahai ‘Aisyah izinkan aku untuk beribadah kepada Tuhanku.”

Kita bayangkan betapa besar penghormatan Rasulullah kepada istrinya sampai ketika beliau hendak melakukan shalat malam, beliau terlebih dahulu meminta izin kepada istrinya pada tengah malam, di saat istrinya membutuhkannya. Pada izin Rasulullah itulah tergambar kecintaan dan penghormatan terhadap istrinya.


Nabi adalah sosok yang sangat sabar dalam memperlakukan istrinya. Hal ini terlihat ketika suatu hari ada salah seorang istrinya datang dengan membawa makanan untuk dikirim kepada Rasulullah yang sedang tinggal di rumah ‘Aisyah. ‘Aisyah dengan sengaja menjatuhkan kiriman makanan itu hingga piringnya pecah dan makanannya jatuh berderai. Rasulullah hanya mengatakan: “Wahai ‘Aisyah, kifaratnya adalah mengganti makanan itu dengan makanan yang sama.”

"Rasulullah mengecam suami-suami yang suka memukuli istri-istrinya sampai Rasulullah berkata: “Aku heran melihat suami-suami yang menyiksa istrinya padahal dia lebih patut disiksa oleh Allah.”

"Nabi pun mengecam suami-suami yang menghinakan istri-istrinya, tidak menghargainya; tidak mengajaknya bicara; dan tidak mempertimbangkan istrinya dalam mengambil keputusan. Nabi bersabda: “Tidak akan pernah memuliakan istri kecuali lelaki yang mulia dan tidak akan pernah menghinakan istri kecuali lelaki yang hina.”

Oleh karena itu, marilah kita berusaha menjadi suami yang mulia yang menempatkan istri pada tempat yang mulia.

Salah satu ibadah yang paling besar di dalam Islam adalah berkhidmat kepada istri. Rasulullah bersabda:

“Duduknya seorang lelaki dengan istrinya kemudian membahagiakan istrinya, pahalanya sama dengan orang yang itikaf di masjidku.”

Kita dapat saksikan para Jemaah haji ketika tinggal selama seminggu di sana mereka berusaha melakukan itikaf dengan sebaik-baiknya di masjid Nabi (Nabawi). Kita akan memperoleh pahala yang sama seperti itikafnya para Jemaah haji kalau kita duduk bersama istri dan berusaha membahagiakan, memberikan ketentraman dan kenyamanan kepadanya.

Begitu pula bagi para istri. Mereka haruslah menjadi seorang istri seperti Khadijah Al-Kubra. Khadijah adalah sosok istri yang sangat dicintai oleh suaminya (Nabi Muhammad—red.). Selama Rasulullah (SAW) menikah dengannya, Rasulullah tidak pernah memikirkan the other women beside her, wanita lain di samping Khadijah. Rasulullah hidup dalam suasana yang penuh dengan kecintaan  dan kasih sayang.

Cinta kasih Nabi terhadap Khadijah tergambar dalam riwayat berikut ini:

“Setelah Khadijah meninggal dunia, Rasulullah menikah dengan ‘Aisyah. Suatu hari Rasulullah sedang berada di depan rumah. Tiba-tiba Rasulullah meninggalkan ‘Aisyah menuju kepada seorang perempuan. Rasulullah memanggilnya  dan menyuruh perempuan itu duduk di hadapannya, kemudian mengajaknya berbicara. ‘Aisyah bertanya: “Siapakah perempuat tua ini?” Rasul menjawab: “Inilah sahabat Khadijah dulu.” Lalu ‘Aisyah berkata, “Engkau sebut-sebut juga Khadijah padahal Allah telah menggantikannya dengan istri yang lebih baik” Ketika itu marahlah Rasul sampai berguncang rambut di atas kepalanya. Lalu beliau berkata: “Demi Allah. Tidak ada yang dapat menggantikan Khadijah. Dialah yang memberikan kepadaku kebahagiaan ketika orang mencelakakanku. Dialah yang menghiburku dalam penderitaan ketika semua orang membenciku. Dialah yang memberikan seluruh hartanya kepadaku ketika semua orang menahan pemberiannya. Dan dialah yang menganugerahkan kepadaku anak ketika istri-istri yang lain tidak memberikannya.”

Mendengar itu ‘Aisyah tidak dapat memberikan jawaban. Hadits ini diriwayatkan dalam shahih Bukhari dan Muslim.

Dalam ucapan Rasulullah itu, selain terkandung kecintaan Rasul terhadap Khadijah, juga terkandung kebaktian Khadijah terhadap suaminya. Khadijahlah yang menghibur suaminya ketika dalam perjuangan dilanda berbagai penderitaan. Khadijahlah yang mengorbankan seluruh hartanya ketika suaminya memerlukan. Khadijahlah yang mendampingi suaminya dalam suka dan duka. Sehingga Rasul berkata, “Tidak ada seorang pun yang dapat menggantikan Khadijah.”

Kepada para istri jadilah seperti Khadijah yang setiap saat rela mengorbankan apapun demi kebagahagiaan suami. Yang di saat-saat suami ditimpa duka dan kesusahan siap berdiri di sampingnya, memberikan hiburan dan kebahagiaan kepadanya dengan seluruh jiwa dan raga.

Kebaktian kepada suami di dalam Islam dianggap ibadah yang utama. Sampai Rasulullah bersabda:

“Kalau seorang perempuan memberikan setetes minum kepada suaminya, atau memindahkan barang dari rumahnya ke tempat yang lain untuk membahagiakan suaminya, maka pahalanya sama dengan melakukan ibadah satu tahun lamanya.”

Oleh sebab itu, hormatilah suami. Berikan kepadanya penghormatan yang sepenuhnya dan berikanlah kecintaan yang sepenuhnya. Insya Allah, Allah akan berkati keluarga yang seperti demikian. 

Sabtu, 30 Juli 2016

Senin, 11 Juli 2016

(FREE E-Book) Imam Mahdi yang kita tunggu dalam ketaatan dan kesabaran

KLIK SAMPULNYA UNTUK MEN-DOWNLOAD


Siapakah gerangan, Imam Mahdi (as) yang kita tunggu-tunggu sepanjang jaman? Siapakah dia yang akan mengubah dunia kita yang penuh laknat dan dosa sehingga menjadi surga yang suci bersih tiada tara? Kita hanya tahu bahwa Imam zaman yang kita tunggu itu berasal dari keturunan suci sang Nabi penutup segala Nabi. Kita juga tahu dari hadits-hadits suci bahwa beliau memiliki dahi yang lebar dan hidung yang mancung. Kita tahu ia bakal menjadi pemimpin kuat yang bahkan bisa memimpin seorang Nabi (Nabi Isa as.). Kita juga sudah tahu dari dulu, ia bernama Muhammad—sama dengan nama kakek buyutnya, Muhammad al-Mustafa (SAW)—Rasulullah termulia. Kita masih harus menelaah lagi hadits-hadits shahih lainnya tentang garis keturunan dan ciri-ciri fisik dari maula kita—pemimpin kita; juru selamat umat manusia. Meskipun begitu, apa yang sudah kita miliki sekarang ini sudah sangat cukup sebagai menjadi petunjuk yang baik untuk mencari dan mengenali sang Mahdi yang kita nanti.

Sementara itu, sudah banyak orang yang mengklaim bahwa dirinyalah sang Mahdi yang ditunggu kedatangannya sepanjang sejarah Islam. Sudah banyak pula orang yang dianggap memiliki kemiripan dengan “Al-Mahdi”, meskipun orang dimaksud tidak setuju dan menentang disebut Al-Mahdi.[1]

Duhai, kapankah dikau datang, wahai Imam yang kami tunggu dan dambakan sepanjang zaman ...............




[1] Untuk mengetahui lebih jauh tentang daftar nama “para Imam Mahdi”—orang-orang dianggap sebagai Mahdi (baik sepengetahuannya maupun tanpa sepengetahuannya) atau orang-orang yang mengaku dirinya sebagai Mahdi, sebaiknya membacara referensi: Dr. ‘Abd al-‘Alim ‘Abd al-‘Azim al-Bastawi, al-Mahdi al-Muntazar fi Dhaw-i al-Ahadith wa al-Athar al-Sahihah wa Aqwal al-‘Ulama wa Ara al-Firaq al-Mukhtalifah (Beirut: Dar Ibn Hazm; Edisi Pertama, 1420 H), halaman 60-118.

Kamis, 07 Juli 2016

HADITS-HADITS AHLUL SUNNAH MENYATAKAN PERLUNYA MENGENAL IMAM ZAMAN



Menurut hadits-hadits yang shahih dari Ahlul Sunnah, setiap orang yang meninggal tanpa mengetahui seorang Imam yang diutus oleh Allah di jamannya, maka kalau ia meninggal, ia meninggal dalam keadaan jahiliyyah.

Dalam setiap penggalan jaman, pastilah ada seseorang yang diutus sebagai seorang Imam. Adalah penting sekali bagi setiap orang untuk mengenalinya, percaya kepada IMAMAH-nya dan wajib bagi dirinya untuk mengikuti Imam yang sudah ia kenali itu. Apabila seorang Muslim meninggal tanpa mengetahui Imam zamannya, maka ia akan meninggal dalam keadaan jahiliyyah.  

Hal ini sudah dinyatakan dalam berbagai hadits dari berbagai rantai sanad dan dari berbagai sumber perawi hadits yang terpercaya. Kami  yakin tidak ada satupun yang ulama yang berakal sehat yang berani meragukan “sanad” dan “matan” dari hadits-hadits ini. Hadits-hadits tersebut terekam dengan baik di dalam kitab-kitab hadits Ahlus Sunnah yang terkemuka seperti kitab Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Musnad, Sunan dan beberapa kitab hadits lainnya. Hadits-hadits tersebut dipercayai dan diyakini serta dipakai baik di kalangan Sunni maupun di kalangan Syi’ah.

Kaum Muslimin semuanya sepakat bahwa Rasulullah pernah bersabda seperti:

مَنْ مَاتَ وَلَمْ يَعْرِفْ اِمَامَ زَمَانِه مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً
“Barangsiapa yang mati tanpa sempat mengetahui Imam zamannya, maka ia mati dalam keadaan jahiliyyah.”

Hadits ini muncul dengan redaksi kata-kata yang sama di dalam berbagai kitab referensi Ahlu Sunnah. Syeikh Sa’ad al-Din Taftazani memusatkan perhatiannya untuk membahas masalah IMAMAH di dalam kitabnya yang berjudul Sharh al-Maqasi. Ia mengutip hadits tersebut di atas.[1]

Hadits ini juga muncul di berbagai kitab hadits dengan redaksi kata-kata yang sedikit berbeda, akan tetapi kami yakin bahwa hadits-hadits tersebut masih memiliki pesan yang sangat identik satu sama lainnya. Rasulullah (SAW) bermaksud untuk menyampaikan bahwa kaum Muslimin itu senantiasa memerlukan kehadiran seorang Imam di dalam kehidupannya sehari-hari untuk membimbing mereka; selain itu memang itu sudah kewajiban bagi seluruh kaum Muslimin untuk mengikuti seorang Imam dan meminta petunjuk dan bimbingan darinya (karena Imam itu—seperti halnya Nabi dan Rasul—adalah  wakil Tuhan di bumi—red.).

Dalam kitab Musnad-nya, Ahmab Ibn Hanbal mengutip sebuah hadits Rasulullah (SAW) yang bersabda:

مَنْ مَاتَ بِغَيْرِ اِماَمَ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّة
“Barangsiapa yang meninggal padahal ia belum memiliki seorang Imam, maka ia meninggal dalam keadaan jahilliyyah.”[2]

Hadits yang sama juga direkam oleh Abu Daud Tiyalisi di dalam Musnad-nya dan oleh Tabarani di dalam kitab al-Mu’ajam al-Kabir.

Ibn Hayyan di dalam Sahih-nya menuliskan:

مَنْ مَاتَ وَ لَيْثَ لَه اِماَمَ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً
“Barangsiapa yang meninggal sebelum memiliki seorang Imam, maka ia meninggal dalam keadaan jahilliyyah.”[3]

Ada juga beberapa kitab yang menuliskan hadits tersebut dengan sedikit tambahan seperti misalnya dalam hadits:

من مات ولم يعرف امام زمانه فليمت ان شاء يهوديا و ان شاء نصرانيا
“Barangsiapa yang meninggal tanpa mengetahui Imam zamannya, maka ia akan meninggal sebagai seorang Yahudi atau seorang Kristiani seperti yang ia inginkan”[4]

Sejumlah ulama sudah melaporkan hadits ini dengan redaksi kata-kata seperti itu seperti yang tertulis di dalam kitab al-Masail al-Khamsun yang ditulis oleh Fakhr Razi.

Meskipun hadits ini juga muncul dengan redaksi kata-kata yang berbeda seperti yang terdapat di dalam kitab-kitab hadits Ahlu Sunnah baik itu dalam Sahih, Sunan maupun Musnad, kami sudah merasa cukup dengan beberapa hadits yang sudah kami paparkan di sini. Sekarang, kami akan membahas “keunikan” atau “keanehan” dari kandungan hadits-hadits tersebut.

Ungkapan من مات ولم يعرف yang berarti BARANGSIAPA YANG MENINGGAL TANPA SEMPAT MENGETAHUI …. Menunjukkan bahwa IMAM yang dimaksud di dalam hadits-hadits tersebut, bukanlah sembarang Imam (atau pemimpin atau amir atau khalifah). IMAM yang ada di dalam hadits-hadits tersebut menyiratkan sebuah keyakinan akidah karena disangkut-pautkan dengan kematian (dan kehidupan) seseorang segala. IMAM yang kalau kita tidak mengenalinya akan menyebabkan kematian kita berakhir buruk.

BARANGSIAPA YANG MENINGGAL TANPA MEYAKINI SEORANG IMAM DI ZAMANNYA itu jelas menyuratkan dan menyiratkan bahwa IMAM di dalam hadits itu bukanlah Imam atau pemimpin yang kita kenal selama ini. Imam di sana bukanlah sekedar pemimpin yang ada di dalam masyarakat. Imam di sana bukanlah Imam hasil pemilihan PILKADA atau PILPRES. Imam disana bukanlah Imam yang dituakan dan diidolakan oleh masyarakat setempat. Imam yang dimaksud ialah Imam yang telah ditunjuk oleh Allah Ta’ala. Oleh karena itu, kalau kita tidak kenal dia; tidak ikut dia; tidak bermakmum padanya, kemudian kita mati ……. maka kita mati dalam keadaan tanpa petunjuk. Mati jahiliyyah.

Imam yang dimaksud bukan pemimpin politik atau pemimpin masyarakat yang wajib dikenali, dipatuhi, dan diikuti teladannya. Karena kalau kita tidak mengenali mereka sekalipun, kita tidak akan mati dalam keadaan jahiliyyah.

Imam yang dimaksud di dalam hadits-hadits Ahlu Sunnah itu adalah Imam yang dipilih, diangkat, dan ditugaskan oleh Allah (dan RasulNya). Imam yang seperti inilah yang wajib kita kenali. Imam seperti inilah yang wajib kita yakini dan patuhi. Seorang Imam yang ditelah ditunjuk dan diangkat secara hak lewat nash. Imam yang seperti inilah yang akan menjadi wakil Tuhan di bumi. Ia akan menjadi perantara antara kita dan Tuhan yang telah menciptakan kita semua.

Apabila seseorang meninggal tanpa sempat mengenali Imam yang seperti ini; tanpa sempat meyakini dan mengikuti teladan dari Imam yang seperti ini, maka wajarlah dan pantaslah kalau ia mati dalam keadaan sepi petunjuk. Wajar kalau ia mati dalam keadaan tanpa bimbingan suci dari Illahi. Wajar kalau ia mati dalam keadaan jahiliyyah.



[1] Sharh al- Maqasid, vol. 5, halaman 239.

[2] Musnad Ahmad, vol. 4, halaman 96.

[3] Sahih Ibn Hayyan,  vol. 10, halaman 434.

[4] Al-Mu”ajam al-Kabir,  vol. 19, halaman 388.

Jumat, 10 Juni 2016

DUA BELAS KHALIFAH DALAM HADITS SUNNI, ADALAH PARA UTUSAN ALLAH SEPENINGGAL NABI


JUST CLICK THE COVER OF THE BOOK TO DOWNLOAD .........



Oleh: Sayed Jamaluddin Hejazi

Apakah Allah pernah “mengutus” seseorang untuk umat ini setelah meninggalnya Rasulullah (SAW)? Tampaknya pertanyaan ini harus dijabarkan dulu kedalam 3 buah pertanyaan sebagai berikut:

  1. Apakah ada Nabi lain setelah Nabi Muhammad?
  2. Apakah Allah pernah “mengutus” orang-orang yang bukan Nabi untuk umat ini?
  3. Apabila pertanyaan nomor 2 dijawab “YA”, maka siapakah orang-orang yang bukan Nabi yang diutus untuk umat ini  setelah wafatnya Nabi?
Sungguh, tidak ada keraguan lagi kalau Muhammad bin Abdullah itu adalah Nabi dan Rasul terakhir dan tidak ada lagi Nabi yang diutus Allah ke muka bumi ini hingga akhir jaman nanti[1]. Allah berfirman di dalam Al-Qur’an:

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Ahzab: 40)

Oleh karena itu, tidak akan pernah lagi seseorang datang setelahnya dengan mengajukan nubuwwah yang baru; atau risalah yang baru; atau syari’ah yang baru; atau kitab suci yang baru. Nabi Muhammad telah diutus Allah sebagai penutup para Nabi dan Rasul bagi seluruh umat manusia hingga akhir jaman nanti[2]. Jadi, Allah sama sekali TIDAK PERNAH MENGUTUS NABI BARU untuk umat ini setelah Nabi Muhammad meninggal dunia.

Akan tetapi, meskipun begitu, setelah masa Nabi Muhammad, Allah “mengutus” paling tidak satu orang utusan yang bukan Nabi dan bukan Rasul untuk umat ini. Prof. Ibn Yasin mengutip hadits shahih berikut yang menjelaskan akan adanya orang yang dimaksud:

Al-Dhiya al-Maqdisi berkata: “Dari Abu al-Majd Zahir b. Ahmad b. Hamid b. Ahmad al-Thaqafi – Abu ‘Abd Allah al-Husayn b. ‘Abd al-Malik b. al-Husayn al-Khalal – Imam Abu al-Fadhl ‘Abd al-Rahman b. Ahmad b. al-Husayn b. Bandar al-Razi al-Muqri – Abu al-Hasan Ahmad b. Ibrahim b. Ahmad b. ‘Ali b. Faras – Abu Ja’far Muhammad b. Ibrahim al-Duyali – Abu ‘Ubayd Allah Sa’id b. ‘Abd al-Rahman al-Makhzumi – Sufyan b. ‘Uyaynah – Ibn Abi Husayn – Abu al-Tufayl yang mengatakan: “Aku dengar Ibn al-Kawa bertanya kepada ‘Ali bin Abi Thalib (as) mengenai Dzulqarnayn[3], dan kemudian ‘Ali menjawab: “Dia itu BUKAN seorang Nabi; dan ia bukan pula malaikat. Ia adalah hamba Allah yang shaleh. Ia mencintai Allah; dan Allah mencintiainya juga. Ia mencari petunjuk Allah; dan Allah membimbingnya. IA DIUTUS UNTUK UMATNYA. Akan tetapi, mereka memukulnya pada QARN-nya[4] dan kemudian ia meninggal dunia. Kemudian Allah membangkitkannya, dan oleh karena itu ia diberinama Dzul-QARNayn.”[5]

Kemudian, professor kita ini melanjutkan pembicaraannya:

“(Al-Mukhtarat 2/175, #555) dan al-Hafiz Ibn Hajar menyatakannya sebagai hadits shahih setelah menisbahkannya kepada kitab al-Mukhatarat-nya al-Hafiz al-Dhiya (al-Fath 6/383)”[6]

Kata-kata tepatnya yang diucapkan oleh al-Hafiz di dalam kitab al-Fath-nya ialah sebagai berikut:

Sufyan b. ‘Uyaynah mencatat di dalam kitab Jami’-nya dari Ibn Abi Husayn dari Abu Tufayl, dan ia menambahkan: “Ia memohon bimbingan dari Allah; dan oleh karena itu, DIA membimbingnya.” Dan di dalam kitab itu juga disebutkan: “Ia itu bukan seorang Nabi, dan ia juga bukan malaikat.” Rantai sanadnya shahih. Kami mendengarnya di dalam Ahadith al-Mukhtarat-nya al-Hafiz al-Dhiya.”[7]

Al-Hafiz menyatakan shahih rantai sanad lainnya yang lebih pendek dari Sufyan di dalam kitab-nya Jami’. Akan tetapi kemudian ia menegaskan lebih jauh bahwa apa yang kita temukan di dalam al-Ahadith al-Mukhtarat-nya al-Dhiya sebenarnya sama dengan yang dicatat oleh Sufyan di dalam kitabnya.

Dzulqarnayn, ‘alaihi al-salam, itu bukan seorang Nabi—dan ia juga bukan seorang Rasul.[8] Akan tetapi Allah “mengutusnya” untuk umatnya. Menariknya, Imam ‘Ali bin Abi Thalib (as) juga memproklamirkan dirinya sebagai seseorang yang “serupa” dengan Dzulqarnayn. At-Tabari (meninggal tahun 310H) mencatat sebuah hadits sebagai berikut:

“Dari Muhammad b. al-Muthanna – Muhammad b. Ja’far – Shu’bah – al-Qasim b. Abi Bazzah – Abu al-Tufayl, yang mengatakan: “Aku dengar ‘Ali ketika mereka menanyainya tentan Dzulqarnayn: “Apakah ia itu seorang Nabi?” Ia menjawab: “Ia itu seorang hamba Allah yang shaleh. Ia mencintai Allah dan Allah mencintainya. Ia memohon bimbingan dari Allah dan DIA membimbingnya. Kemudian, Allah MENGUTUS nya kepada kaumnya. Akan tetapi, mereka memukulnya dua kali di kepalanya. Oleh karena itu, ia dinamai Dzulqarnayn. Dan diantara kalian SEKARANG ada seseorang yang seperti dia.”[9]

Mengenai pemisalan tersebut di atas, Prof. Ibn Yasin mengatakan:

“Rantai sanadnya shahih”[10]

Imam Ibn Salam (meninggal tahun 224H) juga menjelaskan tentang hadits itu seperti ini:

“Aku lebih memilih penjelasan ini dibandingkan dengan yang pertama karena sebuah hadits dari ‘Ali sendiri. Hadits itu, menurut pendapatku, menjelaskan segala sesuatunya kepada kita. Di dalam hadits itu, dia (‘Ali) menyebutkan Dzulqarnayn sambil berkata, “Ia mengajak orang-orang untuk menyembah Allah, akan tetapi mereka memukulnya di kepalanya (qarn) dua kali. Dan  diantara kalian sekarang adalah yang serupa dengannya.”  Jadi, kita bisa lihat bahwa dia (‘Ali) menunjuk kepada dirinya sendiri dengan pernyataannya—Aku akan mengajak orang-orang kepada kebenaran hingga aku akan dipukul dua kali pada kepalaku. Kematianku disebabkan oleh itu.”[11]

Keadaan atau status ‘Ali yang “serupa” dengan Dzulqarnayn menyebabkan banyak sekali kesamaan yang terjadi diantara mereka berdua—terutama di dalam hal “al-Raj’ah” dan “Dakwah”. Akan tetapi di sini kami hanya akan menekankan kepada aspek dakwah saja sebagai aspek yang sama antara diri mereka berdua. Diantaranya ialah:

  1. Dzulqarnayn bukan seorang Nabi, ‘Ali juga bukan seorang Nabi
  2. Dzulqarnayn itu memohon bimbingan Allah dan Allah memberikan bimbinganNya; begitu juga ‘Ali yang memohon bimbingan Allah, dan Allah memberikan bimbinganNya
  3. Dzulqarnayn “diutus” kepada kaumnya oleh Allah. Begitu juga ‘Ali yang “diutus” kepada kaumnya oleh Allah
Sementara itu (kembali kepada pembahasan tentang 12 khalifah setelah Nabi—red.) selain Amirul Mukminin, masih ada orang-orang yang bukan Nabi yang datang sepeninggal Nabi Muhammad. Mereka juga sudah “diutus” untuk umat ini. Abu Daud (meninggal tahun 275H) mencatat secara jelas sebuah hadits yang berkenaan dengan hal ini:

“Dari Sulayman b. Dawud al-Mahri – Ibn Wahb – Sa’id b. Abi Ayub – Sharahil b. Yazid al-Ma’afiri – Abu ‘Alqamah – Abu Hurayrah, yang mengatakan: “Dari apa yang aku dengar dari Rasulullah (SAW), beliau mengatakan, “Sesungguhnya Allah MENGUTUS untuk umat ini, setiap seratus tahun, seseorang yang memperbaharui agama ini.”[12]

 ‘Allamah al-Albani (meninggal tahun 1420 H) berkomentar: “Itu shahih”[13]

Al-Hakim (meninggal tahun 403 H) juga memiliki hadits yang kurang lebih sama—akan tetapi malah jauh lebih jelas. Haditsnya sebagai berikut:

“Dari Abu al-‘Abbas Muhammad b. Ya’qub – al-Rabi’ b. Sulayman b. Kamil al-Muradi – ‘Abd Allah b. Wahb – Sa’id b. Abi Ayub – Sharahil b. Yazid – Abu ‘Alqamah – Abu Hurayrah, semoga Allah meridhoinya, yang mengatakan: “Aku tidak mendapati ini kecuali dari Rasulullah (SAW) dimana beliau berkata, “Sesungguhnya, Allah MENGUTUS untuk kaumnya, di awal setiap seratus tahun, seseorang yang akan memperbaharui agama ini.”[14]

Al-Albani memberikan pernyataan berkenaan dengan hadits ini di dalam kitabnya Shahihah. Pernyataannya sebagai berikut:

“Rantai sanad dari hadits ini shahih. Para perawinya semuanya tsiqah (bisa dipercaya); semuanya perawi yang dikutip di dalam (Shahih) Muslim.”[15]

Siapakah orang-orang ini yang sudah “DIANGKAT” dan “DIUTUS” untuk umat ini oleh Allah? Saudara kita dari Ahlu Sunnah biasanya malah berdebat satu sama lainnya dan kebingungan menentukan siapakah 12 orang khalifah yang disebutkan oleh Nabi akan memimpin umat ini. Kaum Ahlu Sunnah tidak pernah sepakat mengenai nama-nama orang-orang yang dimaksud. Itu sangat ironis mengingat ke dua belas khalifah itulah yang nantinya akan membimbing kita semua di dalam kehidupan ini. Lebih ironis lagi ketika para ulama ternama (seperti al-Ghazali (meninggal tahun 505H); Syaikh Ibnu Taymiah (meninggal tahun 728H); al-Hafiz al-‘Asqalani (meninggal tahun 852H); dan ‘Allamah al-Albani) menyebutkan beberapa nama tetapi tidak seorangpun dari nama-nama yang disebutkan oleh mereka itu pernah mengaku “DIANGKAT” dan “DIUTUS” oleh Allah. Jadi nama-nama itu bukanlah termasuk 12 khalifah yang dimaksud oleh Nabi.

Apa sebenarnya yang dimaksud dengan “diutus setiap seratus tahun” untuk membersihkan Islam dari bid’ah-bid’ah dan kesalah-pahaman? Apakah memang benar-benar tiap seratus tahun sekali? Ataukah hanya ungkapann metafora saja untuk menunjukkan betapa seringnya kedatangannya itu. Selain itu, apakah “seratus tahun” itu waktu yang tepat? Apakah itu waktu yang penting untuk memulai sesuatu atau mengakhiri sesuatu? Apakah ada beberapa orang yang bisa hidup hingga seratus tahun? Apa yang terjadi kalau salah seorang dari mereka ternyata bisa hidup lebih dari seratus tahun? Apakah ia harus dibebas-tugaskan dari tugas kekhalifahan? Apakah ia harus pensiun atau dipensiunkan? Atau apakah ia akan diberi perpanjangan waktu untuk bertugas lebih lama? Lalu apa yang akan terjadi kalau ia misalnya meninggal atau terbunuh sebelum seratus tahun? Atau bagaimana kalau ia hanya berdakwah hingga satu tahun saja atau beberapa tahun saja? Kalau itu terjadi, siapa yang akan menggantikannya? Apakah “orang-orang seperti itu” pernah bertentangan satu sama lainnya dalam permasalahan agama? Karena “DUA BELAS KHALIFAH” ini adalah utusan Allah (yang bukan Nabi); karena mereka ini DIANGKAT dan DIUTUS oleh Allah, apa yang akan terjadi pada orang-orang yang tidak mau mengikuti mereka? Apakah orang-orang itu tetap Muslim? Apakah mereka menjadi kafir?

Pertanyaan-pertanyaan di atas adalah pertanyaan-pertanyaan yang membutuhkan jawaban yang jelas.

SIAPAKAH 12 IMAM ATAU 12 KHALIFAH YANG DIMAKSUD DI DALAM HADITS-HADITS SUNNI, TAMPAKNYA MASIH MISTERI UNTUK ORANG-ORANG SUNNI SENDIRI ……………..




[1] Qur’an (QS. Al-Ahzab: 40)
[2] Qur’an 7:158, 34:28 and Qur’an 25:1
[3] “Dzulqarnayn”, secara bahasa berarti: “Dia pemilik Dua Tanduk” . Dia adalah seorang tokoh yang  disebutkan oleh Al-Qur’an. Ia digambarkan sebagai figur tokoh besar dan shaleh yang membangun dinding panjang raksasa untuk melindungi umat manusia pada waktu itu dari serangan Ya’juz dan Ma’juz

[4] Kepalanya

[5] Prof. Dr. Hikmat b. Bashir b. Yasin, Mawsu’at al-Sahih al-Masbur min al-Tafsir bi al-Mathur (Madinah: Dar al-Mathar li al-Nashr wa al-Tawzi’ wa al-Taba’at; 1st edition, 1420 H), vol. 3, p. 322

[6] Ibid

[7] Shihab al-Din Ibn Hajar al-‘Asqalani, Fath al-Bari Sharh Sahih al-Bukhari (Beirut: Dar al-Ma’rifah li al-Taba’ah wa al-Nashr; Edisi Kedua), vol. 6, halaman 271

[8] Ada ijma’ atau kesepakatan diantara para ulama bahwa untuk menjadi seorang Rasul itu, seseorang harus menjadi seorang Nabi terlebih dahulu. Kalau ia bukan seorang Nabi, maka ia juga tidak mungkin menjadi seorang Rasul. Akan tetapi tidak semua Nabi menjadi Rasul. Itulah sebabnya status Muhammad sebagai seorang Nabi juga otomatis menjadi seorang Rasul.

[9] Abu Ja’far Muhammad b. Jarir b. Yazid b. Kathir b. Ghalib al-Amuli al-Tabari, Jami al-Bayan fi Tawil al-Qur’an (Dar al-Fikr; 1415 H) [pemberi catatan kaki: Sidqi Jamil al-‘Aṭṭar], vol. 16, halaman 12-13

[10] Prof. Dr. Hikmat b. Bashir b. Yasin, Mawsu’at al-Sahih al-Masbur min al-Tafsir bi al-Mathur (Madinah: Dar al-Mathar li al-Nashr wa al-Tawzi’ wa al-Taba’at; Edisi Pertama, 1420 H), vol. 3, halaman 322

[11] Abu ‘Ubayd al-Qasim b. Salam al-Harwi, Gharib al-Hadith (Haydarabad: Majlis Dairah al-Ma’arif al-‘Uthmaniyyah; Edisi Pertama, 1385 H), vol. 3, halaman 80
[12] Abu Dawud Sulayman b. al-Ash’ath al-Sijistani al-Azdi, Sunan (Dar al-Fikr) [pemberi catatan kaki: Muhammad Nasir al-Din al-Albani], vol. 2, halaman 512, # 4291

[13] Ibid

[14] Abu ‘Abd Allah Muhammad b. ‘Abd Allah al-Hakim al-Naysaburi, al-Mustadrak ‘ala al-Sahihayn (Beirut: Dar al-Kutub al-’Ilmiyyah; Edisi Pertama, 1411 H) [pemberi catatan kaki: Mustafa ‘Abd al-Qadir ‘Aṭa], vol. 4, halaman 567, # 8592

[15] Abu ‘Abd al-Rahman Muhammad Nasir al-Din b. al-Hajj Nuh b. Tajati b. Adam al-Ashqudri al-Albani, Silsilah al-Ahadith al-Sahihah wa Shayhun min Fiqhihah wa Fawaidihah (Riyadh: Maktabah al-Ma’arif li al-Nashr wa al-Tawzi’; Edisi Pertama, 1415 H), vol. 2, halaman 148, # 599